Kajian Aswaja #01 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

Oleh : Muhammad AzkaBismillahirrohmanirrohim. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Ali Sayyidina Muhammad.

Kalam ulama – Sebagian besar Ummat Islam di seluruh dunia gemar berziarah ke makam-makam orang sholeh dalam rangka mengingat kematian, bertabarruk, dan berdoa untuk menunaikan hajat (keinginan). Di Indonesia, yang paling populer dijadikan tujuan ziarah adalah makam-makam Wali Songo yang ada di tanah Jawa. Bahkan makam-makam Wali Songo ini juga dikenal oleh ummat Islam se-Asia Tenggara dan mereka pun juga tidak jarang berziarah ke sana.Tabarruk secara bahasa berarti mencari tambahan berkah atau lebih mudah diartikan sebagai ‘ngalap berkah’. Pada faktanya, tabarruk di kuburan orang-orang sholeh sudah terjadi semenjak masa Salaf (3 kurun Hijriyyah pertama) dan dilakukan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari masa ke masa, tanpa ada yang mengingkarinya. Berikut ini akan kami suguhkan bukti-bukti dari fakta tersebut.

1. Al-Imam asy-Syafi’i (wafat 204 H), seorang mujtahid agung yang pertama kali merumuskan ilmu Ushul Fiqh dengan kitabnya, ar-Risalah. Kepopuleran nama beliau sudah tidak diragukan lagi. Beliau juga telah berjasa besar dalam membantah dan mengalahkan kaum-kaum ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah, Qodariyyah, dan Jabariyyah. Ternyata, beliau sering bertabarruk dan berdoa di kubur al-Imam Abu Hanifah saat mempunyai hajat. Riwayat tentang itu telah direkam oleh al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi:

“Telah mengabarkan kepada kami al-Qodli Abu ‘Abdillah al-Husain bin ‘Ali bin Muhammad ash-Shoimari, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami ‘Umar bin Ibrohim al-Muqri’, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Mukarrom bin Ahmad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami ‘Umar bin Ishaq bin Ibrohim, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami ‘Ali bin Maimun, ia berkata: Aku mendengar Imam asy-Syafi’i berkata: “Sesungguhnya aku benar-benar bertabarruk dengan Imam Abu Hanifah. Aku datang ke kuburnya setiap hari, yakni untuk berziarah. Apabila aku mempunyai suatu hajat (keperluan), maka aku sholat dua roka’at lalu datang ke kuburnya untuk berdoa kepada Allah Ta’ala untuk hajat tersebut di sisinya. Maka tidak lama setelah itu, hajatku pun terpenuhi.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 445)

Meskipun dalam sanadnya terdapat kedlo’ifan, akan tetapi dalam keterangan yang lain, beliau tidak menafikan adanya berkah di kuburan orang-orang sholeh, seperti yang dikemukakan oleh Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab berikut ini:

“(Keenam). Berkata Imam asy-Syafi’i dalam kitab al-Umm dan Qoul Qodim serta segolongan al-Ashhab (para ulama Syafi’iyyah): “Disunnahkan untuk mengubur di pekuburan yang utama di negeri tersebut (negeri dimana mayyit meninggal) sebagaimana yang disebutkan oleh mushonnif (pengarang al-Muhadzdzab, Imam asy-Syairozi), karena hal itu lebih mudah untuk mendapatkan rahmat. Mereka berkata (Imam asy-Syafi’i dan Ashhab-nya): “termasuk dari pekuburan yang dimaksud adalah pekuburan yang sering disebut-sebut dengan kebaikan dan dimakamkan orang-orang sholeh di dalamnya.” (Al-Majmu’ lil Imam an-Nawawi, juz 5 halaman 246)

Dari keterangan di atas, didapat informasi bahwa Imam asy-Syafi’i bahkan para Ashhab-nya mengakui adanya berkah di pekuburan yang banyak orang-orang sholehnya yang oleh karena itu mereka menyunnahkan penguburan di sana.

2. Al-Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H), seorang mujtahid agung yang hafal 1 juta hadits dan oleh karena itu beliau digelari Hafizh ad-Dunya. Beliau terkenal akan kegigihannya melawan kaum Mu’tazilah. Beliau mempunyai 2 putera yang mewaraisi keilmuannya, yaitu Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan Sholeh bin Ahmad bin Hanbal. Ternyata, beliau membolehkan bertabarruk dengan kubur dan mimbar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam:


Perhatikan nomor 250. “Aku (‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal) pernah bertanya kepadanya (Imam Ahmad) tentang seseorang yang mengusap mimbar Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dan bertabarruk dengan usapannya itu, serta menciumnya. Dan ia melakukan hal yang serupa terhadap kubur beliau shollallaahu ‘alaihi wa sallam atau yang semisal dengan ini, yang dimaksudkan dengan perbuatannya itu untuk bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah ‘azza wa jalla ?? Ia (Imam Ahmad) menjawab : ‘Tidak mengapa dengan hal itu.” (Al-’Ilal wa Ma’rifatir Rijal lil Imam Ahmad, juz 2 halaman 492)

