Kajian Islam

Kajian Fiqih Manhaji #02 “Macam-Macam Hukuman dalam Syariat Islam”

Oleh: Zuhal Qobili Dalam pembahasan sebelumnya kita telah mengetahui definisi jarimah dan jinayah dalam Islam serta macam-macamnya. Maka sesuai dengan skema, pembahasan kali ini adalah mengenai “Macam-Macam Hukuman...

Kajian Mausu’ah Ahsanil Kalam #01 “Dakwah dan Adabnya”

Oleh : Zuhal Qobili Dakwah atau menyerukan agama adalah sesuatu yang baik. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 104 : وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ...
KALAMULAMA.COM - ANDAI SEORANG MUSLIM MENYERUPAI KEBIASAAN BANGSA LAIN, APAKAH LANTAS MENJADI KUFUR?  Sekarang sedang ramai soal "Man Tasyabbaha bi qoumin fa huwa minhum", siapa yang menyerupai suatu kamu maka termasuk kelompok mereka. Sepertinya perlu membahas kembali soal hadits ini, karena pada kenyataannya disalahpahami dengan fatal, sampai taraf mengkafir-kafirkan. Sering aku sampaikan bahwa memahami nash Qur'an/sunnah secara tektual dan tanpa memahami persambungannya itu selalu menimbulkan masalah. Hal ini sebab nash-nash itu saling berhubung satu sama lain. Artinya memahami syariat ini harus melihatnya secara utuh, bukan sepotong-sepotong. Di antara nash yang sering dipahami salah, bahkan berujung pada mengkafirkan yg lain adalah soal hadits tasyabbuh ini. Man tasyabbaha bi qoumin fa huwa minhum... seseorang yg menyerupai suatu bangsa maka dia adalah bagian kelompok mereka. Hadits ini sangat sering disalahgunakan untuk menyalahkan muslim yg lain dan serta merta melabelinya kufur jika pakai adat bangsa lain. Terutama jika kebetulan kebiasaan yg ditiru adalah adat orang Barat, Eropa, Amerika. Cepat sekali melabeli kafir begitu saja? mudah betul? Padahal jika dicermati dengan baik, apa ada di situ kata kufur andai seorang muslim menyerupai kebiasaan bangsa lain? Belum juga hadits ini adalah masuk kategori hadist mutlaq yang muqoyyad atau hadits aam yang makhsus. Lagi-lagi di sini pentingnya Ushul Fiqh. Maka, hadits tadi pada dasarnya hanya untuk hal-hal yang negatif yang bertentangan dg syariat dan moral yang berlaku. Itupun andai bertentangan dengan moral dan tak sejalan dengan ruh syariat tidak serta merta begitu saja dilabeli kafir. Tidak semudah itu. Aku beri satu contoh saja, semisal ada di antara kita mengutip Kalimat di Bibel, seperti "Semua indah pada waktunya". Apa lantas serta merta seseorang itu jadi kufur hanya gara-gara mengutip dengan dalih dia menyerupai orang nashrani? mudah sekali? Orang yg menjudge yang lain dengan hadits ini hanya gara-gara melihat muslim yang lain mengutip bibel justru melakukan beberapa kesalahan fatal. Pertama, dia salah menggunakan hadits ini sekaligus salah menempatkannya pula. Jadinya salah alamat dan tidak nyambung. Kedua, memang menurut keyakinan kita bahwa Injil, Taurat dan Zabur telah mengalami pengubahan dan pemalsuan di sana-sini. Namun di dalamnya masih banyak bertebaran sisa-sisa Firman Allah yg asli. Ini harus kita perhatikan baik-baik. Jadi semisal kita menemukan kata yg sesuai dg yg ada dalam Qur'an atau Sunnah maka itu masih termasuk bagian ajaran yg tidak diubah. Semisal kalimat tadi, semua indah pada waktunya, sama kandungannya dg hadits Man ta'ajjala bi syai-in qobla awanih, uqiba bi hirmanih. Bahwa jika seseorang tergesa terhadap sesuatu sebelum waktunya maka dia akan terhalang dari yg diingininya itu. Artinya memang segala sesuatu itu indah pada waktunya. Ketiga, orang ini lupa sama sekali dengan hadits al-hikmah dhoollatul mu'min, aina wajadaha fa huwa ahaqqu biha. Bahwa ilmu, kebijaksanaan apapun adalah benda kaum muslim yg hilang, di mana saja dia menemukannya maka dia berhak atasnya. Keempat, ini anehnya, orang yang menyalahkan yang lain dengan pakai hadits tasyabbuh ini, juga pakai facebook, twitter dan sejenisnya! Ya Subhanallah! Apa nggak melihat facebook, twitter itu siapa yang membuat? ini namanya meludah ke atas tepercik muka sendiri. Kenapa dia tidak menyetempel dahinya sendiri bahwa dia juga kafir sebab menyerupai/mengikuti kebiasaan bangsa lain? Pelajaran penting lain, bahwa kesalahan dalam berpikir, kesalahan memaknai nash syariat itu hasilnya selalu kontradiktif dengan ruh syariat. Maka artikan nash2 suci itu sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Musyarri' (Allah dan Nabi-nabinya), jangan diartikan semau pusar sendiri. Semisal dia berdalih, itu kan hal duniawi, hadits itu buat hal yang berhubung dengan agama saja. Lagi-lagi dalihnya itupun mentah sebab (jika disesuaikan dengan cara serampangan dia) hadits tadi umum mencakup apa saja. Alhasil apapun alasannya akan selalu kontradiksi dan menikam dia sendiri serta akan selalu memaksanya menelan pil pahit. Tentu saja sebab cara memahami nash syariat yg salah. Efek ketidakpahaman akan manthuq (tekstual) dan mafhum (konstektual). Akhirnya, kita masih perlu banyak belajar lagi, banyak kesalahan bersikap gara-gara kesalahpahaman yang kita alami. Parahnya jika sampai kesalahpahaman itu digunakan untuk menjudge saudara muslim yg lain, merasa yg paling benar sendiri. Ubah paradigma berpikir yg salah itu. Agama ini mengajarkan kita untuk berpikir, agama ini bukan doktrin mentah begitu saja. Akhirnya, mari bersama menjadi muslim yang baik. Bukan menjadi muslim yg merasa baik (sifatnya iblis itu, merasa-merasa). Wallahu A'lam. Sikap moderat (Wasathi) itu memang selalu yang paling selamat. Yuk, memulai lagi hari-hari dengan semangat. Bismillah :) Sumber: Twitter Gus Alawy Ali Imran (Sebuah Utas tentang kesalahpahaman orang-orang dalam memahami Hadits MAN TASYABBAHA BI QOUMIN FA HUWA MINHUM, tanggal 3 Januari 2016)  

ANDAI SEORANG MUSLIM MENYERUPAI KEBIASAAN BANGSA LAIN, APAKAH LANTAS MENJADI KUFUR?

KALAMULAMA.COM - ANDAI SEORANG MUSLIM MENYERUPAI KEBIASAAN BANGSA LAIN, APAKAH LANTAS MENJADI KUFUR? Sekarang sedang ramai soal "Man Tasyabbaha bi qoumin fa huwa minhum", siapa...

Kajian Mausu’ah Ahsanil Kalam #6 : Berfatwa tanpa Ilmu

Oleh : Zuhal Qobili Fatwa adalah  إخبار عن حكم الله , menyampaikan tentang hukum Allah. Maka, bagaimana hukumnya menyampaikan hukum-hukum Allah tanpa landasan pengetahuan (ilmu)?                ...
kalamulama.com- Pengajian Kitab Tafsir Jalalain Quran Surat Asy-Syu'ara Ayat 1 - 22. Pengajian Gus Baha Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqalah 11 [klik disini]. Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim Ajak Sebanyaknya Sahabatmu untuk gabung, klik : Web : www.kalamulama.com Fanspage : @kalamulamaku Instagram : @kalamulamaku Twitter : @kalamulamaku Line ID : @eyd0088j Telegram : @kalamulamaku Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!! #GusBaha #GusBahaTerbaru #KajianTafsirJalalain #KajianHakimvideo

