Serba Serbi Islam

Bolehkah Mengamalkan Hadits Dhoif?

Oleh: Habib Novel bin Muhammad Alaydrus Pengasuh Majelis AR-RAUDHAH, Solo Akhir zaman ini kita sering membaca atau mendengar seseorang yang melarang Muslim lain untuk mengamalkan sebuah...

Pendapat Para Ulama Madzhab yang Empat Terkait Doa Berbuka Puasa

Pembacaan do’a seperti diatas –dengan variasi tambahan dan pengurangan mengumpulkan semua riwayat– merupakan warisan turun-temurun dari para Ulama Waratsatul Anbiya. Mereka yang menganjurkan membaca...
Kalam Ulama - Untuk Menyambut Bulan Ramadhan perlu kiranya kita mengetahui 5 Hal yang Penting Diketahui untuk Menyambut Bulan Ramadhan. KETIKA Baginda Muhammad Saw bersabda, “Puasa itu setengahnya sabar,” (HR. Imam At-Tirmidzy) dilanjutkan dengan sabda lainnya yang menegaskan, “Sabar itu setengahnya iman,” (HR. Imam Al-Khathib dan Imam Abi Nu’aim); Berarti sesungguhnya hasil gabungan dua hadits di atas adalah “Puasa itu seperempatnya iman.” Selain sabagai mozaik iman yang berbobot, pahala puasa itu langsung dibalas oleh Allah, sehingga balasan rukun Islam yang satu ini tidak ada yang tahu selain-Nya, disaat setiap ibadah kebajikan biasa bisa Allah lipat gandakan pahalanya mulai dari 10 hingga 700 kali lipat. Bagaimana dengan pahala puasa? Sekali lagi, pahala puasa benar-benar melintas di luar batas prediksi hitungan hisab ibadah biasa, sebab, “puasa itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang kelak membalasnya,” ujar hadits Qudsi muttafaq ‘alaih riwayat Sahabat Abu Hurairah (w. 59 H/602-679 M). Dan karena puasa mampu melejetikan setengah potensi rasa kesabaran dalam diri kita, Allah pun telah berfirman, إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS: Az-Zumar: 10) إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan Allah senantiasa bersama mereka yang selalu besabar.”(QS: Al-Baqarah ayat 153 dan Al-Anfal ayat 47). Tanda Puasa Cukuplah untuk mengetahui keutamaan puasa ketika Nabi sampai sudi bersumpah bahwa aroma mulut seorang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ketimbang harumnya misik, dan bahkan Allah telah memberikan fasilitas khusus bagi mereka yang rajin berpuasa; kelak mereka masuk surga dan bersua dengan-Nya via pintu yang tak bisa dilintasi oleh selain mereka, pintu spesial ini bernama “Ar-Rayyan.” Tidak heran, Rasul pun pernah mewartakan kepada para Sahabatnya bahwa hanya bagi orang berpuasalah diperoleh dua kebahagiaan; kebahagiaan saat berbuka puasanya, dan kebahagiaan disaat bertemu Tuhannya. Ketiga hadits tentang aroma mulut berpuasa, pintu spesial “Ar-Rayyan”, dan dua kebahagiaan orang berpuasa ini semuanya hadits-hadist shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman; فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka amalkan.” (QS. As- Sajdah [32]: 17). Ada yang manafsiri bahwa yang mereka amalkan adalah puasa. Dan memang layak pahala puasa sedemikian benafitnya, sebab puasa -sebagaimana yang telah disinggung diatas- langsung disalurkan ke haribaan Allah Subhanahu Wata’ala, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Di sini layak juga dipertanyakan, apa yang membedakan ibadah puasa dengan yang lainnya, padahal semua ibadah lainnya pun akan dikembalikan ke Allah Subhanahu Wata’ala? Pertama, Al-Ghazali menjawab puasa itu sama halnya dengan masjidil Haram yang secara langsung diberi gelar “Rumah -milik- Allah” (Baitullah), padahal toh semua permukaan bumi ini sebenarnya milik-Nya pula. Kedua, ada dua faktor nalar bermakna yang hanya dimiliki ibadah puasa; a. Bahwa puasa itu sebuah sikap ketahanan diri dan pengabaian, di dalamnya ada rahasia (sirr) yang tak terdapat di ibadah lainnya yang bisa terlihat. Seluruh amal ketaatan (lainnya) bisa tersaksikan makhluk hidup ciptaan-Nya dan terlihat, tidak dengan puasa. Hanya Allah semata yang bisa melihatnya. Itu karena, sekali lagi, puasa merupakan amal ibadah batin dengan memfungsikan kesabaran yang menjernihkan. b. Bahwa puasa itu pengekang musuh Allah, sebab jalur Setan (menggoda manusia) hanya melalui syahwat. Sedang syahwat hanya bisa diperkuat dengan makan-minum. Oleh karena itu, Baginda Muhammad Saw pernah mengingatkan kita, “Sesungguhnya Setan berjalan melalui aliran darah Ibn Adam, maka persempitlah kalian jalur-jalurnya dengan lapar!” (HR. Muttafaq ‘alaih) Masih mengenai puasa yang melemahkan syahwat dengan rasa lapar, suatu hari Rasulullah Saw berpetuah kepada Siti ‘Aisyah (w. 58 H/613-678 M), “Kebiasaanku telah mengetuk pintu surga.” Istri tercinta pun bertanya, “Dengan apa, wahai Baginda Rasul?” “Dengan lapar,” jawab sang rasul. Jadi, ketika puasa khususnya mampu mengekang Setan, menyumbat jalur-jalurnya, dan mempersempit lintasan-lintasannya, maka sunggah pantaslah ibadah ini Allah spesialkan dengan menasbihkan puasa hanya untuk dan milik-Nya. Sebab hanya dengan mengekang musuh-Nya, pembelaan terhadap (agama) Allah terwujud, dan hamba yang membela (agama) Allah pasti akan ditolong-Nya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Q.S Muhammad: 7). Jadi, permulaan itu dengan kesungguhan perjuangan dari diri seorang hamba, dan pasti akan dibalas dengan sebuah petunjuk (hidayah) dari Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, Allah berjanji, “Dan orang-orang yang berjuang demi (mencari keridhaan) Kami, niscaya benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S. Al-Ankabut : 69). Allah Subhanahu Wata’ala juga pernah menegaskan; إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d:11) Sedangkan perubahan (ke arah lebih buruk) hanya bisa terjadi dengan memperbanyak syahwat, di sinilah ladang ketenteraman para setan dan tempat mereka berjaga. Selagi ladang syahwat ini makin subur, maka godaan mereka takkan pernah terhenti. Dan selagi mereka selalu menggoda, maka keagungan Allah Subhanahu Wata’ala takkan pernah tersibak di pelupuk mata hati seorang hamba, ia terhijab dari menemui-Nya. Rasulullah Saw pernah menyayangkan hal ini dengan bersabda, “Andai saja para setan itu tak mampu mengitari hati manusia, niscaya manusia pasti bisa mengamati kerajaan langit.” (HR. Imam Ahmad bin Hanbal) Maka dari semua uraian diatas, tampaklah dengan jelas bahwa puasa merupakan pintunya ibadah menuju taman keimanan yang hakiki, sekaligus merupakan perisai seorang beriman agar senantiasa bertakwa kepada Tuhannya dan mampu mengekang kekuatan syahwat hingga Setan pun tak lagi mampu mengitari hati kita yang berpuasa. Dan diatas semuanya, hanya Allah semata yang tahu seberapa besar agungnya pahala berpuasa. Semoga kita bisa memuasakan batin kita, selain juga jasmaninya! Wallahu a’lam.* Oleh: Mohammad Roby Ulfi Zt. Penulis tengah studi di Islamic International University of Malaysia, aktif di ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia). Tulisan disadur secara bebas dari Prolog Kitab Asrarush Shaum, Ihya` ‘Ulumiddin karya Hujjatil Islam wal Muslimin, Al Imam Muhammad bin Muhammad, Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H)

