Home Video Gus Baha

Gus Baha

Ngaji Gus Baha : Perlunya Ulama Aswaja Kompromi dengan Pemerintah. Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapavideo

Ngaji Gus Baha : Perlunya Ulama Aswaja Kompromi dengan Pemerintah

KalamUlama.com –  Ngaji Gus Baha : Perlunya Ulama Aswaja Kompromi dengan Pemerintah. Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan...
Menurut Gus Baha bahwa dalam mencari ilmu itu memerlukan sanad ilmu. Logikanya Butuh Uang Saja Butuh Sanad, Apalagi Ilmu...video

Ngaji Gus Baha : Butuh Uang Saja Butuh Sanad, Apalagi Ilmu

KalamUlama.com –  Ngaji Gus Baha : Butuh Uang Saja Butuh Sanad, Apalagi Ilmu. Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan...
kalamulama.com- CURHAT GUS BAHA’: KEMBALILAH KE TRADISI ULAMA, INDONESIA ITU SEKARANG JADI KIBLAT Ini rekaman curhat Gus Baha’ ketika diminta untuk mengisi mauidhah hasanah walimatul ursy. Ini rekaman penting, karena jadwal, tujuan dakwah Gus Baha’ dan pesan-pesan beliau terekam jelas. Saya tulis sebisanya dulu. Belakangan diperbaiki. *** Tidak, saya tidak terbiasa keluar. Semua ngaji saya itu mengaji istiqamah, membaca kitab. Jarang keluar, apalagi acara sejenis itu, tidak pernah. Semua rekaman saya itu dari saya mengaji di sini dan di Yogya. Saya ngaji umum itu bisa dihitung, baru enam atau tujuh kali,bersedia diundang karena yang mengundang ada hubungan posisi lebih tua, seperti di Pasuruan Kyai Hamid. Saya tidak pernah menerima undangan. Tidak, saya tidak terbiasa keluar di acara seprti itu. Semua ngaji saya itu ngaji rutin, bukan ngaji apalagi walimatul ursy. Tidak, tidak pernah. Saya jarang keluar, kecuali ada kelas. Itu masih mungkin. Di Lirboyo saya punya jadwal setahun sekali. Di Pak Quraish Shihab setahun sekali. Tapi juga di kelas, bukan acara sejenis itu. Di Sidogiri, saya malah tiap bulan hingga saat ini. (karena) istri saya dari Sidogiri. Tiap bulan, saya membaca kitab di sana. Kalau pengajian umum saya tidak pernah. Lalu, ada beberapa pengajian yang di luar, tapi itu juga jarang. Itu di ikatan alumni Al-Anwar, kadang di Jepara, kadang di Demak, tapi faktornya (karena itu) acara Sarang. Di sini orang alim yang bersedia mengaji umum antara lain Gus Rojih (Ubab Maimoen), Gus Qoyyum, Gus Wafi’. Saya tidak (bersedia), tapi untuk pengajian mengkhatamkan kitab ya lebih banyak saya, (justru) karena tidak pernah keluar itu. Saya pernah mengkhatamkan Al-Hikam, banyaklah. Anak-anak itu mendengar rekaman saya kan rekaman ngaji (kitab), bukan pengajian umum. KEMBALILAH KE ADAT ULAMA PENDAHULU: INGIN NGAJI DATANGLAH KE KYAI Gus Zaid sebenarnya maunya mengundang saya, tapi saya agak keberatan (?), ribet. Saya itu termasuk, apa ya, agak dengan tanda petik itu memang agak menentang adat “mencintai orang alim” yang selalu ribet, tidak lebih praktis. Sebenarnya kan seperti Mbah Moen mengajar, saya juga mengajar, Gus Mus juga. Tapi caranya itu. Yang ribet itu mereka harus mengundang, bertemu. Saya termasuk orang yang nggak ridla. Apa itu, tidak mood. Akhirnya saya juga ngotot, ngotot hanya mengaji di sini. Cuma ya untuk silaturahim, mungkin beberapa saya silaturahim. Tapi ya waktunya terserah saya. Jadi … Juga banyak gus-gus dari Lirboyo, Ploso, karena tahu saya susah diundang, biasanya membawa rombongan ke sini untuk mengaji, kadang minta sanad. Tapi karena mereka kadang-kadang ke sini akhirnya ya saya silaturahim ke sana (ke tempatnya). Biasanya itu pun tidak mengaji umum. Umum di sini Rabu, tapi ngaji berurutan. Dengan Minggu, tapi tidak ada jam, karena satunya di madrasah. Kamis di Sarang. Desember (2019) ini juga ada pengurus PBNU (bagian lembaga dakwah) yang mengaji di sini. Saya pesan ke mereka: Adat-adat leluhur itu jangan dihilangkan. Kalau ingin mengaji ya ke kyai. Jangan karena dia meraasa PBNU, terus mengatur ngaji kyai. Tapi ya nurut lho mereka. Akhirnya di Indonesia ini orang kaya bisa mengundang kyai. Orang miskin tidak bisa. Kalau mengundang, pasti habis banyak. Makanya saya bilang, kalau mau ngaji datang saja. Di sini ngaji Rabu banyak sekali: keluarga Lirboyo, kadang keluarga Syaikhona Kholil, banyak. Ya itu tadi: barokahnya adalah mereka mulai efisien. Lha ceramah umum itu kan ribet: menata panggung, panitia debatlah, wah ribet. Saya juga tidak anti, tapi itu harus diminimalkan, menurut saya harus dikurangi sebanyak-banyaknya. Saya kemarin diundang di Tebuireng, diajak masuk ke kamar pribadinya Mbah Hasyim. Di situ da kitab-kitab yang sudah beliau selesaikan, ada yang belum beliau selesaikan.Ada yang ditulis ketika masih muda, setengah tua, sampai fi nihayati amri sampai ketika beliau klimaks. (Gus-gus keturunan Mbah Hasyim) itu minta,”Gus ini disortir kapan Mbah Hasyim punya pendapat ini. Ini pendapat yang sudah beliau cabut, atau beliau sudah tamkin fokus yakin dengan itu.” Satu kamar itu cucunya Mbah Hasyim semua, termasuk Gus