Home Tanya Jawab Islam

Tanya Jawab Islam

Kalam Ulama - ZIKIR BERJAMA'AH DAN MENGGERAK-GERAKKAN BADAN Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum zikir berjamaah? Sebagian jamaah majelis zikir sampai menggerak-gerakkan badannya saat berzikir, bahkan ada yang sampai berdiri dan lompat. Mohon pencerahan. Jawaban: Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Berkumpul untuk berzikir hukumnya sunah. Sebagian firman Allah SWT dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim, beliau mengatakan: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَاللَّفْظُ لِأَبِي كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib –dan lafadz ini milik Abu Kuraib– mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah 'Azza Wa Jalla berfirman: Bagi hamba-Ku adalah sebagaimana perasangkanya kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan (yakni jamaah) orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya (yakni jamaah malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." Hadis-hadis mengenai kesunahan berkumpul untuk berzikir mencapai buah 26 hadis. Patut untuk dikatakan mutawatir dan tidak pantas menerima takwil. Al-Hafidz As-Suyuti mengumpulkan dalam risalah beliau yang berjudul: Natijatul Fikr Fil Jahri Bizzikr. Kitab ini sudah telah ditahqiq oleh Al-Hafidz Abdullah ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Idrisi Al-Hasani dan dicetak. Kitab ini sangat bermanfaat dalam masalah ini. Adapun menggerak-gerakkan badan, berdiri, dan melompat, atau yang biasa diistilahkan oleh para sufi dengan tamayul saat berzikir adalah sesuatu yang mubah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Madinah Dimasyqi: أخبرنا أبو القاسم أخبرنا رشا أخبرنا الحسن أخبرنا أحمد ح أخبرنا أبو محمد بن طاوس أخبرنا أبو الحسن علي بن محمد بن محمد الخطيب أخبرنا أبو عبد الله أحمد بن محمد بن يوسف العلاف أخبرنا أبو علي بن صفوان، قالا: أخبرنا أبو بكر بن أبي الدنيا أخبرنا علي بن الجعد أخبرني عمرو شمر حدثني إسماعيل السدي قال: سمعت أبا أراكة، وفي حديث أبي القاسم عن السدي عن أبي أراكة، قال: ... فإذا أصبحوا فذكروا الله مادوا كما يميد الشجر في يوم الريح، وهملت أعينهم حتى تبلّ ثيابهم. Mengabarkan kepada kami Abul Qasim, mengabarkan kepada kami Rasya, mengabarkan kepada kami Al-Hasan, mengabarkan kepada kami Ahmad. Dari jalur yang lain, mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Thawus, mengabarkan kepada kami Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib, mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Yusuf Al-Allaf, mengabarkan kepada kami Abu Ali bin Shafwan. Keduanya, yakni Ahmad dan Abu Ali bin Shafwan berkata: Mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin Abiddunya, mengabarkan kepada kami Ali bin Ja'd, mengabarkan kepada kami Amr bin Syamr, menceritakan kepadaku Ismail As-Saddi, ia berkata: Aku telah mendengar Abu Arakah. Dalam riwayat Abul Qasim: Dari As-Saddi dari Abu Arakah. Beliau, Abu Arakah, berkata: ... Tatkala mereka memasuki pagi mereka berzikir kepada Allah dengan bergoyang seperti goyangnya pohon di musim angin, mata mereka menangis hingga membasahi baju mereka. Sebagai kesimpulan, sunnah hukumnya berkumpul untuk berzikir bersama-sama. Mubah hukumnya berzikir dengan menggerak-gerakkan badan, baik dengan berdiri, melompat, atau yang lainnya selama menjaga adab. Demikian, wallahu a'lam. Maroko, 8 Januari 2019 Adhli Al-Qarni

BAGAIMANA HUKUM ZIKIR BERJAMA’AH DAN MENGGERAK-GERAKKAN BADAN

Kalam Ulama - ZIKIR BERJAMA'AH DAN MENGGERAK-GERAKKAN BADAN Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum zikir berjamaah? Sebagian jamaah majelis zikir sampai menggerak-gerakkan badannya saat berzikir, bahkan...

