Serba Serbi Islam

Nabi Tak Pernah Mencaci-Maki

Oleh : KH. Husein Muhammad* Para sahabat Nabi saw. Memberikan kesaksian bahwa Nabi Muhammad Saw, adalah manusia yang tidak pernah berkata-kata buruk, apalagi mengutuk...

Hadiah 1 Milyar Ryal Al-Quthb Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf- Jeddah

Oleh : Habib Ali Zainal bin Abdurrahman Al Jufri  Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurahman Al Jufri menceritakan pengalamanya yang tak akan pernah beliau...

Masihkah Merasa ‘Alim?

Oleh: Al Alim Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri Jika kita merasa telah alim, dan sudah banyak ilmu yang kita peroleh, apa arti...

KISAH SUFI

Suatu malam, Jalaluddin Rumi mengundang Syams Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Rumi. Setelah semua hidangan...
doa ampunan

Hari Utama Dan Doa Ampunan Paling Utama

kalamulama.com- Hari Utama Dan Doa Ampunan Paling Utama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: ﺇﻥّ ﻳَﻮْﻡَ اﻟﺠُﻤُﻌَﺔِ ﺳﻴﺪ اﻷﻳﺎﻡ ﻭﺃﻋْﻈَﻤُﻬﺎ ﻋِﻨْﺪَ اﻟﻠﻪ ﻭﻫﻮَ ﺃﻋْﻈَﻢُ ﻋِﻨْﺪَ اﻟﻠﻪ ﻣِﻦْ...

Muhammad Kecil “Kisah Mengharukan dari Negeri Spanyol”

Tahun 897 H/1492 M  merupakan akhir dari kekuasaan Islam di Negeri Andalusia setelah berhasil meghiasi Andalusia selama 8 Abad lamanya. Setelah berakhirnya Kerajaan yang agung ini ditangan...
Kalam Ulama - Manaqib Syadziliyah Khas Nusantara - Kitab Tanwirul Ma'ali Fi Manaqib Asy-Syaikh 'Ali Abil Hasan Asy-Syadzili karya Syaikhul Masyaikh Al-'Alimul 'Allamah Al-'Arif Billah KH. Dalhar bin Abdurrahman Asy-Syadzili Al-Watuza'uli Al-Makki Maula Magelang. Kekhususan kitab ini: 1. Salah satu (dan mungkin satu-satunya) kitab manaqib Imam Abul Hasan Asy-Syadzili yang ditulis dalam bentuk narasi seperti narasi kitab maulid, lengkap dengan pasal-pasal yang dipisahkan oleh lafadz yang dibaca koor. 2. Ditulis oleh ulama asli Nusantara. Bagi para pemburu sanad, anda dapat membaca dan mengambil sanad kitab yang penuh berkah ini dari cucu penulis, Gus Ali, yang mengambil sanad dari ayahnya Al-'Arif Billah KH. Achmad Abdul Haqq bin Dalhar Asy-Syadzili Al-Watuza'uli (Mbah Mad) yang mengambil langsung dari dari penulis. Kitab ini juga dapat diambil sanadnya dari Abuya Muhtadi Banten dari Abuya Dimyathi Maula Cidahu dari penulis. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam. Wonosobo, 10 Juli 2018 Adhli Al-Qarni

Inilah Manaqib Syadziliyyah Khas Nusantara

Kalam Ulama - Manaqib Syadziliyah Khas Nusantara - Kitab Tanwirul Ma'ali Fi Manaqib Asy-Syaikh 'Ali Abil Hasan Asy-Syadzili karya Syaikhul Masyaikh Al-'Alimul 'Allamah Al-'Arif...
Islam dan teknologi

Prof Dr Quraish Shihab : Islam dan Teknologi

kalamulama.com- Islam dan Teknologi Dahulu ada yang melukiskan manusia sebagai sosok dengan dua sisi: hati dan lidah, yakni  perasaan yang bergejolak di dalam hati dan...
Serba Serbi Islam Sang Pemimpin (Kalam Ulama). Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut dan berusaha melepaskan diri, katanya: “Lepaskan aku! Siapa ini?” Orang yang memeluknya tidak melepaskannya justru berteriak: “Siapa mau membeli budak saya ini?” Begitu mendengar suaranya, Zahir pun sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Ia pun malah merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya. Lalu katanya riang: “Lihatlah, ya Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual.” (Baca Juga Renungan Gus Mus : Jangan Hancurkan Dakwah Islam dengan Sikapmu yang ngawur dan Tidak Dewasa) “Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi;” sahut lelaki yang memeluk dan ‘menawarkan’ dirinya seolah budak itu yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW. Zahir Ibn Haram dari suku Asyja’, adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tentang Zahir ini, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya, “Zahir adalah orang-dusun kita dan kita adalah orang-orang-kota dia.” Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas. Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh --tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden—bupati Anda? Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu. Sekarang pengandaianya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda ‘sampai hati’ bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu? Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia. Kharqaa’, perempuan berkulit hitam itu entah dari mana asalnya. Orang hanya tahu bahwa ia seorang perempuan tua yang sehari-hari menyapu mesjid dan membuang sampah. Seperti galibnya tukang sapu, tak banyak orang yang memperhatikannya. Sampai suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW tiba-tiba bertanya kepada para sahabatnya, “Aku kok sudah lama tidak melihat Kharqaa’; kemana gerangan perempuan itu?” Seperti kaget beberapa sahabat menjawab: “Lho, Kharqaa’ sudah sebulan yang lalu meninggal, ya Rasulullah.” Boleh jadi para sahabat menganggap kematian Kharqaa’ tidak begitu penting hingga perlu memberitahukannya ’ kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Rasulullah SAW dengan nada menyesali, bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Tunjukkan aku dimana dia dikuburkan?”. Orang-orang pun menunjukkan kuburnya dan sang pemimpin agung pun bersembahyang di atasnya, mendoakan perempuan tukang sapu itu. Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda pasti akan sulit membayangkan bagaimana pemimpin seagung beliau, masih memiliki perhatian yang begitu besar terhadap tukang sapu, seperti kisah nyata yang saya ceritakan (berdasarkan beberapa hadis sahih) di atas. Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Urusan-urusan besar tidak mampu membuatnya kehilangan perhatian terhadap rakyatnya, yang paling jembel sekalipun. Anas Ibn Malik yang sejak kecil mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah SAW bercerita: “Lebih Sembilan tahun aku menjadi pelayan Rasulullah SAW dan selama itu, bila aku melakukan sesuatu, tidak pernah beliau bersabda, ‘Mengapa kau lakukan itu?’ Tidak pernah beliau mencelaku.” “Pernah, ketika aku masih kanak-kanak, diutus Rasulullah SAW untuk sesuatu urusan;” cerita Anas lagi, “Meski dalam hati aku berniat pergi melaksanakan perintah beliau, tapi aku berkata, ‘Aku tidak akan pergi.’ Aku keluar rumah hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang dan bersabda sambil tertawa, ‘Hai Anas kecil, kau akan pergi melaksanakan perintahku?’ Aku pun buru-buru menjawab, ‘Ya, ya, ya Rasulullah, saya pergi.’” Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, dapatkah Anda membayangkan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap abdi kecilnya? Tapi pasti Anda dapat dengan mudah membayangkan betapa besar kecintaan dan hormat si abdi kepada ‘majikan’nya itu. Waba’du; apakah saya sudah cukup bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, sang pemimpin teladan yang luar biasa itu? Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salamNya kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan kita semua umat beliau ini. Amin. oleh : KH. A. Mustofa Bisri

