Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 29 : Aneka Tuntutan dalam Doa

“Tuntutan doamu dari Allah sama halnya menuduh Allah, tuntutan doamu kepada Allah sama halnya menganggap Allah itu ghaib, tuntutanmu kepada selain Allah pertanda hilangnya rasa malumu kepada Allah, tuntutan permintaanmu dari selain Allah pertanda jauhnya dirimu dari Allah.

طلبُكَ منهُ اِتـِّهامٌ لهُ وطلَبُكَ لهُ غيْبَة ٌمنكَ عنـْهُ وطلبكَ لغيرِهِ لقِلَّةِ حياءـكَ منهُ وطلَبُكَ من غيرهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ

Dalam maqalah di atas dijelaskan ada empat sikap tuntutan doa kepada Allah. Pertama, dalam doanya menuntut Allah dengan memaksa supaya semua keinginannya dikabulkan oleh Allah. Sikap yang demikian sama halnya menuduh Allah tidak tahu kebutuhan hamba-hamba-Nya padahal Allah yang mencukupi dan memberikan semua fasilitas hidupnya.

(Baca Juga : Kajian Al-Hikam 28 : Jangan Terpesona Godaan dan Rintangan Menuju Allah)

Kedua, dalam doanya bersikap menuntut kepada Allah seperti berdoa dengan suara keras dan menangis-menangis seolah-oleh Allah tidak memperdulikan hamba-Nya. Sikap ini sama halnya menganggap Allah itu ghaib (tidak ada) padahal Allah itu nyata.

Ketiga, sikap dalam doanya meminta kepada selain Allah seperti meminta kepada makhluk yang dianggap sakti. Sikap ini sebagai pertanda hilangnya rasa malu kepada Allah, kenapa harus meminta kepada selain Allah, sementara Allah sebagai tempat meminta dan bermunajat.

Keempat, sikap dalam doanya meminta dari selain Allah, seperti berdoa dan meminta yang didahului ritual-ritual supaya doanya dikabulkan. Sikap ini sebagai pertanda jauhnya hamba dari Allah, padahal Allah sangat dekat dengan hamba-Nya.

oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA

al-Rabbani, 15 Mei 2017