Sholah. Jadi akhirnya alhamdulillah naskah2 Mbah Hasyim itu terjaga (perlu dilestarikan dan dikaji oleh ulama). Saya bilang: Ini baru benar. Kalau seperti saya diundang ngaji umum, Mbh Moen ngaji umum, Gus Mus pengajian umum? Ya nggak apa-apa dituruti, tapi setahun sekali atau dua tahun sekali. Jadi akhirnya naskah2 Mbah Hasyim itu bermanfaat. Itu barokahnya Gus Ishom. Semua acara2 di pondok besar itu kadang nuwun sewu basa-basi. PENTINGNYA HITUNGAN KRONOLOGIS DALAM DISIPLIN ULAMA Naskah Mbah Hasyim itu kalaupun selesai harus ditanggali, kalau tidak ditanggali bahaya buat ilmu karena takutnya dikarang ketika beliau muda. Kan kemarin pernah ada kejadian agak error ya. Jadi kubu sebelah itu anti-malam 7 hari, 40 hari berdasar kitabnya Mbah Hasyim. Itu kan ibarat orang fanatik PPP jadi anti PKB karena berdasarkan era duluan PPP. Atau sebaliknya. Dalam disiplin ulama, tanggal itu kan penting. Itu keluarga Tebuireng baru terhenyak karena ada debat kritikan 7 harian – 40 hari berdasar kitab Mbah Hasyim. Itu pasti akibat penanggalan: mungkin dikarang ketika muda, atau maksud beliau tidak seperti itu. Atau kondisi tertentu, misalnya seperti kondisi di era Jawa Timur yang abangan, 7 harian itu ritualnya benar-benar abangan, bukan 7 harian yang gambaran sekarang ini. Kan bisa saja seperti itu. Ada waqiatu ainin, satu kejadian khusus yang membuat Mbah Hasyimtrauma dengan kejadian itu (misalnya di kampung Jawa Timur atau Jawa Tengah, atau mana saja) Tapi karena alat … (?) (penanggalan) itu tidak lengkap, dikira Mbah Hasyim itu demikian. Dan memang ta’birnya gitu, nanti kejadiannya biasanya seperti itu: waqiatu ainin. Itu saya bilang ke Gus Fahmi, adiknya …. Ini khaulnya Gus Dur saya diminta, tapi saya bilang, “Saya mau datang, tapi syaratnya disediakan tim ilmiah dulu sebelum acara.” Mereka sanggup. Karena itu tadi, sayang sekali (kalau tidak lestari). Yang pertama ngotot naskahnya Syaikhona Kholil diterbitkan, itu cucu-cucunya sering ke sini, sampai semalaman. … dan itu lama jadi …. Saya itu ikut mendorong cucu-cucunya untuk melestarikan. Artinya apa? Karena tadi itu: berpuluh-puluh tahun sibuk (acara ribet), sampai naskah mbahnya sampai terabaikan. Musibah! Jadi seremonialnya benar-benar … apa ya (melalaikan). Ya akhirnya kalau NU diginiin terus itu kalah. Saya bilang ke Gus Mus, matur tentang itu, mungkin beliau setuju juga. Alhamdulillah Gus Mus itu mulai mencari naskah mbah-mbahnya. Dan ternyata banyak sekali. Pondok2 yang nggak terkenal, ternyata mbah2nya punya naskah. Misalnya kemarin saya baru mendapat kiriman file pdf karangan Habib Salim, Mbahnya Habib Jindan. Kemarin ketemu beliau di Lasem, “Ini Gus njenengan takhrij.” Beliau dari Jakarta. Habib Salim mbah beliau itu murid Syaikhona Kholil. Beliau pengarang kitab juga. Jadi di Indonesia, orang-orang alim itu benar-benar susah. Tapi saya ini mau bikin gerakan: gus-gus itu saya minta mengkaji kitab mbahnya, buyutnya. Sekarang pengajian sudah tidak NU …. Bangsane seneng rame-rame. Karena tadi, rasanya sayang sekali. Naskah ulama Indonesia dengan Yaman itu sama karena dulu ketika mengaji Sayyid Zaini Dahlan sudah orang Indonesia, mungkin malah jumlahnya imbang. Syaikhona Kholil menangi* Sayyid Zaini Dahlan bareng Syaikh Habib Ali Al-Habsy yang mengarang Simtuddurar. Bareng yang punya Iannatuththalibin, Sayyid Abu Bakar Syatha, yang cucu beliau ada yang hidup di sini hingga meninggal Sayyid Hamzah Syatha. Jadi saya baru saja kampanye. Tapi alhamdulillah naskah2 itu ada. Tapi ya itu cuma diperlakukan sebagai pajangan. Matekna wong tenan! Sebenarnya dirawat, tapi kalau dzuriyyahnya tidak mau peduli mau apa coba? Apa artinya terbit kalau tidak ada yang mau mengulas, membedah, tidak ada yang menyosialisasikan, kan nggak ada gunanya juga. Kata kuncinya adalah keseriusan kita. Saya kemarin sudah bilang ke Gus Sholah, saya mau datang ke Tebuireng, tapi saya bagian membaca kitabnya Mbah Hasyim. Sudah terbit, ada. Tapi kalau cucunya tidak peduli saya tidak mau. Coba Ihya’ itu, meski sudah terbit kalau tidak ada orang yang membacanya buat apa? Kan untuk pajangan saja. Apa artinya Fathul Qarib kalau tidak dibaca. Kalau terbitnya terbit. Tapi … Nah. Ini baru dinasionalkan, bahkan internasional. Kemarin PBNU bekerja sama dengan Habib Umar. Beliau diminta membaca kitabnya Mbah Hasyim. Kita mati-matian di NU karena kemarin ada benturan habaib dan kyai lalu kita minta. Dan Habib Umar sangat menghormati kita, menyayangi kita. Saya sudah punya tahu, muridnya Habib Umar, diskusi. Kalau kita tidak begini, habislah. Karena tadi. Setiap orang menyukai kyai di Indonesia itu ngatur kyai. Wah amit-amit. Kita ini adatnya masih seperti itu. Jadi orang-orang kya yang mencintai Tebuireng, mencintai Syaikhona Kholil itu ya ngatur2 kyai. Tapi ketika diminta, mereka tidak mau. Misalnya tadi, diminta sedikit