Home Tanya Jawab Islam

Tanya Jawab Islam

Kalam Ulama - Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakah boleh Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho' Ramadhan, Bolehkan? Mohon jawabannya. Terima kasih. Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sayyidina Abu Ayyub Al-Anshari radliyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ» "Barangsiapa yang berpuasa ramadan kemudian mengikutkan puasa tersebut dengan (puasa) enam hari di bulan syawal, maka ia seperti telah melakukan puasa selama setahun penuh." Baca Juga : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim? Berdasarkan hadis ini, disunahkan bagi setiap muslim untuk berpuasa enam hari di bulan syawal selepas ramadan demi mendapatkan pahala yang agung ini. Adapun mengenai hukum menggabungkan niat puasa sunnah enam hari di bulan syawal, baik sebagian maupun seluruhnya, dengan puasa ganti (atau dalam istilah fikih disebut qada) ramadan, maka hukumnya boleh. Seorang muslim boleh menggabungkan niat puasa wajib dan puasa sunah sekaligus, dan ia mendapatkan dua pahala dengan niatnya itu. Al-Hafidz As-Suyuthi rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitab Al-Asybah Wannadzair halaman 22 mengenai hadis tentang menggabungkan beberapa niat: [صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَة مَثَلًا قَضَاء أَوْ نَذْرًا، أَوْ كَفَّارَة، وَنَوَى مَعَهُ الصَّوْم عَنْ عَرَفَة؛ فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ، وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا، قَالَ: وَكَذَا إنْ أَطْلَقَ، فَأَلْحَقَهُ بِمَسْأَلَةِ التَّحِيَّةِ] اهـ. "Puasa arafah contohnya, ia berniat qada ramadan, puasa nazar, atau kafarat, lantas ia berniat bersama dengan niat itu untuk berpuasa sunah arafah, maka menurut fatwa Al-Barizi hal ini hukumnya sah dan ia telah mendapat pahala keduanya. Hal ini berlaku secara umum, tidak hanya terbatas dalam masalah tahiyat." Maksud dari masalah tahiyat adalah salat dua rakaat tahiyatul masjid. Begitu pula menurut pendapat Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari rahimahullahu ta'ala dalam kitab Fathul Wahhab Bisyarhi Minhajuth Thullab juz 1 halaman 67: [وتحصل بركعتين -فأكثر-] اهـ. "Maka ia telah mendapatkan pahala dua rakaat." Maksudnya, orang tersebut telah mendapatkan keutamaan dua rakaat tahiyatul masjid walaupun ia sedang melaksanakan salat fardu atau salat sunah lainnya, baik ia meniatkan keduanya sekaligus ataupun tidak. Berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim: «إذا دخل أحدُكم المسجدَ فلا يجلس حتى يصلي ركعتين» "Jika salah seorang diantara kalian telah masuk ke dalam masjid maka janganlah ia duduk hingga ia salat dua rakaat." Maksud dari hadis ini adalah mengerjakan salat sebelum duduk, dan orang tersebut sudah mengerjakan hal tersebut walau tidak mengkhususkan untuk tahiyatul masjid. Ulamapun menjadikan hal tersebut sebagai dalil bolehnya mengikutkan puasa sunah di bawah puasa fardu, tetapi tidak boleh sebaliknya, yakni mengikutkan puasa fardu di bawah puasa sunah. Oleh karena itu, boleh bagi seorang wanita muslim untuk melaksanakan qada ramadan di bulan syawal dan mencukupi baginya puasa qada ramadan tersebut sebagai puasa sunah enam hari di bulan syawal juga. Ia mendapatkan dua pahala sekaligus, sebab perbuatannya yang melaksanakan qada ramadan di bulan syawal tersebut. Baca Juga : Kapan Seorang Musafir Boleh Sholat Jamak dan Qashar? Walau seperti itu, tetap yang paling sempurna dan utama adalah mengerjakan keduanya secara terpisah, baik itu qada ramadan terlebih dahulu kemudian puasa sunah syawal atau sebaliknya. Walaupun ia telah mendapatkan pahala keduanya, tidak berarti ia telah mendapatkan pahala yang sempurna. Ia hanya mendapatkan pahala puasa ramadan satu bulan dan pahala puasa syawal enam hari saja, ia tidak mendapat pahala puasa setahun penuh seperti yang dijanjikan dalam hadis. Senada dengan ungkapan Al-Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj juz 3 halaman 209: [وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى تَبَعًا لِلْبَارِزِيِّ وَالْأَصْفُونِيِّ وَالنَّاشِرِيِّ وَالْفَقِيهِ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيِّ وَغَيْرِهِمْ، لَكِنْ لَا يَحْصُلُ لَهُ الثَّوَابُ الْكَامِلُ الْمُرَتَّبُ عَلَى الْمَطْلُوبِ] اهـ. "Dan jikalau berpuasa wajib di bulan syawal, baik qada ramadan, nazar, atau sejenisnya, atau ia melakukannya di hari asyura, maka ia telah mendapat pahala puasa sunah sekaligus. Sebagaimana yang telah difatwakan ayah kami rahimahullahu ta'ala, mengikut pendapat Al-Barizi, Al-Ushfuni, An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Shalih Al-Hadrami, dan lainnya, akan tetapi pahala yang sempurna hanya bagi mereka yang mengikuti tuntutan." Tuntutan (atau dalam istilah Al-Imam Ar-Ramli: mathlub) yang dimaksud adalah tuntutan perintah Nabi dalam hadis, yakni "mengikutkan" puasa ramadan dengan puasa enam hari di bulan syawal. Mengikutkan, bukan menggabungkan. Demikian jawaban kami. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam. Jakarta, 26 Juni 2018 @adhlialqarni Baca Juga : Kisah Habib Jakfar Alkaff Kudus : Menyuruh Beli Mobil Fortuner dengan Uang 400 Ribu

Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho’ Ramadhan, Bolehkan?

Kalam Ulama - Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakah boleh Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho' Ramadhan, Bolehkan? Mohon jawabannya. Terima kasih. Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Diriwayatkan oleh Imam...
(Kalam ulama) - BAGAIMANA BATASAN BERTEMAN DENGAN NON-MUSLIM Pertanyaan: Assalamualaikum. Mau bertanya mengenai batasan berteman dengan non-islam. Bagaimana ya? (M Azizah – Bogor) Baca Juga : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim? Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Pada dasarnya berteman dengan non-muslim sama saja dengan berteman dengan muslim. Hanya ada hal-hal yang menjadi batasan tertentu karena perbedaan ajaran, namun batasan tersebut tidak boleh menjadi jurang pemisah dalam pertemanan. Batasan tersebut adalah: 1. Dalam aqidah: Tidak boleh mencela atau menjadikan bahan ejekan Tuhan orang lain. (QS. Al-An'am: 108) 2. Dalam fiqh: Tidak boleh menampakkan aurat kecuali yang dibolehkan. Menurut jumhur, batasan aurat wanita muslimah di depan wanita non-muslim adalah seluruh badan (tidak termasuk wajah dan telapak tangan) kecuali bagian-bagian yang memang lazim tampak saat melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Mazhab Imam Ahmad berbeda dalam masalah ini. Menurut beliau batasannya sama seperti aurat dihadapan lelaki mahram, yaitu antara pusar dan lutut. 3. Dalam tasawuf atau akhlak: Tidak menjadikan mereka tempat menyimpan rahasia atau orang yang memiliki pengaruh terhadap agama. (QS. Al-Maidah: 51) Demikian jawaban kami. Wallahu a'lam. Baca Juga : Siapakah Perempuan Terbaik ?

Bagaimana Hukum Mendoakan dan Berteman dengan Non Muslim?

