Serba Serbi Islam

Bertasawuf Versi Syekh Hisyam Kabbani

Oleh: Fadh Ahmad Arifan *Pernah mengajar mata kuliah Akhlak Tasawuf di STAI al-Yasini, Pasuruan Jauh sebelum nama Syekh Muhammad Hisyam Kabbani dan Syekh Nazim melejit seperti sekarang, pertama kali lihat...

Detail Aurat Dalam Madzhab Syafi’i

Detail Aurat Dalam Madzhab Syafi’i             Yang di maksud dengan aurat adalah bagian tubuh yang harus ditutupi dan haram dilihat. Karena yang umum diketahui oleh masyarakat adalah...

Napak Tilas Ibadah Shalat

Oleh : Ahmad Ulul Azmi Bismillaahirrahmaanirrahiim... Mengenai riwayat tentang shalat para Nabi yang menjadi peletak pertama awal didirikannya shalat yang lima waktu tersebut, dapat kita rujuk kitab Syarh Sullamul...

Mengenang Sosok Sang Mufti Bangsa

Pada hari Kamis, 28 April 2016 / 21 Rajab 1437H, seluruh alam semesta berduka mendengar kabar wafatnya seorang 'aalim nan tafaqquh fii ad-diin. Siapa...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi” [irp posts="967" name="Kisah Isra’ Mi’raj #03 “Melihat Berbagai Peristiwa”"] Di perjalanan Nabi saw beberapa kali berjumpa dengan sekelompok kaum hamba-hamba Allah, mereka berkata, “Assalamualaika (keselamatan untukmu) wahai Nabi terakhir , Assalamualaika (keselamatan untukmu) wahai Nabi yang setelahnya adalah hari kebangkitan.” Maka Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “jawablah salam mereka.” Maka Nabi saw menjawab salam mereka. Nabi saw bertanya, “Siapa mereka wahai jibril?” Jibril menjawab, “mereka adalah Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa.” Di perjalanan Nabi saw melewati Nabi Musa yang sedang shalat dikuburnya yang terletak di bukit pasir merah (gunung Nebo). Postur tubuhnya adalah tinggi badannya, lurus rambutnya, kecoklatan kulitnya, seperti laki-laki dari suku Syanuah. Dalam shalatnya Nabi Musa berkata dengan suara yang sangat lantang, “Engkau ya Allah memuliakannya (Nabi Muhammad) dan engkau ya Allah mengutamakannya (Nabi Muhammad).” Maka Nabi Muhammad saw mengucapkan kepadanya salam, maka Nabi Musa menjawab salamnya dan berkata, “Siapa ini yang bersama Engkau wahai Jibril?” Jibril menjawab, “ini Ahmad.” Maka Nabi Musa berkata, “selamat datang nabi dari bangsa arab yang memberikan nasihat kepada umatnya, dan kemudian Nabi Musa mendoakan Nabi Muhammad saw dengan keberkahan.” Berkata Nabi Musa kepada Nabi Muhammad saw, “mintalah kepada Allah kemudahan untuk umatmu.” Kemudian mereka meneruskan perjalanan. Di perjalanan Nabi Muhammad saw bertanya kepada Jibril, “Siapa hamba mulia tadi wahai Jibril?” Jibril menjawab, itu saudaramu Nabi Musa bin Imran. Nabi bertanya, “terhadap siapa dia berani mengangkat suaranya dengan lantang dan tegas?”Jibril menjawab, “kepada Tuhannya.” Jibril berkata, “sesungguhnya Allah taa’la telah memaklumi ketegasannya.” Kemudian di perjalanan Nabi saw melalui pohon yang sangat besar sekali. Di bawah pohon itu