Oleh : Hadlrotil Al Marhum KH. Moh. Abdul Aziz Manshur
———————————–

Suatu ketika, terjadi dialog antara Kelapa yang sombong dengan semangka yang rendah hati. Dengan angkuhnya si kelapa menyapa semangka.

Hai semangka, bagaimana kabarmu?
Semangka dengan tawadlu menjawab, Alhmadulillah baik-baik saja.
ohya, kamu itu koq menerima saja derajatmu dibawah dan selalu bersentuhan dengan tanah.

Lihatlah diriku, sejak pertama kali ditanam derajatku sudah tinggi. Semakin aku tumbuh, semakin tinggi pula tubuhku. Dan ketika aku berbuah, pasti buahku berada di puncak, hehehehe ujar kelapa dengan sombongnya.

Ah, tidak apa-apa wahai kelapa, saya ikhlas menerima apapun takdir Alloh jawab semangka.

Jika diamati memang benar apa yang dikatakan oleh kelapa, bahwa buah kelapa selalu berada di puncak pohon dan terlihat mencolok di atas yang identik dengan derajat tinggi dan kehormatan, sementara buah semangka selalu berada ditanah yang identik dengan derajat rendah. Lebih-lebih buah semangka yang matang, pasti tertutup dan tersembunyi dibawah daun.

Namun, perlakuan yang sangat kontras akan terjadi ketika keduanya dipetik oleh petani pemiliknya.
Beberapa waktu kemudian, pada suatu pagi si petani ingin memetik semangka yang sudah matang. Ketika anak lelakinya dicari kesana kemari tidak ada, akhirnya dia menyuruh anak gadisnya yang cantik rupawan untuk pergi ke kebun memetik semangka.

Nduk, aku tadi sudah mencari-cari kakakmu tapi tidak ketemu, entah pergi kemana dia. Sekarang kamu saja ya yang pergi ke kebun untuk memetik semangka yang matang. InsyaAlloh sudah ada yang matang. Aku sudah tidak sabar ingin mencicipi hasil tanamanku, kata si petani kepada anak gadisnya.

Iya ayah, aku akan pergi ke kebun, jawab si gadis.

Ohya, jangan lupa, bawa pisau yang baru dan tajam. Terus nanti kalau memetiknya yang halus ya, soalnya buah semangka itu harus diperlakukan secara halus dan penuh perasaan, tidak boleh kasar ujar si petani memberi petunjuk.

Iya ayah, pisau yang barusan dibeli ibu yang akan aku bawa, ujar si gadis menimpali.

Sejurus kemudian, berangkatlah si gadis cantik menuju kebun.

Sesampainya di kebun, dia mencari buah semangka yang sudah matang. Setelah mengelilingi kebun, ternyata di sisi pinggir belum ada yang matang, akhirnya dengan berhati-hati dia melangkah ke tengah mencari buah semangka yang sudah matang.

Kemudian, dia menemukan buah semangka yang diinginkan ayahnya. Dengan gerakan halus si gadis memotong buah semangka tersebut dari tangkainya.

Lantas, dengan dengan penuh perasaan dia mengelus-ngelus buah semangka yang sudah dipotongnya sambil berucap lirih, Alhamdulillah, akhirnya aku dapat memetik semangka yang diinginkan ayah.

Mudah-mudahan apa yang aku lakukan ini membuat ayahku ridlo kepadaku.

Setelah menoleh ke kiri dan ke kanan, si gadis tidak menemukan tas plastik atau lainnya untuk membawa semangka yang telah dipetiknya. Sewaktu berangkat ke kebun tadi, dia lupa tidak membawa apapun untuk mengantongi semangka hasil petikannya.

Akhirnya, buah semangka tersebut langsung dibawa si gadis dengan cara mendekapnya diantara buah dadanya. Hal itu dilakukan, karena si gadis khawatir kalau Cuma dipegang tangkainya, semangka akan jatuh. Maka, biar aman, buah semangka tersebut didekapnya diantara gunung kembarnya.

Saat itulah, si buah semangka pamitan pada kelapa, maaf kelapa, saya pergi dulu ya.

Saya ingin menikmati tungganganku yang halus dan empuk, hehehe. Si kelapa hanya bisa diam seribu bahasa, iri sepenuh hati terhadap perlakuan istimewa yang diterima oleh semangka.

Setelah sampai di rumah, dengan tangan halusnya, si gadis membelah buah semangka dan menyuguhkannya kepada sang ayah.

Dan dengan senyum gembira, sang ayah menikmati ranumnya buah semangka hasil petikan anak gadisnya yang cantik.

Pada saat yang bersamaan, istri si petani sedang memasak opor ayam. Karena butuh santan kelapa, akhirnya dia minta tukang kebunnya untuk memetik buah kelapa. Kebetulan saat itu, si tukang kebun habis ngarit mencari rumput untuk kambing juragannya.

Dengan keringat

yang masih membasahi tubuh dan aromanya yang kecut, dia segera berangkat ke kebun.

Sesampainya di kebun, dia langsung mendekati pohon kelapa yang buahnya sudah matang dan langsung memanjatnya.

Begitu sampai di puncak pohon, tanpa pikir panjang dan tanpa pilah-pilih dia mengayunkan arit yang sudah karatan.

