kalamulama.com- Gus Baha: Coba Katakan yang Tidak Qunut Itu Abu Hanifah, yang Qunut Itu Imam Syafi'i Coba dari awal anda katakan:
Ilustrasi (via iqraa.com)

kalamulama.com– Coba Katakan yang Tidak Qunut Itu Abu Hanifah, yang Qunut Itu Imam Syafi’i, Kan Jadi Keren

Gus Baha dalam suatu ceramahnya mengingatkan agar pertengkaran masalah furuiyyah diantara umat Islam khususnya di Indonesia jangan terus berlarut-larut. Menurut Gus Baha masalah perbedaan furuiyyah yang terjadi di masyarakat justru malah menjadi masalah politik identitas, contohnya masalah qunut.

“itu Coba dari awal anda katakan: “Yang tidak qunut itu Abu Hanifah, yang qunut itu Imam Syafi’i.” Maka melihat orang nggak qunut itu keren. Karena pengikut madzab Hanafi. Yang qunut juga keren, karena pengikut madzab Syafi’i.

Tapi kita enggak, di zaman akhir qunut dan nggak qunut ini jadi politik identitas. Sehingga, yang nggak qunut itu Muhammadiyah misalnya, dan yang qunut itu NU. Mana ada Mbah Hasyim Asy’ari sebagai mujaddid atau mujtahid yang mengharuskan qunut, atau Mbah Ahmad Dahlan yang melarang qunut, orang dua beliau sama-sama pernah ngaji di Syaikh Khatib Minangkabau, pernah ngaji Mbah Mahfudz ketika di Makkah.

Jadi, cobalah ilmu itu diperkuat. Sehingga kita mengatakan: “Qunut adalah sunnah menurut Imam Syafi’i, tidak sunnah menurut madzhab Abu Hanifah.” Sehingga enak, enak sekali karena kita berdasar ilmu.

Menyangkut “tsawabul qira’ah” atau “tsawabul a’mal khairi” apakah sampai ke mayit apa nggak?

Ini kata beliau, kata Mbah Ali Maksum, Beliau justru menukil Ibnu Taimiyah, yang notabenenya sering dipakai dalil para orang-orang sana.

Ini mirip kitab Sayyid Muhammad. Jadi, Sayyid Muhammad itu kalau istidlal sering memakai Ibnu Taimiyah. Karena itu yang dipakai mereka. Tapi ternyata Ibnu Taimiyah, Qaala Ibnu Taimiyah: “Inna al mayyit yantafi’u bi qira’atil qur’an kamaa yantafi’u bil ‘ibadah amaliah minasshadaqah wa nahwiha.” Terus, “wa qaala Ibnu Qayyim fi kitabi alruh: afdhalu ma yuhda ilalmayyit asshadaqah wal istighfar waddu’aa’ lahu wal hajju ‘anhu”.

Kita seakan-akan Ibnu Taimiyah itu orang yang pasti melarang itu. Sehingga kita ini terus mengatakan: “Yang men sunnahkan tahlilan itu siapa?”

Mbah Hasyim, atau Mbah Faqih, atau siapa lah. Meskipun riwayat ini mukhtalifah dari Mbah Hasyim. Pertanyaannya adalah, terus kesannya yang membolehkan itu hanya kiai lokal, kiai nasional. Padahal zaman Mbah Ali tu sudah mengajarkan kita, yang membolehkan “ihda’u a’malil khairi ilalmayyit”, yang membolehkan hadiah, Yasin, Fatihah, Tahlil ke mayit itu adalah orang sekaliber Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim”, Tegas Gus Baha.

 

Baca Juga Profil Gus Baha : Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkap

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here