HUKUM MEMBACA SURAT PADA RAKAAT KETIGA & KEEMPAT 1
KalamUlama.comBeredar video mantan Mufti Mesir ditanya secara tertulis oleh seseorang. Penanya berkata: “Apa hukum membaca surat pada rakaat ketiga dan keempat?”

 
Sang muftipun menjawab lebih dari enam menit. Ia menjawab pendek diawal kalimatnya bahwa hukumnya boleh tanpa menyertakan dalil sedikitpun. Setelah itu ia malah menjawab berputar-putar tentang qaul Al-Khatib Asy-Syarbini tentang bacaan surat bagi yang masbuk, ikhtilaf Mazhab Syafi’i dan Mazhab Maliki dalam perbuatan orang yang masbuk, salat “dua sayap”, hingga kisah Syekh Shalih Al-Ja’fari rahimahullahu ta’ala.
 
Saya sendiri tak paham, apakah ia sengaja ingin bercerita atau ingin memperpanjang jawaban. Hanya saja tulisan saya kali ini ingin membuktikan bahwa hukum membaca surat setelah Al-Fatihah pada rakaat ketiga dan keempat bukan hanya boleh, tapi sunah. Setidaknya karena dua dalil shahih sebagai berikut.
 
Dalil pertama, hadis muttafaqun ‘alaih. Berikut redaksi Imam Muslim.
 
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي عَوْنٍ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ عُمَرُ لِسَعْدٍ قَدْ شَكَوْكَ فِي كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى فِي الصَّلَاةِ قَالَ: ((أَمَّا أَنَا فَأَمُدُّ فِي الْأُولَيَيْنِ وَأَحْذِفُ فِي الْأُخْرَيَيْنِ وَمَا آلُو مَا اقْتَدَيْتُ بِهِ مِنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ فَقَالَ ذَاكَ الظَّنُّ بِكَ أَوْ ذَاكَ ظَنِّي بِكَ)).
 
Telah menghadiskan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannâ, telah menghadiskan kepada kami Abdurrahmân bin Mahdi, telah menghadiskan kepada kami Syu’bah dari Abu ‘Aun, dia berkata: Saya mendengar Jâbir bin Samurah berkata, “Umar berkata kepada Sa’ad: Penduduk Kufah telah mengadukan segala tindakanmu hingga masalah shalat. Dia (Sa’ad) menjawab: Adapun saya, maka saya memanjangkan bacaan pada dua rakaat pertama dan meninggalkannya pada dua rakaat lainnya. Saya tidak pernah menyingkiri sesuatu yang telah saya ikuti dari salat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Umar pun berkata: Itu semuanya hanyalah prasangka terhadapmu saja –atau itu hanya prasangkaku terhadapmu saja.”
 
Hanya saja kata ahdzifu (أحذف: meninggalkan) dalam hadis ini dikomentari oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar:
 
لكن في رواية البخاري ((وأخف)) بضم الهمزة وكسر الخاء المعجمة، والمراد بالحذف حذف التطويل وتقسيرهما عن الأوليين، لا حذف أصل القراءة والإخلال بها، فكأنه قال: أحذف المد.
 
“Akan tetapi dalam riwayat Imam Al-Bukhari (menggunakan) kata ukhiffu (أُخفّ: diringankan), yakni dengan dhummah pada hamzah dan kasrah pada kha’ mu’jamah (istilah untuk huruf hijaiyah yang bertitik), sehingga ahdzifu (pada hadis Muslim) bermakna meninggalkan panjangnya, yakni memendekkan dua rakaat terakhir dibandingkan dua rakaat pertama, bukan meninggalkan bacaan itu sendiri dan mengosongkan rakaat dari padanya. Seakan-akan (riwayat Muslim) berkata: Aku meninggalkan mad bacaan.”
 
Jadi pada dasarnya bacaan surat itu tidak ditinggalkan pada rakaat ketiga dan keempat, hanya saja diringankan. Meringankannya baik dengan cara membaca dengan jumlah huruf yang lebih sedikit atau dengan mad yang lebih pendek.
 
Sekadar info, beberapa naskah Shahih Al-Bukhari kurang teliti dengan perbedaan kata pada riwayat ini sehingga menuliskan sama seperti riwayat Imam Muslim. Hanya saja, menurut saya adalah apa yang dikatakan Al-Hafidz Ibnu Hajar lebih shahih.
 
Dalil kedua, hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam Muslim. Berikut redaksi Imam Muslim.
 
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الْوَلِيدِ أَبِي بِشْرٍ عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ النَّاجِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ ثَلَاثِينَ آيَةً وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً أَوْ قَالَ نِصْفَ ذَلِكَ. وَفِي الْعَصْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ قِرَاءَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ نِصْفِ ذَلِكَ.
 
Telah menghadiskan kepada kami Syaibân bin Farrukh, telah menghadiskan kepada kami Abu ‘Awânah dari Manshûr dari All-Walîd Abi Bisyr dari Abu Ash-Shiddîq An-Nâjî dari Abu Sa’îd Al-Khudrî bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dahulu membaca pada dua rakaat pertama dari salat dzuhur, pada setiap rakaat, sekadar tiga puluh ayat dan pada dua rakaat berikutnya sekadar lima belas ayat –atau dia mengatakan setengah dari itu. Sedangkan dua rakaat pertama dari salat asar, pada setiap rakaat, sekadar bacaan lima belas ayat dan pada dua rakaat lainnya sekedar setengah dari hal tersebut.
 
Hadis ini lebih jelas dan nyata lagi sebagai dalil sunahnya membaca surat pada rakaat ketiga dan keempat dalam salat. Demikian penjelasan hukum membaca surat pada rakaat ketiga dan keempat. Semoga Bermanfaat
 
Tanger, 25 Juli 2019
________
*Ditulis di sisi makam Sayyidi Abdullah ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari. Semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati beliau yang selalu menguatkan fikih dengan hadis dan memperkaya hadis dengan fikih. Semoga kita senantiasa diistikamahkan dalam manhaj dan cara berpikir beliau. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here