melonggarkan waktu untuk mengkaji kitab. Misalnya begini: tiap mengadakan pengajian mereka habis 50 juta itu mau, tapi orang kaya diminta 50juta untuk mencetak kitabnya Mbah Hasyim, mereka nggak mesti mau. Padahal sama2 mereka menghabiskan uang untuk agama. Tapi kalau seleranya sendiri, mereka ingin punya acara, bagi mereka nggak masalah habis 50 juta. Tapi untuk membiayai naskah, urun 2 juta saja enggan. Artinya apa? Mereka mau membiayai kalau kita menurut pada keinginan mereka. Ketika kita yang minta mereke menuruti keinginan kita, mereka enggan. Itu jika dikalikan juta kejadian, seperti apa jadinya kita? Menurut saya itu sudah lampu merah. Semua pembiayaan besar itu berdasarkan selera orang2 kaya, bukan berdasar selera kyai. Orang2 kaya Surabaya itu milyarder banyak. Kalau ada acara pengajian akbar semalam, mereka biasa keluar 100 jt. Tapi kalau misalnya kyainya yang minta, misalnya sekali-kali acaranya meneliti kitab, itu tidak selalu setuju. Artinya kalau mereka yang punya ide, kita harus setuju. Kalau kita punya ide, mereka belum tentu setuju. Untuk hubungan dengan orang alim itulah yang menurut saya di Indonesia sudah lampu merah. Saya termasuk orang yang tidak mau (diatur). Sering saya didatangi orang-orang kaya dari Surabaya, ke sini bawa Alphard, minta saya pengajian akbar. Saya jawab, nggak. Kalau mau ngaji ya ke sini, kalau nggak mau ya nggak masalah. Sebenarnya saya bukan menolak (?) pengajian ya. Jumlah itu sudah banyak. Kalau mau ngaji ke sini, banyak kok yang dari selatan: Tulungagung, Magetan. Jadi inilah, Bu. Ini curhat saya. Saya khawatir keulamaan Indonesia itu dihilangkan. Padahal Indonesia sekarang baru menjadi kiblat. Syiria gagal mengelola negara, Mesir gagal, Irak gagal. Sekarang percontohan dunia itu tinggal Indonesia. Dan Ibu bisa kalau kita menjaga tradisi ulama: yaitu ulama itu yang mengatur orang kaya, bukan orang kaya yang mengatur ulama. Masalahnya sebagian ulama juga kedonyan, salahe dhewe. Dikasih mobil senang, diumrahkan senang. Terutama di Jawa Timur karena memang penghormatan ulama. Kemarin saja saya baru mengisi di PWNU Jawa Timur, keluar ruangan langsung diberi voucher umrah. Saya bilang nggak, saya kyai Jawa Tengah. Kalau suka dengan kyai, mengaji saja, nggak usah aneh-aneh. Khawatirnya seperti itu tadi. Ternyata ketika saya sampaikan ini, Gus Sholah mendukung, keluarga Syaikhona Kholil mendukung, Gus Da Ploso mendukung, karena mereka ternyata capek juga. Tapi mulai dari mana, itu yang masih dipikir. Mereka semua setuju mengurangi acara pengajian ramai-ramai. Alhamdulillan nanti insyaallah Khaul Gus Dur, Khaul Mbah Hasyim, nanti tema utamanya mengangkat kembali naskah-naskah leluhur. Saya memang dilibatkan. Jadi saya tahu. Semua gus-gus yang alim-alim ngotot: saya, Gus Reza, Gus Kautsar, dll. Kalau tidak, habis kita. Itu tadi, kemarin gara-gara peristiwa itu. Jadi ada naskahnya Mbah Hasyim, dipakai debat dengan orang NU. Kubu sebelah pakai naskahnya Mbah Hasyim. Dan itu mungkin, karena tadi. Beliau mungkin sedang marah terhadap adat tertentu, mungkin datang ke kampung abangan, ada acara 7 hari mungkin sindhenan. Judulnya itu bab hurmati ikhtifalil maulid ma’al trus ma’al ma’asyi. Sebenarnya ada kata ma’a –nya. Jadi beliau menangi periode itu, apalagi sekarang. Mungkin beliau kecewa karena beliau orang alim, lalu kekecewaan itu ditulis dalambahasa Arab. Memang ulama-ulama dulu meski orang Indonesia, menulisnya bahasa Arab. Saya punya tulisan tangannya Mbah Hasyim. Kan beliau teman mbah saya, di kitab-kitab mbah saya itu ada tulisan tangan Mbah Hasyim. Nah, karena keluarga sudah masyhur, sudah sibuk mengurus politik, pengajian, dll, warisan naskah mulai hilang. Lucunya, di luar sana sekarang ada yang namanya ahli filologi, orang yang menangani naskah-naskah kuno. Kan lucu. Di Mekah, di Belanda, mereka punya naskah-naskah ulama Indonesia, tapi para cucu penulisnya tidak punya. Itu akibat kebanyakan pengajian umum. Saya kemarin diundang di Termas. Sya bilang ke Gus … saya mau datang asal disediakan naskahnya Mbah Mahfud. Kalau nggak, saya nggak datang. Saya tunjukkan, saya yang bukan cucunya saja punya naskah2 beliau. Akhirnya cucu2 beliau ngaji sama saya, ushul fiqh memakai naskah yang tidak ada di Termas. Yang punya itu Mbah Moen, diberikan saya, karena Mbah Moen cucu murid sama Kyai mahfud. Yang cucu gen tidak punya, cucu murid punya. Lucu kan. Kalau siklus itu terus-menerus, bisa habis. Tradisi di sini ini sepuh. Wong Mbah Hasyim juga keturunan orang sini. Mbah Hasyim min jadil am keturunan Mbah Sambu. Keluarga Tebuireng dengan keluarga sini juga hormat karena induknya di sini. Yang keturunan laki-laki. Cuma Mbah Hasyim itu terkenalnya lewat Demak. Ya Demak dulu, Purwodadi Ngroto, sampai Jaka Tingkir. Kan beliau pendatang di Rembang. Makanya sebagian naskah ya di sini. Alhamdulillah gus-gus