Home Tanya Jawab Islam

Tanya Jawab Islam

KalamUlama.com - Tanya Jawab Islam : Lebih Utama Mana Sedekah Atau Haji-Umroh (Sunah) Berulang Kali? Saat ngaji bersama para "eksekutif muda" Supervisor Telkomsel ada yang bertanya lebih utama mana orang yang umroh berkali kali ataukah dananya dibuat untuk sedekah membantu orang miskin? Pilihan keduanya adalah antara baik dan lebih baik. Ketika "mana yang lebih baik", maka para ulama memberi perincian. Misalnya dalam madzhab Maliki disebutkan: ﻭاﻟﺤﺞ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ اﻟﺼﺪﻗﺔ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﻣﺠﺎﻋﺔ Haji lebih utama dari pada sedekah, kecuali di tahun kelaparan (Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah 6/290) Pendapat ini didasarkan pada peristiwa Abdullah bin Al Mubarak yang hendak akan berangkat haji namun di perjalanan ia menjumpai seorang wanita yang mengais makanan berupa bangkai burung di tempat sampah. Beliau katakan bahwa memberikan uang untuk orang tersebut lebih utama dari pada perjalanan haji ini. Kemudian beliau kembali dan haji pada tahun berikutnya (Al-Bidayah wa Al-Nihayah 10/178) Baca Juga :Keutamaan Bersedekah Menjadikan Harta Bertambah Berkah Dalam pandangan sebagian ulama Syafi'iyah ada pendapat yang mengisyaratkan bahwa orang shaleh yang kaya raya namun kurang memperhatikan kebutuhan orang-orang miskin dinilai sebagai "kekurangpekaan" terhadap sosial: ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻤﻦ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﻔﻘﺘﻪ اﻟﺰﻭﺟﺔ، ﻭاﻟﻘﺮﻳﺐ، ﻭاﻟﻤﻤﻠﻮﻙ اﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻟﺨﺪﻣﺘﻪ، ﻭﺃﻫﻞ اﻟﻀﺮﻭﺭاﺕ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻗﺎﺭﺑﻪ ﻟﻤﺎ ﺫﻛﺮﻭﻩ ﻓﻲ اﻟﺴﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺩﻓﻊ ﺿﺮﻭﺭاﺕ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﺈﻃﻌﺎﻡ ﺟﺎﺋﻊ، ﻭﻛﺴﻮﺓ ﻋﺎﺭ، ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻣﻠﻚ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺳﻨﺔ. ﻭﻗﺪ ﺃﻫﻤﻞ ﻫﺬا ﻏﺎﻟﺐ اﻟﻨﺎﺱ، ﺣﺘﻰ ﻣﻦ ﻳﻨﺘﻤﻲ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺡ "[Orang haji wajib memberikan bekal untuk keluarga yang ditinggalkannya saat ke tanah suci], yaitu meliputi keluarga yang wajib dinafkahi, istri, kerabat, budak yang menjadi pelayannya dan orang-orang Islam yang sangat membutuhkan meskipun bukan kerabatnya. Seperti yang telah disampaikan oleh para ulama dalam Bab Jihad bahwa menghilangkan beban hidup umat Islam seperti memberi makan, pakaian dan lainnya adalah wajib bagi orang kaya yang memiliki ,(dana) makanan lebih banyak dari 1 tahun. Hal ini kurang diperhatikan oleh kebanyakan orang termasuk orang yang dianggap shaleh" (Syekh Dimyathi Syatha, Ianat Ath-Thalibin 2/319). Demikian penjelasan keutamaan sedekah, haji, umroh. semoga bermanfaat Oleh : Ustadz Ma'ruf Khozin (Ketua ASWAJA CENTER PWNU Jawa Timur) Baca Juga : One Day One Hadits #6: Sedekah dari Harta Haram

Lebih Utama Mana Sedekah Atau Haji/Umroh (Sunah) Berulang Kali?

