Serba Serbi Islam

asal usul habaib

Asal-Usul Para Habaib di Nusantara

kalamulama.com- Asal-Usul Para Habaib di Nusantara. Menurut Muhammad bin Ahmad al-Syatri dalam kitabnya Adwar al-Tarikh al-Hadrami, bangsa Arab terbagi menjadi tiga golongan: al-Ba’idah yaitu...
Kunci kesuksesan Habib syekh

Amalan Kunci Kesuksesan Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf

kalamulama.com - Amalan Kunci Kesuksesan Habib Syekh bin Abdul Qadir Kunci kesuksesan dan kekayaan Habib Syekh diungkap oleh Habib Muhammad Al Habsyi dalam tausiyahnya, sebagaimana...
Kalam Ulama - Ijtihad Politik Para Kiai NU - Sudah menjadi kebiasaan bagi Para Ulama Nahdlatul Ulama dari Zaman Kiai Hasyim Asy'ari sampai detik ini selalu dipenuhi caci maki ketika beliau - beliau mempunyai ijtihad politik tersendiri. Saat itu KH. Hasyim Asy'ari keluar dari Penjara Jepang, disaat itulah Kiai Hasyim dianggap mulai melunak kepada Jepang karena mengizinkan Santri untuk ikut dalam barisan Tentara PETA dan HIZBULLAH yang diproyeksikan untuk membantu Jepang dalam Perang Asia Timur Raya. Tetapi oleh Kiai Hasyim strategi ini digunakan untuk berlatih militer demi menambah bekal bagi Para Santri dan rakyat Indonesia ketika suatu saat nanti kembali menghadapi pertempuran. Sejak saat itulah Kiai Hasyim Asy'ari beserta putra beliau yaitu Kiai Wahid Hasyim dibully habis - habisan karena dianggap antek Jepang, penjilat, munafik dan sebangsanya. Padahal kalau saja saat itu tidak dilakukan, niscaya banyak pemuda muslim yang tidak bisa taktik dan strategi perang. Begitu juga dengan Kiai Wahab Chasbullah yang memilih keluar dari Masyumi kemudian bergabung dengan kelompok Nasionalis, Sosialis, dan Komunis (Nasakom). Umpatan hingga ucapan laknat tak pernah berhenti menghampiri telinga Kiai Wahab Chasbullah. Bahkan Kiai Wahab dianggap sebagai munafik oleh sahabat Masyumi dan dianggap Kafir oleh kelompok DI/TII. Saat itu NU bergabung sebagai penyeimbang kekuatan manuver PKI dan Nasionalis Garis Keras. Sebab jika tidak ada kekuatan agama di dalam kelompok mereka apa jadinya ketika itu agama hanya dijadikan bulan - bulanan oleh kelompok Komunis dan Sosialis. Belum lama hilang dari ingatan kita beliau KH. Abdurrahman Wahid juga tak luput dari cacian, umpatan, bahkan hinaan sampai kepada fisik beliau. Ketika itu Gus Dur sapaan akrabnya menjadi orang nomor 1 d Indonesa, hinaan saat Gus Dur pergi ke Israel mulai menjadi-jadi, dari kalimat "p*cek, b*ta, antek Yahudi, dan kalimat lain yang setipe. Padahal tujuan pada saat itu adalah memberi syarat agar Indonesia dilibatkan dalam proses perdamaian di Timur Tengah. Dengan demikian, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia, akan didengar di ranah internasional. Lalu oleh lawan politik mereka, Gus Dur digulingkan dari Kursi Presiden dengan fitnah yang sampai detik ini tidak pernah terbukti. Seperti halnya di era modern sekarang ini, hampir tidak jauh dari apa yang dulu dialami oleh Para Kiai Sepuh Nahdlatul Ulama. Dulu saat KH. Maimun Zubair mendukung salah satu sikap politik pilihan mereka, beliau dipuji dengan pujian yang mungkin bagi kelas kroco seperti kita akan membuat melambung tinggi dengan kesombongannya, namun bagi Mbah Maimun hanyalah hal biasa. Sebab bagi beliau, dipuji tak membuat tinggi hati, dicaci tak membuat kecil hati. Namun, ketika beliau berbeda pandangan politik dengan pilihan mereka, langsung saja diumpat habis - habisan. Bahkan seorang ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa berinisial SM saat itu sampai mengatakan g*bl*g dan sudah bau liang kubur kepada Mustasyar (Dewan Penasehat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah itu. Selang beberapa waktu setelah itu, salah satu simpatisan sebuah partai yang berbeda pilihan politik dengan KH. Maimun Zubair berinisial IK alias IT alias TK terang-terangan menghina beliau dengan kalimat 'tengik' yang membuat siapa saja warga Nahdliyin yang mendengarnya akan langsung bereaksi keras terhadap penghinaan seperti itu. Jika sekelas Kiai Maimun Zubair saja begitu derasnya fitnahan, cacian dan hinaan akibat perbedaan pandangan politik dengan beliau, maka jangan heran apabila ribuan para murid beliau yang mengikuti pandangan politik gurunya itu juga akan siap dibully dan dicaci oleh mereka yang berbeda pilihan dengannya. Oleh karena itu, bagi siapa saja Warga Nahdliyin yang memiliki darah dan nasab keilmuan kepada Para Masyayikh Nahdlatul Ulama, saya berharap agar jangan sampai mengumpat, mencaci, dan menghina Para Ulama yang berbeda pilihan politik dengan anda. Seperti dhawuh Al Hafidz Ibnu Asakir dalam maqolahnya : لُحُوْمُ الْعُلَمَاءِ مَسْمُوْمَةْ وَعَادَةُ اللهِ فِيْ هَتْكِ أَسْتَارِ مُنْتَقِصِيْهِمْ مَعْلُوْمَةْ “Bahwasanya daging para ulama itu beracun, dan Allah Subhanahuwata'ala pasti akan menyingkap 'tirai' para pencela mereka ”. -- Ditulis Oleh : IMRON ROSYADI, 22 Ramadhan 1439 H -- "Bukan Timses Peserta Pilkada Jawa Tengah baik No. 1 maupun No. 2"