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Imam Al Ghazali

Kalam Ulama - Untuk Menyambut Bulan Ramadhan perlu kiranya kita mengetahui Keutamaan Puasa dan Bulan Ramadhan. KETIKA Baginda Muhammad Saw bersabda, “Puasa itu setengahnya...
Oleh: al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri Apabila bertemu dengan bulan Romadhon, Rosululloh SAW berdo'a, "Ya Alloh, selamatkanlah kami untuk Romadhon dan selamatkanlah Romadhon untuk kami" Riwayat lain: "Selamatkan Romadhon dari kami.." Kalimat ini sangat agung maknanya. "Selamatkan Romadhon dari kami". Yaitu jangan biarkan kami berbuat jahat dan merusak kemuliaan bulan Romadhon. Jangan biarkan kami berbuat dosa dan kurang beradab terhadap kemuliaan bulan romadhon. Inilah cara Rosululloh SAW ketika bertemu malam Romadhon. Aku kagum dengan orang yang berkata, "Segala puji bagi Alloh karena telah membawa kita memasuki bulan Romadhon" Aku juga kagum dengan orang yang berkata, "Aku akan tekun membaca al-quran dan menghidupkan malam hari dengan ibadah." Serta juga tentang jalinan persaudaraan (silaturrahim). Benar. Namun diantara kelalaian kita adalah, kita hanya menghubungkan silaturrahim hanya di dalam bulan Romadhon saja. (Padahal) diantara sebab yang menghalangi kita mendapat pengampunan Alloh di dalam bulan Romadhon adalah orang yang memutuskan silaturrahim. Riwayat dari hadits Rosululloh SAW, bahwasanya Alloh mengampuni bagi siapa yang berpuasa di bulan Romadhon dengan keimanan dan meminta keridhoan Alloh ta'la, terkecuali 4 orang. Diantaranya: 1. Peminum arak (semoga Alloh menjauhkan diriku dan kalian darinya) 2. Orang yang mendurhakai ibu bapaknya, yaitu dia yang mendurhakai ibu dan bapaknya yang telah berusia lanjut. Terlalu banyak permintaan dan keinginan kepada ibu bapak, serta berbicara kasar dan marah kepada keduanya. Berhati-hatilah, orang yang mendurhakai ibu bapak tidak akan diampuni dosa-dosanya sehingga ia berbuat baik kepada keduanya. Sekalipun dia berpuasa dan sholat. Utamakan juga ibu bapak. 3. Orang yang memutus silaturrahim (semoga Alloh menjauhkan kita dari sifat ini) Orang yang memutuskan silaturrahim, Alloh ta'ala mengancam mereka dengan laknat. Rosululloh SAW bersabda dengan firman Alloh ta'ala: "Wahai Rohim (ikatan persaudaraan), tidakkah engkau suka Aku memberikan kamu nama dengan nama-KU? Aku ar-Rohman (yang Maha Pengasih) dan kamu ar-Rohim. Apakah kamu rela kalau Aku ‘menyambung’ orang yang menyambungkanmu (mendapat belas kasih Allohu SWT) dan ‘memutuskan’ orang yang memutuskanmu (tidak mendapat belas kasih Allohu SWT)?" Maka disini tidak ada alasan untuk memutuskan silaturrahim sekalipun ada saudara atau keluarga yang berkelakuan jahat. Kalau ada saudara kita yang memulai memutus silaturrahim, jangan kita memutuskan juga silaturrahimnya. Rosululloh SAW bersabda,"Bukanlah orang yang menyambung silaturahim itu yang membalas kebaikan, yaitu jika dia menghubungkan silaturrahim dengan kamu, kamu menghubungkannya. Jika dia memutuskan, kamu juga memutuskannya." 4. al-Musyahin (orang yang merasa dendam, bermusuhan, dan bertengkar terhadap sesama) Yaitu orang yang dalam hatinya terdapat rasa dendam permusuhan yang sampai pada tahap tidak bertegur sapa seperti sabda Nabi SAW. al-Mushoromah maknanya yang memutuskan hubungan. Antara kita dengan orang lain ada masalah hingga sampai ke tahap tidak ingin bersalam dengannya. Kita tidak ingin melihatnya. Sekalipun ada keluarganya meninggal, kita tidak ingin menziarahinya. Perkara seperti ini, aku berbicara untuk diriku dan juga Anda semua. Jika ada seseorang itu menyakiti kita dengan sesuatu, jangan jadikan