(Kalam ulama) - Bagaimana Hukum Mendoakan dan Berteman dengan Non Muslim? Pertanyaan: Assalamualaikum Wr Wb Mau bertanya mengenai batasan berteman dengan non-islam. Bagaimana ya? Bagaimana hukum mendoakan...
Tanya Jawab Islam : Bagaimana Hukum Kencing Unta untuk Obat? (Kalam Ulama). Saya tidak akan berpolemik perihal seorang ustadz yang meminum air kencing untuk obat dengan membawa sebuah hadis riwayat Imam Bukhari. Saya hanya ingin mendudukan posisi hadis melalui pemahaman para ulama. Sehingga kesucian dan kemuliaan syariat apalagi Nabi Muhammad shalallahu alayhi wasallam tidak dipersepsikan seolah sama seperti yang dilakukan oleh Ustadz tersebut. Mayoritas Ulama Menghukumi Kencing Hewan Adalah Najis Memang masih ditemukan pendapat dari sebagian ulama Mujtahid tentang kesucian air kencing hewan yang boleh dimakan, seperti Imam Malik dan Imam Ahmad. Namun ahli hadis Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: ﻭﺫﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭاﻟﺠﻤﻬﻮﺭ اﻟﻰاﻟﻘﻮﻝ ﺑﻨﺠﺎﺳﺔ اﻷﺑﻮاﻝ ﻭاﻷﺭﻭاﺙ ﻛﻠﻬﺎ ﻣﻦ ﻣﺄﻛﻮﻝ اﻟﻠﺤﻢ ﻭﻏﻴﺮﻩ Asy-Syafi'i dan mayoritas ulama berpendapat bahwa kencing dan kotoran semua hewan adalah najis, baik hewan yang halal dimakan atau yang haram dimakan (Fath Al-Bari, 1/338) Baca Juga Hukum Hari Ibu, Apakah Menyerupai Orang Kafir? Hukum Berobat Dengan Benda Najis Mufti Al-Azhar Mesir, Syekh Athiyyah Shaqr menjelaskan: ﺃﻣﺎ اﻟﺘﺪاﻭﻯ ﺑﺎﻟﻨﺠﺲ ﻏﻴﺮ اﻟﺨﻤﺮ، ﻭﺗﻨﺎﻭﻝ اﻟﻨﺠﺲ ﺣﺮاﻡ، ﻓﻘﺪ ﻗﺎﻝ اﻟﻌﻠﻤﺎء: ﺇﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻻ ﻋﻨﺪ اﻟﻀﺮﻭﺭﺓ، ﺃﻣﺎ ﻋﻨﺪ اﻻﺧﺘﻴﺎﺭ ﻭﺗﻮاﻓﺮ اﻟﺪﻭاء اﻟﺤﻼﻝ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ Berobat dengan benda najis selain khamr dan mengkonsumsi benda najis adalah haram. Para ulama berkata: "Hal itu tidak boleh kecuali darurat. Dan ketika dalam keadaan normal dan tersedianya obat yang halal maka tidak boleh" ﺃﻣﺎ اﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ اﻷﺧﺮﻯ ﻓﻴﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻴﻬﺎ اﻟﺸﻔﺎء ﻭﻳﻤﻜﻦ اﻟﺘﺪاﻭﻯ ﺑﻬﺎ ﻋﻨﺪ اﻟﻀﺮﻭﺭﺓ، ﻓﻘﺪ ﺭﻭﻯ اﺑﻦ اﻟﻤﻨﺬﺭ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ ﺇﻟﻰ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ " ﺇﻥ ﻓﻰ ﺃﺑﻮاﻝ اﻹﺑﻞ ﺷﻔﺎء ﻟﻠﺬﺭﺑﺔ ﺑﻄﻮﻧﻬﻢ " ﺃﻯ اﻟﻔﺎﺳﺪﺓ ﻣﻌﺪﺗﻬﻢ Sedangkan benda-benda haram selain khamr maka boleh jadi mengandung kesembuhan dan bisa dijadikan pengobatan saat darurat. Sungguh Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan: dari Ibnu Abbas secara marfu'kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam: "Sesungguhnya dalam air kencing unta ada kesembuhan untuk penyakit yang terdapat di dalam perut" ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﻌﺎﻟﺞ ﺑﻬﺎ ﺇﻻ ﻋﻨﺪ اﻟﻀﺮﻭﺭﺓ، ﻛﻤﺎ ﺭﺧﺺ اﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻠﺰﺑﻴﺮ ﺑﻦ اﻟﻌﻮاﻡ ﺑﻠﺒﺲ اﻟﺤﺮﻳﺮ ﻟﻮﺟﻮﺩ ﺣﻜﺔ ﻓﻰ ﺟﺴﺪﻩ Meski demikian tidak boleh berobat dengan kencing unta kecuali darurat (tidak ada obat lain, jika tidak memakainya bisa mati), seperti Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memberi keringanan kepada Zubair bin awwam menggunakan kain sutra karena ia mengalami gatal di kulitnya Syarat Berobat Dengan Benda Haram ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻳﺨﺒﺮ ﺑﺬﻟﻚ ﻃﺒﻴﺐ ﻣﺴﻠﻢ ﻋﺪﻝ، ﻭﺃﻻ ﻳﻮﺟﺪ ﺩﻭاء ﺣﻼﻝ ﺃﻭ ﺷﻰء ﺃﺧﻒ ﺣﺮﻣﺔ Syaratnya (1) Disarankan oleh dokter Muslim yang dapat dipercaya (2) Tidak ada obat yang halal (3) Atau obat yang lebih ringan keharamannya (Fatawa Al-Azhar 10/109) Bantahan Dari Ahli Hadis ﻭﻓﻲ ﺗﺮﻙ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﺑﻴﻊ اﻟﻨﺎﺱ ﺃﺑﻌﺎﺭ اﻟﻐﻨﻢ ﻓﻲ ﺃﺳﻮاﻗﻬﻢ ﻭاﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺃﺑﻮاﻝ اﻹﺑﻞ ﻓﻲ ﺃﺩﻭﻳﺘﻬﻢ ﻗﺪﻳﻤﺎ ﻭﺣﺪﻳﺜﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻧﻜﻴﺮ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﻃﻬﺎﺭﺗﻬﺎ ﻗﻠﺖ ﻭﻫﻮ اﺳﺘﺪﻻﻝ ﺿﻌﻴﻒ ﻷﻥ اﻟﻤﺨﺘﻠﻒ ﻓﻴﻪ ﻻ ﻳﺠﺐ ﺇﻧﻜﺎﺭﻩ ﻓﻼ ﻳﺪﻝ ﺗﺮﻙ ﺇﻧﻜﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﺟﻮاﺯﻩ ﻓﻀﻼ ﻋﻦ ﻃﻬﺎﺭﺗﻪ Para ulama membiarkan jual beli kotoran kambing di pasar dan penggunaan kencing unta sebagai obat sejak dulu dan sekarang tanpa ada bentuk ingkar dari ulama adalah dalil kalau air kencing unta adalah suci. Saya (Ibnu Hajar) berkata: "Ini adalah metode ijtihad yang lemah. Sebab urusan khilafiyah tidak wajib diingkari. Maka ketiadaan para ulama mengingkarinya tidak serta merta menunjukkan hukum boleh apalagi kesuciannya" (Fath Al-Bari, 1/338) Faktor Darurat Menjadi Boleh Sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: "Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 173) Ustadz @Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim Baca Juga Hukum Membuka Aurat Saat Berwudlu, Bolehkah?

