Serba Serbi Islam

Islam Lokal

MEMADUKAN NILAI UNIVERSAL DAN LOKAL ISLAM

kalamulama.com - Memadukan Nilai Universal dan lokal Islam Oleh Prof. Nadirsyah Hosen Sepanjang sejarah Islam dari masa Nabi Muhammad sampai sekarang, Islam mengandung nilai-nilai universal dan...

ISLAM KITA MENYATUKAN, BUKAN MEMECAH BELAH UMMAT

Disampaikan Oleh: Habib Umar bin Hafidz dalam acara Jalsatuddu'at Pertama di JIC (Jakarta Islamic Center) Jakarta Utara, Ahad malam Senin 15 Oktober 2017 M Alhamdulillah...
doa para nabi

Doa Para Nabi (عليهم السلام)

kalamulama.com- Allah telah mengabulkan doa para Nabi. Maka kita pun diperkenankan berdoa dengan doa para Nabi yang terdapat dalam Al-Qur'an: - Doa Nabi Adam رَبَّنَا ظَلَمْنَا...

Nasihat Maulana Rumi pada anaknya Syekh Bahauddin Walad

Oleh : Muhammad Nur Jabir Jika kau ingin selalu berada di Sorga, cintailah semua orang. Jangan pernah ada kebencian sekecil apapun di dalam hatimu, Sebab jika...

Teladan Hikmah Sang Guru Besar

*Al Alim Allamah Al Arifbillah As-Syaikh Abdullah Bin Bayah* (Teladan Hikmah Sang Guru Besar) -------------------------------------------------- ~ Semakin Tahu, Semakin Malu “Sepanjang perjalanan ilmiah Anda, saya belum pernah sekalipun...
KalamUlama.com - Imam Syafi'i berkata : kehebatan seseorang terdapat pada tiga perkara Kemampuan menyembunyikan kemelaratan,

