Serba Serbi Islam

Kalamulama.com- KH Marzuki Mustamar:  Keikhlasan Seorang Gus Dur  "Mbah Kiai Maimoen Zubair itu seperti bermusuhan dengan Gus Dur. Ternyata tidak.. Seribu hari Gus Dur di Jombang, Tebuireng, itu yang ceramah Kiai Maimoen Zubair. . Cerita, Gus Dur ini waktu Kiai Maimoen mantu, membantu sebanyak-banyaknya. Nggak tahu berapa juta, pokoknya sebanyak-banyaknya. . "Yai, kewajiban saya (Gus Dur) membantu anda, sudah. Sekarang tinggal kewajiban anda (Mbah Maimoen)," kata Gus Dur. "Apa, Gus?" Tanya Mbah Maimoen "Kewajiban anda, menutupi amal kebaikanku. Jangan diomong-omongkan ke orang, jangan sampai ketahuan. Terserah, cara anda untuk menutupinya. Kelihatan seperti memusuhi saya, terserah anda. Asalkan amal saya tidak diketahui manusia. Cukup saya dengan Gusti Allah saja," jawab Gus Dur. Seperti itu. Makanya waktu hidup itu seperti bermusuhan. Tapi, waktu Gus Dur wafat, yang memimpin pemakaman, Mbah Yai Maimoen. Tahlilan hari ketujuh yang mimpin Mbah Yai Maimoen. Seribu hari yang ceramah juga Mbah Yai Maimoen. Haul Gus Dur tempo hari, Pak SBY hadir, yang memimpin doa di makam juga Mbah Kiai Maimoen. . Dua Kiai ini tidak bermusuhan, tapi bersandiwara. Kelihatan bermusuhan untuk menutupi amal kebaikan Gus Dur. Seperti itu loh wali sesungguhnya, seperti itu. Kalau kita, mau nyalon DPR atau apa, "Aku umumkan ya, saya nyumbang 500 ribu." Gus Dur, seberapa banyaknya, tidak boleh diumumkan. Full karena Gusti Allah. Di Malang, di Kelurahan Jatikerto, ada anak namanya Agus. Gus Dur mampir ke rumahnya Agus, titip 3 koper. . "Jangan kamu buka kalau saya belum meninggal," kata Gus Dur. Ketika Gus Dur wafat, dibuka (kopernya), isinya 3 milyar. Uang 3 milyar sudah dimasukkan dalam amplop. Tugasnya Agus, disuruh membagikan ke anak-anak yatim dan janda-janda miskin di Malang. Uang 3 milyar itu. Trus anehnya, di amplop itu sudah ada nama-nama anak yatim dan alamatnya. Itulah karomahnya Gus Dur. Kok tahu nama anak yatim segitu banyak. Gus Dur di Jakarta, anak-anak yatimnya di Malang. Tahu alamatnya. Kok begitu ikhlasnya amal 3 milyar tidak boleh diomong-omongkan. Kalau belum meninggal tidak boleh dibuka. Kalau kita, nyumbang 3 ribu saja, minta diumumkan kok. Gus Dur seperti itu." K.H. Marzuqi Mustamar

KH Marzuki Mustamar:  Keikhlasan Seorang Gus Dur

Kalamulama.com- KH Marzuki Mustamar:  Keikhlasan Seorang Gus Dur "Mbah Kiai Maimoen Zubair itu seperti bermusuhan dengan Gus Dur. Ternyata tidak.. Seribu hari Gus Dur di Jombang,...

PEMUDA PENJUAL KAPAK DAN PUTRI RAJA

Abu ‘Abdillah al-Balkhi berkata: “Ada seorang pemuda Bani Israil yang ketampanannya tidak ada bandingannya. Ia adalah seorang penjual kapak. Pada suatu hari, pemuda tersebut...

Imam Ahmad ibn Hanbal dan pemilik kios roti

Imam Ahmad diakhir hidup beliau pernah terlintas dibenaknya untuk mendatangi sebuah kota di Irak, kenapa kesana??... beliau tidak tahu, pokoknya ingin kesana. Lalu beliau...
Santri Universal

K.H. Yahya Cholil Staquf: SANTRI UNIVERSAL

kalamulama.com- K.H. Yahya Cholil Staquf: SANTRI UNIVERSAL. Sebaiknya orang NU tidak membiarkan diri larut dalam eforia kebanggaan akan pengakuan atas jasa-jasa di masa lalu. Karena...

