Serba Serbi Islam

KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAK YANG SUDAH TAMYIZ

Oleh: Adhli Al-Qarni Adapun untuk anak-anak jika mereka sudah mencapai usia tamyiz, walau belum dibebankan syariat, hanya saja kedua orang tua dibebankan kewajiban untuk menyuruh...
Kalam Ulama - Untuk Menyambut Bulan Ramadhan perlu kiranya kita mengetahui 5 Hal yang Penting Diketahui untuk Menyambut Bulan Ramadhan. KETIKA Baginda Muhammad Saw bersabda, “Puasa itu setengahnya sabar,” (HR. Imam At-Tirmidzy) dilanjutkan dengan sabda lainnya yang menegaskan, “Sabar itu setengahnya iman,” (HR. Imam Al-Khathib dan Imam Abi Nu’aim); Berarti sesungguhnya hasil gabungan dua hadits di atas adalah “Puasa itu seperempatnya iman.” Selain sabagai mozaik iman yang berbobot, pahala puasa itu langsung dibalas oleh Allah, sehingga balasan rukun Islam yang satu ini tidak ada yang tahu selain-Nya, disaat setiap ibadah kebajikan biasa bisa Allah lipat gandakan pahalanya mulai dari 10 hingga 700 kali lipat. Bagaimana dengan pahala puasa? Sekali lagi, pahala puasa benar-benar melintas di luar batas prediksi hitungan hisab ibadah biasa, sebab, “puasa itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang kelak membalasnya,” ujar hadits Qudsi muttafaq ‘alaih riwayat Sahabat Abu Hurairah (w. 59 H/602-679 M). Dan karena puasa mampu melejetikan setengah potensi rasa kesabaran dalam diri kita, Allah pun telah berfirman, إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS: Az-Zumar: 10) إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan Allah senantiasa bersama mereka yang selalu besabar.”(QS: Al-Baqarah ayat 153 dan Al-Anfal ayat 47). Tanda Puasa Cukuplah untuk mengetahui keutamaan puasa ketika Nabi sampai sudi bersumpah bahwa aroma mulut seorang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ketimbang harumnya misik, dan bahkan Allah telah memberikan fasilitas khusus bagi mereka yang rajin berpuasa; kelak mereka masuk surga dan bersua dengan-Nya via pintu yang tak bisa dilintasi oleh selain mereka, pintu spesial ini bernama “Ar-Rayyan.” Tidak heran, Rasul pun pernah mewartakan kepada para Sahabatnya bahwa hanya bagi orang berpuasalah diperoleh dua kebahagiaan; kebahagiaan saat berbuka puasanya, dan kebahagiaan disaat bertemu Tuhannya. Ketiga hadits tentang aroma mulut berpuasa, pintu spesial “Ar-Rayyan”, dan dua kebahagiaan orang berpuasa ini semuanya hadits-hadist shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman; فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka amalkan.” (QS. As- Sajdah [32]: 17). Ada yang manafsiri bahwa yang mereka amalkan adalah puasa. Dan memang layak pahala puasa sedemikian benafitnya, sebab puasa -sebagaimana yang telah disinggung diatas- langsung disalurkan ke haribaan Allah Subhanahu Wata’ala, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Di sini layak juga dipertanyakan, apa yang membedakan ibadah puasa dengan yang lainnya, padahal semua ibadah lainnya pun akan dikembalikan ke Allah Subhanahu Wata’ala? Pertama, Al-Ghazali menjawab puasa itu sama halnya dengan masjidil Haram yang secara langsung diberi gelar “Rumah -milik- Allah” (Baitullah), padahal toh semua permukaan bumi ini sebenarnya milik-Nya pula. Kedua, ada dua faktor nalar bermakna yang hanya dimiliki ibadah puasa; a. Bahwa puasa itu sebuah sikap ketahanan diri dan pengabaian, di