Home Tanya Jawab Islam

Tanya Jawab Islam

KalamUlama.com - Tanya Jawab Islam : Lebih Utama Mana Sedekah Atau Haji-Umroh (Sunah) Berulang Kali? Saat ngaji bersama para "eksekutif muda" Supervisor Telkomsel ada yang bertanya lebih utama mana orang yang umroh berkali kali ataukah dananya dibuat untuk sedekah membantu orang miskin? Pilihan keduanya adalah antara baik dan lebih baik. Ketika "mana yang lebih baik", maka para ulama memberi perincian. Misalnya dalam madzhab Maliki disebutkan: ﻭاﻟﺤﺞ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ اﻟﺼﺪﻗﺔ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﻣﺠﺎﻋﺔ Haji lebih utama dari pada sedekah, kecuali di tahun kelaparan (Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah 6/290) Pendapat ini didasarkan pada peristiwa Abdullah bin Al Mubarak yang hendak akan berangkat haji namun di perjalanan ia menjumpai seorang wanita yang mengais makanan berupa bangkai burung di tempat sampah. Beliau katakan bahwa memberikan uang untuk orang tersebut lebih utama dari pada perjalanan haji ini. Kemudian beliau kembali dan haji pada tahun berikutnya (Al-Bidayah wa Al-Nihayah 10/178) Baca Juga :Keutamaan Bersedekah Menjadikan Harta Bertambah Berkah Dalam pandangan sebagian ulama Syafi'iyah ada pendapat yang mengisyaratkan bahwa orang shaleh yang kaya raya namun kurang memperhatikan kebutuhan orang-orang miskin dinilai sebagai "kekurangpekaan" terhadap sosial: ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻤﻦ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﻔﻘﺘﻪ اﻟﺰﻭﺟﺔ، ﻭاﻟﻘﺮﻳﺐ، ﻭاﻟﻤﻤﻠﻮﻙ اﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻟﺨﺪﻣﺘﻪ، ﻭﺃﻫﻞ اﻟﻀﺮﻭﺭاﺕ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻗﺎﺭﺑﻪ ﻟﻤﺎ ﺫﻛﺮﻭﻩ ﻓﻲ اﻟﺴﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺩﻓﻊ ﺿﺮﻭﺭاﺕ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﺈﻃﻌﺎﻡ ﺟﺎﺋﻊ، ﻭﻛﺴﻮﺓ ﻋﺎﺭ، ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻣﻠﻚ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺳﻨﺔ. ﻭﻗﺪ ﺃﻫﻤﻞ ﻫﺬا ﻏﺎﻟﺐ اﻟﻨﺎﺱ، ﺣﺘﻰ ﻣﻦ ﻳﻨﺘﻤﻲ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺡ "[Orang haji wajib memberikan bekal untuk keluarga yang ditinggalkannya saat ke tanah suci], yaitu meliputi keluarga yang wajib dinafkahi, istri, kerabat, budak yang menjadi pelayannya dan orang-orang Islam yang sangat membutuhkan meskipun bukan kerabatnya. Seperti yang telah disampaikan oleh para ulama dalam Bab Jihad bahwa menghilangkan beban hidup umat Islam seperti memberi makan, pakaian dan lainnya adalah wajib bagi orang kaya yang memiliki ,(dana) makanan lebih banyak dari 1 tahun. Hal ini kurang diperhatikan oleh kebanyakan orang termasuk orang yang dianggap shaleh" (Syekh Dimyathi Syatha, Ianat Ath-Thalibin 2/319). Demikian penjelasan keutamaan sedekah, haji, umroh. semoga bermanfaat Oleh : Ustadz Ma'ruf Khozin (Ketua ASWAJA CENTER PWNU Jawa Timur) Baca Juga : One Day One Hadits #6: Sedekah dari Harta Haram

Lebih Utama Mana Sedekah Atau Haji/Umroh (Sunah) Berulang Kali?

KalamUlama.com - Tanya Jawab Islam : Lebih Utama Mana Sedekah Atau Haji-Umroh (Sunah) Berulang Kali? Saat ngaji bersama para "eksekutif muda" Supervisor Telkomsel ada yang...
Kajian al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam (9) : Amal dan Buahnya. "Beragamnya jenis amal-amal (yang dilakukan oleh para salik) itu disebabkan turunnya beragam warid (anugerah ilahiyah) pada ahwal-ahwal (kondisi pengalaman spiritualitas para salik)." تَـنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ اْلأَعْمَالِ لِـتَـنَوُّعِ وَارِدَاتِ اْلأَحْوَالِ Maqalah diatas menjelaskan bahwa tiap amal yang dilakukan oleh para salik memiliki warid yaitu anugerah ilahiyah yang dirasakan sehingga para salik akan merasakan pengalaman ruhani secara nyata. (Baca juga: Kajian Al-Hikam (8) : Terbukanya Pintu Mengenal Allah) Jadi semua amalan-amalan yang dilakukan oleh para salik seperti dzikir dan riyadhah mujahadah pasti memiliki efek positif secara ruhani yang akan dirasakan oleh para pengamalnya, sehingga menjadi pengalaman ruhani yg nyata dirasakan oleh para salik. Namun demikian, dalam mengamalkan semua amalan niatnya harus semata2 karena Allah dan dilakukan secara istiqomah. Dengan demikian, para salik akan merasakan pengalaman spiritual yaitu warid ilahiyah sebagai buah atas keistiqomahan dan keikhlasan dalam amaliahnya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam berjalan menuju perjumpaan-Nya. Oleh : Dr. KH. Ali M Abdillah, MA

Hukum Membuka Aurat Saat Berwudlu, Bolehkah?

Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Hukum Membuka Aurat Saat Berwudlu, Bolehkah? Hukumnya adalah makruh, seperti yang disampaikan oleh Ulama Madzhab Malikiyah: اﻟﺮاﺑﻌﺔ: ﻟﻢ ﻳﺘﻌﺮﺽ ﻟﻤﻜﺮﻭﻫﺎﺗﻪ...
Kalam Ulama - Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana? Menghadap ke kiblat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﺑﻦ ﺣﺎﺭﺙ اﻟﺴﻠﻤﻲ، «ﺃﻧﻪ ﻏﺰا ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺛﻼﺙ ﻏﺰﻭاﺕ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﻟﻨﺎ: ﺇﺫا ﺩﻓﻨﺘﻤﻮﻧﻲ ﻭﺭﺷﺸﺘﻢ ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻱ اﻟﻤﺎء ﻓﻘﻮﻣﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻱ ﻭاﺳﺘﻘﺒﻠﻮا اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭاﺩﻋﻮا ﻟﻲ». Dari Hakam bin Harits As-Sulami bahwa ia berperang bersamaan dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebanyak 3x perang. Hakam berkata: "Jika kalian menguburku dan menyiram kuburku dengan air, maka berdirilah di atas kuburku, menghadaplah ke kiblat dan doakan untukku" ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ، ﻭﻓﻴﻪ ﻋﻄﻴﺔ اﻟﺪﻋﺎء، ﻭﻟﻢ ﺃﻋﺮﻓﻪ. Hadis riwayat Thabrani dalam Al-Kabir di dalamnya ada Athiyyah Dua', saya tidak tahu tentang dirinya (Majma' Az-Zawaid) .Berhadapan Dengan Wajah Mayit Imam Al-Ghazali berkata: ﻭاﻟﻤﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ ﺯﻳﺎﺭﺓ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﺃﻥ ﻳﻘﻒ ﻣﺴﺘﺪﺑﺮ اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻣﺴﺘﻘﺒﻼ ﺑﻮﺟﻬﻪ اﻟﻤﻴﺖ Dianjurkan saat ziarah kubur untuk berdiri membelakanginya kiblat seraya menghadapkan wajahnya ke arah mayit (Ihya' Ulumiddin, 4/491).

Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana?

Kalam Ulama - Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana? Menghadap ke kiblat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﺑﻦ ﺣﺎﺭﺙ اﻟﺴﻠﻤﻲ، «ﺃﻧﻪ ﻏﺰا ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ...
KAPAN SEORANG MUSAFIR BOLEH Sholat JAMAK DAN QASHAR?

Kapan Seorang Musafir Boleh Sholat Jamak dan Qashar?

Tidak boleh bagi seorang musafir melakukan sholat jamak atau qashar kecuali ia telah melewati tembok batas kota atau desa. Jika kota atau desa...
(Kalam ulama) - BAGAIMANA BATASAN BERTEMAN DENGAN NON-MUSLIM Pertanyaan: Assalamualaikum. Mau bertanya mengenai batasan berteman dengan non-islam. Bagaimana ya? (M Azizah – Bogor) Baca Juga : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim? Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Pada dasarnya berteman dengan non-muslim sama saja dengan berteman dengan muslim. Hanya ada hal-hal yang menjadi batasan tertentu karena perbedaan ajaran, namun batasan tersebut tidak boleh menjadi jurang pemisah dalam pertemanan. Batasan tersebut adalah: 1. Dalam aqidah: Tidak boleh mencela atau menjadikan bahan ejekan Tuhan orang lain. (QS. Al-An'am: 108) 2. Dalam fiqh: Tidak boleh menampakkan aurat kecuali yang dibolehkan. Menurut jumhur, batasan aurat wanita muslimah di depan wanita non-muslim adalah seluruh badan (tidak termasuk wajah dan telapak tangan) kecuali bagian-bagian yang memang lazim tampak saat melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Mazhab Imam Ahmad berbeda dalam masalah ini. Menurut beliau batasannya sama seperti aurat dihadapan lelaki mahram, yaitu antara pusar dan lutut. 3. Dalam tasawuf atau akhlak: Tidak menjadikan mereka tempat menyimpan rahasia atau orang yang memiliki pengaruh terhadap agama. (QS. Al-Maidah: 51) Demikian jawaban kami. Wallahu a'lam. Baca Juga : Siapakah Perempuan Terbaik ?

Bagaimana Hukum Mendoakan dan Berteman dengan Non Muslim?

(Kalam ulama) - Bagaimana Hukum Mendoakan dan Berteman dengan Non Muslim? Pertanyaan: Assalamualaikum Wr Wb Mau bertanya mengenai batasan berteman dengan non-islam. Bagaimana ya? Bagaimana hukum mendoakan...
Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Malam pertama bulan Rabiul Awal ini ada Ustadz Mushannif dari Simo Sidomulyo Surabaya, bertanya apakah Nabi menjawab salam dan shalawat kita? Alhamdulillah semua masalah ini sudah dijawab oleh Al Hafizh Al Haitsami dalam Majma' Az-Zawaid: 1. Nabi Menjawab Salam Dari Umatnya Jawaban salam dari Rasulullah ini dijelaskan dalam hadis sahih berikut: ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻲ ﺇﻻ ﺭﺩ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻲ ﺭﻭﺣﻲ ﺣﺘﻰ ﺃﺭﺩ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼﻡ» Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Tidak ada seorang pun yang membaca salam padaku kecuali Allah mengembalikan ruh kepadaku, hingga aku menjawab salamnya (HR Abu Dawud dan Baihaqi). (Baca Juga Tanya Jawab Kajian Islam : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim?) Apakah ini hanya berlaku jika menziarahi makam Nabi saja? Tentu tidak, seperti dalam hadis berikut: ﻋﻦ علي ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ: " «ﺈﻥ ﺗﺴﻠﻴﻤﻜﻢ ﻳﺒﻠﻐﻨﻲ ﺃﻳﻨﻤﺎ ﻛﻨﺖ» ". ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ، ﻭﻓﻴﻪ ﺣﻔﺺ ﺑﻦ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ اﻟﺠﻌﻔﺮﻱ، ﺫﻛﺮﻩ اﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ، ﻭﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ ﻓﻴﻪ ﺟﺮﺣﺎ، ﻭﺑﻘﻴﺔ ﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ. Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sungguh salam kalian sampai padaku, dimana pun kau berada (HR Abu Ya'la, di dalamnya ada Hafsh bin Ibrahim Al Ja'fari, Ibnu Abi Hatim tidak memberi penilaian. Perawi lainnya terpercaya) 2. Nabi Menjawab Doa Shalawat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ: ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ: " «ﺣﻴﺜﻤﺎ ﻛﻨﺘﻢ ﻓﺼﻠﻮا ﻋﻠﻲ ; ﻓﺈﻥ ﺻﻼﺗﻜﻢ ﺗﺒﻠﻐﻨﻲ» ". ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭاﻷﻭﺳﻂ، ﻭﻓﻴﻪ ﺣﻤﻴﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺯﻳﻨﺐ ﻭﻟﻢ ﺃﻋﺮﻓﻪ، ﻭﺑﻘﻴﺔ ﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ. Dari Hasan bin Ali bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Dimana pun kalian berada bacalah Shalawat kepadaku. Sebab Shalawat kalian dihaturkan kepada ku (HR Thabrani, di dalamnya ada Humaid bin Abi Zainab, saya [Al Haitsami] tidak mengetahuinya. Perawi yang lain adalah perawi hadis sahih) ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " «ﻣﻦ ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻲ ﺻﻼﺓ ﺻﻠﻴﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﺸﺮا» ". ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻷﻭﺳﻂ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ. Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa membaca shalawat 1x untuk ku, maka aku doakan Rahmat 10x untuknya (HR Thabrani, para perawinya terpercaya) Oleh : Ustadz Ma'ruf Khozin

Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya?

Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Malam pertama bulan Rabiul Awal ini ada Ustadz Mushannif dari Simo Sidomulyo Surabaya, bertanya apakah Nabi menjawab salam dan...
Kalam Ulama - Tabayyun Hasil Munas 2019, Status Non Muslim? Rancangan jawaban Munas ini masih dalam penyusunan redaksi oleh Tim LBM diantaranya adalah Ust. Taha Ahmadmun. Namun karena sudah terlanjur menjadi berita yang ditafsirkan sesuai nafsu kebencian kepada NU, maka perlu saya jelaskan beberapa poin yang dimaksud. Terminologi dalam kitab fikih kita ada Darul Islam dan Darul Kuffar. Sementara warga negara yang terdapat dalam Darul Islam ada beberapa sebutan: 1. Kafir harbi, yaitu orang yang memerangi umat Islam dan (karena itu) boleh diperangi. 2. Kafir dzimmi, yakni orang yang membayar jizyah untuk mendapatkan perlindungan. Mereka tidak boleh diperangi. 3. Kafir mu'ahad, yaitu orang yang melakukan perjanjian damai dalam beberapa tahun. Mereka juga tidak boleh diperangi. 4. Kafir musta'min, yakni orang yang meminta perlindungan. Mereka tidak boleh diperangi. Yang dimaksud keputusan Munas NU bahwa nonmuslim di Indonesia tidak ada yang memenuhi kriteria tersebut, sehingga disebut warga negara dalam nation-state atau negara-bangsa.  (Konfirmasi ini saya dapatkan dari KH Asyhari Ketua LBM PWNU Jatim). Penyebutan nonmuslim untuk warga negara yang tidak beragama Islam di Indonesia sama sekali tidak ada hubungan dengan istilah kafir i'tiqad atau kufur nikmat dll, apalagi sampai mengingkari adanya kalimat "kafir" di dalam Al-Qur'an atau mengubah Surat Al-Kafirun menjadi Surat "Non Muslimin". Wal iyadzu Billah. (Dari Kiai Ma'ruf Khozin, Direktur Awaja NU Centre, salah seorang peserta Munas Alim Ulama dan Konbes NU) Untuk menyikapi pemberitaan yang sudah menggelinding dimasyarakat terkait hasil Munas tersebut, menurut KH Afifuddin Muhajir perluanya melakukan tabayyun karena perlu diketahui bahwa persoalan serumit ini tidak mungkin dipahami oleh orang yang pengetahuan agamanya rendah. orang yang sudah mengaji bertahun-tahun pun akan masih susah memahami pesoalan ini.

Tabayyun Hasil Munas 2019, Bahtsul Masail Status Non Muslim?

Kalam Ulama - Tabayyun Hasil Munas 2019, Status Non Muslim? Rancangan jawaban Munas ini masih dalam penyusunan redaksi oleh Tim LBM diantaranya adalah Ust. Taha...
Kalam Ulama. HUKUM PUJIAN SETELAH ADZAN Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum puji-pujian setelah adzan? Terima kasih. Jawaban: Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Puji-pujian disebut puji-pujian karena dua hal. Pertama, karena berisi tsana' (pujian) kepada Allah. Kedua, karena berisi selawat, salam, dan pujian kepada Rasulullah SAW. Sampai di sini hukum keduanya adalah sunah. Hanya saja jika memilih untuk dilaksanakan selepas azan secara rutin maka hukumnya menjadi dua. Jika diiktikadi bagian dari azan, yang mana azan tidak sempurna tanpanya, maka hukumnya haram. Sebab merupakan tambahan dalam hal-hal ubudiyah tanpa dalil. Namun, jika memilih untuk dilaksanakan setelah azan tanpa iktikad bagian azan maka hukumnya mubah. Kebiasan pujian tidak hanya ada di Indonesia, bahkan juga di Maroko. Shahibul Jalalah Amirul Mukminin Raja Muhammad VI ibn Jalalah Al-Marhum Al-Maghfurlah Hasan II Al-Alawi Al-Hasani memberi izin untuk masjid-masjid dan zawiyah-zawiyah untuk mengumandangkan tahlil dan tsana' selepas azan. Sependek pengetahuan saya, kebiasaan ini pertama kali muncul di zaman Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dengan tujuan menyeru dan mengingatkan untuk memperbanyak tahlil serta menghidupkan sunah selawat selepas azan. Berdasarkan hadis riwayat Muslim dalam shahih beliau: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ حَيْوَةَ وَسَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ وَغَيْرِهِمَا عَنْ كَعْبِ بْنِ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah Al-Muradi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahab dari Haiwah dan Sa'id bin Abi Ayyub serta selain keduanya, dari Ka'ab bin Alqamah dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda: "Apabila kalian mendengar mu'adzdzin maka ucapkanlah seperti yang di ucapkan mu'adzin, kemudian bershalawatlah untukku, karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap aku hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa'at halal untuknya." Para ulama telah berfatwa memgenai kebolehan hal ini, bahkan di antara mereka ada yang menyetakan kesunahan, di antaranya Al-Hafidz As-Sakhawi, Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari, Ibnu Hajar, dan lain-lain. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz Abdullah ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Hasani dalam Al-Hawi. Sebagai kesimpulan, hukum puji-pujian adalah sunah. Pelaksananya mendapat pahala. Memilih waktu melakukan puji-pujian selepas azan tanpa beriktikad bagian dari azan hukumnya mubah. Demikian, wallahu a'lam. Maroko, 7 Januari 2019 Adhli Al-Qarni

Bagaimana Hukum Pujian Setelah Adzan?

Kalam Ulama. HUKUM PUJIAN SETELAH ADZAN Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum puji-pujian setelah adzan? Terima kasih. Jawaban: Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Puji-pujian disebut puji-pujian karena dua hal. Pertama, karena...

Ke Arah Mana Imam Menghadap Setelah Salat?

