Serba Serbi Islam

Kreatifitas Sumber Kemajuan Bangsa

Oleh : KH Husin MuhammadManusia yang semakin dekat kepada Allah seharusnya semakin kreatif, mencintai ilmu dan bertambah arif (bijaksana), karena Tuhan adalah Maha Kreatif,...

Membedah Tembang “Tombo Ati”

      Oleh: Hasyim*Tembang “TOMBO ATI” alias syair obat hati , syair bahasa jawa yang populer dan di wariskan secara turun menurun ini, merupakan salah satu...
Kalam Ulama - Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit. Baca kisah sebelumnya Kisah Isra Mi'raj #5 "Pujian dari Para Nabi" [irp posts="949" name="Kisah Isra Mi’raj #5 “Pujian dari Para Nabi”"]  Tidak pernah seorang makhluq terlihat tangga yang lebih indah darinya. Terdapat anak tangga dari perak dan dari emas, tangga itu berasal dari surga firdaus berhiaskan permata, sebelah kanan dan kirinya berdiri malaikat. Maka naiklah Nabi saw dan Jibril hingga sampai ke sebuah pintu dari pintu-pintu langit dunia yang di kenal dengan pintu Hafadhoh, dijaga oleh malaikat bernama Isma’il dan dia adalah penjaga langit dunia, bersemayam di udara, tidak pernah naik ke langit dan tidak pernah turun ke bumi kecuali di hari wafatnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam. Dia memiliki bawahan 70.000 malaikat dan setiap satu dari bawahannya memiliki 70.000 tentara malaikat. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Ketika keduanya masuk, mereka mendapati Nabi Adam as, beliau adalah bapak bagi seluruh umat manusia. Nabi Adam dengan bentuk sebagaimana keadaannya saat diciptakan Allah. Disodorkan kepadanya arwah para nabi dan keturunannya yang mu’min, maka berkata Nabi Adam, “arwah yang suci dan jiwa yang suci, jadikanlah mereka di Illiyyiin (tempat yang tinggi di surga).” Lalu disodorkan kepadanya arwah dari keturunannya yang kafir, maka Nabi Adam berkata, “arwah yang kotor dan jiwa yang kotor tempatkanlah di Sijjin (tempat paling bawah di jahanam).” Di samping kanan Nabi Adam terdapat arwah-arwah dan suatu pintu yang keluar darinya bau yang harum wanginya, dan di samping kiri nya terdapat arwah-arwah dan suatu pintu yang keluar darinya bau yang sangat busuk. Apabila dia menoleh kekanannya dia tersenyum gembira, dan jika menoleh ke samping kirinya dia sedih dan menangis. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Adam menjawab salamnya kemudian dia berkata, “Selamat datang untukmu wahai anak yang sholeh dan Nabi yang sholeh.” Nabi Muhammad saw bertanya kepada Jibril, “Siapa dia wahai Jibril?”, Jibril menjawab, “Dia adalah ayahmu Nabi Adam, dan arwah itu adalah anak keturunannya, yang berada di sebelah kanannya adalah calon penghuni surga, yang berada di kiri adalah calon penghuni neraka. Apabila dia menoleh ke kanannya dia tersenyum gembira, dan jika menoleh ke kirinya dia sedih dan menangis. Pintu yang di samping kanannya adalah pintu surga yang jika dia melihat keturunannya memasukinya maka dia tertawa gembira. Pintu di samping kirinya adalah pintu neraka, jika dia melihat keturunannya memasukinya maka dia sedih dan menangis.” Di perjalanan tersebut Nabi saw menyaksikan tempat makan yang dihidangkan potongan daging lezat yang tidak didekati oleh seorang pun. Ada juga tempat makan yang dihidangkan daging rusak dan busuk yang dikerubungi oleh manusia yang banyak. Nabi saw bertanya, “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab, “mereka adalah umatmu yang meninggalkan sesuatu yang halal kepada sesuatu yang haram.” Diriwayat yang lain, Nabi saw bertanya, “Siapa gerangan mereka itu wahai malakat jibril?” Jibril menjawab, “mereka itu adalah orang-orang yang melakukan perzinaan, mereka menghalalkan perkara yang telah Allah haramkan bagi mereka, sedangkan perkara yang Allah telah halalkan bagi mereka, mereka tinggalkan.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang perut mereka sangat besar bagaikan rumah, di dalam perut mereka ular-ular ganas mencabik lambung mereka yang terlihat dari luar perut mereka. Setiap kali salah seorang dari mereka mencoba bangkit berdiri, maka dia selalu tersungkur jatuh dan seraya berkata, “Ya allah jangan datangkan hari kiamat”. Mereka mengikuti jalannya fir’aun dan pengikutnya, dan mereka diinjak-injak oleh setiap yang melalui mereka. Mereka menjerit dan merintih kepada Allah. Maka Nabi Muhammad saw bertanya, “Wahai Jibril siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “mereka itu sebagian dari umatmu yang melakukan praktek riba dan memakan harta riba, mereka tidak berdiri melaikan bagaikan orang yang kesurupan setan.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang bibir mereka seperti bibir onta, dan dibukalah mulut mereka, lalu ditelankan kedalamnya batu yang amat besar. Di dalam riwayat lain disebutkan, ditelankan ke dalam mulut mereka batu yang besar dari neraka jahanam, membakar dan merobek-robek bagian dalam tubuh mereka hingga tembus dari bagian bawah tubuh mereka. Mereka menjerit dan merintih kepada Allah. Nabi saw bertanya, “Wahai Jibril siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “mereka itu adalah orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan cara yang dzolim dan sesungguhnya harta anak yatim yang mereka makan di dalam perut mereka itu adalah api jahannam, dan sungguh mereka akan di membusuk di dalam neraka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok wanita yang sedang digantung dengan diikat payudara mereka, dan sekelompok wanita yang lain sedang digantung terbalik dengan kaki di atas.Nabi saw pun bertanya, “Wahai Jibril siapakah gerangan mereka itu?”Jibril menjawab, “mereka adalah wanita-wanita yang melakukan perzinaan, dan membunuh anak mereka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang sedang dipotong-potong daging dari bagian tubuh mereka dan kemudian mereka dijejalkan daging mereka tersebut untuk dimakannya, sambil diserukan kepada mereka, “makanlah dagingmu sebagaimana kamu memakan daging saudaramu.” Maka Nabi saw bertanya, “Siapakah mereka itu wahai jibril?” Jibril menjawab, “mereka itu adalah sekelompok umatmu yang suka mencela, menfitnah, dan mengolok-olok kejelekan orang lain dengan kedipan mata mereka dan ucapan mereka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok orang pemakan harta riba, pemakan harta anak yatim dengan cara dzolim, dan para pezina, serta pelaku kemaksiatan lainnya dalam keadaan yang sangat buruk bahkan lebih buruk dari apa yang telah disaksikan dalam perjalanan tersebut. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke dua. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj)?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit kedua, Nabi saw bertemu dengan dua saudara sepupu, yaitu Nabi Isa bin Maryam as dan Nabi Yahya bin Zakariya as. Pakaian dan rambut keduanya sangat mirip dan bersama mereka sekelompok dari kaum mereka. Nabi Isa as bertubuh sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, rambut yang lurus dan kulit yang mendekati putih kemerahan seperti seorang yang baru keluar dari mandi uap. Rasulullah mengatakan bahwa Nabi Isa itu mirip dengan sahabat ‘Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqofi. Nabi Muhammad saw memberi salam kepada keduanya dan Nabi Isa dan Nabi Yahya menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan: “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu mereka mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke tiga. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit ketiga, Nabi saw bertemu dengan Nabi Yusuf as dan bersamanya sekelompok dari kaumnya. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Yusuf menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Yusuf mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Sesungguhnya Nabi Yusuf telah dianugerahkan Allah setengah dari ketampanan. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Yusuf adalah manusia yang paling indah yang pernah diciptakan Allah, dan Allah menjadikan ketampanan dan keindahannya di atas seluruh manusia, bagaikan rembulan di malam purnama antara bintang-bintang. Maka Nabi saw bertanya, “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Dia adalah saudaramu Nabi Yusuf as.” Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke empat. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj)?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit keempat, Nabi saw bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihissalam. Sesungguhnya Allah telah mengangkatnya kepada derajat yang tinggi. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Idris menjawab salamnya serta menyambutnya, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Idris mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke lima. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. ***bersambung*** Diambil dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="930" name="Kisah Isra Mi’raj #7 “Dibukanya Pintu Langit (Lanjutan)”"]

Kisah Isra Mi’raj #6 Dibukanya Pintu Langit

Kalam Ulama - Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit. Baca kisah sebelumnya Kisah Isra Mi'raj #5 "Pujian dari Para Nabi" Tidak pernah seorang makhluq terlihat tangga yang lebih...
Seraba Serbi Islam (Kalam Ulama). Saya kadang merasa aneh melihat saudara saya umat Islam yang memiliki sifat seperti anak-anak, ingin menang sendiri, mudah marah dan memaksakan kehendaknya agar orang lain sama dengan dirinya... Padahal Alquran sudah mengatakan untuk Berbuat Adil karena itu bisa mendekatkan kepada ketaqwaan.... Tapi begitulah sifat anak2 kadang tidak bisa menerima nasehat yang baik sekalipun untuk dirinya sendiri Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi karena tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda.  Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda. Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda. Partainya sama dimusuhi karena pendapatannya beda. Apa kamu mau hidup sendirian di muka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan?. Kau tahu apa yang dilakukan Sayyidul Wujud Muhammad SAW pada seorang yahudi tua yang tiap hari meludahi & melempari kotoran padanya? Ia jenguk dan doakan sang yahudi ketika yahudi itu sakit. (Baca juga ISLAM KITA MENYATUKAN, BUKAN MEMECAH BELAH UMMAT) Kau tahu apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pada seorang yahudi buta yang tiada hari tanpa mencacinya? Ia suapi setiap hari dengan tangannya sendiri yang mulia tanpa sang yahudi tahu bahwa yang menyuapinya adalah Nabi Muhammad SAW yang selalu ia caci. Itulah Islam. Ber-Islamlah seperti Islam-nya Nabi Muhammad SAW, bukan Islam ala egomu. Jangan sampai kau hanya ber-Islam, tapi kau kehilangan Nabi Muhammad SAW Jangan lemahkan Islam yang kuat dengan tindakan kerdilmu. Jangan hinakan Islam yang suci dengan perbuatan nista.  Oleh : KH MUTHOFA BISRI

Renungan Gus Mus : Jangan Hancurkan Dakwah Islam dengan Sikapmu yang ngawur dan Tidak...

