Home Kajian Islam Safinah Najah

Safinah Najah

Kajian Safinah Najah #02 : Biografi Pengarang Kitab

  Kehidupan Penulis Safinah, Syekh Salim bin Sumair (w. 1271 H/1855 M): Dari Bumi Hadlramaut menuju Tanah Abang-Batavia        Sangat disayagkan bila kita telah menikmati sebuah karya, namun...
  Kajian Al Hikam (Kalam Ulama).  Siapa yang tak kenal dengan kitab Safinatun Najah? Kitab fiqh yang sangat ringkas dan mudah dipahami bagi para pemula dan masyarakat umum. Dalam dunia Pesantren, kitab ini tergolong kitab fiqh wajib yang biasa dipelajari di kelas Ibtida`iyyah, setingkat Sekolah Dasar (SD). Secara global, kitab ini mengupas dasar-dasar agama, tata cara bersuci, seperti “cebok” (istinja`), wudlu`, bagaiamana kita beribadah kepada Allah, seperti salat, dengan benar, serta mengajarkan jenis dan berapa harta yang wajib kita keluarkan sebagai zakat. Klimaksnya, kitab Safinah ini sangat diperlukan bagi siapa saja yang hendak mengamalkan ajaran Islam, tidak hanya dalam waktu yang cepat, tapi juga dengan tepat. Baca Juga : Kajian Safinah Najah #02 : Biografi Pengarang Kitab   Nah, tahukah Anda bahwa kitab kecil ini tidak hanya menjadi acuan fiqh umat Islam di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Karena bahasanya sangat simple, kitab ini juga menjadi kiblat fiqh pertama bagi para pelajar sebagian negeri di Afrika dan Timur Tengah. Di Hadlramaut, Yaman, misalnya, hampir semua anak kecil diajari fiqh dengan kitab Safinah, baik di rumah maupun di lembaga pendidikan mereka. Di Makkah, jauh sebelum rezim Saudi berkuasa hingga sekarang, kitab Safinah selalu eksis sebagai mata pelajaran wajib di beberapa lembaga pendidikan, seperti Ash-Sholatiah, Darul ‘Ulum rintisan Syekh Yasin Al-Fadany, dan madrasah-madrasah lainnya.   Begitu juga di belahan benua Afrika seperti Ethiopia (Al-Habasyah), Tanzania, Shomalia, Kenya dan Nigeria, kitab Safinah sangat terkenal dan bermanfaat. Bahkan, di dunia Eropa kini, kitab ini menjadi media termudah untuk mengenalkan ilmu fiqh bagi para mu`allaf, orang-orang “bule” yang memeluk Islam. Tidah heran, kitab Safinah telah ditranslit ke berbagai bahasa lokal dan global, mulai dari bahasa Jawa, Sunda, Melayu, hingga bahasa-bahasa lokal Afrika, Inggris, Jerman, sampai bahasa China. Ini semua menunjukkan betapa dahsyatnya kemanfaatan kitab Safinah Najah bagi dunia Islam lintas era dan benua.   Di masa silam, banyak ulama yang sangat peduli dengan kitab mungil ini. Tidak sedikit yang menguraikan kata perkata dari setiap kalimat kitab ini dalam bentuk Syarh maupun Hasyiah. Dan juga, banyak yang menggubah bait-bait syi`ir dari kitab Safinah agar dilantunkan dengan indah dan dihafal dengan mudah oleh para pelajar pemula (mubtadi`). Disini kami lampirkan daftar enam nadzam/mandzumah dan delapan syarah-hasyiah sekaligus identitas penulis masing-masing sebagai berikut[1]:    Enam Nadzam Safinah   1. Nadzam karya Sayyid Abdullah bin ‘Ali Al-Haddad  2. Nadzam gubahan Sayyid Muhammad bin Ahmad Ba`aqiel 3. Nadzam Syekh Shiddiq bin Abdullah Lasem 4. Tanwirul Hija` nadzm Safinatun Naja Nadzam ini gubahan Syekh KH. Akhmad Qusyairi bin Siddiq lahir di Lasem dan tinggal di Pasuruan. Selesai menuntaskan nadzam ini pada tahun 1343 H, dengan penambahan bab Puasa, Haji-‘Umroh, dan ditutup dengan nasihat-nasihat. Nadzam ini dipelajari di banyak pondok pesantren Indonesia. 5. Al-Lu`lu`ah Ats-Tsaminah nadzm As-Safinah karya Syekh Muhammad bin Ali Zakin Al-Kindiy 6. As-Subhah Ats-Tsaminah nadzmis Safinah karya Sayyid Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad (1325-1416 H). Konon, beliau menggubah nadzam ini saat berusia 20 tahun atau lebih muda lagi.   Terlihat dari keenam nadzam diatas, dua dari Indonesia, dan lainnya dari penulis-penulis kebangsaan Hadlramaut-Yaman. Menunjukkan dua bangsa ini memiliki titik kesamaan: sangat kreatif mentransformasikan ilmu pengetahuan melalui sastra yang indah, agar para pelajar tak lelah menelaahnya.   Delapan Syarah-Hasyiah Safinah   1. Kasyifatus Saja` ‘ala Safinatin Naja karya Syekh Muhammad Nawawi Banten (1230-1314 H). Kitab ini merupakan syarah pertama bagi kitab Safinah dan tergolong paling lengkap. Di akhir kitab, Syekh Nawawi menambahi pembahasan Puasa, yang tak sempat ditulis oleh Syekh Salim bin Sumair, pengarang Safinah.   2. Ad-Durratust Tsaminah Hasyiah ‘alas Safinah karya Syekh Ahmad Al-Hadlrawi (1252-1327 H). Atas titah sang guru, beliau memulai karya ini di bumi Ethiopia-Afrika, dan menuntaskannya di Tha`if. Syekh Ahmad menambahkan bab Haji-Umroh plus Adab berziarah pada akhir kitab.   3. Nailur Raja` ‘ala Safinatin Naja karya Sayyid Ahmad bin Umar Asy-Syathiri (1312-1360 H), termasuk syarah yang sedang, tidak panjang, tapi juga tidak pendek. Isinya sangat sarat dan padat.   4. Inaratud Duja bi Tanwiril Hija` bi Nadzmi Safinatin Naja karya Syekh Muhammad Ali Al-Maliky (1287-1368 H). Meski menjabat sebagai Mufti Maliky di Makkah, perhatian beliau terhadap madzhab Syafi’i cukup luar biasa. Terbukti syarah Inarah ini merupakan syarah yang sangat mencerahkan dan luas wawasannya.   5. Wasilatur Raja` syarh Safinatin Naja karya Syekh Hasan Syirazi asal timur Afrika, usai ditulis tahun 1366 H.   6. Ad-Durratul Yatimah syarhus Subhatuts Tsaminah nadzm As-Safinah karya Al-Ustadz Muhammad bin Ali Ba’athiyyah lahir di Daw’an, Hadlramaut pada tahun 1382 H. Kitab ini merupakan syarah nadzm Safinah gubahan gurunya, Sayyid Ahmad Masyhur.   7. Ghayatul Muna syarh Safinatin Naja karya Syekh Muhammad bin Ali Ba’athiyyah juga. Syarh ini termasuk karya terbaru dan terluas, menyempurnakan syarh Kasyifatus Saja’ Syekh Nawawi Banten.   8. Sullamur Raja` bi Syarh Safinatin Naja karya Syekh Utsman bin Muhammad Sa`id kelahiran Jambi-Indonesia tahun 1320 H.   Dari keempat-belas karya monumental (total nadzam plus syarah-hasyiah) di atas, bisa kita lihat keberkahaan dan manfaat kitab Safinah ini. Meski mungil, tapi begitu mendunia. Dari negeri asal penulis, Yaman, hingga ke pelosok Nusantara dan Afrika, kitab ini terus dikaji dan diperkaya berbagai syarh dan gubahan syi’ir. Benar-benar seperti arti namanya, kitab ini bak Perahu Keselamatan yang melintasi berbagai madzhab fiqh, mengarungi lintas benua-samudera, dan menyelematkan setiap penumpangnya dari badai-ombak kehidupan yang suram menenggelamkan.               Akhir kata, kitab Safinah memuat intisari sebagian cara kita beragama dengan benar. Karenanya, mari kita mengaji-ulang sehingga mampu mengamalkannya. Tentu tidak hanya saklek, tapi pengajian ini akan kita perkaya dengan khazanah fiqh yang aktual dan dilengkapi dengan nilai-nilai hikmah di balik kajian yang kita angkat.   Semoga, melalui pengajian Safinah ini, kelak Allah Swt sudi mengantarkan ilham-Nya kepada kita sebagi sebuah ilmu yang dengannya kita mampu memahami segala titah dan larangan-Nya, dan menganugerahkan sebuah kesadaran yang mencerahkan kita, bagaimana mestinya kita ber-munajat kepada-Nya. Amiin Oleh : Roby Mohammad [1] Pengantar Sayyid Umar bin Hamid Al-Jaylani Hafidzahullah di Kitab Ad-Durratul Yatimah, 21-26, cet.

Kajian Safinatun Najah #01 : Safinah Najah, Kitab Mungil yang Mendunia

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama).  Siapa yang tak kenal dengan kitab Safinatun Najah? Kitab fiqh yang sangat ringkas dan mudah dipahami bagi para pemula dan masyarakat umum. Dalam dunia...

Stay connected

4,129FansLike
14,605FollowersFollow
1,801FollowersFollow
427SubscribersSubscribe

Popular Post

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ  ۞  إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...

Qosidah “Man Ana” (Siapa Diriku)

Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah ini juga sering beliau baca di...

Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga

Kalam Ulama - Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga.  Sebelum meneruskan perjalan ke lokasi Munas NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al...
Kajian Maulid Diba' #13 "Fahtazzal 'Arsyu" اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ Baca Juga : Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam   Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf.          

Kajian Maulid Diba’ #13 “Fahtazzal ‘Arsyu”

Kajian Maulid Diba' #13 "Fahtazzal 'Arsyu" اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka...

Qasidah “Assalamu’alaik Zainal Anbiya”

هذه القصده السلام عليك (1) ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ السلام عليك زينالأنبيآء ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Zainal anbiyaa-i (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai...