Imam Ahmad diakhir hidup beliau pernah terlintas dibenaknya untuk mendatangi sebuah kota di Irak, kenapa kesana??… beliau tidak tahu, pokoknya ingin kesana. Lalu beliau pergi kesana..
Tiba di kota itu waktu adzan maghrib, masuk ke mesjid lalu sholat berjamaah, orang di mesjid tidak tahu siapa beliau karena saat itu tidak ada foto, orang disana tidak tahu wajah Imam Ahmad tapi tahu namanya karena beliau adalah ulama besar hadist.
Habis sholat maghrib, dia baca sedikit quran, adzan isya ia pun ikut sholat, selesai isya dia pergi kepojok mesjid mau geletak tidur, marbot mesjid (pengurus mesjid) datang mendekat, lalu berkata, “wahai syaikh.., kenapa anda disini??
Kata Imam Ahmad.. “saya musafir, saya tidak ada kenal orang di kota ini, besok pagi saya mau pergi, tidak ada tempat menginap, saya mau menginap disini..”. Karena saat itu tidak ada tempat penginapan seperti sekarang ini, banyak hotel dll.,
kata marbot.., “tidak bisa, tidak bisa, mesjid bukan tempat untuk tidur, dan marbot ini mendorong-dorong Imam Ahmad hingga keluar dari mesjid dan setelah keluar, pintu mesjid ditutup, marbotnya pergi, Imam Ahmad lihat ada teras mesjid lalu geletak di teras, marbot mesjid datang lagi lalu berkata.,
“wahai syaikh.., kenapa disini??”
“saya musafir.., mau tidur.., tidak ada tempat menginap..”
“tidak bisa syaikh, teras pun tidak boleh, ini peraturan” kata marbot mesjid.
dan marbot ini mendorong-dorong Imam Ahmad hingga ke jalanan, dan ternyata mesjid tersebut bersebelahan dengan kios penjual roti, dan pemilik kios roti tersebut ada disana saat itu, kemudian pemilik kios tersebut memanggil..,
“syaikh.., silakan ketempat saya.., saya punya rumah tidak jauh dari sini, ini kios saya, dan ada ruangan tempat tidur saya, silakan anda pakai nginap, besok anda mau pulang silakan..”, dan saat Imam Ahmad nginap di tempat ini, beliau menceritakan tentang keadaan dia dengan penjual roti tersebut.
Ada satu perilaku penjual roti ini yang unik, dimana Imam Ahmad tertarik dengan itu, dia melihat setiap kali orang ini memecahkan telur, mengambil terigu, mengambil garam, lisannya mengucapkan ‘astaghfirullaha wa atubu Ilaih…, astaghfirullaha wa atubu Ilaih…, astaghfirullaha wa atubu Ilaih…’, lisannya tidak pernah berhenti kecuali kalau saya mengajak ngomong atau dia bertanya pada saya kata Imam Ahmad, kalau berhenti, dia ber-isitighfar lagi.
Imam Ahmad bertanya, “sudah berapa lama anda amalkan ini..”,
kata penjual roti, “wah sudah lama.. dari saya masih bujang..”,
kebetulan orang ini sudah tua dan seumuran dengan Imam Ahmad, lalu beliau bertanya lagi..,
“Apa manfaatnya isitighfar-mu ini? apa yang anda dapatkan dari isitighfar yang sebanyak ini?”
Kata pejual roti.. “tidak ada apapun yang saya minta kepada Allah kecuali di-ijabah, apa saja saya minta.., Allah beri, tinggal satu yang belum Allah beri..”,
apa itu? tanya Iman Ahmad..,
“saya minta kepada Allah agar dipertemukan dengan IMAM AHMAD..”
“Allahhu akbar..!!!, Imam Ahmad bertakbir, isitighfar-mu lah yang membuat saya datang ke kota ini yang saya tidak tahu mengapa.., isitighfar-mu lah yang membuat marbot mesjid mendorong-dorong saya hingga keluar dari mesjid.. dan isitighfar-mu lah yang mendatangkan aku ke tempat-mu ini, karena saya adalah AHMAD ibn HANBAL, sayalah orang yang engkau mintakan kepada Allah untuk dipertemukan..”

Dalam hadist Bukhari kata Nabi saw.., siapa yang selalu isitighfar, Allah akan berikan jalan keluar dari masalahnya dan Allah akan berikan rezki dari tempat yang tidak disangka-sangka.