perkara tersebut sampai ke tahap yang membuat kita tidak mendapat pengampunan Alloh. Dia menyakitimu dalam masalah keuangan, dia menyakitimu dengan kata-kata, dia telah membuat kamu tertimpa musibah, dia telah membuat kamu kehilangan pekerjaan, dia menghancurkan perniagaanmu, Itu semua adalah kedzholiman dan kesalahan yang besar. Dia akan diperhitungkan Alloh nanti, dan diperhitungkan juga hak kamu. Tidak ada keraguan pada itu semua. Namun jangan jadikan perkara yang menyakiti kita itu sampai ke tahap; dengan sebab dia menyakiti kita, menjadikan kita tidak mendapat pengampuan Alloh di bulan Romadhon. Inilah diantara persiapan yang sangat baik ketika bertemu bulan Romadhon. Kita jauhkan dan tinggalkan 4 perkara tersebut. Juga dengan datangnya bulan Romadhon, kita jauhkan sebab-sebab yang membuat manusia jatuh ke lembah maksiat. Dalam hadits diriwayatkan dari al-Baihaqi, "Sesungguhnya Alloh ta'ala memperhatikan hamba-Nya pada malam pertama dari bulan Romadhon" Sehingga Salafus sholeh menamakan malam itu dengan "Lailatin nadzhroh" (malam pandangan rahmat Alloh). Rosululloh SAW bersabda, "Jika sekiranya pada malam pertama dari bulan Romadhon itu Alloh memperhatikan hamba-Nya, siapa yang mendapat perhatian Alloh Ta'ala niscaya ia tidak akan disiksa selama-lamanya" Oleh sebab itu, apabila seseorang merasa akan bertemu malam pertama atau malam seterusnya di bulan romadhon, maka sudah sepatutnya bersiap-siap mulai dari sekarang untuk mendapat pandangan Alloh ini. Alloh ‘Azza wa Jalla apabila melihat kita, Alloh tidak melihat pakaian kita, Alloh juga tidak melihat penampilan kita, tetapi Dia melihat pada hati dan amalan kita. Maka sebab itu, mulai dari sekaranglah bersihkan hati kita, maafkan setiap yang menyakiti kita, mohonkan ampunan Alloh untuknya. Jika hati kita amat berat untuk menerimanya, ingatlah di hari kiamat nanti, kita akan datang kepada Alloh dengan keadaan salah dan berdosa, sedangkan kita mengharapkan Alloh agar mengampuni dosa kita. Alloh memerintahkan kita untuk memaafkan orang lain. Alloh berfirman, "tidak sukakah kamu, Alloh mengampunkan dosa-dosa kamu?" Barangsiapa yang ingin diampuni dosa-dosanya oleh Alloh, maka seharusnya dia bersungguh-sungguh memaafkan orang lain. Ada formulasi obat dari Nabi Muhammad SAW bagi siapa yang susah untuk memaafkan orang lain, yakni dengan mendo’akan orang yang menyakiti kita. Do’akan dia, tapi berdo'alah dengan jujur. Jangan berdo'a seperti orang mencela, "Ya Tuhan, berilah dia hidayah!", "Taubatkanlah dia!" Jangan seperti itu , Anda seperti mencela dalam bentuk doa. Do'akan dia dengan penuh kejujuran. "Ya Robb, berkahilah perjalanannya" "Wahai Tuhan, berikanlah hidayah padaku dan juga dia" "Ya Alloh, ampunilah kesalahanku dan juga dia" "Ya Alloh, muliakanlah dia" "Ya Alloh, tinggikanlah derajat (keimanan)nya" "Ya Alloh, kembalikanlah dia kepada-Mu sebagai hamba terbaik" Lihat, kalau kita do'akan kebaikan untuknya dan Alloh menerima do'a kita, maka perbuatan jahatnya akan dapat diselamatkan di masa yang akan datang. Sehingga orang lain pun akan terselamat juga dari kejahatannya. Sebagian mereka mungkin ada yang berkata, "tak usahlah berdo'a untuknya, tidak ada manfaat berdo'a untuk dia. Semoga Alloh habiskan dia!" Janganlah seperti itu, apakah Anda meyakini bahwasanya Alloh ta'ala lebih berkuasa membinasakan daripada memberi hidayah-Nya?! Apakah Alloh lebih berkuasa membinasakan sesuatu daripada memberi hidayah-Nya?! Maha Suci Alloh! Dia Maha Mulia, rahmat kasih sayang-Nya melebihi kemurkaan-Nya. wAllohu a’lam bishshowaab. Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi

TIPS MENGHADAPI ROMADHON ALA ROSULULLOH SAW

kalamulama.com - Oleh: al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri Apabila bertemu dengan bulan Romadhon, Rosululloh SAW berdo'a, "Ya Alloh, selamatkanlah kami untuk Romadhon dan selamatkanlah Romadhon...

Pancasila Dan Tahlilan “Renungan Hari Lahir Pancasila, 01 Juni”

Pancasila Dan Tahlilan -Renungan Hari Lahir Pancasila, 01 Juni-        Diriwayatkan 'bil makna' dari beberapa Kyai, yang meriwayatkan dari al-Maghfurlah KH. Yasin...

Kyai Baidhowi Muslich Bicara Tarekat hingga Makrifatullah

Kyai Baidhowi Muslich Bicara Tarekat hingga Makrifatullah Oleh: Fadh Ahmad Arifan *Alumnus Jurusan studi Islam di Pascasarjana UIN Malang           Tahun 2008, KH....
Kalam Ulama Isra Mi'raj Nabi Muhammad Turun Kembali ke Bumi. Baca kisah sebelumnya #8 "Mencapai Sidratul Muntaha"  Pada saat turun dan sampai ke langit dunia, Rasulullah saw melihat ke bawah, dan beliau melihat asap yang mengepul, kabut dan suara-suara yang berisik. Maka Nabi saw bertanya, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab, “ini adalah para syaithon, mereka menghalangi pandangan manusia supaya tidak berfikir tentang kerajaan langit dan bumi, apabila para syaithon tidak melakukan hal itu, sungguh manusia akan melihat keajaiban yang mengagumkan”. Rasulullah saw turun hingga kembali ke Baitul Maqdis dan menaiki buraqnya. Di perjalanan pulang, Nabi Saw melewati kafilah pedagang bangsa Quraisy di tempat tertentu. Di kafilah itu ada seekor unta yang membawa dua buah karung dagangan, satu karung berwarna hitam dan satu karung berwarna putih. Pada saat Nabi Saw berpapasan dengan mereka tiba-tiba unta itu menjadi liar ketakutan dan berlari berputar putar hingga akhirnya pingsan dan tersungkur. Di perjalanan pulang Rasulullah saw juga melewati kafilah lainnya yang telah kehilangan seekor unta yang memikul dagangan bani fulan, maka Nabi mengucap salam untuk mereka, beberapa orang dari mereka berkata, ”ini adalah suara Muhammad”, hingga akhirnya Rasulullah tiba di kota Makkah sebelum subuh. Di pagi hari Rasulullah saw duduk bersedih kerena menyadari bahwa orang-orang pasti akan mendustainya. Tiba-tiba musuh Allah, Abu Jahal melewati Rasulullah saw dan ia mendatanginya dan duduk bersamanya, maka berkatalah Abu Jahal kepada Nabi saw dengan nada menghina, “Apakah ada sesuatu, wahai Muhammad?”. Nabi saw menjawab, “benar”. Abu Jahal berkata, “Apa itu?”. Nabi saw menjawab, “Aku diperjalankan semalam”, Abu Jahal berkata, ”ke mana?”, Nabi saw menjawab, “ke Baitul Maqdis”. Maka Abu Jahal berkata, “Dan kemudian di pagi hari ini engkau telah kembali lagi di tengah-tengah kami?”. Nabi menjawab, “betul.” Maka Abu Jahal berpura-pura mempercayainya. Kemudian Abu Jahal berkata, ”Bagaimana pendapatmu apabila aku memanggil kaummu dan engkau kabarkan kepada mereka apa yang barusan engkau ceritakan kepadaku?”. Nabi menjawab, ”boleh”. Maka Abu Jahal memanggil kaumnya, ”wahai sekalian Bani Ka’ab bin Lu’ay kemarilah”. Maka mereka berdatangan hingga mereka duduk kepada keduanya. Kemudian Abu Jahal berkata kepada Nabi Muhammad saw, “ceritakanlah kepada kaummu apa yang barusan engkau ceritakan kepadaku”. Maka Rasulullah saw berkata, “sesungguhnya aku telah diperjalankan semalam”. Mereka bertanya, ”kemana?”. Nabi saw menjawab, “ke Baitul Maqdis”. Lalu mereka kembali bertanya, “Dan kemudian di pagi hari ini engkau telah kembali di tengah-tengah kami?”. Nabi saw menjawab, “benar”. Mendengar yang demikian mereka bertepuk tangan, ada pula yang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena terkagum-kagum, serta mengolok-olok Nabi Muhammad saw hingga mereka bergemuruh ramai akan kabar yang disampaikan oleh Rasulallah saw. Berkatalah Al Muth’im bin ‘Adiy, ”Setiap perkara dan kasus mengenaimu sebelum hari ini begitu mudah dan kecil, namun hari ini lain. Wahai Muhammad! Aku bersaksi bahwasanya engkau adalah pembohong. Kami bersusah payah menuju Baitul Maqdis satu bulan perjalanan dan kembali dari Baitul Maqdis satu bulan perjalanan, lalu engkau mendatanginya dan kembali ke Makkah dalam satu malam? Demi latta dan uzza aku tidak mempercayaimu”. Maka Abu bakar berkata, “wahai Al Muth’im alangkah buruk perkataanmu kepada keponakanmu (Nabi Muhammad). Engkau menanggapinya dengan kebencian hingga engkau mendustainya. Aku bersaksi bahwasannya dia telah berkata jujur”. Maka mereka berkata, ”Wahai Muhammad! sifatkanlah kepada kami tentang Baitul Maqdis, bagaimana bangunannya, bagaimana keadaannya, dan bagaimana dekatnya dari gunung?, karena sesungguhnya banyak di sini saat ini yang telah mengunjunginya”. Maka Rasulullah saw mensifatkan kepada mereka “bangunannya begini, keadaannya seperti ini, dan dekatnya dari gunung seperti ini”. Ketika Nabi sedang menjelaskan kepada mereka dengan sejelas jelasnya, tiba-tiba ada bagian dari Baitul Maqdis yang luput dari perhatian beliau saat Isra dan Mi’raj, maka nabi ketakutan dan kebingungan yang amat sangat besar. Di saat itulah Allah menampakkan kepada Nabi Muhammad saw Masjid Al Aqsho hingga beliau menyaksikannya seakan diletakkan dekat rumah Aqil atau Uqal. Orang-orang ketika melihat Nabi saw kebingungan mereka mendesaknya dangan berbagai pertanyaan, “berapa pintu pada masjid tersebut?”, padahal Nabi saw datang ke Masjid Al Aqsho bukan untuk menghitung pintunya. Namun setelah Allah menampakkan masjid Al Aqsho kepadanya, beliau menjawab pertanyaan mereka dengan lengkap dan tepat. Abu Bakar tiada henti berkata, “engkau benar, engkau benar, aku bersaksi bahwasannya engkau adalah utusan Allah.” Maka orang-orang berkata, “adapun gambarannya tentang Masjid Al Aqsho itu, demi Allah semua itu benar”. Kemudian mereka berkata kepada Abu Bakar, “Apakah kamu mempercayainya bahwa dia telah berjalan semalam ke Baitul Maqdis dan kembali ke Makkah sebelum subuh?”