Serba Serbi Islam

Kalam Ulama - Kabar gembira teruntuk umat Nabi Muhammad SAW di Indonesia. Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAWPada Sabtu malam Ahad kemarin (15/3/2014) d. alam acara rutin Majelis Riyadhul Jannah bertempat di Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dihadiri puluhan ribu muslimin, KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi, Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syifaa wal Mahmuudiyah Sumedang melakukan klarifikasi atas beredarnya berita yang menyatakan “Umat Islam Indonesia adalah umat yang sangat dicintai Nabi Muhammad SAW”. Di beberapa media Islam ahlussunnah telah ramai tersebar sebuah kisah perjumpaan seorang ulama dengan Rasulullah SAW di Madinah. Ulama tersebut mengatakan bahwa Rasulullah SAW sangat mencintai Bangsa Indonesia karena mereka adalah umatnya yang sangat mencintainya yakni mencintai Rasulullah SAW. KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi menegaskan akan kebenaran kisah tersebut, tetapi ulama yang berjumpa Nabi SAW tersebut bukanlah Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki melainkan gurunya. Baca Juga : Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya? KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi pun menceritakan bahwa kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika beliau bertemu dengan ulama-ulama besar di pinggir makam Rasulullah SAW. Saat itu ada seorang ulama, salah satu Guru Mursyid Thariqah yang bernama Al ‘Allamah Al ‘Arifbillah Syaikh Utsman melihat KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi dan bertanya tentang nama dan asal usulnya. Setelah Syaikh Utsman tahu beliau berasal dari Indonesia, Syaikh Utsman ini lalu menceritakan sebuah rahasia yang belum pernah dibuka kepada siapapun dan ini adalah sebuah berita kabar gembira bagi umat Islam di Indonesia. Syaikh Utsman mengatakan dulu beliau bersama gurunya pernah berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Guru Syaikh Utsman yang dimaksud ini juga adalah guru yang sama dari gurunya Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Ketika berziarah Guru Syaikh Utsman ini langsung masuk ke dalam makam Rasulullah SAW. Di sana, Guru Syaikh Utsman bertemu secara langsung dengan Rasulullah SAW secara nyata bukan mimpi dan beliau melihat lautan manusia di Hujrah Syarifah. Lautan manusia yang begitu sangat banyak terlihat sepanjang mata memandang. Lautan manusia yang tidak bisa terhitung jumlahnya dengan suku yang bermacam-macam dan bahasa yang bermacam-macam pula. Beliau lalu melirik ke suatu tempat ternyata terbentang luas tak terhitung di sana ada sekelompok orang yang wajahnya berbeda dengan wajah orang Timur Tengah atau Arab dan jumlahnya adalah terbanyak diantara sekian lautan manusia yang ada di Hujrah Syarifah. Guru Syaikh Utsman pun kaget dan bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, siapakah mereka?”. Rasulullah SAW menjawab, “Mereka adalah kekasih-kekasihku yang mencintaiku dari Indonesia”. Subhanalloh, ini adalah kisah nyata yang diceritakan langsung oleh seorang ulama kepada KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi. Dan beliau mengklarifikasi atas kebenaran cerita ini saat menghadiri rutinan Majelis Riyadlul Jannah Malang. Dalam ceramah KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi yang lain di waktu yang berbeda disebutkan Guru Syaikh Utsman ini kemudian menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada para jama’ah, “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia”. Baca Juga : Kenapa Engkau Tidak Mengenalku Wahai Rasulullah? Semoga ini menjadi kabar gembira bagi umat Islam di Indonesia dimanapun berada. Teruslah berjuang dan berdakwah agar umat Islam di Indonesia khususnya bisa terus dan terus mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW. Sumber : http://www.elhooda.net/

Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAW

Kalam Ulama - Kabar gembira teruntuk umat Nabi Muhammad SAW di Indonesia. Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAWPada Sabtu malam Ahad kemarin...

Ketika Habib Abu Bakar Mimpi Disentil Sayyidina Ali

Kalam Ulama - Ketika Habib Abu Bakar Mimpi Disentil Sayyidina Ali Jalan Karya Bakti di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, sesak orang berpakaian serbaputih...

Indahnya Kata Mutiara Imam Syafi’i

 Tiada rehat dalam suatu tempat,  bagi orang yang punya akal dan peradaban,  Maka tinggalkan olehmu tanah tumpah darah, dan merantaulah, Pergilah ! Akan engkau temukan pengganti orang yang...
Kalam Ulama - Nasehat Imam Syafi'i Kepada Muridnya. Diriwayatkan bahwa Yunus bin Abdi Al-'Ala, berselisih pendapat dengan sang guru, yaitu Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi'i (Imam Asy Syafi'i) saat beliau mengajar di Masjid. Hal ini membuat Yunus bangkit dan meninggalkan majelis itu dalam keadaan marah.. Kala malam menjelang, Yunus mendengar pintu rumahnya diketuk,Ia berkata : "Siapa di pintu..?" Orang yang mengetuk menjawab : "Muhammad bin Idris." Seketika Yunus berusaha untuk mengingat semua orang yg ia kenal dengan nama itu, hingga ia yakin tidak ada siapapun yang bernama Muhammad bin Idris yang ia kenal, kecuali Imam Asy Syafi'i.. Saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut dengan kedatangan sang guru besar, yaitu Imam Syafi'i.. Imam Syafi'i berkata : "Wahai Yunus, selama ini kita disatukan dalam ratusan masalah, apakah karena satu masalah saja kita harus berpisah..? Janganlah engkau berusaha untuk menjadi pemenang dalam setiap perbedaan pendapat... Terkadang, meraih hati orang lain itu lebih utama daripada meraih kemenangan atasnya.. Jangan pula engkau hancurkan jembatan yang telah kau bangun dan kau lewati di atasnya berulang kali, karena boleh jadi, kelak satu hari nanti engkau akan membutuhkannya kembali.." "Berusahalah dalam hidup ini agar engkau selalu membenci perilaku orang yang salah, akan tetapi jangan pernah engkau membeci orang yg melaku kan kesalahan itu.. Engkau harus marah saat melihat kemaksiatan, tapi berlapang dadalah dan bimbinglah para pelaku kemaksiatan.. Engkau boleh mengkritik pendapat yang berbeda, namun tetap menghormati terhadap orang yang berbeda pendapat.. Karena tugas kita dalam kehidupan ini adalah MENGHILANGKAN PENYAKIT, dan bukan MEMBUNUH ORANG YANG SAKIT.." Maka apabila ada orang yang datang meminta maaf kepadamu, maka segera maafkan... Apabila ada orang yang tertimpa kesedihan, maka dengarkanlah keluhannya... Apabila datang orang yang membutuhkan, maka penuhilah kebutuhannya sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadamu.. Apabila datang orang yang menasehatimu, maka berterimakasihlah atas nasehat yang ia sampaikan kepadamu.. Bahkan seandainya satu hari nanti engkau hanya menuai duri, tetaplah engkau untuk senantiasa menanam bunga.. Karena sesungguhnya balasan yang dijanjikan oleh Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang lagi Maha Dermawan jauh lebih baik dari balasan apa pun juga yang mampu diberikan oleh manusia.." Beliaupun menangis dan merangkul Sang Imam sembari mohon maaf dan berterima kasih atas nasihatnya. Diriwayatkan bahwa Yunus bin Abdi Al-'Ala, berselisih pendapat dengan sang guru, yaitu Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi'i (Imam Asy Syafi'i) saat beliau mengajar di Masjid. Hal ini membuat Yunus bangkit dan meninggalkan majelis itu dalam keadaan marah.. Kala malam menjelang, Yunus mendengar pintu rumahnya diketuk,Ia berkata : "Siapa di pintu..?" Orang yang mengetuk menjawab : "Muhammad bin Idris." Seketika Yunus berusaha untuk mengingat semua orang yg ia kenal dengan nama itu, hingga ia yakin tidak ada siapapun yang bernama Muhammad bin Idris yang ia kenal, kecuali Imam Asy Syafi'i.. Saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut dengan kedatangan sang guru besar, yaitu Imam Syafi'i.. Imam Syafi'i berkata : "Wahai Yunus, selama ini kita disatukan dalam ratusan masalah, apakah karena satu masalah saja kita harus berpisah..? Janganlah engkau berusaha untuk menjadi pemenang dalam setiap perbedaan pendapat... Terkadang, meraih hati orang lain itu lebih utama daripada meraih kemenangan atasnya.. Jangan pula engkau hancurkan jembatan yang telah kau bangun dan kau lewati di atasnya berulang kali, karena boleh jadi, kelak satu hari nanti engkau akan membutuhkannya kembali.." "Berusahalah dalam hidup ini agar engkau selalu membenci perilaku orang yang salah, akan tetapi jangan pernah engkau membeci orang yg melaku kan kesalahan itu.. Engkau harus marah saat melihat kemaksiatan, tapi berlapang dadalah dan bimbinglah para pelaku kemaksiatan.. Engkau boleh mengkritik pendapat yang berbeda, namun tetap menghormati terhadap orang yang berbeda pendapat.. Karena tugas kita dalam kehidupan ini adalah MENGHILANGKAN PENYAKIT, dan bukan MEMBUNUH ORANG YANG SAKIT.." Maka apabila ada orang yang datang meminta maaf kepadamu, maka segera maafkan... Apabila ada orang yang tertimpa kesedihan, maka dengarkanlah keluhannya... Apabila datang orang yang membutuhkan, maka penuhilah kebutuhannya sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadamu.. Apabila datang orang yang menasehatimu, maka berterimakasihlah atas nasehat yang ia sampaikan kepadamu.. Bahkan seandainya satu hari nanti engkau hanya menuai duri, tetaplah engkau untuk senantiasa menanam bunga.. Karena sesungguhnya balasan yang dijanjikan oleh Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang lagi Maha Dermawan jauh lebih baik dari balasan apa pun juga yang mampu diberikan oleh manusia.." Beliaupun menangis dan merangkul Sang Imam sembari mohon maaf dan berterima kasih atas nasihatnya.

Nasehat Imam Syafi’i Kepada Muridnya

Kalam Ulama - Nasehat Imam Syafi'i Kepada Muridnya. Diriwayatkan bahwa Yunus bin Abdi Al-'Ala, berselisih pendapat dengan sang guru, yaitu Al-Imam Muhammad bin Idris...

