31. Al-Imam an-Nawawi (wafat 676 H). Beliau adalah seorang ulama yang sudah tidak diragukan lagi keimamannya. Beliau telah mencapai derajat Hujjatul Islam, yaitu ulama yang hafal 300.000 hadits beserta matan dan sanadnya. Beliau juga adalah ulama yang menjadi pentahqiq dan pentarjih madzhab Syafi’i era pertama sehingga dengan itu beliau menjadi rujukan tertinggi dalam madzhab Syafi’i. Kitab fiqih Syafi’i hasil tangan beliau yang merupakan kumpulan hasil tahqiq dan tarjih dari berbagai pendapat para ulama madzhab Syafi’i di zaman Salaf sampai zaman beliau adalah Minhaj ath-Tholibin. Maka tidak heran jika kitab tersebut disyarah oleh banyak sekali ulama Syafi’iyyah tersohor setelah beliau, seperti al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan kitabnya, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj; al-Imam ar-Romli dengan kitabnya, Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, al-Imam al-Khothib asy-Syarbini dengan kitabnya, Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, dan lainnya. Kitab karya beliau yang populer di kalangan kita yang menjadi bahan kajian ummat Islam di seluruh dunia adalah Riyadlus Sholihin, Syarah Shohih Muslim, al-Adzkar, dan Arba’in an-Nawawiyyah. Kali ini kita hanya akan mengambil faedah dari beliau saja.

a. Istighotsah di kubur Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. 


Beliau adalah termasuk ulama yang sangat menganjurkan tawassul, tasyaffu’, dan istighotsah di kubur Nabi ketika seseorang berziarah ke makam beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menerangkan tata cara ziarah kubur Nabi, beliau menganjurkan untuk membaca bacaan istighotsah dalam kisah al-‘Utbi, salah seorang guru Imam Syafi’i:

“Lalu hendaknya peziarah kembali ke tempatnya semula, yaitu menghadap wajah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, bertawassul dengan diri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk kepentingan dirinya, dan meminta syafaat melalui beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk bacaan yang paling baik adalah apa yang diriwayatkan oleh ash-hab kami (para ulama Syafi’iyyah) dari al-‘Utbi, dan mereka semua merekomendasikan bacaan ini, yaitu: al-‘Utbi berkata: “Aku duduk di samping kubur Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah seorang arab badui dan berkata: (ini permulaan bacaannya yang dimaksud Imam an-Nawawi): “Assalamu ‘alaika yaa Rosulallah. Aku mendengar Allah berfirman: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rosul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (an-Nisaa’: 64). Dan aku datang padamu sebagai orang yang meminta ampun atas dosaku kepada Tuhanku dan meminta syafa’at melaluimu kepada Tuhanku”. Lalu arab badui tersebut bersyair:

“Wahai sebaik-baik manusia, yang tulang-tulangnya dikuburkan dalam tanah ini, Maka dengannya harumlah tanah dan bukit.

Jiwaku sebagai penebus bagi kubur yang engkau tempati, Yang di dalamnya terdapat kesucian, kemurahan, dan kemuliaan.

Engkau adalah pemberi syafa’at yang diharapkan syafa’atnya, Untuk menunjukkan jalan ketika kaki tak bisa melangkah.

Dan kedua sahabatmu (Abu Bakar dan ‘Umar) yang tak akan pernah aku lupakan untuk selamanya, Salam dari ku untuk kalian yang tak bisa terlukis dengan pena.”

Al-‘Utbi lalu berkata: “Laki-laki tersebut pergi dan tiba-tiba mataku sangat mengantuk dan tertidur. Aku melihat Rosul shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi, beliau berkata: “Hai ‘Utbi, kejarlah laki-laki itu dan kabarkan padanya bahwa Allah telah mengampuninya.” Selesai.” (Al-Idloh fi Manasikil Hajj wal ‘Umroh lil Imam an-Nawawi, halaman 454 – 455)

Perhatikan, kisah dan bacaan serta syair di atas sangat sarat dengan tawassul dan istighotsah. Perhatikan pula bahwa Imam an-Nawawi mengatakan bahwa bacaan dan syair diatas adalah termasuk bacaan yang paling baik untuk dibaca ketika ziarah kubur Nabi. Pertanyaan besar: jika bacaan dan syair tersebut syirik, apakah ulama sekelas Imam an-Nawawi memberikan predikat “paling baik” terhadap perkataan yang mengandung kesyirikan ??? Ditambah lagi para ash-hab Syafi’i semuanya merekomendasikannya, mungkinkah mereka merekomendasikan kesyirikan ??? Lalu dimana letak kredibiltas mereka sebagai para ulama ahli tauhid jika tak satupun dari mereka yang tidak mengerti syirik ??? Hadanallahu wa iyyakum.

Imam an-Nawawi juga menuliskan kisah ini dalam kitabnya yang lain (tentunya juga dalam bahasan tentang ziarah kubur Nabi), yaitu dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, juz 8 halaman 217, dan al-Adzkar, halaman 93.