Jawa Timur itu sekarang responnnya luar biasa karena mereka ternyata capek juga menuruti acara seremonial. Tadi ada direktur Semen Gresik datang ke sini, minta pengajian. Direktur itu, kalau saya nuruti gaya yang memang gaya, tapi aku ngaji ngaji ae, nggak usah ngatur kyai. “Iya, Gus. Saya ngaji.” Karena saya takut kalau siklus ini terus-menerus tadi. Karena njenengan tahu ini, apalagi punya anak putri yang di Yaman. Andaikan njenengan tidak pernah kuliah di Yaman, ke luar negeri, saya nggak pernah ngomong ini. Kan lucu, kita ke Yaman mencari manuskrip naskah-naskah ulama Indonesia, sementara di sini oleh cucunya sendiri diabaikan. Naskah-naskah Syaikhona Kholil kemarin ketemunya sebagian di Bangkalan, sebagian di Jember, sebagian lgi di Surabaya. Tapi paling banyak di Jember. Gara2 beliau nulis….. dulu ga ada fotokopi, trus beliau punya santri di Surabaya, akhirnya naskah itu di Surabaya. Kan njenengan sudah punya generasi putri, keluarga. Itu harus diusahakan dari keluarga. Kalau yang lain itu terapinya kadang malah tidak tepat. Problem mendatangkan mubaligh/kyai adalah sebenarnya kyai ini kan nyuwun sewu orang yang tidak punya konsep dalam konteks spesifik, karena obyeknya kan nggak tahu. Saya ulangi lagi, kyai kalau datang ke mana-mana, obyek spesifiknya kan tidak tahu. Akhirnya sebagian pembicaraannya rutin atau standar saja. Makanya dibutuhkan kearifan keluarga, karena yang tahu misalnya njenengan punya jaamaah thariqah tahu penyakit orang thariqah itu suka wiridan, tapi nggak suka ilmu, nggak suka halal haram, nggak suka istinja’ (bersuci). Kalau penyakit orang fiqih, gampang ngomong halal haram tapi mudah hasud. Kan harus tahu, sehingga terapinya itu tepat. Makanya saya berani bicara ini sebagai bentuk penghormatan kepada njenengan. Kan njenengan sudah punya keluarga yang sekolah di mana-mana. Itu harusnya juga ada adat, ketika mengundang kyai bilang saja, ibarat kita konsultasi dokter, bahwa umat saya tipikalnya seperti ini, sehingga kalau orang Jawa bilang tidak melantur. NU itu problemnya di situ. Kyai terjun bebas, sehingga pengajian berkali-kali tidak jadi terapi. Karena spesifik obyeknya tidak jelas. Yang baru undur diri tadi kan jamaah thariqah Syadziliyah Kyai Muhaiminan Temanggung, minta saya mengaji di sana. Saya bilang, kirimkan anak atau cucu ke sini, nanti saya ajari. Nggak harus sampai tahunan, sehari cukup. Akhirnya beliau paham, karena beliau ahlul’ilmi seperti njenengan, akhirnya mengerti. Wong NU besarnya karena ngaji kok sekarang hanya seremonial organisasi. Dituruti akhirnya, OK Gus. Akhirnya Kyai Anwar > Saya mau datang kalau semua Gus-Gus mau datang dan syaratnya ngaji. Mereka sepakat. Jadi saya didampingi Gus Kautsar, Gus Reza. Akhirnya Gus Kautsar menunjukkan kealimannya, Gus Reza pun demikian. Akhirnya tidak menjadi acara seremonial, kan. Gojlokannya urusan ilmu. Dan akhirnya berlanjut. Saya datang ke Lirboyo. Kamu kira … bikin gerakan sendiri. Kalau gerakan itu jalan, karena kita memang ingin seperti itu. Karena kalau tidak, habis kita. Kalau kecakapan organisasi, lebih pandai Muhammadiyah. Kecakapan politik NU itu cakapnya mana …. Satu-satunya kelebihan yang mereka menang itu sebenarnya ngaji. Tapi masalahnya di NU sudah nggak suka ngaji. Jadi nanti kalau kita mau berpikir kan begitu. NU nggak latihan praktis berorganisasi kalah dengan Muhammadiyah. Seperti kemarin di PWNU Jatim itu mukjizat betul. Gara-gara ada Kyai Anwar, ada Gus Ali, keluarga Sidogiri mendukung, NU maju. Jadi saya diminta memang untuk gerakan ngaji, bukan yang lain. Alhamdulillah kemarin diminta oleh Gus Sholah. Saya mau syaratnya temanya menyisipkan naskah Mbah Hasyim. Lha wali sanga kita nasabnya sampai Yaman. Apalagi sekarang ada Habib Umar, ada penyambungnya. Kemarin Habib Jindan rawuh di Lasem minta ke panitia, mau datang ke Lasem kalau bisa memfasilitasi bertemu Gus Baha’. Akhirnya kita bertemu, pertama bertemu juga membahas naskah. Langsung dikirimi banyak naskah pdf. Jadi kayaknya insyaAllah gerakan ini masif. Kalau kyai-kyai akhirnya apa nuwun sewu, di NU itu banyak melahirkan kyai mubaligh, bukan kyai alim: orang yang bicaranya lucu, menarik, dan satu hari pidato tiga kali. Bisa dibayangkan kalau satu hari tiga kali, itu tidak pernah sempat memikirkan obyeknya butuh terapi apa. Itu pasti hanya rutin, pasti nggak penyembuh, bukan obat. Secara cangkem eleke kan bicara acak, kalau ahlul ‘ilmi kan masalah. Masak memberitahu orang tidak punya resepnya, kebutuhannya seperti apa. Akhirnya banyak melahirkan mubaligh2 yang di NU itu banyak masalah. Sekarang ini kan tambah aneh2. Pengajian plus dangdutan, pengajian plus kethoprakan, karena tadi tidak ada kontrol. Mubaligh yang bos krunya, trus krunya pakai alat musik, karen atidak pernah dikontrol. Nah, pengundang butuhnya bisa mengundang orang banyak. Nanti ilmu njenengan … tidak ada gunannya semua karena kalah sama seremonial. Makanya harus ada orang seperti saya. Hanya omong ilmu, saya nggak mau tahu. Pokoknya omong ilmu. Di Lirboyo saya sampaikan, “Gus Kafa, saya disambut 4 orang nggak masalah, asal empat orang yang serius mengaji, daripada disambut ribuan orang tapi tidak jelas niatnya. Akhirnya setiap saya ke sana, sebelum ngaji umum pasti ada putri, anak, menantu, dikumpulkan. Di Lirboyo anak Kyai Anwar, anaknya Gus Kafabih, dikumpulkan semua. Ngaji dulu sbelum acara umum. Sya ngomong persis seperti ini: kita tidak boleh kalah dengan … yang lain. Kita besar itu karena ulama, karena NU, bukan karena yang lain. NU itu kan ngeri. Banyak orang NU yang nggak tahu Ustad Abdus Shomad itu kategorinya apa, Ustadz Adi Hidayat apa. Banyak kan pondok-pondok NU mengundang mereka, karena detailnya saja tidak tahu. Coba, mengundang orang bahkan detail mereka saja tidak tahu. Butuhnya cuma “yang lagi tren”, itu kan lucu. Lucunya itu yang mengundang ya pondok, lembaga NU. Sekarang semenjak era saya, itu ada kesadaran. Cobalah njenengan yang pernah di Yaman, pikirkan lagi detail-detailnya. Kalau ngaji fiqih njenengan kan tahu, ada hukum mujmal ada hukum tashkhih. Kalau ada ta’arud antara hukum mujmal dan mufashal, menang yang mufashal. Kalau ada hukum global dengan yang detail itu menang yang detail. Sekarang kita nggak. Dari ulama yang tahu ilmu detail, mau diajak ke yang mujmal lagi. Bisa kiamat. Jadi sudah hampir pandai diajak goblok lagi. Jadi saya anggap ini sudah lampu merah. Saya matur njenengan ini sebagai bentuk penghormatan saya karena Mbak ngaji di Yaman. Saya acara di Temanggung juga akan matur seperti ini supaya itu tadi. Di mana-mana itu thariqah memang hebat. Di sini thariqah itu sampai 36 mu’tabarah Naqsabandi, Tijani. Dan semua punya sanad. Tapi orang di luar sana, sudah nggak lagi. Kalau kita pengajian umum terus, nanti ini hilang. Karena kalau pengajian umum, pasti orientasinya yang datang banyak, bupatinya datang, pokoknya hal-hal yang (ribet). Menurut saya yang seperti itu dikurangi, meskipun ya jangan dihilangkan, karena tadi. Saya ini punya niat baik sangat. Nyatanya saya di PWNU Jawa Timur gus-gus mengeluarkan kealimannya. Itu hampir semua gus-gus pondok datang, Pondok Denanyar datang, Gus Salaf, keluarga Syaikhona Kholil datang semua. Itu yang mengumpulkan naskah itu dulu mengaji di sini ada empat tahun, yaitu Gus Ismail yang mengumumkan naskah Syaikhona. Ngaji sama saya sorogan, bukan saya yang baca, tapi dia yang baca. Lama ngaji di sini. Ya mondoknya di Mbah Moen, kan hanya 9 km. Sorogannya di sini. Sekarang beliau Gus Ismail juga sedang menulis lagi. Jadi kalau NU mau begini 5 tahun saja, insyaallah luar biasa. Kan antara dua, klo nggak anaknya orang alim, ya yang cucunya orang alim. Masak di Yaman dipelajari. Coba seperti kitab Sirajuth Thalibin dicetak di Mesir, di mana-mana. Tapi njenengan tahu di Jampes nasibnya seperti itu. Itu dulu pasti asal usulnya kepedulian cucu, alumni yang kurang. Itu sudah pasti. Tapi sekali cucu, alumni peduli, pasti naskah itu luar biasa. Contoh mudah saja seperti Mbah Moen mengarang Al ulama’ al mujaddidu yang membaca secara masif saya…. Ini sekarang saya baru mau membaca kitabnya Mbah Hasyim. Saya mau matur ke Gus Sholah. Lucu kan, NU itu organisasi besar. Pendirinya Mbah Hasyim. Orang tahu tulisan Ulil, Nusron, …. tapi nggak tahu tulisan rais akbarnya. Karena naskah itu tidak pernah dishare secara terbuka, secara massal. Mohon maaf sebesar-besarnya, tapi saya senang bisa curhat karena ini … saya lah, supaya tradisi kealiman itu kembali. Meski kita tidak sesempurna para pendiri NU, mosok pondok2 sekarang sering pengajian umum terus. Pusing saya. Pusing saya kan sayang, misalnya panjenengna punya putri ngaji di Yaman, ngajinya tahqiq, sampai cari kamus, lafadz ini dari kosakata apa, ternyata umatnya Cuma dilatih mujmal-an. Bagaimana bisa itu. Tapi nggak ada yang sadar kalau kita nggak ngomong. Tapi saya bukan antipengajian umum, ya sudah sesekali lah, hiburan, jangan terus-terusan. Umum itu standar saja. Nggak fokuslah kalau bahasa sekarang. Tapi ini masih bisa dibenahi, kultur keluarga kyai itu masih lestari, seperti njenengan dari Magetan belajar sampai Yaman. Buyut2 saya juga masih banyak emngarang kitab. Karena dulu itu bahasa Arab sudah seperti bahasa Jawa, orang alim dengan temannya korespondensi pakai bahasa Arab. Saya punya tulisan Mbah Hasyim banyak, menyurati Mbah saya. Padahal Mbah2 orng Indonesia. Kalau dulu kita itu malakah lah istilahnya. Benar. Akhirnya kita sekarang ya ketularan. Yogya sekaten dari syahadatain. Sekolah madrasah, sampun ba’da. dll Baca Juga Profil Gus Baha : Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkap Lihat video selengkapnya di: https://www.youtube.com/watch?v=Agy8Yp3jNKk&feature=youtu.bevideo

