Kajian ASWAJA #03 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

oleh : Muhammad Azka

11. Al-Imam al-Muhaddits az-Zahid Ja’far al-Khuldi (wafat 348 H). Beliau
adalah salah seorang ulama yang sangat zuhud yang menjadi salah satu dari tiga
keajaiban Baghdad pada masanya, yaitu asy-Syibli, al-Murta’isy, dan beliau
sendiri. Beliau bertabarruk dengan tanah makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abi
Tholib. Riwayat ini disebutkan oleh al-Hafizh Abu Thohir as-Salafi (wafat 577
H) dalam kitab ath-Thuyuriyyat. Asal kitab ini sebenarnya milik gurunya,
al-Imam Ibnu ath-Thuyuri (wafat 500 H), yang disusun ulang dan disempurnakan
olehnya. Tentang riwayat ini, Ibnu ath-Thuyuri berkata:

“Aku mendengar Ahmad berkata: “aku mendengar Abu Bakar berkata: “aku
mendengar Ja’far al-Khuldi berkata: “aku pernah menderita penyakit kulit yang
parah”, kemudian ia berkata: “maka aku usapkan penyakit itu dengan tanah
kuburan Husain”, ia melanjutkan: “aku tertidur kemudian bangun, dan ternyata
sudah tidak ada lagi sedikitpun penyakit itu padaku.” (Ath-Thuyuriyyat, halaman
912, no. 847)

Riwayat diatas adalah shohih. Perhatikan para perowinya:

a. Ahmad dalam sanad tersebut adalah Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin
Manshur al-Baghdadi al-‘Atiqi, atau yang masyhur disebut Abul Hasan al-‘Atiqi.
Al-Hafizh adz-Dzahabi menyebutnya al-Imam al-Muhaddits ats-Tsiqoh. Ia wafat 441
H. (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 1 halaman 909)

b. Abu Bakar dalam sanad tersebut adalah Abu Bakar al-Abhari. Al-Hafizh
adz-Dzahabi menyebutnya al-Imam al-‘Allamah al-Qodli al-Muhaddits, Syaikhul
Malikiyyah. Ia wafat 375 H. Ad-Daruquthni mengatakan “ia tsiqot, ma’mun, zahid,
waro’.” (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 3 halaman 3531)

12. Abu ‘Ali an-Naisaburi al-Mu‘addal (wafat 374 H), salah satu guru dari
Imam al-Hakim. Riwayat ini disebutkan oleh Imam al-Hakim sendiri yang dikutip
oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqolani:

“Berkata Imam al-Hakim: “aku mendengar Abu ‘Ali an-Naisaburi berkata: “aku
pernah mengalami kesulitan yang sangat berat. Lalu aku bertemu Nabi shollallahu
‘alaihi wa sallam dalam tidur (bermimpi), seolah-olah beliau sholallahu ‘alaihi
wa sallam berkata pada ku: “pergilah ke makam Yahya bin Yahya, beristighfarlah,
dan mintalah (kepada Allah) agar dikabulkan hajatmu.” Aku terbangun dan aku
lakukan petunjuk itu. Dan ternyata benar hajatku pun terkabulkan.” (Tahdzibut
Tahdzib lil Hafizh Ibni Hajar, juz 4 halaman 398). [Yahya bin Yahya adalah
salah seorang muhaddits Salaf, ia adalah sahabat setia Imam Malik].

Al-Khothib al-Baghdadi berkata tentang Abu ‘Ali an-Naisaburi al-Mu‘addal:
“Abu Bakar al-Barqoni meriwayatkan darinya. Aku bertanya kepadanya tentang Abu
‘Ali an-Naisaburi al-Mu‘addal, ia menjawab: “ia tsiqot”. (Tarikh Baghdad lil
Khothib al-Baghdadi, juz 2 halaman 106, no. 75)

13. Al-Imam al-Hakim (wafat 405 H), pengarang kitab al-Mustadrok ‘ala
Shohihain. Kitab tersebut menghimpun hadits-hadits yang dinilai shohih menurut
kriteria Imam Bukhori dan Imam Muslim yang tidak dimasukkan ke dalam Shohihain.
Beliau berkata ketika menerangkan biografi shohabat Abu Ayyub al-Anshori:

“Abu Ayyub rodliyallahu ‘anhu berjuang dalam perang Badar, perang Uhud,
perang Khondaq, dan perang lainnya yang kesemuanya bersama Rosulullah
sholallahu ‘alaihi wa sallam. Ia wafat pada masa perang melawan Yazid bin
Mu’awiyah al-Qosthanthiniyyah pada masa kekhilafahan Mua’wiyah bin Abi Sufyan,
yaitu di tahun 52 H. Kuburnya berada di sekitar benteng Konstantinopel, Romawi,
seperti yang dituturkan oleh orang-orang yang tahu betul kuburnya. Mereka
selalu menziarahi kuburnya dan beristisqo’ (meminta hujan) di samping kuburnya
ketika terjadi kekeringan.” (Al-Mustadrok ‘ala Shohihain lil Imam al-Hakim, juz
3 halaman 518)

Perhatikan, apakah setelah menuliskan ini, Imam al-Hakim berkata bahwa
perbuatan itu syirik ???

14. Al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbihani (wafat 430 H). Beliau adalah termasuk ulama
yang paling banyak menghafal hadits. Beliau membuat kitab yang sangat populer
tentang biografi para wali Allah, yaitu Hilyatul Auliya’ wa Thobaqotul
Ashfiya’. Dalam kitabnya tersebut, ketika menjabarkan biografi Abu Faros
Abdullah bin Gholib al-Haddani, beliau menuturkan di bagian akhir biografinya:

 

“Berkata Fanadi Abdul Malik bin Mahlab: “Ketika Abu Faros al-Haddani
terbunuh, ia pun dikuburkan. Orang-orang mengambil tanah makamnya untuk
dijadikan minyak Misik yang mereka taburkan ke baju mereka.” (Hilyatul Auliya’
lil Hafizh Abi Nu’aim, juz 2 halaman 258)

Perhatikan, apakah setelah menuliskan ini, al-Hafizh Abu Nu’aim berkata
bahwa perbuatan itu syirik ???

15. Al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi (wafat 463 H). Beliau adalah ulama ahli
hadits, sejarah, fiqih, dan ushuluddin. Banyak sudah kitab-kitabnya yang
menjadi bahan rujukan dalam keempat fan ilmu tersebut. Beliau adalah ulama yang
paling hafizh terhadap hadits di Iraq setelah Imam Ahmad dan Imam
ad-Daruquthni. Kitab sejarah yang populer dari hasil tangannya adalah Tarikh
Madinatis Salam atau yang masyhur dinamakan Tarikh Baghdad. Dalam kitabnya
tersebut, beliau menyebutkan banyak riwayat tentang tabarruk di kubur orang
sholeh seperti yang sudah banyak dipaparkan sebelumnya. Berikut ini ada satu
riwayat yang sangat menarik, yaitu tentang kehebatan 4 makam wali:

“Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdirrohman Ahmad bin Isma’il al-Hiri
adl-Dlorir, telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdirrohman Muhammad bin
al-Husain as-Sulami di Naisabur, ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar ar-Rozi
berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Musa ath-Tholhi berkata: Aku mendengar
Ahmad bin al-‘Abbas berkata: “Aku hendak keluar dari Baghdad, kemudian berjumpa
dengan seorang laki-laki yang ada tanda ibadahnya (seorang ahli ibadah), ia
bertanya: “Dari mana anda?” Aku menjawab: “Aku keluar dari Baghdad, ingin kabur
karena di Baghdad sedang ada kekacauan, aku khawatir penduduk Baghdad akan
disiksa.” Kemudian ia berkata: “Kembalilah! Jangan takut! Karena di Baghdad ada
4 makam wali yang menjadi benteng mereka dari semua petaka.” Aku bertanya:
“Siapa mereka ?” Ia menjawab: “Imam Ahmad bin Hanbal, Ma’ruf al-Karkhi, Bisyr
al-Hafi, dan Manshur bin ‘Ammar.” Kemudian aku pun kembali, berziarah ke
makam-makam tersebut. Dan ternyata aku tidak keluar dari Baghdad pada tahun itu
(karena aman).” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 443)

Kami tidak mengetahui riwayat di atas shohih atau tidak, dikarenakan banyak
perowi yang asing bagi kami. Yang jelas, apabila kandungan riwayat tersebut
merupakan kemungkaran dan kesyirikan, niscaya al-Khothib al-Baghdadi tidak akan
mencantumkannya.

Selain itu, dalam keterangan lainnya, beliau berwasiat agar dimakamkan di
dekat makam Bisyr al-Hafi. Mengapa beliau menginginkan hal tersebut ? Tidak
lain karena makam Bisyr al-Hafi terdapat keutamaan, dan al-Khothib al-Baghdadi
ingin bertabarruk dengan cara dimakamkan di dekatnya:

“Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir (wafat 571 H) berkata: “aku mendengar al-Husain bin
Muhammad bercerita dari Ibnu Khoirun (salah seorang guru Ibnul Jauzi) dan
lainnya, sesungguhnya al-Khothib al-Baghdadi menuturkan bahwa ia menginginkan
meminum air zamzam 3 kali tegukan dan meminta kepada Allah 3 hajat (dalam 3
kali tegukan tersebut). Pertama, ia menginginkan membuat kitab Tarikh Baghdad,
kedua, ingin mengajar hadits di Jami’ Manshur, dan ketiga ingin dikuburkan di
dekat makam Bisyr al-Hafi. Dan ternyata kesemuanya terkabul.” (Siyar A’lam
an-Nubala’ lil Hafizh adz-Dzahabi, juz 18 halaman 279)

Baca sebelumnya, Kajian Aswaja #2: Kajian
ASWAJA #2 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang
Sholeh