Seraba Serbi Islam, Dakwah Islam (Kalam Ulama). Saya kadang merasa aneh melihat saudara saya umat Islam yang memiliki sifat seperti anak-anak, ingin menang sendiri,...
Kalam Ulama - Untuk Menyambut Bulan Ramadhan perlu kiranya kita mengetahui 5 Hal yang Penting Diketahui untuk Menyambut Bulan Ramadhan. KETIKA Baginda Muhammad Saw bersabda, “Puasa itu setengahnya sabar,” (HR. Imam At-Tirmidzy) dilanjutkan dengan sabda lainnya yang menegaskan, “Sabar itu setengahnya iman,” (HR. Imam Al-Khathib dan Imam Abi Nu’aim); Berarti sesungguhnya hasil gabungan dua hadits di atas adalah “Puasa itu seperempatnya iman.” Selain sabagai mozaik iman yang berbobot, pahala puasa itu langsung dibalas oleh Allah, sehingga balasan rukun Islam yang satu ini tidak ada yang tahu selain-Nya, disaat setiap ibadah kebajikan biasa bisa Allah lipat gandakan pahalanya mulai dari 10 hingga 700 kali lipat. Bagaimana dengan pahala puasa? Sekali lagi, pahala puasa benar-benar melintas di luar batas prediksi hitungan hisab ibadah biasa, sebab, “puasa itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang kelak membalasnya,” ujar hadits Qudsi muttafaq ‘alaih riwayat Sahabat Abu Hurairah (w. 59 H/602-679 M). Dan karena puasa mampu melejetikan setengah potensi rasa kesabaran dalam diri kita, Allah pun telah berfirman, إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS: Az-Zumar: 10) إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan Allah senantiasa bersama mereka yang selalu besabar.”(QS: Al-Baqarah ayat 153 dan Al-Anfal ayat 47). Tanda Puasa Cukuplah untuk mengetahui keutamaan puasa ketika Nabi sampai sudi bersumpah bahwa aroma mulut seorang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ketimbang harumnya misik, dan bahkan Allah telah memberikan fasilitas khusus bagi mereka yang rajin berpuasa; kelak mereka masuk surga dan bersua dengan-Nya via pintu yang tak bisa dilintasi oleh selain mereka, pintu spesial ini bernama “Ar-Rayyan.” Tidak heran, Rasul pun pernah mewartakan kepada para Sahabatnya bahwa hanya bagi orang berpuasalah diperoleh dua kebahagiaan; kebahagiaan saat berbuka puasanya, dan kebahagiaan disaat bertemu Tuhannya. Ketiga hadits tentang aroma mulut berpuasa, pintu spesial “Ar-Rayyan”, dan dua kebahagiaan orang berpuasa ini semuanya hadits-hadist shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman; فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka amalkan.” (QS. As- Sajdah [32]: 17). Ada yang manafsiri bahwa yang mereka amalkan adalah puasa. Dan memang layak pahala puasa sedemikian benafitnya, sebab puasa -sebagaimana yang telah disinggung diatas- langsung disalurkan ke haribaan Allah Subhanahu Wata’ala, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Di sini layak juga dipertanyakan, apa yang membedakan ibadah puasa dengan yang lainnya, padahal semua ibadah lainnya pun akan dikembalikan ke Allah Subhanahu Wata’ala? Pertama, Al-Ghazali menjawab puasa itu sama halnya dengan masjidil Haram yang secara langsung diberi gelar “Rumah -milik- Allah” (Baitullah), padahal toh semua permukaan bumi ini sebenarnya milik-Nya pula. Kedua, ada dua faktor nalar bermakna yang hanya dimiliki ibadah puasa; a. Bahwa puasa itu sebuah sikap ketahanan diri dan pengabaian, di dalamnya ada rahasia (sirr) yang tak terdapat di ibadah lainnya yang bisa terlihat. Seluruh amal ketaatan (lainnya) bisa tersaksikan makhluk hidup ciptaan-Nya dan terlihat, tidak dengan puasa. Hanya Allah semata yang bisa melihatnya. Itu karena, sekali lagi, puasa merupakan amal ibadah batin dengan memfungsikan kesabaran yang menjernihkan. b. Bahwa puasa itu pengekang musuh Allah, sebab jalur Setan (menggoda manusia) hanya melalui syahwat. Sedang syahwat hanya bisa diperkuat dengan makan-minum. Oleh karena itu, Baginda Muhammad Saw pernah mengingatkan kita, “Sesungguhnya Setan berjalan melalui aliran darah Ibn Adam, maka persempitlah kalian jalur-jalurnya dengan lapar!” (HR. Muttafaq ‘alaih) Masih mengenai puasa yang melemahkan syahwat dengan rasa lapar, suatu hari Rasulullah Saw berpetuah kepada Siti ‘Aisyah (w. 58 H/613-678 M), “Kebiasaanku telah mengetuk pintu surga.” Istri tercinta pun bertanya, “Dengan apa, wahai Baginda Rasul?” “Dengan lapar,” jawab sang rasul. Jadi, ketika puasa khususnya mampu mengekang Setan, menyumbat jalur-jalurnya, dan mempersempit lintasan-lintasannya, maka sunggah pantaslah ibadah ini Allah spesialkan dengan menasbihkan puasa hanya untuk dan milik-Nya. Sebab hanya dengan mengekang musuh-Nya, pembelaan terhadap (agama) Allah terwujud, dan hamba yang membela (agama) Allah pasti akan ditolong-Nya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Q.S Muhammad: 7). Jadi, permulaan itu dengan kesungguhan perjuangan dari diri seorang hamba, dan pasti akan dibalas dengan sebuah petunjuk (hidayah) dari Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, Allah berjanji, “Dan orang-orang yang berjuang demi (mencari keridhaan) Kami, niscaya benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S. Al-Ankabut : 69). Allah Subhanahu Wata’ala juga pernah menegaskan; إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d:11) Sedangkan perubahan (ke arah lebih buruk) hanya bisa terjadi dengan memperbanyak syahwat, di sinilah ladang ketenteraman para setan dan tempat mereka berjaga. Selagi ladang syahwat ini makin subur, maka godaan mereka takkan pernah terhenti. Dan selagi mereka selalu menggoda, maka keagungan Allah Subhanahu Wata’ala takkan pernah tersibak di pelupuk mata hati seorang hamba, ia terhijab dari menemui-Nya. Rasulullah Saw pernah menyayangkan hal ini dengan bersabda, “Andai saja para setan itu tak mampu mengitari hati manusia, niscaya manusia pasti bisa mengamati kerajaan langit.” (HR. Imam Ahmad bin Hanbal) Maka dari semua uraian diatas, tampaklah dengan jelas bahwa puasa merupakan pintunya ibadah menuju taman keimanan yang hakiki, sekaligus merupakan perisai seorang beriman agar senantiasa bertakwa kepada Tuhannya dan mampu mengekang kekuatan syahwat hingga Setan pun tak lagi mampu mengitari hati kita yang berpuasa. Dan diatas semuanya, hanya Allah semata yang tahu seberapa besar agungnya pahala berpuasa. Semoga kita bisa memuasakan batin kita, selain juga jasmaninya! Wallahu a’lam.* Oleh: Mohammad Roby Ulfi Zt. Penulis tengah studi di Islamic International University of Malaysia, aktif di ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia). Tulisan disadur secara bebas dari Prolog Kitab Asrarush Shaum, Ihya` ‘Ulumiddin karya Hujjatil Islam wal Muslimin, Al Imam Muhammad bin Muhammad, Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H)

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Imam Al Ghazali

Kalam Ulama - Untuk Menyambut Bulan Ramadhan perlu kiranya kita mengetahui Keutamaan Puasa dan Bulan Ramadhan. KETIKA Baginda Muhammad Saw bersabda, “Puasa itu setengahnya...

Bagaimana Sebetulnya Sejarah Pencatatan Sejarah Nabi Bermula?

kalamulama.com - Bagaimana sebetulnya sejarah pencatatan sejarah Nabi bermula?. Dalam perayaan Maulid Nabi, pembacaan sejarah kehidupan Nabi SAW (Sirah Nabawiyah) sudah pasti dilakukan. Saat...

