Serba Serbi Islam

Pesan Abdulloh Ibnu Al Mubarok, Berawal dari Kisah Mimpi Indah

Oleh: KH. Salim Azhar   As Syekh Muhammad bin Abi Bakar Al Ushfuri menulis, Pada suatu tahun dari tahun-tahun perjalanan ibadah haji, Aku berada di tembok hijir Isma'il,...

KISAH SUFI

Suatu malam, Jalaluddin Rumi mengundang Syams Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Rumi. Setelah semua hidangan...
KalamUlama.com - SIKAP KITA KEPADA ORANG YANG MENGEJEK AGAMA ALLAH - Pada suatu hari Abu Mahdzurah mengolok-olok adzan ketika dikumandangkan di Makkah, maka Rasulullah meminta para sahabat untuk memanggil Abu Mahdzurah.

SIKAP KITA KEPADA ORANG YANG MENGEJEK AGAMA ALLAH

KalamUlama.com - SIKAP KITA KEPADA ORANG YANG MENGEJEK AGAMA ALLAH - Pada suatu hari Abu Mahdzurah mengolok-olok adzan ketika dikumandangkan di Makkah, maka Rasulullah...
Nasihat habib Umar

Nasihat Habib Umar Bin Hafidz di Masjid Persekutuan Kuala Lumpur Malaysia

kalamulama.com - Nasihat Habib Umar Bin Hafidz di Masjid Persekutuan Kuala Lumpur Malaysia Senin, 30 September 2019, Habib Umar bin Hafidz melanjutkan safari dakwahnya di...
ilmu fiqih

Definisi Ilmu dan fiqih dalam Perspektif Syaikh Zarnuji

kalamulama.com- Definisi Ilmu dan fiqih dalam Perspektif Syaikh Zarnuji Ilmu adalah suatu sifat dimana orang yang memilikinya menjadi faham (mengerti) terhadap objek tertentu. Sebuah keragu-raguan...
Islam dan teknologi