3 Ciri-Ciri Kehebatan Seseorang Menurut Imam Syafi’i

KalamUlama.com - Imam Syafi'i berkata : kehebatan seseorang terdapat pada tiga perkara : ● كتمان الفقر: حتى يظن الناس من عفتك أنك غني 1. Kemampuan menyembunyikan kemelaratan, sehingga...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Melihat Berbagai Peristiwa [irp posts="980" name="Kisah Isra’ Mi’raj #02 “Perjalanan di Tahun Duka”"] Lalu didatangkan Buroq yang indah serta berpelana dan bertali kekang. Buroq adalah hewan yang berwarna putih yang lebih tinggi dari keledai dan lebih kecil dari baghal (hasil perkawinan antara kuda dan keledai). Langkahnya sejauh mata memandang, memiliki dua telinga yang panjang. Apabila mendaki gunung maka terangkat tinggi kaki belakangnya, dan jika dia turun maka terangkat tinggi kaki depannya. Memiliki dua sayap di pinggulnya yang membantu kakinya agar lebih cepat. Pada saat Rasul ingin menaikinya, Buroq pun berontak untuk dinaiki oleh Rasulullah Saw. Jibril meletakan tangannya ke buraq, lalu berkata, “tidakkah kau malu wahai buroq!! demi Allah tidak ada yang menaikimu seorang makhluk yang lebih mulia darinya.” Maka Buroq pun tenang dan merasa malu sehingga keringatnya membasahi tubuhnya, lantas Rasulullah pun menaikinya. Buroq adalah kendaraan para anbiya sebelum Rasulullah saw. Rasulullah saw berjalan dan Jibril berada di sebelah kanannya dan Mikail di sebelah kirinya. Ibnu sa’ad berkata : bahwa yang memegang pelananya adalah Jibril, dan yang memegang tali kekangnya adalah Mikail. Maka berjalanlah Rasulullah saw dan Jibril hingga sampai pada belantara yang dipenuhi kebun kurma. Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”, maka Rasulullah saw pun shalat lalu naik Buroq kembali. Jibril bertanya, “Ya Rasulullah, tahukah dimana engkau shalat tadi?”. Rasul menjawab, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di Thaybah (kota Madinah) dan ke situlah kelak kau akan berhijrah.” Buroq pun berjalan dengan cepat bagaikan kilat, serta melangkahkan telapak kakinya sejauh pandangan mata. Lalu Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”. Maka Rasulullah pun shalat lalu menaiki Buroq kembali.Jibril bertanya, “Ya Rasulullah, tahukah dimana tadi engkau shalat?”. Rasul menjawab, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di kota Madyan di suatu pohon yang dahulu Nabi Musa pernah berteduh di situ.” Buroq pun berjalan dengan cepat bagaikan kilat, lalu Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”. Maka Rasulullah pun shalat lalu menaiki Buroq kembali. Jibril berkata, “Ya Rasulullah, tahukah dimana tadi engkau shalat? Rasul menjawab, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di bukit Tursina dimana dahulu Nabi Musa bermunajat dengan Allah subhanahu wa ta’ala.” Lantas sampailah Rasulullah saw dan Jibril hingga ke suatu tempat yang tampak darinya istana dan bangunan-bangunan negeri Syam. Jibril berkata, “turunlah dan shalat di sini”, maka rasul pun shalat dan naik Buroq kembali, dan Buroq pun berjalan dengan cepat secepat kilat. Lalu Jibril berkata, “Taukah engkau dimana tadi engkau shalat?”. Rasul berkata, “tidak”. Jibril berkata, “tadi engkau shalat di Bait Lahm, ditempat itulah Nabi Isa di lahirkan.” Tatkala di perjalanan Rasul melihat jin ifrit mengincar beliau sambil membawa api, setiap Rasul menengok pasti ifrit berada di hadapannya. Jibril berkata kepada Rasulullah saw, “maukah engkau aku ajarkan suatu kalimat, apabila engkau mengucapkannya maka akan padam apinya dan dia akan jatuh tersungkur pada wajahnya?”. Maka berkata Rasulullah saw, “ajarkan aku wahai Jibril.” Jibril berkata : “Aku berlindung dengan kemuliaan Allah Yang Maha Dermawan dan dengan firman-firman Allah yang sempurna yang tidak bisa ditembus oleh orang baik maupun orang jahat, dari keburukkan yang turun dari langit, dan dari keburukkan yang naik ke langit, dan dari keburukkan makhluk yang ada di bumi, dan dari keburukan yang keluar dari bumi, dan dari fitnah siang dan malam, dan dari kejadian yang datang tiba-tiba di siang dan malam, kecuali sesuatu kejadian yang datang membawa kebaikan, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih” Ifrit langsung tersungkur jatuh serta padam apinya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai kepada suatu kaum yang sedang menanam benih dan pada saat itu pun benih yang ditanam langsung panen seketika, setiap dipanen kembali tumbuh seperti semula untuk dipanen kembali dengan seketika. Rasul bertanya, “Wahai Jibril apa ini?”, Jibril berkata, “mereka adalah para Mujahid di jalan Allah, dilipat gandakan kebaikan mereka hingga tujuh ratus kali lipat, dan apapun yang mereka infaqkan di jalan Allah maka Allah akan menggantikannya dan mengganjarnya.” Di tengah perjalanan Rasulullah saw mencium bau yang amat wangi. Rasul bertanya, “Wangi apa ini wahai Jibril?”. Jibril menjawab, “ini adalah wanginya seorang wanita mulia dan anak-anaknya. Dia adalah penyisir rambut putri fir’aun.” Dikisahkan tatkala wanita mulia ini sedang menyisirkan rambut putri fir’aun, pada saat itu sisirnya terjatuh, maka wanita mulia ini pun berkata, “dengan nama Allah dan celakalah fir’aun”, Maka putri fir’aun pun terperanjat dan berkata, “apakah engkau mempunyai tuhan selain ayahku?”. Maka ia menjawab, “iya”. Putri fir’aun dengan murka berkata, “apakah engkau ingin aku laporkan kepada ayahku?” Wanita mulia ini pun menjawab, “silahkan”. Maka dilaporkanlah kejadian ini kepada fir’aun, maka fir’aun pun memanggilnya dan fir’aun dengan murka berkata, “apakah engkau bertuhan kepada selain aku?” Wanita mulia ini dengan tegas menjawab, “iya, tuhanku dan tuhanmu adalah Allah Ta’ala.” Wanita mulia ini mempunyai dua orang anak dan suami. fir’aun mengutus kepada mereka untuk menyiksa mereka semua agar bertuhan kepada fir’aun, maka mereka menolaknya. fir’aun berkata, “sungguh aku akan membunuh kalian semua”, maka wanita mulia itu berkata, “lakukanlah apa yang engkau ingin lakukan terhadap kami, namun sebagai balasan dari pelayanan yang selama ini kami lakukan untuk putrimu, apabila engkau membunuh kami, jadikanlah kami dalam satu tempat yang sama, dan kubur kami setelah itu dalam satu kuburan yang sama”. Maka fir’aun memerintahkan budaknya untuk menyiapkan penggorengan raksasa dari tembaga berisi minyak yang dipanaskan, kemudian perempuan dan anak-anak nya dipaksa untuk melempar diri mereka satu persatu masuk ke dalam penggorengan tersebut. Satu persatu dilemparkan ke dalam penggorengan dan seketika hangus terpanggang hingga sampai kepada bayinya yang paling kecil dari yang masih menyusu. Saat itu wanita ini tidak tega jika melihat bayinya yang kecil ini akan dilemparkan ke dalam penggorengan panas, namun tiba-tiba berbicaralah bayi itu dengan suara lantang dan jelas penuh kelembutan kepada ibunya, “wahai ibu, tenanglah, jangan engkau ragu karena engkau berada dalam kebenaran”. Wanita mulia ini dan anaknya di lemparkan ke dalam penggorengan raksasa berisi minyak yang sudah di panaskan. Al Allamah As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki berkata, “sesungguhnya ada empat bayi yang berbicara: yang pertama adalah kisah ini, kedua saksi nabi Yusuf, ketiga kisah Juraij, keempat Nabi Isa bin Maryam.” Nabi saw melanjutkan perjalanannya hingga menyaksikan sekelompok kaum yang kepala mereka dihancurkan dengan batu. Setiap kali dihancurkan kembali seperti keadaan semula untuk dihancurkan kembali, begitu seterusnya tanpa akhir. Nabi saw berkata, “wahai Jibril siapa mereka?.” Jibril berkata, “mereka orang-orang yang kepalanya berat sekali untuk melakukan sholat lima waktu.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang menutupi kemaluan dan dubur mereka dengan sehelai daun. Mereka digembalakan sebagaimana unta dan kambing digembalakan namun yang mereka makan adalah pohon-pohon yang berduri, buah yang pahit dan bara api jahannam yang panas beserta batunya. Nabi saw berkata, “siapa mereka?” Jibril berkata, “mereka adalah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat dan sedekah dari harta-harta mereka, dan Allah tidak mendzhalimi kepada mereka sama sekali.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang di hadapan mereka terdapat daging yang bagus di dalam sebuah wadah, serta daging bangkai yang jelek dan menjijikkan di wadah yang lain, namun ternyata mereka memilih untuk memakan daging bangkai yang jelek dan meninggalkan yang bagus. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab, “ini laki-laki dari umatmu dia punya perempuan yang halal dan baik tapi dia mendatangi perempuan yang tidak halal baginya, dan menginap di tempatnya hingga waktu subuh. Juga perempuan dari umatmu dia punya laki-laki yang halal dan baik tapi dia mendatangi laki laki yang tidak halal baginya, dan menginap di tempatnya hingga waktu subuh.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sebatang pohon di jalanan, tidak ada apapun yang melewati batang pohon tersebut baik itu pakaian atau sesuatu apapun kecuali kayu tersebut merobeknya. Maka Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah perumpamaan kaum dari umatmu, mereka duduk di jalan dan mereka memotong orang yang berjalan dan mengganggunya, kemudian Jibril membacakan suatu ayat Al Qur’an: “Dan janganlah kalian duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalangi dari jalan Allah.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan seorang laki-laki berenang di sungai darah sambil dirajam dan dilempari dengan batu. Maka Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah perumpamaan orang yang memakan riba.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan seorang laki laki yang mengumpulkan ikatan kayu bakar dan memikulnya padahal dia tak mampu memikulnya, tapi dia terus menambah kayu yang dipikulnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah laki-laki dari umatmu, dia menerima amanat-amanat orang namun dia tak mampu untuk melaksanakannya dan dia ingin terus menambah amanah tersebut.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang lidah dan bibir bibir mereka di potong dengan pemotong dari besi. Setiap kali dipotong maka kembali seperti semula untuk terus disiksa, dan begitu seterusnya tanpa akhir. Maka Nabi saw berkata, “Siapa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “mereka adalah para penceramah dan pengkhutbah yang membawa fitnah dari umatmu, mereka berucap namun tak melaksanakannya.