Fenomena Hari Asyura

(Uraian singkat yang disampaikan oleh Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf) ⁠⁠⁠⁠⁠اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Hari Asyura adalah hari ke-10 dalam bulan...
kalamulama.com- CURHAT GUS BAHA’: KEMBALILAH KE TRADISI ULAMA, INDONESIA ITU SEKARANG JADI KIBLAT Ini rekaman curhat Gus Baha’ ketika diminta untuk mengisi mauidhah hasanah walimatul ursy. Ini rekaman penting, karena jadwal, tujuan dakwah Gus Baha’ dan pesan-pesan beliau terekam jelas. Saya tulis sebisanya dulu. Belakangan diperbaiki. *** Tidak, saya tidak terbiasa keluar. Semua ngaji saya itu mengaji istiqamah, membaca kitab. Jarang keluar, apalagi acara sejenis itu, tidak pernah. Semua rekaman saya itu dari saya mengaji di sini dan di Yogya. Saya ngaji umum itu bisa dihitung, baru enam atau tujuh kali,bersedia diundang karena yang mengundang ada hubungan posisi lebih tua, seperti di Pasuruan Kyai Hamid. Saya tidak pernah menerima undangan. Tidak, saya tidak terbiasa keluar di acara seprti itu. Semua ngaji saya itu ngaji rutin, bukan ngaji apalagi walimatul ursy. Tidak, tidak pernah. Saya jarang keluar, kecuali ada kelas. Itu masih mungkin. Di Lirboyo saya punya jadwal setahun sekali. Di Pak Quraish Shihab setahun sekali. Tapi juga di kelas, bukan acara sejenis itu. Di Sidogiri, saya malah tiap bulan hingga saat ini. (karena) istri saya dari Sidogiri. Tiap bulan, saya membaca kitab di sana. Kalau pengajian umum saya tidak pernah. Lalu, ada beberapa pengajian yang di luar, tapi itu juga jarang. Itu di ikatan alumni Al-Anwar, kadang di Jepara, kadang di Demak, tapi faktornya (karena itu) acara Sarang. Di sini orang alim yang bersedia mengaji umum antara lain Gus Rojih (Ubab Maimoen), Gus Qoyyum, Gus Wafi’. Saya tidak (bersedia), tapi untuk pengajian mengkhatamkan kitab ya lebih banyak saya, (justru) karena tidak pernah keluar itu. Saya pernah mengkhatamkan Al-Hikam, banyaklah. Anak-anak itu mendengar rekaman saya kan rekaman ngaji (kitab), bukan pengajian umum. KEMBALILAH KE ADAT ULAMA PENDAHULU: INGIN NGAJI DATANGLAH KE KYAI Gus Zaid sebenarnya maunya mengundang saya, tapi saya agak keberatan (?), ribet. Saya itu termasuk, apa ya, agak dengan tanda petik itu memang agak menentang adat “mencintai orang alim” yang selalu ribet, tidak lebih praktis. Sebenarnya kan seperti Mbah Moen mengajar, saya juga mengajar, Gus Mus juga. Tapi caranya itu. Yang ribet itu mereka harus mengundang, bertemu. Saya termasuk orang yang nggak ridla. Apa itu, tidak mood. Akhirnya saya juga ngotot, ngotot hanya mengaji di sini. Cuma ya untuk silaturahim, mungkin beberapa saya silaturahim. Tapi ya waktunya terserah saya. Jadi … Juga banyak gus-gus dari Lirboyo, Ploso, karena tahu saya susah diundang, biasanya membawa rombongan ke sini untuk mengaji, kadang minta sanad. Tapi karena mereka kadang-kadang ke sini akhirnya ya saya silaturahim ke sana (ke tempatnya). Biasanya itu pun tidak mengaji umum. Umum di sini Rabu, tapi ngaji berurutan. Dengan Minggu, tapi tidak ada jam, karena satunya di madrasah. Kamis di Sarang. Desember (2019) ini juga ada pengurus PBNU (bagian lembaga dakwah) yang mengaji di sini. Saya pesan ke mereka: Adat-adat leluhur itu jangan dihilangkan. Kalau ingin mengaji ya ke kyai. Jangan karena dia meraasa PBNU, terus mengatur ngaji kyai. Tapi ya nurut lho mereka. Akhirnya di Indonesia ini orang kaya bisa mengundang kyai. Orang miskin tidak bisa. Kalau mengundang, pasti habis banyak. Makanya saya bilang, kalau mau ngaji datang saja. Di sini ngaji Rabu banyak sekali: keluarga Lirboyo, kadang keluarga Syaikhona Kholil, banyak. Ya itu tadi: barokahnya adalah mereka mulai efisien. Lha ceramah umum itu kan ribet: menata panggung, panitia debatlah, wah ribet. Saya juga tidak anti, tapi itu harus diminimalkan, menurut saya harus dikurangi sebanyak-banyaknya. Saya kemarin diundang di Tebuireng, diajak masuk ke kamar pribadinya Mbah Hasyim. Di situ da kitab-kitab yang sudah beliau selesaikan, ada yang belum beliau selesaikan.Ada yang ditulis ketika masih muda, setengah tua, sampai fi nihayati amri sampai ketika beliau klimaks. (Gus-gus keturunan Mbah Hasyim) itu minta,”Gus ini disortir kapan Mbah Hasyim punya pendapat ini. Ini pendapat yang sudah beliau cabut, atau beliau sudah tamkin fokus yakin dengan itu.” Satu kamar itu cucunya Mbah Hasyim semua, termasuk Gus Sholah. Jadi akhirnya alhamdulillah naskah2 Mbah Hasyim itu terjaga (perlu dilestarikan dan dikaji oleh ulama). Saya bilang: Ini baru benar. Kalau seperti saya diundang ngaji umum, Mbh Moen ngaji umum, Gus Mus pengajian umum? Ya nggak apa-apa dituruti, tapi setahun sekali atau dua tahun sekali. Jadi akhirnya naskah2 Mbah Hasyim itu bermanfaat. Itu barokahnya Gus Ishom. Semua acara2 di pondok besar itu kadang nuwun sewu basa-basi. PENTINGNYA HITUNGAN KRONOLOGIS DALAM DISIPLIN ULAMA Naskah Mbah Hasyim itu kalaupun selesai harus ditanggali, kalau tidak ditanggali bahaya buat ilmu karena takutnya dikarang ketika beliau muda. Kan kemarin pernah ada kejadian agak error ya. Jadi kubu sebelah itu anti-malam 7 hari, 40 hari berdasar kitabnya Mbah Hasyim. Itu kan ibarat orang fanatik PPP jadi anti PKB karena berdasarkan era duluan PPP. Atau sebaliknya. Dalam disiplin ulama, tanggal itu kan penting. Itu keluarga Tebuireng baru terhenyak karena ada debat kritikan 7 harian – 40 hari berdasar kitab Mbah Hasyim. Itu pasti akibat penanggalan: mungkin dikarang ketika muda, atau maksud beliau tidak seperti itu. Atau kondisi tertentu, misalnya seperti kondisi di era Jawa Timur yang abangan, 7 harian itu ritualnya benar-benar abangan, bukan 7 harian yang gambaran sekarang ini. Kan bisa saja seperti itu. Ada waqiatu ainin, satu kejadian khusus yang membuat Mbah Hasyimtrauma dengan kejadian itu (misalnya di kampung Jawa Timur atau Jawa Tengah, atau mana saja) Tapi karena alat … (?) (penanggalan) itu tidak lengkap, dikira Mbah Hasyim itu demikian. Dan