Kisah Nabi Yusuf #11 “Derita Berakhir Bahagia”

Oleh : KH. Salim Azhar (Pengasuh PP. Sunan Sendhang, Paciran, Lamongan) Para utusan menghadap paduka Raja Royyan dan menghaturkan, Bahwa Yusuf tidak mau keluar dan ia berkata: "Aku tidak...
ADAB shalawat kepada nabi AGAR HUBUNGAN QALBIYAH DENGAN NABI SEMAKIN KUAT Berkata Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz: "Menganugerahkan shalawat kepada Nabi

SHALAWAT KEPADA NABI: ADAB BERSHALAWAT AGAR HUBUNGAN QALBIYAH DENGAN NABI SEMAKIN KUAT

kalamulama.com- ADAB SHALAWAT KEPADA NABI AGAR HUBUNGAN QALBIYAH DENGAN NABI SEMAKIN KUAT Habib Umar bin Hafidz Berkata Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz: "Menganugerahkan shalawat kepada Nabi...
Serba Serbi Islam Sang Pemimpin (Kalam Ulama). Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut dan berusaha melepaskan diri, katanya: “Lepaskan aku! Siapa ini?” Orang yang memeluknya tidak melepaskannya justru berteriak: “Siapa mau membeli budak saya ini?” Begitu mendengar suaranya, Zahir pun sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Ia pun malah merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya. Lalu katanya riang: “Lihatlah, ya Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual.” (Baca Juga Renungan Gus Mus : Jangan Hancurkan Dakwah Islam dengan Sikapmu yang ngawur dan Tidak Dewasa) “Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi;” sahut lelaki yang memeluk dan ‘menawarkan’ dirinya seolah budak itu yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW. Zahir Ibn Haram dari suku Asyja’, adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tentang Zahir ini, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya, “Zahir adalah orang-dusun kita dan kita adalah orang-orang-kota dia.” Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas. Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh --tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden—bupati Anda? Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu. Sekarang pengandaianya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda ‘sampai hati’ bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu? Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia. Kharqaa’, perempuan berkulit hitam itu entah dari mana asalnya. Orang hanya tahu bahwa ia seorang perempuan tua yang sehari-hari menyapu mesjid dan membuang sampah. Seperti galibnya tukang sapu, tak banyak orang yang memperhatikannya. Sampai suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW tiba-tiba bertanya kepada para sahabatnya, “Aku kok sudah lama tidak melihat Kharqaa’; kemana gerangan perempuan itu?” Seperti kaget beberapa sahabat menjawab: “Lho, Kharqaa’ sudah sebulan yang lalu meninggal, ya Rasulullah.” Boleh jadi para sahabat menganggap kematian Kharqaa’ tidak begitu penting hingga perlu memberitahukannya ’ kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Rasulullah SAW dengan nada menyesali, bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Tunjukkan aku dimana dia dikuburkan?”. Orang-orang pun menunjukkan kuburnya dan sang pemimpin agung pun bersembahyang di atasnya, mendoakan perempuan tukang sapu itu. Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda pasti akan sulit membayangkan bagaimana pemimpin seagung beliau, masih memiliki perhatian yang begitu besar terhadap tukang sapu, seperti kisah nyata yang saya ceritakan (berdasarkan beberapa hadis sahih) di atas. Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Urusan-urusan besar tidak mampu membuatnya kehilangan perhatian terhadap rakyatnya, yang paling jembel sekalipun. Anas Ibn Malik yang sejak kecil mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah SAW bercerita: “Lebih Sembilan tahun aku menjadi pelayan Rasulullah SAW dan selama itu, bila aku melakukan sesuatu, tidak pernah beliau bersabda, ‘Mengapa kau lakukan itu?’ Tidak pernah beliau mencelaku.” “Pernah, ketika aku masih kanak-kanak, diutus Rasulullah SAW untuk sesuatu urusan;” cerita Anas lagi, “Meski dalam hati aku berniat pergi melaksanakan perintah beliau, tapi aku berkata, ‘Aku tidak akan pergi.’ Aku keluar rumah hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang dan bersabda sambil tertawa, ‘Hai Anas kecil, kau akan pergi melaksanakan perintahku?’ Aku pun buru-buru menjawab, ‘Ya, ya, ya Rasulullah, saya pergi.’” Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, dapatkah Anda membayangkan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap abdi kecilnya? Tapi pasti Anda dapat dengan mudah membayangkan betapa besar kecintaan dan hormat si abdi kepada ‘majikan’nya itu. Waba’du; apakah saya sudah cukup bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, sang pemimpin teladan yang luar biasa itu? Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salamNya kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan kita semua umat beliau ini. Amin. oleh : KH. A. Mustofa Bisri

Gus Mus : Sang Pemimpin

Serba Serbi Islam Sang Pemimpin (Kalam Ulama). Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut...
sayyidina umar

Kisah Sayyidina Umar Bin Khatab Masuk Islam

kalamulama.com - Kisah Sayyidina Umar Bin Khatab Masuk Islam. Sayyidina Umar bin Khattab adalah seorang sahabat yang namanya menjadi kebanggaan kaum muslimin. Karena semangat...
Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). Ketika Agama Kehilangan Tuhan Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya. Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama. Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama. Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya? Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja. (Baca juga: Dakwah Lemah Lembut Abu Bakr Al-Shiddiq) Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama. Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus. Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama. Dulu agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan. Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa. Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan. Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya. Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama. Oleh: KH. A. Mustafa Bisri/Gus Mus

Ketika Agama Kehilangan Tuhan

Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). Ketika Agama Kehilangan Tuhan Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya. Dulu orang berhenti membunuh karena...

28 DAWUH KH. MAIMOEN ZUBAIR

Berikut adalah sebagian dawuh KH. Maimoen Zubair atau yang lebih akrab disapa Mbah Moen, yang disampaikan dalam sebuah kesempatan pengajian: 1. "Sampeyan...