Serba Serbi Islam

MENGAGUMI PERJALANAN TAUHID GUS DUR

Seseorang datang kepada Gus Dur, Ia menghaturkan problem kehidupan dirinya, Panjang lebar dia melapor dengan keluh kesah yang dalam, Gus Dur bertanya : "Apa nggak ada jalan keluarnya...

Bolehkah Mengamalkan Hadits Dhoif?

Oleh: Habib Novel bin Muhammad Alaydrus Pengasuh Majelis AR-RAUDHAH, Solo Akhir zaman ini kita sering membaca atau mendengar seseorang yang melarang Muslim lain untuk mengamalkan sebuah...
Kalam Ulama - Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit. Baca kisah sebelumnya Kisah Isra Mi'raj #5 "Pujian dari Para Nabi" [irp posts="949" name="Kisah Isra Mi’raj #5 “Pujian dari Para Nabi”"]  Tidak pernah seorang makhluq terlihat tangga yang lebih indah darinya. Terdapat anak tangga dari perak dan dari emas, tangga itu berasal dari surga firdaus berhiaskan permata, sebelah kanan dan kirinya berdiri malaikat. Maka naiklah Nabi saw dan Jibril hingga sampai ke sebuah pintu dari pintu-pintu langit dunia yang di kenal dengan pintu Hafadhoh, dijaga oleh malaikat bernama Isma’il dan dia adalah penjaga langit dunia, bersemayam di udara, tidak pernah naik ke langit dan tidak pernah turun ke bumi kecuali di hari wafatnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam. Dia memiliki bawahan 70.000 malaikat dan setiap satu dari bawahannya memiliki 70.000 tentara malaikat. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Ketika keduanya masuk, mereka mendapati Nabi Adam as, beliau adalah bapak bagi seluruh umat manusia. Nabi Adam dengan bentuk sebagaimana keadaannya saat diciptakan Allah. Disodorkan kepadanya arwah para nabi dan keturunannya yang mu’min, maka berkata Nabi Adam, “arwah yang suci dan jiwa yang suci, jadikanlah mereka di Illiyyiin (tempat yang tinggi di surga).” Lalu disodorkan kepadanya arwah dari keturunannya yang kafir, maka Nabi Adam berkata, “arwah yang kotor dan jiwa yang kotor tempatkanlah di Sijjin (tempat paling bawah di jahanam).” Di samping kanan Nabi Adam terdapat arwah-arwah dan suatu pintu yang keluar darinya bau yang harum wanginya, dan di samping kiri nya terdapat arwah-arwah dan suatu pintu yang keluar darinya bau yang sangat busuk. Apabila dia menoleh kekanannya dia tersenyum gembira, dan jika menoleh ke samping kirinya dia sedih dan menangis. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Adam menjawab salamnya kemudian dia berkata, “Selamat datang untukmu wahai anak yang sholeh dan Nabi yang sholeh.” Nabi Muhammad saw bertanya kepada Jibril, “Siapa dia wahai Jibril?”, Jibril menjawab, “Dia adalah ayahmu Nabi Adam, dan arwah itu adalah anak keturunannya, yang berada di sebelah kanannya adalah calon penghuni surga, yang berada di kiri adalah calon penghuni neraka. Apabila dia menoleh ke kanannya dia tersenyum gembira, dan jika menoleh ke kirinya dia sedih dan menangis. Pintu yang di samping kanannya adalah pintu surga yang jika dia melihat keturunannya memasukinya maka dia tertawa gembira. Pintu di samping kirinya adalah pintu neraka, jika dia melihat keturunannya memasukinya maka dia sedih dan menangis.” Di perjalanan tersebut Nabi saw menyaksikan tempat makan yang dihidangkan potongan daging lezat yang tidak didekati oleh seorang pun. Ada juga tempat makan yang dihidangkan daging rusak dan busuk yang dikerubungi oleh manusia yang banyak. Nabi saw bertanya, “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab, “mereka adalah umatmu yang meninggalkan sesuatu yang halal kepada sesuatu yang haram.” Diriwayat yang lain, Nabi saw bertanya, “Siapa gerangan mereka itu wahai malakat jibril?” Jibril menjawab, “mereka itu adalah orang-orang yang melakukan perzinaan, mereka menghalalkan perkara yang telah Allah haramkan bagi mereka, sedangkan perkara yang Allah telah halalkan bagi mereka, mereka tinggalkan.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang perut mereka sangat besar bagaikan rumah, di dalam perut mereka ular-ular ganas mencabik lambung mereka yang terlihat dari luar perut mereka. Setiap kali salah seorang dari mereka mencoba bangkit berdiri, maka dia selalu tersungkur jatuh dan seraya berkata, “Ya allah jangan datangkan hari kiamat”. Mereka mengikuti jalannya fir’aun dan pengikutnya, dan mereka diinjak-injak oleh setiap yang melalui mereka. Mereka menjerit dan merintih kepada Allah. Maka Nabi Muhammad saw bertanya, “Wahai Jibril siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “mereka itu sebagian dari umatmu yang melakukan praktek riba dan memakan harta riba, mereka tidak berdiri melaikan bagaikan orang yang kesurupan setan.