Serba Serbi Islam

Kisah Nabi Yusuf (Derita Berakhir Bahagia) #02

Oleh : KH. Salim Azhar* Ibnu Abbas berkata : "Ya'qub berkata kepada anak-anaknya bahwa ia khawatir, kalau-kalau Yusuf di makan srigala, sebab : Beliau...

Al Hikayah: Qona’ah Demi Kebahagiaan Hari Esok

Oleh : KH. Salim Azhar Pada zaman dahulu, ada seorang Bani Isroil ahli ibadah. Kehidupannya sehari-hari dalam keadaan sempit dan faqir, maka ia keluar ke tanah lapang...

Aswaja: Sejarah Dinamika Umat Islam dan Analisis Sosial *

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin** Belakangan ini saya sedang giat mempelajari pemikiran bernama Ahlussunnah wal Jamaah atau biasa disingkat Aswaja. Suatu pola pemikiran yang memposisikan diri...

Kisah Nabi Yusuf (Derita Berakhir Bahagia) #01

Oleh : KH. Salim Azhar (Pengasuh PP. Sunan Sendhang, Paciran, Lamongan) As Sadi menuturkan : Ketika Yusuf telah berumur 12 tahun,  Ia bermimpi dalam tidurnya : إِذۡ قَالَ...

Indahnya Kata Mutiara Imam Syafi’i

 Tiada rehat dalam suatu tempat,  bagi orang yang punya akal dan peradaban,  Maka tinggalkan olehmu tanah tumpah darah, dan merantaulah, Pergilah ! Akan engkau temukan pengganti orang yang...
Nasehat Mendidik Anak

Nasehat Mendidik Anak dalam Islam

“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di jamanmu” Kalam Ulama - Itulah quote terkenal dari Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Karramallahu wajhah,...
Habib Abu Bakar al-Adni : Kekuatan Islam yang Santun Di Indonesia perlu Dipertahankan Kalam ulama - Akhirnya menemukan jawaban terhadap pertanyaan, "Kenapa Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur dari Aden, Yaman, melakukan safari dakwah ke Indonesia di saat kota asal beliau sedang terjadi konflik pertikaian dan pembunuhan massal ?" Al Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur menjelaskan : "Kami datang ke Indonesia untuk mengecek kondisi umat Islam di Indonesia saat ini, saya kagum dan bangga, sepanjang perjalanan tour dakwah dari mulai Jawa Timur, Jawa Barat hingga Jakarta, dan seluruh Indonesia pada umumnya Subhanallah wal Hamdulillah disini penuh keramahan, santun dan penuh kedamaian, seperti apa yang dibawa oleh para ulama yang pertama kali mendatangkan Islam ke Indonesia beberapa abad silam. Mereka datang bukan dengan senjata, mereka datang bukan dengan kekerasan, mereka datang membawa cahaya kehidupan. Baca Juga : Pesan Moral PBNU : “Berpecah adalah musuh utama Ukhuwwah: Jaga Ukhuwwah untuk Indonesia yang aman & damai” Kekuatan Islam yang santun dan penuh kedamaian di Indonesia ini perlu dipertahankan. Jangan sampai Indonesia seperti Suriah, Irak, Mesir, Yaman, Tunisia, Libya, dan negeri-negeri Muslim lain yang penuh dengan konflik dan perpecahan. Di negara-negara tersebut terjadi pertikaian sampai menghalalkan darah sesama muslim. Mereka jatuh dan hancur akibat masing-masing membanggakan diri, menyalahkan, menyesatkan, mengkafirkan sesama muslim, dan melecehkan darah umat Islam. Ditambah lagi adu domba dari orang-orang yang membuat seolah-olah Islam agama teroris dan agama yang berbahaya. Setan sudah tidak bersemangat lagi dalam menjerumuskan umat Muslim agar menyembah dirinya, tetapi mereka tidak pernah berhenti untuk mengadu domba sesama Muslim agar saling bertikai dan kemudian hancur dengan sendirinya. Oleh karena itu, mari kita membekali diri dengan ilmu yang santun, ilmu yang penuh kedamaian, ilmu yang tidak menghalalkan darah orang lain, ilmu yang tidak ceroboh dalam mencaci maki orang lain. AGAR NEGARA AMAN Apa yang bisa dilakukan agar Indonesia tidak seperti negara-negara yang penuh konflik tersebut ? Yaitu bekali anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan keluarga kita dengan cara dakwah penuh rahmat, dakwah kasih penuh sayang, dakwah yang satun dan dakwah yang menentramkan hati masyarakat. Perkenalkan mereka dengan para ulama salaf yang saling mencintai dan menyayangi umatnya dan para ulama yang nyambung hingga Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam." Subhanallah... Begitu cintanya beliau terhadap Indonesia, dalam kunjungan pertama kali ke Indonesia ini beliau membawa pesan berharga bagi umat Islam nusantara. Baca Juga : Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAW  