Tanya Jawab Islam, Bagaimana Hukum Kencing Unta untuk Obat

Tanya Jawab Islam : Bagaimana Hukum Kencing Unta untuk Obat? (Kalam Ulama). Saya tidak akan berpolemik perihal seorang ustadz yang meminum air kencing untuk obat dengan...
Tanya Jawab Islam : Hukum Hari Ibu, Menyerupai Orang Kafir? (Kalam Ulama). Dalam banyak hal kita memang diperintahkan oleh Nabi kita, Sayyidina Muhammad shalallahu alaihi wasallam agar tidak sama dengan orang di luar agama kita, khususnya Yahudi dan Nasrani. Misalkan masalah Salam seperti dalam hadis berikut: «ﻟﻴﺲ ﻣﻨﺎ ﻣﻦ ﺗﺸﺒﻪ ﺑﻐﻴﺮﻧﺎ، ﻻ ﺗﺸﺒﻬﻮا ﺑﺎﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﻻ ﺑﺎﻟﻨﺼﺎﺭﻯ، ﻓﺈﻥ ﺗﺴﻠﻴﻢ اﻟﻴﻬﻮﺩ اﻹﺷﺎﺭﺓ ﺑﺎﻷﺻﺎﺑﻊ، ﻭﺗﺴﻠﻴﻢ اﻟﻨﺼﺎﺭﻯ اﻹﺷﺎﺭﺓ ﺑﺎﻷﻛﻒ» "Orang yang menyerupai dengan selain kami bukanlah termasuk golongan kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani. Salam orang Yahudi adalah dengan isyarat jari. Dan salam orang Nasrani adalah isyarat dengan telapak tangan" (HR Tirmidzi) Baca juga Hukum Ucapan Selamat Natal, Bolehkah? Lalu apakah setiap ada kesamaan dengan agama harus ditinggalkan? Tidak juga, ulama kita memberikan 2 kriteria Tasyabuh yang tidak diperbolehkan. Syekh Ibnu Najim Al-Misri dari Madzhab Hanafi berkata: ﺛﻢ اﻋﻠﻢ ﺃﻥ اﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﺑﺄﻫﻞ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﻲء ﻭﺇﻧﺎ ﻧﺄﻛﻞ ﻭﻧﺸﺮﺏ ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻮﻥ ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺤﺮاﻡ ﻫﻮ اﻟﺘﺸﺒﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺬﻣﻮﻣﺎ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﻳﻘﺼﺪ ﺑﻪ اﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻛﺬا ﺫﻛﺮﻩ ﻗﺎﺿﻲ ﺧﺎﻥ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ اﻟﺠﺎﻣﻊ اﻟﺼﻐﻴﺮ ﻓﻌﻠﻰ ﻫﺬا ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ اﻟﺘﺸﺒﻪ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﻋﻨﺪﻫﻤﺎ "Ketahuilah bahwa Tasyabuh (menyerupai) dengan Ahli kitab tidak makruh dalam semua hal. Kita makan dan minum, mereka juga melakukan hal itu. Keharaman dalam tasyabuh adalah (1) Sesuatu yang tercela (2) Kesengajaan meniru mereka. Sebagaimana disampaikan oleh Qadli Khan dalam Syarah Jami' Shaghir. Dengan demikian jika tidak bertujuan menyerupai ahli kitab maka tidak makruh" (Al-Bahr Ar-Raiq 2/11) Ketentuan kita melakukan sebuah peringatan disampaikan oleh Mufti Al-Azhar, Syekh Athiyyah Shaqr: ﻓﺎﻟﺨﻼﺻﺔ ﺃﻥ اﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺄﻳﺔ ﻣﻨﺎﺳﺒﺔ ﻃﻴﺒﺔ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ﻣﺎ ﺩاﻡ اﻟﻐﺮﺽ ﻣﺸﺮﻭﻋﺎ ﻭاﻷﺳﻠﻮﺏ ﻓﻰ ﺣﺪﻭﺩ اﻟﺪﻳﻦ Kesimpulan, peringatan dengan momen apapun yang baik, adalah boleh. Selama tujuan dibenarkan dan pelaksanaan berada dalam koridor agama (Fatawa Al-Azhar) Kita pun telah tahu bahwa tujuan dalam hari Ibu adalah hal yang dibenarkan dalam Islam. Cara melaksanakan hal tersebut juga berupa sedekah, jamuan, dan cara lain yang tidak sampai melanggar hukum Islam. Menurut Syekh Ali Jum'ah, merayakan hari ibu hukumnya boleh. Karena hukum asalnya menghormati ibu adalah perkara baik.  Al Bayan Hal : 58 Lissayyid Doktor Ali Jum'ah ﻣﺎ ﺣﻜﻢ الإﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﻌﻴﺪ الأم ؟ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : - ﺍﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ - ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻓﺈﻥ الإحتفال ﺑﻌﻴﺪ الأم ﺃﻣﺮ ﺟﺎﺋﺰ ﺷﺮﻋﺎ ﻻ ﻣﺎﻧﻊ ﻣﻨﻪ ولا ﺣﺮﺝ ﻓﻴﻪ ﻭﺍﻟﻔﺮﺡ ﺑﻤﻨﺎﺳﺒﺎﺕ ﺍﻟﻨﺼﺮ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﺟﺎﺋﺰ ﻛﺬﻟﻚ . ﻭﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻤﺮﺩﻭﺩﺓ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻲ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻋﻠﻰ ﺧﻼﻑ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﺷﻬﺪ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻷﺻﻠﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺮﺩﻭﺩﺍ ولا ﺇﺛﻢ ﻋﻠﻰ ﻓﺎﻋﻠﻪ ﻭﷲ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ

Tanya Jawab Islam : Hukum Hari Ibu, Apakah Menyerupai Orang Kafir?

Tanya Jawab Islam : Hukum Hari Ibu, Menyerupai Orang Kafir? (Kalam Ulama). Dalam banyak hal kita memang diperintahkan oleh Nabi kita, Sayyidina Muhammad shalallahu alaihi...
Kajian al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam (9) : Amal dan Buahnya. "Beragamnya jenis amal-amal (yang dilakukan oleh para salik) itu disebabkan turunnya beragam warid (anugerah ilahiyah) pada ahwal-ahwal (kondisi pengalaman spiritualitas para salik)." تَـنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ اْلأَعْمَالِ لِـتَـنَوُّعِ وَارِدَاتِ اْلأَحْوَالِ Maqalah diatas menjelaskan bahwa tiap amal yang dilakukan oleh para salik memiliki warid yaitu anugerah ilahiyah yang dirasakan sehingga para salik akan merasakan pengalaman ruhani secara nyata. (Baca juga: Kajian Al-Hikam (8) : Terbukanya Pintu Mengenal Allah) Jadi semua amalan-amalan yang dilakukan oleh para salik seperti dzikir dan riyadhah mujahadah pasti memiliki efek positif secara ruhani yang akan dirasakan oleh para pengamalnya, sehingga menjadi pengalaman ruhani yg nyata dirasakan oleh para salik. Namun demikian, dalam mengamalkan semua amalan niatnya harus semata2 karena Allah dan dilakukan secara istiqomah. Dengan demikian, para salik akan merasakan pengalaman spiritual yaitu warid ilahiyah sebagai buah atas keistiqomahan dan keikhlasan dalam amaliahnya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam berjalan menuju perjumpaan-Nya. Oleh : Dr. KH. Ali M Abdillah, MA

Hukum Membuka Aurat Saat Berwudlu, Bolehkah?

Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Hukum Membuka Aurat Saat Berwudlu, Bolehkah? Hukumnya adalah makruh, seperti yang disampaikan oleh Ulama Madzhab Malikiyah: اﻟﺮاﺑﻌﺔ: ﻟﻢ ﻳﺘﻌﺮﺽ ﻟﻤﻜﺮﻭﻫﺎﺗﻪ...
Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Hukum Ucapan Selamat Natal, Bolehkah ? Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, Ustaz. Perkenalkan, saya seorang mahasiswa di salah satu kampus negeri. Sebagaimana kita ketahui, sebagai mahasiswa kita banyak berinteraksi dengan berbagai kalangan, termasuk non-muslim. Seringkali mereka mengucapkan selamat atas hari raya kita. Nah, apakah boleh kita juga berbuat sebaliknya, yakni mengucapkan selamat atas hari raya mereka? Mohon penjelasannya, terima kasih. (Hamba Allah – Bogor) Jawaban: Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh. Terima kasih atas pertanyaan anda. Mungkin hal yang sama dirasakan oleh saudara-saudara kita yang lain. Adapun jawaban kami sebagai berikut. Allah ta'ala memerintahkan kita untuk mengucapkan kata-kata yang baik kepada seluruh manusia, muslim maupun non-muslim. Allah berfirman: ﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾ [البقرة: ٨٣] "Dan bertuturkatalah yang baik pada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83) (Baca juga: Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya?) Syaikh 'Alisy dalam kitab Fathul 'Aly Al-Malik juz 2 halaman 349 tentang pembahasan: Ucapan selamat kepada non-muslim, apakah menyebabkan pengucapnya murtad? Beliau mengatakan: [لا يرتد الرجل بقوله لنصراني: أحياك الله لكل عام؛ حيث لم يقصد به تعظيم الكفر ولا رضي به] "Seseorang tidak murtad dengan perkataannya pada seorang nasrani: Ahyakallah Likulli 'Am (secara bahasa bermakna: Semoga Allah menghidupkanmu sepanjang tahun), selama tidak bermaksud untuk mengagungkan kekafiran atau rida kepadanya." Syaikh Al-Hithab Al-Maliki dalam Mawahibul Jalil Fi Syarhi Mukhtashar Khalil menukil perkataan Imam Al-'Izz Bin Abdissalam Asy-Syafi'i saat beliau ditanya tentang seorang muslim yang berkata kepada seorang kafir dzimmi pada hari raya mereka: Selamat hari raya untukmu. Apakah muslim tersebut kafir atau tidak? Maka beliau menjawab: [إن قاله المسلم للذمي على قصد تعظيم دينهم وعيدهم فإنه يكفر، وإن لم يقصد ذلك وإنما جرى ذلك على لسانه فلا يكفر لما قاله من غير قصد] اهـ. "Jika perkataan seorang muslim kepada sang dzimmi tersebut bermaksud untuk mengagungkan agama dan hari raya mereka, maka ia telah kafir. Jikalau ia tidak bermaksud seperti itu maka ia tidak kafir atas perkataannya tersebut." Maka dapat disimpulkan bahwa dibolehkan bagi seorang muslim mengucapkan selamat kepada non-muslim atas hari raya mereka selama tidak bermaksud untuk mengagungkan agama dan hari raya mereka atau rida atas kekafiran mereka. Demikian jawaban kami. Semoga bermanfaat. Bogor, Rabiul Akhir 1439 oleh : Ustadz @adhlialqarni