KalamUlama.com - Tanya Jawab Islam : Lebih Utama Mana Sedekah Atau Haji-Umroh (Sunah) Berulang Kali? Saat ngaji bersama para "eksekutif muda" Supervisor Telkomsel ada yang...
Kalam Ulama - Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana? Menghadap ke kiblat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﺑﻦ ﺣﺎﺭﺙ اﻟﺴﻠﻤﻲ، «ﺃﻧﻪ ﻏﺰا ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺛﻼﺙ ﻏﺰﻭاﺕ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﻟﻨﺎ: ﺇﺫا ﺩﻓﻨﺘﻤﻮﻧﻲ ﻭﺭﺷﺸﺘﻢ ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻱ اﻟﻤﺎء ﻓﻘﻮﻣﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻱ ﻭاﺳﺘﻘﺒﻠﻮا اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭاﺩﻋﻮا ﻟﻲ». Dari Hakam bin Harits As-Sulami bahwa ia berperang bersamaan dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebanyak 3x perang. Hakam berkata: "Jika kalian menguburku dan menyiram kuburku dengan air, maka berdirilah di atas kuburku, menghadaplah ke kiblat dan doakan untukku" ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ، ﻭﻓﻴﻪ ﻋﻄﻴﺔ اﻟﺪﻋﺎء، ﻭﻟﻢ ﺃﻋﺮﻓﻪ. Hadis riwayat Thabrani dalam Al-Kabir di dalamnya ada Athiyyah Dua', saya tidak tahu tentang dirinya (Majma' Az-Zawaid) .Berhadapan Dengan Wajah Mayit Imam Al-Ghazali berkata: ﻭاﻟﻤﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ ﺯﻳﺎﺭﺓ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﺃﻥ ﻳﻘﻒ ﻣﺴﺘﺪﺑﺮ اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻣﺴﺘﻘﺒﻼ ﺑﻮﺟﻬﻪ اﻟﻤﻴﺖ Dianjurkan saat ziarah kubur untuk berdiri membelakanginya kiblat seraya menghadapkan wajahnya ke arah mayit (Ihya' Ulumiddin, 4/491).

Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana?

Kalam Ulama - Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana? Menghadap ke kiblat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﺑﻦ ﺣﺎﺭﺙ اﻟﺴﻠﻤﻲ، «ﺃﻧﻪ ﻏﺰا ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ...

Tanya Jawab #1 : Apakah tabarruk kekuburan ulama pernah dilakukan oleh Rasul SAW dan...

Pertanyaan: “Kak, izin bertanya, apakah Rosulullah melakukan ‘ngalap berkah’ ke kuburan orang sholeh terdahulu, seperti nabi sebelumnya ? Bagaimana dengan para shohabat ? Terimakasih.” (Anonim) Jawaban: Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillah....

Menjawab Gugatan: “Puasa Tarwiyah Dalilnya Hadis Palsu?”

Meski Tarwiyah telah lewat, namun sudah menjadi kebiasaan suka menyalahkan amaliah orang lain, itulah Salafi-Wahabi, yang ilmunya selalu meresahkan bagi umat Islam. Wajar saja...

Tanya Jawab #06 “Suami Minum ASI”