Prof Dr Quraish Shihab : Islam dan Teknologi

kalamulama.com- Islam dan Teknologi Dahulu ada yang melukiskan manusia sebagai sosok dengan dua sisi: hati dan lidah, yakni  perasaan yang bergejolak di dalam hati dan...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi” [irp posts="967" name="Kisah Isra’ Mi’raj #03 “Melihat Berbagai Peristiwa”"] Di perjalanan Nabi saw beberapa kali berjumpa dengan sekelompok kaum hamba-hamba Allah, mereka berkata, “Assalamualaika (keselamatan untukmu) wahai Nabi terakhir , Assalamualaika (keselamatan untukmu) wahai Nabi yang setelahnya adalah hari kebangkitan.” Maka Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “jawablah salam mereka.” Maka Nabi saw menjawab salam mereka. Nabi saw bertanya, “Siapa mereka wahai jibril?” Jibril menjawab, “mereka adalah Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa.” Di perjalanan Nabi saw melewati Nabi Musa yang sedang shalat dikuburnya yang terletak di bukit pasir merah (gunung Nebo). Postur tubuhnya adalah tinggi badannya, lurus rambutnya, kecoklatan kulitnya, seperti laki-laki dari suku Syanuah. Dalam shalatnya Nabi Musa berkata dengan suara yang sangat lantang, “Engkau ya Allah memuliakannya (Nabi Muhammad) dan engkau ya Allah mengutamakannya (Nabi Muhammad).” Maka Nabi Muhammad saw mengucapkan kepadanya salam, maka Nabi Musa menjawab salamnya dan berkata, “Siapa ini yang bersama Engkau wahai Jibril?” Jibril menjawab, “ini Ahmad.” Maka Nabi Musa berkata, “selamat datang nabi dari bangsa arab yang memberikan nasihat kepada umatnya, dan kemudian Nabi Musa mendoakan Nabi Muhammad saw dengan keberkahan.” Berkata Nabi Musa kepada Nabi Muhammad saw, “mintalah kepada Allah kemudahan untuk umatmu.” Kemudian mereka meneruskan perjalanan. Di perjalanan Nabi Muhammad saw bertanya kepada Jibril, “Siapa hamba mulia tadi wahai Jibril?” Jibril menjawab, itu saudaramu Nabi Musa bin Imran. Nabi bertanya, “terhadap siapa dia berani mengangkat suaranya dengan lantang dan tegas?”Jibril menjawab, “kepada Tuhannya.” Jibril berkata, “sesungguhnya Allah taa’la telah memaklumi ketegasannya.” Kemudian di perjalanan Nabi saw melalui pohon yang sangat besar sekali. Di bawah pohon itu ada seorang lelaki yang sangat berwibawa bersama anak keluarganya dan Nabi saw melihat lampu-lampu dan cahaya-cahaya yang terang. Rasul saw bertanya, “Siapa itu wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Beliau adalah ayahmu Nabi Ibrahim.” Kemudian keduanya saling bertukar salam. Lalu Nabi Ibrahim bertanya kepada Jibril, “Siapa ini wahai Jibril?” “ini adalah putramu Ahmad”, jawab Jibril. Maka Nabi Ibrahim berkata, “selamat datang wahai Nabi dari bangsa arab yang tidak bisa membaca dan menulis, yang menyampaikan Risalah Tuhannya, dan memberi nasihat pada umatnya. Wahai anakku sesungguhnya engkau akan bertemu dengan Tuhanmu malam ini dan sesungguhnya umatmu adalah umat yang terakhir dan yang paling lemah jikalau engkau bisa menjadikan seluruh permohonanmu atau sebagian besar permohonanmu kepada Tuhanmu untuk umatmu maka lakukanlah.” Kemudian Nabi Ibrahim mendoakan Nabi Muhammad saw dengan keberkahan. Nabi saw melanjutkan perjalanan bersama Jibril hingga sampai di lembah yang berada di kota Baitul Maqdis. Di saat itu terlihatlah neraka Jahannam yang terbentang seperti permadani. Maka para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “wahai Rasulullah bagaimana neraka jahanam itu?”, “Seperti bara api yang membara.” Jawab Rasulullah. Kemudian Nabi saw melanjutkan perjalanan bersama Jibril hingga sampai ke Baitul Maqdis dan memasukinya dari pintu kanan. Kemudian Nabi saw turun dari Buroq dan dikaitkan di pintu masjid pada kaitan yang sama ketika para nabi sebelumnya mengaitkan tunggangan mereka. Dalam riwayat lain, bahwa Jibril mendekati batu dan meletakkan jarinya kepada batu tersebut sampai tembus berlubang dan kemudian Buroq di kaitkan dilobang tersebut. Rasulullah saw memasuki masjid dari pintu yang matahari dan bulan condong kearahnya. Kemudian Nabi saw dan Jibril shalat dua rakaat dan tidak mengunggu lama sampai berkumpullah manusia yang sangat banyak. Maka Nabi Muhammad saw mengenali bahwa mereka itu adalah para nabi, di antara mereka ada yang sedang shalat berdiri, yang ruku’, dan yang sujud. Kemudian seorang mengumandangkan adzan dan iqomah. Mereka berdiri berbaris menunggu siapa yang akan mengimami mereka, lalu Jibril menggandeng tangan Rasulullah saw menuntunnya sampai mengedepankannya. Nabi saw shalat dua rakaat sebagai imam bersama mereka. Diriwayatkan dari ka’ab, bahwa Jibril mengumandangkan adzan dan turunlah malaikat dari langit dan Allah mengumpulkan seluruh rasul dan para nabi. Nabi Muhammad saw menjadi imam bagi para rasul, nabi dan malaikat. Setelah selesai sholat, Jibril bertanya, “Wahai Muhammad! apakah engkau tahu siapa mereka yang shalat di belakangmu? Nabi menjawab, “tidak.” Jibril berkata, “mereka adalah seluruh nabi dan rasul yang telah diutus oleh Allah.” ***bersambung*** Disarikan dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="949" name="Kisah Isra Mi’raj #5 “Pujian dari Para Nabi”"]

Kisah Isra Mi’raj #04 “Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi” Di perjalanan Nabi saw beberapa kali berjumpa dengan sekelompok kaum hamba-hamba Allah, mereka berkata, “Assalamualaika (keselamatan untukmu) wahai...
Kalam Ulama - Islam Ajarkan Perdamaian dan Menghargai Keberagaman karena intisari ajaran Islam adalah menciptakan perdamaian dan menghargai keberagaman. Nilai-nilai toleransi dan sopan santun adalah buah dari keindahan ajaran Islam. Namun mutakhir ini, caci maki dan bahasa kasar acapkali digunakan oleh pemuka agama terutama di mimbar-mimbar keagamaan. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan misi ajaran Nabi yang ingin membawa Islam sebagai agama yang beradab dan penuh dengan kedamaian. Habib Ali Al-Jufri menyayangkan para pendakwah yang kerap membawa materi kebencian di mimbar agama tersebut. Menurut Habib Ali AL-Jufri, pendakwah yang isinya selalu memprovokasi umat untuk membenci sesama umat muslim dan umat agama lain adalah pendakwah yang tidak patut diikuti, karena dakwah dengan kebencian sejatinya hanyalah hasutan belaka. Baca Juga : Kalam Ulama #210 : Agama yang Penuh Rahmah Ulama asal Mekkah yang terkenal karena kedalaman ilmunya itu bersyukur mengenal Islam bukan dengan cara kekerasan. Menurutnya, Islam yang diajarkan secara keras akan berbuah konflik di tengah masyarakat. Jika dakwah disampaikan dengan cara yang santun, maka masyarakat pun akan lebih menerima isi daripada dakwah tersebut. “Ketika aku mendengar orang bicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka,” terang Habib Ali. Pesan yang dikemukakan oleh Habib Ali mengandung makna Islam adalah agama yang damai dan toleran terhadap semua perbedaan. Sifat yang kasar dan mencaci maki adalah sifat yang tidak diajarakan oleh Nabi, bahkan Nabi tidak sepakat dengan Islam yang disampaikan secara keras tersebut, dan tentu saja dakwah yang keras dan caci maki bukanlah ajaran Islam. Wallahu a'lam Mari bersholawat: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّـدِنَا مُحَمَّدٍ نِالنَّــبِـــىِّ اْلأُمِّـــيِّ الْحَبِـــيْبِ الْعَالِىِّ الْقَادِرِ الْعَظِيْمِ الْجَاهِ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ Allohumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammadinin nabiyyil ummiyyil habiibil 'aaliyyil qodril 'dziimil jaah. wa 'alaa aalihii wa shohbihii wa sallim. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, Nabi yang ummi, kekasih yang luhur derajatnya, yang agung pangkatnyaa, dan shalawat dan salam semoga juga selalu tercurahkan kepada keluarga serta sahabatnya. Baca Juga : Inilah Terjemahan Wawancara Gus Yahya pada Forum AJC di Israel

Habib Ali Al-jufri: Islam Ajarkan Perdamaian dan Menghargai Keberagaman

Kalam Ulama - Islam Ajarkan Perdamaian dan Menghargai Keberagaman karena intisari ajaran Islam adalah menciptakan perdamaian dan menghargai keberagaman. Nilai-nilai toleransi dan sopan santun...
indonesia islam- KH Masdar Farid Mas'udi: Indonesia Secara Substansif Sudah Islam. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan pusaka warisan para wali dan kiyai Nusantara. Sebagai organisasi masyarakat Islam, NU berperan dalam keagamaan dan kebangsaan. Indonesia memiliki banyak simpul-simpul keumatan dan hal itu hanya ada di Indonesia . “Hampir 90% umat Islam di Indonesia memiliki afiliasi madzhab dan kepercayaan masing-masing di dalam hatinya, dan itu hanya ada di negara ini tanpa mendirikan negara baru,” Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)  KH. Masdar Farid Mas'udi  ketika memberikan arahan sekaligus membuka acara Bahtsul Masail Pra Munas dan Konbes 2020 di Pondok Pesantren Al Falakiyah, Pagentongan, Bogor, Jawa Barat. Ahad (01/03). Indonesia memiliki kebhinekaan yang tinggi akan tetapi tetap bisa mejadi satu bangsa dan negara. "Ini bisa terjadi karena Indonesia tidak mendeklarasikan diri sebagai negara agama atau negara islam." tambahnya. Ketika sebuah negara sudah dijubahi agama, penguasa akan menjadi otoriter, karena merasa mewakili suatu agama. Padahal prinsip di dalam Al-Qur'an jika ditarik kesimpulan dalam bernegara adalah dapat menciptakan keadilan. KH  Masdar juga menegaskan bahwa bid'ah yang paling berbahaya adalah negara yang mendeklarasikan sebagai negara Islam, karena di dalam Al-Qur'an dan Hadist tidak ada. "Negara islam itu hanya label saja, tidak ada dalam rukun islam. Dan budaya Islam di Indonesia itu yang dapat melindungi umat yang bermadzhab lain." Meskipun Indonesia tidak disebut sebagai negara islam, akan tetapi prinsip-prinsip yang dijadikan sebagai landasan bernegara khususnya pancasila itu sudah sangat islami. "Itulah mengapa Indonesia tidak disebut negara islam tetapi secara substansif sudah islam, dan semoga dengan deselenggarakannya Bahtsul Masail mampu menjadi salah satu jalan untuk menjadi solusi dalam keadilan bernegara," tutup beliau. Kontributor: Rouf Kholil 

