Kajian ASWAJA #04 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

16. Al-Imam al-Qusyairi (wafat 465 H). Beliau adalah imam besar dari para imam-imam ahli fiqih, hadits, tafsir, dan lughoh (bahasa). Beliau berkata ketika menyebutkan biografi Ma’ruf al-Karkhi:

“Ma’ruf al-Karkhi. Ia adalah Abu Mahfuzh Ma’ruf bin Fairuz al-Karkhi, wafat 200 H (815 Masehi). Ia termasuk syaikh besar, terkabul doanya, dan kuburnya bisa dijadikan pengobatan. Penduduk Baghdad berkata: “Kubur Ma’ruf al-Karkhi adalah tiryaq (obat) yang mujarrab.” Ia adalah salah seorang maula (pengikut, pembantu) ‘Ali bin Musa ar-Ridlo. Ia adalah guru dari Sari as-Saqothi (yang juga seorang ulama dan waliyyullah agung).” (Risalah al-Qusyairiyyah, halaman 427)

17. Al-Hafizh Abu ‘Ali al-Ghossani (wafat 498 H), seorang ulama ahli hadits dan sejarah yang menjadi gurunya para ulama pada masanya. Beliau menyebutkan kisah tabarruk yang sangat masyhur, yaitu kisah Istisqo’-nya Qodli Samarkandi di makam Imam Bukhori:

أخبرني أبو الحسن طاهر بن مفوز ابن عبد الله بن مفوز المعافري صاحبنا رحمه الله، قال: أخبرني أبو الفتح وأبو الليث نصر بن الحسن التنكتي المقيم بسمرقند –قدم عليهم بلنسية عام أربعة وستين وأربعمة- قال: قحط المطر عندنا بسمرقند في بعض الأعوام، قال: فاستسقى الناس مرارا فلم يسقوا، قال: فأتى رجل من الصالحين معروف بالصلاح مشهور به إلى قاضي سمرقند، فقال له: إني قد رأيت رأيا أعرضه عليك، قال: وما هو؟ قال: أرى أن تخرج ويخرج الناس معك إلى قبر الإمام محمد بن إسماعيل البخاري رحمه الله- وقبره بخرتنك، ونستسقي عنده، فعسى الله أن يسقينا، قال: فقال القاضي: نعما رأيت. فخرج القاضي وخرج الناس معه، واستسقى القاضي بالناس، وبكى الناس عند القبر، وتشفعوا بصاحبه، فأرسل الله تبارك وتعالى السماء بماء عظيم غزير أقام الناس من أجله بخرتنك سبعة أيام أو نحوها، لا يستطيع أحد الوصول إلى سمرقند من كثرة المطر وغزارته، وبين خرتنك وسمرقند ثلاثة أميال أو نحوها

“Telah mengabarkan padaku Abul Hasan Thohir bin Mafuz bin Abdillah bin Mafuz al-Mu’afiri, shohib kami -semoga Allah merahmatinya- ia berkata: Telah mengabarkan padaku Abul Fath dan Abu al-Laits Nashr bin al-Hasan at-Tankati yang bermukim di Samarqandi, ia datang pada mereka di Valencia (Spanyol) tahun 464 H, ia berkata: “Selama beberapa tahun, hujan tidak turun pada kami di negeri Samarqandi. Orang-orang melakukan istisqo’ (sholat meminta hujan) beberapa kali, namun hujan tidak juga turun. Maka, seorang laki-laki sholih yang dikenal dengan kesholihannya mendatangi Qodli negeri Samarqandi. Ia berkata: “Sesungguhnya aku mempunyai satu pendapat yang hendak aku sampaikan kepadamu.” Qodli berkata: “Apa itu ?” Ia menjawab: “Aku berpendapat agar engkau keluar bersama ummat Islam menuju kubur al-Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhori. Makam beliau ada di Kharantak. Lalu kita melakukan istisqo’ di sisi kuburnya, semoga Allah menurunkan hujan kepada kita.” Qodli berkata : “Ya, aku setuju.” Maka, sang Qodli pun keluar dan diikuti oleh ummat Islam bersamanya. Qodli tersebut melakukan istisqo’ bersama ummat Islam. Mereka menangis di sisi kubur dan meminta syafa’at kepada penghuni kubur (Imam al-Bukhori). Setelah itu, Allah Ta’ala mengutus awan yang membawa hujan sangat lebat. Mereka tinggal di Kharantak selama kurang lebih tujuh hari. Tidak seorang pun yang dapat pulang ke Samarqandi karena derasnya hujan yang turun. Jarak antara Kharantak dan Samarqandi sekitar tiga mil.” (Taqyid al-Muhmal wa Tamyiz al-Musykal lil Hafizh al-Ghossani, juz 1 halaman 44)
Riwayat di atas adalah shohih. Perhatikan para perowinya:

a. Abul Hasan Thohir bin Mafuz bin Abdillah bin Mafuz al-Mu’afiri. Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata: “ia adalah seorang hafizh mutqin, murid dari al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr. Ia wafat tahun 484 H.” (Tadzkirotul Huffazh lil Hafizh adz-Dzahabi, juz 4 halaman 122)

b. Abu al-Laits Nashr bin al-Hasan at-Tankati. Al-Hafizh adz-Dzahabi menyebutnya syaikh, ‘alim, muhaddits, tsiqot. Ia wafat 486 H. (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 19 halaman 90)

