26. 
 Al-Imam al-Qodli asy-Syarif Abu ‘Ali
al-Hasyimi al-Hanbali (wafat 428 H). Beliau adalah salah seorang perowi ‘aqidah
Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau adalah pengarang kitab al-Fawa’id al-Muntaqot
yang terkenal itu. Berikut riwayat yang disampaikan oleh al-Qodli Ibnu Abi
Ya’la al-Hanbali dalam Thobaqot-nya:

“Aku mendengar Rizqullah (Abu Muhammad at-Tamimi,
wafat 488 H) berkata: “Aku pernah menziarahi kubur Imam Ahmad untuk menemani
al-Qodli asy-Syarif Abu ‘Ali al-Hasyimi. Aku melihat ia mencium kaki kubur Imam
Ahmad
, maka aku katakan padanya: “apakah ada atsar tentang ini (mencium
kubur) ??
”, maka ia berkata padaku: “Imam Ahmad adalah seseorang yang
agung bagi ku, dan aku tidak pernah berpikir bahwa Allah Ta’ala akan menyiksaku
karena perbuatan ku ini
”, atau perkataan semacamnya.” Ia (Rizqullah) juga
pernah berkata: “aku menghadapnya (asy-Syarif Abu Ali al-Hasyimi) ketika ia
sedang sakit menuju kewafatannya, maka ia berkata padaku: “dengarkanlah i’tiqod
dariku . . . ” (Thobaqotul Hanabilah lil Qodli Ibni Abi Ya’la, juz 3 halaman 341)
   27. 
Al-Imam Abu Muhammad Rizqullah bin Abdil Wahab at-Tamimi (wafat 488 H),
seperti yang sudah disinggung di atas. Beliau adalah salah satu guru termasyhur
dari al-Qodli Ibnu Abi Ya’la. Ketika menerangkan biografi beliau, al-Qodli Ibnu
Abi Ya’la berkata:
“No. 688: Abu
Muhammad Rizqullah bin Abdil Wahab bin Abdil Aziz bin al-Harits bin Asad
at-Tamimi. Ia adalah salah seorang ulama Hanabilah yang masyhur, begitu pula
ayah, paman, dan kakeknya. Ia juga seorang yang sangat ahli ibadah, Malihul
Isyaroh
, dan mempunyai lisan yang fasih. Ia selalu menghadiri halaqoh
ayahnya di Jami’ al-Manshur untuk mendengarkan pelajaran dan fatwanya sampai
pada tahun 450 H, kemudian ia berhenti. Ia pindah ke Darul Khilafah di Bab
al-Marotib. Ia menghabiskan waktu satu tahunnya dengan empat kali
bolak-balik ziarah ke kubur imam kami (Imam Ahmad) pada bulan Rajab dan Sya’ban
dengan menggelar majelis ilmu di sana (di kompleks kubur Imam Ahmad)
. Banyak
sekali orang-orang yang berkumpul menghadiri majelisnya untuk mendengarkan
kalam-kalamnya
. Hadir pula putranya yang selalu menemaninya, yaitu Abul
Fadhl ‘Abdul Wahid.” (Thobaqotul Hanabilah li Ibni Abi Ya’la, juz 3 halaman 464)
Pertanyaan: Mengapa beliau menggelar majelis ilmu di sisi kuburan Imam
Ahmad? Apa yang beliau harapkan di sisi kubur Imam Ahmad? Mengambil berkah atau
bukan?? Ketahuilah, menggelar majelis ilmu adalah suatu ibadah yang sangat
besar.
Tidak sampai di situ saja, perhatikan pula:

“Ia (Rizqullah)
lahir pada tahun 400 H, ada yang mengatakan 401 H. Ia wafat pada pertengahan
bulan Jumadil Ula tahun 488 H. Ia dimakamkan di negerinya, Bab al-Marotib,
kemudian ia dipindahkan ke komplek kubur imam kami (Imam Ahmad) ketika putranya
wafat tahun 491 H.”