memang ta’birnya gitu, nanti kejadiannya biasanya seperti itu: waqiatu ainin. Itu saya bilang ke Gus Fahmi, adiknya …. Ini khaulnya Gus Dur saya diminta, tapi saya bilang, “Saya mau datang, tapi syaratnya disediakan tim ilmiah dulu sebelum acara.” Mereka sanggup. Karena itu tadi, sayang sekali (kalau tidak lestari). Yang pertama ngotot naskahnya Syaikhona Kholil diterbitkan, itu cucu-cucunya sering ke sini, sampai semalaman. … dan itu lama jadi …. Saya itu ikut mendorong cucu-cucunya untuk melestarikan. Artinya apa? Karena tadi itu: berpuluh-puluh tahun sibuk (acara ribet), sampai naskah mbahnya sampai terabaikan. Musibah! Jadi seremonialnya benar-benar … apa ya (melalaikan). Ya akhirnya kalau NU diginiin terus itu kalah. Saya bilang ke Gus Mus, matur tentang itu, mungkin beliau setuju juga. Alhamdulillah Gus Mus itu mulai mencari naskah mbah-mbahnya. Dan ternyata banyak sekali. Pondok2 yang nggak terkenal, ternyata mbah2nya punya naskah. Misalnya kemarin saya baru mendapat kiriman file pdf karangan Habib Salim, Mbahnya Habib Jindan. Kemarin ketemu beliau di Lasem, “Ini Gus njenengan takhrij.” Beliau dari Jakarta. Habib Salim mbah beliau itu murid Syaikhona Kholil. Beliau pengarang kitab juga. Jadi di Indonesia, orang-orang alim itu benar-benar susah. Tapi saya ini mau bikin gerakan: gus-gus itu saya minta mengkaji kitab mbahnya, buyutnya. Sekarang pengajian sudah tidak NU …. Bangsane seneng rame-rame. Karena tadi, rasanya sayang sekali. Naskah ulama Indonesia dengan Yaman itu sama karena dulu ketika mengaji Sayyid Zaini Dahlan sudah orang Indonesia, mungkin malah jumlahnya imbang. Syaikhona Kholil menangi* Sayyid Zaini Dahlan bareng Syaikh Habib Ali Al-Habsy yang mengarang Simtuddurar. Bareng yang punya Iannatuththalibin, Sayyid Abu Bakar Syatha, yang cucu beliau ada yang hidup di sini hingga meninggal Sayyid Hamzah Syatha. Jadi saya baru saja kampanye. Tapi alhamdulillah naskah2 itu ada. Tapi ya itu cuma diperlakukan sebagai pajangan. Matekna wong tenan! Sebenarnya dirawat, tapi kalau dzuriyyahnya tidak mau peduli mau apa coba? Apa artinya terbit kalau tidak ada yang mau mengulas, membedah, tidak ada yang menyosialisasikan, kan nggak ada gunanya juga. Kata kuncinya adalah keseriusan kita. Saya kemarin sudah bilang ke Gus Sholah, saya mau datang ke Tebuireng, tapi saya bagian membaca kitabnya Mbah Hasyim. Sudah terbit, ada. Tapi kalau cucunya tidak peduli saya tidak mau. Coba Ihya’ itu, meski sudah terbit kalau tidak ada orang yang membacanya buat apa? Kan untuk pajangan saja. Apa artinya Fathul Qarib kalau tidak dibaca. Kalau terbitnya terbit. Tapi … Nah. Ini baru dinasionalkan, bahkan internasional. Kemarin PBNU bekerja sama dengan Habib Umar. Beliau diminta membaca kitabnya Mbah Hasyim. Kita mati-matian di NU karena kemarin ada benturan habaib dan kyai lalu kita minta. Dan Habib Umar sangat menghormati kita, menyayangi kita. Saya sudah punya tahu, muridnya Habib Umar, diskusi. Kalau kita tidak begini, habislah. Karena tadi. Setiap orang menyukai kyai di Indonesia itu ngatur kyai. Wah amit-amit. Kita ini adatnya masih seperti itu. Jadi orang-orang kya yang mencintai Tebuireng, mencintai Syaikhona Kholil itu ya ngatur2 kyai. Tapi ketika diminta, mereka tidak mau. Misalnya tadi, diminta sedikit melonggarkan waktu untuk mengkaji kitab. Misalnya begini: tiap mengadakan pengajian mereka habis 50 juta itu mau, tapi orang kaya diminta 50juta untuk mencetak kitabnya Mbah Hasyim, mereka nggak mesti mau. Padahal sama2 mereka menghabiskan uang untuk agama. Tapi kalau seleranya sendiri, mereka ingin punya acara, bagi mereka nggak masalah habis 50 juta. Tapi untuk membiayai naskah, urun 2 juta saja enggan. Artinya apa? Mereka mau membiayai kalau kita menurut pada keinginan mereka. Ketika kita yang minta mereke menuruti keinginan kita, mereka enggan. Itu jika dikalikan juta kejadian, seperti apa jadinya kita? Menurut saya itu sudah lampu merah. Semua pembiayaan besar itu berdasarkan selera orang2 kaya, bukan berdasar selera kyai. Orang2 kaya Surabaya itu milyarder banyak. Kalau ada acara pengajian akbar semalam, mereka biasa keluar 100 jt. Tapi kalau misalnya kyainya yang minta, misalnya sekali-kali acaranya meneliti kitab, itu tidak selalu setuju. Artinya kalau mereka yang punya ide, kita harus setuju. Kalau kita punya ide, mereka belum tentu setuju. Untuk hubungan dengan orang alim itulah yang menurut saya di Indonesia sudah lampu merah. Saya termasuk orang yang tidak mau (diatur). Sering saya didatangi orang-orang kaya dari Surabaya, ke sini bawa Alphard, minta saya pengajian akbar. Saya jawab, nggak. Kalau mau ngaji ya ke sini, kalau nggak mau ya nggak masalah. Sebenarnya saya bukan menolak (?) pengajian ya. Jumlah itu sudah banyak. Kalau mau ngaji ke sini, banyak kok yang dari selatan: Tulungagung, Magetan. Jadi inilah, Bu. Ini curhat saya. Saya khawatir keulamaan Indonesia itu dihilangkan. Padahal Indonesia sekarang baru menjadi kiblat. Syiria gagal mengelola negara, Mesir gagal, Irak gagal. Sekarang percontohan dunia itu tinggal Indonesia. Dan Ibu bisa kalau kita menjaga tradisi ulama: yaitu ulama itu yang mengatur orang kaya, bukan orang kaya yang mengatur ulama. Masalahnya sebagian ulama juga kedonyan, salahe dhewe. Dikasih mobil senang, diumrahkan senang. Terutama di Jawa Timur karena memang penghormatan ulama. Kemarin saja saya baru mengisi di PWNU Jawa Timur, keluar ruangan langsung diberi voucher umrah. Saya bilang nggak, saya kyai Jawa Tengah. Kalau suka dengan kyai, mengaji saja, nggak usah aneh-aneh. Khawatirnya seperti itu tadi. Ternyata ketika saya sampaikan ini, Gus Sholah mendukung, keluarga Syaikhona Kholil mendukung, Gus Da Ploso mendukung, karena mereka ternyata capek juga. Tapi mulai dari mana, itu yang masih dipikir. Mereka semua setuju mengurangi acara pengajian ramai-ramai. Alhamdulillan nanti insyaallah Khaul Gus Dur, Khaul Mbah Hasyim, nanti tema utamanya mengangkat kembali