Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 27 : Jangan Menuntut Allah

“Jangan menuntut Allah supaya dirimu dikeluarkan dari suatu kondisi kepada kondisi yang lain, sebab jika Allah menghendaki dirimu pada satu kondisi tentu telah memindahkan kondisimu tanpa keluar dari kondisi (sebelumnya).”

لاتَطلُبْ منهُ ان يُخرِجكَ من حالةٍ ليَسْتعملكَ فيماَ سِواها فلوارَادكَ لاسْتَعْملك من غير اِخرَاجٍ

Maqalah di atas menjelaskan bahwa kita tidak boleh menuntut Allah supaya dirubah dari kondisi yang ada (yang sudah ditetapkan oleh Allah) kepada kondisi lain yang yang sesuai seleranya. Sebagai contoh, seseorang yang sudah dikehendaki oleh Allah pada suatu kondisi seperti berjuang di jalan Allah berprofesi sebagi ustadz, kyai, ajengan tiba-tiba ingin pindah posisi sebagai pedagang. Atau seseorang yang dikehendaki oleh Allah sebagai pengusaha atau pegawai tiba-tiba memutuskan ingin menjadi ustadz dengan meninggalkan aktifitas duniawi supaya lebih fokus di jalan Allah. Padahal dengan posisi sebagai pengusaha atau pegawai sesungguhnya bisa tetap berjuang di jalan Allah dengan harta bendanya. Maka keinginan-keinginan tersebut sesungguhnya hanya bisikan nafsu. Jika diikuti maka akan menyesal, karena tidak merasakan kenyaman dengan kondisi baru yang dianggap baik bagi dirinya, ternyata muncul rentetan masalah baru yang datang silih berganti hingga melelahkan dirinya. 

(Baca juga : Kajian Al-Hikam 26 : Menunda Amal Saat Luang, Perdaya Hawa Nafsu)

Ini akibat mengikuti bisikan nafsunya. Sebab, jika Allah menghendaki seseorang pada suatu kondisi seperti menjadi orang-orang yang berjuang di jalan Allah maka bagi Allah sangat mudah mengaturnya tanpa harus ada keterlibatan nafsu dan rekayasa. Itu murni kehendak Allah. Karena itu, mari syukuri dengan kondisi yang ada pada diri kita, sesungguhnya itu terbaik menurut Allah, sekalipun terkadang muncul letupan-letupan keinginan untuk pindah pada kondisi lain. Padahal kondisi lain yang dikehendaki sesuai selera nafsu belum tentu lebih baik dari kondisi yang ada. Maka terimalah dengan lapang dada suatu kondisi yang sudah ditetapkan oleh Allah, tanpa harus menuntut berubah pada kondisi yang lain yang belum tentu baik buat dirinya. Semoga Allah melimpahkan sikap lapang dada dan menerima segala ketetapan Allah pada diri kita.

Oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA

al-Rabbani, 4 Mei 2017