Tanya Jawab #06 “Suami Minum ASI”

Pertanyaan : Beberapa hari lalu sempat didiskusikan perihal seorang suami yang "meminum" ASI. Apakah lantas istrinya menjadi mahram ibu susuan? Jawaban : Jawabannya adalah tidak. Berdasarkan: ﻋﻦ ﺃﻡ...
Kalam Ulama - Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakah boleh Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho' Ramadhan, Bolehkan? Mohon jawabannya. Terima kasih. Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sayyidina Abu Ayyub Al-Anshari radliyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ» "Barangsiapa yang berpuasa ramadan kemudian mengikutkan puasa tersebut dengan (puasa) enam hari di bulan syawal, maka ia seperti telah melakukan puasa selama setahun penuh." Baca Juga : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim? Berdasarkan hadis ini, disunahkan bagi setiap muslim untuk berpuasa enam hari di bulan syawal selepas ramadan demi mendapatkan pahala yang agung ini. Adapun mengenai hukum menggabungkan niat puasa sunnah enam hari di bulan syawal, baik sebagian maupun seluruhnya, dengan puasa ganti (atau dalam istilah fikih disebut qada) ramadan, maka hukumnya boleh. Seorang muslim boleh menggabungkan niat puasa wajib dan puasa sunah sekaligus, dan ia mendapatkan dua pahala dengan niatnya itu. Al-Hafidz As-Suyuthi rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitab Al-Asybah Wannadzair halaman 22 mengenai hadis tentang menggabungkan beberapa niat: [صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَة مَثَلًا قَضَاء أَوْ نَذْرًا، أَوْ كَفَّارَة، وَنَوَى مَعَهُ الصَّوْم عَنْ عَرَفَة؛ فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ، وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا، قَالَ: وَكَذَا إنْ أَطْلَقَ، فَأَلْحَقَهُ بِمَسْأَلَةِ التَّحِيَّةِ] اهـ. "Puasa arafah contohnya, ia berniat qada ramadan, puasa nazar, atau kafarat, lantas ia berniat bersama dengan niat itu untuk berpuasa sunah arafah, maka menurut fatwa Al-Barizi hal ini hukumnya sah dan ia telah mendapat pahala keduanya. Hal ini berlaku secara umum, tidak hanya terbatas dalam masalah tahiyat." Maksud dari masalah tahiyat adalah salat dua rakaat tahiyatul masjid. Begitu pula menurut pendapat Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari rahimahullahu ta'ala dalam kitab Fathul Wahhab Bisyarhi Minhajuth Thullab juz 1 halaman 67: [وتحصل بركعتين -فأكثر-] اهـ. "Maka ia telah mendapatkan pahala dua rakaat." Maksudnya, orang tersebut telah mendapatkan keutamaan dua rakaat tahiyatul masjid walaupun ia sedang melaksanakan salat fardu atau salat sunah lainnya, baik ia meniatkan keduanya sekaligus ataupun tidak. Berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim: «إذا دخل أحدُكم المسجدَ فلا يجلس حتى يصلي ركعتين» "Jika salah seorang diantara kalian telah masuk ke dalam masjid maka janganlah ia duduk hingga ia salat dua rakaat." Maksud dari hadis ini adalah mengerjakan salat sebelum duduk, dan orang tersebut sudah mengerjakan hal tersebut walau tidak mengkhususkan untuk tahiyatul masjid. Ulamapun menjadikan hal tersebut sebagai dalil bolehnya mengikutkan puasa sunah di bawah puasa fardu, tetapi tidak boleh sebaliknya, yakni mengikutkan puasa fardu di bawah puasa sunah. Oleh karena itu, boleh bagi seorang wanita muslim untuk melaksanakan qada ramadan di bulan syawal dan mencukupi baginya puasa qada ramadan tersebut sebagai puasa sunah enam hari di bulan syawal juga. Ia mendapatkan dua pahala sekaligus, sebab perbuatannya yang melaksanakan qada ramadan di bulan syawal tersebut. Baca Juga : Kapan Seorang Musafir Boleh Sholat Jamak dan Qashar? Walau seperti itu, tetap yang paling sempurna dan utama adalah mengerjakan keduanya secara terpisah, baik itu qada ramadan terlebih dahulu kemudian puasa sunah syawal atau sebaliknya. Walaupun ia telah mendapatkan pahala keduanya, tidak berarti ia telah mendapatkan pahala yang sempurna. Ia hanya mendapatkan pahala puasa ramadan satu bulan dan pahala puasa syawal enam hari saja, ia tidak mendapat pahala puasa setahun penuh seperti yang dijanjikan dalam hadis. Senada dengan ungkapan Al-Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj juz 3 halaman 209: [وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى تَبَعًا لِلْبَارِزِيِّ وَالْأَصْفُونِيِّ وَالنَّاشِرِيِّ وَالْفَقِيهِ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيِّ وَغَيْرِهِمْ، لَكِنْ لَا يَحْصُلُ لَهُ الثَّوَابُ الْكَامِلُ الْمُرَتَّبُ عَلَى الْمَطْلُوبِ] اهـ. "Dan jikalau berpuasa wajib di bulan syawal, baik qada ramadan, nazar, atau sejenisnya, atau ia melakukannya di hari asyura, maka ia telah mendapat pahala puasa sunah sekaligus. Sebagaimana yang telah difatwakan ayah kami rahimahullahu ta'ala, mengikut pendapat Al-Barizi, Al-Ushfuni, An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Shalih Al-Hadrami, dan lainnya, akan tetapi pahala yang sempurna hanya bagi mereka yang mengikuti tuntutan." Tuntutan (atau dalam istilah Al-Imam Ar-Ramli: mathlub) yang dimaksud adalah tuntutan perintah Nabi dalam hadis, yakni "mengikutkan" puasa ramadan dengan puasa enam hari di bulan syawal. Mengikutkan, bukan menggabungkan. Demikian jawaban kami. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam. Jakarta, 26 Juni 2018 @adhlialqarni Baca Juga : Kisah Habib Jakfar Alkaff Kudus : Menyuruh Beli Mobil Fortuner dengan Uang 400 Ribu

Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho’ Ramadhan, Bolehkan?

Kalam Ulama - Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakah boleh Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho' Ramadhan, Bolehkan? Mohon jawabannya. Terima kasih. Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Diriwayatkan oleh Imam...
Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Hukum Ucapan Selamat Natal, Bolehkah ? Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, Ustaz. Perkenalkan, saya seorang mahasiswa di salah satu kampus negeri. Sebagaimana kita ketahui, sebagai mahasiswa kita banyak berinteraksi dengan berbagai kalangan, termasuk non-muslim. Seringkali mereka mengucapkan selamat atas hari raya kita. Nah, apakah boleh kita juga berbuat sebaliknya, yakni mengucapkan selamat atas hari raya mereka? Mohon penjelasannya, terima kasih. (Hamba Allah – Bogor) Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Terima kasih atas pertanyaan anda. Mungkin hal yang sama dirasakan oleh saudara-saudara kita yang lain. Adapun jawaban kami sebagai berikut. Allah ta'ala memerintahkan kita untuk mengucapkan kata-kata yang baik kepada seluruh manusia, muslim maupun non-muslim. Allah berfirman: ﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾ [البقرة: ٨٣] "Dan bertuturkatalah yang baik pada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83) (Baca juga: Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya?) Syaikh 'Alisy dalam kitab Fathul 'Aly Al-Malik juz 2 halaman 349 tentang pembahasan: Ucapan selamat kepada non-muslim, apakah menyebabkan pengucapnya murtad? Beliau mengatakan: [لا يرتد الرجل بقوله لنصراني: أحياك الله لكل عام؛ حيث لم يقصد به تعظيم الكفر ولا رضي به] "Seseorang tidak murtad dengan perkataannya pada seorang nasrani: Ahyakallah Likulli 'Am (secara bahasa bermakna: Semoga Allah menghidupkanmu sepanjang tahun), selama tidak bermaksud untuk mengagungkan kekafiran atau rida kepadanya." Syaikh Al-Hithab Al-Maliki dalam Mawahibul Jalil Fi Syarhi Mukhtashar Khalil menukil perkataan Imam Al-'Izz Bin Abdissalam Asy-Syafi'i saat beliau ditanya tentang seorang muslim yang berkata kepada seorang kafir dzimmi pada hari raya mereka: Selamat hari raya untukmu. Apakah muslim tersebut kafir atau tidak? Maka beliau menjawab: [إن قاله المسلم للذمي على قصد تعظيم دينهم وعيدهم فإنه يكفر، وإن لم يقصد ذلك وإنما جرى ذلك على لسانه فلا يكفر لما قاله من غير قصد] اهـ. "Jika perkataan seorang muslim kepada sang dzimmi tersebut bermaksud untuk mengagungkan agama dan hari raya mereka, maka ia telah kafir. Jikalau ia tidak bermaksud seperti itu maka ia tidak kafir atas perkataannya tersebut." Maka dapat disimpulkan bahwa dibolehkan bagi seorang muslim mengucapkan selamat kepada non-muslim atas hari raya mereka selama tidak bermaksud untuk mengagungkan agama dan hari raya mereka atau rida atas kekafiran mereka. Demikian jawaban kami. Semoga bermanfaat. Bogor, Rabiul Akhir 1439 oleh : Ustadz @adhlialqarni

Hukum Ucapan Selamat Natal, Bolehkah?

Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Hukum Ucapan Selamat Natal, Bolehkah ? Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, Ustaz. Perkenalkan, saya seorang mahasiswa di salah satu kampus negeri. Sebagaimana kita...
Kalam Ulama - Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana? Menghadap ke kiblat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﺑﻦ ﺣﺎﺭﺙ اﻟﺴﻠﻤﻲ، «ﺃﻧﻪ ﻏﺰا ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺛﻼﺙ ﻏﺰﻭاﺕ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﻟﻨﺎ: ﺇﺫا ﺩﻓﻨﺘﻤﻮﻧﻲ ﻭﺭﺷﺸﺘﻢ ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻱ اﻟﻤﺎء ﻓﻘﻮﻣﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻱ ﻭاﺳﺘﻘﺒﻠﻮا اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭاﺩﻋﻮا ﻟﻲ». Dari Hakam bin Harits As-Sulami bahwa ia berperang bersamaan dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebanyak 3x perang. Hakam berkata: "Jika kalian menguburku dan menyiram kuburku dengan air, maka berdirilah di atas kuburku, menghadaplah ke kiblat dan doakan untukku" ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ، ﻭﻓﻴﻪ ﻋﻄﻴﺔ اﻟﺪﻋﺎء، ﻭﻟﻢ ﺃﻋﺮﻓﻪ. Hadis riwayat Thabrani dalam Al-Kabir di dalamnya ada Athiyyah Dua', saya tidak tahu tentang dirinya (Majma' Az-Zawaid) .Berhadapan Dengan Wajah Mayit Imam Al-Ghazali berkata: ﻭاﻟﻤﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ ﺯﻳﺎﺭﺓ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﺃﻥ ﻳﻘﻒ ﻣﺴﺘﺪﺑﺮ اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻣﺴﺘﻘﺒﻼ ﺑﻮﺟﻬﻪ اﻟﻤﻴﺖ Dianjurkan saat ziarah kubur untuk berdiri membelakanginya kiblat seraya menghadapkan wajahnya ke arah mayit (Ihya' Ulumiddin, 4/491).

Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana?

Kalam Ulama - Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana? Menghadap ke kiblat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﺑﻦ ﺣﺎﺭﺙ اﻟﺴﻠﻤﻲ، «ﺃﻧﻪ ﻏﺰا ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ...
KalamUlama.com - Tanya Jawab Islam : Lebih Utama Mana Sedekah Atau Haji-Umroh (Sunah) Berulang Kali? Saat ngaji bersama para "eksekutif muda" Supervisor Telkomsel ada yang bertanya lebih utama mana orang yang umroh berkali kali ataukah dananya dibuat untuk sedekah membantu orang miskin? Pilihan keduanya adalah antara baik dan lebih baik. Ketika "mana yang lebih baik", maka para ulama memberi perincian. Misalnya dalam madzhab Maliki disebutkan: ﻭاﻟﺤﺞ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ اﻟﺼﺪﻗﺔ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﻣﺠﺎﻋﺔ Haji lebih utama dari pada sedekah, kecuali di tahun kelaparan (Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah 6/290) Pendapat ini didasarkan pada peristiwa Abdullah bin Al Mubarak yang hendak akan berangkat haji namun di perjalanan ia menjumpai seorang wanita yang mengais makanan berupa bangkai burung di tempat sampah. Beliau katakan bahwa memberikan uang untuk orang tersebut lebih utama dari pada perjalanan haji ini. Kemudian beliau kembali dan haji pada tahun berikutnya (Al-Bidayah wa Al-Nihayah 10/178) Baca Juga :Keutamaan Bersedekah Menjadikan Harta Bertambah Berkah Dalam pandangan sebagian ulama Syafi'iyah ada pendapat yang mengisyaratkan bahwa orang shaleh yang kaya raya namun kurang memperhatikan kebutuhan orang-orang miskin dinilai sebagai "kekurangpekaan" terhadap sosial: ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻤﻦ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﻔﻘﺘﻪ اﻟﺰﻭﺟﺔ، ﻭاﻟﻘﺮﻳﺐ، ﻭاﻟﻤﻤﻠﻮﻙ اﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻟﺨﺪﻣﺘﻪ، ﻭﺃﻫﻞ اﻟﻀﺮﻭﺭاﺕ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻗﺎﺭﺑﻪ ﻟﻤﺎ ﺫﻛﺮﻭﻩ ﻓﻲ اﻟﺴﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺩﻓﻊ ﺿﺮﻭﺭاﺕ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﺈﻃﻌﺎﻡ ﺟﺎﺋﻊ، ﻭﻛﺴﻮﺓ ﻋﺎﺭ، ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻣﻠﻚ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺳﻨﺔ. ﻭﻗﺪ ﺃﻫﻤﻞ ﻫﺬا ﻏﺎﻟﺐ اﻟﻨﺎﺱ، ﺣﺘﻰ ﻣﻦ ﻳﻨﺘﻤﻲ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺡ "[Orang haji wajib memberikan bekal untuk keluarga yang ditinggalkannya saat ke tanah suci], yaitu meliputi keluarga yang wajib dinafkahi, istri, kerabat, budak yang menjadi pelayannya dan orang-orang Islam yang sangat membutuhkan meskipun bukan kerabatnya. Seperti yang telah disampaikan oleh para ulama dalam Bab Jihad bahwa menghilangkan beban hidup umat Islam seperti memberi makan, pakaian dan lainnya adalah wajib bagi orang kaya yang memiliki ,(dana) makanan lebih banyak dari 1 tahun. Hal ini kurang diperhatikan oleh kebanyakan orang termasuk orang yang dianggap shaleh" (Syekh Dimyathi Syatha, Ianat Ath-Thalibin 2/319). Demikian penjelasan keutamaan sedekah, haji, umroh. semoga bermanfaat Oleh : Ustadz Ma'ruf Khozin (Ketua ASWAJA CENTER PWNU Jawa Timur) Baca Juga : One Day One Hadits #6: Sedekah dari Harta Haram

Lebih Utama Mana Sedekah Atau Haji/Umroh (Sunah) Berulang Kali?

KalamUlama.com - Tanya Jawab Islam : Lebih Utama Mana Sedekah Atau Haji-Umroh (Sunah) Berulang Kali? Saat ngaji bersama para "eksekutif muda" Supervisor Telkomsel ada yang...
Serba Serbi Islam (Kalam Ulama) Dzikir Dengan Tasbih. Adakah dasar ijtihadnya? Apakah tidak tasyabbuh dengan agama lain? Mufti al-Azhar, Syekh Athiyah Shaqr menajawab dengan dalil sangat panjang, namun saya ringkas sebagai berikut: ﻭﺇﻟﻰ ﺟﺎﻧﺐ ﺇﻗﺮاﺭ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻬﺬا اﻟﻌﻤﻞ ﻭﻋﺪﻡ اﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ، اﺗﺨﺬ ﻋﺪﺩ ﻣﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭاﻟﺴﻠﻒ اﻟﺼﺎﻟﺢ اﻟﻨﻮﻯ ﻭاﻟﺤﺼﻰ ﻭﻋﻘﺪ اﻟﺨﻴﻂ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻭﺳﻴﻠﺔ ﻟﻀﺒﻂ اﻟﻌﺪﺩ ﻓﻰ اﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻴﻬﻢ Disamping Nabi menyetujui terhadap Sahabat yang membaca tasbih dengan batu kecil [HR Abu Dawud] serta Nabi tidak mengingkarinya, ternyata ada banyak Sahabat dan ulama Salaf yang menjadikan batu, kerikil dan pintalan tali sebagai sarana untuk menghitung bacaan tasbih, dan mereka tidak mengingkarinya. (Baca Juga : 10 Jaminan Penggemar Bagi Sholawat Nabi Muhammad SAW) ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺃﺣﻤﺪ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ اﻟﺰﻫﺪ ﺃﻥ ﺃﺑﺎ اﻟﺪﺭﺩاء ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻧﻮﻯ ﻣﻦ ﻧﻮﻯ اﻟﻌﺠﻮﺓ ﻓﻰ ﻛﻴﺲ، ﻓﺈﺫا ﺻﻠﻰ اﻟﻐﺪاﺓ - اﻟﺼﺒﺢ - ﺃﺧﺮﺟﻬﻦ ﻭاﺣﺪﺓ ﻭاﺣﺪﺓ ﻳﺴﺒﺢ ﺑﻬﻦ ﺣﺘﻰ ﻳﻨﻔﺪﻥ. Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam az-Zuhd bahwa Sahabat Abu Darda' memiliki biji Ajwa' dalam sebuah wadah. Jika beliau selesai salat Subuh maka ia mengeluarkannya satu persatu dengan membaca Tasbih hingga habis ﻭﺃﻗﻮﻝ: ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: "ﻭاﻋﻘﺪﻥ ﺑﺎﻷﻧﺎﻣﻞ ﻓﺎﻧﻬﻦ ﻣﺴﺌﻮﻻﺕ ﻣﺴﺘﻨﻄﻘﺎﺕ " ﻓﺈﻥ ﺣﺒﺎﺕ اﻟﻤﺴﺒﺤﺔ ﻻ ﺗﺤﺮﻛﻬﺎ ﻓﻰ ﻳﺪ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﻻ اﻷﻧﺎﻣﻞ، ﻭﻫﻰ ﺳﺘﺴﺄﻝ ﻭﺗﺴﺘﻨﻄﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ ﻟﺘﺸﻬﺪ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺴﺒﺢ ﺑﻬﺎ Saya (Syekh Athiyah) katakan bahwa jika Nabi bersabda: "Hitunglah dzikir dengan jari-jari. Sebab ia akan ditanya dan diminta kesaksian" [HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi]. Maka, biji-biji tasbih tidaklah digerakkan kecuali dengan tangan. Maka ia akan ditanya dan dapat bicara disisi Allah agar menjadi saksi bahwa ia bertasbih. Jika memakai tasbih apa tidak menyerupai agama Hindu? Syekh Athiyah menjelaskan: ﻓﺎﻟﻔﺮﻗﺔ اﻟﺸﻴﻮاﺋﻴﺔ ﺳﺒﺤﺘﻬﺎ ﺃﺭﺑﻊ ﻭﺛﻤﺎﻧﻮﻥ ﺣﺒﺔ، ﻭاﻟﻔﺮﻗﺔ اﻟﻮﺷﻨﻮﻳﺔ ﺳﺒﺤﺘﻬﺎ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﺛﻤﺎﻥ ﺣﺒﺎﺕ Kekompok Shiwa tasbihnya sebanyak 84 biji. Aliran Wishnu tasbihnya adalah 108 biji. (Diringkas dari kitab Fatawa al-Azhar, 9/11) Sementara tasbih yang digunakan umat Islam adalah 99 atau 33. Dengan demikian tidak ada tasyabbuh dengan non Muslim. Oleh : Ustadz Ma'ruf Khozin, Pengasuh Kajian Aswaja Majalah AULA

Bagaimana Hukum Dzikir Dengan Tasbih?