dalamnya ada rahasia (sirr) yang tak terdapat di ibadah lainnya yang bisa terlihat. Seluruh amal ketaatan (lainnya) bisa tersaksikan makhluk hidup ciptaan-Nya dan terlihat, tidak dengan puasa. Hanya Allah semata yang bisa melihatnya. Itu karena, sekali lagi, puasa merupakan amal ibadah batin dengan memfungsikan kesabaran yang menjernihkan. b. Bahwa puasa itu pengekang musuh Allah, sebab jalur Setan (menggoda manusia) hanya melalui syahwat. Sedang syahwat hanya bisa diperkuat dengan makan-minum. Oleh karena itu, Baginda Muhammad Saw pernah mengingatkan kita, “Sesungguhnya Setan berjalan melalui aliran darah Ibn Adam, maka persempitlah kalian jalur-jalurnya dengan lapar!” (HR. Muttafaq ‘alaih) Masih mengenai puasa yang melemahkan syahwat dengan rasa lapar, suatu hari Rasulullah Saw berpetuah kepada Siti ‘Aisyah (w. 58 H/613-678 M), “Kebiasaanku telah mengetuk pintu surga.” Istri tercinta pun bertanya, “Dengan apa, wahai Baginda Rasul?” “Dengan lapar,” jawab sang rasul. Jadi, ketika puasa khususnya mampu mengekang Setan, menyumbat jalur-jalurnya, dan mempersempit lintasan-lintasannya, maka sunggah pantaslah ibadah ini Allah spesialkan dengan menasbihkan puasa hanya untuk dan milik-Nya. Sebab hanya dengan mengekang musuh-Nya, pembelaan terhadap (agama) Allah terwujud, dan hamba yang membela (agama) Allah pasti akan ditolong-Nya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Q.S Muhammad: 7). Jadi, permulaan itu dengan kesungguhan perjuangan dari diri seorang hamba, dan pasti akan dibalas dengan sebuah petunjuk (hidayah) dari Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, Allah berjanji, “Dan orang-orang yang berjuang demi (mencari keridhaan) Kami, niscaya benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S. Al-Ankabut : 69). Allah Subhanahu Wata’ala juga pernah menegaskan; إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d:11) Sedangkan perubahan (ke arah lebih buruk) hanya bisa terjadi dengan memperbanyak syahwat, di sinilah ladang ketenteraman para setan dan tempat mereka berjaga. Selagi ladang syahwat ini makin subur, maka godaan mereka takkan pernah terhenti. Dan selagi mereka selalu menggoda, maka keagungan Allah Subhanahu Wata’ala takkan pernah tersibak di pelupuk mata hati seorang hamba, ia terhijab dari menemui-Nya. Rasulullah Saw pernah menyayangkan hal ini dengan bersabda, “Andai saja para setan itu tak mampu mengitari hati manusia, niscaya manusia pasti bisa mengamati kerajaan langit.” (HR. Imam Ahmad bin Hanbal) Maka dari semua uraian diatas, tampaklah dengan jelas bahwa puasa merupakan pintunya ibadah menuju taman keimanan yang hakiki, sekaligus merupakan perisai seorang beriman agar senantiasa bertakwa kepada Tuhannya dan mampu mengekang kekuatan syahwat hingga Setan pun tak lagi mampu mengitari hati kita yang berpuasa. Dan diatas semuanya, hanya Allah semata yang tahu seberapa besar agungnya pahala berpuasa. Semoga kita bisa memuasakan batin kita, selain juga jasmaninya! Wallahu a’lam.* Oleh: Mohammad Roby Ulfi Zt. Penulis tengah studi di Islamic International University of Malaysia, aktif di ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia). Tulisan disadur secara bebas dari Prolog Kitab Asrarush Shaum, Ihya` ‘Ulumiddin karya Hujjatil Islam wal Muslimin, Al Imam Muhammad bin Muhammad, Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H)