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang bibir mereka seperti bibir onta, dan dibukalah mulut mereka, lalu ditelankan kedalamnya batu yang amat besar. Di dalam riwayat lain disebutkan, ditelankan ke dalam mulut mereka batu yang besar dari neraka jahanam, membakar dan merobek-robek bagian dalam tubuh mereka hingga tembus dari bagian bawah tubuh mereka. Mereka menjerit dan merintih kepada Allah. Nabi saw bertanya, “Wahai Jibril siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “mereka itu adalah orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan cara yang dzolim dan sesungguhnya harta anak yatim yang mereka makan di dalam perut mereka itu adalah api jahannam, dan sungguh mereka akan di membusuk di dalam neraka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok wanita yang sedang digantung dengan diikat payudara mereka, dan sekelompok wanita yang lain sedang digantung terbalik dengan kaki di atas.Nabi saw pun bertanya, “Wahai Jibril siapakah gerangan mereka itu?”Jibril menjawab, “mereka adalah wanita-wanita yang melakukan perzinaan, dan membunuh anak mereka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang sedang dipotong-potong daging dari bagian tubuh mereka dan kemudian mereka dijejalkan daging mereka tersebut untuk dimakannya, sambil diserukan kepada mereka, “makanlah dagingmu sebagaimana kamu memakan daging saudaramu.” Maka Nabi saw bertanya, “Siapakah mereka itu wahai jibril?” Jibril menjawab, “mereka itu adalah sekelompok umatmu yang suka mencela, menfitnah, dan mengolok-olok kejelekan orang lain dengan kedipan mata mereka dan ucapan mereka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok orang pemakan harta riba, pemakan harta anak yatim dengan cara dzolim, dan para pezina, serta pelaku kemaksiatan lainnya dalam keadaan yang sangat buruk bahkan lebih buruk dari apa yang telah disaksikan dalam perjalanan tersebut. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke dua. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj)?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit kedua, Nabi saw bertemu dengan dua saudara sepupu, yaitu Nabi Isa bin Maryam as dan Nabi Yahya bin Zakariya as. Pakaian dan rambut keduanya sangat mirip dan bersama mereka sekelompok dari kaum mereka. Nabi Isa as bertubuh sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, rambut yang lurus dan kulit yang mendekati putih kemerahan seperti seorang yang baru keluar dari mandi uap. Rasulullah mengatakan bahwa Nabi Isa itu mirip dengan sahabat ‘Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqofi. Nabi Muhammad saw memberi salam kepada keduanya dan Nabi Isa dan Nabi Yahya menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan: “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu mereka mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke tiga. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit ketiga, Nabi saw bertemu dengan Nabi Yusuf as dan bersamanya sekelompok dari kaumnya. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Yusuf menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Yusuf mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Sesungguhnya Nabi Yusuf telah dianugerahkan Allah setengah dari ketampanan. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Yusuf adalah manusia yang paling indah yang pernah diciptakan Allah, dan Allah menjadikan ketampanan dan keindahannya di atas seluruh manusia, bagaikan rembulan di malam purnama antara bintang-bintang. Maka Nabi saw bertanya, “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Dia adalah saudaramu Nabi Yusuf as.” Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke empat. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj)?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit keempat, Nabi saw bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihissalam. Sesungguhnya Allah telah mengangkatnya kepada derajat yang tinggi. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Idris menjawab salamnya serta menyambutnya, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Idris mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke lima. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. ***bersambung*** Diambil dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="930" name="Kisah Isra Mi’raj #7 “Dibukanya Pintu Langit (Lanjutan)”"]

Kisah Isra Mi’raj #6 Dibukanya Pintu Langit

Kalam Ulama - Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit. Baca kisah sebelumnya Kisah Isra Mi'raj #5 "Pujian dari Para Nabi" Tidak pernah seorang makhluq terlihat tangga yang lebih...