“Rizqullah berkata: “Ketika ayahku, Abul Faroj wafat, aku berkeinginan
untuk menguburkannya di tanah yang sama bersama Imam Ahmad, lalu aku pun
menguburkannnya di sana. Ketika malam datang, aku melihat ayahku dalam mimpi,
dia berkata padaku: “Hai Abu Muhammad, kau telah mendekatkanku dengan Imam Ahmad”,
maka aku katakan: “apakah kau lebih suka aku galikan tanah dan aku kuburkan di
tempat lain?”, maka ia menjawab: “jika kau pindahkan aku dari orang ini (Imam
Ahmad), maka dengan siapa aku akan bertabarruk ??!” (Thobaqotul
Hanabilah li Ibni Abi Ya’la, juz 3 halaman 466)
Ayah Imam Rizqullah adalah seorang ulama besar Hanabilah juga, seperti
yang sudah disebutkan di atas.
 
   28. 
Asy-Syaikh al-‘Allamah Abu ‘Abdillah Muhammad ash-Shoffar al-Isfiroyini,
cucu dari al-Imam ‘Umar bin ash-Shoffar, salah seorang ulama besar Syafi’iyyah.
Beliau pernah berkata tentang kubur al-Imam al-Hafizh Abu ‘Awanah (wafat 316 H),
pengarang kitab Musnad Abu ‘Awanah:

“Berkata al-Hafizh Ibnu ‘Asakir (wafat 571 H): “Telah mengabarkan
kepadaku asy-Syaikh ash-Sholih al-Ashil Abu ‘Abdillah Muhammad bin
Muhammad bin ‘Umar ash-Shoffar al-Isfiroyini
bahwasannya kubur al-Imam al-Hafizh Abu ‘Awanah di Isfiroyin adalah mazar al-’aalam (tempat ziarah
dunia) dan mutabarrok al-kholqi (tempat untuk mendapatkan keberkahan
bagi seluruh makhluk).” (Pengantar Musnad Abu ‘Awanah, juz 1 halaman 420)
29. 
Al-Imam
al-Hafizh Ibnul Atsir (wafat 630 H), seorang ulama ahli hadits dan ahli sejarah
yang mumpuni. Beliau adalah pengarang kitab hadits populer “an-Nihayah fi
Ghoribil Hadits wal Atsar”. Ketika menerangkan biografi dari Ma’ruf al-Karkhi,
beliau berkata:
“Ma’ruf bin
Fairuz, Abu Mahfuzh al-Karkhi. Dikatakan namanya adalah Ibnul Fairuzan atau
Ibnu ‘Ali. Namanya dinisbatkan kepada desa Karkh di Baghdad. Ia adalah salah
seorang ulama yang masyhur dengan kezuhudannya, ibadahnya, kewaro’annya, dan
keberpalingannya dari dunia. Ia senantiasa dikerumuni oleh orang-orang sholeh.
Orang-orang ‘arif bertabarruk dengan berkumpul bersamanya. Ia adalah orang yang
terkabul doanya, mempunyai berbagai karomah, dan kuburnya bisa dijadikan tempat
ber-istisqo (meminta hujan). Ia termasuk penghulunya para syaikh yang masyhur
diantara mereka. Ia adalah maula (pengikut, pembantu) ‘Ali bin Musa
ar-Ridlo, kawan dari Dawud ath-Tho’i. Para penduduk Baghdad berkata: “Kubur
Ma’ruf al-Karkhi adalah tiryaq (obat) yang mujarrab.” (Al-Mukhtar fi
Manaqibil Akhyar li Ibnil Atsir, juz 5 halaman 36)
   30.  Al-Imam Abu ‘Abdillah Yaqut bin Abdillah al-Hamawi
(wafat 626 H), salah seorang ulama ahli sejarah yang utama dengan kitab
sejarahnya, Mu’jamul Buldan. Ia berkata dalam kitabnya tersebut ketika
menjabarkan biografi Ma’ruf al-Karkhi:
“… dari desa Karkh inilah dinisbatkannya asy-Syaikh
Ma’ruf al-Karkhi bin Fairuzan, Abu Mahfuzh. Para ulama berkata: “Rumahnya
(kuburnya) dikenal sebagai tempat yang selalu diziarahi sampai sekarang …”
(Mu’jamul Buldan lil Imam Yaqut al-Hamawi, juz 4 halaman 449)

Baca
kajian Aswaja #5: http://www.kalam-ulama.com/2016/03/kajian-aswaja-05-ulama-sejagat.html