Hadis I Menghadap ke Timur (Berhadapan dengan Jemaah) Sebagian imam dari umat Islam menghadap ke arah jemaah setelah salat (ke timur) dengan dalil hadis: ﻋﻦ ﺳﻤﺮﺓ...
Kalam Ulama - Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakah boleh Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho' Ramadhan, Bolehkan? Mohon jawabannya. Terima kasih. Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sayyidina Abu Ayyub Al-Anshari radliyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ» "Barangsiapa yang berpuasa ramadan kemudian mengikutkan puasa tersebut dengan (puasa) enam hari di bulan syawal, maka ia seperti telah melakukan puasa selama setahun penuh." Baca Juga : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim? Berdasarkan hadis ini, disunahkan bagi setiap muslim untuk berpuasa enam hari di bulan syawal selepas ramadan demi mendapatkan pahala yang agung ini. Adapun mengenai hukum menggabungkan niat puasa sunnah enam hari di bulan syawal, baik sebagian maupun seluruhnya, dengan puasa ganti (atau dalam istilah fikih disebut qada) ramadan, maka hukumnya boleh. Seorang muslim boleh menggabungkan niat puasa wajib dan puasa sunah sekaligus, dan ia mendapatkan dua pahala dengan niatnya itu. Al-Hafidz As-Suyuthi rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitab Al-Asybah Wannadzair halaman 22 mengenai hadis tentang menggabungkan beberapa niat: [صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَة مَثَلًا قَضَاء أَوْ نَذْرًا، أَوْ كَفَّارَة، وَنَوَى مَعَهُ الصَّوْم عَنْ عَرَفَة؛ فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ، وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا، قَالَ: وَكَذَا إنْ أَطْلَقَ، فَأَلْحَقَهُ بِمَسْأَلَةِ التَّحِيَّةِ] اهـ. "Puasa arafah contohnya, ia berniat qada ramadan, puasa nazar, atau kafarat, lantas ia berniat bersama dengan niat itu untuk berpuasa sunah arafah, maka menurut fatwa Al-Barizi hal ini hukumnya sah dan ia telah mendapat pahala keduanya. Hal ini berlaku secara umum, tidak hanya terbatas dalam masalah tahiyat." Maksud dari masalah tahiyat adalah salat dua rakaat tahiyatul masjid. Begitu pula menurut pendapat Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari rahimahullahu ta'ala dalam kitab Fathul Wahhab Bisyarhi Minhajuth Thullab juz 1 halaman 67: [وتحصل بركعتين -فأكثر-] اهـ. "Maka ia telah mendapatkan pahala dua rakaat." Maksudnya, orang tersebut telah mendapatkan keutamaan dua rakaat tahiyatul masjid walaupun ia sedang melaksanakan salat fardu atau salat sunah lainnya, baik ia meniatkan keduanya sekaligus ataupun tidak. Berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim: «إذا دخل أحدُكم المسجدَ فلا يجلس حتى يصلي ركعتين» "Jika salah seorang diantara kalian telah masuk ke dalam masjid maka janganlah ia duduk hingga ia salat dua rakaat." Maksud dari hadis ini adalah mengerjakan salat sebelum duduk, dan orang tersebut sudah mengerjakan hal tersebut walau tidak mengkhususkan untuk tahiyatul masjid. Ulamapun menjadikan hal tersebut sebagai dalil bolehnya mengikutkan puasa sunah di bawah puasa fardu, tetapi tidak boleh sebaliknya, yakni mengikutkan puasa fardu di bawah puasa sunah. Oleh karena itu, boleh bagi seorang wanita muslim untuk melaksanakan qada ramadan di bulan syawal dan mencukupi baginya puasa qada ramadan tersebut sebagai puasa sunah enam hari di bulan syawal juga. Ia mendapatkan dua pahala sekaligus, sebab perbuatannya yang melaksanakan qada ramadan di bulan syawal tersebut. Baca Juga : Kapan Seorang Musafir Boleh Sholat Jamak dan Qashar? Walau seperti itu, tetap yang paling sempurna dan utama adalah mengerjakan keduanya secara terpisah, baik itu qada ramadan terlebih dahulu kemudian puasa sunah syawal atau sebaliknya. Walaupun ia telah mendapatkan pahala keduanya, tidak berarti ia telah mendapatkan pahala yang sempurna. Ia hanya mendapatkan pahala puasa ramadan satu bulan dan pahala puasa syawal enam hari saja, ia tidak mendapat pahala puasa setahun penuh seperti yang dijanjikan dalam hadis. Senada dengan ungkapan Al-Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj juz 3 halaman 209: [وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى تَبَعًا لِلْبَارِزِيِّ وَالْأَصْفُونِيِّ وَالنَّاشِرِيِّ وَالْفَقِيهِ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيِّ وَغَيْرِهِمْ، لَكِنْ لَا يَحْصُلُ لَهُ الثَّوَابُ الْكَامِلُ الْمُرَتَّبُ عَلَى الْمَطْلُوبِ] اهـ. "Dan jikalau berpuasa wajib di bulan syawal, baik qada ramadan, nazar, atau sejenisnya, atau ia melakukannya di hari asyura, maka ia telah mendapat pahala puasa sunah sekaligus. Sebagaimana yang telah difatwakan ayah kami rahimahullahu ta'ala, mengikut pendapat Al-Barizi, Al-Ushfuni, An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Shalih Al-Hadrami, dan lainnya, akan tetapi pahala yang sempurna hanya bagi mereka yang mengikuti tuntutan." Tuntutan (atau dalam istilah Al-Imam Ar-Ramli: mathlub) yang dimaksud adalah tuntutan perintah Nabi dalam hadis, yakni "mengikutkan" puasa ramadan dengan puasa enam hari di bulan syawal. Mengikutkan, bukan menggabungkan. Demikian jawaban kami. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam. Jakarta, 26 Juni 2018 @adhlialqarni Baca Juga : Kisah Habib Jakfar Alkaff Kudus : Menyuruh Beli Mobil Fortuner dengan Uang 400 Ribu

Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho’ Ramadhan, Bolehkan?

Kalam Ulama - Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakah boleh Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho' Ramadhan, Bolehkan? Mohon jawabannya. Terima kasih. Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Diriwayatkan oleh Imam...