Habib Abu Bakar al-Adni : Kekuatan Islam yang Santun Di Indonesia perlu Dipertahankan

Habib Abu Bakar al-Adni : Kekuatan Islam yang Santun Di Indonesia perlu Dipertahankan Kalam ulama - Akhirnya menemukan jawaban terhadap pertanyaan, "Kenapa Habib Abu Bakar al-Adni...
Alasan Santri Terbiasa dengan Perbedaan, Tidak Kagetan dan Bermental Baja Kalam ulama - Setelah beberapa hari menemani Mbah Kyai Ahmad Saidi, Pengasuh 1 PP Attauhidiyah Tegal, malam ini saya diaturi beliau untuk melihat berbagai kegiatan santri. Diantaranya malam ini kegiatan yang saya jumpai adalah kegiatan musyawarah kitab Fathul Mu'in kelas tsanawiyah. Indah sekali rasanya, seakan masa-masa dahulu sewaktu masih mondok terulang kembali. Lewat kegiatan seperti inilah banyak tercetak kader dakwah yang bermental baja. Karena dalam suasana musyawarah kitab seperti ini pasti terdapat banyak problem, semisal digojlok lawan, dipojokkan, diremehkan, dan lain sebagainya. Hal ini sangat dibutuhkan mengingat banyaknya peserta musyawarah yang hadir dengan membawa argumen masing-masing dengan didasari dalil-dalil yang telah dipersiapkan. Dan mereka ingin mempertahankan pendapatnya masing-masing. Karena bila hal itu tidak dimiliki maka akan berdampak membunuh karakter seseorang, bukan malah membentuk mental yang kuat. Oleh karena itu persiapan mental harus matang. Baca Juga : Ketika Agama Kehilangan Tuhan Hal demikian adalah suatu yang lumrah dan wajar dalam forum musyawarah di Pesantren, karena tanpa hal itu pastilah musyawarah akan terasa hambar dan kurang fantastis. Dan tips untuk membantu mengatasi sikap seperti ini adalah, "balas kata-kata yang menyakitkan dari lawan debat dengan seulas senyuman". Dengan demikian kita akan dapat mengekspresikan ide dan pemikiran secara bebas dan tanpa malu, minder, grogi ataupun sakit hati. بجد لا بجد كل مجد # فهل جد بلا جد بمجد Dalam musyawarah kitab seperti ini kita juga bisa melihat bahwa seorang santri memiliki 'Selera Berbeda'. Selera seperti ini akan dapat membantu meningkatkan sikap kritis dan ketajaman nalar. Artinya, berani punya pendapat nyeleneh dibanding dengan pendapat kebanyakan orang. Hal ini awalnya akan terdengar aneh di telinga para peserta musyawarah yang lain, karena mungkin akan dikatakan mengada-ngada atau caper (cari perhatian). Dan pastilah orang seperti ini banyak menuai kontroversi dari banyak pihak. Namun, hal itu bukan berarti 100% salah tanpa adanya bukti yang konkrit. Malah apabila pendapat kontroversi itu bisa dipertahankan dan dipertanggungjawabkan, tidak menutup kemungkinan akan menjadi senjata untuk mengalahkan pendapat lawan debat. Bahkan dalam musyawarah kita juga akan menjumpai seorang santri yang tak kenal kompromi. Karena peserta musyawarah harus punya nyali kuat mempertahankan pendapatnya masing-masing sepanjang pendapatnya masih ia yakini kebenarannya. Sikap yang demikian bukan berarti sikap yang memicu untuk menyalah-nyalahkan pendapat lawan musyawarah atau lawan debat dan meremehkannya serta menganggap pendapat diri sendiri yang paling benar. Namun hal ini penting dilakukan mengingat seorang santri juga haruslah konsistent dengan pendapat yang diusung dan tidak mudah goyah apabila disangkal dan dibantai oleh pendapat lawan. Lewat metode seperti inilah seorang santri diajarkan untuk menjadi insan yang kokoh dan tahan banting. Dalam mengikuti Musyawarah Kitab, selain karena perintah, juga atas dasar niat yang kuat serta kesadaran yang tinggi untuk berubah menjadi pemikir yang lebih baik. Karena tanpa itu semua maka akan sia-sia belaka, harus dengan semangat yang tinggi (himmah aliyah)lah cita-cita dan harapan kan tergapai. Memperoleh sebuah ilmu tidaklah semudah yang dibayangkan, tapi butuh perjuangan dan keistiqamahan. Ada sebuah sya’ir yang berbunyi: "Setiap keluhuran itu karena kesungguhan, bukan sekedar keturunan. Apa gunanya berketurunan orang yang mulianamun tidak punya kesungguhan?" Dalam sebuah kalam hikmah disebutkan: العلم لا يعطيك بعضه حتى تعطيه كلك “Ilmu takkan sudi memberikan sebagian dirinya kepadamu, hingga kamu bersedia mempersembahkan dirimu sepenuhnya padanya (untuk ilmu).” (Reportase Ust. Abdul Wahab di PP Attauhidiyah Giren, Talang, Tegal/ padhang-mbulan,org). Sumber :muslimoderat.com Baca Juga : Refleksi Hari Santri

