Serba Serbi Islam

Kisah Nabi Yusuf (Derita Berakhir Bahagia) #10

Oleh: KH. Salim Azhar (Pengasuh PP. Sunan Sendhang, Paciran, Lamongan)Wahbu bin Manbah menuturkan: Yusuf diam dalam penjara selama 6 tahun, Yaitu sebanyak bilangan huruf...

Nadirsyah Hosen, Sekali Lagi Soal Hadis “Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah”

      Beberapa tahun lalu saya mengkritisi Hadis yang sering digunakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk memprediksi bahwa akan datang kembali sistem pemerintahan...
Nikmat

Nikmat yang Memberikan Ketenangan dan Rasa Aman

kalamulama.com - Nikmat yang Memberikan Ketenangan dan Rasa Aman Ya Allah, aku mohon kepada-Mu hidayah, jiwa taqwa, menjaga kehormatan diri, dan kekayaan. (HR. Muslim) Hidayah, takwa,...
kalamulama.com- Membangun Cinta kepada Tuhan: Kiat dan Pengamalan Tidak ada cinta dengan paksaan. Cinta Tuhan untuk dan kepada manusia merupakan anugerah terbesar, simbol penghormatan-kemuliaan bagi manusia sekaligus modal utama baginya untuk memilih jalan kehidupan di dunia ini: membalas cinta-Nya dengan mengikuti petunjuk-Nya atau malah menolak-Nya dengan pengabaian dan pendustaan. Masing-masing dari kedua pilihan ini berakhir dengan hasil-konsekuensi yang saling bertolak-belakang: sebagaimana yang telah Allah gariskan: “Kami berfirman: “Turunlah kalian semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapaun orang-orang yang menutup diri dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 38-39) “Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka, jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124) Sudah tentu akal sehat dan naluri manusia kita tidak akan rela merasakan penghidupan yang sempit di dunia, dan kelak menjadi penghuni kekal neraka lagi buta. Akan tetapi masalahnya, ketika kita hendak memutuskan untuk membalas cinta-Nya dengan mencintai-Nya, bagaimanakah kiat mengikuti petunjuk-Nya? Demi memecahkan masalah inilah, Tuhan menurunkan firman-firman-Nya dari Langit kepada manusia-manusia terpilih, yang umat beriman kenal sebagai para Nabi dan Rasul, yang membawa berita gembira dan peringatan mengancam, supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudahnya mereka diutus (QS. An-Nisa`: 165). Untuk menghadapi dan menaklukkan mereka yang masih membantah dan mungkir atas ajaran Ilahi ini, Allah memberkati para Nabi-Rasul dengan berbagai keistimewaan yang terlihat luar biasa, yang biasa disebut dengan mukjizat. Sebagai pamungkas para Nabi yang paripurna (khatamun Nabiyyin), Rasulullah Muhammad Saw. diperintah Tuhan agar mengikuti jejak-jalan petunjuk para Nabi sebelumnya, dan menegaskan bahwa Al-Quran yang diturunkan kepadanya tidak lain merupakan peringatan untuk seluruh umat semesta (QS. Al-An’am: 90). Karena itu, firman Allah agar Muhammad mengatakan: “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutlah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Sumber: Ustadz Roby Mohamad