GUS BAHA’: KEMBALILAH KE TRADISI ULAMA, INDONESIA ITU SEKARANG JADI KIBLAT

kalamulama.com- CURHAT GUS BAHA’: KEMBALILAH KE TRADISI ULAMA, INDONESIA ITU SEKARANG JADI KIBLAT Ini rekaman curhat Gus Baha’ ketika diminta untuk mengisi mauidhah hasanah walimatul...
kalamulama.com- Tangisan Gus Baha di Hadapan KH. Masbuhin Faqih Air mata Gus Baha pecah saat berpamitan dengan KH. Masbuhin Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Gresik, usai memberi kuliah umum di hadapan para

Tangisan Gus Baha di Hadapan KH. Masbuhin Faqih

kalamulama.com- Tangisan Gus Baha di Hadapan KH. Masbuhin Faqih Air mata Gus Baha pecah saat berpamitan dengan KH. Masbuhin Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin...
kalamulama.com- Seminar Tafsir Al Qurán Dan Hadits       Memaknai Al-Qur’an dengan menangkap pesan pokoknya adalah hal mudah bahkan banyak sekali, dan tidak terhitung jumlahnya non muslim menjadi muslim karenavideo

Ngaji Gus Baha: Seminar Tafsir dan Hadits di PP Fathul ‘Ulum Kwagean

kalamulama.com- Seminar Tafsir Al Qurán Dan Hadits       Memaknai Al-Qur’an dengan menangkap pesan pokoknya adalah hal mudah bahkan banyak sekali, dan tidak terhitung jumlahnya non...
kalamulama.com- Ngaji Gus Baha: Trik Meminimalkan Konflik Gus Baha dalam suatu ceramahnya mengingatkan agar pertengkaran masalah furuiyyah diantara umat Islam khususnya di Indonesia jangan terus berlarut-larut.video