Ijtihad Politik Para Kiai NU

Kalam Ulama - Ijtihad Politik Para Kiai NU - Sudah menjadi kebiasaan bagi Para Ulama Nahdlatul Ulama dari Zaman Kiai Hasyim Asy'ari sampai detik...
 Kalam Ulama – Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW (Diringkaskan dari kitab Azzahrul Baasim karya Mufti Betawi zaman Hindia Belanda, al-Habib Utsman bin 'Abdillah bin Yahya rohimahullohu ta'ala): Baca Juga : Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAW Dilaksanakan pada tempat-tempat yang terhormat seperti masjid, musholla, majelis-majelis, atau perkumpulan mulia, dan sebagainya. Tidak boleh ada pada tempat tersebut suatu patung-patung binatang atau manusia yang menjadi simbol pengagungan dan penyembahan terhadapnya (misal patung dewa, bunda maria, dan sejenisnya), karena hal tersebut dibenci oleh beliau (SAW) dan para Malaikat. Ketika membaca shirohnya (sejarahnya) yang terdapat dalam Kitab Maulid, tidak boleh bercampur didalamnya antara laki-laki dengan perempuan. Kecuali adanya hijab (batas/dinding) yang memisahkan antara perempuan dan laki-laki, sehingga aman dari fitnah. Jangan pula ada pada tempat diselenggarakannya, suatu permainan yang HARAM (misal judi dan sejenisnya). Sebab, hal itu akan mengantarkan pada kedurhakaan besar melanggar larangan Rosululloh SAW. Jangan pula ada pada tempat itu segala sesuatu yang beraroma busuk. Seperti rokok, cerutu, kandang binatang, dan sejenisnya. Maka hendaklah ada pada tempat itu segala sesuatu wewangian yang harum seperti dupa (gaharu bakar) atau bunga-bungaan. Hendaklah yang hadir pada tempat penyelenggaran itu membaca sholawat, dan janganlah satu sama lain saling bercerita, masing-masing "pasang" telinga mendengar kisah maulid yang dibacakan sambil membaca sholawat. Apabila nanti disebut akan dzohir (lahir dan hadir)-nya sang Nabi SAW ke dunia, maka seluruh yang hadir bersegera untuk bangun dan berdiri. Bukan atas dasar paksaan, tapi karena TAKDZIM (HORMAT), BAHAGIA, dan ANTUSIAS pada hadirnya beliau (SAW). Sehingga pada akhirnya segenap hadirin yang mematuhi aturan-aturan berlaku, kelak akan mendapatkan syafa'at (pertolongan) dari beliau (SAW) di yaumil akhir serta mendapatkan balasan yang berlipat ganda dunia wal-akhiroh. InsyaAlloh. اللهمّ صلّ على سيّدنا و شفيعنا محمّد وعلى آله وصحبه و سلّم واجعلنا من خيار امّته و من اهل شفاعته برحمتك يا ارحم الرّاحمين آمين "Allohumma Sholli 'ala Sayyidina wa Syafi'ina Muhammadin wa 'ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallim waj'alnaa min khiyaari ummatihi wa min ahli syafaa'atihi, birohmatika Yaa Arhamarrohimiin, aamiin" (Yaa Alloh, limpahkanlah sholawat atas junjungan kami, Nabi kami yang memberi syafa'at bagi kami, yaitu Nabi Muhammad SAW dan atas keluarganya, dan sahabatnya, serta salam penghormatan atasnya, dan jadikanlah kami daripada umatnya yang terbaik dan yang mendapat syafa'atnya di hari kemudian dengan Rahmat-Mu wahai Tuhan yang memiliki sifat Kasih Sayang melebihi semua yang memiliki sifat kasih sayang, aamiin) wAllohu a'lam bishshowaab. Baca Juga : Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya?

Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW

 Kalam Ulama – Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW (Diringkaskan dari kitab Azzahrul Baasim karya Mufti Betawi zaman Hindia Belanda, al-Habib Utsman bin 'Abdillah bin Yahya rohimahullohu ta'ala): Baca Juga : Bangsa...
Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). Kehadiran Karomah Habib Umar bin Hafidz yang Ditakuti Jin. Seorang santri Darul Musthofa dari Malaysia mendapat kabar yang cukup mengagetkan dari keluarganya di rumah. Kabarnya, ketika itu saudarinya yang di rumah sedang dirasuki oleh jin. Pihak keluarganya telah mengusahakan berbagai cara untuk mengeluarkan jin itu, tapi ternyata hasilnya nihil. Akhirnya, santri ini berinisiatif untuk meminta bantuan kepada gurunya, Guru Mulia Habib Umar bin Hafidzh. Setelah Guru Mulia selesai menunaikan salah satu sholat, santri tadi memberanikan diri maju untuk mengutarakan hajatnya. Ia pun berkata, “Ya Habib…sekarang saudari saya di Malaysia sedang dirasuki oleh jin dan jin itu sangat susah untuk dikeluarkan”. Guru Mulia langsung paham kalau santri ini sedang meminta bantuannya. Tiba-tiba Guru Mulia terlihat seperti memandang seseorang dan beliau pun berucap, “Ihtariq (artinya: terbakar kau)!!!”. Santri itu sempat bingung dengan apa yang dilakukan Guru Mulia, tapi ia hanya berhusnudzhon saja mungkin ada hikmah di balik semua ini. (Baca Juga Kisah Habib Ali al-Jufri Sangat Membenci Pembunuh Ayahanda Habib Umar bin Hafidz) Lalu santri itu pun pamit untuk segera menghubungi keluarganya dan memastikan keadaan saudarinya. Dan Subhanallah…jin yang merasuki tubuh saudarinya itu telah keluar. Dan dia baru sadar maksud dari sikap Guru Mulia tadi, ternyata Guru Mulia tadi seperti memandang ke arah jin itu dan kemudian mengancamnya dengan ucapan beliau “ihtariq!!!”. Seorang santri Darul Musthofa lain pernah ditanya oleh seorang Syekh di Tarim. Syekh itu berkata, “Apakah kau tahu mengapa gurumu sering diundang ke acara selamatan rumah baru??” Santri itu menjawab bahwa ia tidak tahu. Lalu Syekh itu pun menjawab pertanyaannya sendiri, “Apabila gurumu itu hadir di rumah yang masih dihuni oleh jin, maka hanya dengan beliau melihat ke suatu arah, jin-jin di arah itu pun akan lari keluar dari rumah baru itu dan begitu seterusnya hingga rumah itu bersih dari para jin pengganggu tersebut. Semoga kisah ini bisa sedikit membantu untuk memperbarui masyhad kita kepada beliau. Dan mari kita doakan agar beliau dilindungi dari segala macam fitnah dan keburukan dzhohir maupun bathin. Dan semoga beliau selalu diberikan sehat ‘afiyah dan dipanjangkan umurnya, aamiin…