Membangun Cinta kepada Tuhan: Kiat dan Pengamalan

kalamulama.com- Membangun Cinta kepada Tuhan: Kiat dan Pengamalan Tidak ada cinta dengan paksaan. Cinta Tuhan untuk dan kepada manusia merupakan anugerah terbesar, simbol penghormatan-kemuliaan bagi...
Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian namun banyak orang tak menyadarinya. Begitupula dibalik kesibukan istri melakukan pekerjan rumah yang serba ribet. Harus bangun pagi menyiapkan sarapan bagi keluarganya. Apalagi kalau bulan Ramadhan harus menyiapkan makanan untuk sahur. Ada hikmah apakah dibalik kesibukan itu. Mari kita simak cerita berikut yang diceriatakan dalam kitab “Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini”  karya Imam Nawai al-Bantani. Tersebut dalam riwayat dari Abu Hurairah Ra, diceritakan, suatu hari Rasulullah SAW menjenguk putrinya, Fathimah. Setelah sampai di rumahnya, Rasulullah melihat putrinya sedang menggiling tepung sambil menangis. (Baca Juga : Pesan Gusdur dalam Mendidik Anak) Rasulullah bertanya: ”Kenapa menangis, Fathimah? Mudah mudahan Allah tidak membuat matamu menangis lagi”. Fathimah menjawab: ”Abi, aku menangis hanya karena batu penggiling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku di rumah yang datang silih berganti”. Rasulullah kemudian mengambil tempat duduk disisinya. Fathimah berkata: ”Abim, demi kemulyaanmu, mintakanlah kepada Alli (suami Fathimah) supaya membelikan seorang budak untuk membantu pekerjaan-pekerjaanku untuk membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah”. Manakala Rasulullah SAW selesai mendengar perkataan putrinya, beliau bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. Beliau memungut segenggam biji-bijian gandum dimasukkan kepenggilingan. Rasulullah membaca “BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIIMI” Maka berputarlah alat penggilingan itu karena izin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu sementara alat penggiling itu terus berputar dengan sendirinya, seraya memuji Allah dengan bahasa yang tidak di pahami manusia. Hal itu terus berajalan hingga biji-bijian itu habis. Rasululah SAW bersabda kepada alat penggilingan itu: ”Berhentilah dengan ijin Allah”. Seketika alat itu berhenti. Ia berkata seraya mengutip ayat Al Qur’an: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ”Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargam dari api neraka, Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap yang diperintahkan-Nya, dan mereka selalu mengerjakan segala apa yang diperintah”. (Qs At Tahrim 6) Merasa takut jika menjadi batu kelak akan masuk neraka, demikian tiba tiba batu itu berbicara dengan ijin Allah. Ia berbicara menggunakan bahasa Arab yang fasih. Selanjutnya batu itu Berkata: ”Wahai Rasulullah, demi dzat yang mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan rasul, seandainya engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada diseluruh jagat Timur dan Barat, niscayaakan kugiling seluruhnya’. Dan aku mendengar pula bahwa Nabi SAW bersabda: ”Hai batu, bergembiralah kamu sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak digunakan untuk membangun gedung Fathimah disorga”. Seketika itu batu penggiling itu sangat bahagia dan berhenti. Nabi SAW bersabda kepada putrinya, Fathimah : ”Kalau Allah berkehendak, hai Fathimah, niscaya batu penggiling itu akan bergerak dengan sendirinya untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat kebaikan-kebaikan untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburukanmu serta mengangkat derajatmu. Subhanallah, dari hikayat dan hadist diatas dapat kita ambil hikmah bahwa istri yang melakukan  pekerjaan rumah maka Allah akan menghapus keburukannya dan mengangkat deratnya. Oleh : Ustadz Hamzah Alfarisi

Hikayat: Hikmah Dibalik Kesibukan Istri di Rumah

Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian namun banyak orang tak menyadarinya. Begitupula dibalik kesibukan istri melakukan pekerjan rumah yang serba ribet. Harus bangun pagi...

Kisah Nabi Yusuf (Derita Berakhir Bahagia) #02

Oleh : KH. Salim Azhar* Ibnu Abbas berkata : "Ya'qub berkata kepada anak-anaknya bahwa ia khawatir, kalau-kalau Yusuf di makan srigala, sebab : Beliau...

Dialog antara Fir’aun dan Iblis Memutuskan ada yang Lebih Buruk dari pada Mereka.

Oleh : KH Salim Azhar ------------------------------------------------------ Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al Qolyubi menulis, Diceritakan bahwa pada suatu hari Iblis bertamu pada Fir'aun, Dalam bercengkerama, Fir'aun bertanya kepada Iblis...

Nabiku yang welas asih : Islam rahmatan lil alamin

Nabiku yang welas asih mengajarkan bahwa Allah melarang kita membakar sarang semut dan lebah. Ini Islam rahmatan lil alamin Nabiku yang welas asih melarang untuk...

Kisah Ampunan Ilahi

Islam Kontekstual - Gus Nadir: Kisah Ampunan Ilahi 1. Imam al-Ghazali bertutur tentang dua kisah mengenai harapan akan ampunan ilahi dalam kitab Ihya. Ijinkan saya kisahkan...

KESULITAN Vs KEMUDAHAN

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5) Kalimatnya pakai kata "مَعَ", yang berarti bersama... bukan "بَعْدَ", yang berarti...