37. Asy-Syaikh Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abdul Qodir al-Hanbali (wafat 797 H). Beliau membuat ikhtishor (ringkasan) dari kitab Thobaqotul Hanabilah milik Ibnu Abi Ya’la yang berjumlah 3 sampai 4 jilid menjadi 1 jilid saja. Ketika meringkas biografi al-Qodli Abu Ali al-Hasyimi, beliau mencantumkan kisah Abu Ali al-Hasyimi yang mencium kaki kubur Imam Ahmad ketika berziarah, seperti yang sudah pernah kami tulissebelumnya. Berikut kutipannya:

“Berkata mushonnif (pengarang kitab Thobaqotul Hanabilah, al-Qodli Ibnu Abi Ya’la): “Aku mendengar Rizqullah (Abu Muhammad at-Tamimi, wafat 488 H) berkata: “Aku pernah menziarahi kubur Imam Ahmad untuk menemani al-Qodli asy-Syarif Abu ‘Ali al-Hasyimi. Aku melihat ia mencium kaki kubur Imam Ahmad, maka aku katakan padanya: “apakah ada atsar tentang kebolehan ini (mencium kubur) ?”, maka ia berkata padaku: “Imam Ahmad adalah seseorang yang agung bagi ku, dan aku tidak pernah berpikir bahwa Allah Ta’ala akan menyiksaku karena perbuatan ku ini”, atau perkataan semacamnya.” Ia (al-Qodli Abu Ali al-Hasyimi) lahir pada Dzul Qo’dah tahun 345 H dan wafat pada Robi’ul Akhir tahun 428 H. Ia dikuburkan di dekat kubur Imam kami (Imam Ahmad).” (Mukhtashor Thobaqotil Hanabilah li Muhammad bin Abdul Qodir al-Hanbali, juz 1 halaman 370)
Pertanyaan: Mengapa beliau mencantumkan kisah di atas dalam kitab yang beliau ringkas ?? Sudah kita ketahui, dalam meringkas suatu tulisan atau buku, maka yang diambil adalah bagian-bagian yang penting-penting saja dan dianggap perlu untuk dicantumkan sebagai inti dari tulisan atau buku tersebut. Dan ternyata beliau mencantumkan kisah di atas. Jadi, bisa disimpulkan bahwa beliau menganggap penting kisah di atas. Apabila menurut beliau perbuatan tersebut adalah buruk, kotor, bid’ah, biadab, menghina sunnah, dan syirik akbar, maka beliau akan membuang kisah tersebut dan tidak akan mencantumkannya pada kitab ringkasannya. Apa susahnya untuk tidak mencantumkan kisah di atas ??? Atau setidaknya beliau seharusnya mengomentari perbuatan tersebut sebagai sesuatu yang buruk, kotor, bid’ah, biadab, menghina sunnah, atau syirik.
38. Para dzawil fadhl (orang-orang yang memiliki keutamaan) di abad 7 – 8 Hijriyyah memilih berdoa dan menyendiri di makam-makam orang sholeh. Ini dinukil oleh Ibnu Taimiyyah:
“Dan sungguh telah kami temukan pada zaman kami (abad 7 – 8 H) dan sekitarnya para ‘ulama yang memiliki keutamaan dalam ilmu dan amal, mereka memilih berdoa di sisi makam-makam orang sholeh dan menyendiri di sana. Mereka adalah orang-orang yang hebat dalam ilmu dan juga memilki banyak karomah.” (Iqtidlo’us Shirothil Mustaqim li Ibni Taimiyyah, halaman 690)
39. Al-Imam al-Mufassir al-Baidlowi (wafat 791 H), pengarang kitab terkenal Tafsir al-Baidlowi. Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil perkataannya:



وقال البيضاوي : لما كانت اليهود والنصارى يسجدون لقبور الانبياء تعظيما لشانهم ويجعلونها قبلة يتوجهون في الصلاة نحوها و اتخذوها اوثنا لعنهم و منع المسلمين عن مثل ذالك فاما من اتخذ مسجدا في جوار الصالح و قصد بالتبرك بالقرب منه لا تعظيم له و لا التوجه نحوه فلا يدخل في ذالك الوعيد


“Al-Baidlowi berkata: “Ketika orang Yahudi dan Nashroni bersujud kepada makam para nabi untuk mengagungkan mereka dan menjadikan makamnya sebagai kiblat untuk menghadap ke arahnya saat sholat serta menjadikannya sebagai berhala, maka Allah melaknat mereka dan melarang keras kepada ummat Islam. Akan tetapi orang yang menjadikan tempat sujud di dekat makam orang sholeh untuk mencari berkah di dekatnya, bukan karena mengagungkannya dan tidak menghadapnya, maka hal itu tidak termasuk ke dalam ancaman tersebut.” (Fathul Bari lil Hafizh Ibni Hajar, juz 2 halaman 148)