18. Al-Qodli Ibnu Abi Ya’la al-Hanbali (wafat 526 H), seorang ulama ahli sejarah yang pertama kali menghimpun biografi para ulama Hanabilah secara lengkap. Dalam biografi Ma’ruf al-Karkhi, beliau mencantumkan perkataan al-Imam Ibrohim al-Harbi tentang kubur Ma’ruf al-Karkhi:

“Berkata Ibrohim al-Harbi: “kubur Ma’ruf al-Karkhi adalah tiryaq (obat) yang mujarrab.” (Thobaqotul Hanabilah li Ibni Abi Ya’la, juz 2 halaman 479)

Di halaman selanjutnya, terdapat keterangan:

“Abdullah bin al-‘Abbas ath-Thoyalisi berkata: “anak saudara Ma’ruf (keponakan Ma’ruf) berkata padaku: “pamanku, Ma’ruf, berkata padaku: “jika engkau memiliki hajat (keinginan) kepada Allah ‘azza wa jalla, maka bertawassul-lah kepada Allah melalui diriku.” (Thobaqotul Hanabilah li Ibni Abi Ya’la, juz 2 halaman 480)

Pada biografi asy-Syarif Abu Ja’far al-Hasyimi, beliau berkata:

“Asy-Syarif Abu Ja’far al-Hasyimi al-Hanbali dibuatkan makam di dekat makam Imam Ahmad dan dimakamkan di sana. Orang-orang (kaum Hanabilah) banyak mengambil debu makamnya untuk bertabarruk. Mereka tinggal di kuburnya siang dan malam dalam waktu yang lama. Mereka mengkhatamkan al-Qur’an beberapa kali dan memperbanyak doa. Sungguh telah sampai berita kepadaku bahwa ia dibacakan beribu-ribu kali khataman al-Qur’an di atas kuburnya dalam waktu beberapa bulan. Ia juga banyak dimimpikan oleh orang-orang sholeh dengan mimpi-mimpi yang baik.” (Thobaqotul Hanabilah li Ibni Abi Ya’la, juz 3 halaman 446)

19. Al-Imam Ibnu Khumais al-Juhani (wafat 552 H), salah seorang ulama besar ahli fiqih syafi’i. Beliau berkata ketika menjabarkan biografi Ma’ruf al-Karkhi:

“Ma’ruf al-Karkhi. Ia adalah Abu Mahfuzh Ma’ruf bin Fairuz al-Karkhi – rohmatullahi ‘alaih – dan dikatakan namanya adalah Ibnul Fairuzan atau Ma’ruf bin ‘Ali. Ia adalah salah seorang dari sekian banyak masyayikh yang menjadi penghulunya para syaikh yang masyhur dengan kezuhudannya, kewaro’annya, futuwahnya, keterkabulan doanya, dan kuburannya bisa dijadikan tempat untuk ber-istisqo (meminta hujan). Para penduduk Baghdad berkata: “kubur Ma’ruf adalah tiryaq (obat) yang mujarrab.” (Manaqibul Abror li Ibni Khumais, juz 2 halaman 109)

20. Al-Imam al-Wazir ‘Aunuddin Ibnu Hubairoh (wafat 560 H), seorang ulama ahli fiqih Hanbali yang juga seorang perdana menteri (wazir) Baghdad. Beliau pernah berkata sesuai yang dikutip oleh Imam al-Yafi’i:

“Sebagian ulama Hanabilah telah menuturkan bahwa mereka telah mendengar masyayikh Baghdad bercerita bahwasannya ‘Aunuddin Ibnu Hubairoh berkata: “Sungguh aku pernah merasakan sempitnya urusanku hingga suatu hari aku menemukan kekuatan. ‘Ali, salah seorang keluargaku, menghimbau kepadaku untuk mendatangi kubur Ma’ruf al-Karkhi rodliyallahu ta’ala ‘anhu. Maka kemudian aku meminta kepada Allah di sisi kuburnya dan ternyata berdoa di sisi kuburnya adalah mustajab.” (Mir’atul Jinan lil Imam al-Yafi’i, juz 1 halaman 354) 

Baca sebelumnya, Kajian Aswaja #3