Crok!, crok!, crok!, gedebukkk!.

Satu buah kelapa yang sudah tua jatuh dengan keras ke tanah. Setelah dirasa cukup, akhirnya si tukang ngarit turun dari pohon, untuk membawa buah kelapa hasil petikannya ke rumah juragannya.

Sesampainya di tanah, tanpa pikir panjang, arit karatan langsung diayunkannya, crakkk!, ujung arit menembus dan menancap di serabut kelapa.

Dengan tangan kiri, si tukang ngarit memegang aritnya yang digunakan untuk membawa pulang buah kelapa hasil petikannya. Sesampainya di rumah sang juragan, si tukang ngarit langsung menjatuhkan buah kelapa tersebut ke lantai, untuk kemudian memecahnya.

Tentu dalam memecah buah kelapa tidak bisa dengan cara halus, harus dengan tenaga agak kuat dan kasar. Itupun masih belum cukup, setelah kelapa berhasil dipecah, untuk menghasilkan santan, maka harus memarutnya.

Dan ketika sama-sama berada di rumah si petani, kelapa mengungkapkan penyesalan kesombongannya pada semangka, Wahai semangka, aku menyesal jadi kelapa.

Dulu ketika awal ditanam sampai berbuah, aku menyombongkan diri kepadamu dengan tingginya pohonku.

Tapi pada saat-saat terakhir, ternyata kesombonganku berbuah kehinaan. Aku dipetik oleh tukang ngarit dengan memakai arit karatan, sedangkan engkau dipetik oleh gadis cantik dengan memakai pisau yang baru dibeli.

Ketika dibawa pulang, aku dibacok terlebih dahulu dengan arit karatan itu, sementara engkau didekap di dada gadis cantik.

Kalau boleh memohon, aku ingin tukar tempat denganmu wahai semangka.
wahai kelapa, aku sih monggo-monggo saja kalau memang kamu ingin tukar tempat denganku.

Tapi ini sudah takdir Alloh, kita harus ikhlas menerimanya.

Dan, filosofi semangka yang rendah diri, tawadlu dan tidak sombong harus senantiasa dimiliki oleh para pencari ilmu, terutama SANTRI.

Wallohu alam bisshowab.

(dinukil dari Mauidzoh KH. Moh. Abdul Aziz Manshur dalam acara FIDA KUBRO Santri Lirboyo untuk KH. Moh. Thohir Marzuqi)


*Nasihat yang sangat berharga dan penting buat (terutama) santri*
Dikisahkan belasan tahun lalu seorang santri yang sedang nyantri di rubat tarim yang saat itu diasuh habib abdulloh assyatiri, dia dikenal sangat Alim hingga mampu menghafal kitab tuhfatul muhtaj 4 jilid. siapa tak kenal dia?? Semua tau bahwa ia sangat Alim bahkan diprediksi sebagai calon ulama besar.

Nah, Suatu hari disaat habib abdulloh mengisi pengajian rutin santri, tiba tiba habib bertanya tentang santri yang sangat terkenal Alim itu. “Kemana si fulan???” Semua santri bingung menjawab pertanyaan sang guru.

Ternyata santri yang dimaksud tidak ada di pondok melainkan keluar berniat mengisi pengajian di kota mukalla tanpa izin.

Akhirnya habib abdulloh assyatiri yg sangat terkenal Allamah dan Waliyulloh berkata :”baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap disini!!!”.

Di kota mukalla, santri yang sudah terkenal Alim tersebut sudah di nanti nantikan para pecinta ilmu untuk mengisi pengajian di masjid omar mukalla.

Singkat cerita si santri ini pun maju kedepan dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah pendek.

Allohu akbar !!! Ternyata, setelah membaca amma ba’du si Alim ini tak mampu berkata sama sekali, bahkan kitab paling kecil sekelas Safinah pun tak mampu ia ingat sedikitpun….

Sontak dia tertunduk dan menangis.. para hadirin pun heran, “Ada apa ini???”,, akhirnya Salah satu Ulama kota mukalla pun menghapirinya dan bertanya; “Saudara mengapa begini??? Apa yang saudara lakukan sebelumnya?”.

Dia menjawab : “aku keluar tanpa izin habib dari pesantren.” Dia terus menangis , dan Beberapa orang menyarankan agar ia meminta maaf kepada Habib..

Parahnya dia dengan sombong tidak mau meminta maaf!!. Kembongannya ini membuat semua orang menjauhinya, dan tidak ada satupun yang perduli padanya, bahkan hidupnya setelah itu sangat miskin dan terlunta lunta dengan benjual daging ikan kering.

Dan disaat ia meninggal dia mati dalam keadaan miskin bahkan kain kafannya pun tak mampu membeli dan diberi dari seseorang.

“Santri Yg Manfaat…Bknlah Yg Paling Banyak Hafalannya, Yg Paling Bagus Penjelasan Kitabnya, Yg Selalu Juara Kelas…..Tapi Santri Yg Manfaat Yg Paling Hormat dan Taat Kpd Gurunya…Dan Mengaggap Diriinya Bkn Siapa2 Di Hadapan Gurunya…”