Muliakanlah Janda dan Anak Yatim, Anda Akan Dimuliakan Rasulullah

Oleh : KH Salim Azhar Dikisahkan bahwa ada sebagian orang Alawy yang cukup mampu. Ia mempunyai seorang istri Alawiyah dan beberapa anak perempuan, Ketika seorang Alawy meninggal...
Al Habib Sholeh

Ijazah Dari Al Habib Sholeh Al Hamid (Tanggul)

kalamulama.com- Ijazah Dari Al Habib Sholeh Al Hamid. (Tanggul)Al-Habib Sholeh Al Hamid (Tanggul) memberikan ijazah doa agar cepat punya rumah, inilah doanya: ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺭﺏ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺃﺳﺄﻟﻚ...
Kalam Ulama - Untuk Menyambut Bulan Ramadhan perlu kiranya kita mengetahui 5 Hal yang Penting Diketahui untuk Menyambut Bulan Ramadhan. KETIKA Baginda Muhammad Saw bersabda, “Puasa itu setengahnya sabar,” (HR. Imam At-Tirmidzy) dilanjutkan dengan sabda lainnya yang menegaskan, “Sabar itu setengahnya iman,” (HR. Imam Al-Khathib dan Imam Abi Nu’aim); Berarti sesungguhnya hasil gabungan dua hadits di atas adalah “Puasa itu seperempatnya iman.” Selain sabagai mozaik iman yang berbobot, pahala puasa itu langsung dibalas oleh Allah, sehingga balasan rukun Islam yang satu ini tidak ada yang tahu selain-Nya, disaat setiap ibadah kebajikan biasa bisa Allah lipat gandakan pahalanya mulai dari 10 hingga 700 kali lipat. Bagaimana dengan pahala puasa? Sekali lagi, pahala puasa benar-benar melintas di luar batas prediksi hitungan hisab ibadah biasa, sebab, “puasa itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang kelak membalasnya,” ujar hadits Qudsi muttafaq ‘alaih riwayat Sahabat Abu Hurairah (w. 59 H/602-679 M). Dan karena puasa mampu melejetikan setengah potensi rasa kesabaran dalam diri kita, Allah pun telah berfirman, إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS: Az-Zumar: 10) إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan Allah senantiasa bersama mereka yang selalu besabar.”(QS: Al-Baqarah ayat 153 dan Al-Anfal ayat 47). Tanda Puasa Cukuplah untuk mengetahui keutamaan puasa ketika Nabi sampai sudi bersumpah bahwa aroma mulut seorang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ketimbang harumnya misik, dan bahkan Allah telah memberikan fasilitas khusus bagi mereka yang rajin berpuasa; kelak mereka masuk surga dan bersua dengan-Nya via pintu yang tak bisa dilintasi oleh selain mereka, pintu spesial ini bernama “Ar-Rayyan.” Tidak heran, Rasul pun pernah mewartakan kepada para Sahabatnya bahwa hanya bagi orang berpuasalah diperoleh dua kebahagiaan; kebahagiaan saat berbuka puasanya, dan kebahagiaan disaat bertemu Tuhannya. Ketiga hadits tentang aroma mulut berpuasa, pintu spesial “Ar-Rayyan”, dan dua kebahagiaan orang berpuasa ini semuanya hadits-hadist shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman; فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka amalkan.” (QS. As- Sajdah [32]: 17). Ada yang manafsiri bahwa yang mereka amalkan adalah puasa. Dan memang layak pahala puasa sedemikian benafitnya, sebab puasa -sebagaimana yang telah disinggung diatas- langsung disalurkan ke haribaan Allah Subhanahu Wata’ala, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Di sini layak juga dipertanyakan, apa yang membedakan ibadah puasa dengan yang lainnya, padahal semua ibadah lainnya pun akan dikembalikan ke Allah Subhanahu Wata’ala? Pertama, Al-Ghazali menjawab puasa itu sama halnya dengan masjidil Haram yang secara langsung diberi gelar “Rumah -milik- Allah” (Baitullah), padahal toh semua permukaan bumi ini sebenarnya milik-Nya pula. Kedua, ada dua faktor nalar bermakna yang hanya dimiliki ibadah puasa; a. Bahwa puasa itu sebuah sikap ketahanan diri dan pengabaian, di dalamnya ada rahasia (sirr) yang tak terdapat di ibadah lainnya yang bisa terlihat. Seluruh