kalamulama.com -Habib Ali bin Alwi Kholiq Qasam. Masyarakat Hadramaut mengenal betul ia memiliki banyak karomah. Salah satunya setiap beliau shalat, ucapan salamnya kepada Nabi Muhammad SAW di dalam tasyahud, konon, dijawab langsung oleh Nabi dan jawaban salam itu terdengar oleh seluruh makmum yang salat bersamanya.
Pada saat beliau sedang membaca: assalamu’alaika ayyuhan nabi warahmatullah wabarakatuh,

Maka Rasulullah menjawab salamnya: wa alaika salam ya syaikh wa rahmatullahi wabarakatuh.
Hal tersebut terjadi tidak saja beliau sedang melaksanakan shalat, tapi juga dalam keadaan di luar shalat.
Habib Ali bin Alwi adalah orang pertama dari kalangan keluarga Alawiyin yang datang ke kota Tarim, di mana sebelumnya beliau sering mengunjungi ke kota tersebut. Beliau tinggal di kota Tarim sejak tahun 521 hijriyah bersama anak keturunan pamannya dari keluarga Basri dan keluarga Jadid.
Di kota Tarim mereka mendirikan sebuah masjid yang dikenal dengan nama masjid Bani Ahmad yang terakhir dikenal dengan nama masjid Bani Alawi. Masjid tersebut dari tahun ke tahun terus diperbaharui diantaranya oleh Muhammad Shahib Marbath dan Umar Muhdhar.
Habib Ali bin Alwi dibesarkan dan dididik dalam asuhan ayahnya Imam Alwi bin Muhammad. Beliau adalah pemimpin kaum Alawiyin yang dikaruniai Allah ketajaman mata hati, hafal Alqur’an dan menguasai berbagai macam cabang ilmu, sangat dermawan, tawadhu’ dalam berbicara maupun bertindak serta berpakaian, ia tidak terlihat lebih menonjol dari yang lain.
Jika beliau duduk bersama kaum khawas maupun kaum awam, orang tidak mengenali kalau beliau adalah seorang yang mempunyai kemuliaan yang tinggi, beliau melebur menjadi satu dengan dengan kumpulan jamaah tersebut.
Imam Ali bin Alwi merupakan pemimpin kaum Alawiyin pada zamannya. Beliau diberi kemuliaan dapat melihat dan berdialog langsung dengan Rasulullah saw serta meminta petunjuk ketika beliau menghadapi suatu masalah yang berat.
Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rani dalam kitabnya al-Tanbieh mengatakan:
‘Salah satu peristiwa yang dihadapi oleh suatu kaum, ketika mereka sholat di samping kubur Nabi dan mereka membaca shalawat Nabi dalam shalatnya itu, mereka mendengar jawaban dari Nabi saw ‘
Sebagian ulama bertanya: Karomah apa yang diwarisi oleh kaum itu sehingga mereka dapat mendengar salam dari Nabi, padahal tidak satupun dari sahabat yang mendapat jawaban salam dari kubur Nabi setelah beliau wafat, dan saya tidak melihat satupun dari mereka yang sampai pada maqam tersebut.
Sayid Ali al-Khawas berkata: ‘Tidak berhak suatu kaum mendapatkan wilayah al-Muhammadiyah, jika orang tersebut tidak berkumpul dan hadir bersama Nabi saw’.
Dan sebagian kebesaran Imam Ali bin Alwi, Rasulullah saw berkata kepadanya dengan kata-kata Ya Syaikh. Perkataan tersebut merupakan panggilan dalam wilayah kenabian.
Ketinggian maqamnya, antara lain ditulis oleh Wali besar Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam syairnya :
Rasulullah membalas salamnya,
“( salam bagimu ) Ya Syekh.”Sebagai jawaban atas salamnya ( kepada Rasulullah ), Kagumlah orang-orang mulia.
Konon pula, beliau juga sering “berhadapan” dengan Rasulullah SAW, lalu bertanya mengenai segala macam kesulitan, sehingga Rasulullah SAW menjelaskannya.
Al’allamah Asy-Syekh Al-Khatib juga menuliskannya dalam kitab Al-Jauhar Asy-Syafa’at.

Menurut Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rawi:
“Tidak akan sampai seseorang kepada maqam yang mampu berinteraksi langsung kepada Rasulullah SAW dan mendengar jawaban salamnya, kecuali beliau telah melampui 247.999 maqam para aulia.” Dan Imam Ali Khali’ Qasam dianggap telah melampuinya.
Suatu hari, Syekh Abu Al-Abbas al-Mursi bertanya kepada para sahabatnya:
“Adakah di antara kalian yang ketika menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW dalam shalat, langsung mendengar jawaban salam dari Rasulullah SAW?.
Jawab para sahabatnya,
“Tidak ada”.
Lalu kata Syekh Abu Al-Abbas,
“Menangislah kalian, karena kalian tertutup.”
Syekh rupanya bermaksud menegaskan karamah Imam Ali Khali’ Qasam yang tidak hanya mendapat jawaban salam dari Rasulullah SAW dalam shalatnya, tapi juga dalam semua kesempatan ketika beliau menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW.
Meski maqamnya tinggi, beliau tetap tawaduk, rendah hati, dengan perilaku yang halus dan pakaian yang sangat sederhana. Beliau tidak pernah terlihat lebih menonjol dari orang lain.
Jika duduk bersama orang shaleh maupun orang awam, beliau tidak pernah memperlihatkan diri sebagai Ulama terkemuka, kecuali ketika sedang mengajar atau berdakwah.
Beliau juga sangat dermawan, banyak memberi santunan, khususnya bagi mereka yang datang dari jauh.
Imam Ali bin Alwi wafat pada tahun 527 hijriyah dan dimakamkan di perkuburan Zanbal, Tarim. Beliau adalah orang pertama dari keluarga Alawiyin yang dimakamkan di di perkuburan Zanbal, Tarim

via: ditulis ulang dari  bangkitmedia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here