40. Al-Imam al-Hafizh Ibnul Mulaqqin (wafat 804 H), seorang ulama ahli hadits mumpuni yang merupakan pengarang kitab at-Tadzkiroh fi ‘Ulumil Hadits. Beliau juga merupakan ulama ahli fiqih syafi’i yang pendapat-pendapatnya sering dijadikan rujukan dalam kitab-kitab fiqih madzhab Syafi’i. Beliauadalah guru dari Amirul Mu’minin fil Hadits, al-Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqolani. Beliau berkata ketika menguraikan biografi Ma’ruf al-Karkhi:
Ma’ruf al-Karkhi wafat di Baghdad tahun 200 H, pendapat lain mengatakan tahun 201 H. Kuburan Ma’ruf di sana masyhur dan diambil berkahnya. Penduduk Baghdad ber-istisqo’dengan perantaraan kubur Ma’ruf dan mereka berkata: “Kubur Ma’ruf adalah tiryaq (obat) yang mujarrab!” Berkata Abu Abdirrohman az-Zuhri: “Kubur Ma’ruf al-Karkhi adalah mujarrab untuk menunaikan berbagai hajat. Dikatakan sesungguhnya barangsiapa yang membaca di sisi kubur tersebut qul huwallahu ahad (surat al-Ikhlas) seratus kali dan meminta kepada Allah Ta’ala apa saja yang dikehendaki, maka Allah Ta’ala akan mengabulkan hajatnya.” Dan yang semisal dengan kubur Ma’ruf al-Karkhi dalam hal diambil berkahnya adalah kubur Asyhab dan kubur Ibnul Qosim. Mereka berdua adalah sahabat Imam Malik. Keduanya dikubur dalam satu tempat di daerah Qorofah, Mesir. Dikatakan bahwa orang yang menziarahi keduanya lalu berhenti di antara kubur keduanya sambil menghadap qiblat dan berdoa, maka doanya terkabul, dan sungguh ternyata itu sudah terbukti !!! Aku sendiri (Ibnul Mulaqqin) sudah menziarahi kedua kuburan tersebut dan membaca seratus kali qul huwallahu ahad (surat al-Ikhlas) di samping kubur tersebut, kemudian berdoa kepada Allah untuk menghilangkan masalah yang menimpaku, maka ternyata masalah tersebut hilang !!!!” (Thobaqotul Auliya’ li Ibnil Mulaqqin, halaman 281)
41. Al-Imam Ibnul Muqri al-Yamani asy-Syafi’i (wafat 837 H). Beliau membuat ringkasan dari kitab Roudloh ath-Tholibin milik Imam Nawawi dengan nama Roudl ath-Tholib. Dalam kitabnya tersebut, terdapat keterangan:
“Cabang: Ziarah Kubur. Disunnahkan ziarah kubur bagi laki-laki dan dimakruhkan bagi perempuan kecuali ke kubur Nabi Saw(3). Dan hendaknya peziarah mengucapkan doa:

سلام عليكم دار قوم مؤمنين وانا ان شاء الله عن قريب بكم لاحقون اللهم لا تحرمنا أجرهم ولا تفتنا بعدهم 
Dan hendaknya ia mendekat ke kuburan sebagaimana mendekat padanya ketika masih hidup kemudian hendaknya membaca(5) dan berdoa. Maka pahalanya adalah untuknya(6), sedangkan mayyit seperti orang yang hadir yang diharapkan mendapatkan rahmat dari pembacaan tersebut.” (Roudl ath-Tholib lil Imam Ibnil Muqri, juz 1 halaman 265)
__________________________
(3)Tidak dimakruhkan bagi perempuan untuk ziarah kubur Nabi, bahkan tetap disunnahkan (sama seperti laki-laki)
(5)Yaitu membaca sesuatu yang mudah dari al-Qur’an
(6)Maksudnya pahalanya bagi pembaca 
Perhatikan ! Di situ ada “perubahan” hukum ziarah kubur bagi perempuan ketika yang ia ziarahi adalah kubur Nabi, yang tadinya makruh menjadi sunnah. Mengapa bisa begitu ? Karena kubur Nabi adalah kubur yang sangat istimewa, lain daripada yang lain. Kira-kira apa yang membuatnya istimewa? Tidak lain karena melimpahnya barokah dan keutamaan yang disebabkan oleh kemuliaan makhluk yang berada di dalamnya. 
Baca kajian Aswaja #8 di sini
Baca Juga  Maulid Diba Full Lengkap dengan Teks Terjemah Bahasa Indonesia