Kajian Islam

Kajian Islam (Kalam Ulama). Kuburan Keramat Para Wali dan Tempat Dikabulkannya Doa Rasulullah bersabda dalam hadits sahih yang diriwayatkan imam al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa diantara yg dimintakan oleh Nabi Musa doanya: " ﺭﺏّ ﺃﺩﻧﻨﻲ ﻣﻦ ﺍﻷﺭﺽ ﺍﻟﻤﻘﺪﺳﺔ ﺭﻣﻴﺔ ﺑﺤﺠﺮ " "Ya Allah dekatkanlah aku ke Tanah Bayt al-Maqdis meski sejauh lemparan batu". Kemudian Rasulullah bersabda: " ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﺃﻧﻲ ﻋﻨﺪﻩ ﻷﺭﻳﺘﻜﻢ ﻗﺒـﺮﻩ ﺇﻟﻰ ﺟﻨﺐ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻜﺜﻴﺐ ﺍﻷﺣﻤﺮ " "Demi Allah, jika aku di dekat kuburan Nabi Musa niscaya akan aku perlihatkan kuburannya kepada kalian di samping jalan di daerah al-Katsib al-Ahmar". Al-Hafizh Waliyyuddin al 'Iraqi berkata: "Dalam hadits ini terdapat dalil kesunnahan untuk mengetahui kuburan orang-orang yang saleh untuk berziarah ke sana dan memenuhi hak-haknya". Karena itu para ahli hadits seperti al Hafizh Syamsuddin ibn al-Jazari mengatakan dalam kitabnya 'Uddah al Hishn al Hashin: ﻭﻣﻦ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﺇﺟﺎﺑﺔ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻗﺒﻮﺭ ﺍﻟﺼﺎﻟـﺤﻴﻦ "Di antara tempat dikabulkannya doa adalah kuburan orang-orang yang saleh".

Kuburan Keramat Para Wali dan Tempat Dikabulkannya Doa

Kajian Islam (Kalam Ulama). Kuburan Keramat Para Wali dan Tempat Dikabulkannya Doa  Rasulullah bersabda dalam hadits sahih yang diriwayatkan imam al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa...
Kajian Islam (Kalam Ulama). Dua Nafkah yang Harus Dipenuhi Suami kepada Istri Seorang suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya baik nafkah lahir ataupun nafkah batin. Pertama nafkah lahir, yaitu nafkah yang berupa sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (rumah) sesuai kemampuannya seperti penggalan firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 233 dan surat Ath-Thalaaq ayat 6 : لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” Baca juga: Pengantin: Tinggal di Keluarga Istri Atau Suami? أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka” Kedua adalah nafkah batin. Tak bisa dipungkiri bahwa manusia butuh untuk menyalurkan hasrat biologisnya. Hubungan biologis inilah terkadang menjadi penyebab keretakan rumah tangga. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri : نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّكُم مُّلاَقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al Baqarah: 223) Penggalan ayat di atas bersifat tamtsil (perumpamaan). Allah swt. mengumpamakan istri bagaikan kebun tempat bercocok tanam sementara suami diumpamakan sebagai orang yang akan menanam benih. Adapaun cara untuk menanamnya dijelaskan Allah pada ayat selanjutnya yang berbunyi : “Datangilah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki”. Ayat ini menegaskan bahwa dalam melakukan hubungan intim, diperbolehkan dengan cara (gaya) apapun dengan catatan anatar suami dan istri merasa nyaman. Asalkan semua mengarah ke farji (kelamin). Seperti dijelaskan oleh Imam Syairozi dalam kitabnya “Al-Muhaddzab” Juz 2 halaman 62 : (نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم ) قال يقول يأتيها من حيث شاء مقبلة أو مدبرة إذا كان ذلك في الفرج Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223). Artinya datangilah (gaulilah) istrimu sesukamu baik dari depan atau belakang asalkan mengarah pada farji (kelaminnya). ( al-Muhaddzab II/62 ).

Dua Nafkah yang Harus Dipenuhi Suami kepada Istri

Kajian Islam (Kalam Ulama). Dua Nafkah yang Harus Dipenuhi Suami kepada Istri Seorang suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya baik nafkah lahir ataupun nafkah batin....
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #21 : Ancaman Bagi Para Koruptor بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الإيمان باب استحقاق الوالي الغاش لرعيته النار حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ عَادَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ الْمُزنِيَّ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ قَالَ مَعْقِلٌ إِنِّي مُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ لِي حَيَاةً مَا حَدَّثْتُكَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ. رواه مسلم Artinya: Dari Hasan (w. 50 H) berkata: "Ubaidullah bin Ziyad mengunjungi Ma'qil bin Yasar al-Muzani yang sedang sakit dan menyebabkan kematiannya. Ma'qil lalu berkata, 'Sungguh, aku ingin menceritakan kepadamu sebuah hadits yang aku pernah mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sekiranya aku mengetahui bahwa aku (masih) memiliki kehidupan, niscaya aku tidak akan menceritakannya. Sesunguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan Surga atasnya". HR. Muslim (w. 261 H) Istifadah: Hadis ini menjelaskan ancaman bagi para pengemban amanat rakyat, sedangkan ia melakukan kecurangan dan penipuan terhadap rakyatnya entah dengan korupsi, nepotisme dan lain sebagainya. Maka diharamkan baginya masuk surga. Menurut Imam Nawawi (w. 767 H) kata _harrama Allah 'alaihi al-Jannah_ memiliki dua pengertian. 1. Mustahil bagi pemimpin yang curang tersebut masuk surga 2. Diharamkan baginya masuk surga bersama orang-orang yang beruntung. Oleh karenanya, menurut Imam Al-Qadhi 'Iyadh mengatakan bahwa hadis ini merupakan ancaman bagi orang yang diberikan amanat lantas ia mengkhianatinya dan Allah SWT. memberi peringatan bahwa penghianatan terhadap hak rakyat termasuk dosa besar yang menjauhkan pelakunya dari surga. [Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah] Rabu, 15 Robi'ul Akhir 1439 H/ 3 Januari 2018 M [artikel number=5 tag=”one-day-one-hadits” ]

