Home Video Gus Baha

Gus Baha

kalamulama.com- Ngaji Gus Baha: Trik Meminimalkan Konflik Gus Baha dalam suatu ceramahnya mengingatkan agar pertengkaran masalah furuiyyah diantara umat Islam khususnya di Indonesia jangan terus berlarut-larut.video

Ngaji Gus Baha: Trik Meminimalkan Konflik

kalamulama.com- Ngaji Gus Baha: Trik Meminimalkan Konflik Gus Baha dalam suatu ceramahnya mengingatkan agar pertengkaran masalah furuiyyah diantara umat Islam khususnya di Indonesia jangan terus...
KALAMULAMA.COM- NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM. Gus Baha dalam ceramahnya selalu mengisahkan cerita-cerita yang mempunyai nilai hikmah yang sangat luar biasa bagi pendengarnya. Dalam suatu ngajinya, Gus Baha menceritakan kisah seorang santri nakal yang menginginkan seorang putri dari seorang syekh yang alim. Syekh Alim tersebut mempunyai seorang putri yang mempunyai wajah cantik dan menjadi dambaan terutama dikalangan santri. “Saya punya cerita lucu dunia wali. Jadi di dunia wali yang sanad-sanad saya sampai Rasulullah itu, dulu di mekah ada namanya wali dzambil, ya wali rada jadzab. Itu pada periode yang mengarang i'anah, pokoknya periode-periode itu, kira-kira dari saya empat guru. Ada seorang alim alamah populer punya anak cantik. Dulu santri juga nakal, pokoknya kalau ada anaknya orang alim berparas cantik itu jadi dambaan. Karena pikirannya ketika jadi menantu kyai langsung jadi kyai melejit, nasabnya cangkokan kan beres. Daripada membangun nasab sendiri kan repot. Cangkokan, anaknya dipanggil gus dipanggil ning kan damai, daripada berkarir sendiri bergulat kan panjang (perjuangannya)”. Santri nakal tersebut menginginkan bertemu dengan anak syekh alim tersebut. Dia memikirkan cara untuk bisa masuk ke rumah syekh alim tersebut dan bertemu dengan anaknya. Seperti diketahui Tradisi di Mekah dalam bertamu ke rumah orang lain itu tidak semudah di Jawa. Misalnya kalau di Jawa seseorang ingin meminjam palu atau sabit itu tidak susah seperti di Makkah. Pada waktu itu, satu-satunya cara supaya bisa masuk dapur, salah satunya yaitu menjadi tukang air. Akhirnya santri tadi menjadi tukang air. Karena pada waktu itu belum ada PDAM. Akhirnya dia setiap hari mengantarkan air ke rumah Syekh alim tersebut sampai ke kamar mandinya. “Tambah-tambah ya jualan air, tukang air itukan kelasnya ekstrim betul, sampai di antarkan ke dalam kamar mandi. Tempat paling rawan orang buka aurat. Melihat ning saat tidak berjilbab, mungkin juga melihat pas hanya pakai handuk.  Pokoknya santri yang ini nakal. Air yang dijual murah. Syech nya pun senang karena harga airnya murah. Airnya murah, khusus untuk dia, karena jualnya juga hanya ke syech itu saja. Karena tidak ada kepentingan di tempat lain. Kepentingan dia hanya masuk rumah tadi”. Melihat tingkah santri tersebut, Lama kelamaan Syech tersebut paham maksud santri tersebut menjadi tukang air. Akan tetapi, pahamnya Syekh tersebut entah karena sebab seorang wali atau karena tingkah laku dari seorang santri tadi yang tidak beres, dikarenakan santri tersebut hanya menjual air ke rumah syekh alim tersebut. Akhirnya syekh alim tersebut mengetahui motif santri tersebut hanya untuk bisa masuk ke rumahnya dan melihat anaknya. “Lama-lama (santri tadi) ditanya, nak kalau kamu ingin jadi menantu saya itu mudah. Tidak perlu sampai kamu berjualan air.  Wali kan, syechnya wali (sehingga bisa tau)   Caranya gimana mbah? Kamu sholat di masjidil haram 40 hari shof awal, tidak boleh bolong. Pada hari ke 40, laporan ke saya, langsung saya nikahkan. Betulan ini. Oke Sholat mulai hari Ahad ditandai, start shof awal 40 hari tanpa bolong. Itu ya orang mekah. Bisa ditiru ya, jangan sampai bolong. Asik... Sholat pertama ya demi perempuan. Sholat kedua masih demi menjadi menantu kyai, pokoknya ketiga sampai berhari-hari (niat demi perempuan). Hari kesepuluh sudah sadar, sudah mulai menikmati sholat berjamaah”. “Alhasil hari kesepuluh duapuluh mulai membaik. Pas hari keempatpuluh lupa, tetap sholat (berjamaah). Didatangi sama si Syech, digandeng, diajak pulang.  Ayo pulang nak. Lho, mau apa syech?. Ya pulang, kawin, kan ini hari ke empat puluh, jadi waktunya kamu saya akadkan dengan anakku.  Syech menghina saya ya, masak sholat ditukar sama anakmu. Marah dia, dia tersinggung. Jamaah 40 hari itu syech, imbalannya itu bebas dari neraka”.  Alhasil setelah bertemu kyainya tadi, sang santri marah. Anda ngejek orang mbah, sholat kok ditukar sama anaknya, ya gak mau lah. Balasannya sholat 40 hari itu terbebas dari neraka. Jadi ya tidak cukup ditukar anak anda. Lah terus gimana nak. Ya gak jadi. Ngejek orang itu. Setelah pulang, si syech yang gentian memohon. Beneran nak, saya minta, kamu harus mau jadi menantuku. Aku pengen punya menantu yang ikhlas. Sekarang kebalik, Yaudah kalo gitu. Akhirnya Syekh alim tersebut mendapatkan menantu yang ikhlas. Santri tersebut juga tetap mendapat barokahnya ikhlas. Tegas Gus baha. Dari kisah ini Gus Baha mengajarkan kepada para pencintanya, bahwa seseorang dalam beribadah harus berusaha menjalankannya dengan ikhlas. Walaupun dalam melakukan ibadah pada awalnya mengharapkan sesuatu. Akan tetapi apabila ibadah tersebut dilakukan dengan istiqamah lama-lama ibadah yang dilakukan seseorang tersebut bisa ikhlas sendiri. Gus Baha  juga mengisahkan imam ghozali masuk mondok itu pada awalnya hanya berniat untuk mencari makan, bukan untuk mencari ilmu. Karena pada waktu itu Ghozali kecil hidup dalam keadaan miskin, dan yatim. Pada waktu harta bapaknya habis, paman dan teman-teman bapaknya ini memasukkan Ghazali kecil ke sebuah yayasan pendidikan. Karena pada waktu itu, satu-satunya cara supaya mendapatkan makan gratis yaitu dengan masuk yayasan. Akhirnya  beliau dipondokkan dan lama-lama beliau menjadi ikhlas dalam menuntut ilmu. Alhasil, betapa barokahnya ikhlas dan ikhlas itu bisa dilatih. Gus Baha juga mengisahkan Mbah Maksum Lasem, beliau pernah menjadi bahan ejekan di antara kyai. “Ada kyai kan suka baca wirid, tapi saya tidak. Tapi ya ingat Pengeran, tidak baca wirid bukan berarti tidak ingat Pengeran. Gaya sekali kamu Sum. Kalau selesai sholat baca wirid lama. Karena santri kamu banyak kan, kamu malu kan kalo langsung pergi. Itu sesama kyai lho ya ejek-ejekannya. Kalo aku sih terang saja, daripada demi santri ya mending tidak baca wirid, mengingat Pengeran dimanapun. Terus mbah Maksum menjawab. Iya aku pertama baca wirid ya demi santri, santri banyak kok gak baca wirid. Tapi lama-lama ya lupa, kalo sudah lupa ya ikhlas. Masyhur juga ini (cerita) mbah Maksum. Jadi yang penting pertama baca wirid demi santri, masak mengimami santri sebegitu banyak setelah salam kabur. Ya tidambah baca wirid lah. Lama-lama nanti lupa, nah pas lupa itu sudah ikhlas. Ucap mbah Maksum”. Jadi banyak orang mendapat motivasi beribadah pertama itu tidak ikhlas. Akan tetapi, karena  dilatih terus menerus lama-kelamaan akan timbul rasa ikhlas. Seperti halnya santri tadi, dia pertama melakukan sholat berjamah demi perempuan. Lama-lama santri tersebut menikmati shalat berjamaah tersebut bahkan sampai tersinggung ketika akan ditukar dengan perempuan. “Ngejek orang mbah, sholat kok ditukar perempuan”. “Paham ya, jadi pertama berdakwah mungkin melihat, menjadi mubaligh hasilnya banyak, ya boleh. Nanti kalau saatnya ikhlas kan tidak mau. Lama-lama gak laku lagi. Nah itu ikhlas betulan, nanti sudah ikhlas diangkat Pengeran laku lagi. Pas itulah sudah ikhlas. Jadi ikhlas itu ada prosesnya. Kembali ke kisah, kalau di mekah, masuk rumah orang itu harus ijin, nah ijinnya susah, santri tadi berpikir. Kalau bertamu saja kan gak melihat (perempuan). Akhirnya jual air, berhasil dia. Hebat betul bocah tadi ya, jadi jualan air, jamaah 40 hari bebas dari neraka, barokahnya ikhlas dapat anaknya kyai. Hebat betul, tapi yang bisa mengalami itu siapa, gak tau”. Baca Juga Profil Gus Baha : Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkapvideo

NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM

KALAMULAMA.COM- NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM. Gus Baha dalam ceramahnya selalu mengisahkan cerita-cerita yang mempunyai nilai hikmah yang...
kalamulama.com- Ngaji Gus Baha: Nasihat Suami Istri dan Hukum Halal Haram Rokok Gus Baha dalam setiap kajiannya selalu menampilkan kisah-kisah yang menarik dan lucu. Cerita gus Baha kali ini mengisahkan kehidupan suami istri dalam rumah tangga. Diceritakan dalam rumah tangga tersebut sang istri selalu bersikap cerewet kepada suaminya karena kesal uangnya selalu dipakai membeli rokok dibanding untuk membeli keperluan kehidupan sehari-hari. Menurut Gus Baha sikap istri yang demikian tersebut bisa dibenarkan, karena kalau istri tidak cerewet maka keuangan dalam rumah tangga tersebut akan kacau. “Makanya saya minta, anda hubungan suami istri juga gitu, kalau dinasehati perempuan itu jangan terlalu PD kamu yang benar. Kadang cerewatnya dia juga benar. Misal, uang 20 Ribu kok dipakai rokok dan ngopi, bukan untuk beli beras. Itu jika gak ada yang cerewet kan ya kacau, secara ekonomi. Tapi, orang sudah melarat dilarang punya hiburan merokok ngopi, nanti kalau stress juga repot. Jadi ya pokoknya cukup, kalau ada khilaf  seperti itu ya kita (maklumi) Saya sering dapat laporan. “Gus, itu lho kasih tau, uang Cuma 20 ribu bukannya beli beras malah beli rokok”. Kata yang laki-laki jawabnya mudah. “gimana dong gus, saya ini santri, zina gak berani, dangdutan gak berani, hiburan rokok saja anda haramkan, kalau saya stres malah repot”. Ini kan seperti benar seperti salah. Yang perempuan pun saya bilangin, makanya nak, hidup itu yang kramat, jadi gak bergantung laki-laki. Makanyan harta bapakmu dibawa pulang, jadi punya uang. Jangan bergantung laki-laki”. Gus Baha juga menyampaikan ketika seorang istri ‘cerewet’ kepada suaminya, maka seorang suami juga jangan membantah. Terkadang sikap suami memang bisa salah dan perlu dinasehati oleh istrinya. Artinya dalam sebuah rumah tangga, suami dan istri  harus saling menasehati agar tercipta ketenangan. “Yang laki-laki juga saya bilangin, jadi laki-laki itu kalau dinasehati perempuan itu jangan membantah, kamu ini salah kok mbantah. Tidak gus, saya akan siap diam. Syaratnya tetap boleh rokok dan ngopi. Ya alasannya begitu. Orang-orang kaya itu hiburannya banyak, punya toko punya mobil punya apapun. Masak punya hiburan ngopi dan rokok kok gak boleh”. Mengenai masalah hukum rokok, Gus Baha mempunyai ‘pengalaman buruk’ saat ditanya seorang kiai sepuh mengenai masalah hukum rokok. Sang kiai tersebut meminta fatwa hukum rokok kepada Gus Baha. Masyarakat muslim Indonesia walaupun MUI memberikan fatwa terhadap suatu perkara, dalam hal ini MUI memberikan fatwa haram pada hukum rokok. Masyarakat muslim tidak serta merta mengikuti fatwa dari MUI, mereka terkadang lebih patuh terhadap fatwa kiai-kiai disekitarnya. Karena kiai-kiai tersebut lebih faham keadaan masyarakat disekitarnya sehingga kiai-kiai tersebut akan lebih bijak dalam memberikan fatwa kepada masyarakat disekitarnya. Seperti halnya gus Baha dalam memberikan fatwa hukum rokok kepada kiai sepuh tersebut sangat fleksibel sekali. “Saya masih ingat, punya kenangan buruk. MUI berfatwa mengharamkan rokok, masyhur. Saya ditanya Kyai yang sudah sakit sudah sepuh, Gus, saya tanya anda, anda jawab sayapun sami’na wa atho’na. Saya ini Kyai, hiburannya merokok di sudut mushola ketika malam. Punya kelompok merokok di pojok mushola. Kalau sudah habis ya sudah digores-gores di tembok, gak pakai asbak, ya alasannya begitu. Saya ini Kyai gus, pacaran gak pantes, nonton bioskop juga gak pantes. Hiburan saya ya kelompok rokok di pojok mushola. Kalau itu haram juga ya tidak punya hiburan. Masak anda masih mengharamkan. Ini tanya tapi menggiring. Aku pun bilang, ya sudah untuk anda tidak haram”. Tegas Gus Baha. Baca Juga Profil Gus Baha (Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkap)video

Ngaji Gus Baha: Saat Gus Baha Diminta Fatwa Hukum Rokok Oleh Kiai Sepuh

kalamulama.com- Ngaji Gus Baha: Nasihat Suami Istri dan Hukum Halal Haram Rokok Gus Baha dalam setiap kajiannya selalu menampilkan kisah-kisah yang menarik dan lucu. Cerita...
kedekatan Mbah moen

CERITA KEDEKATAN MBAH MOEN DAN GUS BAHA

kalamulama.com - Beberapa tahun lalu, di sebuah pengajian kitab yang terbuka untuk umum, almarhum Mbah Moen Zubair ketika memberi pengantar tentang kealiman para tokoh...
KalamUlama.com - 12 April 2019 - Ngaji Gus Baha Kitab Al Qowaid Al Asasiyah fi Ulumil Qur'an Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim Ajak Sebanyaknya Sahabatmu untuk gabung, klik : Web : www.kalamulama.com Fanspage : @kalamulamaku Instagram : @kalamulamaku Twitter : @kalamulamaku Line ID : @eyd0088j Telegram : @kalamulamaku Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!! #GusBaha #GusBahaTerbaru #KajianTafsirJalalain #KajianHakimvideo

Ngaji Gus Baha Kitab Al Qowaid AlAsasiyah fi Ulumil Qur’an – 12 April 2019

KalamUlama.com - 12 April 2019 - Ngaji Gus Baha Kitab Al Qowaid Al Asasiyah fi Ulumil Qur'an. Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang...
Kitab Syajarah al-Ma'arifvideo

Kitab Syajarah al-Ma’arif – Ngaji Gus Baha April 2019

KalamUlama.com - Ngaji Gus Baha' Menjelasan Kitab Syajarah al-Ma'arif  *) Sebelum ngaji di Masjid Bayt Al-Qur'an rabu lalu, gus Baha’ sedikit menjelaskan tentang kitab Syajarah al-Ma’arif,...
Wahabi Sering Salahvideo

Gus Baha : Wahabi Sering Salah dalam Memahami Makna Al-Qur’an

Gus Baha : Wahabi Sering Salah dalam Memahami Makna Al-QUr'an Memasuki hari lahir ke-93 NU tahun 2019 ini saya senang bukan kepalang. Sajian pengajian online...
Kalam Ulama - Gus Baha : Cara Mandi Besar dan Memandikan Mayit (27 Januari 2018) - Memasuki hari lahir ke-93 NU tahun 2019 ini saya senang bukan kepalang. Sajian pengajian online dari para kiai pesantren semakin banyak dan bervariasi. Ada yang serius seperti Gus Ulil Abshar Abdalla yang mengampu Ihya Ulumuddin, ada yang penuh cerita seperti Gus Muwafiq, dan ada bintang baru yang langsung merebut perhatian publik, Gus Baha. Bagi santri yang suka keluyuran, tentu senang dengan kajian Gus Baha soal pentingnya keluyuran. Ia mengutip ayat-ayat Alquran yang menjelaskan tentang pentingnya perjalanan, sambil mencontohkan pengalaman Muhammad saat berusia 9 atau 12 tahun dibawa bepergian oleh pamannya Abu Thalib. Dalam perjalanan itulah Muhammad bersua pendeta Bakhira yang menunjukkan tanda-tanda kenabiannya. Akibat dari perjalanan inilah berita telah munculnya Nabi terakhir tersebar luas. Menurut Gus Baha, oleh karena itu keluyuran sangat penting agar menambah wawasan dan pengalaman, jangan berdiam diri saja sambil berharap tiba-tiba bisa jadi wali. Beruntung saya mengerti bahasa Jawa, jadi dengan mudah dapat mencerna petikan-petikan kajian Gus Baha yang disajikan antara lain oleh admin Santri Gayeng. Pilihan judul dari setiap bahasan cukup menarik dan lucu. Misalnya: Dasar orang saleh amatiran; Kalau salat itu jangan kelamaan, bisa merusak Islam; Tidak dimintai pertimbangan, kok ikut campur urusan Allah?; Imam Syafi’i pernah pro-miskin, sampai akhirnya trauma kemiskinan; Runtuhlah teori Wahabi soal bid’ah …, dan lain-lain. Gus Baha’ atau KH. Baha’uddin Nursalim adalah alumni pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Seorang santri kesayangan Hadratus Syaikh Maimoen Zubair. Tak kurang dari mufassir sekalibar Prof. Quraish Syihab, memuji kecerdasan Gus Baha. Menurut ayahanda Najwa Shihab itu, Gus Baha adalah sosok langka karena menguasai tafsir sekaligus fikih. Selesai mengahafal Alquran beserta qiroahnya kepada ayahanda Kiai Nursalim di Kragan, Rembang, Baha kemudian melanjutkan pengajiannya di pesantren Mbah Moen. Di bawah asuhan Mbah Moen, Gus Baha menghafal berbagai kitab klasik, mulai dari Fathul Mu’in (fiqih), Shahih Muslim lengkap beserta matan dan sanadnya (hadis), dan kitab-kitab lain. Sudah barang tentu kitab tata bahasa Arab seperti Imrithi dan Alfiyah, tandas dihafalnya. Sekalipun hanya mengaji di pesantren asuhan ayahnya dan Mbah Moen, kepakaran Gus Baha mulai meramaikan jagat intelektual Islam Indonesia. Ia masuk dalam jajaran Dewan Tafsir Nasional, Ketua Tim Lajnah Mushaf UII, Penasehat BAZNAS, dan lain-lain. Konon, ia pernah ditawari untuk menerima gelar doktor honoris causa dari UII, tapi ia menolaknya. Gus Baha adalah produk pesantren Indonesia, dengan kealiman yang pilih tanding. Penampilannya yang sederhana, justru menunjukkan kepercayaan dirinya yang kuat. Tak ad serban yang menjuntai ataupun jubah. Bahkan, cara memakai pecinya yang agak semerawut, seperti santri yang sedang leyeh-leyeh di serambi asrama. Kemewahannya adalah saat mengutip beragam riferensi kitab-kitab klasik. Bahasanya yang sederhana dan lugas, mudah dicerna oleh pendengar dan pemirsa. Dengan jernih ia membongkar trik-trik ulama Wahabi dalam mendiskreditkan ulama-ulama Sunny dengan logika yang menjebak, misalnya soal bid’ah yang membandingkan antara Imam Syafi’i dengan Nabi Muhammad. “Mau ikut Nabi atau Imam Syafi’i?” Begitulah pertanyaan diajukan sehingga orang yang awam akan mudah terkecoh. Padahal persoalan yang disajikan tidak sesederhana itu. Menurutnya, banyak hal yang tidak diamalkan dan diajarkan langsung oleh Nabi, tetapi dilakukan oleh para sahabat, dan Nabi Muhammad membenarkan amaliah mereka itu. Dengan demikian, soal bidah ini tidak sederhana sehingga Imam Syafi’i kemudian membaginya dalam dua kategori: yang baik dan yang buruk. Gus Baha juga membahas soal tuduhan kafir kepada warga Nahdliyin yang tahlilan. Ia menunjukkan kesesatan berpikir dalam tuduhan yang ngawur ini. “Orang yang 80 tahun kafir, lalu mengucap ‘laa ilaaha illallah’ makai ia menjadi mukmin. Lah kita yang selalu membaca ‘la ilaaha illallah’ dalam tahlilan, kok dicap kafir? Ini mazhab yang aneh!” ujarnya lugas. Yang menyenangkan, kedalaman ilmunya itu dibarengi dengan sikap tawaduknya yang dalam. Sekalipun ia bisa menguliti kesalahan pendapat yang menyerang NU, tak pernah ia menyerang seseorang atau menyinggung pribadi seseorang di majlis pengajiannya. Menyaksikan pengajian daring Gus Baha mengingatkan saya pada dokumen majalah Al-Mawaidz yang diterbitkan oleh NU Tasikmalaya di awal tahun 1930-an. Dalam propaganda NU waktu itu, selalu dijelaskan, mengapa organisasi ini dinamakan nahdlatul ulama, bukan nahdlatul muslimin, karena yang bangkit adalah para ulama atau elitnya. Tak heran jika saat itu menjadi anggota NU tidak sembarangan, ada serangkaian test dan kewajiban membayar iuran bulanan. Ringkasnya, NU memang organisasinya orang alim, sesuai namanya. Dan pesantren sebagai fondasi NU, terus menghasilkan ulama yang akan menjadi pengelolanya. Gus Baha adalah bukti bahwa pesantren-pesantren NU terus produktif menghasilkan ulama. Kajiannya yang bernas, menambah rasa optimisme bahwa NU akan terus berkembang dan memandu Islam di Nusantara dan dunia. Pesantren NU tak akan pernah kekurangan orang alim. Tugas para aktivis media di lingkungan NU adalah bagaimana memberi panggung kepada para ulama ini. Agar umat Islam tidak terus menerus terkecoh oleh ulama karbitan yang “serba bisa” menjawab seluruh masalah keagamaan jamaahnya. Walhasil, sependek amatan saya ikut “mengaji” daring bersama Gus Baha, dapatlah disimpulkan, santri NU, apalagi pengurus NU, kalau berhadapan dengan Wahabi atau HTI yang menganggu, jangan sampai kalah debat. Kalau kalah, solusinya hanya satu: ngaji lagi. Wallahu a’lam. Sumber : alif.id Penulis : Iip D Yahyavideo

Gus Baha : Cara Mandi Besar dan Memandikan Mayit (27 Januari 2018)

Kalam Ulama - Gus Baha : Cara Mandi Besar dan Memandikan Mayit (27 Januari 2018) - Memasuki hari lahir ke-93 NU tahun 2019 ini saya...
Hukum Thawafnya Perempuan Haidlvideo

Hukum Thawafnya Perempuan Haidl : Kajian Gus Baha Nashoihul Ibad

Kalam Ulama - Gus Baha' : Hukum Thawafnya Perempuan Haidl - Memasuki hari lahir ke-93 NU tahun 2019 ini saya senang bukan kepalang. Sajian...