Serba Serbi Islam (Kalam Ulama) Dzikir Dengan Tasbih. Adakah dasar ijtihadnya? Apakah tidak tasyabbuh dengan agama lain? Mufti al-Azhar, Syekh Athiyah Shaqr menajawab dengan dalil sangat panjang,...
Kajian al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam (9) : Amal dan Buahnya. "Beragamnya jenis amal-amal (yang dilakukan oleh para salik) itu disebabkan turunnya beragam warid (anugerah ilahiyah) pada ahwal-ahwal (kondisi pengalaman spiritualitas para salik)." تَـنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ اْلأَعْمَالِ لِـتَـنَوُّعِ وَارِدَاتِ اْلأَحْوَالِ Maqalah diatas menjelaskan bahwa tiap amal yang dilakukan oleh para salik memiliki warid yaitu anugerah ilahiyah yang dirasakan sehingga para salik akan merasakan pengalaman ruhani secara nyata. (Baca juga: Kajian Al-Hikam (8) : Terbukanya Pintu Mengenal Allah) Jadi semua amalan-amalan yang dilakukan oleh para salik seperti dzikir dan riyadhah mujahadah pasti memiliki efek positif secara ruhani yang akan dirasakan oleh para pengamalnya, sehingga menjadi pengalaman ruhani yg nyata dirasakan oleh para salik. Namun demikian, dalam mengamalkan semua amalan niatnya harus semata2 karena Allah dan dilakukan secara istiqomah. Dengan demikian, para salik akan merasakan pengalaman spiritual yaitu warid ilahiyah sebagai buah atas keistiqomahan dan keikhlasan dalam amaliahnya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam berjalan menuju perjumpaan-Nya. Oleh : Dr. KH. Ali M Abdillah, MA

Hukum Membuka Aurat Saat Berwudlu, Bolehkah?

Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Hukum Membuka Aurat Saat Berwudlu, Bolehkah? Hukumnya adalah makruh, seperti yang disampaikan oleh Ulama Madzhab Malikiyah: اﻟﺮاﺑﻌﺔ: ﻟﻢ ﻳﺘﻌﺮﺽ ﻟﻤﻜﺮﻭﻫﺎﺗﻪ...

Ke Arah Mana Imam Menghadap Setelah Salat?