Catatan: Ada sebuah percetakan kitab di Arab Saudi yang memalsukan kitab al-Adzkar, yaitu dengan membuang kisah al-‘Utbi di atas karena mereka menganggap bahwa itu adalah kesyirikan, yaitu cetakan Darul Huda, Riyadl, tahun 1409 H. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

b. Anjuran membangun makam-makam orang sholeh agar selalu di-tabarruk-i oleh ummat Islam. Hal ini telah dikutip oleh Imam al-Khothib asy-Syarbini dalam Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj: 

“Ibnu Qodli Syuhbah berkata: “Hal ini dikuatkan oleh asy-Syaikhoni (Imam ar-Rofi’i dan Imam an-Nawawi) dalam Bab Wasiat bahwasannya boleh berwasiat untuk membangun makam-makam para nabi dan orang sholeh, sebab hal itu dapat menghidupkan ziarah dan tabarruk. Konsekuensi dari itu adalah bolehnya membangun makam-makam orang sholeh.” (Mughnil Muhtaj lil Khothib asy-Syarbini, juz 1 halaman 363)

Perhatikan, yang namanya “menghidupkan”, berarti supaya dilakukan oleh orang banyak dan secara terus menerus. “Menghidupkan ziarah dan tabarruk” berarti supaya ziarah dan tabarruk di makam-makam orang sholeh dilakukan oleh orang banyak dan secara terus menerus.

c. Tentang kemustajaban doa di makam orang sholeh, Imam an-Nawawi pernah mengatakannya sendiri dalam kitabnya yang telah dikutip oleh al-Hafizh Tajuddin as-Subki: 

“Syaikh Abul Fath Nashr wafat di hari Selasa, 9 Muharrom 490 H di Damaskus. Kaum muslimin membawa jenazahnya pada waktu Zhuhur tetapi mereka tidak bisa menguburkannya kecuali di waktu Maghrib karena saking banyaknya peziarah. Kuburnya diketahui terletak di Babus Shoghir, di bawah kubur Mu’awiyyah rodliyallahu ta’ala ‘anhu. Imam an-Nawawi berkata: “Aku mendengar dari para syaikh bahwa berdoa di makamnya di hari Sabtu adalah mustajab.” (Thobaqotus Syafi’iyyah al-Kubro li Tajiddin as-Subki, juz 5 halaman 253)

Perkataan beliau tersebut juga dinukil oleh Ibnu Qodli Syuhbah dalam kitab beliau yang judulnya sama dengan Tajuddin as-Subki yang juga ketika menerangkan biografi Syaikh Abul Fath Nashr al-Maqdisi: 


“Syaikh Abul Fath Nashr wafat di hari ‘Asyuro tahun 490 H. Ia dikuburkan di Babus Shoghir. Kuburnya tampak nyata dan diziarahi. Imam an-Nawawi berkata: “Aku mendengar dari para syaikh bahwa berdoa di makamnya di hari Sabtu adalah mustajab.” Ia (Imam an-Nawawi) sering menyebutnya dalam kitab ar-Roudloh.” (Thobaqotus Syafi’iyyah li Ibni Qodli Syuhbah, juz 1 halaman 303)

d. Anjuran umum untuk bertabarruk di kuburan orang sholeh. Beliau berkata dalam kitabnya:

وَيُسْتَحَبُّ الإِكْثَارُ مِنَ الزِّيَارَةِ، وَأَنْ يُكْثِرَ الوُقُوْفَ عِنْدَ قُبُوْرِ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالْفَضْلِ

“Disunnahkan untuk memperbanyak ziarah kubur dan disunnahkan pula untuk berlama-lama di sisi kuburan para Ahlul Khoir wal Fadhl (para sholihin dan ulama amilin).” (Al-Adzkar lil Imam an-Nawawi, halaman 168)

Perkataan beliau tersebut juga dinukil oleh Imam al-Khothib asy-Syarbini dalam Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj: 


“Berkata Mushonnif (pengarang al-Minhaj, Imam an-Nawawi): “Disunnahkan untuk memperbanyak ziarah kubur dan disunnahkan pula untuk berlama-lama di sisi kuburan para Ahlul Khoir wal Fadhl (para sholihin dan ulama amilin).” (Mughnil Muhtaj lil Khothib asy-Syarbini, juz 1 halaman 543)

Itulah beberapa kutipan yang menyatakan secara tegas bahwa Imam an-Nawawi adalah ulama yang sangat menganjurkan tawassul, tabarruk, dan istighotsah di kubur orang sholeh. Akan tetapi, orang-orang yang tidak menyukai amaliah ini mengutip perkataan beliau tentang larangan mengagungkan kuburan orang sholeh dalam kitab al-Majmu’. Ini bukan suatu masalah, justru ini menjadi boomerang bagi mereka yang tidak menyukai perbuatan ini. Mengapa ? Karena telah jelas sekali dengan uraian di atas bahwa ternyata Imam an-Nawawi sangat menganjurkan tawassul, tabarruk, dan istighotsah di kubur orang sholeh. Ini menandakan bahwa tawassul, tabarruk, dan istighotsah adalah tidak termasuk mengagungkan kuburan yang dimaksud oleh beliau. Hadanallahu wa iyyakum.

Baca kajian Aswaja #06 di sini