Pertanyaan : Beberapa hari lalu sempat didiskusikan perihal seorang suami yang "meminum" ASI. Apakah lantas istrinya menjadi mahram ibu susuan? Jawaban : Jawabannya adalah tidak. Berdasarkan: ﻋﻦ ﺃﻡ...
Kalam Ulama - ZIKIR BERJAMA'AH DAN MENGGERAK-GERAKKAN BADAN Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum zikir berjamaah? Sebagian jamaah majelis zikir sampai menggerak-gerakkan badannya saat berzikir, bahkan ada yang sampai berdiri dan lompat. Mohon pencerahan. Jawaban: Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Berkumpul untuk berzikir hukumnya sunah. Sebagian firman Allah SWT dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim, beliau mengatakan: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَاللَّفْظُ لِأَبِي كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib –dan lafadz ini milik Abu Kuraib– mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah 'Azza Wa Jalla berfirman: Bagi hamba-Ku adalah sebagaimana perasangkanya kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan (yakni jamaah) orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya (yakni jamaah malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." Hadis-hadis mengenai kesunahan berkumpul untuk berzikir mencapai buah 26 hadis. Patut untuk dikatakan mutawatir dan tidak pantas menerima takwil. Al-Hafidz As-Suyuti mengumpulkan dalam risalah beliau yang berjudul: Natijatul Fikr Fil Jahri Bizzikr. Kitab ini sudah telah ditahqiq oleh Al-Hafidz Abdullah ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Idrisi Al-Hasani dan dicetak. Kitab ini sangat bermanfaat dalam masalah ini. Adapun menggerak-gerakkan badan, berdiri, dan melompat, atau yang biasa diistilahkan oleh para sufi dengan tamayul saat berzikir adalah sesuatu yang mubah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Madinah Dimasyqi: أخبرنا أبو القاسم أخبرنا رشا أخبرنا الحسن أخبرنا أحمد ح أخبرنا أبو محمد بن طاوس أخبرنا أبو الحسن علي بن محمد بن محمد الخطيب أخبرنا أبو عبد الله أحمد بن محمد بن يوسف العلاف أخبرنا أبو علي بن صفوان، قالا: أخبرنا أبو بكر بن أبي الدنيا أخبرنا علي بن الجعد أخبرني عمرو شمر حدثني إسماعيل السدي قال: سمعت أبا أراكة، وفي حديث أبي القاسم عن السدي عن أبي أراكة، قال: ... فإذا أصبحوا فذكروا الله مادوا كما يميد الشجر في يوم الريح، وهملت أعينهم حتى تبلّ ثيابهم. Mengabarkan kepada kami Abul Qasim, mengabarkan kepada kami Rasya, mengabarkan kepada kami Al-Hasan, mengabarkan kepada kami Ahmad. Dari jalur yang lain, mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Thawus, mengabarkan kepada kami Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib, mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Yusuf Al-Allaf, mengabarkan kepada kami Abu Ali bin Shafwan. Keduanya, yakni Ahmad dan Abu Ali bin Shafwan berkata: Mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin Abiddunya, mengabarkan kepada kami Ali bin Ja'd, mengabarkan kepada kami Amr bin Syamr, menceritakan kepadaku Ismail As-Saddi, ia berkata: Aku telah mendengar Abu Arakah. Dalam riwayat Abul Qasim: Dari As-Saddi dari Abu Arakah. Beliau, Abu Arakah, berkata: ... Tatkala mereka memasuki pagi mereka berzikir kepada Allah dengan bergoyang seperti goyangnya pohon di musim angin, mata mereka menangis hingga membasahi baju mereka. Sebagai kesimpulan, sunnah hukumnya berkumpul untuk berzikir bersama-sama. Mubah hukumnya berzikir dengan menggerak-gerakkan badan, baik dengan berdiri, melompat, atau yang lainnya selama menjaga adab. Demikian, wallahu a'lam. Maroko, 8 Januari 2019 Adhli Al-Qarni

