Serba Serbi Islam

kalamulama.com- Ngaji Gus Baha' : Sisi Manusiawi Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang agung nan luhur budi pekertinya. Tak ada sesiapa yang menyangkalnya. Namun, tak sedikit yang kerap lupa bahwa Nabi Muhammad juga memiliki sifat jaiz sebagaimana layaknya manusia pada umumnya. Gus Baha dalam suatu pengajiannya pernah menceritakan Nabi Muhammad SAW pernah lupa. Hal itu terjadi saat shalat zuhur. Ketika itu, Nabi hanya melaksanakan shalat zuhur dua rakaat dan langsung menyelesaikan ibadahnya. Para pun sahabat bertanya-tanya. Mereka segan ingin bertanya kepada sosok panutan penuh kharisma itu. "Tidak ada yang berani bilang ke Nabi," kata Gus Baha. Namun, tetiba Dzul Yadain mendekati Nabi dan menanyakan peristiwa langka itu. Ia bertanya apakah hal tersebut baru atau bagaimana. Nabi pun terkejut ketika hal itu disampaikan dan langsung kembali ke pengimaman. Nabi mengonfirmasi kepada para jamaah apa hal yang disampaikan Dzul Yadain benar. Para sahabat pun mengiyakannya. "Naam ya Rasulullah. Tadi engkau shalat zuhur hanya dua rakaat," kata para sahabat. Lalu, Nabi pun, jelas Gus Baha, langsung bertakbir lagi dan menuntaskan shalat zuhurnya dua rakaat lagi hingga salam tahiyat akhir. Menurut Gus Baha, lupa bagi Nabi adalah hal lumrah mengingat ia memiliki sifat jaiz sebagaimana manusia biasa pernah lupa. "Nabi tuh gak apa-apa lupa. Wong bukan Tuhan. Yang gak boleh lupa tuh Tuhan," tegas Rais Syuriyah PBNU itu. Gus Baha' juga menceritakan bahwa Nabi pernah suatu pagi menanyakan makanan kepada Sayidah Aisyah. Istri Nabi itu menjawab tidak ada. "Ya udah saya puasa saja," kata Gus Baha menirukan respon Nabi ketika mendengar jawaban istrinya. Saat waktu mulai beranjak siang, Nabi kembali bertanya makanan kepada Sayidah Aisyah. Kali itu, putri Sayidina Abu Bakar al-Shiddiq itu menjawab ada. "Ya sudah saya makan saja," ujar Gus Baha menyampaikan respons Nabi kepada Aisyah. Gus Baha juga menyampaikan bahwa kelupaan Nabi itu agar menjadi sunnah. "Saya ini tidak pernah lupa. Tapi saya diberi lupa supaya menjadi sunnah," pungkas Gus Baha menerjemahkan pernyataan Nabi tentang kelupaannya. Sumber: Ulama Nusantara

Ngaji Gus Baha’ : Sisi Manusiawi Nabi Muhammad SAW

kalamulama.com- Ngaji Gus Baha' : Sisi Manusiawi Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang agung nan luhur budi pekertinya. Tak ada sesiapa yang...

