Serba Serbi Islam

Baca kisah sebelumnya #7 "Dibukanya Pintu Langit"  Nabi Muhammad saw diangkat ke Sidratul Muntaha. Disanalah tempat perhentian terakhir segala yang naik dari bumi untuk kemudian disambut dan di sana pula tempat perhentian terakhir apa yang turun dari atas untuk kemudian disambut. Sidratul Muntaha adalah pohon yang amat besar, akarnya di langit ke enam, rantingnya sampai ke langit ke tujuh dan puncaknya hingga menembus langit ke tujuh sebagaimana tersebut dalam beberapa riwayat. Mengalir dari akar kaki Sidratul Muntaha, sungai yang airnya tidak berubah rasa, warna dan baunya. Mengalir pula darinya sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, serta mengalir pula sungai arak yang lezat untuk diminum, dan mengalir pula sungai dari madu yang murni. Orang yang berkendara akan berjalan terus tanpa henti di bawah naungan Sidratul Muntaha selama 70 (tujuh puluh) tahun. Buahnya menyerupai kelapa namun sangat besar sekali. Daunnya bagaikan telinga gajah yang sehelai daunnya hampir menutupi umat ini. Di dalam riwayat, satu helai daunnya dapat menaungi semua makhluk dan di setiap daunnya ada malaikat. Maka tiba-tiba dedaunannya diselimuti dengan berbagai macam warna yang indah yang tidak dapat digambarkan dan seketika itu dedaunannya berubah menjadi yaqut dan zamrud, dan sungguh tidak ada seorangpun yang dapat menggambarkannya. Padanya terdapat belalang-belalang dari emas. Pada akarnya mengalir empat sungai, dua sungai batin dan dua sungai zhohir. Nabi saw bertanya, “Wahai Jibril sungai-sungai apakah ini?” Jibril menjawab, “kedua sungai batin ini adalah dua sungai di surga dan dua sungai zhahir ini adalah sungai nil dan alfurat.” Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa pada akarnya terdapat mata air yang mengalir yang bernama Salsabil. Dari mata air Salsabil ini mengalir dua sungai salah satunya adalah Al Kautsar. Nabi Muhammad saw menyaksikan sungai Al Kautsar yang sangat deras hingga cipratan airnya memancar sangat deras seperti anak panah. Di tepiannya terdapat kemah-kemah yang terbuat dari mutiara, yaqut dan zamrud, dan di atasnya bertengger burung-burung berwarna hijau yang sebagus-bagusnya burung yang pernah engkau lihat. Di sekitar sungai terdapat bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak. Air sungainya mengalir di atas kerikil-kerikil yaqut dan zamrud, dan airnya lebih putih dari pada susu. Nabi Muhammad saw mengambil bejana untuk meminum airnya dan ternyata airnya lebih manis dari madu dan lebih wangi dari minyak misk. Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Sungai ini adalah hadiah Allah untukmu wahai Muhammad”. Dan sungai lainnya adalah sungai rahmat. Nabi Muhammad saw mandi didalamnya dan ketika itulah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Di dalam riwayat disebutkan bahwasanya Nabi Muhammad saw melihat Jibril dengan enam ratus sayapnya di Sidratul Muntaha. Setiap satu sayapnya menutupi ufuq langit dan dari sayap-sayapnya berjatuhan permata dan yaqut serta lain-lainnya yang hanya Allah yang mengetahuinya. Rasulullah saw menelusuri Al Kautsar hingga masuk ke dalam surga yang kenikmatannya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam angan-angan manusia. Rasulullah saw melihat pada pintunya tertulis: “Satu shodaqoh diganjar dengan pahala sepuluh kali lipat, sedangkan memberi hutang diganjar dengan pahala delapan belas kali lipat”. Rasulullah saw berkata, “Wahai Jibril, mengapa memberikan hutang lebih utama daripada memberi shodaqoh?”. Jibril berkata, ”karena sesungguhnya seseorang yang meminta ia masih memiliki sesuatu, sedangkan seorang tidak akan berhutang kecuali ia dalam keadaan membutuhkan”. Mereka melanjutkan perjalanan dan di perjalanan Nabi saw menyaksikan sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai dari arak yang melezatkan bagi peminumnya dan sungai dari madu murni. Di tepian sungai terdapat kubah-kubah dari permata dan terdapat buah delima yang sangat besar seperti sebuah ember besar. Dalam riwayat lain, terdapat buah-buah delima yang besarnya bagaikan seekor unta dengan pikulannya dan juga terdapat burung-burung yang besar bagaikan seekor unta berpunuk dua. Abu Bakar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh burung-burung itu sangat dimanja dan merasakan kenikmatan”. Rasulallah menjawab, ”Para pemakan burung-burung itu lebih nikmat dan lebih dimanja lagi, dan aku berharap agar engkau pun memakannya pula wahai Abu Bakar”. Di perjalanan itu Rasulullah saw melihat sungai Al Kautsar yang di tepiannya terdapat kubah-kubah dari permata dan tanahnya adalah misk yang sangat wangi. Kemudian diperlihatkan kepada Nabi Muhammad saw neraka. Neraka adalah tempat kemurkaan Allah dan siksa Allah. Apabila bebatuan dan besi dilempar kedalamnya maka akan dilahapnya. Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum di neraka yang sedang memakan bangkai. Rasulullah saw bertanya kepada Jibril, ”Siapakah mereka wahai Jibril?”, Jibril menjawab, ”mereka sedang memakan daging-daging manusia”. Nabi saw menyaksikan malaikat penjaga neraka seperti lelaki bermuka garang yang kemurkaan dan dendam sangat terlihat di wajahnya. Rasulullah saw mengucapkan salam kepadanya dan kemudian neraka dikunci kembali. Rasulullah diangkat ke Sidratul Muntaha. Tatkala itu Nabi saw diselimuti oleh awan yang berwarna-warni, dan itulah tempat terakhir Jibril menemani Rasulullah saw. Rasulullah saw diangkat ke tempat yang sangat tinggi hingga Nabi mendengar suara goretan Al Qolam (pena yang menulis segala apa yang ada di alam semesta). Rasulullah saw melihat seorang lelaki yang samar-samar di balik cahaya ‘Arsy. Rasulullah bertanya, “Siapakah gerangan orang itu? apakah malaikat?”. Maka dijawab, “bukan”, Rasulullah bertanya kembali, “Apakah dia seorang nabi?”. Dijawab, “bukan”. Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah gerangan?” Di jawab, “Dia adalah lelaki yang ketika di dunia mulutnya selalu basah dengan dzikir kepada Allah, hatinya selalu rindu kepada masjid dan tidak pernah menjadi penyebab kedua orang tuanya dicela”. Rasulullah saw melihat Allah SWT. Tatkala itu tersungkurlah beliau dengan bersujud kepada Allah. Tatkala itulah Allah berbicara kepada Nabi Muhammad saw. Allah berkata, “Wahai Muhammad!“ Rasulullah menjawab, “Labbaik ya Allah” Allah berkata, “Mintalah!” Rasulullah menjawab, ”Ya Allah, sungguh Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai Kholil dan Engkau memberikannya kerajaan yang agung. Engkau berbicara kepada Musa secara langsung. Engkau memberikan kepada Daud kerajaan yang agung dan Engkau melunakkan besi untuknya dan Engkau menundukkan gunung kepadanya. Engkau berikan kepada Sulaiman kerajaan yang agung dan Engkau tundukkan kepadanya jin, manusia dan syaitan dan Engkau tundukan angin kepadanya dan Engkau berikan kepadanya kerajaan yang tidak ada seorangpun yang pantas setelahnya. Engkau mengajarkan kepada Isa kitab suci Taurat dan Injil dan Engkau menjadikannya dapat menyembuhkan orang yang buta dan menyembuhkan orang yang berpenyakit belang dan dapat menghidupkan orang mati atas izin-Mu. Engkau melindungi Isa dan ibunya dari syaitan yang terkutuk hingga syaitan tidak menemukan jalan untuk mengganggu keduanya”. Kemudian Allah berkata, “Sungguh aku telah menjadikanmu sebagai kekasih”. Periwayat hadits berkata, tertulis di dalam kitab suci Taurat bahwa Rasulullah saw adalah Habibullah (kekasih Allah). Allah berkata saat itu kepada Nabi Muhammad saw, “Dan aku mengutusmu kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pembawa peringatan. Dan Aku telah lapangkan dadamu dan Aku telah hapuskan dosa-dosamu dan Aku telah menggangkat namamu sehingga tidaklah nama-Ku disebut melainkan engkau pun di sebut bersama-Ku dan Aku telah menjadikan umatmu sebagai umat yang terbaik dari sekalian manusia dan Aku jadikan umatmu sebagai umat moderat, dan Aku jadikan umatmu sebagai umat yang pertama (masuk ke dalam surga) dan yang terakhir (lahir ke muka bumi), dan Aku telah menjadikan umatmu tidak diperbolehkan pada mereka berkhutbah hingga mereka bersaksi bahwa engkau adalah hamba-Ku dan utusan-Ku. Aku telah menjadikan dari umatmu sekelompok kaum yang hati mereka adalah tempat menampung kitab suci mereka, dan Aku telah menjadikan engkau sebagai Nabi yang pertama diciptakan dan terakhir di utus serta yang pertama dibangkitkan untuk hari pengadilan. Dan Aku berikan kepadamu surat Al Fatihah yang tidak pernah Aku berikan kepada seorang nabi sebelummu, dan Aku berikan kepadamu penutup surat Al Baqarah yang merupakan harta karun di bawah ‘Arsy yang tidak Aku berikan kepada seorang nabi pun sebelummu. Dan Aku berikan kepadamu Al Kautsar. Dan Aku berikan kepadamu delapan karunia: Islam, Hijrah, Jihad, Sodaqoh, Puasa Ramadhan, Amar Ma’ruf, dan Nahi Munkar, Dan pada hari Aku menciptakan langit dan bumi, Aku wajibkan atasmu dan atas umatmu lima puluh kali sholat, maka dirikanlah olehmu dan oleh umatmu.” Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulallah saw bersabda, “Tuhanku telah memberi karunia kepadaku, yaitu Allah mengutusku sebagai rahmat bagi sekalian alam dan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah tanamkan di dalam hati musuh-musuhku rasa takut dari jarak satu bulan perjalanan, dan Allah halalkan kepadaku harta rampasan perang padahal tidak dihalalkan kepada seorang pun sebelumku, dan Allah jadikan bumi sebagai tempat shalat dan suci, dan aku diberikan pembuka, penutup dan keluasan kalimat. Ditunjukkan kepadaku seluruh umatku dihadapku hingga jelaslah kepadaku antara pengikut dan pemimpin, hingga aku melihat mereka mendatangi suatu kaum yang beralas kakikan dari bulu dan aku melihat mereka mendatangi suatu kaum yang berwajah lebar dan bermata sipit seolah-olah mata mereka dijahit dengan jarum, hingga nampak jelas olehku penderitaan yang umatku derita dari kaum tersebut. Dan aku diperintahkan dengan lima puluh kali sholat”. Dan dalam riwayat lain, Rasulullah saw diberikan tiga anugerah; dijadikan sebagai pemimpin para rasul; dijadikan sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa; dan akan memimpin umatnya yang wajah dan lengan serta kaki mereka bercahaya terang benderang kerena basuhan air wudhu. Dalam riwayat lain, dianugerahkan untuk Rasulullah saw shalat lima waktu dan akhir surat Al Baqaroh dan ampunan Allah bagi umatnya yang tidak menyekutukan Allah atas dosa-dosa besar mereka. Kemudian tersingkaplah dari Rasulullah saw awan indah yang menyelimuti dirinya. Jibril meraih tangan Rasulullah saw untuk menuntunnya kembali, maka mereka kembali dengan cepat. Di perjalanan pulang mereka melewati Nabi Ibrahim as dan Nabi Ibrahim tidak berucap sesuatu apapun. Mereka melalui Nabi Musa as. Rasulullah saw berkata, “sungguh Nabi Musa adalah sahabat terbaik untuk kalian.” Nabi Musa as berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Apa yang kamu lakukan selama diperjalanan ini wahai Muhammad? Dan apa yang diwajibkan Tuhanmu kepadamu dan kepada umatmu?”. Nabi Muhammad saw menjawab, “diwajibkan kepadaku dan umatku lima puluh sholat sehari semalam.” Maka Nabi Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan untukmu dan untuk umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu untuk menjalankan perintah itu, sungguh aku lebih berpengalaman terhadap manusi. Nabi Muhammad saw mengabarkan kepada Nabi Musa tentang apa yang Allah tetapkan. Namun Nabi Musa bersikeras berkata, “kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi, karena sungguh umatmu tidak akan mampu.” Nabi Muhammad berkata, ”Wahai Musa, aku telah berkali-kali menghadap kepada Tuhanku hingga aku malu kepada-Nya, dan sungguh aku ridho dan puas menerima ketentuan Tuhanku.” Maka terdengar seruan,”Sesungguhnya aku telah menetapkan ketentuan-Ku dan aku telah meringankan atas hamba-hamba-Ku”. Maka Nabi Musa berkata, “Kalau begitu maka turunlan engkau dengan menyebut nama Allah.” Di perjalanan pulang Nabi Muhammad saw tidak melewati perkumpulan para malaikat, kecuali mereka berkata, “hendaklah kamu perintahkan umatmu untuk hijamah (bekam)”. Di perjalanan pulang Nabi saw bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, tidak ada seorangpun dari penduduk langit yang aku jumpai melainkan ia pasti menyambutku dengan meriah, dengan senyuman manis, salam dan doa, kecuali satu orang. Ketika aku menemuinya dan mengucapkan salamku untuknya, dia hanya sebatas menyambutku, menjawab salamku dan mendoakanku namun sama sekali tidak tersenyum dan tertawa untukku. Kenapa wahai Jibril?”. Maka Jibril berkata, “Dia adalah malaikat Malik, malaikat penjaga neraka. Dia tidak pernah tersenyum sejak diciptakan, kalaupun dia dapat tersenyum untuk seseorang maka dia hanya akan tersenyum kepadamu.” ***bersambung*** Diambil dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat.

