Kajian ASWAJA #05 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

21. Al-Imam al-Hafizh ‘Abdul Haq al-Isybili (wafat 582 H). Beliau adalah ulama ahli hadits yang terkenal mempunyai spesialisasi meneliti ‘ilal (cacat) hadits. Beliau berkata:


“Dan ketahuilah bahwasannya makam-makam orang sholeh tidak pernah sepi dari barokah. Sungguh orang yang menziarahinya, mengucap salam kepadanya, dan membaca Quran di dekatnya, serta berdoa untuk orang-orang yang ada di dalamnya, maka tidak akan kembali kecuali dengan kebaikan dan membawa pahala.” (Al-’Aqibah fi Dzikril Maut lil Imam ‘Abdil Haq al-Isybili, juz 1 halaman 163)

22. Al-Imam al-Hafizh Ibnul Jauzi al-Hanbali (wafat 597 H). Beliau adalah ulama yang multi talenta, menguasai berbagai macam bidang ilmu; ‘aqidah, tafsir, hadits, ushul, sejarah, hikmah, dan akhlaq. Beliau berkata:

“Hendaknya seseorang memiliki rutinitas ziarah ke makam-makam orang sholeh dan menyendiri di sana.” (Shoidul Khothir lil Hafizh Ibnil Jauzi, juz 1 halaman 418)

Dalam kitab beliau yang lain, yaitu dalam kitab Manaqib Ma’ruf al-Karkhi, beliau membuat satu bab khusus yang berjudul:

“Bab Kedua Puluh Tujuh: Menyebutkan Keutamaan Ziarah ke Kubur Ma’ruf al-Karkhi dan Terbuktinya Keterkabulan Do’a di Sisi Kuburnya”

Bab tersebut berisikan banyak sekali riwayat tentang tabarruknya para ulama Salaf ke kubur Ma’ruf al-Karkhi yang sebagiannya sudah kami paparkan sebelumnya.

23. Al-Imam al-Hafizh Abdul Ghoni bin Abdul Wahid al-Maqdisi al-Hanbali (wafat 600 H), salah seorang ulama besar Hanabilah yang mu’tamad (terpegangi) dalam madzhab Hanbali yang juga merupakan ahli haditsnya madzhab Hanbali. Beliau pernah bertabarruk dengan makam Imam Ahmad bin Hanbal:


“Telah datang keterangan dalam kitab al-Hikayat al-Mantsuroh karya al-Imam al-Hujjah Dliya’uddin al-Maqdisi rohimahullah ta’ala (wafat 634 H), ia berkata: “aku pernah mendengar asy-Syaikh al-Imam Abu Muhammad Abdul Ghoni bin Abdul Wahid al-Maqdisi berkata: “di tanganku telah timbul semacam bisul. Bisul itu sembuh, tapi selalu kambuh lagi. Penyakit ini ada padaku dalam waktu yang lama. Maka aku pergi ke Ashbihan dan pergi ke Baghdad. Aku pergi ke makam Imam Ahmad bin Hanbal rodliyallahu ‘anhu wa ardlohu, dan aku usapkan tanganku ke makamnya. Dan ternyata bisul itu bisa sembuh dan tidak kambuh lagi.” (Al-Mausu’ah al-Yusufiyyah lis Syaikh Yusuf Khoththor, halaman 168)

24. Al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali (wafat 620 H). Beliau juga termasuk ulama yang mu’tamad dalam madzhab Hanbali dengan karya agungnya “al-Mughni” yang menjamak, mentahqiq, dan mentarjih pendapat-pendapat dalam madzhab Hanbali. Beliau berkata:

“Fashal: Disunnahkan mengubur di pemakaman yang banyak orang solehnya, agar mendapat berkah mereka, begitu pula di tempat-tempat mulia lainnya. Bukhori dan Muslim sungguh telah meriwayatkan bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam ketika ia ingin wafat, ia meminta kepada Allah agar didekatkan dengan tanah Baitul Maqdis sejarak lemparan batu.” (Al-Mughni lil Imam Ibni Qudamah, juz 3 halaman 442)

25. Al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Abdul Ghoni al-Baghdadi atau yang masyhur disebut dengan Ibnu Nuqthoh (wafat 629 H). Beliau menuliskan biografi dari Sa’id bin Abi Sa’id al-Jamidi:

(1707) “Sa’id bin Abi Sa’id bin Abdil ‘Aziz bin Abi Sa’ad al-Jamidi, kemudian ganti menjadi al-Qiluwi. Ia mendengar dan menulis dari Abul Fattah ‘Abdul Malik bin Abil Qosim al-Karukhi dan Muhammad bin Nashir. Ia dan ayahnya adalah syaikh yang sholih. Kuburnya dapat dijadikan tempat bertabarruk. Ia masyhur dengan kezuhudannya. Ia wafat di bulan Romadlon tahun 603 H.” (Takmilatul Ikmal li Ibni Nuqthoh, juz 2 halaman 331)

Baca kajian Aswaja #04 di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here