Kajian Islam (Kalam Ulama). Dua Nafkah yang Harus Dipenuhi Suami kepada Istri

Seorang suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya baik nafkah lahir ataupun nafkah batin. Pertama nafkah lahir, yaitu nafkah yang berupa sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (rumah) sesuai kemampuannya seperti penggalan firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 233 dan surat Ath-Thalaaq ayat 6 :

لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.

Baca juga: Pengantin: Tinggal di Keluarga Istri Atau Suami?

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka

Kedua adalah nafkah batin. Tak bisa dipungkiri bahwa manusia butuh untuk menyalurkan hasrat biologisnya. Hubungan biologis inilah terkadang menjadi penyebab keretakan rumah tangga. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri :

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّكُم مُّلاَقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (Q.S. Al Baqarah: 223)

Penggalan ayat di atas bersifat tamtsil (perumpamaan). Allah swt. mengumpamakan istri bagaikan kebun tempat bercocok tanam sementara suami diumpamakan sebagai orang yang akan menanam benih. Adapaun cara untuk menanamnya dijelaskan Allah pada ayat selanjutnya yang berbunyi : “Datangilah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki”. Ayat ini menegaskan bahwa dalam melakukan hubungan intim, diperbolehkan dengan cara (gaya) apapun dengan catatan anatar suami dan istri merasa nyaman. Asalkan semua mengarah ke farji (kelamin). Seperti dijelaskan oleh Imam Syairozi dalam kitabnya “Al-Muhaddzab” Juz 2 halaman 62 :

(نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم ) قال يقول يأتيها من حيث شاء مقبلة أو مدبرة إذا كان ذلك في الفرج

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223). Artinya datangilah (gaulilah) istrimu sesukamu baik dari depan atau belakang asalkan mengarah pada farji (kelaminnya). ( alMuhaddzab II/62 ).

Oleh : @alfarisi_hamzah