Hukum Ucapan Selamat Natal, Bolehkah?

Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Hukum Ucapan Selamat Natal, Bolehkah ? Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, Ustaz. Perkenalkan, saya seorang mahasiswa di salah satu kampus negeri. Sebagaimana kita...
Serba Serbi Islam (Kalam Ulama) Dzikir Dengan Tasbih. Adakah dasar ijtihadnya? Apakah tidak tasyabbuh dengan agama lain? Mufti al-Azhar, Syekh Athiyah Shaqr menajawab dengan dalil sangat panjang, namun saya ringkas sebagai berikut: ﻭﺇﻟﻰ ﺟﺎﻧﺐ ﺇﻗﺮاﺭ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻬﺬا اﻟﻌﻤﻞ ﻭﻋﺪﻡ اﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ، اﺗﺨﺬ ﻋﺪﺩ ﻣﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭاﻟﺴﻠﻒ اﻟﺼﺎﻟﺢ اﻟﻨﻮﻯ ﻭاﻟﺤﺼﻰ ﻭﻋﻘﺪ اﻟﺨﻴﻂ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻭﺳﻴﻠﺔ ﻟﻀﺒﻂ اﻟﻌﺪﺩ ﻓﻰ اﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻴﻬﻢ Disamping Nabi menyetujui terhadap Sahabat yang membaca tasbih dengan batu kecil [HR Abu Dawud] serta Nabi tidak mengingkarinya, ternyata ada banyak Sahabat dan ulama Salaf yang menjadikan batu, kerikil dan pintalan tali sebagai sarana untuk menghitung bacaan tasbih, dan mereka tidak mengingkarinya. (Baca Juga : 10 Jaminan Penggemar Bagi Sholawat Nabi Muhammad SAW) ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺃﺣﻤﺪ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ اﻟﺰﻫﺪ ﺃﻥ ﺃﺑﺎ اﻟﺪﺭﺩاء ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻧﻮﻯ ﻣﻦ ﻧﻮﻯ اﻟﻌﺠﻮﺓ ﻓﻰ ﻛﻴﺲ، ﻓﺈﺫا ﺻﻠﻰ اﻟﻐﺪاﺓ - اﻟﺼﺒﺢ - ﺃﺧﺮﺟﻬﻦ ﻭاﺣﺪﺓ ﻭاﺣﺪﺓ ﻳﺴﺒﺢ ﺑﻬﻦ ﺣﺘﻰ ﻳﻨﻔﺪﻥ. Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam az-Zuhd bahwa Sahabat Abu Darda' memiliki biji Ajwa' dalam sebuah wadah. Jika beliau selesai salat Subuh maka ia mengeluarkannya satu persatu dengan membaca Tasbih hingga habis ﻭﺃﻗﻮﻝ: ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: "ﻭاﻋﻘﺪﻥ ﺑﺎﻷﻧﺎﻣﻞ ﻓﺎﻧﻬﻦ ﻣﺴﺌﻮﻻﺕ ﻣﺴﺘﻨﻄﻘﺎﺕ " ﻓﺈﻥ ﺣﺒﺎﺕ اﻟﻤﺴﺒﺤﺔ ﻻ ﺗﺤﺮﻛﻬﺎ ﻓﻰ ﻳﺪ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﻻ اﻷﻧﺎﻣﻞ، ﻭﻫﻰ ﺳﺘﺴﺄﻝ ﻭﺗﺴﺘﻨﻄﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ ﻟﺘﺸﻬﺪ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺴﺒﺢ ﺑﻬﺎ Saya (Syekh Athiyah) katakan bahwa jika Nabi bersabda: "Hitunglah dzikir dengan jari-jari. Sebab ia akan ditanya dan diminta kesaksian" [HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi]. Maka, biji-biji tasbih tidaklah digerakkan kecuali dengan tangan. Maka ia akan ditanya dan dapat bicara disisi Allah agar menjadi saksi bahwa ia bertasbih. Jika memakai tasbih apa tidak menyerupai agama Hindu? Syekh Athiyah menjelaskan: ﻓﺎﻟﻔﺮﻗﺔ اﻟﺸﻴﻮاﺋﻴﺔ ﺳﺒﺤﺘﻬﺎ ﺃﺭﺑﻊ ﻭﺛﻤﺎﻧﻮﻥ ﺣﺒﺔ، ﻭاﻟﻔﺮﻗﺔ اﻟﻮﺷﻨﻮﻳﺔ ﺳﺒﺤﺘﻬﺎ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﺛﻤﺎﻥ ﺣﺒﺎﺕ Kekompok Shiwa tasbihnya sebanyak 84 biji. Aliran Wishnu tasbihnya adalah 108 biji. (Diringkas dari kitab Fatawa al-Azhar, 9/11) Sementara tasbih yang digunakan umat Islam adalah 99 atau 33. Dengan demikian tidak ada tasyabbuh dengan non Muslim. Oleh : Ustadz Ma'ruf Khozin, Pengasuh Kajian Aswaja Majalah AULA