ada seorang lelaki yang sangat berwibawa bersama anak keluarganya dan Nabi saw melihat lampu-lampu dan cahaya-cahaya yang terang. Rasul saw bertanya, “Siapa itu wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Beliau adalah ayahmu Nabi Ibrahim.” Kemudian keduanya saling bertukar salam. Lalu Nabi Ibrahim bertanya kepada Jibril, “Siapa ini wahai Jibril?” “ini adalah putramu Ahmad”, jawab Jibril. Maka Nabi Ibrahim berkata, “selamat datang wahai Nabi dari bangsa arab yang tidak bisa membaca dan menulis, yang menyampaikan Risalah Tuhannya, dan memberi nasihat pada umatnya. Wahai anakku sesungguhnya engkau akan bertemu dengan Tuhanmu malam ini dan sesungguhnya umatmu adalah umat yang terakhir dan yang paling lemah jikalau engkau bisa menjadikan seluruh permohonanmu atau sebagian besar permohonanmu kepada Tuhanmu untuk umatmu maka lakukanlah.” Kemudian Nabi Ibrahim mendoakan Nabi Muhammad saw dengan keberkahan. Nabi saw melanjutkan perjalanan bersama Jibril hingga sampai di lembah yang berada di kota Baitul Maqdis. Di saat itu terlihatlah neraka Jahannam yang terbentang seperti permadani. Maka para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “wahai Rasulullah bagaimana neraka jahanam itu?”, “Seperti bara api yang membara.” Jawab Rasulullah. Kemudian Nabi saw melanjutkan perjalanan bersama Jibril hingga sampai ke Baitul Maqdis dan memasukinya dari pintu kanan. Kemudian Nabi saw turun dari Buroq dan dikaitkan di pintu masjid pada kaitan yang sama ketika para nabi sebelumnya mengaitkan tunggangan mereka. Dalam riwayat lain, bahwa Jibril mendekati batu dan meletakkan jarinya kepada batu tersebut sampai tembus berlubang dan kemudian Buroq di kaitkan dilobang tersebut. Rasulullah saw memasuki masjid dari pintu yang matahari dan bulan condong kearahnya. Kemudian Nabi saw dan Jibril shalat dua rakaat dan tidak mengunggu lama sampai berkumpullah manusia yang sangat banyak. Maka Nabi Muhammad saw mengenali bahwa mereka itu adalah para nabi, di antara mereka ada yang sedang shalat berdiri, yang ruku’, dan yang sujud. Kemudian seorang mengumandangkan adzan dan iqomah. Mereka berdiri berbaris menunggu siapa yang akan mengimami mereka, lalu Jibril menggandeng tangan Rasulullah saw menuntunnya sampai mengedepankannya. Nabi saw shalat dua rakaat sebagai imam bersama mereka. Diriwayatkan dari ka’ab, bahwa Jibril mengumandangkan adzan dan turunlah malaikat dari langit dan Allah mengumpulkan seluruh rasul dan para nabi. Nabi Muhammad saw menjadi imam bagi para rasul, nabi dan malaikat. Setelah selesai sholat, Jibril bertanya, “Wahai Muhammad! apakah engkau tahu siapa mereka yang shalat di belakangmu? Nabi menjawab, “tidak.” Jibril berkata, “mereka adalah seluruh nabi dan rasul yang telah diutus oleh Allah.” ***bersambung*** Disarikan dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="949" name="Kisah Isra Mi’raj #5 “Pujian dari Para Nabi”"]

Kisah Isra Mi’raj #04 “Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi” Di perjalanan Nabi saw beberapa kali berjumpa dengan sekelompok kaum hamba-hamba Allah, mereka berkata, “Assalamualaika (keselamatan untukmu) wahai...

Kalau Dikatain BAHLUL Jangan Marah

" BAHLUL " "Bahlul" adalah kata yang biasa kita gunakan untuk mensifati orang yang bodoh, tapi dari mana asal kata itu.....? Dikisahkan, sesungguhnya BAHLUL...

KISAH SUFI

Suatu malam, Jalaluddin Rumi mengundang Syams Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Rumi. Setelah semua hidangan...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Melihat Berbagai Peristiwa [irp posts="980" name="Kisah Isra’ Mi’raj #02 “Perjalanan di Tahun Duka”"] Lalu didatangkan Buroq yang indah serta berpelana dan bertali kekang. Buroq adalah hewan yang berwarna putih yang lebih tinggi dari keledai dan lebih kecil dari baghal (hasil perkawinan antara kuda dan keledai). Langkahnya sejauh mata memandang, memiliki dua telinga yang panjang. Apabila mendaki gunung maka terangkat tinggi kaki belakangnya, dan jika dia turun maka terangkat tinggi kaki depannya. Memiliki dua sayap di pinggulnya yang membantu kakinya agar lebih cepat. Pada saat Rasul ingin menaikinya, Buroq pun berontak untuk dinaiki oleh Rasulullah Saw. Jibril meletakan tangannya ke buraq, lalu berkata, “tidakkah kau malu wahai buroq!! demi Allah tidak ada yang menaikimu seorang makhluk yang lebih mulia darinya.” Maka Buroq pun tenang dan merasa malu sehingga keringatnya membasahi tubuhnya, lantas Rasulullah pun menaikinya. Buroq adalah kendaraan para anbiya sebelum Rasulullah saw. Rasulullah saw berjalan dan Jibril berada di sebelah kanannya dan Mikail di sebelah kirinya. Ibnu sa’ad berkata : bahwa yang memegang pelananya adalah Jibril, dan yang memegang tali kekangnya adalah Mikail. Maka berjalanlah Rasulullah saw dan Jibril hingga sampai pada belantara yang dipenuhi kebun kurma. Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”, maka Rasulullah saw pun shalat lalu naik Buroq kembali. Jibril bertanya, “Ya Rasulullah, tahukah dimana engkau shalat tadi?”. Rasul menjawab, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di Thaybah (kota Madinah) dan ke situlah kelak kau akan berhijrah.” Buroq pun berjalan dengan cepat bagaikan kilat, serta melangkahkan telapak kakinya sejauh pandangan mata. Lalu Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”. Maka Rasulullah pun shalat lalu menaiki Buroq kembali.Jibril bertanya, “Ya Rasulullah, tahukah dimana tadi engkau shalat?”. Rasul menjawab, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di kota Madyan di suatu pohon yang dahulu Nabi Musa pernah berteduh di situ.” Buroq pun berjalan dengan cepat bagaikan kilat, lalu Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”. Maka Rasulullah pun shalat lalu menaiki Buroq kembali. Jibril berkata, “Ya Rasulullah, tahukah dimana tadi engkau shalat? Rasul menjawab, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di bukit Tursina dimana dahulu Nabi Musa bermunajat dengan Allah subhanahu wa ta’ala.” Lantas sampailah Rasulullah saw dan Jibril hingga ke suatu tempat yang tampak darinya istana dan bangunan-bangunan negeri Syam. Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”, maka rasul pun shalat dan naik Buroq kembali, dan Buroq pun berjalan dengan cepat secepat kilat. Lalu Jibril berkata, “Taukah engkau dimana tadi engkau shalat?”. Rasul berkata, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di Bait Lahm, ditempat itulah Nabi Isa di lahirkan.” Tatkala di perjalanan Rasul melihat jin ifrit mengincar beliau sambil membawa api, setiap Rasul menengok pasti ifrit berada di hadapannya. Jibril berkata kepada Rasulullah saw, “maukah engkau aku ajarkan suatu kalimat, apabila engkau mengucapkannya maka akan padam apinya dan dia akan jatuh tersungkur pada wajahnya?”