Oleh: Zuhal Qobili

Dalam pembahasan sebelumnya kita
telah mengetahui definisi jarimah dan jinayah dalam Islam serta macam-macamnya.
Maka sesuai dengan skema, pembahasan kali ini adalah mengenai “Macam-Macam
Hukuman dalam Syariat Islam”.

Secara garis besar hukuman dalam
Syariat Islam ada dua macam, yaitu hukuman akhirat dan hukuman dunia. Kemudian
hukuman dunia terbagi lagi menjadi beberapa macam tergantung di tinjau dari
segi mana. Adapun titik fokus kita kali ini adalah hukuman dunia di tinjau dari
sisi adanya ketetapan bentuk dan kadar hukuman tersebut dari Allah dan
tiadanya. Karena menurut ulama sisi inilah yang paling penting dalam masalah
“Macam-Macam Hukuman dalam Syariat Islam”.

Macam-macam hukuman dalam Syariat min
haitsu at-taqdir wa adamuh
ada tiga, yaitu Hukuman Hudud, Hukuman Qishash wa
Diyat dan Hukuman Takzir.

  1. Hukuman Hudud
    Hukuman Hudud adalah العقوبات المقدرة شرعا حقا لله , hukuman-hukuman yang telah
    ditentukan kadarnya oleh Syariat dan merupakan hak Allah.
    المقدرة شرعا maksudnya yaitu bahwa
    hukuman-hukuman tersebut bentuk dan kadarnya sudah ditentukan oleh Allah
    melalui firman-Nya maupun hadits-hadits Nabi-Nya. Maka tidak boleh bagi seorang
    qodli untuk menambah maupun mengurangi kadar hukuman tersebut apalagi
    menggantinya ketika dia sudah menetapkan bahwa seseorang memang telah melanggar
    batasan tertentu dan memenuhi syarat-syarat yang menyebabkan dia mendapatkan
    hukuman tersebut.
    حقا لله maksudnya yaitu bahwa hukuman tersebut
    murni hak Allah, atau secara gholib hak Allah. Yaitu hukuman yang
    berkaitan dengan kemaslahatan umat. Sehingga bisa dikatakan juga hak Allah
    maksudnya adalah hak masyarakat. Hukuman hudud ini sampai dikatakan hak Allah
    karena harus sangat diperhatikan terkait manfaatnya yang sangat besar bagi
    masyarakat, mujtama’. Sehingga benar-benar harus terjaga guna
    menciptakan masyarakat yang tentram dan menentramkan.
    Adapun
    kejahatan menurut Syariat yang mengakibatkan pelakunya mendapatkan hukuman
    hudud ada tujuh, yaitu ; Zina, qadzaf (menuduh zina), minum khamr
    (sesuatu yang memabukkan), mencuri, murtad, pemberontakan dan hirobah.Namun,
    walaupun dikatakan sebagai hak Allah, hukuman-hukuman tersebut kejahatannya
    tidaklah lepas dari kejahatan terhadap individu. Adapun sampai dikatakan
    sebagai hak Allah karena hukuman tersebut sangat khatir atau penting,
    juga kemaslahatan terhadap masyarakat ketika hukuman tersebut dilaksanakan
    lebih besar dari pada manfaat terhadap individu yang menjadi korban kejahatan itu
    sendiri.
  2. Hukuman Qishash dan Diyat
    Hukuman
    Qishash dan Diyat adalah العقوبات المقدرة شرعا حقا للعباد , hukuman-hukuman yang telah
    ditentukan kadarnya oleh Syariat dan merupakan hak hamba (individu). المقدرة شرعا maksudnya yaitu bahwa
    hukuman-hukuman tersebut mempunyai batasan yang jelas. Sehingga tidak sembarang
    orang bisa menetapkannya karena saking detailnya. Hanya seorang qodli
    yang boleh menanganinya.
    Kemudian
    dikatakan sebagai حقا للعباد atau murni hak individu atau secara gholib
    hak individu karena hukuman tersebut lebih mengarah kepada kemaslahatan
    individu yang menjadi korban tersebut, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa
    efek kemaslahatan terhadap umat pun sangat besar jika hukuman qishash ini
    dilaksanakan. Adapun tindak kriminal yang mengakibatkan pelakunya mendapatkan
    hukuman qishash maupun Diyat ulama mengklasifikasikannya ada lima macam ; القتل العمد ، القتل شبه العمد ، القتل الخطأ
    ، الجناية على ما دون النفس عمدا ، الجناية على ما دون النفس خطأ
  3. Hukuman Takzir
    Hukuman Takzir adalah عقوبة غير مقدرة تجب حقا لله أو لآدمي في كل
    معصية ليس فيها حد ولا كفارة ,
    hukuman yang tidak ada ketentuan kadarnya namun harus ditegakkan sebagai hak
    Allah maupun hak individu dalam seluruh kejahatan yang tidak ada hadnya juga
    kafarat.
    Maksudnya yaitu hukuman ta’dibiyah atau bersifat mendidik yang
    diberikan oleh qodli kepada pelaku kriminal maupun maksiat yang belum
    memenuhi syarat sampai si pelaku mendapatkan hudud maupun qishash. Seperti
    mencuri yang belum memenuhi syarat jatuhnya had sariqah dan semacamnya.
    Sehingga si pelaku jera melakukan yang demikian apalagi lebih.

Demikian
kajian kali ini mengenai Macam-Macam Hukuman dalam Syariat Islam,
bagaimana kita telah mengetahui di atas Islam sangat detail dalam membina
pengikutnya untuk menjadi individu terbaik, khaira ummatin. Selain targhib
(bujukan) yang sangat banyak kita jumpai dalam nash-nash yang mengajak kita
untuk menjadi yang terbaik, Islam juga memberikan tarhib (ancaman) bagi
pelaku-pelaku penyimpangan dan merugikan, karena tidak bisa dipungkiri jiwa
manusia ada yang jernih sehingga hanya membutuhkan targhib untuk
senantiasa dalam kebaikan, tapi juga ada yang gelap sehingga perlu tarhib
agar yang lain tidak dirugikan.

Semoga bermanfaat.

Adapun
kajian minggu depan insya Allah akan membahas tentang karakteristik macam-macam
hukuman tersebut. Kemudian lanjut menuju lebih detail tentang masing-masing
bentuk hukuman tersebut dan kejahatannya serta kira-kira hikmah apa yang
terkandung di dalamnya kenapa Syariat sampai menetapkan demikian, insya Allah.

Sumber: kitab الجناية على النفس وما دونها فى الفقه
الإسلامي
karya Dr. Abdul Fattah dan Dr. Al-Mursi Abdul Aziz, diktat fikih komparasi
tingkat tiga Universitas al Azhar tahun akademik 2014/2015.