Bagaimana Hukum Dzikir Dengan Tasbih?

Serba Serbi Islam (Kalam Ulama) Dzikir Dengan Tasbih. Adakah dasar ijtihadnya? Apakah tidak tasyabbuh dengan agama lain? Mufti al-Azhar, Syekh Athiyah Shaqr menajawab dengan dalil sangat panjang,...
Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Malam pertama bulan Rabiul Awal ini ada Ustadz Mushannif dari Simo Sidomulyo Surabaya, bertanya apakah Nabi menjawab salam dan shalawat kita? Alhamdulillah semua masalah ini sudah dijawab oleh Al Hafizh Al Haitsami dalam Majma' Az-Zawaid: 1. Nabi Menjawab Salam Dari Umatnya Jawaban salam dari Rasulullah ini dijelaskan dalam hadis sahih berikut: ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻲ ﺇﻻ ﺭﺩ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻲ ﺭﻭﺣﻲ ﺣﺘﻰ ﺃﺭﺩ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼﻡ» Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Tidak ada seorang pun yang membaca salam padaku kecuali Allah mengembalikan ruh kepadaku, hingga aku menjawab salamnya (HR Abu Dawud dan Baihaqi). (Baca Juga Tanya Jawab Kajian Islam : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim?) Apakah ini hanya berlaku jika menziarahi makam Nabi saja? Tentu tidak, seperti dalam hadis berikut: ﻋﻦ علي ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ: " «ﺈﻥ ﺗﺴﻠﻴﻤﻜﻢ ﻳﺒﻠﻐﻨﻲ ﺃﻳﻨﻤﺎ ﻛﻨﺖ» ". ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ، ﻭﻓﻴﻪ ﺣﻔﺺ ﺑﻦ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ اﻟﺠﻌﻔﺮﻱ، ﺫﻛﺮﻩ اﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ، ﻭﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ ﻓﻴﻪ ﺟﺮﺣﺎ، ﻭﺑﻘﻴﺔ ﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ. Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sungguh salam kalian sampai padaku, dimana pun kau berada (HR Abu Ya'la, di dalamnya ada Hafsh bin Ibrahim Al Ja'fari, Ibnu Abi Hatim tidak memberi penilaian. Perawi lainnya terpercaya) 2. Nabi Menjawab Doa Shalawat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ: ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ: " «ﺣﻴﺜﻤﺎ ﻛﻨﺘﻢ ﻓﺼﻠﻮا ﻋﻠﻲ ; ﻓﺈﻥ ﺻﻼﺗﻜﻢ ﺗﺒﻠﻐﻨﻲ» ". ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭاﻷﻭﺳﻂ، ﻭﻓﻴﻪ ﺣﻤﻴﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺯﻳﻨﺐ ﻭﻟﻢ ﺃﻋﺮﻓﻪ، ﻭﺑﻘﻴﺔ ﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ. Dari Hasan bin Ali bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Dimana pun kalian berada bacalah Shalawat kepadaku. Sebab Shalawat kalian dihaturkan kepada ku (HR Thabrani, di dalamnya ada Humaid bin Abi Zainab, saya [Al Haitsami] tidak mengetahuinya. Perawi yang lain adalah perawi hadis sahih) ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " «ﻣﻦ ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻲ ﺻﻼﺓ ﺻﻠﻴﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﺸﺮا» ". ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻷﻭﺳﻂ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ. Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa membaca shalawat 1x untuk ku, maka aku doakan Rahmat 10x untuknya (HR Thabrani, para perawinya terpercaya) Oleh : Ustadz Ma'ruf Khozin

Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya?

