Serba Serbi Islam

Kisah Nabi Yusuf #17 “Derita Berakhir Bahagia”

Oleh: KH. Salim Azhar (Pengasuh PP. Sunan Sendhang, Paciran, Lamongan Tatkala saudara-saudara Yusuf datang lagi ke Mesir,Mereka membawa sepucuk surat dari Ya'qub, Surat tersebut dihaturkan kepada...
Islam Lokal

MEMADUKAN NILAI UNIVERSAL DAN LOKAL ISLAM

kalamulama.com - Memadukan Nilai Universal dan lokal Islam Oleh Prof. Nadirsyah Hosen Sepanjang sejarah Islam dari masa Nabi Muhammad sampai sekarang, Islam mengandung nilai-nilai universal dan...

JEMARI SANG AHLI IBADAH

Oleh : Muhammad Azka Dari Wahab bin Munabbih, ia berkata: “Pada zaman dahulu, ada seorang yang ahli ibadah dari Bani Israil yang sedang beribadah...

Kearifan Nabi Menyikapi Perbedaan

Suatu waktu Kanjeng Nabi berpesan kepada para utusannya, "Janganlah shalat Ashar kecuali di Bani Quraidzah." Di tengah perjalanan, ketika waktu ashar telah tiba, sebagian...

Kisah Nabi Yusuf #15 “Derita Berakhir Bahagia”

Oleh : KH. Salim Azhar*Ka'b Al Ahbar mnceritakan bahwa : Tempat minum yang hilang itu berbentuk piala terbuat dari emas, Dihias dengan beberapa intan...
Al Quran dan Dokumen Sejarah Tidak mungkin kita bisa memahami al-Qur’an dengan baik tanpa memahami sejarah. Paling tidak ada dua aspek sejarah tentang al-Qur’an yang harus kita pahami. Pertama, al-Qur’an sendiri memposisikan dirinya sebagai ‘dokumen sejarah’ dengan banyak menceritakan kisah umat sebelum Nabi Muhammad. Bahkan satu surat dinamai khusus sebagai al-Qashash, yang berisi berbagai kisah sejarah. Istilah al-Qashash dengan berbagai varian dan konteknya juga kita temukan dalam banyak ayat, di antaranya QS 28:25; 16: 117-118; 40:78; 4: 163-164; 12:3-5; 7:100-101; 11:120 dan lain sebagainya. Pernah saya jelaskan dalam buku saya Tafsir al-Qur’an di Medsos bahwa ada kisah dalam al-Quran yang sebelumnya sudah diceritakan di dalam Bibel, namun detil ceritanya berbeda. Ada pula tokoh yang di dalam Bibel diceritakan dengan negatif seperti Daud dan Ya’kub, tapi dalam al-Quran diceritakan dengan positif. Ada pula tokoh yang tidak ada dalam Bibel seperti Samiri, dan ada pula yang peranannya dalam Bibel tidak begitu menonjol tapi dalam al-Quran diberi peran yang cukup besar seperti kisah Nabi Harun. Yang jelas kisah Musa merupakan kisah yang paling banyak diceritakan dalam al-Quran dan Kisah Yusuf menjadi kisah yang paling indah dan paling lengkap terkumpul dalam satu surah. Ada sementara pakar yang meragukan kenyataan kisah-kisah dalam al-Quran. Apakah benar dalam sejarah terjadi banjir Nuh yang dahsyat itu? Apa benar ada tokoh bernama Balqis? Al-Quran jelas bukan buku sejarah, ini adalah kitab petunjuk. Kalau ia berkisah tentang cerita terdahulu tentu titik tekannya ada pada pesan moralnya. Lagipula tuduhan al-Quran hanya memuat dongeng itu sudah dilontarkan sejak dulu. “Orang-orang kafir itu berkata, “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu” (QS al-An’am : 26). Hal ini dibantah dengan jelas oleh Allah: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Qs Yusuf: 111) Kenapa al-Quran menggunakan pendekatan bertutur lewat kisah, bahkan lebih banyak ayat mengenai kisah sejarah ketimbang ayat tentang hukum? Itu karena pada dasarnya manusia senang mendengar, membaca dan menyaksikan kisah. Betapa banyak novel yang telah ditulis. Lihat saja program tv yang full dengan kisah sinetron. Ataupun seringkali orang tua dan guru menceritakan legenda cerita rakyat untuk menyampaikan nasehat atau peringatannya kepada kita. Kisah adalah salah satu medium pengajaran yang paling efektif. Syekh Manna’ al-Qathhan dalam kitabnya Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an menjelaskan mengenai seluk beluk topik Qashash al-Qur’an ini (halaman 316-324) dengan terang benderang. Silakan merujuk ke kitab ini. Kedua, al-Qur’an juga merupakan ‘dokumen sejarah’ dalam arti ia memiliki konteks kesejarahan yang melatarbelakangi turunnya sejumlah ayat dalam al-Qur’an. Para ulama membahas topik ini dengan istilah Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an). Misalnya Imam Badruddin az-Zarkasyi memulai bahasan topik asbabun nuzul ini segera setelah menulis muqaddimah kitabnya al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an (jilid 1, halaman 22-35). Ini menunjukkan betapa pentingnya topik ini dan kita tidak bisa memahami al-Qur’an tanpa terlebuh dahulu menyelami kajian ini. Al-Qur’an tidak turun di ruang hampa. Ayat-ayat yang turun di masa sebelum Nabi hijrah, dinamakan ayat-ayat Makkiyah. Yang tentu saja ayat Makkiyah memiliki karakter dan kandungan makna yang berbeda dengan ayat-ayat yang turun pasca hijrah dan dikategorikan sebagai ayat Madaniyah. Imam Suyuthi setelah menulis muqaddimah kitabnya Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an segera mengupas topik Makki dan Madani ini (jilid 1 halaman 36-80). Sekali lagi ini menunjukkan betapa pentingnya memahami konteks kesejarahan turunnya ayat al-Qur’an. Nah, pertanyaannya; apakah kita harus mengikuti konteks ‘kesejarahan’ turunnya ayat di atas atau kita harus mengaplikasikannya secara general? Kandungan moral-etis yang terdapat dalam kisah umat terdahulu maupun konteks turunnya ayat pada masa Nabi Muhammad tentu berlaku umum dan universal sampai akhir jaman. Namun kalau