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum, mereka memiliku kuku-kuku dari tembaga, dengan kuku-kuku tersebut mereka merobek-robek wajah dan badan mereka. Maka Nabi saw berkata, “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril berkata, “mereka adalah orang-orang yang suka berghibah dan bergunjing (makan daging manusia), mereka menodai kehormatan orang lain dengan lisan mereka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan suatu lubang yang kecil. Keluar dari lubang itu kerbau yang amat besar, namun ketika kerbau itu ingin kembali ke dalam lubang kecil itu kerbau besar itu mampu. Kemudian Nabi berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini lelaki dari umatmu yang berbicara dengan ucapan yang besar, kemudian dia menyesali ucapan tersebut, namun ucapannya tidak bisa ditarik kembali.” Di perjalanan Nabi saw melalui suatu lembah yang di situ tercium wangi yang harum, dingin dan wangi misik serta terdengar suara merdu nan indah. Nabi Saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah suara surga dan surga itu berseru, Wahai Tuhan-Ku datangkanlah kepadaku apa yang engkau janjikan kepadaku karena sungguh sudah banyak kamar-kamarku, sutera tebalku, pakaian dari sutera-sutera yang halus, dan permadaniku, mutiara, marjan, perak, emas, piala-piala, piring-piring, cangkir-cangkir, serta kendaraan-kendaraan, madu, air, susu,dan arakku. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Untukmu wahai surga seluruh orang-orang muslim dan muslimah, mukmin dan mukminah, dan orang–orang yang beriman kepada-Ku dan kepada para Rasul-Ku dan mengerjakan amal sholeh sedang ia tidak menyekutukan-Ku dan tidak menjadikan selain-Ku sebagai Tuhan dan sembahannya. Sesungguhnya setiap orang yang takut kepada-Ku maka dia selamat, dan orang yang berharap kepada-Ku, Aku beri. Barang siapa yang memberikan pinjaman hutang karena Aku maka Aku yang akan mengganjarnya, dan barang siapa yang bertawakkal kepada-Ku, Aku cukupkan. Sesungguhnya Aku adalah Allah tiada tuhan selain-Ku. Aku tidak akan mengingkari janji, sungguh beruntung orang -orang mukmin. Maha Suci Allah sebaik-baiknya pencipta. Surga berkata, Ya Allah, sungguh aku puas dan ridho dengan janji-Mu. Di perjalanan Nabi saw melalui suatu lembah yang terdengar suara yang sangat memekik dan menakutkan serta tercium bau yang amat sangat busuk. Nabi saw berkata, “apa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab, “ini adalah suara jahannam.” Jahannam berkata, “wahai Tuhan-Ku datangkan kepadaku apa yang engkau janjikan kepadaku, karena sungguh telah banyak rantai-rantaiku serta belengguku, kobaran api ku, air panasku, duri besarku, cairan busukku, adzabku, dan sungguh sangat dalam dasarku, dan sangat panas apiku, maka datangkanlah padaku apa yang Engkau janjikan.” Maka Allah berfirman kepadanya, “Untukmu wahai neraka, orang-orang yang menyekutukan Aku dari kaum laki-laki dan perempuan, orang kafir laki-laki dan perempuan, dan setiap laki laki dan perempuan yang buruk, dan setiap orang yang sombong yang tidak beriman pada hari perhitungan.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan Dajjal dalam bentuk aslinya, dengan mata penglihatan yang nyata bukan dalam mimpi. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau melihatnya?” Rasulullah saw berkata, “Dia tinggi besar, sangat putih sekali, di antara salah satu matanya seperti bintang yang berkilau, rambutnya seperti dahan-dahan pohon, menyerupai Abdul ‘Uzza bin Qoton (seorang tokoh arab yang wafat pada zaman Jahiliyah). Rasulullah saw melihat tiang yang putih bercahaya seperti permata dipikul oleh para malaikat. Nabi saw berkata, “Apa yang kalian bawa?” mereka berkata, “ini adalah tiang Islam, kami di perintah untuk meletakkannya di Syam.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh suatu seruan yang memanggilnya dari arah kanan, “Wahai Muhammad! lihatlah aku, aku ingin bertanya kepadamu.” Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “ini adalah seruan seorang Yahudi, apabila engkau menjawab seruannya maka umatmu akan mengikuti kaum Yahudi.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh suatu seruan yang memanggil dari arah kiri, “Wahai Muhammad! lihatlah aku, aku ingin bertanya kepadamu.” Maka Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril? Jibril berkata, “ini adalah seruan seorang Nasrani, apabila engkau menjawab seruannya maka umatmu akan mengikuti kaum Nasrani.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh seorang wanita yang terbuka lengannya dan lengannya dipenuhi dengan segala macam perhiasan yang pernah Allah ciptakan. Maka wanita itu berkata, “Wahai Muhammad! lihatlah kepadaku, aku ingin bertanya kepadamu.” Maka Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “itu adalah dunia, apabila engkau menjawab seruannya maka umatmu akan memilih dunia yang hina dari pada akhirat.” Kemudian di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh seorang yang sudah tua, “Kemarilah wahai Muhammad!” Jibril berkata, “terus jalan wahai Muhammad.” Nabi saw bertanya, “Siapa itu wahai Jibril?” Jibril berkata, “itu adalah iblis musuh Allah, dia menginginkan engkau condong terhadapnya.” Di perjalanan Nabi saw dipanggil oleh seorang nenek tua di pinggir jalan, “Wahai Muhammad! lihatlah kepadaku aku ingin bertanya.” Maka Rasulullah saw tidak menjawabnya. Nabi saw berkata, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata, “sesungguhnya tidak tersisa dari umur dunia melainkan apa yang tersisa dari umur nenek tua itu.” ***bersambung*** Disarikan dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="962" name="Kisah Isra Mi’raj #04 “Nabi Muhammad Bertemu dengan Para Nabi”"]

Kisah Isra Mi’raj #03 “Melihat Berbagai Peristiwa”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Melihat Berbagai Peristiwa Lalu didatangkan Buroq yang indah serta berpelana dan bertali kekang. Buroq adalah hewan yang berwarna putih yang lebih tinggi...
kalamulama.com - AISYAH RA DAN SIKAP KRITIS DALAM BERAGAMA مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ “Siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang atau penutup dari api neraka.” Ini adalah salah satu hadis riwayat Aisyah Ra yang merefleksikan kondisi perempuan ketika itu, antara lain penguburan bayi-bayi perempuan hidup-hidup karena dianggap sebagai aib bagi keluarga sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur'an dalam QS. An-Nahl/16:58-59. Ini juga mengapa, menurut Imam Nawawi, hadis di atas menggunakan kata ibtalaa (menguji). Namun Aisyah Ra adalah perempuan istimewa karena sejak lahir dididik oleh sahabat Nabi pilihan yang menjadi ayahnya, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. Setelah menikah kemudian langsung belajar dari Rasulullah Saw. yang menjadi suaminya. Kedekatannya dengan dua pria terkemuka dalam Islam ini memberi pengaruh pada pengetahuannya yang mendalam tentang ajaran Islam. Di samping diakui dalam bidang tafsir, hadis, dan fiqh, beliau juga dikenal pula sebagai ahli sastra, nasab, dan pengobatan. Tidak mengherankan jika beliau menjadi tempat bertanya para sahabat, guru para tabi'in, dan rujukan para ulama hingga kini. Kedudukan sebagai isteri Rasulullah Saw. memungkinkannya untuk menjadi bagian langsung sejarah al-Qur’an, menyaksikan turunnya ayat, mendengarkan penjelasan Rasulullah Saw. atas maksud ayat, menyaksikan dialog antara Rasulullah Saw dengan para sahabat, para tabib yang mengobati Rasululullah Saw, dan kesempatan emas lainnya. Aisyah Ra masih hidup cukup lama setelah Rasulullah Saw wafat, bahkan mengalami masa kekhalifahan Khulafa' ar-Rasyidin hingga Muawiyah. Hal ini memungkinkan Aisyah menyebarkan pengetahuannya tentang Islam. Tidak mengherankan jika otoritasnya diakui di kalangan ulama. Al-Hakim dalam al-Mustadrak mengatakan bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dari Aisyah. Abu Musa al-Asya’ari berkata, “Setiap kali kami menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada Aisyah.” Ayat al-Qur'an yang turun langsung berkaitan dengan Aisyah Ra adalah QS. An-Nur/24:11 sebagai berikut: إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Ayat di atas turun berkaitan dengan tuduhan bahwa Aisyah Ra melakukan perselingkuhan dengan Shafwan bin Mu'thil. Ketika itu Aisyah Ra sedang menyertai Rasulullah Saw dalam perang Bani al-Musthaliq. Setelah kaum muslimin selesai memetik kemenangan, Rasulullah dan para sahabat pun kembali ke Madinah. Dalam perjalanan, mereka beristirahat di sebuah tempat. Pada malam harinya, Rasulullah melanjutkan perjalanan pulang dan menyangka Aisyah sudah berada di dalam sekedup untanya setelah buang hajat. Padahal dia keluar kembali untuk mencari-cari kalung di lehernya yang jatuh dan hilang. Setelah ditemukan, Aisyah kembali ke pasukan dan alangkah kagetnya karena tidak ada seorang pun yang dia temukan. Aisyah tidak meninggalkan tempat itu, dan mengira bahwa penuntun unta akan tahu bahwa dirinya tidak berada di dalamnya, sehingga mereka pun akan kembali ke tempat semula. Ketika Aisyah tertidur, lewatlah Shafwan bin Mu’thil yang terheran-heran melihat Aisyah tidur. Dia pun mempersilakan Aisyah menunggangi untanya dan dia menuntun di depannya. Tuduhan selingkuh pun tersebar yang disulut oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Ayat di atas kemudian turun untuk menegaskan bahwa tuduhan keji terhadap Aisyah Ra itu tidak benar adanya. Di samping menjadi bagian dari sejarah turunnya ayat al-Qur'an, Aisyah Ra juga banyak menyaksikan turunnya ayat-ayat al-Qur'an. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya riwayat asbabun nuzul yang bersumber darinya. Dr. ‘Abdullah Abu al-Su’ud Badr telah mengumpulkan riwayat-riwayat ini dalam sebuah karya yang berjudul Tafsir Umm al-Mu’minin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Salah satunya adalah penjelasannya tentang ayat poligami (an-Nisa/4:3) yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim serta dikutip oleh mufasir ath-Thabari. Menurut Aisyah Ra, ayat ini turun berkaitan dengan seorang laki-laki yang menjadi wali anak perempuan yatim. Wali tersebut tertarik pada kecantikan dan hartanya sehingga ingin menikahinya dengan mahar yang rendah. Wali itu kemudian diperintahkan untuk berbuat adil dengan memberi mahar sewajarnya atau menikahi perempuan lain jika tidak bisa memperlakukannya dengan adil. Penuturan Aisyah Ra ini menegaskan pentingnya menekankan pesan keadilan pada perempuan dalam memahami ayat poligami. Pengetahuannya yang cukup luas tentang ayat al-Qur'an membuat Aisyah cukup sensitif terhadap ucapan para sahabat yang disandarkan pada Rasulullah Saw. Tidak jarang dia meluruskan periwayatan para sahabat yang diyakininya keliru karena bertentangan dengan ayat al-Qur'an. Misalnya ketika Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah bersabda seorang mayat akan disiksa karena tangisan keluarganya. Ketika mendengar berita dari Ibnu Umar tersebut, Aisyah Ra meluruskan bahwa peristiwa yang sebenarnya adalah Nabi Saw melewati sebuah kuburan kemudian bersabda bahwa mayat di dalam kuburan tersebut sedang disiksa. Sementara itu pada saat yang sama keluarganya sedang menangisinya. Aisyah menegaskan bahwa dua peristiwa yang terjadi bersamaan tersebut yakni disiksanya seorang mayat dan tangisan keluarganya tidak mempunyai hubungan sebab akibat dengan mengingatkan ayat al-Qur'an yang menegaskan bahwa tidak seorang pun menanggung dosa akibat perbuatan orang lain" (HR. Abu Daud). Ayat tersebut ada di empat tempat dalam al-Qur'an, yaitu QS. Al-An'an/6:164, Fathir/35:18, az-Zumar/39:7, dan an-Najm/53:38. Di samping banyak menyaksikan peristiwa turunnya ayat al-Qur'an, Aisyah Ra juga banyak mengalami dan menyaksikan langsung ucapan, tindakan, dan ketetapan Rasulullah Saw. Pengetahuannya yang luas tentang hal ini juga membuatnya peka terhadap ucapan sahabat yang dinilainya tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Misalnya peristiwa yang tersirat dalam periwayatan berikut ini: عن مسروق عن عائشة. وذكر عندها ما يقطع الصلاة. الكلب والحمار والمرأة. فقالت عائشة: قد شبهتمونا بالحمير والكلاب. والله! لقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي وإني على السرير. بينه وبين القبلة مضطجعة. فتبدو لي الحاجة. فأكره أن أجلس فأوذي رسول الله صلى الله عليه وسلم. فأنسل من عند رجليه. Dari Masrûq dari Aisyah:, “Disebut-sebut di hadapan Aisyah bahwa yang membatalkan shalat adalah anjing, keledai dan wanita, maka Asiyah berkata, “Kalian telah menyamakan kami (kaum perempuan) dengan keledai-keledai dan anjing-anjing. Demi Allah aku menyaksikan Rasulullah saw. sedang shalat dan ketika itu aku berada di tempat tidurku tepat di antara beliau dan arah kiblat, aku sedang telentang, lalu aku butuh sesuatu, aku tidak ingin bangun khawatir menggangu Rasulullah saw., lalu aku menarik dari sisi kedua kaki beliau.” Dalam riwayat di atas Aisyah langsung menolak kebenaran ungkapan seorang sahabat bahwa anjing, keledai, dan perempuan dapat membatalkan shalat dengan dua alasan. Pertama, menyamakan perempuan dengan anjing dan keledai sebagai sesuatu yang diyakininya tidak mungkin dilakukan oleh Rasulullah Saw. yang sangat menghormati perempuan. Kedua, ungkapan tersebut tidak sesuai dengan pengalamannya di mana beliau pernah berada di depan Rasulullah Saw sedangkan beliau tetap melanjutkan shalatnya. Pendapat Aisyah Ra tentang perempuan sangat penting untuk dijadikan rujukan mengingat posisi mereka dalam masyarakat Arab ketika itu sangat rendah. Pandangan yang merendahkan perempuan tidak jarang dapat dijumpai dalam periwayatan hadis meskipun dalam banyak kesempatan Rasulullah Saw banyak mengingatkan pentingnya bersikap baik pada perempuan. Di sinilah pentingnya meneladani sikap kritis Aisyah Ra dalam memahami apa saja yang diklaim sebagai ajaran Islam, terutama saat sekarang di mana apa yang dipahami sebagai ajaran Islam oleh satu kelompok bisa bertentangan dengan ajaran Islam yang dipahami oleh kelompok lainnya. Pengetahuan yang luas tentang sumber ajaran Islam, baik al-Qur'an maupun hadis-hadis Rasulullah Saw, dan kemampuan mengintegrasikannya dengan pengalaman riil sebagaimana ditunjukkan Aisyah Ra menjadi sebuah keniscayaan agar kita bisa menangkap substansi ajaran Islam yang betul-betul mencerminkan keagungannya dan terhindar dari kebencian dan penghinaan atas nama Islam pada sesama manusia, terutama pada perempuan. Wallahu A'lam! (Artikel pernah dimuat di Buletin PP FNU) Pamulang, 8 April 2020 Salam Sweet, Nur Rofiah

AISYAH RA DAN SIKAP KRITIS DALAM BERAGAMA

kalamulama.com - AISYAH RA DAN SIKAP KRITIS DALAM BERAGAMA مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ “Siapa yang diuji dengan...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit  [irp posts="935" name="Kisah Isra Mi’raj #6 “Dibukanya Pintu Langit”"] Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit kelima, Nabi saw bertemu dengan Nabi Harun as. Nabi Harun setengah dari jenggotnya berwarna putih dan setengahnya lagi berwarna hitam, dan hampir-hampir panjangnya hingga ke pusar. bersamanya sekelompok kaumnya dari Bani Israil dan Nabi Harun sedang asyik berbincang dan bercerita dengan mereka. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Harun menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Harun mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Muhammad saw bertanya, “Siapa beliau wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Beliau adalah seorang lelaki yang di cintai oleh kaumnya, yaitu Nabi Harun bin Imran as”. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke enam. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit keenam, di perjalanan Nabi saw menyaksikan para nabi dan rasul bersama dengan umat mereka masing-masing. Beberapa dari mereka yang hanya memiliki kurang dari sepuluh pengikut, beberapa yang lain yang pengikutnya puluhan, beberapa yang lain yang pengikutnya banyak dan beberapa lainnya yang tidak punya sakalipun satu pengikut. Kemudian Nabi saw melewati suatu kelompok yang sangat besar yang memenuhi ufuk langit, maka Nabi saw bertanya, “Kaum siapakah ini?”Jibril menjawab, “itu adalah Nabi Musa beserta kaumnya, tapi angkatlah kepalamu ya Muhammad,” maka Nabi saw melihat sekelompok kaum yang jauh lebih banyak dan besar telah memenuhi ufuk langit dari berbagai sisinya. Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “mereka adalah umatmu dan masih belum termasuk yang tujuh puluh ribu dari umatmu yang akan masuk surga tanpa dihisab.” Setelah menyaksikan para nabi dan rasul beserta kaum mereka masing-masing, Nabi Muhammad saw bertemu dengan Nabi Musa bin Imran as, dan tubuh beliau berwarna putih kemerahan, seperti seorang dari suku Asy Syanuah, berbulu lebat, seandainya dia memakai dua gamis maka terlihat bulunya. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Musa menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh,” lalu Nabi Musa mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Musa berkata, “Manusia mengira bahwa aku adalah manusia yang paling mulia di sisi Allah, namun ternyata dialah (Rasulallah) yang lebih mulia dariku di sisi Allah.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan Nabi Musa menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuat engkau menangis?” Nabi musa menjawab, “Aku menangis karena sesungguhnya ada seorang pemuda yang diutus setelahku dan masuk ke surga dari umatnya lebih banyak dari pada umatku. Kaum Bani Israil menyangka sesungguhnya aku adalah anak Adam yang paling mulia dihadapan Allah namun kenyataannya Rasulullah saw adalah dari keturunan Adam menggantikanku di dunia dengan kemulian agungnya di sisi Allah sedangkan aku di akhirat. Jikalau hanya dia seorang yang mengungguliku dalam kemuliaan di sisi Allah sungguh aku tidak menghiraukannya, akan tetapi umatnya pun bersamanya dalam mengungguli kemuliaan di sisi Allah.” Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke tujuh. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj)?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit ke tujuh, Nabi saw bertemu dengan Nabi Ibrahim Al Kholil sang sahabat Allah, yang duduk di pintu surga di atas kursi emas, sambil menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur bersama sekelompok orang dari kaumnya. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Ibrahim menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai putraku yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Ibrahim berkata, “Perintahkanlah kepada umatmu supaya memperbanyak menanam pohon surga, karena sesungguhnya tanah surga sangat luas, subur dan bagus.” Maka Nabi saw bertanya, “Apakah pohon surga itu?” Nabi ibrahim menjawab, “pohon surga itu adalah kalimat Di dalam riwayat lain, “Sampaikan kepada umatmu salam, dan berilah kabar dariku kepada umatmu sesungguhnya surga itu bagus dan subur tanahnya, tawar dan segar airnya dan sesungguhnya pohon surga itu adalah kalimat Di tempat itu Nabi Muhammad saw menyaksikan sekelompok kaum yang sedang duduk, amat putih wajah mereka seperti putihya kertas, dan sekelompok kaum yang lain warna mereka tidak seputih kelompok yang tersebut, seakan warna mereka ada sesuatu. Kemudian mereka (kelompok kedua) masuk ke suatu sungai lalu mereka mandi di dalamnya sebanyak tiga kali, dan usai mandi pertama mereka keluar dari sungai dan sesuatu pada warna mereka telah berubah menjadi putih, kemudian mereka mauk kembali ke sungai untuk mandi yang kedua kalinya, dan usai mandi kedua warna mereka menjadi bersih dari noda, kemudian mereka masuk lagi ke sungai untuk mandi ketiga kalinya dan usai mandi ketiga warna mereka menjadi putih sebagaimana kelompok pertama. Mereka datang dan duduk bersama kelompok pertama. Nabi saw bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu yang putih wajahnya, dan siapakah orang-orang yang seakan warna mereka ada sesuatu, dan sungai apakah ini yang mereka masuk dan mandi di dalamnya?” Maka Jibril menjawabnya, “adapun mereka itu yang putih wajahnya adalah kaum yang tidak bercampur iman mereka dengan kedzoliman, adapun mereka yang seakan warna mereka terdapat sesuatu adalah kaum yang mencampur amal kebaikan dengan kejelekan, kemudian mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka. Adapun sungai ini, yang pertama adalah rahmat Allah, yang kedua adalah nikmat Allah, dan yang ketiga adalah Allah memberi minum mereka dengan minuman yang suci.”Kemudian dikatakan kepada Nabi Muhammad saw, “ini adalah tempatmu dan tempat umatmu.” Tiba-tiba Nabi saw melihat umatnya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mereka mengenakan pakaian seperti kertas yang putih dan kelompok kedua mereka mengenakan pakaian yang keabu-abuan. Nabi saw masuk ke Baitul Ma’mur bersama orang-orang yang berpakaian putih dan orang-orang yang berpakaian keabu-abuan terhalang walau sebenarnya merekapun termasuk orang-orang yang dalam kebaikan. Nabi saw shalat bersama orang mu’min di dalam Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitul Ma’mur dan tidak pernah keluar lagi sampai hari kiamat. Sesungguhnya Baitul Ma’mur itu bersejajar dengan Ka’bah, sehingga jika ada batu yang jatuh dari Baitul Ma’mur pasti akan terjatuh di atas Ka’bah. Di dalam riwayat disebutkan bahwasanya disodorkan kepada Nabi Muhammad saw tiga wadah. Beliau mengambil wadah yang berisi susu dan Jibril membenarkan dan merestui pilihan Nabi Muhammad saw. Di dalam riwayat lain saat itu Jibril berkata, “ini adalah fitrahmu (kesucianmu) dan umatmu”. Dalam suatu hadits riwayat Al Imam Ath Thobroni dengan sanad yang shohih, “Ketika malam aku diisrakan, aku melalui dan menyaksikan Al Mala’ Al A’la, dan aku menyaksikan Jibril laksana pakaian usang karena rasa takutnya yang amat sangat besar kepada Allah.” ***bersambung*** Diambil dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. [irp posts="916" name="Kisah Isra Mi’raj #8 Nabi Muhammad Mencapai Sidratul Muntaha"]

