kalamulama.com Kajian Aswaja Membolehkan Tabarruk

6. Al-Imam Ibnu Khuzaimah (wafat 311 H), seorang ulama ahli hadits sekaligus ahli fiqih Syafi’i. Beliau adalah pengarang kitab Shohih Ibnu Khuzaimah. Beliau merupakan salah satu murid terbaik dari Imam al-Bukhori. Kita pasti mengenalnya. Percayakah anda bahwa beliau juga bertabarruk dengan kubur orang sholeh? Sekarang harus percaya!! Beliau bertabarruk dan berdoa di makam ‘Ali bin Musa ar-Ridlo yang telah dikutip oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqolani:

“Imam al-Hakim berkata dalam kitab Tarikh Naisabur: “Aku mendengar Abu Bakar Muhammad bin al-Mu’ammil bin Hasan bin ‘Isa berkata: “Kami keluar bersama Imam ahli hadits Abu Bakar Ibnu Khuzaimah dan sahabatnya, Abu ‘Ali ats-Tsaqofi (wafat 324 H), beserta jama’ah dari guru-guru kami. Mereka semua berdatangan ziarah ke makam ‘Ali bin Musa ar-Ridlo di Thus. Aku melihat ke-ta’zhim-an (pengagungan) Ibnu Khuzaimah terhadap makam tersebut dan ketawadlu’annya, serta ke-tadlorru’-annya (permohonannya yang sangat khusyu’) di makam tersebut hingga membuat kami tercengang.” (Tahdzibut Tahdzib lil Hafizh Ibni Hajar, juz 3 halaman 195)

7. Al-Imam Ibnu Hibban (wafat 354 H), murid terbaik dari Imam Ibnu Khuzaimah. Beliau adalah pengarang kitab Shohih Ibnu Hibban. Faktanya, beliau mengikuti jejak gurunya tersebut dalam bertabarruk di makam ‘Ali bin Musa ar-Ridlo:

“Ali bin Musa ar-Ridlo. Ia wafat di Thus karena meminum racun yang diberikan oleh Kholifah al-Ma’mun dan wafat seketika itu juga. Itu terjadi di hari Sabtu tahun 203 H. Makamnya berada di Sanabadz, sebelah luar Nauqon, sudah masyhur dan diziarahi, letaknya di dekat makam ar-Rosyid. Aku sudah sering berziarah berkali-kali. Tidaklah aku mengalami kesulitan ketika aku berada di Thus lalu aku berziarah ke makam ‘Ali bin Musa ar-Ridlo sholawatullahi ‘ala jaddihi wa ‘alaih dan aku berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kesulitan tersebut, kecuali dikabulkan untukku dan kesulitan itu pun lenyap dari ku. Ini aku alami berkali-kali dan aku selalu menemukannya seperti itu. Semoga Allah mematikan kita dalam kecintaan terhadap Rosulullah dan ahlul baitnya shollallahu ‘alaihi wa ‘alaihim ajma’in.” (Ats-Tsiqot lil Imam Ibni Hibban, juz 3 halaman 456)

8. Al-Hafizh Abu ‘Ali al-Khollal, salah satu guru dari Imam Ibnu Hibban dan Imam ad-Daruquthni. Berikut riwayat yang disebutkan oleh al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi:

“Telah mengabarkan kepada kami al-Qodli Abu Muhammad al-Hasan bin al-Husain bin Muhammad bin Romin al-Istirobadzi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Hamdan al-Qothi’i, ia berkata: aku mendengar al-Hasan bin Ibrohim Abu ‘Ali al-Khollal berkata: “Tidaklah ada perkara yang menyusahkanku yang mana aku mendatangi kubur Musa bin Ja’far al-Kazhim dan bertawassul dengannya, kecuali Allah Ta’ala akan memudahkan apa yang aku inginkan.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 442)

Sanad riwayat di atas adalah shohih. Perhatikan para perowinya:

a. Al-Qodli Abu Muhammad al-Hasan bin al-Husain bin Muhammad bin Romin al-Istirobadzi. Al-Khothib al-Baghdadi berkata: “aku menulis darinya dan ia seorang yang shoduq, fadhl, shalih. Ia wafat 412 H.” (Tarikh Baghdad, juz 8 halaman 255, no. 3764).