Gus Mus : Sang Pemimpin

Serba Serbi Islam Sang Pemimpin (Kalam Ulama). Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut...
Kalam Ulama - Belajar agama malah masuk neraka. Sungguh malang orang yang mempelajari ilmu agama dengan tujuan ingin mengungguli para ulama dan menuai pujian dari zu’ama serta orang-orang awam. Kepiawiannya di dalam meracik dan menyajikan argumentasi tidaklah menyelamatkan dirinya dan juga umat yang memuja dan memujinya. Jangankan menyelamatkan orang lain, menyelamatkan dirinya sendiri saja belum tentu bisa. Tipe-tipe orang yang belajar untuk terlihat lebih unggul itu, biasanya kelihatan pongah di dalam setiap forum. Kata-kata melecehkan orang lain, selalu mudah keluar dari lisannya. Faedah yang bisa diambil dari perkataan orang seperti ini hanyalah ungkapan-ungkapan seperti, “Mereka bodoh di dalam ilmu sunnah, mereka berpegang kepada cerita para guru mereka, dan mereka tetap setia kepada taqlid walaupun kebenaran telah datang di hadapan mereka.” Jarang sekali, orang-orang seperti itu mengawali pendapatnya dengan istighfar untuk dirinya dan pendapat yang akan dikritisi. Sungguh, mereka jauh dari sikap seperti yang ditunjukkan Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha, ketika mengkritik pendapat Sayyidina Abdullah ibnu Umar. Sayyidah Aisyah mengawali kritiknya dengan ungkapan; رحم الله ابا عبد الرحمن وغفر الله له “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Abu Abdurrahman (Abdullah bin Umar) dan semoga selalu memberinya ampunan…” Baca juga : Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Qadho’ Ramadhan, Bolehkan? Dengan ungkapan itu, Sayyidah Aisyah menyadari bahwa pendapat Sayyidina Abdullah bin Umar walaupun dipandang “keliru” tetap berhak mendapatkan anugerah rahmat dari Allah. Kekeliruan di dalam berpendapat, tidaklah menyebabkan terputusnya rahmat Allah kepada seseorang dan tidak pula menyebabkan jatuhnya harga diri seseorang. Kini, di media sosial yang serba sarat dengan fitnah, umat disajikan dengan perdebatan yang saling menjatuhkan di antara masing-masing afiliasi. Semuanya mengaku berada pada sikap yang benar dan nyaris tidak ada ruang pengakuan atas kekhilafan yang telah dilakukan. Gelar kesarjanaan dan latar belakang institusi telah mengaburkan kesadaran banyak orang, terhadap makna “inshaf”. Banyak yang berpikir bahwa mengaku “keliru” akan berdampak kepada runtuhnya gengsi organisasi atau gengsi yang lainnya. Padahal, mengakui kekhilafan adalah termasuk dari bagian kecerdasan emosi. Karena pada dasarnya “no body is perfect” (tidak ada manusia yang sempurna). Kesempurnaan hanyalah milik Allah dan Rasulullah mendapatkannya sebagai titipan atas nama Allah. Imam Malik bin Anas rahimahullah telah dengan bijak menempatkan inshaf itu melalui nasihatnya: كل يؤخذ ويترك الا صاحب هذا القبر “Setiap orang, bisa diambil dan bisa ditinggalkan pendapatnya kecuali penghuni kubur ini (Nabi Muhammad shalla Allahu alayhi wasallam)” Namun, ada saja orang yang melihat pendapat Imam Malik ini secara utuh. Mereka malah menggunakan pendapat Imam Malik ini untuk “menghujat” para ulama hanya karena tidak sejalan dengan selera mereka. Sungguh malang orang yang belajar ilmu agama untuk mengungguli para ulama. Karena ilmu agama adalah amanah yang pasti akan Allah minta pertanggungjawabannya. Jika amanah itu diabaikan, sudah pasti siksa neraka yang akan menjadi hasil panen bagi mereka yang mengabaikannya. Rasulullah bersabda: من طلب العلم ليجاري به العلماء أو ليماري به السفهاء أو يصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله النار “Siapa yang menuntut ilmu agama, tujuannya agar melampaui para ulama atau mendebat orang-orang yang bodoh atau agar orang-orang berpaling kepadanya, pasti Allah masukkan ia ke dalam neraka.” (Riwayat al-Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik, hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam al-Musnad). Maka dari itu, sudah seharusnya para pelajar ilmu agama, menyiapkan diri mereka untuk siap membawa amanah ilmu, dibandingkan mengurusi pendapat orang lain yang tidak sejalan dengan mereka. Sungguh, para salaf solih lebih sering menghisab diri mereka dibandingkan menghakimi pendapat orang lain. Baca juga : Al Quran dan Dokumen Sejarah

Belajar Agama Malah Masuk Neraka

Kalam Ulama - Belajar agama malah masuk neraka. Sungguh malang orang yang mempelajari ilmu agama dengan tujuan ingin mengungguli para ulama dan menuai pujian...