. Abu Bakar menjawab: “Iya, sungguh aku mempercayai apa yang lebih hebat dari itu semua. Aku mempercayainya dengan segala kabar langit yang dia kabarkan setiap pagi maupun sore hari”. Oleh sebab itulah Abu Bakar di juluki Ash Shiddiq. Nabi saw berkata, “Di perjalanan aku melalui kafilah Bani fulan di daerah Rouha’ dan mereka semua sedang mencari unta mereka yang hilang, maka aku berhenti dan menghapiri tempat peristirahatan mereka, aku tidak menjumpai satupun dari mereka karena mereka sedang mencari unta yang hilang. Saat itu aku sempat meminum dari air mereka yang di letakkan di sana. Kemudian aku melewati kafilah Bani fulan di tempat tertentu. Di kafilah itu ada seekor unta yang membawa dua buah karung dagangan, satu karung berwarna hitam dan satu karung berwarna putih, pada saat berpapasan dengan mereka tiba-tiba unta itu menjadi liar ketakutan dan berlari berputar putar hingga akhirnya pingsan dan tersungkur. Kemudian aku melewati kafilah Bani fulan di Tan’im. Kafilah itu dipimpin oleh unta yang berwarna abu-abu dengan pelana hitam dan dua tali kekang yang berwarna hitam, dan kafilah itu akan datang kepada kalian dari bukit Tsaniyah dipimpin oleh unta tersebut.” Mereka berkata, ”Kapan akan datang?”. Nabi saw menjawab, “pada hari rabu”. Maka pada hari itu para pembesar Quraisy menunggu kafilah tersebut, hingga matahari hampir tenggelam pada hari itu dan kafilah tak kunjung datang. Nabi saw berdoa agar dipanjangkan hari itu sesaat. Pada hari itu matahari ditahan, hingga datanglah kafilah tersebut. Saat itu orang-orang kafir quraisy bertanya kepada rombongan kafilah, “Apakah unta kalian hilang?”. Mereka berkata, “benar”. Mereka bertanya kepada kafilah yang lain, “Apakah unta berwarna merah milik kalian tersungkur hingga pingsan?”. Mereka berkata, ”iya”. Mereka bertanya kembali, “Apakah kalian memiliki tempat air?”. Maka seorang lelaki berkata, ”demi Allah aku telah meletakannya dan tidak seorangpun dari kami meminumnya dan tidak juga tumpah ke tanah.” Kemudian mereka semua menuduh Nabi saw sebagai seorang penyihir. Maka Allah menurunkan wahyu-Nya: “DAN TIDAK KAMI JADIKAN PENAMPAKKAN YANG KAMI PERLIHATKAN KEPADAMU KECUALI UJIAN BAGI MANUSIA” Kemudian Allah menurunkan firman-Nya yang berbunyi: "Maha suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya di malam hari dari masjidil Haram ke masjidil Aqsho yang kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan dari ayat-ayat kami, sesungguhnya Dia Maha mendengar dan Maha melihat." Sungguh agung engkau wahai Muhammad yang telah dimuliakan Allah dengan anugerah dan karunia agung ini. Martabat yang semua ciptaan Allah telah putus asa untuk meraihnya, martabat yang tidak ada lagi diatasnya martabat. Tidak seorangpun mengetahui apa yang telah engkau ketahui di malam indah itu. Bahkan Allah pun merahasiakan dari seluruh makhluknya apa yang telah Allah wahyukan dan anugrahkan untukmu. "MAKA ALLAH MEWAHYUKAN KEPADA HAMBA-NYA APA YANG TELAH ALLAH WAHYUKAN. HATI (MUHAMMAD) TIDAK MENDUSTAI APA YANG (MUHAMMAD) LIHAT". Apa yang Allah wahyukan kepadamu saat itu?. Apa yang engkau lihat saat itu hingga hati meyakininya dan tidak mendustainya?. Allah merahasiakannya dari seluruh makhluk-Nya. Rahasia yang hanya diketahui oleh dua kekasih. Dari seluruh ciptaan Allah yang sangat banyak, hanya engkau yang terpilih untuk martabat agung ini. Kedudukan cinta, kedudukan sebagai satu-satunya kekasih teragung. Apa yang membuatmu dipilih Allah?. Wahai sang hamba sejati yang telah menghambakan dirinya dengan sebenar-benarnya kepada Sang Kholiq?. Itulah rahasiamu teragung wahai kekasih Allah. SHALAWAT SERTA SALAM UNTUKMU WAHAI SEBAIK-BAIKNYA MAKHLUK. SHALAWAT SERTA SALAM UNTUKMU WAHAI IMAM PARA NABI DAN RASUL. SHALAWAT SERTA SALAM UNTUKMU WAHAI PEMILIK SENDAL YANG TELAH MEMIJAK SIDRATUL MUNTAHA. HIJAB-HIJAB AGUNG BERBANGGA KETIKA MENCIUM TELAPAK KAKIMU. KEPALA ALAM SEMESTA MENJADI MULIA KETIKA BERADA DI BAWAH TELAPAK KAKIMU. Apa yang dapat kami ungkapkan untuk hamba semacam dirimu?. Ya Allah, muliakan kami untuk dapat mencintai kekasih agung-Mu Muhammad shallallahu 'alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam. Hidupkan kami dalam cinta kepadanya, wafatkan kami dalam cinta kepadanya, dan kumpulkan kami dan para pecinta bersamanya di surga para pecinta. ~Selesai~ Diambil dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurrahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi'roj

