32.  Al-Imam ash-Shoghoni (wafat 650
H). Beliau adalah termasuk ulama yang getol memberantas bid’ah dan kesyirikan.
Tapi, bagaimana perbuatan beliau sendiri ?? Perhatikan, beliau bercerita:
“Abu Mahfuzh, Ma’ruf bin Fairuzan al-Karkhi –qoddasallahu ruha hu–,
kuburannya adalah tiryaq (obat) yang mujarrab. Aku pernah mempunyai
sebuah hajat (keperluan) yang melelahkanku dan membingungkanku pada tahun 615
H. Oleh karena itu, aku datang ke kuburan Ma’ruf al-Karkhi dan aku sebutkan
hajatku sebagaimana berbicara kepada orang yang hidup, dengan keyakinan
bahwasannya para wali Allah itu tidaklah mati, akan tetapi justru mereka
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Setelah itu aku kembali, dan
ternyata hajatku terpenuhi sebelum aku sampai ke tempat tinggalku.” (Al-‘Ubab
lil Imam ash-Shoghoni, halaman 423)
Perhatikan ! Beliau adalah ulama yang sangat benci bid’ah dan syirik. Akan
tetapi beliau sendiri melakukan tabarruk dan istighotsah di kubur Ma’ruf
al-Karkhi. Ini menandakan bahwa tabarruk dan istighotsah semacam itu tidaklah
termasuk bid’ah dan syirik yang dimaksud oleh beliau.
      33.  Qodli al-Qudldlot al-Imam Ibnu
Khollikan (wafat 681 H). Beliau adalah seorang ulama ahli fatwa madzhab Syafi’i
dan menjadi ketuanya para Qodli Syafi’i pada masanya. Beliau juga adalah
seorang ulama ahli sejarah dengan kitab populernya, Wafayatul A’yan wa Anba’u
Abna’iz Zaman. Dalam menerangkan biografi dari Raja Nuruddin Mahmud Zinki,
seorang raja yang terkenal dengan keadilannya, beliau berkata:
“Ia lahir pada hari Ahad ketika matahari terbit, tanggal 17 Syawwal tahun
511 H dan wafat pada hari Rabu, 11 Syawwal 569 H di Qol’ah, Damaskus. Ia
dikuburkan di sebuah rumah di Qol’ah. Di sana dilazimkan duduk (untuk
berziarah) dan mabit (menginap). Kemudian jenazahnya dipindahkan ke tanah
kelahirannya, yaitu di madrasahnya yang ia dirikan di dekat Bab Sauq
al-Khowashin. Aku (Ibnu Khollikan) mendengar segolongan ulama Damaskus berkata:
“Berdoa di sisi makamnya adalah mustajab.” Sungguh aku sudah
mencobanya sendiri dan ternyata BENAR!!! 
Semoga Allah merahmatinya.”
(Wafayatul A’yan wa Anba’u Abna’iz Zaman li Ibni Khollikan, juz 5 halaman 187)
    34.  Al-Imam
Ibnul Hajj al-‘Abdari (wafat 737 H). Beliau adalah ulama besar madzhab
Maliki yang menjadi salah satu rujukan penting oleh para ulama madzhab Maliki
lainnya, baik dalam fiqih maupun ushul fiqih. Beliau menyatakan dengan tegas
bahwa ulama sejagat melakukan ‘ngalap berkah’ di kubur orang sholeh:
Para ‘ulama dan orang-orang besar di Timur dan Barat
senantiasa bertabarruk dengan menziarahi kuburan para sholihin
 dan mereka selalu mendapatkan berkah dari hal tersebut,
baik dirasakan secara langsung maupun tidak. Dan sungguh asy-Syaikh al-Imam Abu
‘Abdillah bin an-Nu’man rohimahullah
(wafat 683 H) telah menuturkan dalam kitabnya yang bernama
“Safinatun Najah li Ahlil Iltija’ fi Karomati asy-Syaikh Abin Naja’” dalam
pujiannya terhadap perkataan Syaikh Abun Naja’ tentang masalah ini: “Telah
nyata bagi orang yang memilki mata hati dan ahli mengambil pelajaran, 
bahwa sesungguhnya ziarah ke makam
orang-orang sholeh adalah perkara yang dicintai karena untuk mencari berkah dan
mengambil pelajaran. Sebab berkah orang-orang sholeh tetap berjalan setelah
wafatnya sebagaimana saat masa hidupnya.” (Al-Madkhol lil Imam Ibnil Hajj
al-‘Abdari, juz 1 halaman 254)
Di bagian lain dari kitabnya, ia berkata:
 “Sepatutnya bagi keluarga mayyit untuk
memilihkan penguburannya di dekat kuburan para ‘ulama, para wali, dan orang-orang
sholeh agar dapat bertabarruk dengan mereka ….” (Al-Madkhol lil Imam Ibnil
Hajj al-‘Abdari, juz 3 halaman 258)
35.  Al-Imam Syamsuddin Ibnu Muflih al-Maqdisi (wafat 763
H). Beliau adalah ulama yang paling mu’tamad dalam madzhab Hanbali. Peran
beliau dalam madzhab Hanbali sama dengan Imam an-Nawawi dalam madzhab Syafi’i.
Beliau berkata hal yang senada dengan Imam Ibnul Hajj:

يستحب الدفن عند الصالح لتناله بركته
“Disunnahkan mengubur di dekat orang sholeh agar mendapat
berkahnya
.” (Al-Furu’ li Ibni Muflih, juz 3 halaman 353)
36.  Al-Imam al-Yafi’i (wafat 768 H). Beliau adalah ulama
ahli fiqih Syafi’i, ‘Ulumul Qur’an, sejarah, dan tashawwuf. Dalam kitab
tarikhnya yang fenomenal, Mir’atul Jinan, ketika menguraikan kejadian-kejadian
pada tahun 200 H, beliau berkata:
“Tahun 200 H. Di tahun tersebut telah wafat al-Hafizh
Abu Isma’il Muhammad bin Isma’il bin Muslim al-Madani rohimahullahu ta’ala.
Di tahun itu juga, menurut pendapat yang shohih, telah wafat seorang wali
agung, al-‘Arif billah asy-Syahir al-Mujtabi al-Muqorrib at-Tiryaq
al-Mujarrab
, tempat munculnya cahaya, sumber berbagai rahasia, penjelas
ayat-ayat Allah, sumbernya berbagai karomah yang mulia dan
keajaiban yang menawan, Abu Mahfuzh Ma’ruf al-Karkhi. Ia masyhur
dengan keterkabulan doanya. Penduduk Baghdad ber-istisqo melalui kuburnya dan
mereka berkata: “Kubur Ma’ruf al-Karkhi adalah tiryaq (obat)
yang mujarrab.” (Mir’atul Jinan lil Imam al-Yafi’i, juz 1 halaman 353)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here