HADITS ke-1

Oleh : Muhammad Alwi

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

“Dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsh ‘Umar bin Khaththab rodiyallohu ‘anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : ‘Sesungguhnya semua amalan hanya bergantung pada niatnya dan setiap orang akan memperoleh (balasan) sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, berarti hijrahnya itu menuju kepada Allah dan Rasul-Nya dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan ia dapatkan atau karena perempuan yang akan ia nikahi, maka hijrahnya menuju kepada yang ia niatkan.”

(Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits : Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi dalam kedua kitab Shahih mereka yang merupakan kitab karangan yang paling shahih).[1]

 

Sebab Timbulnya Hadits /Asbabul Wurud :

Al-Imam at-Thabrâny ra meriwayatkan dalam kitab “Mu’jam Kabir” dengan sanad atau sandaran rawi hadis yang“Tsiqqôh”, dari sahabat Ibn Mas’ud ra. Berkata : di kalangan kami terdapat seorang lelaki yang berniat menyunting seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Lalu wanita itu menolak untuk dipersuntingnya kecuali hingga datang saat Hijrah ke Madinah. Maka, hijrahlah lelaki itu, dan kemudian berhasil mempersuntingnya sesuai permintaan wanita yang bernama Ummu Qais itu. Lalu kami menjulukinya dengan “Muhajir Ummu Qais”

 

Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :

Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan. Amal yang dikerjakan oleh orang “mukallaf” dan mukmin, tidak akan berarti apa-apa dalam pandangan syara‘ dan tidak akan menuai ganjaran pahala bagi si pelakunya, jika tidak disertai dengan niat. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati. Melafalkan niat (Talaffudz an-Niyyat) memang tidak disaratkan, tetapi disunnahkan, demi untuk membantu konsentrasi atau hadirnya hati dalam beribadah. Seorang yang niat, disaratkan untuk “Ta’yîn” (menentukan jenis ibadahnya, seperti shalat dzuhur atau ashar) dan“Tamyîz” (dapat membedakan bentuk ibadahnya).

Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat. Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah yaitu membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

[1] Imam Al-Bukhari dalam al-Iman, no.1 dan Imam Muslim dalam al-Imarah, no.1907