. Maka berkata Rasulullah saw, “ajarkan aku wahai Jibril.” Jibril berkata : “Aku berlindung dengan kemuliaan Allah Yang Maha Dermawan dan dengan firman-firman Allah yang sempurna yang tidak bisa ditembus oleh orang baik maupun orang jahat, dari keburukkan yang turun dari langit, dan dari keburukkan yang naik ke langit, dan dari keburukkan makhluk yang ada di bumi, dan dari keburukan yang keluar dari bumi, dan dari fitnah siang dan malam, dan dari kejadian yang datang tiba-tiba di siang dan malam, kecuali sesuatu kejadian yang datang membawa kebaikan, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih” Ifrit langsung tersungkur jatuh serta padam apinya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai kepada suatu kaum yang sedang menanam benih dan pada saat itu pun benih yang ditanam langsung panen seketika, setiap dipanen kembali tumbuh seperti semula untuk dipanen kembali dengan seketika. Rasul bertanya, “Wahai Jibril apa ini?”, Jibril berkata, “mereka adalah para Mujahid di jalan Allah, dilipat gandakan kebaikan mereka hingga tujuh ratus kali lipat, dan apapun yang mereka infaqkan di jalan Allah maka Allah akan menggantikannya dan mengganjarnya.” Di tengah perjalanan Rasulullah saw mencium bau yang amat wangi. Rasul bertanya, “Wangi apa ini wahai Jibril?”. Jibril menjawab, “ini adalah wanginya seorang wanita mulia dan anak-anaknya. Dia adalah penyisir rambut putri fir’aun.” Dikisahkan tatkala wanita mulia ini sedang menyisirkan rambut putri fir’aun, pada saat itu sisirnya terjatuh, maka wanita mulia ini pun berkata, “dengan nama Allah dan celakalah fir’aun”, Maka putri fir’aun pun terperanjat dan berkata, “apakah engkau mempunyai tuhan selain ayahku?”. Maka ia menjawab, “iya”. Putri fir’aun dengan murka berkata, “apakah engkau ingin aku laporkan kepada ayahku?” Wanita mulia ini pun menjawab, “silahkan”. Maka dilaporkanlah kejadian ini kepada fir’aun, maka fir’aun pun memanggilnya dan fir’aun dengan murka berkata, “apakah engkau bertuhan kepada selain aku?” Wanita mulia ini dengan tegas menjawab, “iya, tuhanku dan tuhanmu adalah Allah Ta’ala.” Wanita mulia ini mempunyai dua orang anak dan suami. fir’aun mengutus kepada mereka untuk menyiksa mereka semua agar bertuhan kepada fir’aun, maka mereka menolaknya. fir’aun berkata, “sungguh aku akan membunuh kalian semua”, maka wanita mulia itu berkata, “lakukanlah apa yang engkau ingin lakukan terhadap kami, namun sebagai balasan dari pelayanan yang selama ini kami lakukan untuk putrimu, apabila engkau membunuh kami, jadikanlah kami dalam satu tempat yang sama, dan kubur kami setelah itu dalam satu kuburan yang sama”. Maka fir’aun memerintahkan budaknya untuk menyiapkan penggorengan raksasa dari tembaga berisi minyak yang dipanaskan, kemudian perempuan dan anak-anak nya dipaksa untuk melempar diri mereka satu persatu masuk ke dalam penggorengan tersebut. Satu persatu dilemparkan ke dalam penggorengan dan seketika hangus terpanggang hingga sampai kepada bayinya yang paling kecil dari yang masih menyusu. Saat itu wanita ini tidak tega jika melihat bayinya yang kecil ini akan dilemparkan ke dalam penggorengan panas, namun tiba-tiba berbicaralah bayi itu dengan suara lantang dan jelas penuh kelembutan kepada ibunya, “wahai ibu, tenanglah, jangan engkau ragu karena engkau berada dalam kebenaran”. Wanita mulia ini dan anaknya di lemparkan ke dalam penggorengan raksasa berisi minyak yang sudah di panaskan. Al Allamah As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki berkata, “sesungguhnya ada empat bayi yang berbicara: yang pertama adalah kisah ini, kedua saksi nabi Yusuf, ketiga kisah Juraij, keempat Nabi Isa bin Maryam.” Nabi saw melanjutkan perjalanannya hingga menyaksikan sekelompok kaum yang kepala mereka dihancurkan dengan batu. Setiap kali dihancurkan kembali seperti keadaan semula untuk dihancurkan kembali, begitu seterusnya tanpa akhir. Nabi saw berkata, “wahai Jibril siapa mereka?.” Jibril berkata, “mereka orang-orang yang kepalanya berat sekali untuk melakukan sholat lima waktu.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang menutupi kemaluan dan dubur mereka dengan sehelai daun. Mereka digembalakan sebagaimana unta dan kambing digembalakan namun yang mereka makan adalah pohon-pohon yang berduri, buah yang pahit dan bara api jahannam yang panas beserta batunya. Nabi saw berkata, “siapa mereka?” Jibril berkata, “mereka adalah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat dan sedekah dari harta-harta mereka, dan Allah tidak mendzhalimi kepada mereka sama sekali.