naskah-naskah leluhur. Saya memang dilibatkan. Jadi saya tahu. Semua gus-gus yang alim-alim ngotot: saya, Gus Reza, Gus Kautsar, dll. Kalau tidak, habis kita. Itu tadi, kemarin gara-gara peristiwa itu. Jadi ada naskahnya Mbah Hasyim, dipakai debat dengan orang NU. Kubu sebelah pakai naskahnya Mbah Hasyim. Dan itu mungkin, karena tadi. Beliau mungkin sedang marah terhadap adat tertentu, mungkin datang ke kampung abangan, ada acara 7 hari mungkin sindhenan. Judulnya itu bab hurmati ikhtifalil maulid ma’al trus ma’al ma’asyi. Sebenarnya ada kata ma’a –nya. Jadi beliau menangi periode itu, apalagi sekarang. Mungkin beliau kecewa karena beliau orang alim, lalu kekecewaan itu ditulis dalambahasa Arab. Memang ulama-ulama dulu meski orang Indonesia, menulisnya bahasa Arab. Saya punya tulisan tangannya Mbah Hasyim. Kan beliau teman mbah saya, di kitab-kitab mbah saya itu ada tulisan tangan Mbah Hasyim. Nah, karena keluarga sudah masyhur, sudah sibuk mengurus politik, pengajian, dll, warisan naskah mulai hilang. Lucunya, di luar sana sekarang ada yang namanya ahli filologi, orang yang menangani naskah-naskah kuno. Kan lucu. Di Mekah, di Belanda, mereka punya naskah-naskah ulama Indonesia, tapi para cucu penulisnya tidak punya. Itu akibat kebanyakan pengajian umum. Saya kemarin diundang di Termas. Sya bilang ke Gus … saya mau datang asal disediakan naskahnya Mbah Mahfud. Kalau nggak, saya nggak datang. Saya tunjukkan, saya yang bukan cucunya saja punya naskah2 beliau. Akhirnya cucu2 beliau ngaji sama saya, ushul fiqh memakai naskah yang tidak ada di Termas. Yang punya itu Mbah Moen, diberikan saya, karena Mbah Moen cucu murid sama Kyai mahfud. Yang cucu gen tidak punya, cucu murid punya. Lucu kan. Kalau siklus itu terus-menerus, bisa habis. Tradisi di sini ini sepuh. Wong Mbah Hasyim juga keturunan orang sini. Mbah Hasyim min jadil am keturunan Mbah Sambu. Keluarga Tebuireng dengan keluarga sini juga hormat karena induknya di sini. Yang keturunan laki-laki. Cuma Mbah Hasyim itu terkenalnya lewat Demak. Ya Demak dulu, Purwodadi Ngroto, sampai Jaka Tingkir. Kan beliau pendatang di Rembang. Makanya sebagian naskah ya di sini. Alhamdulillah gus-gus Jawa Timur itu sekarang responnnya luar biasa karena mereka ternyata capek juga menuruti acara seremonial. Tadi ada direktur Semen Gresik datang ke sini, minta pengajian. Direktur itu, kalau saya nuruti gaya yang memang gaya, tapi aku ngaji ngaji ae, nggak usah ngatur kyai. “Iya, Gus. Saya ngaji.” Karena saya takut kalau siklus ini terus-menerus tadi. Karena njenengan tahu ini, apalagi punya anak putri yang di Yaman. Andaikan njenengan tidak pernah kuliah di Yaman, ke luar negeri, saya nggak pernah ngomong ini. Kan lucu, kita ke Yaman mencari manuskrip naskah-naskah ulama Indonesia, sementara di sini oleh cucunya sendiri diabaikan. Naskah-naskah Syaikhona Kholil kemarin ketemunya sebagian di Bangkalan, sebagian di Jember, sebagian lgi di Surabaya. Tapi paling banyak di Jember. Gara2 beliau nulis….. dulu ga ada fotokopi, trus beliau punya santri di Surabaya, akhirnya naskah itu di Surabaya. Kan njenengan sudah punya generasi putri, keluarga. Itu harus diusahakan dari keluarga. Kalau yang lain itu terapinya kadang malah tidak tepat. Problem mendatangkan mubaligh/kyai adalah sebenarnya kyai ini kan nyuwun sewu orang yang tidak punya konsep dalam konteks spesifik, karena obyeknya kan nggak tahu. Saya ulangi lagi, kyai kalau datang ke mana-mana, obyek spesifiknya kan tidak tahu. Akhirnya sebagian pembicaraannya rutin atau standar saja. Makanya dibutuhkan kearifan keluarga, karena yang tahu misalnya njenengan punya jaamaah thariqah tahu penyakit orang thariqah itu suka wiridan, tapi nggak suka ilmu, nggak suka halal haram, nggak suka istinja’ (bersuci). Kalau penyakit orang fiqih, gampang ngomong halal haram tapi mudah hasud. Kan harus tahu, sehingga terapinya itu tepat. Makanya saya berani bicara ini sebagai bentuk penghormatan kepada njenengan. Kan njenengan sudah punya keluarga yang sekolah di mana-mana. Itu harusnya juga ada adat, ketika mengundang kyai bilang saja, ibarat kita konsultasi dokter, bahwa umat saya tipikalnya seperti ini, sehingga kalau orang Jawa bilang tidak melantur. NU itu problemnya di situ. Kyai terjun bebas, sehingga pengajian berkali-kali tidak jadi terapi. Karena spesifik obyeknya tidak jelas. Yang baru undur diri tadi kan jamaah thariqah Syadziliyah Kyai Muhaiminan Temanggung, minta saya mengaji di sana. Saya bilang, kirimkan anak atau cucu ke sini, nanti saya ajari. Nggak harus sampai tahunan, sehari cukup. Akhirnya beliau paham, karena beliau ahlul’ilmi seperti njenengan, akhirnya mengerti. Wong NU besarnya karena ngaji kok sekarang hanya seremonial organisasi. Dituruti akhirnya, OK Gus. Akhirnya Kyai Anwar > Saya mau datang kalau semua Gus-Gus mau datang dan syaratnya ngaji. Mereka sepakat. Jadi saya didampingi Gus Kautsar, Gus Reza. Akhirnya Gus Kautsar menunjukkan kealimannya, Gus Reza pun demikian. Akhirnya tidak menjadi acara seremonial, kan. Gojlokannya urusan ilmu. Dan akhirnya berlanjut. Saya datang ke Lirboyo. Kamu kira … bikin gerakan sendiri. Kalau gerakan itu jalan, karena kita memang ingin seperti itu. Karena kalau tidak, habis kita. Kalau kecakapan organisasi, lebih pandai Muhammadiyah. Kecakapan politik NU itu cakapnya mana …. Satu-satunya kelebihan yang mereka menang itu sebenarnya ngaji. Tapi masalahnya di NU sudah nggak suka ngaji. Jadi nanti kalau kita mau berpikir kan begitu. NU nggak latihan praktis berorganisasi kalah dengan Muhammadiyah. Seperti kemarin di PWNU Jatim itu mukjizat betul. Gara-gara ada Kyai Anwar, ada Gus Ali, keluarga Sidogiri mendukung, NU maju. Jadi saya diminta memang untuk gerakan ngaji, bukan yang lain. Alhamdulillah kemarin diminta oleh Gus Sholah. Saya mau syaratnya temanya menyisipkan naskah Mbah Hasyim. Lha wali sanga kita nasabnya sampai Yaman. Apalagi sekarang ada Habib Umar, ada