BAGAIMANA HUKUM ZIKIR BERJAMA’AH DAN MENGGERAK-GERAKKAN BADAN

Kalam Ulama - ZIKIR BERJAMA'AH DAN MENGGERAK-GERAKKAN BADAN Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum zikir berjamaah? Sebagian jamaah majelis zikir sampai menggerak-gerakkan badannya saat berzikir, bahkan...
APAKAH ABU THALIB PAMAN NABI SAW, WAFAT DALAM KEKAFIRAN ATAU KEIMANAN ? JAWABAN : و الثالث : أبو طالب ، و أمه فاطمة بنت عمرو بن عابد ، و هي أم عبدالله أبي رسول الله صاى الله عليه و سلم . Artinya : Dan paman Nabi SAW yang ketiga ( 3 ) adalah : Abu Thalib, dan ibunya adalah Fatimah binti Amru bin Abid, dan beliau juga ibu dari Abdullah ayahanda Rasulullah SAW. و الصحيح : أنه مات كافرًا ، و اسمه عبد مناف ، و أما أبو طالب .. فهو كنيته ، و قيل : اسمه كنيته . Artinya : Dan menurut pendapat yang sahih : Sesungguhnya Abu Thalib mati dalam kekafiran, dan namanya adalah Abdu Manaf. Adapun Abu Thalib adalah ... sebagai kunyahnya, dan menurut satu pendapat ( lemah ) ... namanya ( yaitu Abdu Manaf ) adalah sebagai kunyahnya. و قال البراوي : و الذي نقله سيدي عبد الوهاب الشعراني عن السبكي : أن عمه صلى الله عليه و سلم أبا طالب بعد أن توفي على الكفر أحياه تعالى ، و آمن به صلى الله عليه و سلم . Artinya : As-Syech al-Muhaddits Isa bin Ahmad al-Barowi al-Azhari ( Wafat tahun 1182 H ) berkata : Dan pendapat yang dinukil tuanku Abdul Wahhab as-Sya'rani dari al-Imam Subki : Bahwa paman Nabi SAW Abu Thalib setelah wafat dalam kekafiran ... Allah SWT menghidupkannya kembali dan Abu Thalib beriman kepada Nabi SAW. قال شيخنا العلامة السجيني : و هذا هو اللائق بحبه صلى الله عليه و سلم ، و هو الذي أعتقده و ألقى الله به. Guru kami al-Allamah al-Sujainy ( Wafat tahun 1197 H ) berkata : Pendapat al-Imam Subki inilah yang layak ( dipegangi ) karena kecintaan Rasulullah SAW ... dan pendapat inilah yang aku ( Syech al-Sujaini ) yakini dan aku akan bertemu Allah SWT dengan keyakinan ini. Di Kutip dari kitab : Nuuru al-Dzolam Syarah Mandzumah Aqidah al-Awam, Karya Syech Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi al-Jawi al-Bantani. Hal 233-234 _______________ قال الحبيب أحمد بن حسن العطاس رضي الله عنه : و رأيت سيدنا علي بن أبي طالب كرم الله وجهه ، و حصلت بينى و بينه مذاكرة و مباحثة طويلة ، و من جملتها ، أني قلت له : إن السيدة فاطمة ؛ اختلف أهل العلم فى دفنها ، هل كان فى الحجرة أو فى البقيع ؟ فقال لي : إنها فى البقيع ، و أنا دفنتها بنفسي فى الليل. ثم قلت له : و كذلك أبو طالب اختلف العلماء فيه ، هل مات على الإيمان أم لا ؟ و أنت دارى بالأشياء . فقال : مات على الإيمان . والحمدلله على ذلك قال سيدي رضي الله عنه : وقد سمعت السيد أحمد دحلان فى الحلقة يقول : إن الذي ندين الله به ، أن أبا طالب مات على الإيمان ، و الذي قال بإيمانه من أهل الحديث منزالحفاظ أربعة عشر حافظا. قال سيدي : و نحن الحمدلله ، معنا شىء زائد على الناس ، لأن علمنا ليس هو متلقفا من الحروف ، و لا من الكتب التي فى الزفوف ، بل متلقى من معدنه و من أهله ، و بعض الناس لما لم يعجبهم حق السلف خلفوا. Artinya : Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas berkata : Aku melihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah didalam mimpi, dan terjadilah diskusi dan pembahasan panjang antara kami berdua. Dan diantaranya, aku bertanya kepadanya, bahwa Sayyidah Fatimah ; para ahli ilmu berbeda pendapat dimana ia dikubur, apakah di hujrah atau di baqi' ? Beliau ( Sayyidina Ali ) berkata kepadaku : Bahwa Sayyidah Fatimah dikubur di Baqi' dan aku sendiri yang menguburkannya di malam hari. Kemudian aku ( Habib Ahmad bin Hasan al-Attas ) bertanya kepadanya : Demikian pula Abu Thalib, ulama berbeda pendapat tentang beliau, apakah mati dalam kekafiran atau dalam keimanan ? ... dan engkau mengetahui berbagai hal. Maka Ali bin Abi Thalib berkata : Bahwa Abu Thalib dalam keimanan. Segala puji bagi Allah atas hal itu. Tuanku ( al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas ) berkata : Sungguh aku telah mendengar SAYYID AHMAD DAHLAN di salah satu halaqah pengajian berkata : Sesungguhnya yang kami yakini karena Allah SWT, bahwa Abu Thalib mati dalam keimanan dan yang berpendapat keimanan Abu Thalib adalah empat belas ahli hadits yang telah mencapai derajat Huffadz. Sumber : Tadzkir an-Nas karya al-Habib Abubakar al-Attas bin Abdullah bin Alwi al-Habsyi Hal 226-227 Cetakan Ma'had Huraidhah - al-Ma'ruf. و الله أعلم بالصواب و علمه أتم

APAKAH ABU THALIB PAMAN NABI SAW, WAFAT DALAM KEKAFIRAN ATAU KEIMANAN ?