Hadis I Menghadap ke Timur (Berhadapan dengan Jemaah) Sebagian imam dari umat Islam menghadap ke arah jemaah setelah salat (ke timur) dengan dalil hadis: ﻋﻦ ﺳﻤﺮﺓ...
Tanya Jawab Islam : Hukum Hari Ibu, Menyerupai Orang Kafir? (Kalam Ulama). Dalam banyak hal kita memang diperintahkan oleh Nabi kita, Sayyidina Muhammad shalallahu alaihi wasallam agar tidak sama dengan orang di luar agama kita, khususnya Yahudi dan Nasrani. Misalkan masalah Salam seperti dalam hadis berikut: «ﻟﻴﺲ ﻣﻨﺎ ﻣﻦ ﺗﺸﺒﻪ ﺑﻐﻴﺮﻧﺎ، ﻻ ﺗﺸﺒﻬﻮا ﺑﺎﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﻻ ﺑﺎﻟﻨﺼﺎﺭﻯ، ﻓﺈﻥ ﺗﺴﻠﻴﻢ اﻟﻴﻬﻮﺩ اﻹﺷﺎﺭﺓ ﺑﺎﻷﺻﺎﺑﻊ، ﻭﺗﺴﻠﻴﻢ اﻟﻨﺼﺎﺭﻯ اﻹﺷﺎﺭﺓ ﺑﺎﻷﻛﻒ» "Orang yang menyerupai dengan selain kami bukanlah termasuk golongan kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani. Salam orang Yahudi adalah dengan isyarat jari. Dan salam orang Nasrani adalah isyarat dengan telapak tangan" (HR Tirmidzi) Baca juga Hukum Ucapan Selamat Natal, Bolehkah? Lalu apakah setiap ada kesamaan dengan agama harus ditinggalkan? Tidak juga, ulama kita memberikan 2 kriteria Tasyabuh yang tidak diperbolehkan. Syekh Ibnu Najim Al-Misri dari Madzhab Hanafi berkata: ﺛﻢ اﻋﻠﻢ ﺃﻥ اﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﺑﺄﻫﻞ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﻲء ﻭﺇﻧﺎ ﻧﺄﻛﻞ ﻭﻧﺸﺮﺏ ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻮﻥ ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺤﺮاﻡ ﻫﻮ اﻟﺘﺸﺒﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺬﻣﻮﻣﺎ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﻳﻘﺼﺪ ﺑﻪ اﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻛﺬا ﺫﻛﺮﻩ ﻗﺎﺿﻲ ﺧﺎﻥ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ اﻟﺠﺎﻣﻊ اﻟﺼﻐﻴﺮ ﻓﻌﻠﻰ ﻫﺬا ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ اﻟﺘﺸﺒﻪ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﻋﻨﺪﻫﻤﺎ "Ketahuilah bahwa Tasyabuh (menyerupai) dengan Ahli kitab tidak makruh dalam semua hal. Kita makan dan minum, mereka juga melakukan hal itu. Keharaman dalam tasyabuh adalah (1) Sesuatu yang tercela (2) Kesengajaan meniru mereka. Sebagaimana disampaikan oleh Qadli Khan dalam Syarah Jami' Shaghir. Dengan demikian jika tidak bertujuan menyerupai ahli kitab maka tidak makruh" (Al-Bahr Ar-Raiq 2/11) Ketentuan kita melakukan sebuah peringatan disampaikan oleh Mufti Al-Azhar, Syekh Athiyyah Shaqr: ﻓﺎﻟﺨﻼﺻﺔ ﺃﻥ اﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺄﻳﺔ ﻣﻨﺎﺳﺒﺔ ﻃﻴﺒﺔ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ﻣﺎ ﺩاﻡ اﻟﻐﺮﺽ ﻣﺸﺮﻭﻋﺎ ﻭاﻷﺳﻠﻮﺏ ﻓﻰ ﺣﺪﻭﺩ اﻟﺪﻳﻦ Kesimpulan, peringatan dengan momen apapun yang baik, adalah boleh. Selama tujuan dibenarkan dan pelaksanaan berada dalam koridor agama (Fatawa Al-Azhar) Kita pun telah tahu bahwa tujuan dalam hari Ibu adalah hal yang dibenarkan dalam Islam. Cara melaksanakan hal tersebut juga berupa sedekah, jamuan, dan cara lain yang tidak sampai melanggar hukum Islam. Menurut Syekh Ali Jum'ah, merayakan hari ibu hukumnya boleh. Karena hukum asalnya menghormati ibu adalah perkara baik.  Al Bayan Hal : 58 Lissayyid Doktor Ali Jum'ah ﻣﺎ ﺣﻜﻢ الإﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﻌﻴﺪ الأم ؟ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : - ﺍﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ - ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻓﺈﻥ الإحتفال ﺑﻌﻴﺪ الأم ﺃﻣﺮ ﺟﺎﺋﺰ ﺷﺮﻋﺎ ﻻ ﻣﺎﻧﻊ ﻣﻨﻪ ولا ﺣﺮﺝ ﻓﻴﻪ ﻭﺍﻟﻔﺮﺡ ﺑﻤﻨﺎﺳﺒﺎﺕ ﺍﻟﻨﺼﺮ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﺟﺎﺋﺰ ﻛﺬﻟﻚ . ﻭﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻤﺮﺩﻭﺩﺓ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻲ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻋﻠﻰ ﺧﻼﻑ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﺷﻬﺪ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻷﺻﻠﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺮﺩﻭﺩﺍ ولا ﺇﺛﻢ ﻋﻠﻰ ﻓﺎﻋﻠﻪ ﻭﷲ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ

Tanya Jawab Islam : Hukum Hari Ibu, Apakah Menyerupai Orang Kafir?

Tanya Jawab Islam : Hukum Hari Ibu, Menyerupai Orang Kafir? (Kalam Ulama). Dalam banyak hal kita memang diperintahkan oleh Nabi kita, Sayyidina Muhammad shalallahu alaihi...