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Imam Al Ghazali

Kalam Ulama - Untuk Menyambut Bulan Ramadhan perlu kiranya kita mengetahui Keutamaan Puasa dan Bulan Ramadhan. KETIKA Baginda Muhammad Saw bersabda, “Puasa itu setengahnya...

Tunduk dan Cium Tangan Guru

Dahulu ada seorang lelaki yang sedang berjalan tiba-tiba terjumpa dengan Guru Mulia Al-Musnid Al Arif Billa Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Bin...

Membedah Tembang “Tombo Ati”

      Oleh: Hasyim*Tembang “TOMBO ATI” alias syair obat hati , syair bahasa jawa yang populer dan di wariskan secara turun menurun ini, merupakan salah satu...

SIAPAKAH ULAMA ?

Ulama adalah orang2 yang takut pada Allah. انما يخشى الله من عباده العلماء. Yang tidak takut pada Allah, bukanlah ulama. Ulama adalah pewaris para Nabi, dan nabi...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Melihat Berbagai Peristiwa [irp posts="980" name="Kisah Isra’ Mi’raj #02 “Perjalanan di Tahun Duka”"] Lalu didatangkan Buroq yang indah serta berpelana dan bertali kekang. Buroq adalah hewan yang berwarna putih yang lebih tinggi dari keledai dan lebih kecil dari baghal (hasil perkawinan antara kuda dan keledai). Langkahnya sejauh mata memandang, memiliki dua telinga yang panjang. Apabila mendaki gunung maka terangkat tinggi kaki belakangnya, dan jika dia turun maka terangkat tinggi kaki depannya. Memiliki dua sayap di pinggulnya yang membantu kakinya agar lebih cepat. Pada saat Rasul ingin menaikinya, Buroq pun berontak untuk dinaiki oleh Rasulullah Saw. Jibril meletakan tangannya ke buraq, lalu berkata, “tidakkah kau malu wahai buroq!! demi Allah tidak ada yang menaikimu seorang makhluk yang lebih mulia darinya.” Maka Buroq pun tenang dan merasa malu sehingga keringatnya membasahi tubuhnya, lantas Rasulullah pun menaikinya. Buroq adalah kendaraan para anbiya sebelum Rasulullah saw. Rasulullah saw berjalan dan Jibril berada di sebelah kanannya dan Mikail di sebelah kirinya. Ibnu sa’ad berkata : bahwa yang memegang pelananya adalah Jibril, dan yang memegang tali kekangnya adalah Mikail. Maka berjalanlah Rasulullah saw dan Jibril hingga sampai pada belantara yang dipenuhi kebun kurma. Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”, maka Rasulullah saw pun shalat lalu naik Buroq kembali. Jibril bertanya, “Ya Rasulullah, tahukah dimana engkau shalat tadi?”. Rasul menjawab, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di Thaybah (kota Madinah) dan ke situlah kelak kau akan berhijrah.” Buroq pun berjalan dengan cepat bagaikan kilat, serta melangkahkan telapak kakinya sejauh pandangan mata. Lalu Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”. Maka Rasulullah pun shalat lalu menaiki Buroq kembali.Jibril bertanya, “Ya Rasulullah, tahukah dimana tadi engkau shalat?”. Rasul menjawab, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di kota Madyan di suatu pohon yang dahulu Nabi Musa pernah berteduh di situ.” Buroq pun berjalan dengan cepat bagaikan kilat, lalu Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”. Maka Rasulullah pun shalat lalu menaiki Buroq kembali. Jibril berkata, “Ya Rasulullah, tahukah dimana tadi engkau shalat? Rasul menjawab, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di bukit Tursina dimana dahulu Nabi Musa bermunajat dengan Allah subhanahu wa ta’ala.” Lantas sampailah Rasulullah saw dan Jibril hingga ke suatu tempat yang tampak darinya istana dan bangunan-bangunan negeri Syam. Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”, maka rasul pun shalat dan naik Buroq kembali, dan Buroq pun berjalan dengan cepat secepat kilat. Lalu Jibril berkata, “Taukah engkau dimana tadi engkau shalat?”. Rasul berkata, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di Bait Lahm, ditempat itulah Nabi Isa di lahirkan.” Tatkala di perjalanan Rasul melihat jin ifrit mengincar beliau sambil membawa api, setiap Rasul menengok pasti ifrit berada di hadapannya. Jibril berkata kepada Rasulullah saw, “maukah engkau aku ajarkan suatu kalimat, apabila engkau mengucapkannya maka akan padam apinya dan dia akan jatuh tersungkur pada wajahnya?”. Maka berkata Rasulullah saw, “ajarkan aku wahai Jibril.” Jibril berkata : “Aku berlindung dengan kemuliaan Allah Yang Maha Dermawan dan dengan firman-firman Allah yang sempurna yang tidak bisa ditembus oleh orang baik maupun orang jahat, dari keburukkan yang turun dari langit, dan dari keburukkan yang naik ke langit, dan dari keburukkan makhluk yang ada di bumi, dan dari keburukan yang keluar dari bumi, dan dari fitnah siang dan malam, dan dari kejadian yang datang tiba-tiba di siang dan malam, kecuali sesuatu kejadian yang datang membawa kebaikan, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih” Ifrit langsung tersungkur jatuh serta padam apinya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai kepada suatu kaum yang sedang menanam benih dan pada saat itu pun benih yang ditanam langsung panen seketika, setiap dipanen kembali tumbuh seperti semula untuk dipanen kembali dengan seketika. Rasul bertanya, “Wahai Jibril apa ini?”, Jibril berkata, “mereka adalah para Mujahid di jalan Allah, dilipat gandakan kebaikan mereka hingga tujuh ratus kali lipat, dan apapun yang mereka infaqkan di jalan Allah maka Allah akan menggantikannya dan mengganjarnya.” Di tengah perjalanan Rasulullah saw mencium bau yang amat wangi. Rasul bertanya, “Wangi apa ini wahai Jibril?”. Jibril menjawab, “ini adalah wanginya seorang wanita mulia dan anak-anaknya. Dia adalah penyisir rambut putri fir’aun.” Dikisahkan tatkala wanita mulia ini sedang menyisirkan rambut putri fir’aun, pada saat itu sisirnya terjatuh, maka wanita mulia ini pun berkata, “dengan nama Allah dan celakalah fir’aun”, Maka putri fir’aun pun terperanjat dan berkata, “apakah engkau mempunyai tuhan selain ayahku?”. Maka ia menjawab, “iya”. Putri fir’aun dengan murka berkata, “apakah engkau ingin aku laporkan kepada ayahku?” Wanita mulia ini pun menjawab, “silahkan”. Maka dilaporkanlah kejadian ini kepada fir’aun, maka fir’aun pun memanggilnya dan fir’aun dengan murka berkata, “apakah engkau bertuhan kepada selain aku?” Wanita mulia ini dengan tegas menjawab, “iya, tuhanku dan tuhanmu adalah Allah Ta’ala.” Wanita mulia ini mempunyai dua orang anak dan suami. fir’aun mengutus kepada mereka untuk menyiksa mereka semua agar bertuhan kepada fir’aun, maka mereka menolaknya. fir’aun berkata, “sungguh aku akan membunuh kalian semua”, maka wanita mulia itu berkata, “lakukanlah apa yang engkau ingin lakukan terhadap kami, namun sebagai balasan dari pelayanan yang selama ini kami lakukan untuk putrimu, apabila engkau membunuh kami, jadikanlah kami dalam satu tempat yang sama, dan kubur kami setelah itu dalam satu kuburan yang sama”. Maka fir’aun memerintahkan budaknya untuk menyiapkan penggorengan raksasa dari tembaga berisi minyak yang dipanaskan, kemudian perempuan dan anak-anak nya dipaksa untuk melempar diri mereka satu persatu masuk ke dalam penggorengan tersebut. Satu persatu dilemparkan ke dalam penggorengan dan seketika hangus terpanggang hingga sampai kepada bayinya yang paling kecil dari yang masih menyusu. Saat itu wanita ini tidak tega jika melihat bayinya yang kecil ini akan dilemparkan ke dalam penggorengan panas, namun tiba-tiba berbicaralah bayi itu dengan suara lantang dan jelas penuh kelembutan kepada ibunya, “wahai ibu, tenanglah, jangan engkau ragu karena engkau berada dalam kebenaran”. Wanita mulia ini dan anaknya di lemparkan ke dalam penggorengan raksasa berisi minyak yang sudah di panaskan. Al Allamah As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki berkata, “sesungguhnya ada empat bayi yang berbicara: yang pertama adalah kisah ini, kedua saksi nabi Yusuf, ketiga kisah Juraij, keempat Nabi Isa bin Maryam.” Nabi saw melanjutkan perjalanannya hingga menyaksikan sekelompok kaum yang kepala mereka dihancurkan dengan batu. Setiap kali dihancurkan kembali seperti keadaan semula untuk dihancurkan kembali, begitu seterusnya tanpa akhir. Nabi saw berkata, “wahai Jibril siapa mereka?.” Jibril berkata, “mereka orang-orang yang kepalanya berat sekali untuk melakukan sholat lima waktu.