Serba Serbi Islam

KISAH NABI YUSUF #18 (Penutup) “DERITA BERAKHIR BAHAGIA”

Oleh : KH. Salim Azhar (Pengasuh PP. Sunan Sendhang, Paciran, Lamongan As Sadi menuturkan :Ketika masa kelaparan menyelimuti bumi Mesir, datanglah Zulaikha,Ia menghadap Yusuf dengan...

Belajar Ihsan dari Hasan al Bashri dan Muhammad bin Al Munkadir

Oleh Asnawi Muallim Misan Khadim Majelis Zikir Al Hikmah Depok Dalam Kitab Ihya Ulumiddin,  Bab Adabul Kasbi wal Maasyi Sub Bab Fil Ihsan Fil Muamalah...

Kisah Imam Syafi’i dan Putrinya Imam Ahmad Bin Hambal

زار الإمام الشافعي رحمه الله تعالى الإمام أحمد بن حنبل ذات يوم في داره ، وكانت للإمام أحمد ابنة صالحة تقوم الليل وتصوم...
Baca tulisan sebelumnya "Muqoddimah" “Muhammad adalah pemimpim seluruh makhluk yang cahayanya memenuhi tujuh lapis langit dan bumi. Allah memperjalankannya di malam hari dari bumi Hijaz hingga seluruh hijab yang tinggi (yang menghijab seluruh makhluk dari Sang Khalik) mencium kedua sandal agung Baginda yang memijaknya. Allah mendekatkannya kepada-Nya hingga bagaikan dua ujung busur saat berwahyu kepadanya setelah Baginda mengucap kepada-Nya At Tahiyyat.” KetikaAllah SWT memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan risalah secara terang-terangan, kaumnya memusuhi beliau dan memeranginya secara liar dan ganas. Walau demikian, kedzoliman kaumnya tidak menjadi penghalang masuknya iman ke dalam sanubari sebagian keluarga dekat dan sebagian kaumnya yang mengenal kejujurannya. Bagaimana mungkin Nabi saw memberitakan kepada manusia kabar yang dusta tentang Tuhan alam semesta, padahal Nabi saw tidak pernah berdusta seumur hidupnya kepada siapapun? Kaumnya mengetahui betul darinya tentang hal ini dan tentang kejujurannya. Dalam menyiarkan risalah Tuhannya, Nabi Muhammad saw membutuhkan pembela yang setia membela dan mendukungnya terhadap orang-orang kafir yang memusuhi dan memeranginya, dan pembela yang mendukung serta menghiburnya saat kesedihan melanda hatinya ketika beliau berada di dalam rumahnya. Adalah Abu Tholib, sang paman tercinta yang setia membelanya hingga akhir hayat saat orang-orang kafir mengganggunya dan Khadijah, sang istri tercinta yang senantiasa menguatkannya di rumah saat kesedihan melanda. Selama sepuluh tahun keduanya setia membela Rasulullah saw dengan segenap harta, jiwa dan raga hingga akhir hayat. Tepat setelah 10 tahun dari kenabian, keduanya dipanggil oleh Allah di saat yang sangat berdekatan. Kesedihan melanda Rasulullah saw hingga dinamakan tahun itu sebagai tahun kesedihan. Tatkala itulah orang-orang kafir makin merajalela dalam memusuhi, mendzolimi dan memerangi Nabi Muhammad saw. Hingga akhirnya beliau pergi ke kota Thoif untuk meminta dukungan dan pembelaan dari penduduknya terhadap orang-orang kafir Makkah. Namun hancur segala harapan ketika beliau mendapati penduduk Thoif lebih ganas dan bengis terhadapnya dari pada penduduk Makkah. Beliau diusir secara tidak terhormat dan dihujani dengan cacian dan batu. Di perjalanan pulang dari Thoif di suatu kebun beliau menangis danmengadu kepada Tuhannya: “Wahai Allah, hanya kepada-Mu aku mengadu akan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya jalan yang dapat aku tempuh serta kehinaanku di mata manusia. Wahai Tuhan yang kasih sayangnya lebih besar dari para penyayang manapun, Engkau adalah Tuhan kaum yang tertindas dan tertekan, dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau hendak menyerahkan diriku? Apakah kepada orang yang jauh yang akan menindasku? Atau kepada musuh Engkau lemparkan diriku? Selama kemurkaan-Mu tidak Engkau tumpahkan kepadaku maka sungguh aku tidak peduli dengan semua derita itu. Namun afiyah dan kelembutan-Mu lebih aku harapkan. Aku berlindung dengan Cahaya Wajah-Mu yang terbit menghapuskan segala kegelapan, yang dengannya mengalir segala perkara dunia dan akhirat, aku berlindung dengannya dari kemurkaan-Mu yang hendak Engkau tumpahkan kepadaku, dan dari kemarahan-Mu yang akan menghampiriku. Engkau berhak menegur hingga Engkau ridho. Dan tiada kemampuan dan kekuatan melainkan dengan Allah.” Allah mendengar rintihan dan tangisan Nabi Muhammad saw. Beberapa waktu sekembali beliau dari Thoif ke kota Makkah, Allah memanggil beliau dalam perjalanan Isra dan Mi’raj yang agung. Peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi pada malam senin 27 Rajab satu tahun sebelum Hijrah ke kota Madinah sebagaimana pendapat yang masyhur. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah bahwa Jabir bin Abdullah Al Anshori dan Abdullah ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum berkata: “Rasulullah saw lahir pada hari senin, dan pada hari senin beliau diutus, dan pada hari senin dimi’rajkan ke langit, dan pada hari senin beliau wafat ”. Tatkala Nabi Muhammad saw berada di Hijir Ismail di samping Ka’bah, berbaring tidur bersama dua lelaki (Hamzah bin Abdul Muttholib dan Ja’far bin Abi Tholib), maka datanglah Jibril dan Mikail serta bersamanya malaikat yang lain yaitu Isrofil. Para malaikat membawa Rasulullah saw hingga ke sumur zam-zam dan melentangkannya. Pada saat itu yang memimpin kejadian ini adalah malaikat Jibril.  Diriwayat lain, bahwa pada saat Rasulullah saw sedang tidur dirumahnya, terbuka atap rumah Nabi dan turunlah Jibril lalu membelah bagian atas dada Nabi, hingga bawah perutnya. Lalu berkata Jibril kepada Mikail, “Berikanlah aku semangkok air zam-zam agar aku bersihkan hatinya dan aku lapangkan dadanya”. Lalu dia keluarkan hatinya dan membasuhnya hingga tiga kali dan mencabut apa-apa yang mengganggu hatinya. Datanglah Mikail membawa tiga mangkok air zam-zam, lalu di datangkan satu mangkok dari emas yang penuh dengan hikmah dan iman lalu menuangkanya ke dada Rasulullah saw, dan memenuhinya dengan kebijaksanaan dan keilmuan lalu keyakinan serta keislaman, setelah itu dirapatkan kembali dada Rasulullah saw dan menandainya dengan label nubuwah (kenabian). ***bersambung*** Disarikan dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="967" name="Kisah Isra Mi’raj #03 “Melihat Berbagai Peristiwa”"]

Kisah Isra’ Mi’raj #02 Perjalanan Nabi Muhammad di Tahun Duka

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Perjalanan Nabi Muhammad di Tahun Duka  “Muhammad adalah pemimpim seluruh makhluk yang cahayanya memenuhi tujuh lapis langit dan bumi. Allah memperjalankannya di malam...

Kisah Nabi Yusuf #17 “Derita Berakhir Bahagia”

Oleh: KH. Salim Azhar (Pengasuh PP. Sunan Sendhang, Paciran, Lamongan Tatkala saudara-saudara Yusuf datang lagi ke Mesir,Mereka membawa sepucuk surat dari Ya'qub, Surat tersebut dihaturkan kepada...

Kabar Menghebohkan

Kabar Menghebohkan ومن الاخبار العجيبة ما روى ان ابليس أتى الى موسى بن عمران عليه السلام وقال له اذا ناجيت ربك فاشفع لى عنده وسله هل لى...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Muqoddimah Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah menyampaikan kita pada salah satu bulan mulia nan istimewa di tahun 1437 Hijriyah ini yaitu Syahru Rajab. Bertepatan dengan datangnya bulan Rajab, sepanjang bulan ini akan dipostingkan kisah seri mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami oleh makhluk termulia, kekasih dari Sang Maha Pengasih, dialah Nabi Muhammad saw. Di berbagai daerah, kedatangan bulan Rajab akan disambut dengan suka cita. Betapa mulianya bulan ini bahkan Rasulullah saw meminta diberikan keberkahan di bulan Rajab. Dalam salah satu doa yang diajarkan kepada umatnya, “Allahumma bariklanaa fii Rajaba wa Sya’bana wa ballighnaa Ramadlan” (Yaa Allah, berkahilah kami di Bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadlan) Akan tetapi dalam postingan ini kami tidak akan menjelaskan tentang kemuliaan Bulan Rajab. Postingan akan lebih difokuskan pada detail peristiwa Isra’ Mi’raj. Tulisan yang akan kami posting diambil dari materi Daurah Isra’ Mi’raj yang disampaikan oleh Al-Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan. Untuk itu, pada postingan perdana ini, kami kutipkan kalimat pengantar dari beliau selaku penyusun khulasoh (ringkasan) ini. Selamat membaca. Sahabat-sahabatku yang dimuliakan Allah, Bulan Rajab adalah bulan yang mulia dan agung. Bulan diisra dan di mi’rajkannya Baginda yang agung Nabi Muhammad saw. Di bulan agung ini umat islam berbahagia dengan sebuah peristiwa agung hingga mereka merayakannya dengan perayaan yang besar dan meriah. Sungguh ini adalah salah satu dari buah iman kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah saw. Apabila kaum Yahudi Madinah berpuasa di hari ‘Asyura untuk mengungkapkan syukur kepada Allah atas diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran dan kedzoliman Fir’aun, dan kemudian Nabi saw memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa di hari ‘Asyura sebagai bentuk syukur mereka pula kepada Allah dan bentuk kecintaan dan keimanan kepada para nabi-nabi Allah, maka perayaan yang dilakukan oleh umat Muhammad saw atas peristiwa agung Isra dan Mi’raj jauh lebih penting dan lebih agung serta bagian dari syariat dan agama islam. [irp posts="4866" name="Amalan dan Keutamaan Bulan Rajab Lengkap"] Peristiwa Isra dan Mi’raj penuh dengan pelajaran penting, harus dikaji dan dipelajari serta kemudian dijadikan sebagai pedoman hidup. Sebab memang untuk tujuan memetik pelajaran, terjadilah perjalanan agung Isra dan Mi’raj tersebut. Karena itu alangkah pentingnya bagi umat islam untuk mengetahui secara terperinci tentang perjalanan agung Isra dan Mi’raj. Sungguh jika seluruh masa dihabiskan hanya untuk membicarakan tentang peristiwa agung Isra dan Mi’raj maka masa akan sirna sedangkan mutiara-mutiara Isra dan Mi’raj tak kunjung habis untuk dipetik. Bagaimana tidak? siapa yang mampu menceritakan apa yang terjadi disaat perjumpaan Sang Hamba dengan Sang Khaliq di malam itu? Siapa yang mampu menggambarkan tentang kenangan maha indah detik-detik perjumpaan? Semua harapan makhluk terputus untuk merasakan indahnya detik-detik perjumpaan tersebut. “Martabat yang dibawahnya semua harapan untuk mencapainya terputus Puncak tertinggi yang tidak ada lagi martabat di atasnya.” Namun setetes dari samudera dan sedikit rintik dari hujan yang deras akan cukup bagi para pecinta untuk merajut cinta dengan sang kekasih agung Nabi Muhammad saw. Karena itu di bulan rajab yang agung ini di banyak tempat dibacakan riwayat kisah dan sejarah perjalanan Isra dan Mi’raj. Di Masjid An-Nur makam kramat Al Habib Abdullah bin Muhsin Al Atthos pada hari kamis terakhir bulan rajab, lepas shalat maghrib berjamaah, setiap tahunnya adalah contoh dan teladan baik dalam mengkaji riwayat kisah dan sejarah Isra dan Mi’raj. Riwayat kisah dan sejarah Isra dan Mi’raj yang dirangkum oleh Al Imam Al ‘Allamah As Sayyid Zainal ‘Abidin bin Muhammad Al hadi bin Zainal ‘Abidin Al Barzanji yang berjudul An-Nur Al Wahhaj Fi Qisshoti Al Isra wa Al Mi’raaj. Berkata As Sayyid Ja’far bin Ismail Al Barzanji, “Kitab An-Nur Al Wahhaj merangkum banyak hadits-hadits tentang perjalanan Isra dan Mi’raj yang disusun oleh penulisnya dengan bahasa sastra yang sangat indah, yang susunannya semacam kitab-kitab riwayat maulid Nabi saw dengan menjadikannya berfashal-fashal yang di antara kedua fashalnya dihiasi dengan shalawat kepada Baginda Rasulullah saw.” Tatkala hamba yang lemah ini melihat banyak dari sahabat-sahabat saya tidak memahami bahasa arab sastra yang indah tersebut, dan banyak dari mereka yang tidak mengetahui rinci kisah dan sejarah Isra dan Mi’raj yang agung dan penuh dengan pelajaran penting, maka tergerak hati untuk menerjemahkan kitab yang dirangkum oleh Al Imam Al Barzanji tersebut dengan bahasa Indonesia dan gaya bahasa yang mudah difahami oleh sahabat-sahabat saya. Juga dengan memberikan sedikit tambahan dari apa yang ditulis oleh guru kami yang mulia Muhaddits Al Haramain wa Mafkhor Al Kaunain As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki dalam kedua kitab rangkuman beliau yang sangat bermanfaat yaitu Al Anwar Al Bahiyyah dan kitab Wa Huwa bil Ufuq Al A’la serta kitab karya Al Imam Al Mufassir Asy Syeikh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi yang berjudul Al Isra wa Al Mi’raj. Bersama dengan beberapa santri yang saya bimbing di Al Fachriyah serta sahabat-sahabat Khadim Risalah Da’wah yang saya cintai, kami menerjemahkan dan menambahkan hingga jadilah rangkuman ini yang kami harapkan kepada Allah agar dituliskan manfaat besar untuk umat di berbagai penjuru dunia. Kami berharap kepada Allah agar mengangkat derajat Al Imam Zainal ‘Abidin Al Barzanji, Al Imam As Sayyid Muhammad bin Alawi Al maliki, Asy Syeikh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi dan para guru-guru kami serta para ulama yang bertaqwa kepada Allah. Kami berharap agar Allah berikan keberkahan mereka kepada kami dan menjadikan kami sebagai hamba-hamba Allah yang dapat menggembirakan mereka dan mengikuti jejak langkah mereka yang bersambung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam. [] Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="980" name="Kisah Isra’ Mi’raj #02 Perjalanan Nabi Muhammad di Tahun Duka"]

Kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad #01 “Muqoddimah”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Muqoddimah Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah menyampaikan kita pada salah satu bulan mulia nan istimewa...

Kesunnahan Puasa Rajab – Lanjutan (akhir)

8. Al-Imam ar-Romli (wafat 1004 H). Beliau adalah ulama yang dijuluki “Imam Syafi’i Shoghir” (Imam Syafi’i Kecil), saking faqihnya...

Kesunnahan Puasa Rajab – Lanjutan

Oleh: Muhammad Azka 4. Al-Imam al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H). Beliau adalah penutup Mujaddid (pembaharu) di seluruh dunia. Luar...

Kesunnahan Puasa Rajab – Bagian 1

 Oleh: Muhammad Azka Bismillahirrohmanirrohim. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Alihi wa Shohbihi. Rajab adalah salah satu dari Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia),...