Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 28 : Jangan Terpesona Godaan dan Rintangan Menuju Allah

“Cita-cita kuat seorang salik (pejalan menuju Allah) tidak akan berhenti saat memperoleh anugerah kasyaf (tersingkap mata batin) melainkan akan dipanggil oleh suara-suara kebenaran (hakikat) mengingatkan bahwa yang kamu cari sudah menanti di depanmu. (Selain itu), juga tidak akan terpesona menyaksikan keindahan wujud lahiriyah alam semesta melainkan dirimu akan disadarkan oleh aspek hakikatnya. (Karena) sesungguhnya kami (pengalaman kasyaf dan keindahan lahiriyah) semata-mata sebagai ujian, maka jangan tertipu (kufur).”

مااَرادتْ هِمّـَة ُ سالكٍ ان تقِفَ عِندَما كُشِفَ لهاَ الاَّونادَتـْهُ هَوَاتِفُ الحقيقَةِ الَّذى تطْلُبُهُ امامكَ وَلاَ تبَرَّجَتْ ظَواهِرُالمكوّناتِ الاَّ ونادتكَ حقاَءـقهاَ انَّما نحنُ فِتنةٌ فلا تـكفـُرْ

Maqalah diatas menjelaskan bahwa cita-cita besar seorang salik (pejalan ruhani) yaitu liqa’u-Llah (perjumpaan Allah). Karena itu, jangan terpesona dengan godaan dan rintangan dalam perjalanan menuju Allah. Ada dua godaan yang sering menghentikan perjalanan salik. 

(Baca juga : Kajian Al-Hikam 27 : Jangan Menuntut Allah)

Pertama, yaitu saat memperoleh kasyaf yaitu terbukanya mata batin dan merasakan pengalaman spiritual di alam metafisik seperti bisa masuk di dunia jin, melihat surga dan neraka. Pengalaman ruhaniah yang demikian sangat menggoda para salik, jika salik terpesona dengan pengalaman tersebut maka perjalanannya akan terhenti pada station/tahap tersebut sehingga tidak akan sampai pada tahap yang lebih indah yaitu ma’rifatullah/liqa’ullah.

Kedua, yaitu terpesona dengan aspek lahiriyah keindahan alam semesta tanpa bisa melihat aspek hakikatnya. Artinya keindahan apapun di alam semesta harus dipandang dari sisi hakikatnya bahwa Allah sebagai pencipta keindahan alam semesta. Jangan sampai melihat keindahan alam semesta tapi tidak mampu mengembalikan kepada Allah, maka pandangan yang demikian termasuk terhijab karena tidak mampu memandang wujud al-Haqq. Karena itu, para salik sdh diingatkan oleh maqalah diatas jangan sampai terpesona dengan pengalaman ruhani (kasyaf) dan terpedaya melihat aspek lahiriyah alam semesta tanpa melihat aspek hakikatnya. Semoga Allah senantiasa membimbing perjalanan kita sehingga kita selamat dari dua godaan dan rintangan dalam menuju Allah.

Oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA

al-Rabbani, 5/5/2017