KH Sholeh Darat: Belajar Kitab Berbahasa Jawa Biar Berhasil

Kepedulian KH Sholeh Darat terhadap masyarakat awam dalam memahami agama Islam sangat besar sekali. Itulah yang membuat kenapa seluruh karya Mbah Sholeh yang terpublikasi,...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Muqoddimah Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah menyampaikan kita pada salah satu bulan mulia nan istimewa di tahun 1437 Hijriyah ini yaitu Syahru Rajab. Bertepatan dengan datangnya bulan Rajab, sepanjang bulan ini akan dipostingkan kisah seri mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami oleh makhluk termulia, kekasih dari Sang Maha Pengasih, dialah Nabi Muhammad saw. Di berbagai daerah, kedatangan bulan Rajab akan disambut dengan suka cita. Betapa mulianya bulan ini bahkan Rasulullah saw meminta diberikan keberkahan di bulan Rajab. Dalam salah satu doa yang diajarkan kepada umatnya, “Allahumma bariklanaa fii Rajaba wa Sya’bana wa ballighnaa Ramadlan” (Yaa Allah, berkahilah kami di Bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadlan) Akan tetapi dalam postingan ini kami tidak akan menjelaskan tentang kemuliaan Bulan Rajab. Postingan akan lebih difokuskan pada detail peristiwa Isra’ Mi’raj. Tulisan yang akan kami posting diambil dari materi Daurah Isra’ Mi’raj yang disampaikan oleh Al-Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan. Untuk itu, pada postingan perdana ini, kami kutipkan kalimat pengantar dari beliau selaku penyusun khulasoh (ringkasan) ini. Selamat membaca. Sahabat-sahabatku yang dimuliakan Allah, Bulan Rajab adalah bulan yang mulia dan agung. Bulan diisra dan di mi’rajkannya Baginda yang agung Nabi Muhammad saw. Di bulan agung ini umat islam berbahagia dengan sebuah peristiwa agung hingga mereka merayakannya dengan perayaan yang besar dan meriah. Sungguh ini adalah salah satu dari buah iman kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah saw. Apabila kaum Yahudi Madinah berpuasa di hari ‘Asyura untuk mengungkapkan syukur kepada Allah atas diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran dan kedzoliman Fir’aun, dan kemudian Nabi saw memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa di hari ‘Asyura sebagai bentuk syukur mereka pula kepada Allah dan bentuk kecintaan dan keimanan kepada para nabi-nabi Allah, maka perayaan yang dilakukan oleh umat Muhammad saw atas peristiwa agung Isra dan Mi’raj jauh lebih penting dan lebih agung serta bagian dari syariat dan agama islam. [irp posts="4866" name="Amalan dan Keutamaan Bulan Rajab Lengkap"] Peristiwa Isra dan Mi’raj penuh dengan pelajaran penting, harus dikaji dan dipelajari serta kemudian dijadikan sebagai pedoman hidup. Sebab memang untuk tujuan memetik pelajaran, terjadilah perjalanan agung Isra dan Mi’raj tersebut. Karena itu alangkah pentingnya bagi umat islam untuk mengetahui secara terperinci tentang perjalanan agung Isra dan Mi’raj. Sungguh jika seluruh masa dihabiskan hanya untuk membicarakan tentang peristiwa agung Isra dan Mi’raj maka masa akan sirna sedangkan mutiara-mutiara Isra dan Mi’raj tak kunjung habis untuk dipetik. Bagaimana tidak? siapa yang mampu menceritakan apa yang terjadi disaat perjumpaan Sang Hamba dengan Sang Khaliq di malam itu? Siapa yang mampu menggambarkan tentang kenangan maha indah detik-detik perjumpaan? Semua harapan makhluk terputus untuk merasakan indahnya detik-detik perjumpaan tersebut. “Martabat yang dibawahnya semua harapan untuk mencapainya terputus Puncak tertinggi yang tidak ada lagi martabat di atasnya.” Namun setetes dari samudera dan sedikit rintik dari hujan yang deras akan cukup bagi para pecinta untuk merajut cinta dengan sang kekasih agung Nabi Muhammad saw. Karena itu di bulan rajab yang agung ini di banyak tempat dibacakan riwayat kisah dan sejarah perjalanan Isra dan Mi’raj. Di Masjid An-Nur makam kramat Al Habib Abdullah bin Muhsin Al Atthos pada hari kamis terakhir bulan rajab, lepas shalat maghrib berjamaah, setiap tahunnya adalah contoh dan teladan baik dalam mengkaji riwayat kisah dan sejarah Isra dan Mi’raj. Riwayat kisah dan sejarah Isra dan Mi’raj yang dirangkum oleh Al Imam Al ‘Allamah As Sayyid Zainal ‘Abidin bin Muhammad Al hadi bin Zainal ‘Abidin Al Barzanji yang berjudul An-Nur Al Wahhaj Fi Qisshoti Al Isra wa Al Mi’raaj. Berkata As Sayyid Ja’far bin Ismail Al Barzanji, “Kitab An-Nur Al Wahhaj merangkum banyak hadits-hadits tentang perjalanan Isra dan Mi’raj yang disusun oleh penulisnya dengan bahasa sastra yang sangat indah, yang susunannya semacam kitab-kitab riwayat maulid Nabi saw dengan menjadikannya berfashal-fashal yang di antara kedua fashalnya dihiasi dengan shalawat kepada Baginda Rasulullah saw.” Tatkala hamba yang lemah ini melihat banyak dari sahabat-sahabat saya tidak memahami bahasa arab sastra yang indah tersebut, dan banyak dari mereka yang tidak mengetahui rinci kisah dan sejarah Isra dan Mi’raj yang agung dan penuh dengan pelajaran penting, maka tergerak hati untuk menerjemahkan kitab yang dirangkum oleh Al Imam Al Barzanji tersebut dengan bahasa Indonesia dan gaya bahasa yang mudah difahami oleh sahabat-sahabat saya. Juga dengan memberikan sedikit tambahan dari apa yang ditulis oleh guru kami yang mulia Muhaddits Al Haramain wa Mafkhor Al Kaunain As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki dalam kedua kitab rangkuman beliau yang sangat bermanfaat yaitu Al Anwar Al Bahiyyah dan kitab Wa Huwa bil Ufuq Al A’la serta kitab karya Al Imam Al Mufassir Asy Syeikh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi yang berjudul Al Isra wa Al Mi’raj. Bersama dengan beberapa santri yang saya bimbing di Al Fachriyah serta sahabat-sahabat Khadim Risalah Da’wah yang saya cintai, kami menerjemahkan dan menambahkan hingga jadilah rangkuman ini yang kami harapkan kepada Allah agar dituliskan manfaat besar untuk umat di berbagai penjuru dunia. Kami berharap kepada Allah agar mengangkat derajat Al Imam Zainal ‘Abidin Al Barzanji, Al Imam As Sayyid Muhammad bin Alawi Al maliki, Asy Syeikh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi dan para guru-guru kami serta para ulama yang bertaqwa kepada Allah. Kami berharap agar Allah berikan keberkahan mereka kepada kami dan menjadikan kami sebagai hamba-hamba Allah yang dapat menggembirakan mereka dan mengikuti jejak langkah mereka yang bersambung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam. [] Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="980" name="Kisah Isra’ Mi’raj #02 Perjalanan Nabi Muhammad di Tahun Duka"]

Kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad #01 “Muqoddimah”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Muqoddimah Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah menyampaikan kita pada salah satu bulan mulia nan istimewa...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi” [irp posts="967" name="Kisah Isra’ Mi’raj #03 “Melihat Berbagai Peristiwa”"] Di perjalanan Nabi saw beberapa kali berjumpa dengan sekelompok kaum hamba-hamba Allah, mereka berkata, “Assalamualaika (keselamatan untukmu) wahai Nabi terakhir , Assalamualaika (keselamatan untukmu) wahai Nabi yang setelahnya adalah hari kebangkitan.” Maka Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “jawablah salam mereka.” Maka Nabi saw menjawab salam mereka. Nabi saw bertanya, “Siapa mereka wahai jibril?” Jibril menjawab, “mereka adalah Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa.” Di perjalanan Nabi saw melewati Nabi Musa yang sedang shalat dikuburnya yang terletak di bukit pasir merah (gunung Nebo). Postur tubuhnya adalah tinggi badannya, lurus rambutnya, kecoklatan kulitnya, seperti laki-laki dari suku Syanuah. Dalam shalatnya Nabi Musa berkata dengan suara yang sangat lantang, “Engkau ya Allah memuliakannya (Nabi Muhammad) dan engkau ya Allah mengutamakannya (Nabi Muhammad).” Maka Nabi Muhammad saw mengucapkan kepadanya salam, maka Nabi Musa menjawab salamnya dan berkata, “Siapa ini yang bersama Engkau wahai Jibril?” Jibril menjawab, “ini Ahmad.” Maka Nabi Musa berkata, “selamat datang nabi dari bangsa arab yang memberikan nasihat kepada umatnya, dan kemudian Nabi Musa mendoakan Nabi Muhammad saw dengan keberkahan.” Berkata Nabi Musa kepada Nabi Muhammad saw, “mintalah kepada Allah kemudahan untuk umatmu.” Kemudian mereka meneruskan perjalanan. Di perjalanan Nabi Muhammad saw bertanya kepada Jibril, “Siapa hamba mulia tadi wahai Jibril?” Jibril menjawab, itu saudaramu Nabi Musa bin Imran. Nabi bertanya, “terhadap siapa dia berani mengangkat suaranya dengan lantang dan tegas?”Jibril menjawab, “kepada Tuhannya.” Jibril berkata, “sesungguhnya Allah taa’la telah memaklumi ketegasannya.” Kemudian di perjalanan Nabi saw melalui pohon yang sangat besar sekali. Di bawah pohon itu ada seorang lelaki yang sangat berwibawa bersama anak keluarganya dan Nabi saw melihat lampu-lampu dan cahaya-cahaya yang terang. Rasul saw bertanya, “Siapa itu wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Beliau adalah ayahmu Nabi Ibrahim.” Kemudian keduanya saling bertukar salam. Lalu Nabi Ibrahim bertanya kepada Jibril, “Siapa ini wahai Jibril?” “ini adalah putramu Ahmad”, jawab Jibril. Maka Nabi Ibrahim berkata, “selamat datang wahai Nabi dari bangsa arab yang tidak bisa membaca dan menulis, yang menyampaikan Risalah Tuhannya, dan memberi nasihat pada umatnya. Wahai anakku sesungguhnya engkau akan bertemu dengan Tuhanmu malam ini dan sesungguhnya umatmu adalah umat yang terakhir dan yang paling lemah jikalau engkau bisa menjadikan seluruh permohonanmu atau sebagian besar permohonanmu kepada Tuhanmu untuk umatmu maka lakukanlah.” Kemudian Nabi Ibrahim mendoakan Nabi Muhammad saw dengan keberkahan. Nabi saw melanjutkan perjalanan bersama Jibril hingga sampai di lembah yang berada di kota Baitul Maqdis. Di saat itu terlihatlah neraka Jahannam yang terbentang seperti permadani. Maka para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “wahai Rasulullah bagaimana neraka jahanam itu?”, “Seperti bara api yang membara.” Jawab Rasulullah. Kemudian Nabi saw melanjutkan perjalanan bersama Jibril hingga sampai ke Baitul Maqdis dan memasukinya dari pintu kanan. Kemudian Nabi saw turun dari Buroq dan dikaitkan di pintu masjid pada kaitan yang sama ketika para nabi sebelumnya mengaitkan tunggangan mereka. Dalam riwayat lain, bahwa Jibril mendekati batu dan meletakkan jarinya kepada batu tersebut sampai tembus berlubang dan kemudian Buroq di kaitkan dilobang tersebut. Rasulullah saw memasuki masjid dari pintu yang matahari dan bulan condong kearahnya. Kemudian Nabi saw dan Jibril shalat dua rakaat dan tidak mengunggu lama sampai berkumpullah manusia yang sangat banyak. Maka Nabi Muhammad saw mengenali bahwa mereka itu adalah para nabi, di antara mereka ada yang sedang shalat berdiri, yang ruku’, dan yang sujud. Kemudian seorang mengumandangkan adzan dan iqomah. Mereka berdiri berbaris menunggu siapa yang akan mengimami mereka, lalu Jibril menggandeng tangan Rasulullah saw menuntunnya sampai mengedepankannya. Nabi saw shalat dua rakaat sebagai imam bersama mereka. Diriwayatkan dari ka’ab, bahwa Jibril mengumandangkan adzan dan turunlah malaikat dari langit dan Allah mengumpulkan seluruh rasul dan para nabi. Nabi Muhammad saw menjadi imam bagi para rasul, nabi dan malaikat. Setelah selesai sholat, Jibril bertanya, “Wahai Muhammad! apakah engkau tahu siapa mereka yang shalat di belakangmu? Nabi menjawab, “tidak.” Jibril berkata, “mereka adalah seluruh nabi dan rasul yang telah diutus oleh Allah.” ***bersambung*** Disarikan dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="949" name="Kisah Isra Mi’raj #5 “Pujian dari Para Nabi”"]