penyambungnya. Kemarin Habib Jindan rawuh di Lasem minta ke panitia, mau datang ke Lasem kalau bisa memfasilitasi bertemu Gus Baha’. Akhirnya kita bertemu, pertama bertemu juga membahas naskah. Langsung dikirimi banyak naskah pdf. Jadi kayaknya insyaAllah gerakan ini masif. Kalau kyai-kyai akhirnya apa nuwun sewu, di NU itu banyak melahirkan kyai mubaligh, bukan kyai alim: orang yang bicaranya lucu, menarik, dan satu hari pidato tiga kali. Bisa dibayangkan kalau satu hari tiga kali, itu tidak pernah sempat memikirkan obyeknya butuh terapi apa. Itu pasti hanya rutin, pasti nggak penyembuh, bukan obat. Secara cangkem eleke kan bicara acak, kalau ahlul ‘ilmi kan masalah. Masak memberitahu orang tidak punya resepnya, kebutuhannya seperti apa. Akhirnya banyak melahirkan mubaligh2 yang di NU itu banyak masalah. Sekarang ini kan tambah aneh2. Pengajian plus dangdutan, pengajian plus kethoprakan, karena tadi tidak ada kontrol. Mubaligh yang bos krunya, trus krunya pakai alat musik, karen atidak pernah dikontrol. Nah, pengundang butuhnya bisa mengundang orang banyak. Nanti ilmu njenengan … tidak ada gunannya semua karena kalah sama seremonial. Makanya harus ada orang seperti saya. Hanya omong ilmu, saya nggak mau tahu. Pokoknya omong ilmu. Di Lirboyo saya sampaikan, “Gus Kafa, saya disambut 4 orang nggak masalah, asal empat orang yang serius mengaji, daripada disambut ribuan orang tapi tidak jelas niatnya. Akhirnya setiap saya ke sana, sebelum ngaji umum pasti ada putri, anak, menantu, dikumpulkan. Di Lirboyo anak Kyai Anwar, anaknya Gus Kafabih, dikumpulkan semua. Ngaji dulu sbelum acara umum. Sya ngomong persis seperti ini: kita tidak boleh kalah dengan … yang lain. Kita besar itu karena ulama, karena NU, bukan karena yang lain. NU itu kan ngeri. Banyak orang NU yang nggak tahu Ustad Abdus Shomad itu kategorinya apa, Ustadz Adi Hidayat apa. Banyak kan pondok-pondok NU mengundang mereka, karena detailnya saja tidak tahu. Coba, mengundang orang bahkan detail mereka saja tidak tahu. Butuhnya cuma “yang lagi tren”, itu kan lucu. Lucunya itu yang mengundang ya pondok, lembaga NU. Sekarang semenjak era saya, itu ada kesadaran. Cobalah njenengan yang pernah di Yaman, pikirkan lagi detail-detailnya. Kalau ngaji fiqih njenengan kan tahu, ada hukum mujmal ada hukum tashkhih. Kalau ada ta’arud antara hukum mujmal dan mufashal, menang yang mufashal. Kalau ada hukum global dengan yang detail itu menang yang detail. Sekarang kita nggak. Dari ulama yang tahu ilmu detail, mau diajak ke yang mujmal lagi. Bisa kiamat. Jadi sudah hampir pandai diajak goblok lagi. Jadi saya anggap ini sudah lampu merah. Saya matur njenengan ini sebagai bentuk penghormatan saya karena Mbak ngaji di Yaman. Saya acara di Temanggung juga akan matur seperti ini supaya itu tadi. Di mana-mana itu thariqah memang hebat. Di sini thariqah itu sampai 36 mu’tabarah Naqsabandi, Tijani. Dan semua punya sanad. Tapi orang di luar sana, sudah nggak lagi. Kalau kita pengajian umum terus, nanti ini hilang. Karena kalau pengajian umum, pasti orientasinya yang datang banyak, bupatinya datang, pokoknya hal-hal yang (ribet). Menurut saya yang seperti itu dikurangi, meskipun ya jangan dihilangkan, karena tadi. Saya ini punya niat baik sangat. Nyatanya saya di PWNU Jawa Timur gus-gus mengeluarkan kealimannya. Itu hampir semua gus-gus pondok datang, Pondok Denanyar datang, Gus Salaf, keluarga Syaikhona Kholil datang semua. Itu yang mengumpulkan naskah itu dulu mengaji di sini ada empat tahun, yaitu Gus Ismail yang mengumumkan naskah Syaikhona. Ngaji sama saya sorogan, bukan saya yang baca, tapi dia yang baca. Lama ngaji di sini. Ya mondoknya di Mbah Moen, kan hanya 9 km. Sorogannya di sini. Sekarang beliau Gus Ismail juga sedang menulis lagi. Jadi kalau NU mau begini 5 tahun saja, insyaallah luar biasa. Kan antara dua, klo nggak anaknya orang alim, ya yang cucunya orang alim. Masak di Yaman dipelajari. Coba seperti kitab Sirajuth Thalibin dicetak di Mesir, di mana-mana. Tapi njenengan tahu di Jampes nasibnya seperti itu. Itu dulu pasti asal usulnya kepedulian cucu, alumni yang kurang. Itu sudah pasti. Tapi sekali cucu, alumni peduli, pasti naskah itu luar biasa. Contoh mudah saja seperti Mbah Moen mengarang Al ulama’ al mujaddidu yang membaca secara masif saya…. Ini sekarang saya baru mau membaca kitabnya Mbah Hasyim. Saya mau matur ke Gus Sholah. Lucu kan, NU itu organisasi besar. Pendirinya Mbah Hasyim. Orang tahu tulisan Ulil, Nusron, …. tapi nggak tahu tulisan rais akbarnya. Karena naskah itu tidak pernah dishare secara terbuka, secara massal. Mohon maaf sebesar-besarnya, tapi saya senang bisa curhat karena ini … saya lah, supaya tradisi kealiman itu kembali. Meski kita tidak sesempurna para pendiri NU, mosok pondok2 sekarang sering pengajian umum terus. Pusing saya. Pusing saya kan sayang, misalnya panjenengna punya putri ngaji di Yaman, ngajinya tahqiq, sampai cari kamus, lafadz ini dari kosakata apa, ternyata umatnya Cuma dilatih mujmal-an. Bagaimana bisa itu. Tapi nggak ada yang sadar kalau kita nggak ngomong. Tapi saya bukan antipengajian umum, ya sudah sesekali lah, hiburan, jangan terus-terusan. Umum itu standar saja. Nggak fokuslah kalau bahasa sekarang. Tapi ini masih bisa dibenahi, kultur keluarga kyai itu masih lestari, seperti njenengan dari Magetan belajar sampai Yaman. Buyut2 saya juga masih banyak emngarang kitab. Karena dulu itu bahasa Arab sudah seperti bahasa Jawa, orang alim dengan temannya korespondensi pakai bahasa Arab. Saya punya tulisan Mbah Hasyim banyak, menyurati Mbah saya. Padahal Mbah2 orng Indonesia. Kalau dulu kita itu malakah lah istilahnya. Benar. Akhirnya kita sekarang ya ketularan. Yogya sekaten dari syahadatain. Sekolah madrasah, sampun ba’da. dll Baca Juga Profil Gus Baha : Biografi, Karya dan Kumpulan Pengajian Lengkap Lihat video selengkapnya di: https://www.youtube.com/watch?v=Agy8Yp3jNKk&feature=youtu.bevideo

