Serba Serbi Islam

Irtibath yang Kuat Dengan Guru

Dikisahkan oleh al-Fadhil al-Ustadz Ahmad Hasan Saifouridzal (pimpinan Majelis Rasulullah Singapura) dalam sambutannya semalam di Majelis Haul al-Habib Munzir al-Musawa, Masjid Jami' al-Munawwar, Pancoran,...

ISLAM KITA MENYATUKAN, BUKAN MEMECAH BELAH UMMAT

Disampaikan Oleh: Habib Umar bin Hafidz dalam acara Jalsatuddu'at Pertama di JIC (Jakarta Islamic Center) Jakarta Utara, Ahad malam Senin 15 Oktober 2017 M Alhamdulillah...

Orang Tua dan Pendidikan Anak

                           Dalam kitab Ta'limul Muta'alim, Syekh Az-Zarnuji mengutip sebuah kisah tentang Khalifah Harun...

Amalan di Jum’at Terakhir Bulan Rajab

Di dalam Kitab Kanzun Najah Wassurur karya As-Syekh ‘Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds dinyatakan: ومن فوائد الشيخ علي الأجهوري رحمه الله تعالى كما في ترجمته...
Kalam Ulama - Belajar agama malah masuk neraka. Sungguh malang orang yang mempelajari ilmu agama dengan tujuan ingin mengungguli para ulama dan menuai pujian dari zu’ama serta orang-orang awam. Kepiawiannya di dalam meracik dan menyajikan argumentasi tidaklah menyelamatkan dirinya dan juga umat yang memuja dan memujinya. Jangankan menyelamatkan orang lain, menyelamatkan dirinya sendiri saja belum tentu bisa. Tipe-tipe orang yang belajar untuk terlihat lebih unggul itu, biasanya kelihatan pongah di dalam setiap forum. Kata-kata melecehkan orang lain, selalu mudah keluar dari lisannya. Faedah yang bisa diambil dari perkataan orang seperti ini hanyalah ungkapan-ungkapan seperti, “Mereka bodoh di dalam ilmu sunnah, mereka berpegang kepada cerita para guru mereka, dan mereka tetap setia kepada taqlid walaupun kebenaran telah datang di hadapan mereka.” Jarang sekali, orang-orang seperti itu mengawali pendapatnya dengan istighfar untuk dirinya dan pendapat yang akan dikritisi. Sungguh, mereka jauh dari sikap seperti yang ditunjukkan Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha, ketika mengkritik pendapat Sayyidina Abdullah ibnu Umar. Sayyidah Aisyah mengawali kritiknya dengan ungkapan; رحم الله ابا عبد الرحمن وغفر الله له “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Abu Abdurrahman (Abdullah bin Umar) dan semoga selalu memberinya ampunan…” Baca juga : Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho’ Ramadhan, Bolehkan? Dengan ungkapan itu, Sayyidah Aisyah menyadari bahwa pendapat Sayyidina Abdullah bin Umar walaupun dipandang “keliru” tetap berhak mendapatkan anugerah rahmat dari Allah. Kekeliruan di dalam berpendapat, tidaklah menyebabkan terputusnya rahmat Allah kepada seseorang dan tidak pula menyebabkan jatuhnya harga diri seseorang. Kini, di media sosial yang serba sarat dengan fitnah, umat disajikan dengan perdebatan yang saling menjatuhkan di antara masing-masing afiliasi. Semuanya mengaku berada pada sikap yang benar dan nyaris tidak ada ruang pengakuan atas kekhilafan yang telah dilakukan. Gelar kesarjanaan dan latar belakang institusi telah mengaburkan kesadaran banyak orang, terhadap makna “inshaf”. Banyak yang berpikir bahwa mengaku “keliru” akan berdampak kepada runtuhnya gengsi organisasi atau gengsi yang lainnya. Padahal, mengakui kekhilafan adalah termasuk dari bagian kecerdasan emosi. Karena pada dasarnya “no body is perfect” (tidak ada manusia yang sempurna). Kesempurnaan hanyalah milik Allah dan Rasulullah mendapatkannya sebagai titipan atas nama Allah. Imam Malik bin Anas rahimahullah telah dengan bijak menempatkan inshaf itu melalui nasihatnya: كل يؤخذ ويترك الا صاحب هذا القبر “Setiap orang, bisa diambil dan bisa ditinggalkan pendapatnya kecuali penghuni kubur ini (Nabi Muhammad shalla Allahu alayhi wasallam)” Namun, ada saja orang yang melihat pendapat Imam Malik ini secara utuh. Mereka malah menggunakan pendapat Imam Malik ini untuk “menghujat” para ulama hanya karena tidak sejalan dengan selera mereka. Sungguh malang orang yang belajar ilmu agama untuk mengungguli para ulama. Karena ilmu agama adalah amanah yang pasti akan Allah minta pertanggungjawabannya. Jika amanah itu diabaikan, sudah pasti siksa neraka yang akan menjadi hasil panen bagi mereka yang mengabaikannya. Rasulullah bersabda: من طلب العلم ليجاري به العلماء أو ليماري به السفهاء أو يصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله النار “Siapa yang menuntut ilmu agama, tujuannya agar melampaui para ulama atau mendebat orang-orang yang bodoh atau agar orang-orang berpaling kepadanya, pasti Allah masukkan ia ke dalam neraka.” (Riwayat al-Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik, hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam al-Musnad). Maka dari itu, sudah seharusnya para pelajar ilmu agama, menyiapkan diri mereka untuk siap membawa amanah ilmu, dibandingkan mengurusi pendapat orang lain yang tidak sejalan dengan mereka. Sungguh, para salaf solih lebih sering menghisab diri mereka dibandingkan menghakimi pendapat orang lain. Baca juga : Al Quran dan Dokumen Sejarah