Kisah Isra Mi’raj #9 “Turun Kembali ke Bumi” (Terakhir)

Kalam Ulama Isra Mi'raj Nabi Muhammad Turun Kembali ke Bumi. Baca kisah sebelumnya #8 "Mencapai Sidratul Muntaha" Pada saat turun dan sampai ke langit dunia, Rasulullah...
Baca kisah sebelumnya #7 "Dibukanya Pintu Langit"  Nabi Muhammad saw diangkat ke Sidratul Muntaha. Disanalah tempat perhentian terakhir segala yang naik dari bumi untuk kemudian disambut dan di sana pula tempat perhentian terakhir apa yang turun dari atas untuk kemudian disambut. Sidratul Muntaha adalah pohon yang amat besar, akarnya di langit ke enam, rantingnya sampai ke langit ke tujuh dan puncaknya hingga menembus langit ke tujuh sebagaimana tersebut dalam beberapa riwayat. Mengalir dari akar kaki Sidratul Muntaha, sungai yang airnya tidak berubah rasa, warna dan baunya. Mengalir pula darinya sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, serta mengalir pula sungai arak yang lezat untuk diminum, dan mengalir pula sungai dari madu yang murni. Orang yang berkendara akan berjalan terus tanpa henti di bawah naungan Sidratul Muntaha selama 70 (tujuh puluh) tahun. Buahnya menyerupai kelapa namun sangat besar sekali. Daunnya bagaikan telinga gajah yang sehelai daunnya hampir menutupi umat ini. Di dalam riwayat, satu helai daunnya dapat menaungi semua makhluk dan di setiap daunnya ada malaikat. Maka tiba-tiba dedaunannya diselimuti dengan berbagai macam warna yang indah yang tidak dapat digambarkan dan seketika itu dedaunannya berubah menjadi yaqut dan zamrud, dan sungguh tidak ada seorangpun yang dapat menggambarkannya. Padanya terdapat belalang-belalang dari emas. Pada akarnya mengalir empat sungai, dua sungai batin dan dua sungai zhohir. Nabi saw bertanya, “Wahai Jibril sungai-sungai apakah ini?” Jibril menjawab, “kedua sungai batin ini adalah dua sungai di surga dan dua sungai zhahir ini adalah sungai nil dan alfurat.” Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa pada akarnya terdapat mata air yang mengalir yang bernama Salsabil. Dari mata air Salsabil ini mengalir dua sungai salah satunya adalah Al Kautsar. Nabi Muhammad saw menyaksikan sungai Al Kautsar yang sangat deras hingga cipratan airnya memancar sangat deras seperti anak panah. Di tepiannya terdapat kemah-kemah yang terbuat dari mutiara, yaqut dan zamrud, dan di atasnya bertengger burung-burung berwarna hijau yang sebagus-bagusnya burung yang pernah engkau lihat. Di sekitar sungai terdapat bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak. Air sungainya mengalir di atas kerikil-kerikil yaqut dan zamrud, dan airnya lebih putih dari pada susu. Nabi Muhammad saw mengambil bejana untuk meminum airnya dan ternyata airnya lebih manis dari madu dan lebih wangi dari minyak misk. Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Sungai ini adalah hadiah Allah untukmu wahai Muhammad”. Dan sungai lainnya adalah sungai rahmat. Nabi Muhammad saw mandi didalamnya dan ketika itulah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Di dalam riwayat disebutkan bahwasanya Nabi Muhammad saw melihat Jibril dengan enam ratus sayapnya di Sidratul Muntaha. Setiap satu sayapnya menutupi ufuq langit dan dari sayap-sayapnya berjatuhan permata dan yaqut serta lain-lainnya yang hanya Allah yang mengetahuinya. Rasulullah saw menelusuri Al Kautsar hingga masuk ke dalam surga yang kenikmatannya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam angan-angan manusia. Rasulullah saw melihat pada pintunya tertulis: “Satu shodaqoh diganjar dengan pahala sepuluh kali lipat, sedangkan memberi hutang diganjar dengan pahala delapan belas kali lipat”. Rasulullah saw berkata, “Wahai Jibril, mengapa memberikan hutang lebih utama daripada memberi shodaqoh?”. Jibril berkata, ”karena sesungguhnya seseorang yang meminta ia masih memiliki sesuatu, sedangkan seorang tidak akan berhutang kecuali ia dalam keadaan membutuhkan”. Mereka melanjutkan perjalanan dan di perjalanan Nabi saw menyaksikan sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai dari arak yang melezatkan bagi peminumnya dan sungai dari madu murni. Di tepian sungai terdapat kubah-kubah dari permata dan terdapat buah delima yang sangat besar seperti sebuah ember besar. Dalam riwayat lain, terdapat buah-buah delima yang besarnya bagaikan seekor unta dengan pikulannya dan juga terdapat burung-burung yang besar bagaikan seekor unta berpunuk dua. Abu Bakar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh burung-burung itu sangat dimanja dan merasakan kenikmatan”. Rasulallah menjawab, ”Para pemakan burung-burung itu lebih nikmat dan lebih dimanja lagi, dan aku berharap agar engkau pun memakannya pula wahai Abu Bakar”. Di perjalanan itu Rasulullah saw melihat sungai Al Kautsar yang di tepiannya terdapat kubah-kubah dari permata dan tanahnya adalah misk yang sangat wangi. Kemudian diperlihatkan kepada Nabi Muhammad saw neraka. Neraka adalah tempat kemurkaan Allah dan siksa Allah. Apabila bebatuan dan besi dilempar kedalamnya maka akan dilahapnya. Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum di neraka yang sedang memakan bangkai. Rasulullah saw bertanya kepada Jibril, ”Siapakah mereka wahai Jibril?”, Jibril menjawab, ”mereka sedang memakan daging-daging manusia”. Nabi saw menyaksikan malaikat penjaga neraka seperti lelaki bermuka garang yang kemurkaan dan dendam sangat terlihat di wajahnya. Rasulullah saw mengucapkan salam kepadanya dan kemudian neraka dikunci kembali. Rasulullah diangkat ke Sidratul Muntaha. Tatkala itu Nabi saw diselimuti oleh awan yang berwarna-warni, dan itulah tempat terakhir Jibril menemani Rasulullah saw. Rasulullah saw diangkat ke tempat yang sangat tinggi hingga Nabi mendengar suara goretan Al Qolam (pena yang menulis segala apa yang ada di alam semesta). Rasulullah saw melihat seorang lelaki yang samar-samar di balik cahaya ‘Arsy. Rasulullah bertanya, “Siapakah gerangan orang itu? apakah malaikat?”. Maka dijawab, “bukan”, Rasulullah bertanya kembali, “Apakah dia seorang nabi?”. Dijawab, “bukan”. Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah gerangan?” Di jawab, “Dia adalah lelaki yang ketika di dunia mulutnya selalu basah dengan dzikir kepada Allah, hatinya selalu rindu kepada masjid dan tidak pernah menjadi penyebab kedua orang tuanya dicela”. Rasulullah saw melihat Allah SWT. Tatkala itu tersungkurlah beliau dengan bersujud kepada Allah. Tatkala itulah Allah berbicara kepada Nabi Muhammad saw. Allah berkata, “Wahai Muhammad!