GUS BAHA’: KEMBALILAH KE TRADISI ULAMA, INDONESIA ITU SEKARANG JADI KIBLAT

kalamulama.com- CURHAT GUS BAHA’: KEMBALILAH KE TRADISI ULAMA, INDONESIA ITU SEKARANG JADI KIBLAT Ini rekaman curhat Gus Baha’ ketika diminta untuk mengisi mauidhah hasanah walimatul...
kalamulama.com- ASAL MULA TAWASULAN KEPADA SYEKH ABDUL QADIR JAILANY. Garansi dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailany, beliau mengatakan dalam Kitab Bahjatul Asrar

ASAL MULA TAWASULAN KEPADA SYEKH ABDUL QADIR JAILANY

kalamulama.com- ASAL MULA TAWASULAN KEPADA SYEKH ABDUL QADIR JAILANY. Garansi dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailany, beliau mengatakan dalam Kitab Bahjatul Asrar: من استغاث بي في...

BERHATI-HATILAH MENULIS SESUATU SEBAB AKAN DIPERTANGGUNG JAWABKAN

Dzin Nun Al Mishri bercerita : "Aku pernah berjalan di suatu taman yang hijau, Aku melihat pemuda sholat di bawah pohon apel, Semula aku tidak tahu bahwa...