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang menutupi kemaluan dan dubur mereka dengan sehelai daun. Mereka digembalakan sebagaimana unta dan kambing digembalakan namun yang mereka makan adalah pohon-pohon yang berduri, buah yang pahit dan bara api jahannam yang panas beserta batunya. Nabi saw berkata, “siapa mereka?” Jibril berkata, “mereka adalah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat dan sedekah dari harta-harta mereka, dan Allah tidak mendzhalimi kepada mereka sama sekali.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang di hadapan mereka terdapat daging yang bagus di dalam sebuah wadah, serta daging bangkai yang jelek dan menjijikkan di wadah yang lain, namun ternyata mereka memilih untuk memakan daging bangkai yang jelek dan meninggalkan yang bagus. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab, “ini laki-laki dari umatmu dia punya perempuan yang halal dan baik tapi dia mendatangi perempuan yang tidak halal baginya, dan menginap di tempatnya hingga waktu subuh. Juga perempuan dari umatmu dia punya laki-laki yang halal dan baik tapi dia mendatangi laki laki yang tidak halal baginya, dan menginap di tempatnya hingga waktu subuh.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sebatang pohon di jalanan, tidak ada apapun yang melewati batang pohon tersebut baik itu pakaian atau sesuatu apapun kecuali kayu tersebut merobeknya. Maka Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah perumpamaan kaum dari umatmu, mereka duduk di jalan dan mereka memotong orang yang berjalan dan mengganggunya, kemudian Jibril membacakan suatu ayat Al Qur’an: “Dan janganlah kalian duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalangi dari jalan Allah.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan seorang laki-laki berenang di sungai darah sambil dirajam dan dilempari dengan batu. Maka Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah perumpamaan orang yang memakan riba.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan seorang laki laki yang mengumpulkan ikatan kayu bakar dan memikulnya padahal dia tak mampu memikulnya, tapi dia terus menambah kayu yang dipikulnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah laki-laki dari umatmu, dia menerima amanat-amanat orang namun dia tak mampu untuk melaksanakannya dan dia ingin terus menambah amanah tersebut.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang lidah dan bibir bibir mereka di potong dengan pemotong dari besi. Setiap kali dipotong maka kembali seperti semula untuk terus disiksa, dan begitu seterusnya tanpa akhir. Maka Nabi saw berkata, “Siapa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “mereka adalah para penceramah dan pengkhutbah yang membawa fitnah dari umatmu, mereka berucap namun tak melaksanakannya.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum, mereka memiliku kuku-kuku dari tembaga, dengan kuku-kuku tersebut mereka merobek-robek wajah dan badan mereka. Maka Nabi saw berkata, “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril berkata, “mereka adalah orang-orang yang suka berghibah dan bergunjing (makan daging manusia), mereka menodai kehormatan orang lain dengan lisan mereka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan suatu lubang yang kecil. Keluar dari lubang itu kerbau yang amat besar, namun ketika kerbau itu ingin kembali ke dalam lubang kecil itu kerbau besar itu mampu. Kemudian Nabi berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini lelaki dari umatmu yang berbicara dengan ucapan yang besar, kemudian dia menyesali ucapan tersebut, namun ucapannya tidak bisa ditarik kembali.” Di perjalanan Nabi saw melalui suatu lembah yang di situ tercium wangi yang harum, dingin dan wangi misik serta terdengar suara merdu nan indah. Nabi Saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah suara surga dan surga itu berseru, Wahai Tuhan-Ku datangkanlah kepadaku apa yang engkau janjikan kepadaku karena sungguh sudah banyak kamar-kamarku, sutera tebalku, pakaian dari sutera-sutera yang halus, dan permadaniku, mutiara, marjan, perak, emas, piala-piala, piring-piring, cangkir-cangkir, serta kendaraan-kendaraan, madu, air, susu,dan arakku. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Untukmu wahai surga seluruh orang-orang muslim dan muslimah, mukmin dan mukminah, dan orang–orang yang beriman kepada-Ku dan kepada para Rasul-Ku dan mengerjakan amal sholeh sedang ia tidak menyekutukan-Ku dan tidak menjadikan selain-Ku sebagai Tuhan dan sembahannya. Sesungguhnya setiap orang yang takut kepada-Ku maka dia selamat, dan orang yang berharap kepada-Ku, Aku beri. Barang siapa yang memberikan pinjaman hutang karena Aku maka Aku yang akan mengganjarnya, dan barang siapa yang bertawakkal kepada-Ku, Aku cukupkan. Sesungguhnya Aku adalah Allah tiada tuhan selain-Ku. Aku tidak akan mengingkari janji, sungguh beruntung orang -orang mukmin. Maha Suci Allah sebaik-baiknya pencipta. Surga berkata, Ya Allah, sungguh aku puas dan ridho dengan janji-Mu. Di perjalanan Nabi saw melalui suatu lembah yang terdengar suara yang sangat memekik dan menakutkan serta tercium bau yang amat sangat busuk. Nabi saw berkata, “apa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab, “ini adalah suara jahannam.” Jahannam berkata, “wahai Tuhan-Ku datangkan kepadaku apa yang engkau janjikan kepadaku, karena sungguh telah banyak rantai-rantaiku serta belengguku, kobaran api ku, air panasku, duri besarku, cairan busukku, adzabku, dan sungguh sangat dalam dasarku, dan sangat panas apiku, maka datangkanlah padaku apa yang Engkau janjikan.” Maka Allah berfirman kepadanya, “Untukmu wahai neraka, orang-orang yang menyekutukan Aku dari kaum laki-laki dan perempuan, orang kafir laki-laki dan perempuan, dan setiap laki laki dan perempuan yang buruk, dan setiap orang yang sombong yang tidak beriman pada hari perhitungan.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan Dajjal dalam bentuk aslinya, dengan mata penglihatan yang nyata bukan dalam mimpi. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau melihatnya?” Rasulullah saw berkata, “Dia tinggi besar, sangat putih sekali, di antara salah satu matanya seperti bintang yang berkilau, rambutnya seperti dahan-dahan pohon, menyerupai Abdul ‘Uzza bin Qoton (seorang tokoh arab yang wafat pada zaman Jahiliyah). Rasulullah saw melihat tiang yang putih bercahaya seperti permata dipikul oleh para malaikat. Nabi saw berkata, “Apa yang kalian bawa?” mereka berkata, “ini adalah tiang Islam, kami di perintah untuk meletakkannya di Syam.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh suatu seruan yang memanggilnya dari arah kanan, “Wahai Muhammad! lihatlah aku, aku ingin bertanya kepadamu.” Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah seruan seorang Yahudi, apabila engkau menjawab seruannya maka umatmu akan mengikuti kaum Yahudi.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh suatu seruan yang memanggil dari arah kiri, “Wahai Muhammad! lihatlah aku, aku ingin bertanya kepadamu.” Maka Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril? Jibril berkata, “ini adalah seruan seorang Nasrani, apabila engkau menjawab seruannya maka umatmu akan mengikuti kaum Nasrani.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh seorang wanita yang terbuka lengannya dan lengannya dipenuhi dengan segala macam perhiasan yang pernah Allah ciptakan. Maka wanita itu berkata, “Wahai Muhammad! lihatlah kepadaku, aku ingin bertanya kepadamu.” Maka Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “itu adalah dunia, apabila engkau menjawab seruannya maka umatmu akan memilih dunia yang hina dari pada akhirat.” Kemudian di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh seorang yang sudah tua, “Kemarilah wahai Muhammad!” Jibril berkata, “terus jalan wahai Muhammad.” Nabi saw bertanya, “Siapa itu wahai Jibril?” Jibril berkata, “itu adalah iblis musuh Allah, dia menginginkan engkau condong terhadapnya.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh seorang nenek tua di pinggir jalan, “Wahai Muhammad! lihatlah kepadaku aku ingin bertanya.” Maka Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “sesungguhnya tidak tersisa dari umur dunia melainkan apa yang tersisa dari umur nenek tua itu.” ***bersambung*** Disarikan dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="962" name="Kisah Isra Mi’raj #04 “Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi”"]

Kisah Isra Mi’raj #03 “Melihat Berbagai Peristiwa”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Melihat Berbagai Peristiwa Lalu didatangkan Buroq yang indah serta berpelana dan bertali kekang. Buroq adalah hewan yang berwarna putih yang lebih tinggi...

Mukjizat Penjagaan Quran

Maulana syaikh Ali jum’ah berkata: Kami adalah anggota tim pentashih Quran. Suatu saat kami ditugaskan untuk memeriksa sebuah naskah mushaf secara cermat sebelum dicetak. Dengan...

Bahayanya Fitnah di Media sosial

Bahayanya Fitnah di Media sosial “Habib... Maafkanlah saya yang telah memfitnah Habib dan ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga lisanku,...

Merenungi Surat Ar-Rum “Anugerah Allah Melebihi Permohonan Hamba-Nya”

Oleh : KH. Salim Azhar* Kita memohon agar diberi padi, Allah memberi kita sawah ladang, Agar kita lebih leluasa memilihnya, Kita memohon agar diberi makan, Allah memberi...
Kalam Ulama - Salah seorang kawan yang sedang menuntut ilmu di Ma'had Imam Nafi' Maroko tiba-tiba mengirimi pesan singkat, kurang lebih: Makna pengabdian itu apa? Bisa jawab sekarang? Aku kaget. Kok tiba-tiba nanya kayak begitu, pikirku. Aku mengira ia salah kirim. Ternyata tidak. Akhirnya aku jawab singkat: Saya jadi ingat muqaddimah Majmu'. Imam An-Nawawi menukil perkataan Imam Abdurrahman bin Qasim Al-Mishri, seorang faqih mazhab Maliki, yang wafat tahun 191 Hijriyah. Beliau berkata: خدمت الإمام مالك عشرين سنة، كان منها ثمان عشرة سنة في تعليم الأدب، وأخذت منه العلم سنتين. "Aku mengabdi kepada Imam Malik dua puluh tahun, delapan belas tahun aku gunakan untuk belajar adab dan dua tahun aku gunakan mengambil ilmu." So, mengabdi adalah belajar adab dan mengambil ilmu. Jakarta, 11 Mei 2018 @adhlialqarni

Makna Pengabdian

Kalam Ulama - Salah seorang kawan yang sedang menuntut ilmu di Ma'had Imam Nafi' Maroko tiba-tiba mengirimi pesan singkat, kurang lebih: Makna pengabdian itu...