Kisah Isra Mi’raj #7 “Dibukanya Pintu Langit (Lanjutan)”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit  Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”....
kalamulama.com- UTAMAKAN BELAJAR AKHLAK SEBELUM BELAJAR ILMU YANG LAIN Allah memuji Rasulullah صلى الله عليه وسلم karena kemulyaan akhlaknya. Allah berfirman, وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِیمࣲ. "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung."[Surat Al-Qalam: 4] Akhlak merupakan konsekwensi iman yang harus dijaga dan disempurkan. Ada beberapa penyebab menjadi jeleknya akhlak Sebagaimana dinasehatkan رحمه الله: ومنشأ جميع الأخلاق السافلة وبناؤها على أربعة أركان : الجهل ، والظلم , والشهوة ، والغضب “Sumber seluruh akhlak yang rendah dan bangunannya berdiri diatas empat rukun, Kebodohan (terhadap ilmu agama) Kezhaliman Hawa Nafsu Kemarahan Dengan demikiann, wajib bagi setiap muslim untuk belajar akhlak sebelum ilmu yang lain. Para ulama telah menyampaikan pentingnya belajar adab sebelum mempelajari ilmu. Berkata Imam Ibnul Mubarak رحمه الله, "طلبت الأدب ثلاثين سنةً, وطلبت العلم عشرين سنةً,  وكانوا يطلبون الأدب قبل العلم" Aku belajar adab 30 tahun, dan mencari ilmu 20 tahun. Mereka (para Salaf) mempelajari adab sebelum mencari ilmu. Beliau berkata: "كاد الأدب أن يكون ثُلُثي الدِّين" Hampir-hampir adab itu menjadi dua pertiga agama ini. "نحن إلى قليل من الأدب أحوج منا إلى كثير من العلم" Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyaknya ilmu. Al-Khotib meriwayatkan dalam kitabnya Al-Jami' secara bersambung dari Imam Malik bin Anas, قال ابن سيرين: Berkata Imam Ibnu Sirin رحمه الله,  "كانوا يتعلمون الهَدْيَ كما يتعلمون العلم، قال: وبعث ابن سيرين رجلاً فنظر كيف هَدْيُ القاسم وحاله" Mereka dulu (Para Salaf) mempelajari cara berbicara sebagaimana mereka mempelajari ilmu. Beliau berkata: Ibnu Sirin mengutus seseorang lalu beliau melihat bagaimana bicaranya Al-Qosim dan keberadaannya. Al-Khotib meriwayatkan عن إبراهيم بن حبيب بن الشهيد، قال: قال لي أبي: "يا بنيَّ، ايتِ الفقهاءَ والعلماء،  وتعلم منهم، وخُذْ مِن أدبهم وأخلاقهم وهَدْيِهم؛ فإن ذاك أحبُّ إليَّ لك من كثير من الحديث" Dari Ibrohim bin Khabib bin Asy-Syahid berkata, Berkata bapakku, Wahai putraku, datangilah para fuqoha' (ahli fiqh) dan ulama' (ahli ilmu) Dan belajarlah dari mereka, ambillah adab, akhlak, dan cara bicara mereka. Karena yang demikian itu lebih aku sukai daripada banyaknya hadits .  mengisyaratkan pentingnya adab yang mulia, وهو التحلي بالأدب قبل التحلي بالعلم، فقال: "قال في الغُنية بعد أن ذكر جملةً من الآداب: ينبغي لكل مؤمن أن يعمل بهذه الآداب في أحواله؛ Yaitu berhias dengan adab sebelum berhias dengan ilmu Berkata di kitab Al-Ghunyah setelah menyebutkan beberapa adab, Sudah sepantasnya untuk setiap mukmin menjadikan adab dalam semua keberadaannya.  روي عن عمر - رضي الله عنه - قال: تأدبوا ثم تعلموا، Diriwayatkan dari Umar رضي الله عنه berkata, belajarlah adab lalu belajar ilmu وقال أبو عبدالله البلخيُّ: أدبُ العلم أكثرُ من العلم"، Berkata Abu Abdillah Al-Balkhy:  Belajarlah adab ilmu lebih banyak daripada ilmu (itu sendiri) وقال عبدالله بن المبارك: Berkata Abdulloh bin Al-Mubarak : إذا وُصِف لي رجلٌ له علم الأولين والآخِرين لا أتأسَّف على فَوْت لقائه، وإذا سمعت رجلاً له أدب القسِّ أتمنى لقاءَه وأتأسَّف على فَوته" Ketika disifatkan kepadaku seseorang yang memiliki ilmu orang terdahulu maupun sekarang aku tidak segera tertarik untuk berjumpa dengannya, Dan ketika aku mendengar ada seseorang yang memiliki adab berbicara, aku berangan-angan untuk menjumpainya dengan sangat kuat.  وقال علي بن أبي طالب - رضي الله عنه - في قوله تعالى: Berkata Ali bin Abi Thalub رضي الله عنه ketika menafsirkan  ayat, ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾ [التحريم: 6] Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. ، قال: أدِّبوهم وعلِّموهم"[7]. Beliau berkata, Ajari mereka adab dan ajari mereka ilmu  Sudah sepantasnya bagi yayasan-yayasan pendidikan untuk memperhatikan sisi adab ini lebih besar lagi. Dan sudah sepantasnya bagi orang tua untuk mentarbiyyah anaknya dengan adab sebelum mentarbiyyah dengan pengetahuan yang lain, sehingga akan muncul sosok generasi yang menghargai tingginya ilmu dan mulyanya kedudukan ulama'. Wallahu a'lam.

UTAMAKAN BELAJAR AKHLAK SEBELUM BELAJAR ILMU YANG LAIN

kalamulama.com- UTAMAKAN BELAJAR AKHLAK SEBELUM BELAJAR ILMU YANG LAIN Allah memuji Rasulullah صلى الله عليه وسلم karena kemulyaan akhlaknya. Allah berfirman, وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِیمࣲ. "Dan sesungguhnya...