Serba Serbi Islam

kalamulama.com- Siapakah yang Dimaksud Sebagai Ulama? Ulama adalah orang2 yang takut pada Allah. انما يخشى الله من عباده العلماء. Yang tidak takut pada Allah, bukanlah ulama. Ulama adalah pewaris para Nabi, dan nabi sangat takut pada Allah. Maka Ulama adalah yang mewarisi Nabi, rasa takut pada Allah. Jika diartikan secara leksikal, ulama adalah bentuk prulal dari عالم ilmuwan. Jadi, siapapun hamba Allah yang memiliki ilmu, dan bertambah takut pada Allah, layak disebut Ulama. Ia bisa berasal dari pesantren, bisa juga berasal dari universitas. Banyak sekali contohnya dosen yang jadi sholeh, jadi waliyullah, tidak pernah mondok. Gus Mus juga mengatakan, siapapun yang akhlaknya mencerminkan santri, ialah santri Ilmuwan di sini adalah muslim. Siapapun ia yang bertambah takut, mengajak manusia pada jalan yang lurus, jalan yang diridhai Allah dan RasulNya, dialah ulama. Ia bertambah takut pada Allah, setidaknya memahami juga ilmu2 syariat. Maka, ulama yang takut pada Allah, adalah paku NU, pakunya Nusantara. Nahdlotul ulama, kebangkitan para ulama. Adalah kebangkitan hamba Allah yang memiliki rasa takut pada Allah. بسم الله الرحمن الرحيم. والعصر . ان الانسان لفي خسر . الا الذين امنوا وعمل الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر . QS. Al-Ashr : 1-3 Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi.

Siapakah yang Dimaksud Sebagai Ulama?

kalamulama.com- Siapakah yang Dimaksud Sebagai Ulama? Ulama adalah orang-orang yang takut pada Allah. انما يخشى الله من عباده العلماء. Sesungguhnya yang tidak takut pada Allah, bukanlah...
Kisah Teladan Sufi : "Anjing ini lebih mulia dariku" Kalam ulama – Alkisah... ketika itu di musim hujan Syaikh 'Abdurrahman bin Sa'id (Seorang faqih dan Wali Besar di Zamannya) melewati suatu jalan yg becek dan berlumpur. Sa'at itu juga dari kejauhan tampak seekor anjing yang sedang melintas dari arah yang berlawanan. Syaikh 'Abdurrahman mencoba menghindari anjing itu dengan menepi ke pinggir jalan. Anehnya ketika anjing itu sudah mendekat, beliau malah berpindah ke jalan yg becek dan membiarkan anjing itu melewati jalan ''bersih'' yg ia tempati. Baca Juga : Ketampanan Baginda Besar Nabi Muhammad SAW Salah satu muridnya yg menyaksikan kejadian itu lantas mendatanginya, Syaikh 'abdurrahman tampak sedih dan termenung, si murid lalu bertanya: Ya Syaikh... aku bingung melihat apa yg Syaikh lakukan, mengapa engkau malah berpindah ke jalan yg kotor dan membiarkan anjing itu lewat di jalan yg bersih..??? Beliau lalu menjawab : ''Awalnya... aku memang ingin membiarkan anjing itu lewat di jalan yg kotor, lantas aku berfikir dan mengatakan dalam hati : "bukankah anjing ini lebih mulia dariku? bukankah ia lebih baik dariku? aku punya banyak dosa dan maksiat, sedangkan anjing ini tak punya dosa sama sekali, kalau begitu ia lebih pantas dimuliakan dari pada diriku yg hina ini, skrng aku takut Allah tidak akan mengampuniku krn aku telah merendahkan makhluq-Nya yg lebih mulia dariku'' Hikmah : Mereka para Awliyaa Allah, selalu meyakini bahwa mereka adalah makhluq paling hina yg pernah ada, padahal di sisi Allah mereka begitu mulia dan berharga bagaikan emas dan permata. Habib 'Umar bin Hafizh, beliau pernah berkata : ''Ketika engkau mengajar atau berceramah, maka yakinilah bahwa mereka yg ada di hadapanmu lebih baik dan mulia dari dirimu sedangkan engkau hanya orang yg mengharap barokah doa, pandangan, dan syafa'at mereka di akhirat kelak. Baca juga : Ngaji Bareng Gus Baha’ “Tentang Dosa Mengurangi Timbangan” Aamiiin.