amal ketaatan (lainnya) bisa tersaksikan makhluk hidup ciptaan-Nya dan terlihat, tidak dengan puasa. Hanya Allah semata yang bisa melihatnya. Itu karena, sekali lagi, puasa merupakan amal ibadah batin dengan memfungsikan kesabaran yang menjernihkan. b. Bahwa puasa itu pengekang musuh Allah, sebab jalur Setan (menggoda manusia) hanya melalui syahwat. Sedang syahwat hanya bisa diperkuat dengan makan-minum. Oleh karena itu, Baginda Muhammad Saw pernah mengingatkan kita, “Sesungguhnya Setan berjalan melalui aliran darah Ibn Adam, maka persempitlah kalian jalur-jalurnya dengan lapar!” (HR. Muttafaq ‘alaih) Masih mengenai puasa yang melemahkan syahwat dengan rasa lapar, suatu hari Rasulullah Saw berpetuah kepada Siti ‘Aisyah (w. 58 H/613-678 M), “Kebiasaanku telah mengetuk pintu surga.” Istri tercinta pun bertanya, “Dengan apa, wahai Baginda Rasul?” “Dengan lapar,” jawab sang rasul. Jadi, ketika puasa khususnya mampu mengekang Setan, menyumbat jalur-jalurnya, dan mempersempit lintasan-lintasannya, maka sunggah pantaslah ibadah ini Allah spesialkan dengan menasbihkan puasa hanya untuk dan milik-Nya. Sebab hanya dengan mengekang musuh-Nya, pembelaan terhadap (agama) Allah terwujud, dan hamba yang membela (agama) Allah pasti akan ditolong-Nya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Q.S Muhammad: 7). Jadi, permulaan itu dengan kesungguhan perjuangan dari diri seorang hamba, dan pasti akan dibalas dengan sebuah petunjuk (hidayah) dari Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, Allah berjanji, “Dan orang-orang yang berjuang demi (mencari keridhaan) Kami, niscaya benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S. Al-Ankabut : 69). Allah Subhanahu Wata’ala juga pernah menegaskan; إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d:11) Sedangkan perubahan (ke arah lebih buruk) hanya bisa terjadi dengan memperbanyak syahwat, di sinilah ladang ketenteraman para setan dan tempat mereka berjaga. Selagi ladang syahwat ini makin subur, maka godaan mereka takkan pernah terhenti. Dan selagi mereka selalu menggoda, maka keagungan Allah Subhanahu Wata’ala takkan pernah tersibak di pelupuk mata hati seorang hamba, ia terhijab dari menemui-Nya. Rasulullah Saw pernah menyayangkan hal ini dengan bersabda, “Andai saja para setan itu tak mampu mengitari hati manusia, niscaya manusia pasti bisa mengamati kerajaan langit.” (HR. Imam Ahmad bin Hanbal) Maka dari semua uraian diatas, tampaklah dengan jelas bahwa puasa merupakan pintunya ibadah menuju taman keimanan yang hakiki, sekaligus merupakan perisai seorang beriman agar senantiasa bertakwa kepada Tuhannya dan mampu mengekang kekuatan syahwat hingga Setan pun tak lagi mampu mengitari hati kita yang berpuasa. Dan diatas semuanya, hanya Allah semata yang tahu seberapa besar agungnya pahala berpuasa. Semoga kita bisa memuasakan batin kita, selain juga jasmaninya! Wallahu a’lam.* Oleh: Mohammad Roby Ulfi Zt. Penulis tengah studi di Islamic International University of Malaysia, aktif di ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia). Tulisan disadur secara bebas dari Prolog Kitab Asrarush Shaum, Ihya` ‘Ulumiddin karya Hujjatil Islam wal Muslimin, Al Imam Muhammad bin Muhammad, Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H)

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Imam Al Ghazali

Kalam Ulama - Untuk Menyambut Bulan Ramadhan perlu kiranya kita mengetahui Keutamaan Puasa dan Bulan Ramadhan. KETIKA Baginda Muhammad Saw bersabda, “Puasa itu setengahnya...

Pencetus Kalimat: “Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq”

         Kalimat penutup pidato dan surat-menyurat khas warga NU sebelum salam penutupan. Arti harfiahnya: “Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan...