kita bicara dalam konteks hukum, para ulama menyusun kaidah penafsiran. Misalnya, Syekh Manna’ al-Qathhan menulis: إذا اتفق ما نزل مع السبب فيالعموم، أو اتفق معه فيالخصوص، حمل العام علىعمومه، والخاص على خصوصه. Jika telah disepakati bahwa ayat al-Qur’an itu turun dalam konteks umum, atau disepakati turun dalam konteks khusus, maka dibawalah makna umum ke dalam konteks umum, dan makna khusus ke dalam konteks khusus. Dari kutipan di atas, kita bisa tegaskan bahwa memahami asbabun nuzul dan konteks turunnya ayat akan membuat kita paham apakah ayat ini turun dalam konteks peristiwa umum atau khusus. Saya kasih contoh: ayat-ayat yang turun dalam konteks perang (khusus), tidak bisa kita aplikasikan dalam konteks umum (kondisi normal alias damai). Kegagalan memahami ini bisa membuat anda jadi ISIS dan kelompok teroris lainnya. Bahaya banget kan?! Syekh Manna’ al-Qathhan melanjutkan penjelasannya: أما إذا كان السبب خاصا ونزلتالآية بصيغة العموم فقد اختلفالأصوليون: أتكون العبرة بعموماللفظ أم بخصوص السبب؟ Adapun jika ayat yang turun dalam konteks khusus namun menggunakan redaksi yang umum, maka para ulama Ushul al-Fiqh berbeda pandangan: apakah yang dijadikan pegangan itu keumuman teks atau kekhususan konteks? Jumhur ulama berpegang pada keumuman teks. Zamakhsyari dalam penafsiran surat Al-Humazah di kitab tafsirnya al-Kasyaf mengatakan bahwa surat ini diturunkan karena sebab khusus, namun ancaman hukuman yang tercakup di dalamnya jelas berlaku umum, yaitu mencakup semua orang yang berbuat kejahatan yang disebutkan. Ibnu Abbas pun mengatakakan bahwa ayat Li’an, yang turun pada Hilal bin Umayyah dan istrinya, kandungan hukumya berlaku umum, tidak hanya bagi Hilal dan istrinya saja. Bagaimana kalau lafadhnya khusus ditujukan kepada Nabi? Para ulama melihat terlebuh dahulu apakah ada indikasi (qarinah) untuk Nabi saja atau untuk umatnya? Misalnya dalam QS at-Tahrim ayat 1 ditujukan kepada Nabi, tapi di ayat selanjutnya digunakan lafadh umum. Maka ini indikasi hukum yang dikandung ayat tersebut ditujukan juga untuk umat. Namun ada kalanya ayat tersebut memang khusus untuk Nabi, khususnya dalam kaitan dengan tugas kenabian beliau. Misalnya ketika al-A’raf ayat 158 meminta Nabi mengumukan beliau sebagai Rasul. Tentu ini khusus untuk Nabi, karena mustahil semua orang boleh mengaku jadi Rasul. Begitu juga ayat yang menyebut Nabi diutus sebagai rahmatan lil alamin maka ini khusus untuk Nabi. Tapi pesan moralnya tentu juga berlaku untuk umatnya. Terakhir, ada ayat al-Qur’an yang turun dalam konteks kesejarahan masa lalu dan kini sulit diaplikasikan karena dunia telah berubah, alias konteksnya pun berubah. Masihkah kita harus mengamalkannya sekarang? Contohnya adalah ayat perbudakan. Misalnya kebolehan menyetubuhi budak. وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَإِلاعَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْأَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS 23:5-6) Bagaimana mau menerapkan ayat ini dalam konteks sekarang dimana perbudakan tidak ada lagi? ISIS punya jawaban: ciptakan lagi perbudakan agar ayat al-Qur’an tetap berlaku. Tidak aneh kita membaca berota bagaimana banyak wanita dijadikan budak oleh ISIS. Apa kita mau seperti ini? Seolah memutar kembali jarum jam sejarah ke belakang. Bahaya banget kan!? Maka di sinilah pentingnya penafsiran, dimana kita kembali pada pesan moral al-Qur’an yang justru hendak menghapus perbudakan 15 belas abad yang lampau. Kembali ke pesan moral-etis ini yang juga harus kita lakukan dalam menafsirkan al-Qur’an pada konteks relasi kita dengan ahlul kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani, untuk konteks sekarang. Pesan ‘Rahmah’ menjadi petunjuk buat kita dalam memahami aplikasi ayat suci. Kita tidak meninggalkan ayat al-Qur’an ketika mengatakan al-Qur’an sebagai ‘dokumen sejarah’. Justru kita hendak menegaskan bahwa mustahil memahami pesan moral-etis al-Qur’an tanpa memahami sejarah umat lalu dan sejarah turunnya ayat al-Qur’an itu sendiri. Mengatakan al-Qur’an sebagai ‘dokumen sejarah’ bukan menganggap al-Qur’an sebagai kisah dongeng yang harus ditinggalkan, tapi justru mengambil inti dari pesan al-Qur’an untuk diterapkan pada kondisi saat ini. Tabik, *) Nadirsyah Hosen; Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.

Al Quran dan Dokumen Sejarah

Kalam Ulama - Al Quran dan Dokumen Sejarah - Tidak mungkin kita bisa memahami al-Qur’an dengan baik tanpa memahami sejarah. Paling tidak ada dua aspek...

Cinta Tuhan, Cinta Sesama

Oleh: Roby Ulfi Zt *) A. Prolog: Cinta Tuhan untuk Manusia Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan alam semesta terlebih dahulu...

Syaikh Abdul Ghaffar As – Syarif : Jangan Mudah Mengkafir – Kafirkan Orang

foto diambil dari official website jatmanevent.id Pekalongan (28/7) – Sesi pertama Konferensi Internasional Bela Negara hari kedua di Hotel Santika, Pekalongan, diisi oleh Syaikh Abdul...

BERHATI-HATILAH MENULIS SESUATU SEBAB AKAN DIPERTANGGUNG JAWABKAN

Dzin Nun Al Mishri bercerita : "Aku pernah berjalan di suatu taman yang hijau, Aku melihat pemuda sholat di bawah pohon apel, Semula aku tidak tahu bahwa...
Serba Serbi Islam. kalamulama.com DAMAIKAH AGAMA KITA? Seseorang mengatakan: "Agama saya adalah agama yang damai". Beberapa menit kemudian dia kembali berkata: "Anda menghina agama saya? Saya penggal anda!" Baca Juga Sumber Kehancuran Bangsa dan Kunci Perdamainnya Dari titik ini, dalam ilmu mantiq disebut tanaqqudlat atau naqidl. Posisi dimana premis pertama bertentangan dengan premis kedua. Maka secara logika, harus ada salah satu dari kedua premis itu yang benar dan yang lainnya salah. Akibatnya, salah satu dari kedua premis tersebut harus menghapus yang lainnya. Dalam ushul fiqh, jika ada yang nasikh (menghapus) dan mansukh (terhapus), maka yang nasikh harus datang belakangan dibanding mansukh. Jika tidak, maka tidak akan logis. Mana ada yang sesuatu yang terhapus datang setelah sesuatu yang menghapus? (Aku harap anda paham). Premis apa yang terhapus? Jawabannya: Premis "Agama saya adalah agama yang damai", sebab premis inilah yang datang duluan. Premis apa yang menghapus? Jawabnya: Premis "Anda menghina agama saya? Saya penggal anda!", sebab premis inilah yang datang belakangan. Apa natijahnya? (sama seperti kesimpulan atau hasil). Anda berhasil menghapus premis: Agama saya adalah agama yang damai. So, jangan melakukan hal yang sia-sia. Jangan hanya koar-koar bahwa agama anda adalah agama yang damai, tapi beberapa saat kemudian anda malah membatalkan pernyataan anda sendiri. Itu seperti orang yang membangun rumah, kemudian dia sendiri yang membakarnya. Tidak ada orang yang berbuat seperti itu kecuali orang yang gila. Saya jadi teringat kisah Ji'ranah. Ya, Ji'ranah. Nama yang sekarang diabadikan menjadi nama sebuah kampung di Madinah. Tempat kaum muslimin, khususnya yang berasal dari Indonesia, mengambil miqat saat akan melaksanakan haji. Saya lupa (atau lebih tepatnya saya tidak tahu) di kitab mana cerita ini ditulis. Hanya saja, saya mendengar kisah ini dari nenek, Hajjah Mauriah (semoga Allah panjangkan usia beliau dalam sehat dan ibadah), dulu di Makassar. Beliau menceritakan sewaktu saya masih kecil saat akan tidur. Begini kisahnya. Tersebutlah seorang wanita yang bernama Ji'ranah yang tinggal di pinggir kota Madinah. Ia hidup bahagia dengan suami dan anak-anaknya. Namun akibat suatu kejadian (sengaja tidak saya ceritakan agar tidak terlalu panjang), suami dan anak-anaknya wafat. Tinggallah ia seorang diri. Singkat cerita, ia kesepian dan hampir gila. Oleh orang yang bijaksana, Ji'ranah disarankan agar melalukan kesibukan. Satu-satunya keahliannya adalah memintal benang. Jadilah kerjaan Ji'ranah memintal benang sepanjang hari. Namun, tatkala malam tiba dan semua benang sudah terpintal dengan rapi ia pun kembali sedih. Untuk mengatasi hal itu, ia kembali membongkar hasil pintalannya. Hal itu ia lakukan agar besok pagi ia kembali ada kerjaan dan terhindar dari kesedihan. Tiap hari ia melakukan hal yang sama. Memintal dipagi hingga sore hari, dan sibuk membongkar pintalan dimalam hari. Demikian yang dilakukan oleh Ji'ranah hingga wafatnya. Diujung kisah, nenek biasanya menyitir surat An-Nahl ayat 92: وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا. "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali." Demikian tulisan saya kali ini. Semoga bisa dicerna dan dapat membawa manfaat. Baca Juga Ketika Agama Kehilangan Tuhan Bogor, Rabiul Akhir 1439 Ustadz @adhlialqarni

Damaikah Agama Kita?

Serba Serbi Islam. kalamulama.com DAMAIKAH AGAMA KITA? Seseorang mengatakan: "Agama saya adalah agama yang damai". Beberapa menit kemudian dia kembali berkata: "Anda menghina agama saya? Saya...