“ Rasulullah menjawab, “Labbaik ya Allah” Allah berkata, “Mintalah!” Rasulullah menjawab, ”Ya Allah, sungguh Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai Kholil dan Engkau memberikannya kerajaan yang agung. Engkau berbicara kepada Musa secara langsung. Engkau memberikan kepada Daud kerajaan yang agung dan Engkau melunakkan besi untuknya dan Engkau menundukkan gunung kepadanya. Engkau berikan kepada Sulaiman kerajaan yang agung dan Engkau tundukkan kepadanya jin, manusia dan syaitan dan Engkau tundukan angin kepadanya dan Engkau berikan kepadanya kerajaan yang tidak ada seorangpun yang pantas setelahnya. Engkau mengajarkan kepada Isa kitab suci Taurat dan Injil dan Engkau menjadikannya dapat menyembuhkan orang yang buta dan menyembuhkan orang yang berpenyakit belang dan dapat menghidupkan orang mati atas izin-Mu. Engkau melindungi Isa dan ibunya dari syaitan yang terkutuk hingga syaitan tidak menemukan jalan untuk mengganggu keduanya”. Kemudian Allah berkata, “Sungguh aku telah menjadikanmu sebagai kekasih”. Periwayat hadits berkata, tertulis di dalam kitab suci Taurat bahwa Rasulullah saw adalah Habibullah (kekasih Allah). Allah berkata saat itu kepada Nabi Muhammad saw, “Dan aku mengutusmu kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pembawa peringatan. Dan Aku telah lapangkan dadamu dan Aku telah hapuskan dosa-dosamu dan Aku telah menggangkat namamu sehingga tidaklah nama-Ku disebut melainkan engkau pun di sebut bersama-Ku dan Aku telah menjadikan umatmu sebagai umat yang terbaik dari sekalian manusia dan Aku jadikan umatmu sebagai umat moderat, dan Aku jadikan umatmu sebagai umat yang pertama (masuk ke dalam surga) dan yang terakhir (lahir ke muka bumi), dan Aku telah menjadikan umatmu tidak diperbolehkan pada mereka berkhutbah hingga mereka bersaksi bahwa engkau adalah hamba-Ku dan utusan-Ku. Aku telah menjadikan dari umatmu sekelompok kaum yang hati mereka adalah tempat menampung kitab suci mereka, dan Aku telah menjadikan engkau sebagai Nabi yang pertama diciptakan dan terakhir di utus serta yang pertama dibangkitkan untuk hari pengadilan. Dan Aku berikan kepadamu surat Al Fatihah yang tidak pernah Aku berikan kepada seorang nabi sebelummu, dan Aku berikan kepadamu penutup surat Al Baqarah yang merupakan harta karun di bawah ‘Arsy yang tidak Aku berikan kepada seorang nabi pun sebelummu. Dan Aku berikan kepadamu Al Kautsar. Dan Aku berikan kepadamu delapan karunia: Islam, Hijrah, Jihad, Sodaqoh, Puasa Ramadhan, Amar Ma’ruf, dan Nahi Munkar, Dan pada hari Aku menciptakan langit dan bumi, Aku wajibkan atasmu dan atas umatmu lima puluh kali sholat, maka dirikanlah olehmu dan oleh umatmu.” Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulallah saw bersabda, “Tuhanku telah memberi karunia kepadaku, yaitu Allah mengutusku sebagai rahmat bagi sekalian alam dan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah tanamkan di dalam hati musuh-musuhku rasa takut dari jarak satu bulan perjalanan, dan Allah halalkan kepadaku harta rampasan perang padahal tidak dihalalkan kepada seorang pun sebelumku, dan Allah jadikan bumi sebagai tempat shalat dan suci, dan aku diberikan pembuka, penutup dan keluasan kalimat. Ditunjukkan kepadaku seluruh umatku dihadapku hingga jelaslah kepadaku antara pengikut dan pemimpin, hingga aku melihat mereka mendatangi suatu kaum yang beralas kakikan dari bulu dan aku melihat mereka mendatangi suatu kaum yang berwajah lebar dan bermata sipit seolah-olah mata mereka dijahit dengan jarum, hingga nampak jelas olehku penderitaan yang umatku derita dari kaum tersebut. Dan aku diperintahkan dengan lima puluh kali sholat”. Dan dalam riwayat lain, Rasulullah saw diberikan tiga anugerah; dijadikan sebagai pemimpin para rasul; dijadikan sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa; dan akan memimpin umatnya yang wajah dan lengan serta kaki mereka bercahaya terang benderang kerena basuhan air wudhu. Dalam riwayat lain, dianugerahkan untuk Rasulullah saw shalat lima waktu dan akhir surat Al Baqaroh dan ampunan Allah bagi umatnya yang tidak menyekutukan Allah atas dosa-dosa besar mereka. Kemudian tersingkaplah dari Rasulullah saw awan indah yang menyelimuti dirinya. Jibril meraih tangan Rasulullah saw untuk menuntunnya kembali, maka mereka kembali dengan cepat. Di perjalanan pulang mereka melewati Nabi Ibrahim as dan Nabi Ibrahim tidak berucap sesuatu apapun. Mereka melalui Nabi Musa as. Rasulullah saw berkata, “sungguh Nabi Musa adalah sahabat terbaik untuk kalian.” Nabi Musa as berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Apa yang kamu lakukan selama diperjalanan ini wahai Muhammad? Dan apa yang diwajibkan Tuhanmu kepadamu dan kepada umatmu?”. Nabi Muhammad saw menjawab, “diwajibkan kepadaku dan umatku lima puluh sholat sehari semalam.” Maka Nabi Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan untukmu dan untuk umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu untuk menjalankan perintah itu, sungguh aku lebih berpengalaman terhadap manusi. Nabi Muhammad saw mengabarkan kepada Nabi Musa tentang apa yang Allah tetapkan. Namun Nabi Musa bersikeras berkata, “kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi, karena sungguh umatmu tidak akan mampu.” Nabi Muhammad berkata, ”Wahai Musa, aku telah berkali-kali menghadap kepada Tuhanku hingga aku malu kepada-Nya, dan sungguh aku ridho dan puas menerima ketentuan Tuhanku.” Maka terdengar seruan,”Sesungguhnya aku telah menetapkan ketentuan-Ku dan aku telah meringankan atas hamba-hamba-Ku”. Maka Nabi Musa berkata, “Kalau begitu maka turunlan engkau dengan menyebut nama Allah.” Di perjalanan pulang Nabi Muhammad saw tidak melewati perkumpulan para malaikat, kecuali mereka berkata, “hendaklah kamu perintahkan umatmu untuk hijamah (bekam)”. Di perjalanan pulang Nabi saw bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, tidak ada seorangpun dari penduduk langit yang aku jumpai melainkan ia pasti menyambutku dengan meriah, dengan senyuman manis, salam dan doa, kecuali satu orang. Ketika aku menemuinya dan mengucapkan salamku untuknya, dia hanya sebatas menyambutku, menjawab salamku dan mendoakanku namun sama sekali tidak tersenyum dan tertawa untukku. Kenapa wahai Jibril?”. Maka Jibril berkata, “Dia adalah malaikat Malik, malaikat penjaga neraka. Dia tidak pernah tersenyum sejak diciptakan, kalaupun dia dapat tersenyum untuk seseorang maka dia hanya akan tersenyum kepadamu.” ***bersambung*** Diambil dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat.