Kisah Isra Mi’raj #04 “Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi” Di perjalanan Nabi saw beberapa kali berjumpa dengan sekelompok kaum hamba-hamba Allah, mereka berkata, “Assalamualaika (keselamatan untukmu) wahai...
Serba Serbi Islam. kalamulama.com PESAN MORAL DARI BAB ISIM ISYARAH Isim isyaroh atau kata tunjuk dalam bahasa Arab ada dua jenis, untuk mudzakkar (maskulin) dan untuk muannats (feminim). Untuk mudzakkar hanya ada satu, yaitu dza (ذا). Adapun untuk muannats ada empat, yaitu dzi (ذي), dzih (ذه), ti (تي), dan ta (تا). Ulama berbeda pendapat mengenai alasan mengapa muannats lebih banyak daripada mudzakkar. Minimal ada tiga pendapat masyhur. Pertama, jumlah perempuan lebih banyak dari jumlah laki-laki. Kedua, orang beradab tidak suka mengumbar perempuan mereka, termasuk namanya, sehingga sering sekali menggunakan kata tunjuk yang beraneka rupa. Ketiga, ah sudahlah. Takut diprotes jamaah instagram ibu-ibu. Demikian. Terima kasih. Bogor, Rabiul Akhir 1439 @adhlialqarni ____ Note: Terinspirasi dari kawan-kawan santri di Maroko.

Pesan Moral dari Bab Isim Isyaroh

Serba Serbi Islam. kalamulama.com Isim isyaroh atau kata tunjuk dalam bahasa Arab ada dua jenis, untuk mudzakkar (maskulin) dan untuk muannats (feminim). Untuk mudzakkar hanya ada...

Tafsir karya Tuan Syeikh Abdul Qodir al-Jilani qoddasallahu sirrohul’aziz

800 TAHUN HILANG, DITEMUKAN DI VATIKAN Penemuan karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani oleh cucu ke-25-nya sendiri, Syekh Dr. Muhammad Fadhil, membuat dunia akademik dan pengamal...

HAKIKAT RAHMAT MENTERJEMAHKAN KASYAF

Siapa yang dapat melihat rahsia (sirr) manusia, padahal ia tidak meniru sifat rahmat Tuhan, maka pengetahuan itu menjadi bala atau ujian baginya, dan sebagai...

Medsos Kalam Ulama

4,662FansLike
14,955FollowersFollow
4FollowersFollow
1,879FollowersFollow
2,457SubscribersSubscribe

Popular Post

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini juga sering beliau baca di hadapan Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Beliau awali dengan doa: بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" Berikut bait Qosidah "Man Ana" (Siapa Diriku): مَنْ أَنَا مَنْ أَنَا لَوْلَاكُم # كَيْفَ مَا حُبُّكُمْ كَيْفَ مَا أَهْوَاكُم Siapakah diriku, siapakah diriku kalau tiada bimbingan kalian (guru) Bagaimana aku tidak cinta kepada kalian dan bagaimana aku tidak menginginkan bersama kalian مَا سِوَيَ وَلَا غَيْرَكُم سِوَاكُم # لَا وَمَنْ فِى المَحَبَّةِ عَلَيَّ وُلَاكُم Tiada selain ku juga tiada selainnya terkecuali engkau, tiada siapapun dalam cinta selain engkau dalam hatiku أَنْتُم أَنْتُم مُرَادِي وَ أَنْتُم قَصْدِي # لِيْسَ احدٌ فِى المَحَبَّةِ سِوَاكُم عِنْدِي Kalianlah, kalianlah dambaanku dan yang kuinginkan, tiada seorangpun dalam cintaku selain engkau di sisiku كُلَّمَا زَادَنِي فِى هَوَاكُم وَجْدِي # قُلْتُ يَا سَادَتِي مُحْجَتِي تَفْدَاكُم Setiap kali bertambah cinta dan rindu padamu, maka berkata hatiku wahai tuanku semangatku telah siap menjadi tumbal keselamatan dirimu لَوْ قَطَعْتُمْ وَرِيْدِي بِحَدِّ مَا ضِي # قُلْتُ وَاللهِ أَنَا فِى هَوَاكُم رَاضِي Jika engkau menyembelih urat nadiku dengan pisau berkilau tajam, kukatakan demi Alloh aku rela gembira demi cintaku padamu أَنْتُمُ فِتْنَتِي فِى الهَوَا وَمُرَادِي # مَا ِرِضَايَ سِوَى كُلُ مَا يَرْضَاكُم Engkaulah yang menyibukkan segala hasrat dan tujuanku, tiada ridho yang aku inginkan terkecuali segala sesuatu yang membuat mu ridho كُلَّمَا رُمْتُ إِلَيْكُم نَهَوْ مَنْ أَسْلَك # عَوَقَتْنِيْ عَوَائِق أَكَاد أَنْ أَهْلِك Setiap kali ku bergejolak cinta padamu selalu terhalang untuk aku melangkah, mereka mengganjalku dengan perangkap yang banyak hampir saja aku hancur فَادْرِكُوا عَبْدَكُم مِثْلُكُمْ مَنْ أَدْرَكْ # وَارْحَمُوا بِا المَحَبَّةِ قَتِيْل بَلْوَاكُم Maka tolonglah budak kalian ini, dan yang seperti kalianlah golongan yang suka menolong, dan kasihanilah kami dengan cinta kalian, maka cinta kalian membunuh dan memusnahkan musibahku Sumber: Muhammad Ainiy

Man Ana Laulakum (Siapa Diriku) Lirik, Latin, dan Terjemahannya

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini...
Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ ۞ إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Qasidah Burdah Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...
SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ma’as-salaamah fii amaanih Syaikhonaa Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa) Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guruku, Ya Allah Tuhanku, rahmatilah pendidik jiwa kami (wahai Tuhanku) عَيْنُ الْمُحِبِّ بِالدُمُوْعِ حَازِنَا رَوْعًا عَلَی افْتِرَاقِ مَنْ قَدْ أَحْصَنَا… يَا شْيْخَنَا ‘Ainul muhibbi biddumuu’i haazinaa Rou’an ‘alaa-ftirooqi man qod ahshonaa (Yaa Syaikhonaa) Mata penuh cinta dipenuhi air mata, sedih karena akan berpisah dari sosok yang memberi (kemuliaan) pada kami (wahai guru kami) رَوَضَّنَا بِأُسْوَةٍ مَحَاسِنَا شَرَفَهُ اللهُ فِی جَوَارِ نَبِيِّنَا… يَا رَبَّنَا Rowwadlonaa bi uswatin muhaasinan Syarrofahullaahu fii jiwaar nabiyyinaa (Yaa Robbanaa) Beliau mengajari kami dengan teladan-teladan yang baik, Semoga Allah memuliakannya berada bersama Nabi kami (wahai Tuhanku) وَنَتَبِعْ عَزْمَكْ وَکُنْتَ مُتْقِنَا أَرِحْ وَنَوْمًا گالعْرُوْسِ آمِنَا… يَا شَيْخَنَا Wa nattabi’ ‘azmak wa kunta mutqinaa Arih wa nauman kal ‘aruusi aaminaa (Yaa Syaikhonaa) Kami tunduk akan kehendakMu dan kau sosok yang dipatuhi, beristirahatlah dan tidurlah dengan tenang bak pengantin (wahai guru kami) فَاعْفُ إِذَا لَمْ تَرْضَ مِنْ أَعْمَانِنَا دَوْمًا دُعَاءً رَبَّنَا اغْفِرْ شَيْخَنَا… يَا رَبَّنَا Fa’fu idzaa lam tardlo min a’maaninaa Dauman du’aa-an robbanaa-ghfir syaikhonaa (Yaa Robbanaa) Maafkan kami bila ada yg tidak berkenan dihati selama masa belajar kami, kami senantiasa berdoa: Ya Tuhanku ampunilah guru kami (wahai Tuhanku) كُلُّ الْقُلُوْبِ اِلاَّلْحَبِيْبِى تَمِيْلُ * وَمَعِى بِذَلِكَ شَاهِدٌ وَدَلِيْلُ اَمّاَ الدَّلِيْلُ اِذَا ذَكَرْتُ مُحَمَّدًا * صَارَتْ دُمُوْعُ العَاشِقِيْنَ تَسِيْلُ