Kisah Isra Mi’raj #8 Nabi Muhammad Mencapai Sidratul Muntaha

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad  Mencapai Sidratul Muntaha. Baca kisah sebelumnya #7 "Dibukanya Pintu Langit" Nabi Muhammad saw diangkat ke Sidratul Muntaha. Disanalah tempat perhentian terakhir...

Kemuliaan Malam Nishfu Sya’ban

Oleh Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus* Sya’ban adalah bulan dilaporkannya amal saleh sepanjang tahun yang seringkali dilupakan kemuliaannya.  Ketika ditanya oleh sayidah ‘aisyah ra mengapa beliau saw...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit  [irp posts="935" name="Kisah Isra Mi’raj #6 “Dibukanya Pintu Langit”"] Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit kelima, Nabi saw bertemu dengan Nabi Harun as. Nabi Harun setengah dari jenggotnya berwarna putih dan setengahnya lagi berwarna hitam, dan hampir-hampir panjangnya hingga ke pusar. bersamanya sekelompok kaumnya dari Bani Israil dan Nabi Harun sedang asyik berbincang dan bercerita dengan mereka. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Harun menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Harun mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Muhammad saw bertanya, “Siapa beliau wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Beliau adalah seorang lelaki yang di cintai oleh kaumnya, yaitu Nabi Harun bin Imran as”. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke enam. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit keenam, di perjalanan Nabi saw menyaksikan para nabi dan rasul bersama dengan umat mereka masing-masing. Beberapa dari mereka yang hanya memiliki kurang dari sepuluh pengikut, beberapa yang lain yang pengikutnya puluhan, beberapa yang lain yang pengikutnya banyak dan beberapa lainnya yang tidak punya sakalipun satu pengikut. Kemudian Nabi saw melewati suatu kelompok yang sangat besar yang memenuhi ufuk langit, maka Nabi saw bertanya, “Kaum siapakah ini?”Jibril menjawab, “itu adalah Nabi Musa beserta kaumnya, tapi angkatlah kepalamu ya Muhammad,” maka Nabi saw melihat sekelompok kaum yang jauh lebih banyak dan besar telah memenuhi ufuk langit dari berbagai sisinya. Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “mereka adalah umatmu dan masih belum termasuk yang tujuh puluh ribu dari umatmu yang akan masuk surga tanpa dihisab.” Setelah menyaksikan para nabi dan rasul beserta kaum mereka masing-masing, Nabi Muhammad saw bertemu dengan Nabi Musa bin Imran as, dan tubuh beliau berwarna putih kemerahan, seperti seorang dari suku Asy Syanuah, berbulu lebat, seandainya dia memakai dua gamis maka terlihat bulunya. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Musa menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh,” lalu Nabi Musa mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Musa berkata, “Manusia mengira bahwa aku adalah manusia yang paling mulia di sisi Allah, namun ternyata dialah (Rasulallah) yang lebih mulia dariku di sisi Allah.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan Nabi Musa menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuat engkau menangis?” Nabi musa menjawab, “Aku menangis karena sesungguhnya ada seorang pemuda yang diutus setelahku dan masuk ke surga dari umatnya lebih banyak dari pada umatku. Kaum Bani Israil menyangka sesungguhnya aku adalah anak Adam yang paling mulia dihadapan Allah namun kenyataannya Rasulullah saw adalah dari keturunan Adam menggantikanku di dunia dengan kemulian agungnya di sisi Allah sedangkan aku di akhirat. Jikalau hanya dia seorang yang mengungguliku dalam kemuliaan di sisi Allah sungguh aku tidak menghiraukannya, akan tetapi umatnya pun bersamanya dalam mengungguli kemuliaan di sisi Allah.” Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke tujuh. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj)?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit ke tujuh, Nabi saw bertemu dengan Nabi Ibrahim Al Kholil sang sahabat Allah, yang duduk di pintu surga di atas kursi emas, sambil menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur bersama sekelompok orang dari kaumnya. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Ibrahim menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai putraku yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Ibrahim berkata, “Perintahkanlah kepada umatmu supaya memperbanyak menanam pohon surga, karena sesungguhnya tanah surga sangat luas, subur dan bagus.” Maka Nabi saw bertanya, “Apakah pohon surga itu?” Nabi ibrahim menjawab, “pohon surga itu adalah kalimat Di dalam riwayat lain, “Sampaikan kepada umatmu salam, dan berilah kabar dariku kepada umatmu sesungguhnya surga itu bagus dan subur tanahnya, tawar dan segar airnya dan sesungguhnya pohon surga itu adalah kalimat Di tempat itu Nabi Muhammad saw menyaksikan sekelompok kaum yang sedang duduk, amat putih wajah mereka seperti putihya kertas, dan sekelompok kaum yang lain warna mereka tidak seputih kelompok yang tersebut, seakan warna mereka ada sesuatu. Kemudian mereka (kelompok kedua) masuk ke suatu sungai lalu mereka mandi di dalamnya sebanyak tiga kali, dan usai mandi pertama mereka keluar dari sungai dan sesuatu pada warna mereka telah berubah menjadi putih, kemudian mereka mauk kembali ke sungai untuk mandi yang kedua kalinya, dan usai mandi kedua warna mereka menjadi bersih dari noda, kemudian mereka masuk lagi ke sungai untuk mandi ketiga kalinya dan usai mandi ketiga warna mereka menjadi putih sebagaimana kelompok pertama. Mereka datang dan duduk bersama kelompok pertama. Nabi saw bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu yang putih wajahnya, dan siapakah orang-orang yang seakan warna mereka ada sesuatu, dan sungai apakah ini yang mereka masuk dan mandi di dalamnya?” Maka Jibril menjawabnya, “adapun mereka itu yang putih wajahnya adalah kaum yang tidak bercampur iman mereka dengan kedzoliman, adapun mereka yang seakan warna mereka terdapat sesuatu adalah kaum yang mencampur amal kebaikan dengan kejelekan, kemudian mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka. Adapun sungai ini, yang pertama adalah rahmat Allah, yang kedua adalah nikmat Allah, dan yang ketiga adalah Allah memberi minum mereka dengan minuman yang suci.”Kemudian dikatakan kepada Nabi Muhammad saw, “ini adalah tempatmu dan tempat umatmu.” Tiba-tiba Nabi saw melihat umatnya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mereka mengenakan pakaian seperti kertas yang putih dan kelompok kedua mereka mengenakan pakaian yang keabu-abuan. Nabi saw masuk ke Baitul Ma’mur bersama orang-orang yang berpakaian putih dan orang-orang yang berpakaian keabu-abuan terhalang walau sebenarnya merekapun termasuk orang-orang yang dalam kebaikan. Nabi saw shalat bersama orang mu’min di dalam Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitul Ma’mur dan tidak pernah keluar lagi sampai hari kiamat. Sesungguhnya Baitul Ma’mur itu bersejajar dengan Ka’bah, sehingga jika ada batu yang jatuh dari Baitul Ma’mur pasti akan terjatuh di atas Ka’bah. Di dalam riwayat disebutkan bahwasanya disodorkan kepada Nabi Muhammad saw tiga wadah. Beliau mengambil wadah yang berisi susu dan Jibril membenarkan dan merestui pilihan Nabi Muhammad saw. Di dalam riwayat lain saat itu Jibril berkata, “ini adalah fitrahmu (kesucianmu) dan umatmu”. Dalam suatu hadits riwayat Al Imam Ath Thobroni dengan sanad yang shohih, “Ketika malam aku diisrakan, aku melalui dan menyaksikan Al Mala’ Al A’la, dan aku menyaksikan Jibril laksana pakaian usang karena rasa takutnya yang amat sangat besar kepada Allah.” ***bersambung*** Diambil dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. [irp posts="916" name="Kisah Isra Mi’raj #8 Nabi Muhammad Mencapai Sidratul Muntaha"]

Kisah Isra Mi’raj #7 “Dibukanya Pintu Langit (Lanjutan)”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit  Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”....

KISAH HARTA YANG HILANG

Pada suatu malam, ada seorang lelaki datang kepada Imam Abu Hanifah, mengadukan hartanya yang hilang. "Wahai Imam, sudah lama hartaku dikubur/disimpan dalam suatu tempat,...
Kalam Ulama - Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit. Baca kisah sebelumnya Kisah Isra Mi'raj #5 "Pujian dari Para Nabi" [irp posts="949" name="Kisah Isra Mi’raj #5 “Pujian dari Para Nabi”"]  Tidak pernah seorang makhluq terlihat tangga yang lebih indah darinya. Terdapat anak tangga dari perak dan dari emas, tangga itu berasal dari surga firdaus berhiaskan permata, sebelah kanan dan kirinya berdiri malaikat. Maka naiklah Nabi saw dan Jibril hingga sampai ke sebuah pintu dari pintu-pintu langit dunia yang di kenal dengan pintu Hafadhoh, dijaga oleh malaikat bernama Isma’il dan dia adalah penjaga langit dunia, bersemayam di udara, tidak pernah naik ke langit dan tidak pernah turun ke bumi kecuali di hari wafatnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam. Dia memiliki bawahan 70.000 malaikat dan setiap satu dari bawahannya memiliki 70.000 tentara malaikat. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Ketika keduanya masuk, mereka mendapati Nabi Adam as, beliau adalah bapak bagi seluruh umat manusia. Nabi Adam dengan bentuk sebagaimana keadaannya saat diciptakan Allah. Disodorkan kepadanya arwah para nabi dan keturunannya yang mu’min, maka berkata Nabi Adam, “arwah yang suci dan jiwa yang suci, jadikanlah mereka di Illiyyiin (tempat yang tinggi di surga).” Lalu disodorkan kepadanya arwah dari keturunannya yang kafir, maka Nabi Adam berkata, “arwah yang kotor dan jiwa yang kotor tempatkanlah di Sijjin (tempat paling bawah di jahanam).” Di samping kanan Nabi Adam terdapat arwah-arwah dan suatu pintu yang keluar darinya bau yang harum wanginya, dan di samping kiri nya terdapat arwah-arwah dan suatu pintu yang keluar darinya bau yang sangat busuk. Apabila dia menoleh kekanannya dia tersenyum gembira, dan jika menoleh ke samping kirinya dia sedih dan menangis. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Adam menjawab salamnya kemudian dia berkata, “Selamat datang untukmu wahai anak yang sholeh dan Nabi yang sholeh.” Nabi Muhammad saw bertanya kepada Jibril, “Siapa dia wahai Jibril?”, Jibril menjawab, “Dia adalah ayahmu Nabi Adam, dan arwah itu adalah anak keturunannya, yang berada di sebelah kanannya adalah calon penghuni surga, yang berada di kiri adalah calon penghuni neraka. Apabila dia menoleh ke kanannya dia tersenyum gembira, dan jika menoleh ke kirinya dia sedih dan menangis. Pintu yang di samping kanannya adalah pintu surga yang jika dia melihat keturunannya memasukinya maka dia tertawa gembira. Pintu di samping kirinya adalah pintu neraka, jika dia melihat keturunannya memasukinya maka dia sedih dan menangis.” Di perjalanan tersebut Nabi saw menyaksikan tempat makan yang dihidangkan potongan daging lezat yang tidak didekati oleh seorang pun. Ada juga tempat makan yang dihidangkan daging rusak dan busuk yang dikerubungi oleh manusia yang banyak. Nabi saw bertanya, “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab, “mereka adalah umatmu yang meninggalkan sesuatu yang halal kepada sesuatu yang haram.” Diriwayat yang lain, Nabi saw bertanya, “Siapa gerangan mereka itu wahai malakat jibril?” Jibril menjawab, “mereka itu adalah orang-orang yang melakukan perzinaan, mereka menghalalkan perkara yang telah Allah haramkan bagi mereka, sedangkan perkara yang Allah telah halalkan bagi mereka, mereka tinggalkan.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang perut mereka sangat besar bagaikan rumah, di dalam perut mereka ular-ular ganas mencabik lambung mereka yang terlihat dari luar perut mereka. Setiap kali salah seorang dari mereka mencoba bangkit berdiri, maka dia selalu tersungkur jatuh dan seraya berkata, “Ya allah jangan datangkan hari kiamat”. Mereka mengikuti jalannya fir’aun dan pengikutnya, dan mereka diinjak-injak oleh setiap yang melalui mereka. Mereka menjerit dan merintih kepada Allah. Maka Nabi Muhammad saw bertanya, “Wahai Jibril siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “mereka itu sebagian dari umatmu yang melakukan praktek riba dan memakan harta riba, mereka tidak berdiri melaikan bagaikan orang yang kesurupan setan.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang bibir mereka seperti bibir onta, dan dibukalah mulut mereka, lalu ditelankan kedalamnya batu yang amat besar. Di dalam riwayat lain disebutkan, ditelankan ke dalam mulut mereka batu yang besar dari neraka jahanam, membakar dan merobek-robek bagian dalam tubuh mereka hingga tembus dari bagian bawah tubuh mereka. Mereka menjerit dan merintih kepada Allah. Nabi saw bertanya, “Wahai Jibril siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “mereka itu adalah orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan cara yang dzolim dan sesungguhnya harta anak yatim yang mereka makan di dalam perut mereka itu adalah api jahannam, dan sungguh mereka akan di membusuk di dalam neraka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok wanita yang sedang digantung dengan diikat payudara mereka, dan sekelompok wanita yang lain sedang digantung terbalik dengan kaki di atas.Nabi saw pun bertanya, “Wahai Jibril siapakah gerangan mereka itu?”Jibril menjawab, “mereka adalah wanita-wanita yang melakukan perzinaan, dan membunuh anak mereka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok kaum yang sedang dipotong-potong daging dari bagian tubuh mereka dan kemudian mereka dijejalkan daging mereka tersebut untuk dimakannya, sambil diserukan kepada mereka, “makanlah dagingmu sebagaimana kamu memakan daging saudaramu.” Maka Nabi saw bertanya, “Siapakah mereka itu wahai jibril?” Jibril menjawab, “mereka itu adalah sekelompok umatmu yang suka mencela, menfitnah, dan mengolok-olok kejelekan orang lain dengan kedipan mata mereka dan ucapan mereka.” Di perjalanan Nabi saw menyaksikan sekelompok orang pemakan harta riba, pemakan harta anak yatim dengan cara dzolim, dan para pezina, serta pelaku kemaksiatan lainnya dalam keadaan yang sangat buruk bahkan lebih buruk dari apa yang telah disaksikan dalam perjalanan tersebut. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke dua. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj)?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit kedua, Nabi saw bertemu dengan dua saudara sepupu, yaitu Nabi Isa bin Maryam as dan Nabi Yahya bin Zakariya as. Pakaian dan rambut keduanya sangat mirip dan bersama mereka sekelompok dari kaum mereka. Nabi Isa as bertubuh sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, rambut yang lurus dan kulit yang mendekati putih kemerahan seperti seorang yang baru keluar dari mandi uap. Rasulullah mengatakan bahwa Nabi Isa itu mirip dengan sahabat ‘Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqofi. Nabi Muhammad saw memberi salam kepada keduanya dan Nabi Isa dan Nabi Yahya menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan: “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu mereka mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke tiga. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit ketiga, Nabi saw bertemu dengan Nabi Yusuf as dan bersamanya sekelompok dari kaumnya. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Yusuf menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Yusuf mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Sesungguhnya Nabi Yusuf telah dianugerahkan Allah setengah dari ketampanan. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Yusuf adalah manusia yang paling indah yang pernah diciptakan Allah, dan Allah menjadikan ketampanan dan keindahannya di atas seluruh manusia, bagaikan rembulan di malam purnama antara bintang-bintang. Maka Nabi saw bertanya, “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Dia adalah saudaramu Nabi Yusuf as.” Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke empat. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj)?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. Setelah mereka masuk ke langit keempat, Nabi saw bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihissalam. Sesungguhnya Allah telah mengangkatnya kepada derajat yang tinggi. Nabi Muhammad saw memberi salam kepadanya dan Nabi Idris menjawab salamnya serta menyambutnya, “Selamat datang wahai saudara yang soleh serta Nabi yang soleh”, lalu Nabi Idris mendoakan Rasulullah saw dengan kebaikan. Kemudian Nabi Muhammad saw melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke lima. Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka di tanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Bersamaku Muhammad” lalu ditanya lagi, “Apakah telah datang panggilan Allah baginya (untuk perjalanan Isra dan Mi’raj) ?” Jibril menjawab, “Ya” Maka mereka disambut dengan ucapan, “Selamat datang baginya, semoga Allah memuliakannya, beliau adalah saudara dan kholifah, dan sungguh sebaik-baiknya saudara adalah beliau dan sebaik-baiknya kholifah, dan sungguh beliau adalah sebaik-baiknya tetamu yang telah datang.” Maka dibukakanlah bagi keduanya. ***bersambung*** Diambil dari materi yang disampaikan oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman Al Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="930" name="Kisah Isra Mi’raj #7 “Dibukanya Pintu Langit (Lanjutan)”"]

Kisah Isra Mi’raj #6 Dibukanya Pintu Langit

Kalam Ulama - Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit. Baca kisah sebelumnya Kisah Isra Mi'raj #5 "Pujian dari Para Nabi" Tidak pernah seorang makhluq terlihat tangga yang lebih...

Kearifan Nabi Menyikapi Perbedaan

Suatu waktu Kanjeng Nabi berpesan kepada para utusannya, "Janganlah shalat Ashar kecuali di Bani Quraidzah." Di tengah perjalanan, ketika waktu ashar telah tiba, sebagian...

Kisah Seorang ‘Abid dan Sang Majnun

  Seorang yang gila (majnun) melintas di depan seorang ahli ibadah ('abid) yang menangis sesenggukan sembari bermunajat; "Duhai Tuhanku, jangan masukkan aku ke dalam nerakamu....

Ada Apa di Bulan Sya’ban?

‘’Maadzaa fii Sya’ban’’? Salah satu judul karya yang ditulis oleh al-‘Allaamah Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani -Rahimahullahu Ta’aala- menginformasikan kepada kita akan peristiwa-peristiwa...

Amalan di Jum’at Terakhir Bulan Rajab

Di dalam Kitab Kanzun Najah Wassurur karya As-Syekh ‘Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds dinyatakan: ومن فوائد الشيخ علي الأجهوري رحمه الله تعالى كما في ترجمته...
Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit  [irp posts="962" name="Kisah Isra Mi’raj #04 “Bertemu dengan Para Nabi”"] Diriwayatkan oleh al-Imam al-Hakim dan disohihkan al-Imam al-Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah. Nabi Muhammad saw berjumpa dengan arwah para nabi dan rasul, kemudian mereka memuji kepada Allah. Berkata Nabi Ibrahim as, “segala puji bagi Allah yang menjadikanku sebagai Kholil-Nya (sahabat-Nya) dan memberiku kerajaan yang agung dan menjadikanku laksana umat yang kembali kepada Allah dan menjadikanku panutan yang diikuti dan telah menyalamatkanku dari api sehingga menjadikannya bagiku dingin dan penuh kedamaian.” Nabi Musa as memuji kepada Allah, “Segala puji bagi Allah yang telah berfirman kepadaku secara langsung dan menjadikan kehancuran Fir’aun dan keselamatan Bani Israil karena sebab perjuangan tanganku, dan menjadikan sekelompok dari umatku sebagai petunjuk akan kebenaran dan dengan kebenaran mereka berbuat adil.” Nabi Daud as memuji kepada Allah, “Segala puji bagi Allah yang menjadikan untukku kerajaan yang agung dan melunakkan besi dan menundukkan untukku gunung -gunung yang bertasbih dan juga burung, dan memberikanku hikmah dan Fashl Al Khithob.” Nabi Sulaiman as memuji kepada Allah, “Segala puji bagi Allah yang menundukkan untukku angin, menundukkan kepadaku syaitan-syaitan, mereka bekerja untukku apa yang aku mau dari membangun gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring seperti kolam dan periuk-periuk yang kokoh, dan mengajariku bahasa burung dan memberikanku segala macam kemuliaan dan menundukkan kepadaku tentara syaitan dan burung, dan memuliakanku dari segala hamba-hamba-Nya yang beriman, dan memberikan kepadaku kerajaan yang agung yang tidak pantas untuk seorangpun setelah aku, dan menjadikan kerajaanku bersih tidak ada hisab dan hukuman.” Nabi Isa bin Maryam as memuji kepada Allah, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai Kalimat-Nya (kalimat-Nya, Nabi Isa diciptakan Allah dengan kalimat “Kun Fa Yakun”) sebagai tanda kebesaran-Nya, dan menjadikan perumpaanku seperti Nabi Adam, Allah menciptakannya dari tanah dan Allah katakan: “jadilah, maka terjadi (Kun Fa Yakun).” Dan segala puji bagi Allah yang telah mengajarkanku ilmu Al Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil, dan menjadikanku penyembuh penyakit buta dari lahir dan penyakit belang, aku mampu menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Allah mengangkatku, menyucikanku, dan melindungi aku dan ibuku dari syaitan yang terkutuk, maka tidak ada celah bagi syaitan untuk mengganggu kami.” Setelah itu, setiap nabi dan rasul ‘alaihimus salam memuji kepada Allah dengan pujian yang indah atas anugrah yang Allah khususkan untuk mereka. Kemudian berkata Nabi Muhammad saw, “kalian semua telah memuji Allah, dan aku pun akan memuji Allah atas karunia yang Allah khususkan kepadaku.” Kemudian Nabi saw memulainya dengan mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang telah mengutusku sebagai rahmat untuk alam semesta dan menyeluruh ke seluruh manusia sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Menurunkan kepadaku al-Qur’an yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang segala sesuatu. Menjadikan umatku sebaik-baiknya umat yang pernah ada, menjadikan umatku sebagai umat moderat dan menjadikan umatku sebagai golongan awal (yang masuk surga) dan golongan akhir (yang lahir ke muka bumi). Segala puji bagi Allah yang telah melapangkan dadaku, menghapus dariku dosa-dosaku, meninggikan sebutanku, dan yang menjadikanku pembuka dan penutup. Maka berkata Nabi Ibrahim as, ”Dengan semua ini, Nabi Muhammad saw mengungguli kalian wahai para nabi.” Para nabi dan rasul saling berbicara dan berdiskusi tentang perkara hari kiamat. Merekapun bertanya kepada Nabi Ibrahim as dan beliau menjawab, “saya tidak tahu menahu tentang waktu dan saatnya.” lalu mereka kembali bertanya kepada Nabi Musa, beliau menjawab,”aku tidak tahu menahu tentang waktu dan saatnya.” Mereka pun bertanya kepada Nabi Isa as dan beliau menjawab, ”Adapun waktu terjadinya, sungguh tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Dan dari apa yang telah sampai kepadaku bahwasanya ketika Dajjal keluar dan aku membawa dua bilah pedang, ketika Dajjal melihatku dia akan meleleh seperti melelehnya timah, dan Allah akan membinasakannya ketika ia melihatku, hingga pada saat itu bebatuan pun akan berkata: ”Wahai muslim di bawahku ada seorang kafir bersembunyi maka kemarilah dan bunuhlah dia, dan Allah akan membinasakan mereka semua. Kemudian kembalilah para manusia ke tempat masing masing. Dan pada saat itu keluarlah Ya’juj dan Ma’juj dan mereka turun berbondong bondong dari tempat-tempat yang tinggi memasuki kota-kota. Tidak mereka datang ke suatu tempat kecuali mereka hancurkan dan bumi hanguskan dan mereka tidak melewati air kecuali mereka meminumnya hingga habis, sehingga seluruh manusia mengadu kepadaku, lalu akupun berdoa kepada Allah atas mereka, maka Allah hancurkan mereka dan binasakan mereka semua, sampai bumi menjadi busuk karena bau bangkai busuk mereka. Kemudian Allah pun turunkan hujan lebat yang membawa bangkai mereka sampai ke laut. Dan dari apa yang sampai kepadaku bahwa jika hal itu semua sudah terjadi maka waktu kedatangan hari kiamat hanya tinggal seperti keluarga yang menunggu perempuan hamil tua, tidak tau kapan mengagetkan mereka dengan kelahirannya di malam atau di siang hari.” Nabi Muhammad saw merasakan dahaga yang amat sangat. Maka Jibril pun datang dengan gelas berisi arak dan gelas berisi susu, maka Nabi saw memilih susu. Jibril berkata kepadanya, “engkau memilih Fitrah (kesucian), jikalau engkau meminum arak maka umatmu akan menyimpang dan tidak ada yang mengikutimu melainkan sedikit.” Di dalam riwayat yang lain, gelas tersebut ada tiga, yang ketiga di dalamnya berisi air, Jibril berkata padanya, “kalau kau meminumnya maka umatmu akan tenggelam.” Riwayat lain menyebutkan yang ketiga itu berisi madu pengganti dari air. Rasulullah saw melihat di samping kiri Shokhrahk (batu yang diatasnya sekarang dibangun Qubbah Ash Shokhrakh) bidadari-bidadari surga. Nabi saw memberi salam kepada mereka lalu mereka menjawab salamnya, dan beliau menyapa mereka dan mereka menyambut sapaan Rasulullah saw. ***bersambung*** Disarikan dari materi yang disampaikan oleh al-Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam acara Daurah Isra’ Mi’raj yang diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2016 di Komplek Makam Habib Abdurahman al-Habsyi, Cikini, Jakarta Pusat. Klik Disini : Kumpulan Kisah Isra Mi’roj [irp posts="935" name="Kisah Isra Mi’raj #6 Dibukanya Pintu Langit"]

Kisah Isra Mi’raj #5 “Pujian dari Para Nabi”

Kalam Ulama Isra Mi’raj Nabi Muhammad Dibukanya Pintu Langit  Diriwayatkan oleh al-Imam al-Hakim dan disohihkan al-Imam al-Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah. Nabi Muhammad saw berjumpa dengan arwah para...