Tujuh Aturan Utama dalam Hidup

Oleh : Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD* Ada tujuh aturan utama dalam hidup. Yuk kita simak di hari Jum'at ini, siapa tahu ada...
Kalamulama.com- KH Marzuki Mustamar:  Keikhlasan Seorang Gus Dur  "Mbah Kiai Maimoen Zubair itu seperti bermusuhan dengan Gus Dur. Ternyata tidak.. Seribu hari Gus Dur di Jombang, Tebuireng, itu yang ceramah Kiai Maimoen Zubair. . Cerita, Gus Dur ini waktu Kiai Maimoen mantu, membantu sebanyak-banyaknya. Nggak tahu berapa juta, pokoknya sebanyak-banyaknya. . "Yai, kewajiban saya (Gus Dur) membantu anda, sudah. Sekarang tinggal kewajiban anda (Mbah Maimoen)," kata Gus Dur. "Apa, Gus?" Tanya Mbah Maimoen "Kewajiban anda, menutupi amal kebaikanku. Jangan diomong-omongkan ke orang, jangan sampai ketahuan. Terserah, cara anda untuk menutupinya. Kelihatan seperti memusuhi saya, terserah anda. Asalkan amal saya tidak diketahui manusia. Cukup saya dengan Gusti Allah saja," jawab Gus Dur. Seperti itu. Makanya waktu hidup itu seperti bermusuhan. Tapi, waktu Gus Dur wafat, yang memimpin pemakaman, Mbah Yai Maimoen. Tahlilan hari ketujuh yang mimpin Mbah Yai Maimoen. Seribu hari yang ceramah juga Mbah Yai Maimoen. Haul Gus Dur tempo hari, Pak SBY hadir, yang memimpin doa di makam juga Mbah Kiai Maimoen. . Dua Kiai ini tidak bermusuhan, tapi bersandiwara. Kelihatan bermusuhan untuk menutupi amal kebaikan Gus Dur. Seperti itu loh wali sesungguhnya, seperti itu. Kalau kita, mau nyalon DPR atau apa, "Aku umumkan ya, saya nyumbang 500 ribu." Gus Dur, seberapa banyaknya, tidak boleh diumumkan. Full karena Gusti Allah. Di Malang, di Kelurahan Jatikerto, ada anak namanya Agus. Gus Dur mampir ke rumahnya Agus, titip 3 koper. . "Jangan kamu buka kalau saya belum meninggal," kata Gus Dur. Ketika Gus Dur wafat, dibuka (kopernya), isinya 3 milyar. Uang 3 milyar sudah dimasukkan dalam amplop. Tugasnya Agus, disuruh membagikan ke anak-anak yatim dan janda-janda miskin di Malang. Uang 3 milyar itu. Trus anehnya, di amplop itu sudah ada nama-nama anak yatim dan alamatnya. Itulah karomahnya Gus Dur. Kok tahu nama anak yatim segitu banyak. Gus Dur di Jakarta, anak-anak yatimnya di Malang. Tahu alamatnya. Kok begitu ikhlasnya amal 3 milyar tidak boleh diomong-omongkan. Kalau belum meninggal tidak boleh dibuka. Kalau kita, nyumbang 3 ribu saja, minta diumumkan kok. Gus Dur seperti itu." K.H. Marzuqi Mustamar

KH Marzuki Mustamar:  Keikhlasan Seorang Gus Dur

Kalamulama.com- KH Marzuki Mustamar:  Keikhlasan Seorang Gus Dur "Mbah Kiai Maimoen Zubair itu seperti bermusuhan dengan Gus Dur. Ternyata tidak.. Seribu hari Gus Dur di Jombang,...

Kala Kalian Berdebat, Jangan Biarkan Hati Kalian Saling Menjauh

Oleh : Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen Seorang pujangga Hindu sedang mengunjungi sungai Gangga untuk melakukan ritual mandi saat sejumlah orang di tepian sungai beradu mulut...
syurga kalamulama.com- KISAH SEORANG HAMBA MASUK SYURGA KARENA MENCINTAI ORANG ALIM Oleh: KH Damanhuri, Katib Syuriah PCNU Bantul. Dikutip dari penutup kitab Majma’ul Bahroyn, karya Asy Syaikh Ma’ruf bin Muhammad Bajammal. Diriwayatkan dalam sebuah atsar, bahwa Allah Ta’ala menghisab seorang hamba, ternyata keburukannya lebih berat. Maka dia diperintahkan untuk dibawa ke neraka. Ketika dia telah dibawa, Allah berfirman kepada Malaikat Jibril, “Susullah hamba-Ku dan tanyalah, apakah dia pernah duduk di majelis orang alim ketika di dunia, agar Aku dapat mengampuninya dengan syafa’atnya?” Maka Jibril bertanya kepada hamba itu, lalu dia menjawab, “Tidak pernah.” Maka berkatalah Jibril, “Wahai Tuhan, Engkau lebih mengetahui keadaan hamba-Mu.” Lalu Allah berfirman, “Tanyakanlah, apakah dia mencintai seorang alim?” Maka Jibril pun bertanya kepadanya, lalu dia menjawab, “Tidak.” Allah berfirman lagi, “Wahai Jibril tanyakanlah, apakah dia pernah duduk satu meja dengan orang alim?” Jibril pun bertanya kepadanya, tetapi dia menjawab, “Tidak.” Lalu Allah berfirman lagi, “Wahai Jibril, tanyakanlah nama dan nasabnya. Jika namanya sama dengan nama seorang alim, maka dia akan kuampuni.” Maka Jibril bertanya kepadanya, tetapi ternyata tidak sama. Kemudian Allah berfirman kepada Jibril, “Peganglah tangannya dan masukkan dia ke dalam surga, karena dia menyintai seseorang yang orang itu menyintai seorang alim.” Lalu diapun diampuni dengan keberkahan mencintai orang yang mencintai orang alim. Wallahu A’lam Dikutip dari Manhajus Sawiy, karya Al Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith. Ditulis ulang dari bangkitmedia.com dengan judul asli Kisah Seorang Hamba Tak Jadi Dilempar Ke Neraka Karena Cinta

KISAH SEORANG HAMBA MASUK SYURGA KARENA MENCINTAI ORANG ALIM

kalamulama.com- KISAH SEORANG HAMBA MASUK SYURGA KARENA MENCINTAI ORANG ALIM Oleh: KH Damanhuri, Katib Syuriah PCNU Bantul. Dikutip dari penutup kitab Majma’ul Bahroyn, karya Asy Syaikh...