Ngaji Gus Baha: Trik Meminimalkan Konflik

kalamulama.com- Ngaji Gus Baha: Trik Meminimalkan Konflik Gus Baha dalam suatu ceramahnya mengingatkan agar pertengkaran masalah furuiyyah diantara umat Islam khususnya di Indonesia jangan terus...
KALAMULAMA.COM- NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM. Gus Baha dalam ceramahnya selalu mengisahkan cerita-cerita yang mempunyai nilai hikmah yang sangat luar biasa bagi pendengarnya. Dalam suatu ngajinya, Gus Baha menceritakan kisah seorang santri nakal yang menginginkan seorang putri dari seorang syekh yang alim. Syekh Alim tersebut mempunyai seorang putri yang mempunyai wajah cantik dan menjadi dambaan terutama dikalangan santri. “Saya punya cerita lucu dunia wali. Jadi di dunia wali yang sanad-sanad saya sampai Rasulullah itu, dulu di mekah ada namanya wali dzambil, ya wali rada jadzab. Itu pada periode yang mengarang i'anah, pokoknya periode-periode itu, kira-kira dari saya empat guru. Ada seorang alim alamah populer punya anak cantik. Dulu santri juga nakal, pokoknya kalau ada anaknya orang alim berparas cantik itu jadi dambaan. Karena pikirannya ketika jadi menantu kyai langsung jadi kyai melejit, nasabnya cangkokan kan beres. Daripada membangun nasab sendiri kan repot. Cangkokan, anaknya dipanggil gus dipanggil ning kan damai, daripada berkarir sendiri bergulat kan panjang (perjuangannya)”. Santri nakal tersebut menginginkan bertemu dengan anak syekh alim tersebut. Dia memikirkan cara untuk bisa masuk ke rumah syekh alim tersebut dan bertemu dengan anaknya. Seperti diketahui Tradisi di Mekah dalam bertamu ke rumah orang lain itu tidak semudah di Jawa. Misalnya kalau di Jawa seseorang ingin meminjam palu atau sabit itu tidak susah seperti di Makkah. Pada waktu itu, satu-satunya cara supaya bisa masuk dapur, salah satunya yaitu menjadi tukang air. Akhirnya santri tadi menjadi tukang air. Karena pada waktu itu belum ada PDAM. Akhirnya dia setiap hari mengantarkan air ke rumah Syekh alim tersebut sampai ke kamar mandinya. “Tambah-tambah ya jualan air, tukang air itukan kelasnya ekstrim betul, sampai di antarkan ke dalam kamar mandi. Tempat paling rawan orang buka aurat. Melihat ning saat tidak berjilbab, mungkin juga melihat pas hanya pakai handuk.  Pokoknya santri yang ini nakal. Air yang dijual murah. Syech nya pun senang karena harga airnya murah. Airnya murah, khusus untuk dia, karena jualnya juga hanya ke syech itu saja. Karena tidak ada kepentingan di tempat lain. Kepentingan dia hanya masuk rumah tadi”. Melihat tingkah santri tersebut, Lama kelamaan Syech tersebut paham maksud santri tersebut menjadi tukang air. Akan tetapi, pahamnya Syekh tersebut entah karena sebab seorang wali atau karena tingkah laku dari seorang santri tadi yang tidak beres, dikarenakan santri tersebut hanya menjual air ke rumah syekh alim tersebut. Akhirnya syekh alim tersebut mengetahui motif santri tersebut hanya untuk bisa masuk ke rumahnya dan melihat anaknya. “Lama-lama (santri tadi) ditanya, nak kalau kamu ingin jadi menantu saya itu mudah. Tidak perlu sampai kamu berjualan air.  Wali kan, syechnya wali (sehingga bisa tau)   Caranya gimana mbah? Kamu sholat di masjidil haram 40 hari shof awal, tidak boleh bolong. Pada hari ke 40, laporan ke saya, langsung saya nikahkan. Betulan ini. Oke Sholat mulai hari Ahad ditandai, start shof awal 40 hari tanpa bolong. Itu ya orang mekah. Bisa ditiru ya, jangan sampai bolong. Asik... Sholat pertama ya demi perempuan. Sholat kedua masih demi menjadi menantu kyai, pokoknya ketiga sampai berhari-hari (niat demi perempuan). Hari kesepuluh sudah sadar, sudah mulai menikmati sholat berjamaah”. “Alhasil hari kesepuluh duapuluh mulai membaik. Pas hari keempatpuluh lupa, tetap sholat (berjamaah). Didatangi sama si Syech, digandeng, diajak pulang.  Ayo pulang nak. Lho, mau apa syech?. Ya pulang, kawin, kan ini hari ke empat puluh, jadi waktunya kamu saya akadkan dengan anakku.  Syech menghina saya ya, masak sholat ditukar sama anakmu. Marah dia, dia tersinggung. Jamaah 40 hari itu syech, imbalannya itu bebas dari neraka”.  Alhasil setelah bertemu kyainya tadi, sang santri marah. Anda ngejek orang mbah, sholat kok ditukar sama anaknya, ya gak mau lah. Balasannya sholat 40 hari itu terbebas dari neraka. Jadi ya tidak cukup ditukar anak anda. Lah terus gimana nak. Ya gak jadi. Ngejek orang itu. Setelah pulang, si syech yang gentian memohon. Beneran nak, saya minta, kamu harus mau jadi menantuku. Aku pengen punya menantu yang ikhlas. Sekarang kebalik, Yaudah kalo gitu. Akhirnya Syekh alim tersebut mendapatkan menantu yang ikhlas. Santri tersebut juga tetap mendapat barokahnya ikhlas. Tegas Gus baha. Dari kisah ini Gus Baha mengajarkan kepada para pencintanya, bahwa seseorang dalam beribadah harus berusaha menjalankannya dengan ikhlas. Walaupun dalam melakukan ibadah pada awalnya mengharapkan sesuatu. Akan tetapi apabila ibadah tersebut dilakukan dengan istiqamah lama-lama ibadah yang dilakukan seseorang tersebut bisa ikhlas sendiri. Gus Baha  juga mengisahkan imam ghozali masuk mondok itu pada awalnya hanya berniat untuk mencari makan, bukan untuk mencari ilmu. Karena pada waktu itu Ghozali kecil hidup dalam keadaan miskin, dan yatim. Pada waktu harta bapaknya habis, paman dan teman-teman bapaknya ini memasukkan Ghazali kecil ke sebuah yayasan pendidikan. Karena pada waktu itu, satu-satunya cara supaya mendapatkan makan gratis yaitu dengan masuk yayasan. Akhirnya  beliau dipondokkan dan lama-lama beliau menjadi ikhlas dalam menuntut ilmu. Alhasil, betapa barokahnya ikhlas dan ikhlas itu bisa dilatih. Gus Baha juga mengisahkan Mbah Maksum Lasem, beliau pernah menjadi bahan ejekan di antara kyai. “Ada kyai kan suka baca wirid, tapi saya tidak. Tapi ya ingat Pengeran, tidak baca wirid bukan berarti tidak ingat Pengeran. Gaya sekali kamu Sum. Kalau selesai sholat baca wirid lama. Karena santri kamu banyak kan, kamu malu kan kalo langsung pergi. Itu sesama kyai lho ya ejek-ejekannya. Kalo aku sih terang saja, daripada demi santri ya mending tidak baca wirid, mengingat Pengeran dimanapun. Terus mbah Maksum menjawab. Iya aku pertama baca wirid ya demi santri, santri banyak kok gak baca wirid. Tapi lama-lama ya lupa, kalo sudah lupa ya ikhlas. Masyhur juga ini (cerita) mbah Maksum. Jadi yang penting pertama baca wirid demi santri, masak mengimami santri sebegitu banyak setelah salam kabur. Ya tidambah baca wirid lah. Lama-lama nanti lupa, nah pas lupa itu sudah ikhlas. Ucap mbah Maksum”. Jadi banyak orang mendapat motivasi beribadah pertama itu tidak ikhlas. Akan tetapi, karena  dilatih terus menerus lama-kelamaan akan timbul rasa ikhlas. Seperti halnya santri tadi, dia pertama melakukan sholat berjamah demi perempuan. Lama-lama santri tersebut menikmati shalat berjamaah tersebut bahkan sampai tersinggung ketika akan ditukar dengan perempuan. “Ngejek orang mbah, sholat kok ditukar perempuan”. “Paham ya, jadi pertama berdakwah mungkin melihat, menjadi mubaligh hasilnya banyak, ya boleh. Nanti kalau saatnya ikhlas kan tidak mau. Lama-lama gak laku lagi. Nah itu ikhlas betulan, nanti sudah ikhlas diangkat Pengeran laku lagi. Pas itulah sudah ikhlas. Jadi ikhlas itu ada prosesnya. Kembali ke kisah, kalau di mekah, masuk rumah orang itu harus ijin, nah ijinnya susah, santri tadi berpikir. Kalau bertamu saja kan gak melihat (perempuan). Akhirnya jual air, berhasil dia. Hebat betul bocah tadi ya, jadi jualan air, jamaah 40 hari bebas dari neraka, barokahnya ikhlas dapat anaknya kyai. Hebat betul, tapi yang bisa mengalami itu siapa, gak tau”. Baca Juga Profil Gus Baha : Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkapvideo

NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM

KALAMULAMA.COM- NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM. Gus Baha dalam ceramahnya selalu mengisahkan cerita-cerita yang mempunyai nilai hikmah yang...
kalamulama.com- Ngaji Gus Baha: Nasihat Suami Istri dan Hukum Halal Haram Rokok Gus Baha dalam setiap kajiannya selalu menampilkan kisah-kisah yang menarik dan lucu. Cerita gus Baha kali ini mengisahkan kehidupan suami istri dalam rumah tangga. Diceritakan dalam rumah tangga tersebut sang istri selalu bersikap cerewet kepada suaminya karena kesal uangnya selalu dipakai membeli rokok dibanding untuk membeli keperluan kehidupan sehari-hari. Menurut Gus Baha sikap istri yang demikian tersebut bisa dibenarkan, karena kalau istri tidak cerewet maka keuangan dalam rumah tangga tersebut akan kacau. “Makanya saya minta, anda hubungan suami istri juga gitu, kalau dinasehati perempuan itu jangan terlalu PD kamu yang benar. Kadang cerewatnya dia juga benar. Misal, uang 20 Ribu kok dipakai rokok dan ngopi, bukan untuk beli beras. Itu jika gak ada yang cerewet kan ya kacau, secara ekonomi. Tapi, orang sudah melarat dilarang punya hiburan merokok ngopi, nanti kalau stress juga repot. Jadi ya pokoknya cukup, kalau ada khilaf  seperti itu ya kita (maklumi) Saya sering dapat laporan. “Gus, itu lho kasih tau, uang Cuma 20 ribu bukannya beli beras malah beli rokok”. Kata yang laki-laki jawabnya mudah. “gimana dong gus, saya ini santri, zina gak berani, dangdutan gak berani, hiburan rokok saja anda haramkan, kalau saya stres malah repot”. Ini kan seperti benar seperti salah. Yang perempuan pun saya bilangin, makanya nak, hidup itu yang kramat, jadi gak bergantung laki-laki. Makanyan harta bapakmu dibawa pulang, jadi punya uang. Jangan bergantung laki-laki”. Gus Baha juga menyampaikan ketika seorang istri ‘cerewet’ kepada suaminya, maka seorang suami juga jangan membantah. Terkadang sikap suami memang bisa salah dan perlu dinasehati oleh istrinya. Artinya dalam sebuah rumah tangga, suami dan istri  harus saling menasehati agar tercipta ketenangan. “Yang laki-laki juga saya bilangin, jadi laki-laki itu kalau dinasehati perempuan itu jangan membantah, kamu ini salah kok mbantah. Tidak gus, saya akan siap diam. Syaratnya tetap boleh rokok dan ngopi. Ya alasannya begitu. Orang-orang kaya itu hiburannya banyak, punya toko punya mobil punya apapun. Masak punya hiburan ngopi dan rokok kok gak boleh”. Mengenai masalah hukum rokok, Gus Baha mempunyai ‘pengalaman buruk’ saat ditanya seorang kiai sepuh mengenai masalah hukum rokok. Sang kiai tersebut meminta fatwa hukum rokok kepada Gus Baha. Masyarakat muslim Indonesia walaupun MUI memberikan fatwa terhadap suatu perkara, dalam hal ini MUI memberikan fatwa haram pada hukum rokok. Masyarakat muslim tidak serta merta mengikuti fatwa dari MUI, mereka terkadang lebih patuh terhadap fatwa kiai-kiai disekitarnya. Karena kiai-kiai tersebut lebih faham keadaan masyarakat disekitarnya sehingga kiai-kiai tersebut akan lebih bijak dalam memberikan fatwa kepada masyarakat disekitarnya. Seperti halnya gus Baha dalam memberikan fatwa hukum rokok kepada kiai sepuh tersebut sangat fleksibel sekali. “Saya masih ingat, punya kenangan buruk. MUI berfatwa mengharamkan rokok, masyhur. Saya ditanya Kyai yang sudah sakit sudah sepuh, Gus, saya tanya anda, anda jawab sayapun sami’na wa atho’na. Saya ini Kyai, hiburannya merokok di sudut mushola ketika malam. Punya kelompok merokok di pojok mushola. Kalau sudah habis ya sudah digores-gores di tembok, gak pakai asbak, ya alasannya begitu. Saya ini Kyai gus, pacaran gak pantes, nonton bioskop juga gak pantes. Hiburan saya ya kelompok rokok di pojok mushola. Kalau itu haram juga ya tidak punya hiburan. Masak anda masih mengharamkan. Ini tanya tapi menggiring. Aku pun bilang, ya sudah untuk anda tidak haram”. Tegas Gus Baha. Baca Juga Profil Gus Baha (Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkap)video

Ngaji Gus Baha: Saat Gus Baha Diminta Fatwa Hukum Rokok Oleh Kiai Sepuh

kalamulama.com- Ngaji Gus Baha: Nasihat Suami Istri dan Hukum Halal Haram Rokok Gus Baha dalam setiap kajiannya selalu menampilkan kisah-kisah yang menarik dan lucu. Cerita...
kedekatan Mbah moen

CERITA KEDEKATAN MBAH MOEN DAN GUS BAHA

kalamulama.com - Beberapa tahun lalu, di sebuah pengajian kitab yang terbuka untuk umum, almarhum Mbah Moen Zubair ketika memberi pengantar tentang kealiman para tokoh...
KalamUlama.com - 12 April 2019 - Ngaji Gus Baha Kitab Al Qowaid Al Asasiyah fi Ulumil Qur'an Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim Ajak Sebanyaknya Sahabatmu untuk gabung, klik : Web : www.kalamulama.com Fanspage : @kalamulamaku Instagram : @kalamulamaku Twitter : @kalamulamaku Line ID : @eyd0088j Telegram : @kalamulamaku Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!! #GusBaha #GusBahaTerbaru #KajianTafsirJalalain #KajianHakimvideo

Ngaji Gus Baha Kitab Al Qowaid AlAsasiyah fi Ulumil Qur’an – 12 April 2019

KalamUlama.com - 12 April 2019 - Ngaji Gus Baha Kitab Al Qowaid Al Asasiyah fi Ulumil Qur'an. Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang...