Pada
setiap kehidupan manusia akan melewati perputaran titik jaya atau kemakmuran
dan titik lemah atau kehancuran. Dua titik yang saling tolak belakang yang
tidak akan pernah menyatu. Dua titik yang tentunya manusia normal akan
cenderung memilih yang lebih baik. Kecenderungan inilah yang memicu manusia
untuk menghindari salah satu titik yang lawan dan akan melakukan apa saja untuk
berada di dalamnya.

            Hal
tersebut wajar untuk naluri manusia, makhluk yang memang pada dasarnya telah
tercipta dalam kenikmatan surga, tentunya merasa haus dan rindu kembali
merasakan kenikmatan yang diperoleh oleh pendahulunya, Nabi Adam AS. Manusia sebagai pengembara kenikmatan,
sering kali ditengah pencariannya mengalami fatamorgana yang membutakan
terhadap titik jaya yang sesungguhnya. Dalam hal ini, sang Pencipta tidak
tinggal diam, dengan Kasih-Nya yang begitu luas,
Ia memasang rambu sebagai petunjuk yang berupa agama. Sehingga manusia nantinya
dapat meraih kejayaan sesungguhnya yang diciptakan untuk mereka, yakni surga.
Dalam sejarah peradaban manusia terbukti
bahwa faktor utama kehancuran peradaban manusia adalah pelanggaran manusia atas
rambu-rambu Allah yang ditancapkan oleh para utusan-Nya. Petunjuk
dalam rambu-rambu bukan bertujuan untuk mengikat dan mengekang para pengembara,
namun menunjukan jalan mana yang seharusnya dilewati, dan menghindarkan dari
bahaya ketika di jalan. Karena sebagus apapun kendaraan yang dipakai dengan
terlahir kaya atau miskin dan dari mana saja ia memulai perjalanan, sekali dia
tidak patuh maka ancaman bahaya dan 
tersesat sulit dihindarkan.
Berdasarkan tinjauan di atas, para
relawan  (ulama’ dan auliya’) yang telah
tahu betul jalan yang harus dilalui merasa simpati terhadap pengguna jalan yang
lain, maka dibuatlah simbol tambahan sebagai penegas akan perlunya taat
terhadap rambu-rambu kehidupan. Salah
satu pemerhati dan relawan lalu lintas kehidupan, yang sangat tulus dan
perhatian terhadap kita para pengguna jalan membuat simbol yang diberi nama Kifayat
al-Atqiya’ wa Minhaj al-Ashfiya’
.
Dialah Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatho,
salah satu guru di masjidil harom ini menulis kitab tasawwuf atas dasar
permintaan murid-murid beliau untuk memberi penjelasan terhadap qoshidah Hidayat
Al-Adzqiya’ Ila Thoriq Al-Auliya’
Karangan
Syekh Zainuddin bin Syekh Ali bin Ahmad Al-Ma’bari
(12 Sya’ban 871 H-16
Sya’ban 928 H).
Dalam kitab syarh nadloman Maslakul
Atqiya’ Wa Manhajul Asfiya’
ini pengarang juga menuturkan pengertian dan
batasan-batasan pembahasan ilmu tasawuf. Beliau menuturkan:
هو علم يعرف به أحوال النفس وصفاتها الذميمة والحميدة، وأما موضوعها
فهو النفس من حيث ما يعرض لها من الأحوال والصفات، وأما ثمرته فهي التوصل به الى
تخلية القلب عن الأغيار وتحليته بمشاهدة الملك الغفار، وأما حكمه فهو الوجوب
العيني على كل مكلف. (ص.4)
Tasawuf merupakan ilmu yang
dapat mendeteksi kondisi dan sifat jiwa atau nafsu yang buruk dan yang baik,
adapun objeknya yaitu kondisi dan sifat yang timbul pada nafsu, buah dari tasawuf
ialah sampainya seseorang pada tahap kekosongan hati dari selain Allah dan
dipenuhi  dengan musyahadah pada Sang
Penguasa yang Maha Pengampun. Dan hukum dari tasawuf adalah Wajib Ain bagi
setiap mukallaf.