Nabiku yang welas asih : Islam rahmatan lil alamin

Nabiku yang welas asih mengajarkan bahwa Allah melarang kita membakar sarang semut dan lebah. Ini Islam rahmatan lil alamin Nabiku yang welas asih melarang untuk...

Ia Pun Takut Berpisah……Takut Sampai Tak Berjumpa di Syurga

Jikalau saya tidak tergila-gila dengan dirimu wahai Tuanku terus dengan siapa? - Syaiban al Mushab -  Rasululallah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki Khadim (Pelayan)...

Wasiat Allah kepada Nabi Uzair

Oleh: Habib Muhammad Jamal bin Thaha Ba’agil* Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam salah satu kitabnya menyebutkan sebuah hadist qudsi, yaitu firman Allah kepada Nabi Uzair yang...
Kalam Ulama - Islam Ajarkan Perdamaian dan Menghargai Keberagaman karena intisari ajaran Islam adalah menciptakan perdamaian dan menghargai keberagaman. Nilai-nilai toleransi dan sopan santun adalah buah dari keindahan ajaran Islam. Namun mutakhir ini, caci maki dan bahasa kasar acapkali digunakan oleh pemuka agama terutama di mimbar-mimbar keagamaan. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan misi ajaran Nabi yang ingin membawa Islam sebagai agama yang beradab dan penuh dengan kedamaian. Habib Ali Al-Jufri menyayangkan para pendakwah yang kerap membawa materi kebencian di mimbar agama tersebut. Menurut Habib Ali AL-Jufri, pendakwah yang isinya selalu memprovokasi umat untuk membenci sesama umat muslim dan umat agama lain adalah pendakwah yang tidak patut diikuti, karena dakwah dengan kebencian sejatinya hanyalah hasutan belaka. Baca Juga : Kalam Ulama #210 : Agama yang Penuh Rahmah Ulama asal Mekkah yang terkenal karena kedalaman ilmunya itu bersyukur mengenal Islam bukan dengan cara kekerasan. Menurutnya, Islam yang diajarkan secara keras akan berbuah konflik di tengah masyarakat. Jika dakwah disampaikan dengan cara yang santun, maka masyarakat pun akan lebih menerima isi daripada dakwah tersebut. “Ketika aku mendengar orang bicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka,” terang Habib Ali. Pesan yang dikemukakan oleh Habib Ali mengandung makna Islam adalah agama yang damai dan toleran terhadap semua perbedaan. Sifat yang kasar dan mencaci maki adalah sifat yang tidak diajarakan oleh Nabi, bahkan Nabi tidak sepakat dengan Islam yang disampaikan secara keras tersebut, dan tentu saja dakwah yang keras dan caci maki bukanlah ajaran Islam. Wallahu a'lam Mari bersholawat: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّـدِنَا مُحَمَّدٍ نِالنَّــبِـــىِّ اْلأُمِّـــيِّ الْحَبِـــيْبِ الْعَالِىِّ الْقَادِرِ الْعَظِيْمِ الْجَاهِ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ Allohumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammadinin nabiyyil ummiyyil habiibil 'aaliyyil qodril 'dziimil jaah. wa 'alaa aalihii wa shohbihii wa sallim. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, Nabi yang ummi, kekasih yang luhur derajatnya, yang agung pangkatnyaa, dan shalawat dan salam semoga juga selalu tercurahkan kepada keluarga serta sahabatnya. Baca Juga : Inilah Terjemahan Wawancara Gus Yahya pada Forum AJC di Israel

Habib Ali Al-jufri: Islam Ajarkan Perdamaian dan Menghargai Keberagaman

Kalam Ulama - Islam Ajarkan Perdamaian dan Menghargai Keberagaman karena intisari ajaran Islam adalah menciptakan perdamaian dan menghargai keberagaman. Nilai-nilai toleransi dan sopan santun...
Nefara Bangsa

PESANTREN, KIYAI, DAN NEGARA BANGSA

kalamulama.com- PESANTREN, KIYAI DAN NEGARA BANGSA. Dengan pandangan hidup kiyai dan nilai-nilai yang dianut pesantren, maka dalam momen2 sejarah berbangsa dan bernegara, pesantren selalu...