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang di hadapan mereka terdapat daging yang bagus di dalam sebuah wadah, serta daging bangkai yang jelek dan menjijikkan di wadah yang lain, namun ternyata mereka memilih untuk memakan daging bangkai yang jelek dan meninggalkan yang bagus. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab, “ini laki-laki dari umatmu dia punya perempuan yang halal dan baik tapi dia mendatangi perempuan yang tidak halal baginya, dan menginap di tempatnya hingga waktu subuh. Juga perempuan dari umatmu dia punya laki-laki yang halal dan baik tapi dia mendatangi laki laki yang tidak halal baginya, dan menginap di tempatnya hingga waktu subuh.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sebatang pohon di jalanan, tidak ada apapun yang melewati batang pohon tersebut baik itu pakaian atau sesuatu apapun kecuali kayu tersebut merobeknya. Maka Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah perumpamaan kaum dari umatmu, mereka duduk di jalan dan mereka memotong orang yang berjalan dan mengganggunya, kemudian Jibril membacakan suatu ayat Al Qur’an: “Dan janganlah kalian duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalangi dari jalan Allah.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan seorang laki-laki berenang di sungai darah sambil dirajam dan dilempari dengan batu. Maka Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah perumpamaan orang yang memakan riba.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan seorang laki laki yang mengumpulkan ikatan kayu bakar dan memikulnya padahal dia tak mampu memikulnya, tapi dia terus menambah kayu yang dipikulnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah laki-laki dari umatmu, dia menerima amanat-amanat orang namun dia tak mampu untuk melaksanakannya dan dia ingin terus menambah amanah tersebut.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang lidah dan bibir bibir mereka di potong dengan pemotong dari besi. Setiap kali dipotong maka kembali seperti semula untuk terus disiksa, dan begitu seterusnya tanpa akhir. Maka Nabi saw berkata, “Siapa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “mereka adalah para penceramah dan pengkhutbah yang membawa fitnah dari umatmu, mereka berucap namun tak melaksanakannya.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum, mereka memiliku kuku-kuku dari tembaga, dengan kuku-kuku tersebut mereka merobek-robek wajah dan badan mereka. Maka Nabi saw berkata, “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril berkata, “mereka adalah orang-orang yang suka berghibah dan bergunjing (makan daging manusia), mereka menodai kehormatan orang lain dengan lisan mereka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan suatu lubang yang kecil. Keluar dari lubang itu kerbau yang amat besar, namun ketika kerbau itu ingin kembali ke dalam lubang kecil itu kerbau besar itu mampu. Kemudian Nabi berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini lelaki dari umatmu yang berbicara dengan ucapan yang besar, kemudian dia menyesali ucapan tersebut, namun ucapannya tidak bisa ditarik kembali.” Di perjalanan Nabi saw melalui suatu lembah yang di situ tercium wangi yang harum, dingin dan wangi misik serta terdengar suara merdu nan indah. Nabi Saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah suara surga dan surga itu berseru, Wahai Tuhan-Ku datangkanlah kepadaku apa yang engkau janjikan kepadaku karena sungguh sudah banyak kamar-kamarku, sutera tebalku, pakaian dari sutera-sutera yang halus, dan permadaniku, mutiara, marjan, perak, emas, piala-piala, piring-piring, cangkir-cangkir, serta kendaraan-kendaraan, madu, air, susu,dan arakku. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Untukmu wahai surga seluruh orang-orang muslim dan muslimah, mukmin dan mukminah, dan orang–orang yang beriman kepada-Ku dan kepada para Rasul-Ku dan mengerjakan amal sholeh sedang ia tidak menyekutukan-Ku dan tidak menjadikan selain-Ku sebagai Tuhan dan sembahannya. Sesungguhnya setiap orang yang takut kepada-Ku maka dia selamat, dan orang yang berharap kepada-Ku, Aku beri. Barang siapa yang memberikan pinjaman hutang karena Aku maka Aku yang akan mengganjarnya, dan barang siapa yang bertawakkal kepada-Ku, Aku cukupkan. Sesungguhnya Aku adalah Allah tiada tuhan selain-Ku. Aku tidak akan mengingkari janji, sungguh beruntung orang -orang