Serba Serbi Islam

Kalam Ulama - Islam Ajarkan Perdamaian dan Menghargai Keberagaman karena intisari ajaran Islam adalah menciptakan perdamaian dan menghargai keberagaman. Nilai-nilai toleransi dan sopan santun adalah buah dari keindahan ajaran Islam. Namun mutakhir ini, caci maki dan bahasa kasar acapkali digunakan oleh pemuka agama terutama di mimbar-mimbar keagamaan. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan misi ajaran Nabi yang ingin membawa Islam sebagai agama yang beradab dan penuh dengan kedamaian. Habib Ali Al-Jufri menyayangkan para pendakwah yang kerap membawa materi kebencian di mimbar agama tersebut. Menurut Habib Ali AL-Jufri, pendakwah yang isinya selalu memprovokasi umat untuk membenci sesama umat muslim dan umat agama lain adalah pendakwah yang tidak patut diikuti, karena dakwah dengan kebencian sejatinya hanyalah hasutan belaka. Baca Juga : Kalam Ulama #210 : Agama yang Penuh Rahmah Ulama asal Mekkah yang terkenal karena kedalaman ilmunya itu bersyukur mengenal Islam bukan dengan cara kekerasan. Menurutnya, Islam yang diajarkan secara keras akan berbuah konflik di tengah masyarakat. Jika dakwah disampaikan dengan cara yang santun, maka masyarakat pun akan lebih menerima isi daripada dakwah tersebut. “Ketika aku mendengar orang bicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka,” terang Habib Ali. Pesan yang dikemukakan oleh Habib Ali mengandung makna Islam adalah agama yang damai dan toleran terhadap semua perbedaan. Sifat yang kasar dan mencaci maki adalah sifat yang tidak diajarakan oleh Nabi, bahkan Nabi tidak sepakat dengan Islam yang disampaikan secara keras tersebut, dan tentu saja dakwah yang keras dan caci maki bukanlah ajaran Islam. Wallahu a'lam Mari bersholawat: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّـدِنَا مُحَمَّدٍ نِالنَّــبِـــىِّ اْلأُمِّـــيِّ الْحَبِـــيْبِ الْعَالِىِّ الْقَادِرِ الْعَظِيْمِ الْجَاهِ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ Allohumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammadinin nabiyyil ummiyyil habiibil 'aaliyyil qodril 'dziimil jaah. wa 'alaa aalihii wa shohbihii wa sallim. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, Nabi yang ummi, kekasih yang luhur derajatnya, yang agung pangkatnyaa, dan shalawat dan salam semoga juga selalu tercurahkan kepada keluarga serta sahabatnya. Baca Juga : Inilah Terjemahan Wawancara Gus Yahya pada Forum AJC di Israel

Habib Ali Al-jufri: Islam Ajarkan Perdamaian dan Menghargai Keberagaman

Kalam Ulama - Islam Ajarkan Perdamaian dan Menghargai Keberagaman karena intisari ajaran Islam adalah menciptakan perdamaian dan menghargai keberagaman. Nilai-nilai toleransi dan sopan santun...

Kesunnahan Puasa Rajab – Bagian 1

 Oleh: Muhammad Azka Bismillahirrohmanirrohim. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Alihi wa Shohbihi. Rajab adalah salah satu dari Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia),...

Kisah Nabi Yusuf (Derita Berakhir Bahagia) #02

Oleh : KH. Salim Azhar* Ibnu Abbas berkata : "Ya'qub berkata kepada anak-anaknya bahwa ia khawatir, kalau-kalau Yusuf di makan srigala, sebab : Beliau...

Kisah Ampunan Ilahi

Islam Kontekstual - Gus Nadir: Kisah Ampunan Ilahi 1. Imam al-Ghazali bertutur tentang dua kisah mengenai harapan akan ampunan ilahi dalam kitab Ihya. Ijinkan saya kisahkan...

Kualitas Anda Ditentukan dengan Siapa Anda Duduk atau Berteman

Siapa saja yang sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah SWT akan memberinya perkara: من جلس مع الأغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها. 1....

Arti Taubat!

Taubat merupakan sebuah filosofi agung: tidak perlu putus-asa, kita harus merenovasi kehidupan kita. Pandangan kita harus ke depan. Tak perlu lagi kita terlalu membawa beban...

Kisah Nabi Yusuf #13 “Derita Berakhir Bahagia”

Suasana paceklik menyelimuti seluruh penduduk Mesir, Mereka banyak makan tetapi tak pernah merasa kenyang, Bahan makanan milik penduduk telah banyak yang habis, Maka Yusuf...

JEMARI SANG AHLI IBADAH

Oleh : Muhammad Azka Dari Wahab bin Munabbih, ia berkata: “Pada zaman dahulu, ada seorang yang ahli ibadah dari Bani Israil yang sedang beribadah...
Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). Ketika Agama Kehilangan Tuhan Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya. Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama. Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama. Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya? Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja. (Baca juga: Dakwah Lemah Lembut Abu Bakr Al-Shiddiq) Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama. Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus. Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama. Dulu agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan. Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa. Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan. Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya. Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama. Oleh: KH. A. Mustafa Bisri/Gus Mus

Ketika Agama Kehilangan Tuhan

Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). Ketika Agama Kehilangan Tuhan Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya. Dulu orang berhenti membunuh karena...

Gus Mus ngendiko….

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Oangtua melebihi mengasihi dan mengasuh anak-anaknya dengan keteladanan. Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pelajar melebihi belajar...