3. Bisyr bin Harits al-Hafi (wafat 227 H), seorang waliyullah agung dan termasuk penghulunya para shufi dan orang-orang masyhur. Menurut Imam Ahmad, beliau adalah yang keempat dari tujuh Wali Abdal. Beliau adalah sahabat Ma’ruf al-Karkhi (wafat 200 H) yang merupakan nenek moyangnya para shufi dan waliyullah paling zuhud. Hampir semua thoriqot Tashowwuf berasal dari Ma’ruf al-Karkhi dan banyak sekali karomah yang Allah anugerahkan padanya. Tahukah anda bahwa Bisyr al-Hafi menyarankan untuk mendatangi kuburan Ma’ruf al-Karkhi ketika mempunyai hajat ? Al-Hafizh Ibnul Jauzi telah mengutipnya: (juga sedikit disebutkan tentang Imam Ahmad bin Hanbal):

“Berkata Ahmad bin al-Fath: “Aku melihat Bisyr bin Harits dalam tidurku (bermimpi), dia duduk di sebuah taman dan diantara tangannya ada makanan dan ia sedang memakannya. Aku bertanya kepadanya: “Hai Abu Nashr, apa yang Allah lakukan (berikan) padamu?”, ia menjawab: “Allah mengampuniku, merahmatiku, dan membolehkan aku memasuki surga”, ia lalu berkata padaku: “makanlah semua buah-buahan yang ada di dalamnya, minumlah air yang ada di sungai-sungainya, dan nikmatilah semua yang ada di dalamnya, sebagaimana engkau menahan dirimu dari syahwat-syahwat tersebut di alam dunia.” Kemudian aku berkata padanya: “semoga Allah menambah (rahmat-Nya) pada mu, hai Abu Nashr. Ohya, dimana saudaramu, Ahmad bin Hanbal?”, ia menjawab: “ia (Imam Ahmad) berdiri di pintu surga, ia akan mensyafa’ati para Ahlus Sunnah yang mengatakan (meyakini) bahwa sesungguhnya al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluq.” Aku juga bertanya: “Lalu apa yang dilakukan oleh Ma’ruf al-Karkhi?” [maksudnya, bagaimana dengan Ma’ruf al-Karkhi?]. Ia lalu menggelengkan kepalanya (tanda tidak tahu), lalu berkata padaku: “Begitulah, antara kita dan dia (Ma’ruf) ada banyak hijab (penghalang). Sesungguhnya dia beribadah kepada Allah bukan karena mengharapkan surga-Nya atau kerena takut akan neraka-Nya, tetapi dia beribadah kepada Allah murni karena-Nya. Oleh karena itu, Allah mengangkatnya ke Rofiq al-A’la (tempat yg tinggi), dan Allah juga mengangkat penghalang antara dia dan Tiryaq Mujarrab (obat yang mujarrab) itu [maksud Tiryaq Mujarrab adalah kuburan Ma’ruf al-Karkhi]. Oleh karena itu, barangsiapa yang mempunyai hajat (keinginan) kepada Allah, maka datangilah kuburnya dan berdoalah di sana, maka akan dikabulkan untuknya, insya Allahu Ta’ala.” (Shifatus Shofwah lil Hafizh Ibnil Jauzi, juz 1 halaman 425)

4. Al-Imam al-Bukhori (wafat 256 H), imamnya para ahli hadits yang telah menyusun kitab paling shohih setelah al-Qur’an, yaitu Shohih Bukhori. Semua orang pasti mengenalnya. Faktanya, pada saat mengarang kitab “at-Tarikh”, beliau melakukannya di sisi kubur Rosulullah. Al-Hafizh adz-Dzahabi telah mengutipnya:


(Bab) Menyebutkan Perjalanan, Pencarian (Ilmu dan Hadits), dan Karya-karya Imam al-Bukhori:

“Berkata Muhammad bin Abi Hatim al-Bukhori: “Aku mendengar Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il (Imam al-Bukhori) berkata: “ketika aku pergi haji, saudaraku dan ibuku pulang, tetapi aku membiarkan diriku tinggal (di sini) untuk mencari hadits. Ketika aku menginjak usia 18 tahun, aku membuat kitab kumpulan biografi shohabat dan tabi’in serta perkataan-perkataan mereka. Ketika aku membuat kitab “at-Tarikh”, itu aku lakukan di sisi kubur Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pada malam-malam purnama. Aku memendekkan nama kitab at-Tarikh tersebut karena memang isinya adalah kisah dan juga karena aku tidak suka (nama) kitab yg panjang.” (Siyar A’lam an-Nubala’ lil Hafizh adz-Dzahabi, juz 3 halaman 3326)

Apa yang beliau harapkan di sisi kubur Rosulullah saat mengarang kitab? Kalau bukan karena mengharap barokah, maka beliau tidak usah capek-capek datang ke kubur Rosulullah untuk mengarang kitab. Di Masjid Nabawi tentunya lebih nyaman.

5. Al-Imam Ibrohim al-Harbi (wafat 285 H), seorang ulama yang sifat zuhud dan kelimuannya sering diserupakan dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad pernah memondokkan puteranya kepada beliau. Beliau adalah pengarang kitab hadits populer “Ghoribul Hadits”. Al-Hafizh Ibnul Jauzi mengutip perkataannya tentang kubur Ma’ruf al-Karkhi:

“Ibrohim al-Harbi berkata: “Kubur Ma’ruf al-Karkhi adalah Tiryaq (obat) yang mujarrab [tempat terkabulnya doa].” (Shifatus Shofwah lil Hafizh Ibnil Jauzi, juz 1 halaman 425)

Baca kelanjutannya di  Kajian Aswaja #2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here