Oleh : Zuhal Qobili
Dakwah atau menyerukan agama adalah sesuatu yang baik. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 104 :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaknya di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Namun, di sana ada ketentuan dan adabnya, sehingga tidak boleh sembarang orang terjun melaksanakannya. Ketentuan dan adab tersebut antara lain :

  1. Tidak boleh bagi siapapun untuk berdakwah menyerukan hukum-hukum agama sebelum dia benar-benar paham dan menguasainya.
  2. Tidak boleh ta’assub (fanatik) terhadap pendapat ijtihadi yang terdapat khilaf (perbedaan pendapat ulama) di sana.
  3. Tidak boleh menghilangkan kemungkaran dengan metode yang bisa menyebabkan terjadinya kemungkaran baru. Karena jika tidak demikian, akan sia-sia usaha yang dilaksanakan dan tidak sesuai dengan tujuan dakwah itu sendiri, yaitu islah (perbaikan).
  4. Dakwah itu fardlu kifayah, bukan fardlu ain. Maka ketika sudah ada yang melaksanakannya gugurlah kewajiban untuk melaksanakannya bagi yang lain.
  5. Meninggalkan pekerjaan yang wajib dan penting semata-mata untuk berdakwah yang masih bisa dilaksanakan oleh orang lain itu tidak boleh.
  6. Pekerjaan itu selama dia dalam kebaikan maka dianggap sebagai ketaatan. Dan dakwah juga merupakan sebuah ketaatan yang harus dilaksanakan dengan keahlian.
  7. Ketika Allah berfirman dalam surat at Taubah ayat 71 :
    وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
    “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar”

itu adalah dalam batas yang dimampui dan kuasai. Adapun dalam hal-hal yang belum dimampui dan dikuasai hendaknya diserahkan kepada yang lain yang sudah mampu dan menguasainya.

Dengan demikian, mari kita biasakan berdakwah dengan ketentuan-ketentuan dan adab di atas, dimana saja, saat santai maupun bekerja. Karena dakwah tidak hanya melalui lisan maupun tulisan semata melainkan lebih terasa ketika menggunakan aksi nyata.
Wallahu A’lam.
____
Sumber : Mausu’ah Ahsanil Kalam fil Fatawa wal Ahkam Syekh Athiyah Shoqr