Kisah Teladan Sufi : “Anjing ini lebih mulia dariku”

Kisah Teladan Sufi : "Anjing ini lebih mulia dariku" Kalam ulama – Alkisah... ketika itu di musim hujan Syaikh 'Abdurrahman bin Sa'id (Seorang faqih dan Wali Besar di...
Kalam Ulama - Wejangan KH. Hasyim Asy'ari, Pendiri Nahdlatul Ulama. Bismillahirrahmanirrahim.(surat ini) Dari makhluk yang paling melarat, bahkan pada hakikatnya dari orang yang tidak punya sesuatu apapun, KH Hasyim Asy’ari, semoga Allah swt. mengampuni keturunannya dan seluruh umat muslim. Kepada teman-teman yang mulia dari penduduk tanah Jawa dan sekitarnya, baik ULAMA maupun MASYARAKAT UMUM… Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh Benar-benar telah sampai kepadaku sebuah kabar bahwa api fitnah dan pertikaian telah terjadi di antara kalian semua. Maka aku merenung sejenak kira-kira apa sebabnya. Kemudian aku berkesimpulan bahwa, sebab itu semua adalah karena masyarakat zaman sekarang telah banyak mengganti dan merubah kitab Allah swt. dan sunnah Rasulullah saw. Allah swt. berfirman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (surat Al-Hujurat; 10) Sementara masyarakat sekarang menjadikan orang mukmin sebagai musuh dan tidak ada upaya untuk mendamaikan atau perdamaian di antara mereka, bahkan ada kecenderungan untuk merusaknya. Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian saling menebar iri dengki, jangan kalian saling membenci dan jangan saling bermusuhan. Jadilah kalian bersaudara wahai hamba-hamba Allah swt.” Sementara masyarakat zaman sekarang saling iri dengki, saling membenci, saling bersaing (dalam urusan dunia) dan mereka akhirnya menjadi musuh. Wahai para ulama yang fanatik terhadab sebagian madzhab dan pendapat (ulama madzhab), tinggalkanlah fanatik kalian terhadap urusan-urusan far’iyyah (tidak fundamental), yang di dalamnya, para ulama masih menawarkan dua pendapat, yakni pendapat yang mengatakan bahwa, “Setiap mujtahid (niscaya) benar.” Serta pendapat yang mengatakan, “Mujtahid yang benar (pasti hanya) satu, namun mujtahid yang salah tetap mendapat pahala.” Tinggalkanlah fanatik kalian! Dan tinggalkanlah jurang yang akan merusak kalian! Lakukanlah pembelaan terhadap agama Islam! Berjuanglah kalian untuk menangkis orang-orang yang mencoba melukai Al-Quran dan Sifat-sifat Allah swt. berjuanglah kalian untuk menolak orang-orang yang berilmu sesat dan akidah yang merusak. Jihad untuk menolak mereka adalh wajib. Dan sibukkanlah diri kalian untuk senantiasa berjihad melawan mereka. Wahai manusia, di antara kalian ada orang-orang kafir yang memenuhi negeri ini, maka siapa lagi yang bisa diharapkan bangkit untuk mengawasi mereka dan serius untuk menunjukkannya ke jalan yang benar??? Wahai para ulama! Untuk urusan seperti ini (membela Al-Quran dan menolak orang yang menodai agama), maka bersungguh-sungguhlah kalian dan silakan kalian berfanatik. Adapun fanatik kalian untuk urusan-urusan agama yang bersifat far’iyyah dan mengarahkan manusia ke madzhab tertentu atau pendapat tertentu, maka itu adalah suatu hal yang tidak akan diterima Allah swt. dan tidak disenangi Rasulullah saw. Yang membuat kalian semua bertindak seperti itu tiada lain kecuali hanya kefanatikan kalian terhadap madzhab tertentu, bersaing dalam bermadzhab dan saling hasud. Sungguh, kalu saja Imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Hajar dan Imam Ramly masih hidup (di tengah-tengah kita), maka pasti mereka akan sangat ingkar dan tidak sepakat atas (perbuatan) kalian dan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah kalian perbuat. Kalian mengingkari sesuatu yang masih dikhilafi para ulama, sementara kalian melihat banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, meninggalkan shalat yang hukumannya, menurut Imam Syafi’I, Imam Malik dan Imam Ahmad, adalah potong leher. Dan kalian tidak mengingkarinya sedikitpun. Bahkan di antara kalian yang telah melihat banyak tetangganya tidak ada yang melaksanakan shalat, tapi kalian diam seribu bahasa. Lantas bagaimana kalian mengingkari sebuah urusan far’iyyah yang terjadi perbedaan pendapat di antara ulama? Sementara pada saat yang sama kalian tidak pernah mengingkari sesuatu yang nyata-nyata diharamkan agama seperti zina, riba, minum khamar dll… Sama sekali tidak pernah terbersit dalam benak kalian untuk terpanggil mengurusi hal-hal yang diharamkan Allah swt. kalian hanya terpanggil oleh rasa fanatisme kalian kepada Imam Syafi’I dan Imam Ibnu Hajar. Hal itu akan menyebabkan tercerai-berainya persatuan kalian, terputusnya hubungan keluarga kalian, terkalahkannya kalian oleh orang-orang yang bodoh, jatuhnya wibawa kalian di mata masyarakat umum dan harga diri kalian akan jadi bahan omongan orang-orang bodoh, akhirnya kalian akan membalas merusak mereka sebab gunjingan mereka tentang kalian. Itu semua terjadi karena daging kalian telah teracuni dan kalian telah merusak diri kalian dengan dosa-dosa besar yang kalian perbuat. Wahai para ulama, apabila kalian melihat orang yang mengamalkan pendapat dari para Imam Ahli Madzhab yang memang boleh diikuti, walaupun pendapat itu tidak rajih (unggul), apabila kalian tidak sepakat dengan mereka, maka jangan kalian menghukuminya dengan keras, tapi tunjukkanlah kepada mereka dengan lembut. Dan apabila mereka tidak mau mengikuti anjuran kalian, maka jangan sekali-kali kalian menjadikan mereka sebagai musuh. Perumpamaan orang-orang yang melakukan hal di atas adalah seperti orang yang membangun gedung tapi merobohkan tatanan kota. Jangan kalian jadikan keengganan mereka untuk mengikuti kalian, sebagai alasan untuk perpecahan, pertikaian dan permusuhan. Sesungguhnya perpecahan, pertikaian dan permusuhan adalah kejahatan yang mewabah dan dosa besar yang bisa merobohkan tatanan kemasyarakatan dan bisa menutup pintu kebaikan. Untuk itu, Allah swt. melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin dari pertentangan dan Allah swt. mengingatkan mereka bahwa akibatnya sangat buruk serta ujung-ujungnya sangat menyakitkan. “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (surat Al-Anfaal; 46) Wahai orang-orang muslim! Sesungguhnya di dalam tragedi yang terjadi di hari-hari ini, ada ibrah (hikmah) yang banyak serta nasihat yang sangat layak diambil orang yang yang cerdas dari hanya sekedar mendengarkan mauidzahnya para penceramah dan nasihatnya para mursyid. Ingatlah! Bahwa kejadian di atas adalah merupakan kejadian yang setiap saat akan selalu menghampiri kita. Maka apakah bagi kita bisa mengambil ibrah dan hikmah??? Dan apakah kita sadar dari lelap dan lupa kita??? Dan kita mesti sadar, kebahagiaan kita tergantung dari sifat tolong-menolong kita, persatuan kita, kejernihan hati kita dan keikhlasan sebagian dari kita kepada yang lain. Ataukah kita tetap berteduh di bawah perpecahan, pertikaian, saling menghina, menghasud dan berada di dalam kesesatan? Sementara agama kita satu, yaitu agama Islam dan madzhab kita satu, yaitu Syafi’iyyah dan daerah kita juga satu yaitu Jawa. Dan kita semua adalah pengikut Ahlissunnah wal Jama’ah. Maka Demi Allah swt., sesungguhnya perpecahan, pertikaian, saling menghina, fanatik madzhab adalah musibah yang nyata dan kerugian yang besar. Wahai orang-orang Islam! Bertakwalah kepada Allah swt. dan kembalilah kalian semua kepada Kitab Tuhan kalian. Dan amalkan Sunnah Nabi kalian serta ikutilah jejak para pendahulu kalian yang sholeh-sholeh. Maka kalian akan berbahagia dan beruntung seperti mereka. Bertakwalah kepada Allah swt. dan damaikanlah orang-orang yang berseteru di antara kalian. Saling tolong-menolonglah kalian atas kebaikan dan takwa. Jangan saling tolong menolong atas dosa dan aniaya, maka Allah swt. akan melindungi kalian dengan Rahmat-Nya dan akan menebarkan kebaikan-Nya. Jangan seperti orang yang berkata, “aku mendengarkan” padahal mereka tidak mendengarkan. Wassalaam fil mabda’ wal-khitaam. Muhammad Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang.