Belajar Agama Malah Masuk Neraka

Kalam Ulama - Belajar agama malah masuk neraka. Sungguh malang orang yang mempelajari ilmu agama dengan tujuan ingin mengungguli para ulama dan menuai pujian...
Habib Abu Bakar al-Adni : Kekuatan Islam yang Santun Di Indonesia perlu Dipertahankan Kalam ulama - Akhirnya menemukan jawaban terhadap pertanyaan, "Kenapa Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur dari Aden, Yaman, melakukan safari dakwah ke Indonesia di saat kota asal beliau sedang terjadi konflik pertikaian dan pembunuhan massal ?" Al Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur menjelaskan : "Kami datang ke Indonesia untuk mengecek kondisi umat Islam di Indonesia saat ini, saya kagum dan bangga, sepanjang perjalanan tour dakwah dari mulai Jawa Timur, Jawa Barat hingga Jakarta, dan seluruh Indonesia pada umumnya Subhanallah wal Hamdulillah disini penuh keramahan, santun dan penuh kedamaian, seperti apa yang dibawa oleh para ulama yang pertama kali mendatangkan Islam ke Indonesia beberapa abad silam. Mereka datang bukan dengan senjata, mereka datang bukan dengan kekerasan, mereka datang membawa cahaya kehidupan. Baca Juga : Pesan Moral PBNU : “Berpecah adalah musuh utama Ukhuwwah: Jaga Ukhuwwah untuk Indonesia yang aman & damai” Kekuatan Islam yang santun dan penuh kedamaian di Indonesia ini perlu dipertahankan. Jangan sampai Indonesia seperti Suriah, Irak, Mesir, Yaman, Tunisia, Libya, dan negeri-negeri Muslim lain yang penuh dengan konflik dan perpecahan. Di negara-negara tersebut terjadi pertikaian sampai menghalalkan darah sesama muslim. Mereka jatuh dan hancur akibat masing-masing membanggakan diri, menyalahkan, menyesatkan, mengkafirkan sesama muslim, dan melecehkan darah umat Islam. Ditambah lagi adu domba dari orang-orang yang membuat seolah-olah Islam agama teroris dan agama yang berbahaya. Setan sudah tidak bersemangat lagi dalam menjerumuskan umat Muslim agar menyembah dirinya, tetapi mereka tidak pernah berhenti untuk mengadu domba sesama Muslim agar saling bertikai dan kemudian hancur dengan sendirinya. Oleh karena itu, mari kita membekali diri dengan ilmu yang santun, ilmu yang penuh kedamaian, ilmu yang tidak menghalalkan darah orang lain, ilmu yang tidak ceroboh dalam mencaci maki orang lain. AGAR NEGARA AMAN Apa yang bisa dilakukan agar Indonesia tidak seperti negara-negara yang penuh konflik tersebut ? Yaitu bekali anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan keluarga kita dengan cara dakwah penuh rahmat, dakwah kasih penuh sayang, dakwah yang satun dan dakwah yang menentramkan hati masyarakat. Perkenalkan mereka dengan para ulama salaf yang saling mencintai dan menyayangi umatnya dan para ulama yang nyambung hingga Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam." Subhanallah... Begitu cintanya beliau terhadap Indonesia, dalam kunjungan pertama kali ke Indonesia ini beliau membawa pesan berharga bagi umat Islam nusantara. Baca Juga : Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAW  

Habib Abu Bakar al-Adni : Kekuatan Islam yang Santun Di Indonesia perlu Dipertahankan

Habib Abu Bakar al-Adni : Kekuatan Islam yang Santun Di Indonesia perlu Dipertahankan Kalam ulama - Akhirnya menemukan jawaban terhadap pertanyaan, "Kenapa Habib Abu Bakar al-Adni...

Bersumber Dari Pendangkalan

Oleh: Abdurrahman Wahid Pada Sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr.Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan...

Wasiat Allah kepada Nabi Uzair

Oleh: Habib Muhammad Jamal bin Thaha Ba’agil* Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam salah satu kitabnya menyebutkan sebuah hadist qudsi, yaitu firman Allah kepada Nabi Uzair yang...

Aswaja: Sejarah Dinamika Umat Islam dan Analisis Sosial *

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin** Belakangan ini saya sedang giat mempelajari pemikiran bernama Ahlussunnah wal Jamaah atau biasa disingkat Aswaja. Suatu pola pemikiran yang memposisikan diri...

Kisah Nabi Yusuf #14 “Derita Berakhir Bahagia”

Oleh: KH. Salim Azhar (Pengasuh PP. Sunan Sendhang, Paciran, Lamongan) Setelah mereka diuji 3 hari bermalam di ruang tamu, Mereka dijamu dengan makanan yang nikmat dan lezat, Mungkin...