al buthy

kalamulama.com– Akhlak Antara Ulama: Habib Ali Al Jufri dan Syaikh Al Buthy.

“Semoga Allah membangkitkanku kelak bersama Fir’aun dan Haman jika aku memandang diriku lebih baik dan mulia dari kalian. Aku bukan Syaikh, aku bukan Mursyid, aku hanya menjalankan tugas yang Allah amanahkan untukku.. ” .

Itulah ucapan seorang Wali besar Perintis Thariqah Rifa’iyah, Syaikh Ahmad AR-Rifa’i yang seringkali disampaikan Syaikhina Al-Buthy dalam pengajian-pengajiannya. Ucapan itu pula yang beliau jadikan sebagai prinsip utama beliau dalam kehidupannya sehari-hari. tatkala nama ulama sudah semakin murah dan dengan mudah bisa dijual dan disematkan pada siapapun, beliau – layaknya ulama-ulama sejati lainnya – tak pernah mau dianggap sebagai ulama hingga mendapat perlakuan istimewa melebihi orang lain.

Contohnya, Seorang sekelas beliau ( Alim, Faqih, Doktor lulusan Al-Azhar, dan memiliki ratusan karangan yang tersebar diseluruh dunia ) masih sering menghadiri pengajian-pengajian yang bahkan diisi oleh muridnya sendiri. .

Suatu hari ketika Habib Ali Al-Jufri mengajar di Masjid Jami’ Umawi Damaskus, di tengah pengajian orang-orang heboh. Ternyata Syaikh Al-Buthy tiba-tiba datang tanpa diundang. tentu saja Habib Ali kaget dan langsung turun dari kursinya lantas meminta Syaikh Buthy untuk menyampaikan kajian. Syaikh Buthy menolak sambil melambai-lambaikan tangannya, tapi Habib Ali tetap memohon dan mengatakan ini adalah keinginan para jama’ah Masjid. Syaikh Buthy akhirnya mengalah, beliau maju lalu berkata :

“Saya sebenarnya datang ke tempat ini untuk belajar, apalagi kajiannya tentang membersihkan hati, Saya datang untuk membersihkan hati saya yang mulai mengeras oleh dosa-dosa yang saya perbuat, tapi Habib kita tercinta – Habib Ali- malah menggagalkan kesempatan ini.”

Mendengar ucapan Syaikh Buthi itu, Habib Ali tak kuasa menahan airmatanya.

Sumber: FP Ulama Nusantara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here