Kehadiran Karomah Habib Umar bin Hafidz yang Ditakuti Jin.

Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). Kehadiran Karomah Habib Umar bin Hafidz yang Ditakuti Jin. Seorang santri Darul Musthofa dari Malaysia mendapat kabar yang cukup mengagetkan...
Gus Miek

Pesan Gus Miek untuk Para Hafidz dalam Memilih Jodoh

kalamulama.com- Pesan Gus Miek untuk Para Hafidz dalam Memilih Jodoh. “Quffazhul Qur’an jangan sampai melangkah pada perkawinan yang bukan perjuangan, bukan pengabdian, bukan hikmah,...
wasiat habib umar

WASIAT AL HABIB UMAR BIN HAFIDH BULAN ROBI’UL AWWAL 1441 H

kalamulama.com - WASIAT AL HABIB UMAR BIN HAFIDH BULAN ROBI'UL AWWAL 1441 H. Berwasiat Sayyidil Habib Umar bin Hafidz untuk memperbanyak shighot sholawat di...
Habib Jindan

Habib Jindan: “KAKEK-KAKEK SAYA DULU BERGURU PADA PENDIRI NU”

kalamulama.com - Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan : KAKEK-KAKEK SAYA DULU BERGURU PADA PENDIRI NU, HADRATUSY SYAIKH HASYIM ASY’ARI" Suatu waktu, menjelang sore hari,...
Kalam Ulama - Wejangan KH. Hasyim Asy'ari, Pendiri Nahdlatul Ulama. Bismillahirrahmanirrahim.(surat ini) Dari makhluk yang paling melarat, bahkan pada hakikatnya dari orang yang tidak punya sesuatu apapun, KH Hasyim Asy’ari, semoga Allah swt. mengampuni keturunannya dan seluruh umat muslim. Kepada teman-teman yang mulia dari penduduk tanah Jawa dan sekitarnya, baik ULAMA maupun MASYARAKAT UMUM… Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh Benar-benar telah sampai kepadaku sebuah kabar bahwa api fitnah dan pertikaian telah terjadi di antara kalian semua. Maka aku merenung sejenak kira-kira apa sebabnya. Kemudian aku berkesimpulan bahwa, sebab itu semua adalah karena masyarakat zaman sekarang telah banyak mengganti dan merubah kitab Allah swt. dan sunnah Rasulullah saw. Allah swt. berfirman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (surat Al-Hujurat; 10) Sementara masyarakat sekarang menjadikan orang mukmin sebagai musuh dan tidak ada upaya untuk mendamaikan atau perdamaian di antara mereka, bahkan ada kecenderungan untuk merusaknya. Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian saling menebar iri dengki, jangan kalian saling membenci dan jangan saling bermusuhan. Jadilah kalian bersaudara wahai hamba-hamba Allah swt.” Sementara masyarakat zaman sekarang saling iri dengki, saling membenci, saling bersaing (dalam urusan dunia) dan mereka akhirnya menjadi musuh. Wahai para ulama yang fanatik terhadab sebagian madzhab dan pendapat (ulama madzhab), tinggalkanlah fanatik kalian terhadap urusan-urusan far’iyyah (tidak fundamental), yang di dalamnya, para ulama masih menawarkan dua pendapat, yakni pendapat yang mengatakan bahwa, “Setiap mujtahid (niscaya) benar.” Serta pendapat yang mengatakan, “Mujtahid yang benar (pasti hanya) satu, namun mujtahid yang salah tetap mendapat pahala.” Tinggalkanlah fanatik kalian! Dan tinggalkanlah jurang yang akan merusak kalian! Lakukanlah pembelaan terhadap agama Islam! Berjuanglah kalian untuk menangkis orang-orang yang mencoba melukai Al-Quran dan Sifat-sifat Allah swt. berjuanglah kalian untuk menolak orang-orang yang berilmu sesat dan akidah yang merusak. Jihad untuk menolak mereka adalh wajib. Dan sibukkanlah diri kalian untuk senantiasa berjihad melawan mereka. Wahai manusia, di antara kalian ada orang-orang kafir yang memenuhi negeri ini, maka siapa lagi yang bisa diharapkan bangkit untuk mengawasi mereka dan serius untuk menunjukkannya ke jalan yang benar??? Wahai para ulama! Untuk urusan seperti ini (membela Al-Quran dan menolak orang yang menodai agama), maka bersungguh-sungguhlah kalian dan silakan kalian berfanatik. Adapun fanatik kalian untuk urusan-urusan agama yang bersifat far’iyyah dan mengarahkan manusia ke madzhab tertentu atau pendapat tertentu, maka itu adalah suatu hal yang tidak akan diterima Allah swt. dan tidak disenangi Rasulullah saw. Yang membuat kalian semua bertindak seperti itu tiada lain kecuali hanya kefanatikan kalian terhadap madzhab tertentu, bersaing dalam bermadzhab dan saling hasud. Sungguh, kalu saja Imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Hajar dan Imam Ramly masih hidup (di tengah-tengah kita), maka pasti mereka akan sangat ingkar dan tidak sepakat atas (perbuatan) kalian dan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah kalian perbuat. Kalian mengingkari sesuatu yang masih dikhilafi para ulama, sementara kalian melihat banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, meninggalkan shalat yang hukumannya, menurut Imam Syafi’I, Imam Malik dan Imam Ahmad, adalah potong leher. Dan kalian tidak mengingkarinya sedikitpun. Bahkan di antara kalian yang telah melihat banyak tetangganya tidak ada yang melaksanakan shalat, tapi kalian diam seribu bahasa. Lantas bagaimana kalian mengingkari sebuah urusan far’iyyah yang terjadi perbedaan pendapat di antara ulama? Sementara pada saat yang sama kalian tidak pernah mengingkari sesuatu yang nyata-nyata diharamkan agama seperti zina, riba, minum khamar dll… Sama sekali tidak pernah terbersit dalam benak kalian untuk terpanggil mengurusi hal-hal yang diharamkan Allah swt. kalian hanya terpanggil oleh rasa fanatisme kalian kepada Imam Syafi’I dan Imam Ibnu Hajar. Hal itu akan menyebabkan tercerai-berainya persatuan kalian, terputusnya hubungan keluarga kalian, terkalahkannya kalian oleh orang-orang yang bodoh, jatuhnya wibawa kalian di mata masyarakat umum dan harga diri kalian akan jadi bahan omongan orang-orang bodoh, akhirnya kalian akan membalas merusak mereka sebab gunjingan mereka tentang kalian. Itu semua terjadi karena daging kalian telah teracuni dan kalian telah merusak diri kalian dengan dosa-dosa besar yang kalian perbuat. Wahai para ulama, apabila kalian melihat orang yang mengamalkan pendapat dari para Imam Ahli Madzhab yang memang boleh diikuti, walaupun pendapat itu tidak rajih (unggul), apabila kalian tidak sepakat dengan mereka, maka jangan kalian menghukuminya dengan keras, tapi tunjukkanlah kepada mereka dengan lembut. Dan apabila mereka tidak mau mengikuti anjuran kalian, maka jangan sekali-kali kalian menjadikan mereka sebagai musuh. Perumpamaan orang-orang yang melakukan hal di atas adalah seperti orang yang membangun gedung tapi merobohkan tatanan kota. Jangan kalian jadikan keengganan mereka untuk mengikuti kalian, sebagai alasan untuk perpecahan, pertikaian dan permusuhan. Sesungguhnya perpecahan, pertikaian dan permusuhan adalah kejahatan yang mewabah dan dosa besar yang bisa merobohkan tatanan kemasyarakatan dan bisa menutup pintu kebaikan. Untuk itu, Allah swt. melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin dari pertentangan dan Allah swt. mengingatkan mereka bahwa akibatnya sangat buruk serta ujung-ujungnya sangat menyakitkan. “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (surat Al-Anfaal; 46) Wahai orang-orang muslim! Sesungguhnya di dalam tragedi yang terjadi di hari-hari ini, ada ibrah (hikmah) yang banyak serta nasihat yang sangat layak diambil orang yang yang cerdas dari hanya sekedar mendengarkan mauidzahnya para penceramah dan nasihatnya para mursyid. Ingatlah! Bahwa kejadian di atas adalah merupakan kejadian yang setiap saat akan selalu menghampiri kita. Maka apakah bagi kita bisa mengambil ibrah dan hikmah??? Dan apakah kita sadar dari lelap dan lupa kita??? Dan kita mesti sadar, kebahagiaan kita tergantung dari sifat tolong-menolong kita, persatuan kita, kejernihan hati kita dan keikhlasan sebagian dari kita kepada yang lain. Ataukah kita tetap berteduh di bawah perpecahan, pertikaian, saling menghina, menghasud dan berada di dalam kesesatan? Sementara agama kita satu, yaitu agama Islam dan madzhab kita satu, yaitu Syafi’iyyah dan daerah kita juga satu yaitu Jawa. Dan kita semua adalah pengikut Ahlissunnah wal Jama’ah. Maka Demi Allah swt., sesungguhnya perpecahan, pertikaian, saling menghina, fanatik madzhab adalah musibah yang nyata dan kerugian yang besar. Wahai orang-orang Islam! Bertakwalah kepada Allah swt. dan kembalilah kalian semua kepada Kitab Tuhan kalian. Dan amalkan Sunnah Nabi kalian serta ikutilah jejak para pendahulu kalian yang sholeh-sholeh. Maka kalian akan berbahagia dan beruntung seperti mereka. Bertakwalah kepada Allah swt. dan damaikanlah orang-orang yang berseteru di antara kalian. Saling tolong-menolonglah kalian atas kebaikan dan takwa. Jangan saling tolong menolong atas dosa dan aniaya, maka Allah swt. akan melindungi kalian dengan Rahmat-Nya dan akan menebarkan kebaikan-Nya. Jangan seperti orang yang berkata, “aku mendengarkan” padahal mereka tidak mendengarkan. Wassalaam fil mabda’ wal-khitaam. Muhammad Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang.

Wejangan KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri Nahdlatul Ulama

Kalam Ulama - Wejangan KH. Hasyim Asy'ari, Pendiri Nahdlatul Ulama. Bismillahirrahmanirrahim.(surat ini) Dari makhluk yang paling melarat, bahkan pada hakikatnya dari orang yang tidak punya...
wali Qutub KH as'ad

KH. As’ad Syamsul Arifin, Wali Qutub dari Situbondo

kalamulama.com- KH. As'ad Syamsul Arifin, Wali Qutub dari Situbondo. Tidak ada yang menyangka, ternyata Mursyid 13 thariqah dan ulama besar NU ini adalah seorang...