b. Ahmad bin Ja’far bin Hamdan al-Qothi’i. Ad-Daruquthni mengatakan ia tsiqot (Mausu’ah Aqwaal ad-Daruquthni, no. 175). Ibnul Jauzi berkata: “ia tsiqot, banyak meriwayatkan hadits.” (Al-Muntazhom fi Tarikhil Muluk wal Umam, juz 14 halaman 260-261, no. 2740)

9. Abu ‘Abdillah al-Husain bin Isma‘il al-Mahamili (wafat 330 H). Berikut riwayat yg disampaikan al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi:

“Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abdillah as-Shuri, ia berkata: aku mendengar Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Jumai’ berkata: aku mendengar Abu ‘Abdillah bin al-Mahamili berkata: “Aku mengetahui kubur Ma’ruf al-Karkhi selama tujuh puluh tahun. Tidaklah seorang yang sedang mengalami kesusahan kemudian mendatangi kuburnya, kecuali Allah akan melapangkan kesusahannya.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 445)

Sanad riwayat di atas adalah shohih. Perhatikan para perowinya:

a. Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abdillah ash-Shuri. Al-Khothib al-Baghdadi berkata “shoduq” (Tarikh Baghdad, juz 4 halaman 172-173, no. 1363). Adz-Dzahabi menyebutnya al-Imam, al-Hafizh, al-Bari’, al-Auhad, al-Hujjah. Wafat 441 H. (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 17 halaman 627, no. 424). As-Sam’ani menyebutkan bahwa ia termasuk hafizh mutqin (Al-Ansab lis Sam’ani, juz 8 halaman 106)

b. Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Jumai’. Abu ‘Abdillah ash-Shuri berkata bahwa ia syaikh, sholih, tsiqot, ma’mun. Al-Khothib al-Baghdadi dan yang lainnya berkata “tsiqot” (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 17 halamana 152-155, no. 96)

c. Abu ‘Abdillah al-Husain bin Isma‘il al-Mahamili. Adz-Dzahabi menyebutnya al-Imam al-‘Allamah al-Muhaddits ats-Tsiqoh. (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 15 halaman 258, no. 110)

10. Abu Muhammad ’Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri (wafat 336 H). Berikut riwayat yg disampaikan al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi:

“Telah mengabarkan kepadaku Abu Ishaq Ibrohim bin Umar al-Barmaki, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Fadhl ‘Ubaidillah bin Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri, ia berkata: “aku mendengar ayahku (Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri) berkata: “Kubur Ma’ruf al-Karkhi adalah mujarrab untuk menunaikan berbagai hajat. Dikatakan sesungguhnya barangsiapa yang membaca di sisi kubur tersebut qul huwallahu ahad (surat al-Ikhlas) seratus kali dan meminta kepada Allah Ta’ala apa saja yang dikehendaki, maka Allah Ta’ala akan mengabulkan hajatnya.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 445)

Sanad riwayat di atas adalah shohih. Perhatikan para perowinya:

a. Abu Ishaq Ibrohim bin ‘Umar al-Barmaki. Al-Khothib al-Baghdadi mengatakan bahwa ia seorang yang shoduq dan seorang yang faqih dalam madzhab Ahmad bin Hanbal (Tarikh Baghdad, juz 7 halaman 63, no. 3133). Ibnu Nuqthoh berkata: “faqih madzhab Hanbali yang tsiqot.” (Takmilul Ikmal li Ibni Nuqthoh, juz 1 halaman 499-500)

b. Abu Fadhl Ubaidillah bin ‘Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri. Al-Khothib al-Baghdadi berkata “tsiqot”. Al-Azhari berkata: “Abu Fadhl az-Zuhri tsiqot”. Ad-Daruquthni menyatakan ia tsiqot dan shoduq. Al-Barqoni juga berkata “tsiqot” (Tarikh Baghdad, juz 12 halaman 96-97, no. 5484)

c. Abu Muhammad ’Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri. Al-Khothib al-Baghdadi berkata tentangnya “tsiqot”. (Tarikh Baghdad, juz 11 halaman 587, no. 5373

Baca sebelumnya Kajian ASWAJA #1 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh