Home Video

Video

kalamulama.com- Tangisan Gus Baha di Hadapan KH. Masbuhin Faqih Air mata Gus Baha pecah saat berpamitan dengan KH. Masbuhin Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Gresik, usai memberi kuliah umum di hadapan para

Tangisan Gus Baha di Hadapan KH. Masbuhin Faqih

kalamulama.com- Tangisan Gus Baha di Hadapan KH. Masbuhin Faqih Air mata Gus Baha pecah saat berpamitan dengan KH. Masbuhin Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin...
KalamUlama.com - Habib Ali Al-Jufri akhirnya menanggapi polemik yang menimpa Gus Muwafiq. Hal ini dituturkan saat salah seorang yang hadir menanyakannya pada Habib Ali Al-Jufri dalam pertemuan diskusi terbatas di Otista Jakarta Timur, Sabtu 7 Desember 2019. Berikut jawaban Habib Ali Al-Jufri:video

Habib Ali Al-Jufri: Kalau Sudah Minta Maaf (Gus Muwafiq), Kita Mau Apa Lagi?

KalamUlama.com - Habib Ali Al-Jufri akhirnya menanggapi polemik yang menimpa Gus Muwafiq. Hal ini dituturkan saat salah seorang yang hadir menanyakannya pada Habib Ali...
KALAMULAMA.COM- NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM. Gus Baha dalam ceramahnya selalu mengisahkan cerita-cerita yang mempunyai nilai hikmah yang sangat luar biasa bagi pendengarnya. Dalam suatu ngajinya, Gus Baha menceritakan kisah seorang santri nakal yang menginginkan seorang putri dari seorang syekh yang alim. Syekh Alim tersebut mempunyai seorang putri yang mempunyai wajah cantik dan menjadi dambaan terutama dikalangan santri. “Saya punya cerita lucu dunia wali. Jadi di dunia wali yang sanad-sanad saya sampai Rasulullah itu, dulu di mekah ada namanya wali dzambil, ya wali rada jadzab. Itu pada periode yang mengarang i'anah, pokoknya periode-periode itu, kira-kira dari saya empat guru. Ada seorang alim alamah populer punya anak cantik. Dulu santri juga nakal, pokoknya kalau ada anaknya orang alim berparas cantik itu jadi dambaan. Karena pikirannya ketika jadi menantu kyai langsung jadi kyai melejit, nasabnya cangkokan kan beres. Daripada membangun nasab sendiri kan repot. Cangkokan, anaknya dipanggil gus dipanggil ning kan damai, daripada berkarir sendiri bergulat kan panjang (perjuangannya)”. Santri nakal tersebut menginginkan bertemu dengan anak syekh alim tersebut. Dia memikirkan cara untuk bisa masuk ke rumah syekh alim tersebut dan bertemu dengan anaknya. Seperti diketahui Tradisi di Mekah dalam bertamu ke rumah orang lain itu tidak semudah di Jawa. Misalnya kalau di Jawa seseorang ingin meminjam palu atau sabit itu tidak susah seperti di Makkah. Pada waktu itu, satu-satunya cara supaya bisa masuk dapur, salah satunya yaitu menjadi tukang air. Akhirnya santri tadi menjadi tukang air. Karena pada waktu itu belum ada PDAM. Akhirnya dia setiap hari mengantarkan air ke rumah Syekh alim tersebut sampai ke kamar mandinya. “Tambah-tambah ya jualan air, tukang air itukan kelasnya ekstrim betul, sampai di antarkan ke dalam kamar mandi. Tempat paling rawan orang buka aurat. Melihat ning saat tidak berjilbab, mungkin juga melihat pas hanya pakai handuk.  Pokoknya santri yang ini nakal. Air yang dijual murah. Syech nya pun senang karena harga airnya murah. Airnya murah, khusus untuk dia, karena jualnya juga hanya ke syech itu saja. Karena tidak ada kepentingan di tempat lain. Kepentingan dia hanya masuk rumah tadi”. Melihat tingkah santri tersebut, Lama kelamaan Syech tersebut paham maksud santri tersebut menjadi tukang air. Akan tetapi, pahamnya Syekh tersebut entah karena sebab seorang wali atau karena tingkah laku dari seorang santri tadi yang tidak beres, dikarenakan santri tersebut hanya menjual air ke rumah syekh alim tersebut. Akhirnya syekh alim tersebut mengetahui motif santri tersebut hanya untuk bisa masuk ke rumahnya dan melihat anaknya. “Lama-lama (santri tadi) ditanya, nak kalau kamu ingin jadi menantu saya itu mudah. Tidak perlu sampai kamu berjualan air.  Wali kan, syechnya wali (sehingga bisa tau)   Caranya gimana mbah? Kamu sholat di masjidil haram 40 hari shof awal, tidak boleh bolong. Pada hari ke 40, laporan ke saya, langsung saya nikahkan. Betulan ini. Oke Sholat mulai hari Ahad ditandai, start shof awal 40 hari tanpa bolong. Itu ya orang mekah. Bisa ditiru ya, jangan sampai bolong. Asik... Sholat pertama ya demi perempuan. Sholat kedua masih demi menjadi menantu kyai, pokoknya ketiga sampai berhari-hari (niat demi perempuan). Hari kesepuluh sudah sadar, sudah mulai menikmati sholat berjamaah”. “Alhasil hari kesepuluh duapuluh mulai membaik. Pas hari keempatpuluh lupa, tetap sholat (berjamaah). Didatangi sama si Syech, digandeng, diajak pulang.  Ayo pulang nak. Lho, mau apa syech?. Ya pulang, kawin, kan ini hari ke empat puluh, jadi waktunya kamu saya akadkan dengan anakku.  Syech menghina saya ya, masak sholat ditukar sama anakmu. Marah dia, dia tersinggung. Jamaah 40 hari itu syech, imbalannya itu bebas dari neraka”.  Alhasil setelah bertemu kyainya tadi, sang santri marah. Anda ngejek orang mbah, sholat kok ditukar sama anaknya, ya gak mau lah. Balasannya sholat 40 hari itu terbebas dari neraka. Jadi ya tidak cukup ditukar anak anda. Lah terus gimana nak. Ya gak jadi. Ngejek orang itu. Setelah pulang, si syech yang gentian memohon. Beneran nak, saya minta, kamu harus mau jadi menantuku. Aku pengen punya menantu yang ikhlas. Sekarang kebalik, Yaudah kalo gitu. Akhirnya Syekh alim tersebut mendapatkan menantu yang ikhlas. Santri tersebut juga tetap mendapat barokahnya ikhlas. Tegas Gus baha. Dari kisah ini Gus Baha mengajarkan kepada para pencintanya, bahwa seseorang dalam beribadah harus berusaha menjalankannya dengan ikhlas. Walaupun dalam melakukan ibadah pada awalnya mengharapkan sesuatu. Akan tetapi apabila ibadah tersebut dilakukan dengan istiqamah lama-lama ibadah yang dilakukan seseorang tersebut bisa ikhlas sendiri. Gus Baha  juga mengisahkan imam ghozali masuk mondok itu pada awalnya hanya berniat untuk mencari makan, bukan untuk mencari ilmu. Karena pada waktu itu Ghozali kecil hidup dalam keadaan miskin, dan yatim. Pada waktu harta bapaknya habis, paman dan teman-teman bapaknya ini memasukkan Ghazali kecil ke sebuah yayasan pendidikan. Karena pada waktu itu, satu-satunya cara supaya mendapatkan makan gratis yaitu dengan masuk yayasan. Akhirnya  beliau dipondokkan dan lama-lama beliau menjadi ikhlas dalam menuntut ilmu. Alhasil, betapa barokahnya ikhlas dan ikhlas itu bisa dilatih. Gus Baha juga mengisahkan Mbah Maksum Lasem, beliau pernah menjadi bahan ejekan di antara kyai. “Ada kyai kan suka baca wirid, tapi saya tidak. Tapi ya ingat Pengeran, tidak baca wirid bukan berarti tidak ingat Pengeran. Gaya sekali kamu Sum. Kalau selesai sholat baca wirid lama. Karena santri kamu banyak kan, kamu malu kan kalo langsung pergi. Itu sesama kyai lho ya ejek-ejekannya. Kalo aku sih terang saja, daripada demi santri ya mending tidak baca wirid, mengingat Pengeran dimanapun. Terus mbah Maksum menjawab. Iya aku pertama baca wirid ya demi santri, santri banyak kok gak baca wirid. Tapi lama-lama ya lupa, kalo sudah lupa ya ikhlas. Masyhur juga ini (cerita) mbah Maksum. Jadi yang penting pertama baca wirid demi santri, masak mengimami santri sebegitu banyak setelah salam kabur. Ya tidambah baca wirid lah. Lama-lama nanti lupa, nah pas lupa itu sudah ikhlas. Ucap mbah Maksum”. Jadi banyak orang mendapat motivasi beribadah pertama itu tidak ikhlas. Akan tetapi, karena  dilatih terus menerus lama-kelamaan akan timbul rasa ikhlas. Seperti halnya santri tadi, dia pertama melakukan sholat berjamah demi perempuan. Lama-lama santri tersebut menikmati shalat berjamaah tersebut bahkan sampai tersinggung ketika akan ditukar dengan perempuan. “Ngejek orang mbah, sholat kok ditukar perempuan”. “Paham ya, jadi pertama berdakwah mungkin melihat, menjadi mubaligh hasilnya banyak, ya boleh. Nanti kalau saatnya ikhlas kan tidak mau. Lama-lama gak laku lagi. Nah itu ikhlas betulan, nanti sudah ikhlas diangkat Pengeran laku lagi. Pas itulah sudah ikhlas. Jadi ikhlas itu ada prosesnya. Kembali ke kisah, kalau di mekah, masuk rumah orang itu harus ijin, nah ijinnya susah, santri tadi berpikir. Kalau bertamu saja kan gak melihat (perempuan). Akhirnya jual air, berhasil dia. Hebat betul bocah tadi ya, jadi jualan air, jamaah 40 hari bebas dari neraka, barokahnya ikhlas dapat anaknya kyai. Hebat betul, tapi yang bisa mengalami itu siapa, gak tau”. Baca Juga Profil Gus Baha : Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkapvideo

NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM

KALAMULAMA.COM- NGAJI GUS BAHA: KISAH SANTRI NAKAL MENDAPAT ANAK SEORANG SYEKH ALIM. Gus Baha dalam ceramahnya selalu mengisahkan cerita-cerita yang mempunyai nilai hikmah yang...
video

Ngaji Gus Baha : Kebanyakan Orang Ingin Menang Sendiri

KalamUlama.com –  Ngaji Gus Baha : Kebanyakan Orang Ingin Menang Sendiri. Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia...
Kalam Ulama - Gus Baha : Cara Mandi Besar dan Memandikan Mayit (27 Januari 2018) - Memasuki hari lahir ke-93 NU tahun 2019 ini saya senang bukan kepalang. Sajian pengajian online dari para kiai pesantren semakin banyak dan bervariasi. Ada yang serius seperti Gus Ulil Abshar Abdalla yang mengampu Ihya Ulumuddin, ada yang penuh cerita seperti Gus Muwafiq, dan ada bintang baru yang langsung merebut perhatian publik, Gus Baha. Bagi santri yang suka keluyuran, tentu senang dengan kajian Gus Baha soal pentingnya keluyuran. Ia mengutip ayat-ayat Alquran yang menjelaskan tentang pentingnya perjalanan, sambil mencontohkan pengalaman Muhammad saat berusia 9 atau 12 tahun dibawa bepergian oleh pamannya Abu Thalib. Dalam perjalanan itulah Muhammad bersua pendeta Bakhira yang menunjukkan tanda-tanda kenabiannya. Akibat dari perjalanan inilah berita telah munculnya Nabi terakhir tersebar luas. Menurut Gus Baha, oleh karena itu keluyuran sangat penting agar menambah wawasan dan pengalaman, jangan berdiam diri saja sambil berharap tiba-tiba bisa jadi wali. Beruntung saya mengerti bahasa Jawa, jadi dengan mudah dapat mencerna petikan-petikan kajian Gus Baha yang disajikan antara lain oleh admin Santri Gayeng. Pilihan judul dari setiap bahasan cukup menarik dan lucu. Misalnya: Dasar orang saleh amatiran; Kalau salat itu jangan kelamaan, bisa merusak Islam; Tidak dimintai pertimbangan, kok ikut campur urusan Allah?; Imam Syafi’i pernah pro-miskin, sampai akhirnya trauma kemiskinan; Runtuhlah teori Wahabi soal bid’ah …, dan lain-lain. Gus Baha’ atau KH. Baha’uddin Nursalim adalah alumni pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Seorang santri kesayangan Hadratus Syaikh Maimoen Zubair. Tak kurang dari mufassir sekalibar Prof. Quraish Syihab, memuji kecerdasan Gus Baha. Menurut ayahanda Najwa Shihab itu, Gus Baha adalah sosok langka karena menguasai tafsir sekaligus fikih. Selesai mengahafal Alquran beserta qiroahnya kepada ayahanda Kiai Nursalim di Kragan, Rembang, Baha kemudian melanjutkan pengajiannya di pesantren Mbah Moen. Di bawah asuhan Mbah Moen, Gus Baha menghafal berbagai kitab klasik, mulai dari Fathul Mu’in (fiqih), Shahih Muslim lengkap beserta matan dan sanadnya (hadis), dan kitab-kitab lain. Sudah barang tentu kitab tata bahasa Arab seperti Imrithi dan Alfiyah, tandas dihafalnya. Sekalipun hanya mengaji di pesantren asuhan ayahnya dan Mbah Moen, kepakaran Gus Baha mulai meramaikan jagat intelektual Islam Indonesia. Ia masuk dalam jajaran Dewan Tafsir Nasional, Ketua Tim Lajnah Mushaf UII, Penasehat BAZNAS, dan lain-lain. Konon, ia pernah ditawari untuk menerima gelar doktor honoris causa dari UII, tapi ia menolaknya. Gus Baha adalah produk pesantren Indonesia, dengan kealiman yang pilih tanding. Penampilannya yang sederhana, justru menunjukkan kepercayaan dirinya yang kuat. Tak ad serban yang menjuntai ataupun jubah. Bahkan, cara memakai pecinya yang agak semerawut, seperti santri yang sedang leyeh-leyeh di serambi asrama. Kemewahannya adalah saat mengutip beragam riferensi kitab-kitab klasik. Bahasanya yang sederhana dan lugas, mudah dicerna oleh pendengar dan pemirsa. Dengan jernih ia membongkar trik-trik ulama Wahabi dalam mendiskreditkan ulama-ulama Sunny dengan logika yang menjebak, misalnya soal bid’ah yang membandingkan antara Imam Syafi’i dengan Nabi Muhammad. “Mau ikut Nabi atau Imam Syafi’i?” Begitulah pertanyaan diajukan sehingga orang yang awam akan mudah terkecoh. Padahal persoalan yang disajikan tidak sesederhana itu. Menurutnya, banyak hal yang tidak diamalkan dan diajarkan langsung oleh Nabi, tetapi dilakukan oleh para sahabat, dan Nabi Muhammad membenarkan amaliah mereka itu. Dengan demikian, soal bidah ini tidak sederhana sehingga Imam Syafi’i kemudian membaginya dalam dua kategori: yang baik dan yang buruk. Gus Baha juga membahas soal tuduhan kafir kepada warga Nahdliyin yang tahlilan. Ia menunjukkan kesesatan berpikir dalam tuduhan yang ngawur ini. “Orang yang 80 tahun kafir, lalu mengucap ‘laa ilaaha illallah’ makai ia menjadi mukmin. Lah kita yang selalu membaca ‘la ilaaha illallah’ dalam tahlilan, kok dicap kafir? Ini mazhab yang aneh!” ujarnya lugas. Yang menyenangkan, kedalaman ilmunya itu dibarengi dengan sikap tawaduknya yang dalam. Sekalipun ia bisa menguliti kesalahan pendapat yang menyerang NU, tak pernah ia menyerang seseorang atau menyinggung pribadi seseorang di majlis pengajiannya. Menyaksikan pengajian daring Gus Baha mengingatkan saya pada dokumen majalah Al-Mawaidz yang diterbitkan oleh NU Tasikmalaya di awal tahun 1930-an. Dalam propaganda NU waktu itu, selalu dijelaskan, mengapa organisasi ini dinamakan nahdlatul ulama, bukan nahdlatul muslimin, karena yang bangkit adalah para ulama atau elitnya. Tak heran jika saat itu menjadi anggota NU tidak sembarangan, ada serangkaian test dan kewajiban membayar iuran bulanan. Ringkasnya, NU memang organisasinya orang alim, sesuai namanya. Dan pesantren sebagai fondasi NU, terus menghasilkan ulama yang akan menjadi pengelolanya. Gus Baha adalah bukti bahwa pesantren-pesantren NU terus produktif menghasilkan ulama. Kajiannya yang bernas, menambah rasa optimisme bahwa NU akan terus berkembang dan memandu Islam di Nusantara dan dunia. Pesantren NU tak akan pernah kekurangan orang alim. Tugas para aktivis media di lingkungan NU adalah bagaimana memberi panggung kepada para ulama ini. Agar umat Islam tidak terus menerus terkecoh oleh ulama karbitan yang “serba bisa” menjawab seluruh masalah keagamaan jamaahnya. Walhasil, sependek amatan saya ikut “mengaji” daring bersama Gus Baha, dapatlah disimpulkan, santri NU, apalagi pengurus NU, kalau berhadapan dengan Wahabi atau HTI yang menganggu, jangan sampai kalah debat. Kalau kalah, solusinya hanya satu: ngaji lagi. Wallahu a’lam. Sumber : alif.id Penulis : Iip D Yahyavideo

Gus Baha : Cara Mandi Besar dan Memandikan Mayit (27 Januari 2018)

Kalam Ulama - Gus Baha : Cara Mandi Besar dan Memandikan Mayit (27 Januari 2018) - Memasuki hari lahir ke-93 NU tahun 2019 ini saya...
kalamulama.com- Kajian Kitab Ibanatul Ahkam #1: Wudhu Ditengah Krisis Air Minum Hukum Air Sedikit dan Air Banyak yang Terkena Najis. 1.عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ (ر) قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص)، فِي الْبَحْرِ: (هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ وَ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ) أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَ ابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ، وَ اللَّفْظُ لَهُ: وَ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَ التِّرْمِذِيُّ وَ رَوَاهُ مَالِكٌ وَ الشَّافِعِيُّ وَ أَحْمَدُ. Abu Hurairah r.a. berkata: Rasullah s.a.w. bersabda tentang air laut: “Airnya suci, bangkainya halal (dimakan).” (H.R. Empat Imām Ahli Hadits, dan Ibnu Abi Syaibah). Lafal hadits menurut riwayat Ibnu Abī Syaibah. Juga diriwatatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Tirmidzī, Mālik, Syāfi‘ī dan Aḥmad. Penjelasan Hadits Secara Umum Hadits ini merupakan pokok pembahasan bersuci, mengandung banyak hukum dan kaidah-kaidah yang penting. Kita ketahui bahwa didalam laut terdapat hewan yang kadang mati. Sedangkan bangkai adalah najis. Oleh karena itu, Rasulullah SAW. memberitahukan bahwa hukum bangkai laut berbeda dengan bangkai lain, agar orang-orang tidak beranggapan bahwa air laut bisa najis karena bangkai yang terdapat di dalamnya, dan bahwa bangkainya juga tidak najis. Hadits tersebut sebagai jawaban seorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah. Sesungguhnya kami mengarungi laut, kami tidak membawa air kecuali sedikit. Bila kami berwudhu’ dengannya, kami akan haus. Bolehkah kami berwudhu’ dengan air laut?” Rasulullah SAW. memberitahukan bahwa air laut adalah suci dan mensucikan (bisa digunakan wudhu’, mandi dan menghilangkan najis). Dalam jawaban tersebut, Rasul menambah suatu hukum yang tidak ditanyakan, padahal lebih berhak untuk ditanyakan karena hukumnya juga jarang dimengerti orang. Ingat bangkai ikan atau hewan laut adalah halal. Pelajaran yang dapat diambil dari Hadits Bagi seorang yang tidak mengerti dianjurkan bertanya kepada ulama. Boleh mengarungi laut sekalipun bukan untuk beribadah sebab penanya mengarungi laut hanya untuk mengail atau berburu ikan. Takut haus diperbolehkan tidak memakai air yang digunakan untuk minum bila hendak bersuci (wudhu’ atau lainnya). Sebab Rasūl telah memperbolehkan penanya untuk menyimpan air minumnya dan tidak usah berwudhu’ dengan air itu. Air laut adalah suci dan bisa dipakai wudhu’, mandi atau menghilangkan najis. Ikan tidak perlu disembelih. Sebab Rasūlullāh s.a.w. telah menghalalkan bangkainya. Begitu juga seluruh hewan air. Halal makan bangkai hewan laut, sekalipun binatang yang melata yang tidak bisa hidup kecuali di laut. Boleh menjawab lebih dari pertanyaan itu agar faedahnya lebih lengkap dan memberitahu ilmu yang tidak ditanyakanvideo

Kajian Kitab Ibanatul Ahkam #1: Wudhu Ditengah Krisis Air Minum

kalamulama.com- Kajian Kitab Ibanatul Ahkam #1: Wudhu Ditengah Krisis Air Minum عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ (ر) قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص)، فِي الْبَحْرِ: (هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ...
kalamulama.com- Pengajian Gus Baha Kitab Hayatush Shahabah 1 (عرضه عليه السلام الدعوة) . Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim Ajak Sebanyaknya Sahabatmu untuk gabung, klik : Web : www.kalamulama.com Fanspage : @kalamulamaku Instagram : @kalamulamaku Twitter : @kalamulamaku Line ID : @eyd0088j Telegram : @kalamulamaku Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!! #GusBaha #GusBahaTerbaru #KajianTafsirJalalain #KajianHakimvideo

Pengajian Gus Baha Kitab Hayatush Shahabah 1 (عرضه عليه السلام الدعوة)

kalamulama.com- Pengajian Gus Baha Kitab Hayatush Shahabah 1 (عرضه عليه السلام الدعوة). Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan...
KalamUlama.com - Hari ini saya menyaksikan Akhlak Rasulullah yang diturunkan kepada para pewaris ilmu dan adab, beliaulah Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri dan KH. Anwar Manshur, Pengasuh Ponpes Lirboyo.video

Akhlak Rasulullah – Momen Menyejukkan Habib Ali Jufri dan KH Anwar Manshur

KalamUlama.com - Hari ini saya menyaksikan Akhlak Rasulullah yang diturunkan kepada para pewaris ilmu dan adab, beliaulah Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman...
video

Qoshidah Ya Sayyidi Ya Rosulallah Khudz Biyadii

kalamulama.com- Qoshidah Ya Sayyidi Ya Rosulallah Khudz Biyadii, Syi’ir karya Sultan Abdul Hamid Khan bin Sultan Ahmad Khan يا سيدی يا رسول الله خذ بيدی Yâ...
Kitab Syajarah al-Ma'arifvideo

Kitab Syajarah al-Ma’arif – Ngaji Gus Baha April 2019

KalamUlama.com - Ngaji Gus Baha' Menjelasan Kitab Syajarah al-Ma'arif  *) Sebelum ngaji di Masjid Bayt Al-Qur'an rabu lalu, gus Baha’ sedikit menjelaskan tentang kitab Syajarah al-Ma’arif,...