Kisah Isra Mi’raj #8 Nabi Muhammad Mencapai Sidratul Muntaha

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad  Mencapai Sidratul Muntaha. Baca kisah sebelumnya #7 "Dibukanya Pintu Langit" Nabi Muhammad saw diangkat ke Sidratul Muntaha. Disanalah tempat perhentian terakhir...

Kemuliaan Malam Nishfu Sya’ban

Oleh Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus* Sya’ban adalah bulan dilaporkannya amal saleh sepanjang tahun yang seringkali dilupakan kemuliaannya.  Ketika ditanya oleh sayidah ‘aisyah ra mengapa beliau saw...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit  [irp posts="935" name="Kisah Isra Mi’raj #6 “Dibukanya Pintu Langit”"] Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit kelima, Nabi saw bertemu dengan Nabi Harun as. Nabi Harun setengah dari jenggotnya berwarna putih dan setengahnya lagi berwarna hitam, dan hampir-hampir panjangnya hingga ke pusar. bersamanya sekelompok kaumnya dari Bani Israil dan Nabi Harun sedang asyik berbincang dan bercerita dengan mereka. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Harun menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Harun mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Muhammad saw bertanya, “Siapa beliau wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Beliau adalah seorang lelaki yang di cintai oleh kaumnya, yaitu Nabi Harun bin Imran as”. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke enam. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit keenam, di perjalanan Nabi saw menyaksikan para nabi dan rasul bersama dengan umat mereka masing-masing. Beberapa dari mereka yang hanya memiliki kurang dari sepuluh pengikut, beberapa yang lain yang pengikutnya puluhan, beberapa yang lain yang pengikutnya banyak dan beberapa lainnya yang tidak punya sakalipun satu pengikut. Kemudian Nabi saw melewati suatu kelompok yang sangat besar yang memenuhi ufuk langit, maka Nabi saw bertanya, “Kaum siapakah ini?”Jibril menjawab, “itu adalah Nabi Musa beserta kaumnya, tapi angkatlah kepalamu ya Muhammad,” maka Nabi saw melihat sekelompok kaum yang jauh lebih banyak dan besar telah memenuhi ufuk langit dari berbagai sisinya. Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “mereka adalah umatmu dan masih belum termasuk yang tujuh puluh ribu dari umatmu yang akan masuk surga tanpa dihisab.” Setelah menyaksikan para nabi dan rasul beserta kaum mereka masing-masing, Nabi Muhammad saw bertemu dengan Nabi Musa bin Imran as, dan tubuh beliau berwarna putih kemerahan, seperti seorang dari suku Asy Syanuah, berbulu lebat, seandainya dia memakai dua gamis maka terlihat bulunya. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Musa menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh,” lalu Nabi Musa mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Musa berkata, “Manusia mengira bahwa aku adalah manusia yang paling mulia di sisi Allah, namun ternyata dialah (Rasulallah) yang lebih mulia dariku di sisi Allah.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan Nabi Musa menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuat engkau menangis?” Nabi musa menjawab, “Aku menangis karena sesungguhnya ada seorang pemuda yang diutus setelahku dan masuk ke surga dari umatnya lebih banyak dari pada umatku. Kaum Bani Israil menyangka sesungguhnya aku adalah anak Adam yang paling mulia dihadapan Allah namun kenyataannya Rasulullah saw adalah dari keturunan Adam menggantikanku di dunia dengan kemulian agungnya di sisi Allah sedangkan aku di akhirat. Jikalau hanya dia seorang yang mengungguliku dalam kemuliaan di sisi Allah sungguh aku tidak menghiraukannya, akan tetapi umatnya pun bersamanya dalam mengungguli kemuliaan di sisi Allah.” Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke tujuh. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj)?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit ke tujuh, Nabi saw bertemu dengan Nabi Ibrahim Al Kholil sang sahabat Allah, yang duduk di pintu surga di atas kursi emas, sambil menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur bersama sekelompok orang dari kaumnya. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Ibrahim menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai putraku yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Ibrahim berkata, “Perintahkanlah kepada umatmu supaya memperbanyak menanam pohon surga, karena sesungguhnya tanah surga sangat luas, subur dan bagus.” Maka Nabi saw bertanya, “Apakah pohon surga itu?” Nabi ibrahim menjawab, “pohon surga itu adalah kalimat Di dalam riwayat lain, “Sampaikan kepada umatmu salam, dan berilah kabar dariku kepada umatmu sesungguhnya surga itu bagus dan subur tanahnya, tawar dan segar airnya dan sesungguhnya pohon surga itu adalah kalimat Di tempat itu Nabi Muhammad saw menyaksikan sekelompok kaum yang sedang duduk, amat putih wajah mereka seperti putihya kertas, dan sekelompok kaum yang lain warna mereka tidak seputih kelompok yang tersebut, seakan warna mereka ada sesuatu. Kemudian mereka (kelompok kedua) masuk ke suatu sungai lalu mereka mandi di dalamnya sebanyak tiga kali, dan usai mandi pertama mereka keluar dari sungai dan sesuatu pada warna mereka telah berubah menjadi putih, kemudian mereka mauk kembali ke sungai untuk mandi yang kedua kalinya, dan usai mandi kedua warna mereka menjadi bersih dari noda, kemudian mereka masuk lagi ke sungai untuk mandi ketiga kalinya dan usai mandi ketiga warna mereka menjadi putih sebagaimana kelompok pertama. Mereka datang dan duduk bersama kelompok pertama. Nabi saw bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu yang putih wajahnya, dan siapakah orang-orang yang seakan warna mereka ada sesuatu, dan sungai apakah ini yang mereka masuk dan mandi di dalamnya?” Maka Jibril menjawabnya, “adapun mereka itu yang putih wajahnya adalah kaum yang tidak bercampur iman mereka dengan kedzoliman, adapun mereka yang seakan warna mereka terdapat sesuatu adalah kaum yang mencampur amal kebaikan dengan kejelekan, kemudian mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka. Adapun sungai ini, yang pertama adalah rahmat Allah, yang kedua adalah nikmat Allah, dan yang ketiga adalah Allah memberi minum mereka dengan minuman yang suci.”Kemudian dikatakan kepada Nabi Muhammad saw, “ini adalah tempatmu dan tempat umatmu.” Tiba-tiba Nabi saw melihat umatnya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mereka mengenakan pakaian seperti kertas yang putih dan kelompok kedua mereka mengenakan pakaian yang keabu-abuan. Nabi saw masuk ke Baitul Ma’mur bersama orang-orang yang berpakaian putih dan orang-orang yang berpakaian keabu-abuan terhalang walau sebenarnya merekapun termasuk orang-orang yang dalam kebaikan. Nabi saw shalat bersama orang mu’min di dalam Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitul Ma’mur dan tidak pernah keluar lagi sampai hari kiamat. Sesungguhnya Baitul Ma’mur itu bersejajar dengan Ka’bah, sehingga jika ada batu yang jatuh dari Baitul Ma’mur pasti akan terjatuh di atas Ka’bah. Di dalam riwayat disebutkan bahwasanya disodorkan kepada Nabi Muhammad saw tiga wadah. Beliau mengambil wadah yang berisi susu dan Jibril membenarkan dan merestui pilihan Nabi Muhammad saw. Di dalam riwayat lain saat itu Jibril berkata, “ini adalah fitrahmu (kesucianmu) dan umatmu”. Dalam suatu hadits riwayat Al Imam Ath Thobroni dengan sanad yang shohih, “Ketika malam aku diisrakan, aku melalui dan menyaksikan Al Mala’ Al A’la, dan aku menyaksikan Jibril laksana pakaian usang karena rasa takutnya yang amat sangat besar kepada Allah.” ***bersambung*** Diambil dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. [irp posts="916" name="Kisah Isra Mi’raj #8 Nabi Muhammad Mencapai Sidratul Muntaha"]

Kisah Isra Mi’raj #7 “Dibukanya Pintu Langit (Lanjutan)”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit  Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”....