Kalam Ulama  APAKAH ABU THALIB PAMAN NABI SAW, WAFAT DALAM KEKAFIRAN ATAU KEIMANAN ? JAWABAN : و الثالث : أبو طالب ، و أمه فاطمة بنت...
(Kalam ulama) - BAGAIMANA BATASAN BERTEMAN DENGAN NON-MUSLIM Pertanyaan: Assalamualaikum. Mau bertanya mengenai batasan berteman dengan non-islam. Bagaimana ya? (M Azizah – Bogor) Baca Juga : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim? Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Pada dasarnya berteman dengan non-muslim sama saja dengan berteman dengan muslim. Hanya ada hal-hal yang menjadi batasan tertentu karena perbedaan ajaran, namun batasan tersebut tidak boleh menjadi jurang pemisah dalam pertemanan. Batasan tersebut adalah: 1. Dalam aqidah: Tidak boleh mencela atau menjadikan bahan ejekan Tuhan orang lain. (QS. Al-An'am: 108) 2. Dalam fiqh: Tidak boleh menampakkan aurat kecuali yang dibolehkan. Menurut jumhur, batasan aurat wanita muslimah di depan wanita non-muslim adalah seluruh badan (tidak termasuk wajah dan telapak tangan) kecuali bagian-bagian yang memang lazim tampak saat melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Mazhab Imam Ahmad berbeda dalam masalah ini. Menurut beliau batasannya sama seperti aurat dihadapan lelaki mahram, yaitu antara pusar dan lutut. 3. Dalam tasawuf atau akhlak: Tidak menjadikan mereka tempat menyimpan rahasia atau orang yang memiliki pengaruh terhadap agama. (QS. Al-Maidah: 51) Demikian jawaban kami. Wallahu a'lam. Baca Juga : Siapakah Perempuan Terbaik ?

Bagaimana Hukum Mendoakan dan Berteman dengan Non Muslim?

(Kalam ulama) - Bagaimana Hukum Mendoakan dan Berteman dengan Non Muslim? Pertanyaan: Assalamualaikum Wr Wb Mau bertanya mengenai batasan berteman dengan non-islam. Bagaimana ya? Bagaimana hukum mendoakan...

Tanya Jawab #03 “Anjuran Tidak Memotong Kuku dan Rambut Saat Hadats Besar (Bukan Larangan/...