One Day One Hadits #21 : Ancaman Bagi Para Koruptor

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #21 : Ancaman Bagi Para Koruptor بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الإيمان باب استحقاق الوالي الغاش لرعيته النار حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ...
Kajian Islam (Kalam Ulama). Pengantin: Tinggal di Keluarga Istri Atau Suami? Terkadang menjadi sebuh dilema bagi pasangan suami istri untuk memilih tinggal dirumah keluarga suami ataukah keluarga istri. Atau bahkan tidak memilih keduanya. Hal ini harus dipilih secara tepat dengan penuh pertimbangan, karena lingkungan pasangan suami istri tinggal akan mempengaruhi kepribadian sang buah hati. Bagaimanapun menanam padi ditengah rerumputan akan menghalangi kehidupan padi tersebut. Kalaupun padi tersebut tumbuh maka tumbuhnya pun tidak akan subur. Tentunya ada hal lain yang perlu dipertimbangkan juga. Ketika pasangan suami istri, salah satu di antara keduanya menolak untuk tinggal di rumah keluarga istri ataupun di rumah keluarga suami, maka manakah tempat yang lebih utama diantara keduanya. Rumah keluarga istri ataukah rumah kelurga suami. Baca juga: Hak-Hak Istri Lebih Berbahaya, Jika Diabaikan As-Syankithi al-Hanbali menjawab dalam kitabnya “Umdatul fiqhi” juz 1 halaman 52 : “ Tetapi sungguh disini terdapat suatu masalah, yaitu perihal tempat tinggal. Memilih diantara keluarga atau jauh dari keluarga. Sebagian perempuan terkadang menginginkan tinggal di rumah keluarganya (dan) jauh dari keluarga suami. Terkadang juga suami menginginkan tinggalnya istri diantara keluarga suami. Ini adalah perkara yang secara hakiki membutuhkan pertimbangan. Sungguh suami dan istri ketika salah satu diantara keduanya menolak untuk tinggal di antara keluarga suami atau keluarga istri maka (perlu) dilihat dan ditimbang (terlebih dahulu) di  antara keduanya. Ketika jauh dari kelurga istri untuk tujuan syariat dan takut atas istrinya fitnah atau takut atas istrinya merusak kekerabatan keluarganya (istri) atau di tempat yang dekat dari keluarga istri di dalamnya ada tetangga yang jelek atau semisalnya, maka hak suami memberikan tempat dimana (mereka) tinggal.  (Hendaknya) suami melihat (dimana) tempat yang paling mashlahat dan utama bagi istri. Tidaklah termasuk hak suami menetapkan istri di antara keluarganya (suami) selama keluarganya (suami) tidak memenuhi hak-hak Allah di dalam rumahnya. Yang mana akan mempengaruhi tingkah laku suami dan tingkah laku anak-anaknya. Ketika hal ini terjadi maka hak istri menginginkan berpindah dari tempat ini ke tempat yang lebih jauh. Termasuk hak istri juga  mencari hal itu (tempat tinggal). Karena sungguh tetapnya istri ditempat ini adalah suatu madharat. Jika kita mencermati perkataan as-Syankithi terdapat keseimbangan antara suami dan istri. Tidak ada dominasi kepada lelaki yang memaksakan kehendak untuk tinggal diantara keluarganya jika memang hal itu akan buruk kepada istrinya dan lebih lanjut anak-anaknya. Intinya kemashlahatnlah yang dicari diantara pasangan suami istri.   oleh : @alfarisi_hamzah

Pengantin: Tinggal di Keluarga Istri Atau Suami?

Kajian Islam (Kalam Ulama). Pengantin: Tinggal di Keluarga Istri Atau Suami? Terkadang menjadi sebuh dilema bagi pasangan suami istri untuk memilih tinggal dirumah keluarga suami...
Kajian Islam (Kalam Ulama). Hak-Hak Istri Lebih Berbahaya, Jika Diabaikan Ada sebuah pepatah arab yang mengatakan “baity jannati” rumahku surgaku. Tentu untuk membangun sebuah surga di dalam rumah bukanlah hal yang mudah. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah memenuhi hak masing-masing anggota keluarga. Namun apakah yang terjadi ketika salah satu dari hak masing-masing anggota keluarga terabaikan. Lebih berbahaya manakah antar hak istri yang terabikan ataukah hak suami yang terabaikan. Baca juga: Dirikanlah Sholat, Allah Akan Mencukupi Rezeki-mu Mengabaikan hak-hak istri itu lebih berbahaya dan lebih  besar (madharatnya), karena istri ketika sang suami mengabaikan hak-haknya maka dia tidak tahu apa yang akan dia kerjakan dan tidak tahu dimana dia harus pergi. Istri itu di bawah lindungan hak-hak suami. Seperti kata as-Syankithi dalam kitab “Umdatul fiqhi” juz 1 halaman 36 : قال العلماء : إن إضاعة حقوق الزوجة أعظم من إضاعة حقوق الأزواج, لأن الزوج إذا ضاع حقها لاتدري ماذا تفعل ولا أين تذهب وهي تحت ذلك الزوج الذي يمسكها للأضرار والتضييق عليها. Para Ulama berkata : “Sesungguhnya mengabaikan hak-hak istri itu lebih besar (bahayanya) dari pada mengabaikan hak-hak suami. Karena sungguh istri ketika suami mengabikan haknya dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan dan dimana dia akan pergi. Istri itu dibawah hak-hak suami yang menjaganya dari marabahaya dan kesulitan atasnya (istri).” oleh : @alfarisi_hamzah  

