Home Tanya Jawab Islam

Tanya Jawab Islam

KAPAN SEORANG MUSAFIR BOLEH Sholat JAMAK DAN QASHAR?

Kapan Seorang Musafir Boleh Sholat Jamak dan Qashar?

Tidak boleh bagi seorang musafir melakukan sholat jamak atau qashar kecuali ia telah melewati tembok batas kota atau desa. Jika kota atau desa...

Tanya Jawab #04 “Bolehkah Mengamalkan Hadits Dhoif ?”

Oleh: Habib Novel bin Muhammad Alaydrus Pengasuh Majelis Ar-Raudhoh, Solo Akhir zaman ini kita sering membaca atau mendengar seseorang yang melarang Muslim lain untuk mengamalkan sebuah amal tertentu dengan alasan...
KalamUlama.com - Tanya Jawab Islam #02 : Sejarah dan Dalil Amaliyah Malam Nishfu Sya'ban Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ustadz afwan. Bagaimana sejarah pelaksanaan malam Nishfu Sya’ban? Dan mohon jelaskan dalil-dalil keutamaan melaksanakan amaliyah Malam Nishfu Sya’ban? Jawab : Di antara keutamaan Sya'ban adalah karena di dalamnya terdapat malam Nishfu Sya'ban. Banyak dari umat Islam yang di malam tersebut melakukan amalan tertentu, misalnya dzikir, membaca al-Quran dan sebagainya yang intinya adalah meminta ampunan kepada Allah. Amaliyah ini memang tidak dilakukan di awal generasi Sahabat, namun Rasulullah dalam sabda-sabdanya yang masuk dalam kategori sahih telah memberi isyarat akan kemulian malam tersebut. Jika sebuah amaliyah memiliki dasar dalam Islam, maka amaliyah tersebut tidak termasuk bid'ah tercela, terlebih lagi telah diamalkan sejak generasi Tabi'in dan Ulama Salaf. Sejarah Pelaksanaan Malam Nishfu Sya'ban Malam Nishfu Sya'ban dilakukan pertama kali oleh para Tabi'in (generasi setelah Sahabat Nabi) di Syam Syria, seperti Khalid bin Ma'dan (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Makhul (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Luqman bin 'Amir (al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya 'jujur') dan sebagainya, mereka mengagungkannya dan beribadah di malam tersebut. Dari mereka inilah kemudian orang-orang mengambil keutamaan Nishfu Sya'ban. Ketika hal ini menjadi populer di berbagai Negara, maka para Ulama berbeda-beda dalam menyikapinya, ada yang menerima diantaranya adalah para Ulama di Bashrah (Irak). Namun kebanyakan Ulama Hijaz (Makkah dan Madinah) mengingkarinya seperti Atha', Ibnu Abi Mulaikah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Ulama Madinah dan pendapat beberapa ulama Malikiyah mengatakan: "Semuanya adalah bid'ah". Ulama Syam berbeda-beda dalam melakukan ibadah malam Nishfu Sya'ban. Pertama, dianjurkan dilakukan secara berjamaah di masjid-masjid. Misalnya Khalid bin Ma'dan, Luqman bin Amir, dan lainnya. Mereka memakai pakaian terbaiknya, memakai minyak wangi, memakai celak mata dan berada di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rahuwaih (salah satu Imam Madzhab yang muktabar), dan beliau mengatakan tentang ibadah malam Nishfu Sya'ban di masjid secara berjamaah: "Ini bukan bid'ah". Dikutip oleh Harb al-Karmani dalam kitabnya al-Masail. Kedua, dimakruhkan untuk berkumpul di masjid pada malam Nishfu Sya'ban untuk shalat, mendengar cerita-cerita dan berdoa. Namun tidak dimakruhkan jika seseorang shalat (sunah mutlak) sendirian di malam tersebut. Ini adalah pendapat al-Auza'i, imam Ulama Syam, ahli fikih yang alim. Inilah yang paling tepat, InsyaAllah. (Syaikh al-Qasthalani dalam Mawahib al-Ladunniyah II/259 yang mengutip dari Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif 151). Dalil-Dalil Hadis Nishfu Sya'ban Hadis Pertama عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن ِالنَّبِيِّ e قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قال الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار) “Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam)”. (HR. Thabrani fi al-Kabir no. 16639, Daruquthni fi al-Nuzul 68, Ibnu Majah no. 1380, Ibnu Hibban no. 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, al-Baihaqi fi Syu’ab al-Iman no. 6352, dan al-Bazzar fi al-Musnad 2389. Peneliti hadis al-Haitsami menilai para perawi hadis ini sebagai orang-orang yang terpercaya. Majma’ al-Zawaid 3/395). Ulama Wahabi, Nashiruddin al-Albani yang biasanya menilai lemah (dhaif) atau palsu (maudlu') terhadap amaliyah yang tak sesuai dengan ajaran mereka, kali ini ia tak mampu menilai dhaif hadis tentang Nishfu Sya'ban, bahkan ia berkata tentang riwayat diatas: "Hadis ini sahih" (Baca as-Silsilat ash-Shahihah 4/86). 1563 - إِنَّ اللهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (صحيح) اهـ السلسلة الصحيحة للالباني (4/ 86 Hadis Kedua قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ اللهَ تَعَالَى يَدْنُوْ مِنْ خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لِمَنِ اسْتَغْفَرَ إِلاَّ الْبَغِيَّ بِفَرْجِهَا وَالْعَشَّارَ (رواه الطبراني في الكبير وابن عدي عن عثمان بن أبي العاص وقال الشيخ المناوي ورجاله ثقات اهـ التيسير بشرح الجامع الصغير 1/551) "Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya (rahmat) Allah mendekat kepada hambanya (di malam Nishfu Sya'ban), maka mengampuni orang yang meminta ampunan, kecuali pelacur dan penarik pajak" (HR. al-Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu 'Adi dari Utsman bin Abi al-'Ash. Syaikh al-Munawi berkata: Perawinya terpercaya. Baca Syarah al-Jami' ash-Shaghir 1/551). Hadis Ketiga قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ اللهُ تَعَالَى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِكُلِّ نَفْسٍ إِلاَّ إِنْسَانًا فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ أَوْ مُشْرِكًا بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ (قال الحافظ ابن حجر هذا حديث حسن أخرجه الدارقطني في كتاب السنة عن عبد الله بن سليمان على الموافقة وأخرجه ابن خزيمة في كتاب التوحيد عن أحمد بن عبد الرحمن بن وهب عن عمه اهـ الأمالي 122)  Qala Saw: Yanzilu Allahu ta'ala lailatan nishfi min Sya'bana fa yaghfiru li kulli nafsin illa insanan fi qalbihi syahna' au musyrikan billahi azza wa jalla. Artinya “Rasulullah Saw bersabda: (Rahmat) Allah turun di malam Nishfu Sya’ban maka Allah akan mengampuni semua orang kecuali orang yang di dalam hatinya ada kebencian kepada saudaranya dan orang yang menyekutukan Allah" (al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: "Hadis ini hasan. Diriwayatkan oleh Daruquthni dalam as-Sunnah dan Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid, Baca al-Amali 122). al-Hafidz Ibnu Hajar juga meriwayatkan hadis yang hampir senada dari Katsir bin Murrah: عَنْ كَثِيْرِ بْنِ مُرَّةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَبَّكُمْ يَطَّلِعُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لَهُمْ كُلِّهِمْ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ مُشْرِكًا أَوْ مُصَارِمًا (المطالب العالية للحافظ ابن حجر العسقلاني 3 / 424) Nishfu Sya'ban Menurut Para Ulama Sahabat Abdullah bin Umar Ra عَنِ ابْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ خَمْسُ لَيَالِيَ لاَ يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَتَا الْعِيْدِ (أخرجه البيهقي في شعب الإيمان رقم 3711 وفي فضائل الأوقات رقم 149 وعبد الرزاق رقم 7927) "Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Ada 5 malam yang doa tidak akan ditolak. Yaitu doa malam Jumat, malam pertama bulan Rajab, Malam Nishfu Sya'ban dan malam dua hari raya" (al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 3811 dan dalam Fadlail al-Auqat no. 149, dan Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf No 7928). Imam asy-Syafi'I (150-204 H / 767-820 M) قَالَ الْبَيْهَقِي قَالَ الشَّافِعِي وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ فِي لَيْلَةِ الْجُمْعَةِ وَلَيْلَةِ اْلأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ (أخرجه البيهقي في السنن الكبرى رقم 6087 وفي معرفة السنن والآثار رقم 1958 وذكره الحافظ ابن حجر في تلخيص الحبير رقم 675) “Ahli hadis al-Baihaqi mengutip dari Imam Syafi'i: Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan dalam lima malam, yaitu awal malam bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, dua malam hari raya dan malam Jumat" (as-Sunan al-Kubra No 6087, Ma'rifat as-Sunan wa al-Atsar no. 1958, dan dikutip oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Talkhis al-Habir No 675). Ulama Syafi'iyah قَالَ الشَّافِعِي وَاَنَا اَسْتَحِبُّ كُلَّ مَا حُكِيَتْ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي مِنْ غَيْرِ اَنْ تَكُوْنَ فَرْضًا هَذَا آخِرُ كَلاَمِ الشَّافِعِي وَاسْتَحَبَّ الشَّافِعِي وَاْلاَصْحَابُ اْلاِحْيَاءَ الْمَذْكُوْرَ (المجموع للنووي 5 / 43) "asy-Syafii berkata: Saya menganjurkan semua yang diriwayatkan tentang ibadah di malam-malam tersebut (termasuk malam Nishfu Sya'ban), tanpa menjadikannya sebagai sesuatu yang wajib. asy-Syafii dan ulama Syafi'iyah menganjurkan ibadah dengan cara yang telah disebutkan" (Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' 5/43). Ahli Hadis al-Hafidz al-Iraqi (725-806 H / 1325-1404 M) قَالَ الزَّيْنُ الْعِرَاقِي مَزِيَّةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مَعَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ أَنَّهُ ذُكِرَ مَعَ النُّزُوْلِ فِيْهَا وَصْفٌ آخَرُ لَمْ يُذْكَرْ فِي نُزُوْلِ كُلِّ لَيْلَةٍ وَهُوَ قَوْلُهُ فَيَغْفِرُ ِلأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ وَلَيْسَ ذَا فِي نُزُوْلِ كُلِّ لَيْلَةٍ وَلأَنَّ النُّزُوْلَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مُؤَقَّتٌ بِشَرْطِ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثِهِ وَفِيْهَا مِنَ الْغُرُوْبِ (فيض القدير للمناوي 2/ 402) "Zainuddin al-Iraqi berkata: Keistimewaan malam Nishfu Sya'ban dimana setiap malam (rahmat) Allah turun ke langit terendah, adalah karena memiliki karakteristik tersendiri yang tidak ada dalam setiap malam, yaitu 'Allah akan memberi ampunan'. Juga karena di setiap malam ditentukan waktunya setelah lewat tengah malam atau sepertiga akhir, sementara dalam Nishfu Sya'ban dimulai setelah terbenam matahari" (Faidl al-Qadir, Syaikh al-Munawi, 2/402). Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami (909-973 H / 1504-1567 M) وَالْحَاصِلُ أَنَّ لِهَذِهِ اللَّيْلَةِ فَضْلاً وَأَنَّهُ يَقَعُ فِيْهَا مَغْفِرَةٌ مَخْصُوْصَةٌ وَاسْتِجَابَةٌ مَخْصُوْصَةٌ وَمِنْ ثَمَّ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيْهَا (الفتاوى الفقهية الكبرى لابن حجر الهيتمي 2/ 80) "Kesimpulannya, bahwa malam Nishfu Sya'ban ini memiliki keutamaan. Di dalamnya terdapat ampunan khusus dan terkabulnya doa secara khusus. Oleh karenanya as-Syafi'i berkata: Doa dikabulkan di malam Nishfu Sya'ban" (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah 2/80). Syaikh Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1263-1328 M. Ideolog Utama aliran Wahabi) وَمِنْ هَذَا الْبَابِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقَدْ رُوِىَ فِي فَضْلِهَا مِنَ اْلأَحَادِيْثِ الْمَرْفُوْعَةِ وَاْلآثَارِ مَا يَقْتَضِي أَنَّهَا لَيْلَةٌ مُفَضَّلَةٌ وَأَنَّ مِنَ السَّلَفِ مَنْ كَانَ يَخُصُّهَا بِالصَّلاَةِ فِيْهَا وَصَوْمُ شَهْرِ شَعْبَانَ قَدْ جَاءَتْ فِيْهِ أَحَادِيْثُ صَحِيْحَةٌ وَمِنَ الْعُلَمَاءِ مِنَ السَّلَفِ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الْخَلَفِ مَنْ أَنْكَرَ فَضْلَهَا وَطَعَنَ فِي اْلأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ فِيْهَا كَحَدِيْثِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ فِيْهَا ِلأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ بَنِي كَلْبٍ وَقَالَ لاَ فَرْقَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ غَيْرِهَا لَكِنِ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَوْ أَكْثَرُهُمْ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ عَلَى تَفْضِيْلِهَا وَعَلَيْهِ يَدُلُّ نَصُّ أَحْمَدَ لِتَعَدُّدِ اْلأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ فِيْهَا وَمَا يُصَدِّقُ ذَلِكَ مِنَ اْلآثَارِ السَّلَفِيَّةِ وَقَدْ رُوِِىَ بَعْضُ فَضَائِلِهَا فِي الْمَسَانِيْدِ وَالسُّنَنِ وَإِنْ كَانَ قَدْ وُضِعَ فِيْهَا أَشْيَاءٌ أُخَرُ (اقتضاء الصراط 302) "Keutamaan malam Nishfu Sya'ban diriwayatkan dari hadis-hadis marfu' dan atsar (amaliyah sahabat dan tabi'in), yang menunjukkan bahwa malam tersebut memang utama. Dan sebagian Ulama Salaf ada yang secara khusus melakukan shalat sunnah (mutlak) di malam tersebut … Kebanyakan Ulama atau kebanyakan Ulama dari kalangan kami mengatakan keutamaan malam Nishfu Sya'ban. Ini sesuai dengan penjelasan Imam Ahmad karena banyaknya hadis yang menjelaskan tentang malam Nishfu Sya'ban dan yang mendukungnya dari riwayat ulama Salaf. Sebab riwayat malam Nishfu Sya'ban terdapat dalam kitab-kitab Musnad dan Sunan, meskipun di dalamnya juga ada sebagian hadis-hadis palsu" (Iqtidla' ash-Shirat al-Mustaqim 302). وَسُئِلَ عَنْ صَلاَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ ؟ (الْجَوَابُ) فَأَجَابَ: إذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنْ السَّلَفِ فَهُوَ أَحْسَنُ. وَأَمَّا اْلاِجْتِمَاعُ فِي الْمَسَاجِدِ عَلَى صَلاَةٍ مُقَدَّرَةٍ كَاْلاِجْتِمَاعِ عَلَى مِائَةِ رَكْعَةٍ بِقِرَاءَةِ أَلْفٍ: {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} دَائِمًا. فَهَذَا بِدْعَةٌ لَمْ يَسْتَحِبَّهَا أَحَدٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ. وَاللهُ أَعْلَمُ (مجموع فتاوى ابن تيمية ج 2 ص 469) “Ibnu Taimiyah ditanya soal shalat pada malam Nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunnah muthlak pada malam Nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti shalat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú' Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469). Syaikh al-Mubarakfuri (1361-1427 H / 1942-2006 M) وَهَذِهِ اْلأَحَادِيْثُ كُلُّهَا تَدُلُّ عَلَى عَظِيْمِ خَطَرِ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ وَجَلاَلَةِ شَأْنِهَا وَقَدْرِهَا وَأَنَّهَا لَيْسَتْ كَاللَّيَالِي اْلأُخَرِ فَلاَ يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهَا بَلْ يُسْتَحَبُّ إِحْيَاءُهَا بِالْعِبَادَةِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالْفِكْرِ (مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح 4/ 341) "Hadis-hadis ini secara keseluruhan menunjukkan keagungan Malam Nishfu Sya'ban, dan malam tersebut tidak sama dengan malam-malam yang lain. Dan dianjurkan untuk tidak melupakannya, bahkan dianjurkan untuk menghidupinya dengan ibadah, doa, dzikir dan tafakkur" (Syaikh al-Mubarakfuri dalam Syarah Misykat al-Mashabih 4/341). Membaca Yasin di Malam Nishfu Sya'ban وَأَمَّا قِرَاءَةُ سُوْرَةِ يس لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُعَاءِ الْمَشْهُوْرِ فَمِنْ تَرْتِيْبِ بَعْضِ أهْلِ الصَّلاَحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ قِيْلَ هُوَ الْبُوْنِى وَلاَ بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ (أسنى المطالب فى أحاديث مختلفة المراتب ص 234) “Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh al-Buni, dan hal itu bukanlah suatu hal yang buruk”. (Syaikh Muhammad bin Darwisy, Asná al-Mathálib, 234). Berdasarkan hadis-hadis sahih di atas dan ijtihad para ulama hadis dan fikih menunjukkan bahwa amaliyah di malam Nishfu Sya'ban memiliki dasar yang kuat dan bukan perbuatan bid'ah yang sesat, karena telah diamalkan sejak generasi ulama salaf. Jika Tarawih di Madinah 39 rakaat yang baru dirintis di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah tidak ada yang menghukumi bid'ah bahkan menjadi acuan sah ijtihad ulama Malikiyah, lalu bagaimana bisa amaliyah malam Nishfu Sya'ban dituduh bid'ah yang sesat? Wallahu A'lam Oleh : Ustadz Ma’ruf Khozin

Dalil Amaliyah Nishfu Sya’ban Beserta Sejarahnya

KalamUlama.com - Tanya Jawab Islam #02 : Sejarah dan Dalil Amaliyah Malam Nishfu Sya'ban Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ustadz afwan. Bagaimana sejarah pelaksanaan malam Nishfu Sya’ban? Dan mohon...
Kalam Ulama. HUKUM PUJIAN SETELAH ADZAN Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum puji-pujian setelah adzan? Terima kasih. Jawaban: Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Puji-pujian disebut puji-pujian karena dua hal. Pertama, karena berisi tsana' (pujian) kepada Allah. Kedua, karena berisi selawat, salam, dan pujian kepada Rasulullah SAW. Sampai di sini hukum keduanya adalah sunah. Hanya saja jika memilih untuk dilaksanakan selepas azan secara rutin maka hukumnya menjadi dua. Jika diiktikadi bagian dari azan, yang mana azan tidak sempurna tanpanya, maka hukumnya haram. Sebab merupakan tambahan dalam hal-hal ubudiyah tanpa dalil. Namun, jika memilih untuk dilaksanakan setelah azan tanpa iktikad bagian azan maka hukumnya mubah. Kebiasan pujian tidak hanya ada di Indonesia, bahkan juga di Maroko. Shahibul Jalalah Amirul Mukminin Raja Muhammad VI ibn Jalalah Al-Marhum Al-Maghfurlah Hasan II Al-Alawi Al-Hasani memberi izin untuk masjid-masjid dan zawiyah-zawiyah untuk mengumandangkan tahlil dan tsana' selepas azan. Sependek pengetahuan saya, kebiasaan ini pertama kali muncul di zaman Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dengan tujuan menyeru dan mengingatkan untuk memperbanyak tahlil serta menghidupkan sunah selawat selepas azan. Berdasarkan hadis riwayat Muslim dalam shahih beliau: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ حَيْوَةَ وَسَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ وَغَيْرِهِمَا عَنْ كَعْبِ بْنِ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah Al-Muradi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahab dari Haiwah dan Sa'id bin Abi Ayyub serta selain keduanya, dari Ka'ab bin Alqamah dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda: "Apabila kalian mendengar mu'adzdzin maka ucapkanlah seperti yang di ucapkan mu'adzin, kemudian bershalawatlah untukku, karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap aku hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa'at halal untuknya." Para ulama telah berfatwa memgenai kebolehan hal ini, bahkan di antara mereka ada yang menyetakan kesunahan, di antaranya Al-Hafidz As-Sakhawi, Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari, Ibnu Hajar, dan lain-lain. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz Abdullah ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Hasani dalam Al-Hawi. Sebagai kesimpulan, hukum puji-pujian adalah sunah. Pelaksananya mendapat pahala. Memilih waktu melakukan puji-pujian selepas azan tanpa beriktikad bagian dari azan hukumnya mubah. Demikian, wallahu a'lam. Maroko, 7 Januari 2019 Adhli Al-Qarni

Bagaimana Hukum Pujian Setelah Adzan?

Kalam Ulama. HUKUM PUJIAN SETELAH ADZAN Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum puji-pujian setelah adzan? Terima kasih. Jawaban: Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Puji-pujian disebut puji-pujian karena dua hal. Pertama, karena...

Tanya Jawab #12 : Apakah Boleh Dzikir Suara Keras?

Mengeraskan bacaan dzikir sesudah salat disampaikan oleh Sahabat Nabi bernama Abdullah bin Abbas, beliau berkata: «ﺃﻥ ﺭﻓﻊ اﻟﺼﻮﺕ، ﺑﺎﻟﺬﻛﺮ ﺣﻴﻦ ﻳﻨﺼﺮﻑ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ اﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺔ ﻛﺎﻥ...
Kalam Ulama - ZIKIR BERJAMA'AH DAN MENGGERAK-GERAKKAN BADAN Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum zikir berjamaah? Sebagian jamaah majelis zikir sampai menggerak-gerakkan badannya saat berzikir, bahkan ada yang sampai berdiri dan lompat. Mohon pencerahan. Jawaban: Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Berkumpul untuk berzikir hukumnya sunah. Sebagian firman Allah SWT dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim, beliau mengatakan: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَاللَّفْظُ لِأَبِي كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib –dan lafadz ini milik Abu Kuraib– mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah 'Azza Wa Jalla berfirman: Bagi hamba-Ku adalah sebagaimana perasangkanya kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan (yakni jamaah) orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya (yakni jamaah malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." Hadis-hadis mengenai kesunahan berkumpul untuk berzikir mencapai buah 26 hadis. Patut untuk dikatakan mutawatir dan tidak pantas menerima takwil. Al-Hafidz As-Suyuti mengumpulkan dalam risalah beliau yang berjudul: Natijatul Fikr Fil Jahri Bizzikr. Kitab ini sudah telah ditahqiq oleh Al-Hafidz Abdullah ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Idrisi Al-Hasani dan dicetak. Kitab ini sangat bermanfaat dalam masalah ini. Adapun menggerak-gerakkan badan, berdiri, dan melompat, atau yang biasa diistilahkan oleh para sufi dengan tamayul saat berzikir adalah sesuatu yang mubah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Madinah Dimasyqi: أخبرنا أبو القاسم أخبرنا رشا أخبرنا الحسن أخبرنا أحمد ح أخبرنا أبو محمد بن طاوس أخبرنا أبو الحسن علي بن محمد بن محمد الخطيب أخبرنا أبو عبد الله أحمد بن محمد بن يوسف العلاف أخبرنا أبو علي بن صفوان، قالا: أخبرنا أبو بكر بن أبي الدنيا أخبرنا علي بن الجعد أخبرني عمرو شمر حدثني إسماعيل السدي قال: سمعت أبا أراكة، وفي حديث أبي القاسم عن السدي عن أبي أراكة، قال: ... فإذا أصبحوا فذكروا الله مادوا كما يميد الشجر في يوم الريح، وهملت أعينهم حتى تبلّ ثيابهم. Mengabarkan kepada kami Abul Qasim, mengabarkan kepada kami Rasya, mengabarkan kepada kami Al-Hasan, mengabarkan kepada kami Ahmad. Dari jalur yang lain, mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Thawus, mengabarkan kepada kami Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib, mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Yusuf Al-Allaf, mengabarkan kepada kami Abu Ali bin Shafwan. Keduanya, yakni Ahmad dan Abu Ali bin Shafwan berkata: Mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin Abiddunya, mengabarkan kepada kami Ali bin Ja'd, mengabarkan kepada kami Amr bin Syamr, menceritakan kepadaku Ismail As-Saddi, ia berkata: Aku telah mendengar Abu Arakah. Dalam riwayat Abul Qasim: Dari As-Saddi dari Abu Arakah. Beliau, Abu Arakah, berkata: ... Tatkala mereka memasuki pagi mereka berzikir kepada Allah dengan bergoyang seperti goyangnya pohon di musim angin, mata mereka menangis hingga membasahi baju mereka. Sebagai kesimpulan, sunnah hukumnya berkumpul untuk berzikir bersama-sama. Mubah hukumnya berzikir dengan menggerak-gerakkan badan, baik dengan berdiri, melompat, atau yang lainnya selama menjaga adab. Demikian, wallahu a'lam. Maroko, 8 Januari 2019 Adhli Al-Qarni

BAGAIMANA HUKUM ZIKIR BERJAMA’AH DAN MENGGERAK-GERAKKAN BADAN

Kalam Ulama - ZIKIR BERJAMA'AH DAN MENGGERAK-GERAKKAN BADAN Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum zikir berjamaah? Sebagian jamaah majelis zikir sampai menggerak-gerakkan badannya saat berzikir, bahkan...
APAKAH ABU THALIB PAMAN NABI SAW, WAFAT DALAM KEKAFIRAN ATAU KEIMANAN ? JAWABAN : و الثالث : أبو طالب ، و أمه فاطمة بنت عمرو بن عابد ، و هي أم عبدالله أبي رسول الله صاى الله عليه و سلم . Artinya : Dan paman Nabi SAW yang ketiga ( 3 ) adalah : Abu Thalib, dan ibunya adalah Fatimah binti Amru bin Abid, dan beliau juga ibu dari Abdullah ayahanda Rasulullah SAW. و الصحيح : أنه مات كافرًا ، و اسمه عبد مناف ، و أما أبو طالب .. فهو كنيته ، و قيل : اسمه كنيته . Artinya : Dan menurut pendapat yang sahih : Sesungguhnya Abu Thalib mati dalam kekafiran, dan namanya adalah Abdu Manaf. Adapun Abu Thalib adalah ... sebagai kunyahnya, dan menurut satu pendapat ( lemah ) ... namanya ( yaitu Abdu Manaf ) adalah sebagai kunyahnya. و قال البراوي : و الذي نقله سيدي عبد الوهاب الشعراني عن السبكي : أن عمه صلى الله عليه و سلم أبا طالب بعد أن توفي على الكفر أحياه تعالى ، و آمن به صلى الله عليه و سلم . Artinya : As-Syech al-Muhaddits Isa bin Ahmad al-Barowi al-Azhari ( Wafat tahun 1182 H ) berkata : Dan pendapat yang dinukil tuanku Abdul Wahhab as-Sya'rani dari al-Imam Subki : Bahwa paman Nabi SAW Abu Thalib setelah wafat dalam kekafiran ... Allah SWT menghidupkannya kembali dan Abu Thalib beriman kepada Nabi SAW. قال شيخنا العلامة السجيني : و هذا هو اللائق بحبه صلى الله عليه و سلم ، و هو الذي أعتقده و ألقى الله به. Guru kami al-Allamah al-Sujainy ( Wafat tahun 1197 H ) berkata : Pendapat al-Imam Subki inilah yang layak ( dipegangi ) karena kecintaan Rasulullah SAW ... dan pendapat inilah yang aku ( Syech al-Sujaini ) yakini dan aku akan bertemu Allah SWT dengan keyakinan ini. Di Kutip dari kitab : Nuuru al-Dzolam Syarah Mandzumah Aqidah al-Awam, Karya Syech Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi al-Jawi al-Bantani. Hal 233-234 _______________ قال الحبيب أحمد بن حسن العطاس رضي الله عنه : و رأيت سيدنا علي بن أبي طالب كرم الله وجهه ، و حصلت بينى و بينه مذاكرة و مباحثة طويلة ، و من جملتها ، أني قلت له : إن السيدة فاطمة ؛ اختلف أهل العلم فى دفنها ، هل كان فى الحجرة أو فى البقيع ؟ فقال لي : إنها فى البقيع ، و أنا دفنتها بنفسي فى الليل. ثم قلت له : و كذلك أبو طالب اختلف العلماء فيه ، هل مات على الإيمان أم لا ؟ و أنت دارى بالأشياء . فقال : مات على الإيمان . والحمدلله على ذلك قال سيدي رضي الله عنه : وقد سمعت السيد أحمد دحلان فى الحلقة يقول : إن الذي ندين الله به ، أن أبا طالب مات على الإيمان ، و الذي قال بإيمانه من أهل الحديث منزالحفاظ أربعة عشر حافظا. قال سيدي : و نحن الحمدلله ، معنا شىء زائد على الناس ، لأن علمنا ليس هو متلقفا من الحروف ، و لا من الكتب التي فى الزفوف ، بل متلقى من معدنه و من أهله ، و بعض الناس لما لم يعجبهم حق السلف خلفوا. Artinya : Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas berkata : Aku melihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah didalam mimpi, dan terjadilah diskusi dan pembahasan panjang antara kami berdua. Dan diantaranya, aku bertanya kepadanya, bahwa Sayyidah Fatimah ; para ahli ilmu berbeda pendapat dimana ia dikubur, apakah di hujrah atau di baqi' ? Beliau ( Sayyidina Ali ) berkata kepadaku : Bahwa Sayyidah Fatimah dikubur di Baqi' dan aku sendiri yang menguburkannya di malam hari. Kemudian aku ( Habib Ahmad bin Hasan al-Attas ) bertanya kepadanya : Demikian pula Abu Thalib, ulama berbeda pendapat tentang beliau, apakah mati dalam kekafiran atau dalam keimanan ? ... dan engkau mengetahui berbagai hal. Maka Ali bin Abi Thalib berkata : Bahwa Abu Thalib dalam keimanan. Segala puji bagi Allah atas hal itu. Tuanku ( al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas ) berkata : Sungguh aku telah mendengar SAYYID AHMAD DAHLAN di salah satu halaqah pengajian berkata : Sesungguhnya yang kami yakini karena Allah SWT, bahwa Abu Thalib mati dalam keimanan dan yang berpendapat keimanan Abu Thalib adalah empat belas ahli hadits yang telah mencapai derajat Huffadz. Sumber : Tadzkir an-Nas karya al-Habib Abubakar al-Attas bin Abdullah bin Alwi al-Habsyi Hal 226-227 Cetakan Ma'had Huraidhah - al-Ma'ruf. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم

APAKAH ABU THALIB PAMAN NABI SAW, WAFAT DALAM KEKAFIRAN ATAU KEIMANAN ?

Kalam Ulama  APAKAH ABU THALIB PAMAN NABI SAW, WAFAT DALAM KEKAFIRAN ATAU KEIMANAN ? JAWABAN : و الثالث : أبو طالب ، و أمه فاطمة بنت...

Tanya Jawab #06 “Suami Minum ASI”

Pertanyaan : Beberapa hari lalu sempat didiskusikan perihal seorang suami yang "meminum" ASI. Apakah lantas istrinya menjadi mahram ibu susuan? Jawaban : Jawabannya adalah tidak. Berdasarkan: ﻋﻦ ﺃﻡ...
Assalamu Alaikum. Mohon penjelasannya terkait batasan aurat perempuan muslimah dengan perempuan nonmuslim, apakah benar seperti batasan aurat kepada laki-laki ? ---------------- Jawaban : Waalaikum salam. Sail/sailah (penanya) yang dirahmati Allah SWT. Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, saya akan menguraikan sedikit tentang aurat wanita muslimah. Pada prinsipnya, aurat perempuan dapat dikelompokkan menjadi 3 : (1) aurat di hadapan wanita dan mahram, (2) aurat di dalam sholat, (3) aurat di luar sholat. (Baca Juga : Kapan Seorang Musafir Boleh Sholat Jamak dan Qashar? ) Aurat wanita muslimah di hadapan wanita dan mahramnya yaitu bagian tubuh di antara pusar dan lutut. Ini adalah yang waijib. Tetapi adab dalam islam hendaknya tidak menampakkan di depan mahramnya kecuali memakai pakaian yang sempurnaa (jika nampak malu dan pantas baginya). Karena sesungguhnya manusia ketika lemah agamanya (imannya), sedikit muruahnya, dan tidak bisa mengontrol syahwatnya, maka ia tidak memperdulikan kemulyaan dan tidak pula kerabat. Sedangkan aurat wanita di dalam sholat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan (luar dan dalam). Wanita wajib mengenakan pakaian yang menutupi punggung kedua telapak kakinya baik dalam keadaan berdiri, ruku, dan sujud. Ketika terbuka pakainnya di tengah-tengah sholat, maka sholatnya batal kecuali ia menutupnya kembali saat itu juga. Aurat wanita di luar sholat, adab dalam islam, yaitu menutup dengan sempurna. Dengan cara menutup seluruh tubuhnya hingga wajah dan telapak tangannya kecuali saat sedang bekerja atau sedang mengerjakan kesehariannya. Bagi wanita diperbolehkan membuka wajah saat berdagang. Namun menurut jumhur ulama wajah dan telapak tangan tidak termasuk aurat bagi wanita. Diharamkan bagi wanita menggunakan pakaian yang ketat, karena dapat menimbulkan fitnah, kecuali dihadapan suami atau mahramnya saja. Aurat wanita muslimah ketika bersamaan/dihadapan wanita nonmuslimah adalah semua badan kecuali anggota yang tampak ketika bekerja. Sedangkan menurut madzhab Hambali, seperti di hadapan laki-laki mahram, yaitu anggota badan yang ada diantara pusat dan lutut. Namun, Jumhur (sebagian besar ulama) berpendapat bahwa seluruh badan wanita itu adalah aurat, kecuali apa yang nampak pada waktu melakukan kesibukan-kesibukan rumah. Seperti disebutkan oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya : .وَعَوْرَةٌ المُسْلِمَةِ اَمَامَ الكَافِرَةِ: عَوْرَةُ الْمُسْلِمَةِ اَمَامَ الْكَافِرَةِ عِنْدَ الْحَنَابَلَةِ كَاالرَّجُلِ الْمُحْرِمِ: مَابَيْنَ السُّرَّةِ وَالُّركْبَةِ. وَقَالَ الْجُمْهُوْرُ: جَمِيْعُ الْبَدَنِ مَاعَدَامَاظَهَرَ عِنْدَ الْمِهْنَةِ اَيِ الاَسْغَالِ الْمَنْزِلِيَّةِ. "Aurat muslimah di hadapan wanita non muslim : aurat muslimah menurut madzhab Hanbali seperti aurat dihadapan laki-laki mahram, yaitu bagian diantara pusar dan lutut. Sebagian besar ulama berkata : seluruh badan, kecuali bagian yang nampak saat bekerja atau melakukan kesibukan di rumah" Referensi : Nihayatuzzain hal 43 al Fiqhul Islamy wa Adillatuhu karangan Dr. Wahbah az Zuhaili (terbitan Darul Fikr) juz 1 halaman 584-594 Risalatul Mustahadhoh al Jadidah wa yaliha risalah an-nisa wal usroh Al-Fatawa Bogor, @alfarisi_Hamzah

Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim?

Assalamu Alaikum. Mohon penjelasannya terkait batasan aurat perempuan muslimah dengan perempuan nonmuslim, apakah benar seperti batasan aurat kepada laki-laki ? ---------------- Jawaban : Waalaikum salam Wr Wb. Sail/sailah (penanya)...
Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Malam pertama bulan Rabiul Awal ini ada Ustadz Mushannif dari Simo Sidomulyo Surabaya, bertanya apakah Nabi menjawab salam dan shalawat kita? Alhamdulillah semua masalah ini sudah dijawab oleh Al Hafizh Al Haitsami dalam Majma' Az-Zawaid: 1. Nabi Menjawab Salam Dari Umatnya Jawaban salam dari Rasulullah ini dijelaskan dalam hadis sahih berikut: ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻲ ﺇﻻ ﺭﺩ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻲ ﺭﻭﺣﻲ ﺣﺘﻰ ﺃﺭﺩ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼﻡ» Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Tidak ada seorang pun yang membaca salam padaku kecuali Allah mengembalikan ruh kepadaku, hingga aku menjawab salamnya (HR Abu Dawud dan Baihaqi). (Baca Juga Tanya Jawab Kajian Islam : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim?) Apakah ini hanya berlaku jika menziarahi makam Nabi saja? Tentu tidak, seperti dalam hadis berikut: ﻋﻦ علي ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ: " «ﺈﻥ ﺗﺴﻠﻴﻤﻜﻢ ﻳﺒﻠﻐﻨﻲ ﺃﻳﻨﻤﺎ ﻛﻨﺖ» ". ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ، ﻭﻓﻴﻪ ﺣﻔﺺ ﺑﻦ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ اﻟﺠﻌﻔﺮﻱ، ﺫﻛﺮﻩ اﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ، ﻭﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ ﻓﻴﻪ ﺟﺮﺣﺎ، ﻭﺑﻘﻴﺔ ﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ. Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sungguh salam kalian sampai padaku, dimana pun kau berada (HR Abu Ya'la, di dalamnya ada Hafsh bin Ibrahim Al Ja'fari, Ibnu Abi Hatim tidak memberi penilaian. Perawi lainnya terpercaya) 2. Nabi Menjawab Doa Shalawat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ: ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ: " «ﺣﻴﺜﻤﺎ ﻛﻨﺘﻢ ﻓﺼﻠﻮا ﻋﻠﻲ ; ﻓﺈﻥ ﺻﻼﺗﻜﻢ ﺗﺒﻠﻐﻨﻲ» ". ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭاﻷﻭﺳﻂ، ﻭﻓﻴﻪ ﺣﻤﻴﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺯﻳﻨﺐ ﻭﻟﻢ ﺃﻋﺮﻓﻪ، ﻭﺑﻘﻴﺔ ﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ. Dari Hasan bin Ali bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Dimana pun kalian berada bacalah Shalawat kepadaku. Sebab Shalawat kalian dihaturkan kepada ku (HR Thabrani, di dalamnya ada Humaid bin Abi Zainab, saya [Al Haitsami] tidak mengetahuinya. Perawi yang lain adalah perawi hadis sahih) ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " «ﻣﻦ ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻲ ﺻﻼﺓ ﺻﻠﻴﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﺸﺮا» ". ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻷﻭﺳﻂ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ. Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa membaca shalawat 1x untuk ku, maka aku doakan Rahmat 10x untuknya (HR Thabrani, para perawinya terpercaya) Oleh : Ustadz Ma'ruf Khozin

Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya?

Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Malam pertama bulan Rabiul Awal ini ada Ustadz Mushannif dari Simo Sidomulyo Surabaya, bertanya apakah Nabi menjawab salam dan...

Stay connected

4,435FansLike
14,892FollowersFollow
4FollowersFollow
1,843FollowersFollow
1,531SubscribersSubscribe
- Advertisement -
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Popular Post

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini juga sering beliau baca di hadapan Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Beliau awali dengan doa: بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" Berikut bait Qosidah "Man Ana" (Siapa Diriku): مَنْ أَنَا مَنْ أَنَا لَوْلَاكُم # كَيْفَ مَا حُبُّكُمْ كَيْفَ مَا أَهْوَاكُم Siapakah diriku, siapakah diriku kalau tiada bimbingan kalian (guru) Bagaimana aku tidak cinta kepada kalian dan bagaimana aku tidak menginginkan bersama kalian مَا سِوَيَ وَلَا غَيْرَكُم سِوَاكُم # لَا وَمَنْ فِى المَحَبَّةِ عَلَيَّ وُلَاكُم Tiada selain ku juga tiada selainnya terkecuali engkau, tiada siapapun dalam cinta selain engkau dalam hatiku أَنْتُم أَنْتُم مُرَادِي وَ أَنْتُم قَصْدِي # لِيْسَ احدٌ فِى المَحَبَّةِ سِوَاكُم عِنْدِي Kalianlah, kalianlah dambaanku dan yang kuinginkan, tiada seorangpun dalam cintaku selain engkau di sisiku كُلَّمَا زَادَنِي فِى هَوَاكُم وَجْدِي # قُلْتُ يَا سَادَتِي مُحْجَتِي تَفْدَاكُم Setiap kali bertambah cinta dan rindu padamu, maka berkata hatiku wahai tuanku semangatku telah siap menjadi tumbal keselamatan dirimu لَوْ قَطَعْتُمْ وَرِيْدِي بِحَدِّ مَا ضِي # قُلْتُ وَاللهِ أَنَا فِى هَوَاكُم رَاضِي Jika engkau menyembelih urat nadiku dengan pisau berkilau tajam, kukatakan demi Alloh aku rela gembira demi cintaku padamu أَنْتُمُ فِتْنَتِي فِى الهَوَا وَمُرَادِي # مَا ِرِضَايَ سِوَى كُلُ مَا يَرْضَاكُم Engkaulah yang menyibukkan segala hasrat dan tujuanku, tiada ridho yang aku inginkan terkecuali segala sesuatu yang membuat mu ridho كُلَّمَا رُمْتُ إِلَيْكُم نَهَوْ مَنْ أَسْلَك # عَوَقَتْنِيْ عَوَائِق أَكَاد أَنْ أَهْلِك Setiap kali ku bergejolak cinta padamu selalu terhalang untuk aku melangkah, mereka mengganjalku dengan perangkap yang banyak hampir saja aku hancur فَادْرِكُوا عَبْدَكُم مِثْلُكُمْ مَنْ أَدْرَكْ # وَارْحَمُوا بِا المَحَبَّةِ قَتِيْل بَلْوَاكُم Maka tolonglah budak kalian ini, dan yang seperti kalianlah golongan yang suka menolong, dan kasihanilah kami dengan cinta kalian, maka cinta kalian membunuh dan memusnahkan musibahku Sumber: Muhammad Ainiy

Man Ana Laulakum (Siapa Diriku) Lirik, Latin, dan Terjemahannya

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini...
Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ ۞ إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Qasidah Burdah Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...
SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ma’as-salaamah fii amaanih Syaikhonaa Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa) Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guruku, Ya Allah Tuhanku, rahmatilah pendidik jiwa kami (wahai Tuhanku) عَيْنُ الْمُحِبِّ بِالدُمُوْعِ حَازِنَا رَوْعًا عَلَی افْتِرَاقِ مَنْ قَدْ أَحْصَنَا… يَا شْيْخَنَا ‘Ainul muhibbi biddumuu’i haazinaa Rou’an ‘alaa-ftirooqi man qod ahshonaa (Yaa Syaikhonaa) Mata penuh cinta dipenuhi air mata, sedih karena akan berpisah dari sosok yang memberi (kemuliaan) pada kami (wahai guru kami) رَوَضَّنَا بِأُسْوَةٍ مَحَاسِنَا شَرَفَهُ اللهُ فِی جَوَارِ نَبِيِّنَا… يَا رَبَّنَا Rowwadlonaa bi uswatin muhaasinan Syarrofahullaahu fii jiwaar nabiyyinaa (Yaa Robbanaa) Beliau mengajari kami dengan teladan-teladan yang baik, Semoga Allah memuliakannya berada bersama Nabi kami (wahai Tuhanku) وَنَتَبِعْ عَزْمَكْ وَکُنْتَ مُتْقِنَا أَرِحْ وَنَوْمًا گالعْرُوْسِ آمِنَا… يَا شَيْخَنَا Wa nattabi’ ‘azmak wa kunta mutqinaa Arih wa nauman kal ‘aruusi aaminaa (Yaa Syaikhonaa) Kami tunduk akan kehendakMu dan kau sosok yang dipatuhi, beristirahatlah dan tidurlah dengan tenang bak pengantin (wahai guru kami) فَاعْفُ إِذَا لَمْ تَرْضَ مِنْ أَعْمَانِنَا دَوْمًا دُعَاءً رَبَّنَا اغْفِرْ شَيْخَنَا… يَا رَبَّنَا Fa’fu idzaa lam tardlo min a’maaninaa Dauman du’aa-an robbanaa-ghfir syaikhonaa (Yaa Robbanaa) Maafkan kami bila ada yg tidak berkenan dihati selama masa belajar kami, kami senantiasa berdoa: Ya Tuhanku ampunilah guru kami (wahai Tuhanku) كُلُّ الْقُلُوْبِ اِلاَّلْحَبِيْبِى تَمِيْلُ * وَمَعِى بِذَلِكَ شَاهِدٌ وَدَلِيْلُ اَمّاَ الدَّلِيْلُ اِذَا ذَكَرْتُ مُحَمَّدًا * صَارَتْ دُمُوْعُ العَاشِقِيْنَ تَسِيْلُ

Ya Syaikhona – Lirik Sholawat, Latin dan Terjemahnya

Kalam Ulama - TEKS SHOLAWAT DAN TERJEMAH YA SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ya Syaikhona Ma’as-salaamah fii amaanih...
KalamUlam.com - Kajian Maulid Diba #13 Fahtazzal arsyu tharaban was-tibsyâra, Waz-dâdal kursiyyu haibatan wa waqâra,  Wam-tala-atis samâwâtu anwâra, wa dhaj-jatil mala-ikatu tahlîlan wa tanjîdan was-tighfâra اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ [irp posts="933" name="Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam"]  Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf. Demikian pembahasan fasal fahtazzal arsyu      

Fahtazzal Arsyu – Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (03)

KalamUlam.com - Fasal Fahtazzal Arsyu ini merupakan fasal yang begitu luar biasa. Karena didalam fasal ini diceritakan bagaiamana kemulian Nabi Muhammad dan semua alam menyambut...
KalamUlama.com - Shalawat Assalamualaika Zainal Anbiya dan Terjemahannya هذه القصده السلام عليك (1) ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ السلام عليك زينالأنبيآء ، السلام عليك Assalamualaika Zainal anbiya (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Nabi yang paling mulia السلام عليك أتقی الأتقيآء ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Atqool atqiyaa-i (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang yang bertaqwa السلام عليك أصفی الأصفيآء ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Ashfal ashfiyaa-i (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang sufi السلام عليك أزگی الأزکيآء ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Azkaal azkiyaa-i (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang yang suci السلام عليك أحمد ياحبيبی ، السلام عليك Assalaamu‘alaika Ahmad Yaa Habiibii (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Ahmad wahai kekasihku السلام عليك طه ياطبيبى ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Thooha yaa thobiibii (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Thooha wahai pelipur hatiku السلام عليك يا مسکی وطيبی ، السلام عليك Assalaamu‘alaika yaa miskii wa thiibii (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai keharumanku dan pewangi hatiku السلام عليك أحمد يا محمد ، السلام عليك Assalaamu‘alaika Ahmad Yaa Muhammad (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Ahmad wahai Muhammad السلام عليك يا جالی الکروب ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika yaa jaalil kuruubi (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai yang menghindarkan bencana-bencana السلام عليك ياوجه الجميل ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika yaa wajhal jamiili (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera Atas Nabi yang memiliki kharisma dan wajah yang indah السلام عليك يابدر التمام ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika yaa badrot-tamaami (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai bulan purnama yang terang benderang السلام عليك يانور الظلام ، السلام عليك Assalaamu‘alaika yaa nuurodh-dholaami (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai cahaya yang menerangi kegelapan السلام علی المقدم بالإمامة ، السلام عليك Assalaamu‘alaal muqoddami bil imaamah (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Nabi yang paling mulia السلام علی المظلل بالغمامة ، السلام عليك Assalaamu ‘alaal mudhollali bil ghomaamah (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera atas pemimpin yang terkemuka السلام علی المبشر بالسلامة ، السلام عليك Assalaamu‘alaal mubassyiri bissalaamah (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera atas pemberi kabar gembira dengan keselamatan السلام علی المشفع بالقيامه ، السلام عليك Assalaamu‘alaal musyaffa’i bil qiyaamah (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera atas Pemberi Syafaat pada hari kiamat --------------------------------------- Subscribe Youtube Kalam Ulama Official

Assalamualaika Zainal Anbiya Latin dan Terjemahannya

KalamUlama.com  - Shalawat Assalamualaika Zainal Anbiya dan Terjemahannya هذه القصده السلام عليك (1) ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ السلام عليك زينالأنبيآء ، السلام عليك Assalamualaika Zainal anbiya...