Ya Syaikhona – Lirik Sholawat, Latin dan Terjemahnya

Kalam Ulama - TEKS SHOLAWAT DAN TERJEMAH YA SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ya Syaikhona Ma’as-salaamah fii amaanih...
KalamUlam.com - Kajian Maulid Diba #13 Fahtazzal arsyu tharaban was-tibsyâra, Waz-dâdal kursiyyu haibatan wa waqâra,  Wam-tala-atis samâwâtu anwâra, wa dhaj-jatil mala-ikatu tahlîlan wa tanjîdan was-tighfâra اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ [irp posts="933" name="Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam"]  Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf. Demikian pembahasan fasal fahtazzal arsyu      

Fahtazzal Arsyu – Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (03)

KalamUlam.com - Fasal Fahtazzal Arsyu ini merupakan fasal yang begitu luar biasa. Karena didalam fasal ini diceritakan bagaiamana kemulian Nabi Muhammad dan semua alam menyambut...
Maulid Diba dan Terjemahannya KalamUlama.com - Teks Maulid diba banyak sekali yang sehingga para pembaca bisa membuka link maulid diba full. tapi kami memohon maaf belum menyediakan maulid diba pdf. Sebagaimana kami ketahui, bahwa para ulama salaf banyak sekali yang menulis kitab, buku atau postingan singkat yang memuat bacaan shalawat. Hal itu dikerjakan untuk mewujudkan sebuah bukti kecintaan mereka kepada Nabi yang disanjungnya. Bacaan shalawat yang berupa buku atau kitab antara lain : shalawat Dala'il, shalawat Bakriyah, shalawat Diba'iyyah dan lain-lain. Sedangkan yang berupa postingan singkat antara lain shalawat Nariyah, shalawat Rajabiyah, shalawat Munjiyat, shalawat Fatih, shalawat Sa’adah. shalawat Badriyah dan lain- lain. Dari sekian banyak kitab yang memuat bacaan shalawat berikut tersedia yang palingterkenal dan sering dibaca yang diadakan oleh warga Nahdliyyin, antara lain adalah shalawat Diba’iyyah. Jadi pengertian Diba’an adalah : membaca kitab yang memuat bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Diba’i. Pengarang Maulid Diba' Maulid Diba’ adalah satu karya maulid yang masyhur didalam Islam adalah maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits, yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i. Sebagaimana yang udah disebutkan, kitab ini sering dicetak dan dibukukan sejalan dengan dua kitab maulid di atas, Syaroful Anam dan Al-Barjanzi. Pengarangnya adalah Imam Wajihuddin Abdu Ar-Rahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Dibai (866H-944H), beliau berasal Zabid, keliru satu kota di Yaman. Selain ulama yang produktif mengarang kitab, beliau juga dikenal sebagai ahli hadits, bahkan mencapai derajat Al-Hafiz, yaitu hafal 100.000 hadits dengan sanadnya. Sanad Pengarang Maulid Diba Syaikh Abdurrahman Ad Dibai dilahirkan pada 4 Muharram 866 H dan wafat pada hari Jumat 12 Rajab tahun 944H. Pada masanya, beliau adalah seorang ulama hadits yang tenar dan tak ada bandingannya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai darjat Hafidz didalam pengetahuan hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya dan setiah hari beliau mengajar para santrinya hadits dari masjid ke masjid. . Guru-guru beliau di antaranya adalah Imam al-Hafidz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau juga merupakan seorang yakni ahli sejarah. Adapun kitab karangannya adalah sebagai berikut: “Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang memiliki kandungan himpunan hadits yang dinukil dari pada kitab hadits yang 6. “Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin naasi minal hadits” sebuah kitab yang membedakan 3. hadits sohih dengan yang lainnya seperti dhoif dan maudhu. “Qurratul ‘Uyun fi akhbaril Yaman al-Maimun” “Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid”. “Fadhail Ahl al-Yaman”. Hukum Membaca Maulid Diba Membaca shalawat ad dibai atau shalawat yang lain menurut pendapat Jumhurul Ulama adalah sunnah Muakkad. Kesunatan membaca shalawat ini didasarkan pada lebih dari satu dalil, antara lain: Firman Allah SWT. Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah anda untuk Nabi dan sampaikanlan salatu penghormatan kepadanya. (QS. AI-Ahzab : 56) Sabda Nabi SAW.: صلوا علي، فإن الصلاة علي كفارة لكم وزكاة. [رواه ابن ماجه] Artinya : “Bershalawatlah anda untukku, karena membaca shalawat untukku bisa mengahapus dosamu dan bisa membersihkan pribadimu”. (HR. lbnu Majah) Sabda Nabi SAW. : زينوا مجالسكم بالصلاة علي، فإن صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة Artinya: “Hiasilah tempat-tempat pertemuanmu dengan bacaan shalawat untukku, karena sesungguhnya bacaan shalwat untukku itu menjadi cahaya bagimu pada hari kiamat”. (HR. Ad-Dailami). Keutamaan Maulid Diba Seseorang yang ahli membaca shalawat bakal diberi anugerah oleh Allah, antaralain : Dikabulkan do’anya الدعاء كله محجوب حتى يكون أوله ثناء على الله عز وجل وصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو فيستجاب له لدعاءه Artinya: “Setiap do’a adalah terhalanh, sehingga dimulai dengan memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi, sesudah itu baru berdo'a dan bakal dikabulkan do’a itu”. (HR. Nasa’i). Peluang untuk mendapat syafa'at Nabi pada hari kiamat. Dihilangkan ada problem dan kesulitannya. Dan lain-lain. Cara Membaca Diba’iyyah Dibaca dengan kesungguhan dan keikhlasan hati dan juga diiringi rasa hormat dan mahabbah/cinta kepada Rasulullah SAW. Jelas sekali dalalah ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi berikut bahwa kami sebagai ummat Muhammad diperintahkan untuk membacakan shalawat kepada Nabi SAW. agar dapat mengagungkannya sekaligus mengharapkan barokahnya sewaktu kami masih hidup di dunia dan sehingga mendapat syafa’atul udzma dikala kami berada di alam mahsyar kelak. Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW (Diringkaskan dari kitab Azzahrul Baasim karya Mufti Betawi zaman Hindia Belanda, al-Habib Utsman bin ‘Abdillah bin Yahya rohimahullohu ta’ala): Dilaksanakan pada tempat-tempat yang terhormat seperti masjid, musholla, majelis-majelis, atau perkumpulan mulia, dan sebagainya. Tidak boleh tersedia pada tempat berikut suatu patung-patung binatang atau manusia yang menjadi simbol pengagungan dan penyembahan terhadapnya (misal patung dewa, bunda maria, dan sejenisnya), karena hal berikut dibenci oleh beliau (SAW) dan para Malaikat. Ketika membaca shirohnya (sejarahnya) yang terkandung didalam Kitab Maulid, tidak boleh bercampur didalamnya antara laki-laki dengan perempuan. Kecuali adanya hijab (batas/dinding) yang mengatasi antara perempuan dan laki-laki, sehingga aman dari fitnah. Jangan pula tersedia pada tempat diselenggarakannya, suatu permainan yang HARAM (misal judi dan sejenisnya). Sebab, hal itu bakal mengantarkan pada kedurhakaan besar melanggar larangan Rosululloh SAW. Jangan pula tersedia pada tempat itu segala sesuatu yang beraroma busuk. Seperti rokok, cerutu, kandang binatang, dan sejenisnya. Maka hendaklah tersedia pada tempat itu segala sesuatu wewangian yang harum seperti dupa (gaharu bakar) atau bunga-bungaan. Hendaklah yang hadir pada tempat penyelenggaran itu membaca sholawat, dan janganlah satu sama lain saling bercerita, masing-masing “pasang” telinga mendengar kisah maulid yang dibacakan sambil membaca sholawat. Apabila nanti disebut bakal dzohir (lahir dan hadir)-nya sang Nabi SAW ke dunia, maka semua yang hadir bersegera untuk bangun dan berdiri. Bukan atas basic paksaan, tapi karena TAKDZIM (HORMAT), BAHAGIA, dan ANTUSIAS pada kehadiran beliau (SAW). Sehingga pada selanjutnya segenap hadirin yang mematuhi aturan-aturan berlaku, kelak bakal memperoleh syafa’at (pertolongan) dari beliau (SAW) di yaumil akhir dan juga memperoleh balasan yang berlipat ganda dunia wal-akhiroh. InsyaAlloh. اللهمّ صلّ على سيّدنا و شفيعنا محمّد وعلى آله وصحبه و سلّم واجعلنا من خيار امّته و من اهل شفاعته برحمتك يا ارحم الرّاحمين آمين “Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina wa Syafi’ina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallim waj’alnaa min khiyaari ummatihi wa min ahli syafaa’atihi, birohmatika Yaa Arhamarrohimiin, aamiin“ (Yaa Alloh, limpahkanlah sholawat atas junjungan kami, Nabi kami yang memberi syafa’at bagi kami, yaitu Nabi Muhammad SAW dan atas keluarganya, dan sahabatnya, dan juga salam penghormatan atasnya, dan jadikanlah kami daripada umatnya yang paling baik dan yang mendapat syafa’atnya di hari sesudah itu dengan Rahmat-Mu wahai Tuhan yang punyai cii-ciri Kasih Sayang melebihi semua yang punyai cii-ciri kasih sayang, aamiin) Baca : Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #02: “Inna Fatahna”

Maulid Diba Full Lengkap dengan Teks Terjemah Bahasa Indonesia

KalamUlama.com - Teks Maulid diba banyak sekali yang sehingga para pembaca bisa membuka link yang ada dibawah. tapi kami memohon maaf belum menyediakan maulid...