Hak-Hak Istri Lebih Berbahaya, Jika Diabaikan

Kajian Islam (Kalam Ulama). Hak-Hak Istri Lebih Berbahaya, Jika Diabaikan Ada sebuah pepatah arab yang mengatakan “baity jannati” rumahku surgaku. Tentu untuk membangun sebuah surga...
Kajian Islam (Kalam Ulama). Dirikanlah Sholat, Allah Akan Mencukupi Rezeki-mu يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً “Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Coba kita cermati ayat diatas, Allah SWT memberikan perintah kepada kaum mukminin untuk taat kepada-Nya. Pada lafad selanjutnya kata “athi’uu” diulang kembali, itu menunjukkan bahwa taat kepada rasul seakan-akan tidak perlu menengok kembali apakah bertentangan dengan perintah Allah ataupun tidak. Memang pada kenyetaannya Rasul adalah utusan Allah yang tidak mungkin bertentangan dengan Allah, kalaupun melenceng pasti langsung ditegur Allah. Namun pada lafad selanjutnya kata “athi’uu” pada Ulil amri tidak diulang kembali. Artinya kalau kita taat kepada Ulil amri harus menengok kembali apakah perintahnya bertentangan dengan Allah dan Rasulnya. Jika perintah itu bertentangn maka tidak perlu dikerjakan, seperti sabda Nabi SAW : وقال الإمام أحمد: حدثنا عبد الرحمن، حدثنا همام، حدثنا قتادة، عن أبي مرابة، عن عمران بن حصين، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "لا طاعة في معصية الله" المسند ٤/٤٢٦   Imam Ahmad berkata “Bercerita padaku Abdur rahman dari Hammam dari Abu Muraabah Imran Bin Husein dari Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam “Tidak ada ketaatan dalam maksiat pada Allah” (HR. Ahmad dalam Musnadnya IV/426) Kalau perintah taat dikaitkan dengan kehidupan berkeluarga mengandung hikmah yang sangat dalam dan para ulama terkagum-kagum dengan firman Allah berikut Surat Thahaa ayat 132:  ( وأمر أهلك بالصلاة واصطبر ) اصبر ( عليها لا نسألك ) نكلفك ( رزقا ) لنفسك ولا لغيرك ( نحن نرزقك والعاقبة ) الجنة ( للتقوى ) لأهلها. (Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu) teguh dan sabarlah kamu (dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta kepadamu) tidak membebankan kepadamu (rezeki) untuk dirimu dan tidak pula untuk orang lain (Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik itu) yakni pahala surga (hanyalah bagi ketakwaan) bagi orang yang bertakwa. Qs. Thahaa ayat 132 ; (Tafsir Jalalain) Para Ulama terkagum-kagum melihat ayat ini karena Allah berfirman dalam ayat tersebut “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat” kemudian setelah berfirman demikian Allah perintah untuk bersabar dalam mengerjakannya “Kami tidak meminta kepadamu rezeki Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Tidak ada suami yang memenuhi hak Allah, menunaikan kewajiban Allah pada istrinya dan keluarga, memberikan nasihat padanya, mengingatkannya sampai berdiri keluarga yang mentaati Allah dan mencari ridho Allah kecuali Allah mencukupinya (suami) urusan dunia. Dapat diambil hikmah dari penjelasan ayat  dan penjelasan ulama’ di atas, bahwa di dalam perintah taat ada jalan barokah dalam hal rizki dan jalan kebaikan dalam hal nikmat atas keluarga muslim yang mentaati Allah dan mencintai Allah. Dengan demikian wasiat Allah kepada kamu mukminin ketika ingin menikah, hendaknya memilih perempuan sholihah yang iman dan beragama. Karena perempuan sholehah selalu menunaikan perintah Allah dalam keluarganya. Demikian dijelaskan dalam kitab “Umdatul fiqhi” karya as-Syankithi al-Hanbali, Semoga Allah merahmati beliau. Oleh : @alfarisi_hamzah

Dirikanlah Sholat, Allah Akan Mencukupi Rezeki-mu

Kajian Islam (Kalam Ulama). Dirikanlah Sholat, Allah Akan Mencukupi Rezeki-mu يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ...
Keputusan Bahtsu Masail Tentang Hukum Uang Elektronik Syari'ah dalam Islam PW NU Jawa Timur di PP. Sunan  Bejagung Semanding Tuban Sabtu- Ahad, 24- 25 Jumadal Ula 1439 H / 10- 11 Februari  2018 M Uang Elektronik (PCNU Ka Tuban) Deskripsi Masalah (Kalam ulama) – Uang Elektronik  menurut Bank Central  Eropa adalah penyimpanan nilai uang  secara elektronik pada perangkat teknis yang  dapat digunakan  secara luas untuk  melakukan pembayaran  ke pihak   lain.   Perangkat  bertindak  sebagai  instrumen  pembawa  uang prabayar yang tidak harus melibatkan rekening bank dalam transaksi. Produk   Uang   Elektronik   menurut  Bank   Indonesia  membaginya  sebagai  produk berbasis  chip   dan   berbasis  server.  Untuk  produk   berbasis  chip,  daya   beli  berada  di perangkat fisik seperti kartu  chip  atau  sitker dengan fitur  keamanan berbasis perangkat keras. Nilai uang biasanya ditransfer melalui  pembaca perangkat yang tidak  memerlukan konektivitas   jaringan real- time   ke   server.  Sementara  produk    yang   berbasis   server umumnya hanya berfungsi di perangkat pribadi seperti komputer, tablet  atau  ponsel pintar. Untuk transfer nilai uang, perangkat perlu  tersambung melalui  jaringan  internet dengan server yang mengontrol penggunaan daya beli. Baca Juga : Hukum Memilih Pemimpin Non Muslim: Keputusan Bahtsul Masail PCNU Kota Surabaya 25 September 2016 Untuk  meningkatkan  penggunaan  uang   Elektronik   ini,  Bank  Indonesia  memiliki program Gerakan   Nasional  Non  Tunai  (GNNT). Program ini  mulai  digencarkan  dalam berbagai kebijakan, salah satunya aturan 100% non tunai pada transaksi di gerbang tol. Pertanyaan: a. Apa status Uang Elektronik baik yang berbasis Chip atau Server  menurut Fiqh? Jawaban: Status Uang  Elektronik  tersebut  menurut Fiqih  adalah alat  transaksi yang  sah layaknya uang fisik sebab berisikan nominal   uang  yang  tersimpan pada lembaga keuangan yang menerbitkan. b. Bagaimana hukum Isi ulang/ top up Uang Elektronik yang dikenakan Biaya? Jawaban: Pembayaran Top Up melalui  penerbit e-money  langsung atau  melalui  pihak yang ditunjuk   melalui   pihak   yang   ditunjuk   seperti  Indomart,  Alfamart   dapat  dibenarkan. Adapun  uang tambahan biaya top up, tergolong uang jasa. c. Bagaimana fikih melihat kebijakan yang mengharuskan menggunakan Uang Elektronik dalam transaksi? Jawaban : Boleh , sebab terdapat maslahah amah

Hukum Uang Elektronik dalam Islam (Syari’ah)

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=d_xJkqcAlu8?rel=0&autoplay=1] Keputusan Bahtsu Masail Tentang Hukum Uang Elektronik Syari'ah dalam Islam PW NU Jawa Timur di PP. Sunan  Bejagung Semanding Tuban Sabtu- Ahad, 24- 25 Jumadal Ula...
Kajian Islam (Kalam ulama). Hak Pertama istri atas suaminya Seorang istri mempunyai banyak hak dari suaminya. Diantara hak-hak tersebut ada hak yang paling yang harus dipenuhi.  hak tersebut yaitu yaitu  suami memerintahkan istrinya untuk taat kepada Allah. Karena Allah mensyariatkan perkawinan dan membolehkan pernikahan supaya menjadi penolong atas ketaatan kepada Allah, dan menjadi jalan kepada rahmat Allah.  Perkara yang wajib atas suami adalah memrintahkan istri dengan apa-apa yang Allah telah perintahkan, dan melarang apa-apa yang Allah telah larang. Seperti perkataan as-Syankithi al-Hanbali dalam kitab “Umdatul fiqhi” bab pernikahan dan kedudukan hak juz 1 halaman 38 : فأول ما ذكر العلماء من حقوق الزوجة أن يأمرها بطاعة الله –تبارك وتعالى- هذا aالحق الذي من أجله قام بيت الزوجية فإن الله شرع الزواج وأباح النكاح لكي يكون عونا على طاعته ويكون سبيلا إلى رحمته. فالواجب على الزوج أن يأمر زوجته بما أمر الله وأن ينها عما حرم الله, وان يأخذ بحجزها عن عقوبة الله ونارالله. “hak-hak pertama istri yang telah dituturkan para ulama yaitu suami memerintahnya taat kepada Allah –Semoga memberkahi dan maha luhur Allah- Ini adalah hak yang karenanya berdiri keluarga. Sungguh Allah mensyari’atkan perkawinan dan membolehkan pernikahan supaya menjadi penolong atas taat pada Allah dan menjadi jalan atas rahmat Allah. Perkara yang wajib atas suami adalah memerintahkankan istrinya apa-apa yang Allah telah perintahkan, dan melarang apa-apa yang Allah telah larang. Suami mencegah istrinya dari siksaan Allah dan neraka Allah.” OLeh : Hamzah Alfarisi

Hak Pertama Istri atas Suaminya

Kajian Islam (Kalam ulama). Hak Pertama istri atas suaminya Seorang istri mempunyai banyak hak dari suaminya. Diantara hak-hak tersebut ada hak yang paling yang harus dipenuhi.  hak...
Kajian Islam (Kalam ulama). Sayyid Mandur selaku pengurus Ikatan Sufi Mesir memberi keterangan mengenai pendirian tarekat baru oleh Mufti Negara Mesir periode sebelumnya, Syaikh Ali Jum'ah, yang menggunakan nama Syadzuliyah Aliyah Muhammadiyah. Menurut beliau, tarekat ini bermanhaj dengan manhaj sufi syadzili. Apalagi secara khusus, Syaikh Ali Jum'ah adalah salah satu murid Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim, pendiri pusat studi sufi Al-'Asyirah Al-Muhammadiyah Asy-Syadzuliyah (Kekeluargaan Tarekat Muhammadiyah Syadzuliyah). Sayyid Mandur menuturkan kepada Harian Dustur (salah satu kantor berita Mesir) bahwa tarekat baru ini dinamai setelah melalui musyawarah bersama para masyayikh tarekat Ikatan Sufi Mesir. Sebagaimana diketahui, pusat tarekat ini berada di daerah 6 Oktober samping Masjid Fadhil, masjid yang didirikan oleh Syaikh Ali Jum'ah. Masjid ini juga berfungsi seperti raudhah atau sahah (pusat pendidikan sufi) yang dikhususkan untuk tarekat Syadzuliyah Aliyah. Penanggung jawab Ikatan Sufi juga menuturkan kepada Harian Dustur bahwa semua masyayikh tarekat sufi sudah mengetahui adanya tarekat baru ini. Beliau mempersilakan Syaikh Ali Jum'ah untuk segera mengurus berkas pendiriannya di Majelis A'la Ikatan Sufi. Beliau juga berkata bahwa kehadiran tarekat baru ini sudah disetujui dan disrestui oleh para masyayikh sufi. Penanggung jawab Ikatan Sufi menambahkan bahwa para masyayikh sufi memiliki kecintaan dan pengakuan yang kuat kepada Dr. Ali Jum'ah. Hal ini dapat dilihat dari besarnya dukungan mereka kepada beliau pasca aksi teror yang dilancarkan oleh kelompok teroris Ikhwanul Muslimin kepada beliau sekitar tanggal 30 Juni lalu dan usaha beliau di media massa dalam membuktikan kerusakan pola pikir ekstrimisme yang banyak dikembangkan oleh kaum salafi. Persetujuan para masyayikh sufi terhadap tarekat baru ini menunjukkan bahwa jumlah tarekat sufi di negeri Mesir bertambah satu menjadi 77 tarekat. Jumlah pengikut tarekat baru ini diperkirakan mencapai 300.000 murid berkewarganegaraan Mesir dan 100.000 berkewarganegaraan asing. Di pihak lain, Dr. Alauddin Abul Azaim, anggota Majelis A'la Ikatan Sufi, mengaku gembira dengan kehadiran tarekat baru ini. Beliau mengungkapkan bahwa tarekat baru ini menjadi tambahan kekuatan yang besar bagi Ikatan Sufi dan penyebaran Islam moderat. Abul Azaim juga menuturkan bahwa pendirian tarekat baru oleh Dr. Ali Jum'ah ini benar-benar untuk pengembangan sufi dan tarekat, apalagi selama ini sang mantan mufti negara dikenal aktif menyampaikan pembelaannya terhadap sufi dan tarekat dari pemahaman yang menyimpang dan tuduhan orang-orang ekstrimis. Beliau juga melihat bahwa dengan masuknya Dr. Ali Jum'ah ke Ikatan Sufi memperkuat usaha persatuan para sufi. Beliau memandang bahwa tarekat-tarekat sufi memang membutuhkan ulama mulia semisal beliau, apalagi masa-masa seperti ini. Menurut informasi yang diterima Harian Dustur dari asisten Dr. Ali Jum'ah, tareka ini baru akan diumumkan secara resmi selepas pengurusan seluruh persyaratan resmi pendaftaran. Awalnya nama yang diusulkan adalah Aliyah Syadzuliyah, hanya saja Majelis A'la sempat menolak nama tersebut kemudian diganti dengan nama Syadzuliyah Aliyah. Pusat perwakilan tarekat juga akan segera didirikan diberbagai tempat di Mesir, untuk sekarang sudah adalah di Kairo, Iskandariyah, Syarqiyah, Gharbiyah, dan Aswan. @adhlialqarni  ____________ Note: Disarikan dari berbagai sumber.  

SYAIKH ALI JUM’AH MENGASASKAN TAREKAT SYADZULIYAH ALIYAH

Kajian Islam (Kalam ulama). Sayyid Mandur selaku pengurus Ikatan Sufi Mesir memberi keterangan mengenai pendirian tarekat baru oleh Mufti Negara Mesir periode sebelumnya, Syaikh Ali Jum'ah,...
Kajian Islam (Kalam ulama). Proporsional dalam memenuhi hak Secara global hak dibagi menjadi dua yaitu (1) Haqqul Allah dan (2) Haqqul adamy. Haqullah (hak Allah) adalah hal-hak yang berhubungan dengan Allah. Sedangkan haqqul adamy (hak-hak anak adam) adalah hak-hak yang berhubungan dengan sesama manusia, seperti tetangga, istri, orang tua dan lain sebagainya. Sebagai seorang suami tentu haruslah tahu hak-hak yang harus dipenuhi bagi istrinya. Jangan sampai terlalu sibuk dengan ibadah namun hak-hak istri dan keluarganya terabaikan.  Lebih-lebih hak bagi dirinya sendiri terabaikan akhirnya hak-hak yang lain ikut terbengkalai. Hal itu jangan sampai terjadi. Semua harus dibagi secara proporsional. Untuk membuktikan bahwa semua hak harus dipenuhi secara proporsional, perhatikan hadist berikut. Disebutkan dalam kitab “Husnul Asyroh” karya Fuad bin Abdul aziz juz 1 halaman 12 :  Kami sebutkan kisah Abu Darda’ kemudian hadist Nabi SAW untuk Amr bin Ash. Kedua kisah ini mengandung peringatan. (Baca juga : Laki-laki Sholeh bagi Istrinya) Dari Abu Juhaifah berkata : Nabi SAW mempersaudarakan sahabat Salman dan Sahabat Abu Darda’. Suatu ketika Salman mengunjungi Abu Darda’, dia melihat Ummu Dar’da itu dermawan. Kemudian Salman bertanya padanya : “Apa perlumu?”  Ummu Darda’ menjawab : “Saudaramu Abu Darda’ tidak butuh dunia. Lalu datang Abu Darda’ membuat makanan. Salman berkata : “Makanlah” Abu Darda’ menjawab : “ aku puasa”. Pada tengah malam Abu Darda’ berdiri (sholat) kemudian Salman berkata : “tidurlah” lalu Abu Darda’ tidur. Dia bangkit lagi (sholat) lalu Salman berkata : “tidurlah”. Ketika di akhir malam Salman berkata : “Bangunlah sekarang”. Kemudian keduanya sholat. Setelah itu Salman berkata : “ Sungguh bagi Tuhanmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu ada hak, maka berikanlah setiap hak dari masing-masing. Datang Rasulullah bertutur demikian kepada Abu Darda’. Nabi SAW berkata : “ Salman itu benar” HR. Bukhori no. 1968 Sahabat Abu Darda’ tidak menyibukan dirinya dengan selau beribadah kepada Allah. Dia lelaki yang selalu puasa dan sebagian besar malam untuk sholat dan dia mengurangi hak keluarganya. Namun yang demikian dilarang karena Abi Darda’ mengabaikan hak istrinya. Kisah serupa terjadi pada Abdullah bin Amr bin Ash : Sungguh dia puasa pada siang hari, dan berdiri (sholat) pada malam hari. Maka Nabi SAW mencegahnya dari hal demikian. Karena itu melemahkan hak istrinya.  قال صلى الله عليه وسلم لعبد الله بن عمرو بن العاص : يا عبد الله ألم أخبر أنك تصوم النهار, وتقوم اليل, قلت بلى يارسول الله. قال فلا تفعل, صم وأفطر, وقم ونم, فإن لجسدك عليك حقا, وإن لعينك عليك حقا, وإن لزوجك. رواه البخاري ٥١٩٩ “ Nabi SAW berkata kepada Abdullah bin Amr bin Ash : Wahai Abdallah Apakah akau tidak mengabarkan bahwa sesungguhnya kamu berpuasa di siang hari, dan berdiri (Sholat) di malam hari. Saya berkata : Iya (mengabarkan) Ya Rasulullah. Lalu Nabi berkata : Maka jangan lakukan, puasalah dan berbukalah, berdirilah dan tidurlah, sungguh bagi dirimu ada hak, bagi matamu ada hak, dan bagi istrimu ada hak.” HR. Bukhori no. 5199 Oleh : Hamzah Alfarisi

Proporsional dalam Memenuhi Hak

Kajian Islam (Kalam ulama). Proporsional dalam memenuhi hak Secara global hak dibagi menjadi dua yaitu (1) Haqqul Allah dan (2) Haqqul adamy. Haqullah (hak Allah) adalah...

Medsos Kalam Ulama

4,662FansLike
14,952FollowersFollow
4FollowersFollow
1,879FollowersFollow
2,451SubscribersSubscribe

Popular Post

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini juga sering beliau baca di hadapan Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Beliau awali dengan doa: بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" Berikut bait Qosidah "Man Ana" (Siapa Diriku): مَنْ أَنَا مَنْ أَنَا لَوْلَاكُم # كَيْفَ مَا حُبُّكُمْ كَيْفَ مَا أَهْوَاكُم Siapakah diriku, siapakah diriku kalau tiada bimbingan kalian (guru) Bagaimana aku tidak cinta kepada kalian dan bagaimana aku tidak menginginkan bersama kalian مَا سِوَيَ وَلَا غَيْرَكُم سِوَاكُم # لَا وَمَنْ فِى المَحَبَّةِ عَلَيَّ وُلَاكُم Tiada selain ku juga tiada selainnya terkecuali engkau, tiada siapapun dalam cinta selain engkau dalam hatiku أَنْتُم أَنْتُم مُرَادِي وَ أَنْتُم قَصْدِي # لِيْسَ احدٌ فِى المَحَبَّةِ سِوَاكُم عِنْدِي Kalianlah, kalianlah dambaanku dan yang kuinginkan, tiada seorangpun dalam cintaku selain engkau di sisiku كُلَّمَا زَادَنِي فِى هَوَاكُم وَجْدِي # قُلْتُ يَا سَادَتِي مُحْجَتِي تَفْدَاكُم Setiap kali bertambah cinta dan rindu padamu, maka berkata hatiku wahai tuanku semangatku telah siap menjadi tumbal keselamatan dirimu لَوْ قَطَعْتُمْ وَرِيْدِي بِحَدِّ مَا ضِي # قُلْتُ وَاللهِ أَنَا فِى هَوَاكُم رَاضِي Jika engkau menyembelih urat nadiku dengan pisau berkilau tajam, kukatakan demi Alloh aku rela gembira demi cintaku padamu أَنْتُمُ فِتْنَتِي فِى الهَوَا وَمُرَادِي # مَا ِرِضَايَ سِوَى كُلُ مَا يَرْضَاكُم Engkaulah yang menyibukkan segala hasrat dan tujuanku, tiada ridho yang aku inginkan terkecuali segala sesuatu yang membuat mu ridho كُلَّمَا رُمْتُ إِلَيْكُم نَهَوْ مَنْ أَسْلَك # عَوَقَتْنِيْ عَوَائِق أَكَاد أَنْ أَهْلِك Setiap kali ku bergejolak cinta padamu selalu terhalang untuk aku melangkah, mereka mengganjalku dengan perangkap yang banyak hampir saja aku hancur فَادْرِكُوا عَبْدَكُم مِثْلُكُمْ مَنْ أَدْرَكْ # وَارْحَمُوا بِا المَحَبَّةِ قَتِيْل بَلْوَاكُم Maka tolonglah budak kalian ini, dan yang seperti kalianlah golongan yang suka menolong, dan kasihanilah kami dengan cinta kalian, maka cinta kalian membunuh dan memusnahkan musibahku Sumber: Muhammad Ainiy

Man Ana Laulakum (Siapa Diriku) Lirik, Latin, dan Terjemahannya

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini...
Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ ۞ إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Qasidah Burdah Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...
SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ma’as-salaamah fii amaanih Syaikhonaa Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa) Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guruku, Ya Allah Tuhanku, rahmatilah pendidik jiwa kami (wahai Tuhanku) عَيْنُ الْمُحِبِّ بِالدُمُوْعِ حَازِنَا رَوْعًا عَلَی افْتِرَاقِ مَنْ قَدْ أَحْصَنَا… يَا شْيْخَنَا ‘Ainul muhibbi biddumuu’i haazinaa Rou’an ‘alaa-ftirooqi man qod ahshonaa (Yaa Syaikhonaa) Mata penuh cinta dipenuhi air mata, sedih karena akan berpisah dari sosok yang memberi (kemuliaan) pada kami (wahai guru kami) رَوَضَّنَا بِأُسْوَةٍ مَحَاسِنَا شَرَفَهُ اللهُ فِی جَوَارِ نَبِيِّنَا… يَا رَبَّنَا Rowwadlonaa bi uswatin muhaasinan Syarrofahullaahu fii jiwaar nabiyyinaa (Yaa Robbanaa) Beliau mengajari kami dengan teladan-teladan yang baik, Semoga Allah memuliakannya berada bersama Nabi kami (wahai Tuhanku) وَنَتَبِعْ عَزْمَكْ وَکُنْتَ مُتْقِنَا أَرِحْ وَنَوْمًا گالعْرُوْسِ آمِنَا… يَا شَيْخَنَا Wa nattabi’ ‘azmak wa kunta mutqinaa Arih wa nauman kal ‘aruusi aaminaa (Yaa Syaikhonaa) Kami tunduk akan kehendakMu dan kau sosok yang dipatuhi, beristirahatlah dan tidurlah dengan tenang bak pengantin (wahai guru kami) فَاعْفُ إِذَا لَمْ تَرْضَ مِنْ أَعْمَانِنَا دَوْمًا دُعَاءً رَبَّنَا اغْفِرْ شَيْخَنَا… يَا رَبَّنَا Fa’fu idzaa lam tardlo min a’maaninaa Dauman du’aa-an robbanaa-ghfir syaikhonaa (Yaa Robbanaa) Maafkan kami bila ada yg tidak berkenan dihati selama masa belajar kami, kami senantiasa berdoa: Ya Tuhanku ampunilah guru kami (wahai Tuhanku) كُلُّ الْقُلُوْبِ اِلاَّلْحَبِيْبِى تَمِيْلُ * وَمَعِى بِذَلِكَ شَاهِدٌ وَدَلِيْلُ اَمّاَ الدَّلِيْلُ اِذَا ذَكَرْتُ مُحَمَّدًا * صَارَتْ دُمُوْعُ العَاشِقِيْنَ تَسِيْلُ

Ya Syaikhona – Lirik Sholawat, Latin dan Terjemahnya

Kalam Ulama - TEKS SHOLAWAT DAN TERJEMAH YA SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ya Syaikhona Ma’as-salaamah fii amaanih...
KalamUlam.com - Kajian Maulid Diba #13 Fahtazzal arsyu tharaban was-tibsyâra, Waz-dâdal kursiyyu haibatan wa waqâra,  Wam-tala-atis samâwâtu anwâra, wa dhaj-jatil mala-ikatu tahlîlan wa tanjîdan was-tighfâra اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ [irp posts="933" name="Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam"]  Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf. Demikian pembahasan fasal fahtazzal arsyu      

Fahtazzal Arsyu – Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (03)

KalamUlam.com - Fasal Fahtazzal Arsyu ini merupakan fasal yang begitu luar biasa. Karena didalam fasal ini diceritakan bagaiamana kemulian Nabi Muhammad dan semua alam menyambut...
Maulid Diba dan Terjemahannya KalamUlama.com - Teks Maulid diba banyak sekali yang sehingga para pembaca bisa membuka link maulid diba full. tapi kami memohon maaf belum menyediakan maulid diba pdf. Sebagaimana kami ketahui, bahwa para ulama salaf banyak sekali yang menulis kitab, buku atau postingan singkat yang memuat bacaan shalawat. Hal itu dikerjakan untuk mewujudkan sebuah bukti kecintaan mereka kepada Nabi yang disanjungnya. Bacaan shalawat yang berupa buku atau kitab antara lain : shalawat Dala'il, shalawat Bakriyah, shalawat Diba'iyyah dan lain-lain. Sedangkan yang berupa postingan singkat antara lain shalawat Nariyah, shalawat Rajabiyah, shalawat Munjiyat, shalawat Fatih, shalawat Sa’adah. shalawat Badriyah dan lain- lain. Dari sekian banyak kitab yang memuat bacaan shalawat berikut tersedia yang palingterkenal dan sering dibaca yang diadakan oleh warga Nahdliyyin, antara lain adalah shalawat Diba’iyyah. Jadi pengertian Diba’an adalah : membaca kitab yang memuat bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Diba’i. Pengarang Maulid Diba' Maulid Diba’ adalah satu karya maulid yang masyhur didalam Islam adalah maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits, yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i. Sebagaimana yang udah disebutkan, kitab ini sering dicetak dan dibukukan sejalan dengan dua kitab maulid di atas, Syaroful Anam dan Al-Barjanzi. Pengarangnya adalah Imam Wajihuddin Abdu Ar-Rahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Dibai (866H-944H), beliau berasal Zabid, keliru satu kota di Yaman. Selain ulama yang produktif mengarang kitab, beliau juga dikenal sebagai ahli hadits, bahkan mencapai derajat Al-Hafiz, yaitu hafal 100.000 hadits dengan sanadnya. Sanad Pengarang Maulid Diba Syaikh Abdurrahman Ad Dibai dilahirkan pada 4 Muharram 866 H dan wafat pada hari Jumat 12 Rajab tahun 944H. Pada masanya, beliau adalah seorang ulama hadits yang tenar dan tak ada bandingannya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai darjat Hafidz didalam pengetahuan hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya dan setiah hari beliau mengajar para santrinya hadits dari masjid ke masjid. . Guru-guru beliau di antaranya adalah Imam al-Hafidz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau juga merupakan seorang yakni ahli sejarah. Adapun kitab karangannya adalah sebagai berikut: “Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang memiliki kandungan himpunan hadits yang dinukil dari pada kitab hadits yang 6. “Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin naasi minal hadits” sebuah kitab yang membedakan 3. hadits sohih dengan yang lainnya seperti dhoif dan maudhu. “Qurratul ‘Uyun fi akhbaril Yaman al-Maimun” “Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid”. “Fadhail Ahl al-Yaman”. Hukum Membaca Maulid Diba Membaca shalawat ad dibai atau shalawat yang lain menurut pendapat Jumhurul Ulama adalah sunnah Muakkad. Kesunatan membaca shalawat ini didasarkan pada lebih dari satu dalil, antara lain: Firman Allah SWT. Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah anda untuk Nabi dan sampaikanlan salatu penghormatan kepadanya. (QS. AI-Ahzab : 56) Sabda Nabi SAW.: صلوا علي، فإن الصلاة علي كفارة لكم وزكاة. [رواه ابن ماجه] Artinya : “Bershalawatlah anda untukku, karena membaca shalawat untukku bisa mengahapus dosamu dan bisa membersihkan pribadimu”. (HR. lbnu Majah) Sabda Nabi SAW. : زينوا مجالسكم بالصلاة علي، فإن صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة Artinya: “Hiasilah tempat-tempat pertemuanmu dengan bacaan shalawat untukku, karena sesungguhnya bacaan shalwat untukku itu menjadi cahaya bagimu pada hari kiamat”. (HR. Ad-Dailami). Keutamaan Maulid Diba Seseorang yang ahli membaca shalawat bakal diberi anugerah oleh Allah, antaralain : Dikabulkan do’anya الدعاء كله محجوب حتى يكون أوله ثناء على الله عز وجل وصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو فيستجاب له لدعاءه Artinya: “Setiap do’a adalah terhalanh, sehingga dimulai dengan memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi, sesudah itu baru berdo'a dan bakal dikabulkan do’a itu”. (HR. Nasa’i). Peluang untuk mendapat syafa'at Nabi pada hari kiamat. Dihilangkan ada problem dan kesulitannya. Dan lain-lain. Cara Membaca Diba’iyyah Dibaca dengan kesungguhan dan keikhlasan hati dan juga diiringi rasa hormat dan mahabbah/cinta kepada Rasulullah SAW. Jelas sekali dalalah ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi berikut bahwa kami sebagai ummat Muhammad diperintahkan untuk membacakan shalawat kepada Nabi SAW. agar dapat mengagungkannya sekaligus mengharapkan barokahnya sewaktu kami masih hidup di dunia dan sehingga mendapat syafa’atul udzma dikala kami berada di alam mahsyar kelak. Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW (Diringkaskan dari kitab Azzahrul Baasim karya Mufti Betawi zaman Hindia Belanda, al-Habib Utsman bin ‘Abdillah bin Yahya rohimahullohu ta’ala): Dilaksanakan pada tempat-tempat yang terhormat seperti masjid, musholla, majelis-majelis, atau perkumpulan mulia, dan sebagainya. Tidak boleh tersedia pada tempat berikut suatu patung-patung binatang atau manusia yang menjadi simbol pengagungan dan penyembahan terhadapnya (misal patung dewa, bunda maria, dan sejenisnya), karena hal berikut dibenci oleh beliau (SAW) dan para Malaikat. Ketika membaca shirohnya (sejarahnya) yang terkandung didalam Kitab Maulid, tidak boleh bercampur didalamnya antara laki-laki dengan perempuan. Kecuali adanya hijab (batas/dinding) yang mengatasi antara perempuan dan laki-laki, sehingga aman dari fitnah. Jangan pula tersedia pada tempat diselenggarakannya, suatu permainan yang HARAM (misal judi dan sejenisnya). Sebab, hal itu bakal mengantarkan pada kedurhakaan besar melanggar larangan Rosululloh SAW. Jangan pula tersedia pada tempat itu segala sesuatu yang beraroma busuk. Seperti rokok, cerutu, kandang binatang, dan sejenisnya. Maka hendaklah tersedia pada tempat itu segala sesuatu wewangian yang harum seperti dupa (gaharu bakar) atau bunga-bungaan. Hendaklah yang hadir pada tempat penyelenggaran itu membaca sholawat, dan janganlah satu sama lain saling bercerita, masing-masing “pasang” telinga mendengar kisah maulid yang dibacakan sambil membaca sholawat. Apabila nanti disebut bakal dzohir (lahir dan hadir)-nya sang Nabi SAW ke dunia, maka semua yang hadir bersegera untuk bangun dan berdiri. Bukan atas basic paksaan, tapi karena TAKDZIM (HORMAT), BAHAGIA, dan ANTUSIAS pada kehadiran beliau (SAW). Sehingga pada selanjutnya segenap hadirin yang mematuhi aturan-aturan berlaku, kelak bakal memperoleh syafa’at (pertolongan) dari beliau (SAW) di yaumil akhir dan juga memperoleh balasan yang berlipat ganda dunia wal-akhiroh. InsyaAlloh. اللهمّ صلّ على سيّدنا و شفيعنا محمّد وعلى آله وصحبه و سلّم واجعلنا من خيار امّته و من اهل شفاعته برحمتك يا ارحم الرّاحمين آمين “Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina wa Syafi’ina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallim waj’alnaa min khiyaari ummatihi wa min ahli syafaa’atihi, birohmatika Yaa Arhamarrohimiin, aamiin“ (Yaa Alloh, limpahkanlah sholawat atas junjungan kami, Nabi kami yang memberi syafa’at bagi kami, yaitu Nabi Muhammad SAW dan atas keluarganya, dan sahabatnya, dan juga salam penghormatan atasnya, dan jadikanlah kami daripada umatnya yang paling baik dan yang mendapat syafa’atnya di hari sesudah itu dengan Rahmat-Mu wahai Tuhan yang punyai cii-ciri Kasih Sayang melebihi semua yang punyai cii-ciri kasih sayang, aamiin) Baca : Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #02: “Inna Fatahna”

Maulid Diba Full Lengkap dengan Teks Terjemah Bahasa Indonesia

KalamUlama.com - Teks Maulid diba banyak sekali yang sehingga para pembaca bisa membuka link yang ada dibawah. tapi kami memohon maaf belum menyediakan maulid...