Habib Jindan

kalamulama.comHabib Jindan bin Novel bin Salim Jindan : KAKEK-KAKEK SAYA DULU BERGURU PADA PENDIRI NU, HADRATUSY SYAIKH HASYIM ASY’ARI”

Suatu waktu, menjelang sore hari, saya mengajak Driver saya menuju satu titik di Tangerang, ke sebuah pondok pesantren yang dipimpin seorang Keturunan Rasulullah SAW, yaitu Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan. Ia dikenal cepat lewat dunia maya pasca mengisi ceramah di Istana Presiden RI pada suatu waktu.

Ceramahnya yg sejuk dan bermaterikan nasionalisme, menjadi Hamba Allah SWT yg ramah, lemah lembut, dan berdakwah meniru ajaran Rasulullah SAW yakni dgn akhlak karimah.

Ia juga mengajarkan bagaimana caranya bersyukur menjadi bangsa Indonesia yg mencintai Bangsa dan NKRI yang telah dibentuk berdasarkan mufakat para pendiri bangsa dari berbagai golongan, agama, ras, suku dan daerah di Indonesia.

Ia memastikan bahwa Pancasila sudah tepat menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia, Pancasila sudah diakuinya tidak bertentangan dg nilai-nilai Islam.

Kedatangannya memenuhi undangan di Istana selain mendapat pujian, juga menimbulkan cacian dari kelompok yg kontra dengan Presiden RI yg waktu itu sedang ramai2nya Pilgub DKI Jakarta yg membelah tajam umat dalam bersikap.

Saya diterima dgn baik olehnya, setelah diberi suguhan, saya diajak masuk ke ruang khususnya, yg nampak di mata saya adalah perpustakaan besar dgn koleksi kitab2 berjajar rapih. Ada sesuatu yg membuat saya kaget ketika ia menunjukkan silsilah keilmuan kakeknya yg tercatat rapih dan kini menurun padanya.

“Kakek2 saya dulu berguru pada Pendiri NU, Hadratussyeikh HAsyim Asy’ari, waktu itu Kakek Saya tidak pergi ke Yaman untuk belajar, karena kondisi yg tidak memungkinkan berangkat, sehingga memilih untuk belajar kepada Mbah Hasyim” urainya dgn senyuman.

Saya jujur terperanjat dgn apa yg ia ceritakan dan kemudian Hanya takjub pada cerita2 seterusnya tentang perjuangan dan nasionalisme serta ke-NU-an. Saya hanya dapat menarik kesimpulan, sejak dulu ia dan keluarganya sudah NU dan memiliki rasa jihad dan pandangan kebangsaan yg sama dgn NU.

Gaya dakwah dan retorikanya mirip dgn Habib Umar Bin Hafidz yg siang ini mengisi kajian kitab Mbah Hasyim Asy’ari di PBNU.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan umur panjang kepadanya sehingga sentuhan lembut dakwahnya dapat Kita rasakan terus menerus sepanjang waktu. Aamin ..

KH Marsudi Syuhud

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here