KH Masdar Farid Mas’udi: Indonesia Secara Substansif Sudah Islam

kalamulama.com- KH Masdar Farid Mas'udi: Indonesia Secara Substansif Sudah Islam. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan pusaka warisan para wali dan kiyai Nusantara. Sebagai organisasi masyarakat...
Kalam Ulama - Kabar gembira teruntuk umat Nabi Muhammad SAW di Indonesia. Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAWPada Sabtu malam Ahad kemarin (15/3/2014) d. alam acara rutin Majelis Riyadhul Jannah bertempat di Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dihadiri puluhan ribu muslimin, KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi, Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syifaa wal Mahmuudiyah Sumedang melakukan klarifikasi atas beredarnya berita yang menyatakan “Umat Islam Indonesia adalah umat yang sangat dicintai Nabi Muhammad SAW”. Di beberapa media Islam ahlussunnah telah ramai tersebar sebuah kisah perjumpaan seorang ulama dengan Rasulullah SAW di Madinah. Ulama tersebut mengatakan bahwa Rasulullah SAW sangat mencintai Bangsa Indonesia karena mereka adalah umatnya yang sangat mencintainya yakni mencintai Rasulullah SAW. KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi menegaskan akan kebenaran kisah tersebut, tetapi ulama yang berjumpa Nabi SAW tersebut bukanlah Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki melainkan gurunya. Baca Juga : Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya? KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi pun menceritakan bahwa kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika beliau bertemu dengan ulama-ulama besar di pinggir makam Rasulullah SAW. Saat itu ada seorang ulama, salah satu Guru Mursyid Thariqah yang bernama Al ‘Allamah Al ‘Arifbillah Syaikh Utsman melihat KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi dan bertanya tentang nama dan asal usulnya. Setelah Syaikh Utsman tahu beliau berasal dari Indonesia, Syaikh Utsman ini lalu menceritakan sebuah rahasia yang belum pernah dibuka kepada siapapun dan ini adalah sebuah berita kabar gembira bagi umat Islam di Indonesia. Syaikh Utsman mengatakan dulu beliau bersama gurunya pernah berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Guru Syaikh Utsman yang dimaksud ini juga adalah guru yang sama dari gurunya Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Ketika berziarah Guru Syaikh Utsman ini langsung masuk ke dalam makam Rasulullah SAW. Di sana, Guru Syaikh Utsman bertemu secara langsung dengan Rasulullah SAW secara nyata bukan mimpi dan beliau melihat lautan manusia di Hujrah Syarifah. Lautan manusia yang begitu sangat banyak terlihat sepanjang mata memandang. Lautan manusia yang tidak bisa terhitung jumlahnya dengan suku yang bermacam-macam dan bahasa yang bermacam-macam pula. Beliau lalu melirik ke suatu tempat ternyata terbentang luas tak terhitung di sana ada sekelompok orang yang wajahnya berbeda dengan wajah orang Timur Tengah atau Arab dan jumlahnya adalah terbanyak diantara sekian lautan manusia yang ada di Hujrah Syarifah. Guru Syaikh Utsman pun kaget dan bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, siapakah mereka?”. Rasulullah SAW menjawab, “Mereka adalah kekasih-kekasihku yang mencintaiku dari Indonesia”. Subhanalloh, ini adalah kisah nyata yang diceritakan langsung oleh seorang ulama kepada KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi. Dan beliau mengklarifikasi atas kebenaran cerita ini saat menghadiri rutinan Majelis Riyadlul Jannah Malang. Dalam ceramah KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi yang lain di waktu yang berbeda disebutkan Guru Syaikh Utsman ini kemudian menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada para jama’ah, “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia”. Baca Juga : Kenapa Engkau Tidak Mengenalku Wahai Rasulullah? Semoga ini menjadi kabar gembira bagi umat Islam di Indonesia dimanapun berada. Teruslah berjuang dan berdakwah agar umat Islam di Indonesia khususnya bisa terus dan terus mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW. Sumber : http://www.elhooda.net/

Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAW

Kalam Ulama - Kabar gembira teruntuk umat Nabi Muhammad SAW di Indonesia. Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAWPada Sabtu malam Ahad kemarin...