Wejangan KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri Nahdlatul Ulama

Kalam Ulama - Wejangan KH. Hasyim Asy'ari, Pendiri Nahdlatul Ulama. Bismillahirrahmanirrahim.(surat ini) Dari makhluk yang paling melarat, bahkan pada hakikatnya dari orang yang tidak punya...

Tasawuf : sejatinya adalah implementasi dari ihsan, manifestasi dari iman dan islam

Orang yang tasawuf, adalah orang-orang yang muhsin.. Ihsan = isinya rukun islam, dan yang ta'alluq denganya. Inilah tataran fikih, orangnya disebut muslim. Masih banyak yang...

Sayangilah Penduduk Bumi, Niscaya Allah Menyayangimu

Dalam Hadits Musalsal di mana hamba pernah mengambil sanad kepada KH. Ahmad Barizi MF, yang pertama kali dibaca adalah "al-Musalsal bil Awwaliyah" bunyinya begini: الرَّاحِمُونَ...

HAKIKAT RAHMAT MENTERJEMAHKAN KASYAF

Siapa yang dapat melihat rahsia (sirr) manusia, padahal ia tidak meniru sifat rahmat Tuhan, maka pengetahuan itu menjadi bala atau ujian baginya, dan sebagai...

Kisah Habib Ali al-Jufri Sangat Membenci Pembunuh Ayahanda Habib Umar bin Hafidz

Habib Ali al-Jufri pernah bercerita, “Aku pernah berada di kota Aden, berada dalam satu majelis dengan seorang bekas penguasa/pemimpin yang sangat dzalim, dimana ketika...

Ringkasan Manaqib Sayyidinal Imam al-Qutb Fakhrul Wujud Syeikh Abu Bakar bin Salim rodhiyallohu ta’ala...

Ditulis dengan menggunakan dua jenis "font" berbeda (Jawi dan Latin). Namun masih sama-sama dalam bahasa Indonesia. 1). Teks Jawi بسم الله الرحمن الرحيم حول مروفكن فريڠاتن تاهونن...

Islam Kontekstual – Gus Nadir: Menolak Kejahatan dengan cara yang lebih baik

(35) وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا...

Surga, Bidadari dan Mata Air dalam Surat al-Rahman

Hari minggu pagi, enaknya kita bahas yang santai dan asyik-asyik aja yah. Mari kita buka surat al-Rahman dan mengurai ada empat surga (dua di...