Tanya Jawab Islam (Kalam Ulama). Malam pertama bulan Rabiul Awal ini ada Ustadz Mushannif dari Simo Sidomulyo Surabaya, bertanya apakah Nabi menjawab salam dan...
Assalamu Alaikum. Mohon penjelasannya terkait batasan aurat perempuan muslimah dengan perempuan nonmuslim, apakah benar seperti batasan aurat kepada laki-laki ? ---------------- Jawaban : Waalaikum salam. Sail/sailah (penanya) yang dirahmati Allah SWT. Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, saya akan menguraikan sedikit tentang aurat wanita muslimah. Pada prinsipnya, aurat perempuan dapat dikelompokkan menjadi 3 : (1) aurat di hadapan wanita dan mahram, (2) aurat di dalam sholat, (3) aurat di luar sholat. (Baca Juga : Kapan Seorang Musafir Boleh Sholat Jamak dan Qashar? ) Aurat wanita muslimah di hadapan wanita dan mahramnya yaitu bagian tubuh di antara pusar dan lutut. Ini adalah yang waijib. Tetapi adab dalam islam hendaknya tidak menampakkan di depan mahramnya kecuali memakai pakaian yang sempurnaa (jika nampak malu dan pantas baginya). Karena sesungguhnya manusia ketika lemah agamanya (imannya), sedikit muruahnya, dan tidak bisa mengontrol syahwatnya, maka ia tidak memperdulikan kemulyaan dan tidak pula kerabat. Sedangkan aurat wanita di dalam sholat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan (luar dan dalam). Wanita wajib mengenakan pakaian yang menutupi punggung kedua telapak kakinya baik dalam keadaan berdiri, ruku, dan sujud. Ketika terbuka pakainnya di tengah-tengah sholat, maka sholatnya batal kecuali ia menutupnya kembali saat itu juga. Aurat wanita di luar sholat, adab dalam islam, yaitu menutup dengan sempurna. Dengan cara menutup seluruh tubuhnya hingga wajah dan telapak tangannya kecuali saat sedang bekerja atau sedang mengerjakan kesehariannya. Bagi wanita diperbolehkan membuka wajah saat berdagang. Namun menurut jumhur ulama wajah dan telapak tangan tidak termasuk aurat bagi wanita. Diharamkan bagi wanita menggunakan pakaian yang ketat, karena dapat menimbulkan fitnah, kecuali dihadapan suami atau mahramnya saja. Aurat wanita muslimah ketika bersamaan/dihadapan wanita nonmuslimah adalah semua badan kecuali anggota yang tampak ketika bekerja. Sedangkan menurut madzhab Hambali, seperti di hadapan laki-laki mahram, yaitu anggota badan yang ada diantara pusat dan lutut. Namun, Jumhur (sebagian besar ulama) berpendapat bahwa seluruh badan wanita itu adalah aurat, kecuali apa yang nampak pada waktu melakukan kesibukan-kesibukan rumah. Seperti disebutkan oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya : .وَعَوْرَةٌ المُسْلِمَةِ اَمَامَ الكَافِرَةِ: عَوْرَةُ الْمُسْلِمَةِ اَمَامَ الْكَافِرَةِ عِنْدَ الْحَنَابَلَةِ كَاالرَّجُلِ الْمُحْرِمِ: مَابَيْنَ السُّرَّةِ وَالُّركْبَةِ. وَقَالَ الْجُمْهُوْرُ: جَمِيْعُ الْبَدَنِ مَاعَدَامَاظَهَرَ عِنْدَ الْمِهْنَةِ اَيِ الاَسْغَالِ الْمَنْزِلِيَّةِ. "Aurat muslimah di hadapan wanita non muslim : aurat muslimah menurut madzhab Hanbali seperti aurat dihadapan laki-laki mahram, yaitu bagian diantara pusar dan lutut. Sebagian besar ulama berkata : seluruh badan, kecuali bagian yang nampak saat bekerja atau melakukan kesibukan di rumah" Referensi : Nihayatuzzain hal 43 al Fiqhul Islamy wa Adillatuhu karangan Dr. Wahbah az Zuhaili (terbitan Darul Fikr) juz 1 halaman 584-594 Risalatul Mustahadhoh al Jadidah wa yaliha risalah an-nisa wal usroh Al-Fatawa Bogor, @alfarisi_Hamzah

Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim?

Assalamu Alaikum. Mohon penjelasannya terkait batasan aurat perempuan muslimah dengan perempuan nonmuslim, apakah benar seperti batasan aurat kepada laki-laki ? ---------------- Jawaban : Waalaikum salam Wr Wb. Sail/sailah (penanya)...
KAPAN SEORANG MUSAFIR BOLEH Sholat JAMAK DAN QASHAR?

Kapan Seorang Musafir Boleh Sholat Jamak dan Qashar?

Tidak boleh bagi seorang musafir melakukan sholat jamak atau qashar kecuali ia telah melewati tembok batas kota atau desa. Jika kota atau desa...