Assalamu'alaikum wr. Wb., Saya mau bertanya. Adakah larangan membuang rambut, kuku, atau potongan tubuh yg lain ketika haid? Dulu ustadzah saya pernah blg tidak...
Kalam Ulama - Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakah boleh Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho' Ramadhan, Bolehkan? Mohon jawabannya. Terima kasih. Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sayyidina Abu Ayyub Al-Anshari radliyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ» "Barangsiapa yang berpuasa ramadan kemudian mengikutkan puasa tersebut dengan (puasa) enam hari di bulan syawal, maka ia seperti telah melakukan puasa selama setahun penuh." Baca Juga : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim? Berdasarkan hadis ini, disunahkan bagi setiap muslim untuk berpuasa enam hari di bulan syawal selepas ramadan demi mendapatkan pahala yang agung ini. Adapun mengenai hukum menggabungkan niat puasa sunnah enam hari di bulan syawal, baik sebagian maupun seluruhnya, dengan puasa ganti (atau dalam istilah fikih disebut qada) ramadan, maka hukumnya boleh. Seorang muslim boleh menggabungkan niat puasa wajib dan puasa sunah sekaligus, dan ia mendapatkan dua pahala dengan niatnya itu. Al-Hafidz As-Suyuthi rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitab Al-Asybah Wannadzair halaman 22 mengenai hadis tentang menggabungkan beberapa niat: [صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَة مَثَلًا قَضَاء أَوْ نَذْرًا، أَوْ كَفَّارَة، وَنَوَى مَعَهُ الصَّوْم عَنْ عَرَفَة؛ فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ، وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا، قَالَ: وَكَذَا إنْ أَطْلَقَ، فَأَلْحَقَهُ بِمَسْأَلَةِ التَّحِيَّةِ] اهـ. "Puasa arafah contohnya, ia berniat qada ramadan, puasa nazar, atau kafarat, lantas ia berniat bersama dengan niat itu untuk berpuasa sunah arafah, maka menurut fatwa Al-Barizi hal ini hukumnya sah dan ia telah mendapat pahala keduanya. Hal ini berlaku secara umum, tidak hanya terbatas dalam masalah tahiyat." Maksud dari masalah tahiyat adalah salat dua rakaat tahiyatul masjid. Begitu pula menurut pendapat Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari rahimahullahu ta'ala dalam kitab Fathul Wahhab Bisyarhi Minhajuth Thullab juz 1 halaman 67: [وتحصل بركعتين -فأكثر-] اهـ. "Maka ia telah mendapatkan pahala dua rakaat." Maksudnya, orang tersebut telah mendapatkan keutamaan dua rakaat tahiyatul masjid walaupun ia sedang melaksanakan salat fardu atau salat sunah lainnya, baik ia meniatkan keduanya sekaligus ataupun tidak. Berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim: «إذا دخل أحدُكم المسجدَ فلا يجلس حتى يصلي ركعتين» "Jika salah seorang diantara kalian telah masuk ke dalam masjid maka janganlah ia duduk hingga ia salat dua rakaat." Maksud dari hadis ini adalah mengerjakan salat sebelum duduk, dan orang tersebut sudah mengerjakan hal tersebut walau tidak mengkhususkan untuk tahiyatul masjid. Ulamapun menjadikan hal tersebut sebagai dalil bolehnya mengikutkan puasa sunah di bawah puasa fardu, tetapi tidak boleh sebaliknya, yakni mengikutkan puasa fardu di bawah puasa sunah. Oleh karena itu, boleh bagi seorang wanita muslim untuk melaksanakan qada ramadan di bulan syawal dan mencukupi baginya puasa qada ramadan tersebut sebagai puasa sunah enam hari di bulan syawal juga. Ia mendapatkan dua pahala sekaligus, sebab perbuatannya yang melaksanakan qada ramadan di bulan syawal tersebut. Baca Juga : Kapan Seorang Musafir Boleh Sholat Jamak dan Qashar? Walau seperti itu, tetap yang paling sempurna dan utama adalah mengerjakan keduanya secara terpisah, baik itu qada ramadan terlebih dahulu kemudian puasa sunah syawal atau sebaliknya. Walaupun ia telah mendapatkan pahala keduanya, tidak berarti ia telah mendapatkan pahala yang sempurna. Ia hanya mendapatkan pahala puasa ramadan satu bulan dan pahala puasa syawal enam hari saja, ia tidak mendapat pahala puasa setahun penuh seperti yang dijanjikan dalam hadis. Senada dengan ungkapan Al-Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj juz 3 halaman 209: [وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى تَبَعًا لِلْبَارِزِيِّ وَالْأَصْفُونِيِّ وَالنَّاشِرِيِّ وَالْفَقِيهِ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيِّ وَغَيْرِهِمْ، لَكِنْ لَا يَحْصُلُ لَهُ الثَّوَابُ الْكَامِلُ الْمُرَتَّبُ عَلَى الْمَطْلُوبِ] اهـ. "Dan jikalau berpuasa wajib di bulan syawal, baik qada ramadan, nazar, atau sejenisnya, atau ia melakukannya di hari asyura, maka ia telah mendapat pahala puasa sunah sekaligus. Sebagaimana yang telah difatwakan ayah kami rahimahullahu ta'ala, mengikut pendapat Al-Barizi, Al-Ushfuni, An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Shalih Al-Hadrami, dan lainnya, akan tetapi pahala yang sempurna hanya bagi mereka yang mengikuti tuntutan." Tuntutan (atau dalam istilah Al-Imam Ar-Ramli: mathlub) yang dimaksud adalah tuntutan perintah Nabi dalam hadis, yakni "mengikutkan" puasa ramadan dengan puasa enam hari di bulan syawal. Mengikutkan, bukan menggabungkan. Demikian jawaban kami. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam. Jakarta, 26 Juni 2018 @adhlialqarni Baca Juga : Kisah Habib Jakfar Alkaff Kudus : Menyuruh Beli Mobil Fortuner dengan Uang 400 Ribu

Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho’ Ramadhan, Bolehkan?

Kalam Ulama - Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakah boleh Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho' Ramadhan, Bolehkan? Mohon jawabannya. Terima kasih. Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Diriwayatkan oleh Imam...