Ketika Habib Abu Bakar Mimpi Disentil Sayyidina Ali

Kalam Ulama - Ketika Habib Abu Bakar Mimpi Disentil Sayyidina Ali Jalan Karya Bakti di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, sesak orang berpakaian serbaputih...
Kalam Ulama - Telah sampai kepada saya sebuah kitab yang disandarkan kepada Al-Hafidz Asy-Syarif As-Sayyid Ahmad bin Muhammad ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Hasani berjudul "Dzammul Asya'irah Wal Mutakallimin Wal Falasifah". Saya akan menyampaikan beberapa klarifikasi mengenai kitab ini. 1. Kitab ini bukanlah karya Sidi Ahmad Al-Ghumari, melainkan karya Dr. Shadiq bin Salim bin Shadiq. Beliau mengambil dan mencomot kalimat-kalimat Sidi Ahmad Al-Ghumari dari dari berbagai karyanya dengan tidak amamah. Dr. Shadiq dikenal sebagai tokoh wahabi yang keji. Ia hanya mengambil pernyataan Sidi Ahmad Al-Ghumari yang dianggap sejalan dengan pemahamannya yang rusak. Tujuannya adalah menyerang kelompok Asy'ariyah. Ini adalah sebuah sikap yang tidak ilmiah sama sekali. 2. Kitab ini diterbitkan atas prakarsa Abu Uwais Muhammad bin Al-Amin Bukhubzah, seorang tokoh wahabi yang lebih keji lagi dari Dr. Shadiq. Ia tinggal di kota Tetouan, Maroko. Dekat dengan kota Tanger, tempat kelahiran Sidi Ahmad Al-Ghumari. 3. Sebenarnya kitab ini sangatlah rapuh. Sebagian besar kitab ini dinukil dari kitab Sidi Ahmad Al-Ghumari yang berjudul "Ju'natul 'Atthar". Kitab ini terdiri dari tiga jilid besar dan belum dicetak. Masih ada bersama keluarga Al-Ghumari. Ada beberapa versi Ju'natul 'Atthar yang beredar dan dapat diunduh di internet, namun hanya juz pertama. Dr. Shadiq menukil kalimat-kalimat dalam kitab tersebut yang dirasa menentang ulama-ulama Asy'ariyah, para ahli kalam, dan filsuf. Padahal Ju'natul 'Atthar sendiri bukanlah kitab yang menjelaskan pendapat Sidi Ahmad Al-Ghumari dalam ilmu akidah. Kitab tersebut hanyalah kumpulan catatan faidah Sidi Ahmad Al-Ghumari saja. Jadi, setiap kali beliau mendapatkan maklumat atau informasi tertentu mengenai sebuah ilmu, maka beliau akan langsung mencatat dalam kitab tersebut. Ini agar memudahkan beliau dalam mencari kembali informasi atau maklumat tersebut saat dibutuhkan dalam penulisan atau pengajaran. Jadi, tidak semua hal yang ditulis oleh beliau dalam kitab tersebut juga disepakati oleh beliau sendiri. Apa buktinya? Dari judulnya saja dapat kita pahami bahwa kitab ini hanyalah kumpulan faidah belaka, yakni "Ju'natul 'Atthar Fi Jam'i Fawaidil Atsari Wal Akhbar". Jadi, ini hanyalah kumpulan faidah sang penulis. Saya juga telah mengklarifikasi kepada keluarga penulis secara langsung, dalam hal ini Asy-Syarif Sayyid Dr. Abdul Mun'im bin Abdul Aziz ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Hasani, yang mana saya dianugerahi karunia dapat belajar dan mulazamah bersama beliau di Zawiyah Shiddiqiyah. Demikian tulisan ini dibuat. Semoga mencerahkan. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam. Zawiyah Shiddiqiyah, 5 November 2018 Adhli Al-Qarni

AHMAD AL-GHUMARI MENENTANG ASYA’IRAH?!

Kalam Ulama - Telah sampai kepada saya sebuah kitab yang disandarkan kepada Al-Hafidz Asy-Syarif As-Sayyid Ahmad bin Muhammad ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Hasani berjudul "Dzammul...

Tidak Cukup Memahami Islam sebagai Doktrin

Oleh : Prof. Nadirsyah Hosen* Saat saya menjelaskan proses panjang sejarah kodifikasi al-Qur'an, sejumlah pihak banyak yang kaget. Mereka tahunya hanya produk akhir berupa mushaf...