mukmin. Maha Suci Allah sebaik-baiknya pencipta. Surga berkata, Ya Allah, sungguh aku puas dan ridho dengan janji-Mu. Di perjalanan Nabi saw melalui suatu lembah yang terdengar suara yang sangat memekik dan menakutkan serta tercium bau yang amat sangat busuk. Nabi saw berkata, “apa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab, “ini adalah suara jahannam.” Jahannam berkata, “wahai Tuhan-Ku datangkan kepadaku apa yang engkau janjikan kepadaku, karena sungguh telah banyak rantai-rantaiku serta belengguku, kobaran api ku, air panasku, duri besarku, cairan busukku, adzabku, dan sungguh sangat dalam dasarku, dan sangat panas apiku, maka datangkanlah padaku apa yang Engkau janjikan.” Maka Allah berfirman kepadanya, “Untukmu wahai neraka, orang-orang yang menyekutukan Aku dari kaum laki-laki dan perempuan, orang kafir laki-laki dan perempuan, dan setiap laki laki dan perempuan yang buruk, dan setiap orang yang sombong yang tidak beriman pada hari perhitungan.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan Dajjal dalam bentuk aslinya, dengan mata penglihatan yang nyata bukan dalam mimpi. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau melihatnya?” Rasulullah saw berkata, “Dia tinggi besar, sangat putih sekali, di antara salah satu matanya seperti bintang yang berkilau, rambutnya seperti dahan-dahan pohon, menyerupai Abdul ‘Uzza bin Qoton (seorang tokoh arab yang wafat pada zaman Jahiliyah). Rasulullah saw melihat tiang yang putih bercahaya seperti permata dipikul oleh para malaikat. Nabi saw berkata, “Apa yang kalian bawa?” mereka berkata, “ini adalah tiang Islam, kami di perintah untuk meletakkannya di Syam.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh suatu seruan yang memanggilnya dari arah kanan, “Wahai Muhammad! lihatlah aku, aku ingin bertanya kepadamu.” Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah seruan seorang Yahudi, apabila engkau menjawab seruannya maka umatmu akan mengikuti kaum Yahudi.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh suatu seruan yang memanggil dari arah kiri, “Wahai Muhammad! lihatlah aku, aku ingin bertanya kepadamu.” Maka Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril? Jibril berkata, “ini adalah seruan seorang Nasrani, apabila engkau menjawab seruannya maka umatmu akan mengikuti kaum Nasrani.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh seorang wanita yang terbuka lengannya dan lengannya dipenuhi dengan segala macam perhiasan yang pernah Allah ciptakan. Maka wanita itu berkata, “Wahai Muhammad! lihatlah kepadaku, aku ingin bertanya kepadamu.” Maka Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “itu adalah dunia, apabila engkau menjawab seruannya maka umatmu akan memilih dunia yang hina dari pada akhirat.” Kemudian di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh seorang yang sudah tua, “Kemarilah wahai Muhammad!” Jibril berkata, “terus jalan wahai Muhammad.” Nabi saw bertanya, “Siapa itu wahai Jibril?” Jibril berkata, “itu adalah iblis musuh Allah, dia menginginkan engkau condong terhadapnya.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh seorang nenek tua di pinggir jalan, “Wahai Muhammad! lihatlah kepadaku aku ingin bertanya.” Maka Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “sesungguhnya tidak tersisa dari umur dunia melainkan apa yang tersisa dari umur nenek tua itu.” ***bersambung*** Disarikan dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="962" name="Kisah Isra Mi’raj #04 “Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi”"]

Kisah Isra Mi’raj #03 “Melihat Berbagai Peristiwa”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Melihat Berbagai Peristiwa Lalu didatangkan Buroq yang indah serta berpelana dan bertali kekang. Buroq adalah hewan yang berwarna putih yang lebih tinggi...

KISAH NABI YUSUF #18 (Penutup) “DERITA BERAKHIR BAHAGIA”

Oleh : KH. Salim Azhar (Pengasuh PP. Sunan Sendhang, Paciran, Lamongan As Sadi menuturkan :Ketika masa kelaparan menyelimuti bumi Mesir, datanglah Zulaikha,Ia menghadap Yusuf dengan...

Belajar Ihsan dari Hasan al Bashri dan Muhammad bin Al Munkadir

Oleh Asnawi Muallim Misan Khadim Majelis Zikir Al Hikmah Depok Dalam Kitab Ihya Ulumiddin,  Bab Adabul Kasbi wal Maasyi Sub Bab Fil Ihsan Fil Muamalah...