Alasan Santri Terbiasa dengan Perbedaan, Tidak Kagetan dan Bermental Baja

Alasan Santri Terbiasa dengan Perbedaan, Tidak Kagetan dan Bermental Baja Kalam ulama - Setelah beberapa hari menemani Mbah Kyai Ahmad Saidi, Pengasuh 1 PP Attauhidiyah Tegal, malam...
 Kalam Ulama – Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW (Diringkaskan dari kitab Azzahrul Baasim karya Mufti Betawi zaman Hindia Belanda, al-Habib Utsman bin 'Abdillah bin Yahya rohimahullohu ta'ala): Baca Juga : Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAW Dilaksanakan pada tempat-tempat yang terhormat seperti masjid, musholla, majelis-majelis, atau perkumpulan mulia, dan sebagainya. Tidak boleh ada pada tempat tersebut suatu patung-patung binatang atau manusia yang menjadi simbol pengagungan dan penyembahan terhadapnya (misal patung dewa, bunda maria, dan sejenisnya), karena hal tersebut dibenci oleh beliau (SAW) dan para Malaikat. Ketika membaca shirohnya (sejarahnya) yang terdapat dalam Kitab Maulid, tidak boleh bercampur didalamnya antara laki-laki dengan perempuan. Kecuali adanya hijab (batas/dinding) yang memisahkan antara perempuan dan laki-laki, sehingga aman dari fitnah. Jangan pula ada pada tempat diselenggarakannya, suatu permainan yang HARAM (misal judi dan sejenisnya). Sebab, hal itu akan mengantarkan pada kedurhakaan besar melanggar larangan Rosululloh SAW. Jangan pula ada pada tempat itu segala sesuatu yang beraroma busuk. Seperti rokok, cerutu, kandang binatang, dan sejenisnya. Maka hendaklah ada pada tempat itu segala sesuatu wewangian yang harum seperti dupa (gaharu bakar) atau bunga-bungaan. Hendaklah yang hadir pada tempat penyelenggaran itu membaca sholawat, dan janganlah satu sama lain saling bercerita, masing-masing "pasang" telinga mendengar kisah maulid yang dibacakan sambil membaca sholawat. Apabila nanti disebut akan dzohir (lahir dan hadir)-nya sang Nabi SAW ke dunia, maka seluruh yang hadir bersegera untuk bangun dan berdiri. Bukan atas dasar paksaan, tapi karena TAKDZIM (HORMAT), BAHAGIA, dan ANTUSIAS pada hadirnya beliau (SAW). Sehingga pada akhirnya segenap hadirin yang mematuhi aturan-aturan berlaku, kelak akan mendapatkan syafa'at (pertolongan) dari beliau (SAW) di yaumil akhir serta mendapatkan balasan yang berlipat ganda dunia wal-akhiroh. InsyaAlloh. اللهمّ صلّ على سيّدنا و شفيعنا محمّد وعلى آله وصحبه و سلّم واجعلنا من خيار امّته و من اهل شفاعته برحمتك يا ارحم الرّاحمين آمين "Allohumma Sholli 'ala Sayyidina wa Syafi'ina Muhammadin wa 'ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallim waj'alnaa min khiyaari ummatihi wa min ahli syafaa'atihi, birohmatika Yaa Arhamarrohimiin, aamiin" (Yaa Alloh, limpahkanlah sholawat atas junjungan kami, Nabi kami yang memberi syafa'at bagi kami, yaitu Nabi Muhammad SAW dan atas keluarganya, dan sahabatnya, serta salam penghormatan atasnya, dan jadikanlah kami daripada umatnya yang terbaik dan yang mendapat syafa'atnya di hari kemudian dengan Rahmat-Mu wahai Tuhan yang memiliki sifat Kasih Sayang melebihi semua yang memiliki sifat kasih sayang, aamiin) wAllohu a'lam bishshowaab. Baca Juga : Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya?

Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW

 Kalam Ulama – Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW (Diringkaskan dari kitab Azzahrul Baasim karya Mufti Betawi zaman Hindia Belanda, al-Habib Utsman bin 'Abdillah bin Yahya rohimahullohu ta'ala): Baca Juga : Bangsa...
Kalam Ulama - Kabar gembira teruntuk umat Nabi Muhammad SAW di Indonesia. Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAWPada Sabtu malam Ahad kemarin (15/3/2014) d. alam acara rutin Majelis Riyadhul Jannah bertempat di Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dihadiri puluhan ribu muslimin, KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi, Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syifaa wal Mahmuudiyah Sumedang melakukan klarifikasi atas beredarnya berita yang menyatakan “Umat Islam Indonesia adalah umat yang sangat dicintai Nabi Muhammad SAW”. Di beberapa media Islam ahlussunnah telah ramai tersebar sebuah kisah perjumpaan seorang ulama dengan Rasulullah SAW di Madinah. Ulama tersebut mengatakan bahwa Rasulullah SAW sangat mencintai Bangsa Indonesia karena mereka adalah umatnya yang sangat mencintainya yakni mencintai Rasulullah SAW. KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi menegaskan akan kebenaran kisah tersebut, tetapi ulama yang berjumpa Nabi SAW tersebut bukanlah Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki melainkan gurunya. Baca Juga : Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya? KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi pun menceritakan bahwa kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika beliau bertemu dengan ulama-ulama besar di pinggir makam Rasulullah SAW. Saat itu ada seorang ulama, salah satu Guru Mursyid Thariqah yang bernama Al ‘Allamah Al ‘Arifbillah Syaikh Utsman melihat KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi dan bertanya tentang nama dan asal usulnya. Setelah Syaikh Utsman tahu beliau berasal dari Indonesia, Syaikh Utsman ini lalu menceritakan sebuah rahasia yang belum pernah dibuka kepada siapapun dan ini adalah sebuah berita kabar gembira bagi umat Islam di Indonesia. Syaikh Utsman mengatakan dulu beliau bersama gurunya pernah berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Guru Syaikh Utsman yang dimaksud ini juga adalah guru yang sama dari gurunya Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Ketika berziarah Guru Syaikh Utsman ini langsung masuk ke dalam makam Rasulullah SAW. Di sana, Guru Syaikh Utsman bertemu secara langsung dengan Rasulullah SAW secara nyata bukan mimpi dan beliau melihat lautan manusia di Hujrah Syarifah. Lautan manusia yang begitu sangat banyak terlihat sepanjang mata memandang. Lautan manusia yang tidak bisa terhitung jumlahnya dengan suku yang bermacam-macam dan bahasa yang bermacam-macam pula. Beliau lalu melirik ke suatu tempat ternyata terbentang luas tak terhitung di sana ada sekelompok orang yang wajahnya berbeda dengan wajah orang Timur Tengah atau Arab dan jumlahnya adalah terbanyak diantara sekian lautan manusia yang ada di Hujrah Syarifah. Guru Syaikh Utsman pun kaget dan bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, siapakah mereka?”. Rasulullah SAW menjawab, “Mereka adalah kekasih-kekasihku yang mencintaiku dari Indonesia”. Subhanalloh, ini adalah kisah nyata yang diceritakan langsung oleh seorang ulama kepada KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi. Dan beliau mengklarifikasi atas kebenaran cerita ini saat menghadiri rutinan Majelis Riyadlul Jannah Malang. Dalam ceramah KH Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi yang lain di waktu yang berbeda disebutkan Guru Syaikh Utsman ini kemudian menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada para jama’ah, “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia”. Baca Juga : Kenapa Engkau Tidak Mengenalku Wahai Rasulullah? Semoga ini menjadi kabar gembira bagi umat Islam di Indonesia dimanapun berada. Teruslah berjuang dan berdakwah agar umat Islam di Indonesia khususnya bisa terus dan terus mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW. Sumber : http://www.elhooda.net/

Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAW

Kalam Ulama - Kabar gembira teruntuk umat Nabi Muhammad SAW di Indonesia. Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Dicintai Rasulullah SAWPada Sabtu malam Ahad kemarin...