Pengajian Kitab Tafsir Jalalain Quran Surat Asy-Syu’ara Ayat 1 – 22

kalamulama.com- Pengajian Kitab Tafsir Jalalain Quran Surat Asy-Syu'ara Ayat 1 - 22. Pengajian Gus Baha Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqalah 11 . Klik Kumpulan Pengajian...
kalamulama.com- Pengajian Gus Baha Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqalah 11 [klik disini]. Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim Ajak Sebanyaknya Sahabatmu untuk gabung, klik : Web : www.kalamulama.com Fanspage : @kalamulamaku Instagram : @kalamulamaku Twitter : @kalamulamaku Line ID : @eyd0088j Telegram : @kalamulamaku Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!! #GusBaha #GusBahaTerbaru #KajianTafsirJalalain #KajianHakimvideo

Pengajian Gus Baha Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqalah 11

kalamulama.com- Pengajian Gus Baha Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqalah 11 . Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan...
kalamulama.com–  Sebaik-Baik Permintaan Kalam Ulama #423 Quote Lirboyo "Sebaik-baikya sesutu yang engkau mita kepada-Nya adalah apa yang Dia tuntut darimu. Dengan demikian sebaik-baik

Sebaik-Baik Permintaan Kalam Ulama #423 Quote Lirboyo

kalamulama.com–  Sebaik-Baik Permintaan Kalam Ulama #423 Quote Lirboyo "Sebaik-baikya sesutu yang engkau mita kepada-Nya adalah apa yang Dia tuntut darimu. Dengan demikian sebaik-baik permitaan adalah...

Kajian Mausu’ah Ahsanil Kalam #02 “Hukum Operasi Kecantikan”

Oleh: Zuhal Qobily Memperindah tubuh ataupun wajah secara umum...
kalamulama.com- Pengajian Gus Baha Kitab Hayatush Shahabah 2 (خروج النبي يوم بدر).[klik disini]. Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha. Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim Ajak Sebanyaknya Sahabatmu untuk gabung, klik : Web : www.kalamulama.com Fanspage : @kalamulamaku Instagram : @kalamulamaku Twitter : @kalamulamaku Line ID : @eyd0088j Telegram : @kalamulamaku Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!! #GusBaha #GusBahaTerbaru #KajianTafsirJalalain #KajianHakimvideo

Pengajian Gus Baha Kitab Hayatush Shahabah 2 (خروج النبي يوم بدر)

kalamulama.com- Pengajian Gus Baha Kitab Hayatush Shahabah 2 (خروج النبي يوم بدر).. Klik Kumpulan Pengajian Gus Baha. Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan...
Kajian Islam (Kalam ulama). Proporsional dalam memenuhi hak Secara global hak dibagi menjadi dua yaitu (1) Haqqul Allah dan (2) Haqqul adamy. Haqullah (hak Allah) adalah hal-hak yang berhubungan dengan Allah. Sedangkan haqqul adamy (hak-hak anak adam) adalah hak-hak yang berhubungan dengan sesama manusia, seperti tetangga, istri, orang tua dan lain sebagainya. Sebagai seorang suami tentu haruslah tahu hak-hak yang harus dipenuhi bagi istrinya. Jangan sampai terlalu sibuk dengan ibadah namun hak-hak istri dan keluarganya terabaikan.  Lebih-lebih hak bagi dirinya sendiri terabaikan akhirnya hak-hak yang lain ikut terbengkalai. Hal itu jangan sampai terjadi. Semua harus dibagi secara proporsional. Untuk membuktikan bahwa semua hak harus dipenuhi secara proporsional, perhatikan hadist berikut. Disebutkan dalam kitab “Husnul Asyroh” karya Fuad bin Abdul aziz juz 1 halaman 12 :  Kami sebutkan kisah Abu Darda’ kemudian hadist Nabi SAW untuk Amr bin Ash. Kedua kisah ini mengandung peringatan. (Baca juga : Laki-laki Sholeh bagi Istrinya) Dari Abu Juhaifah berkata : Nabi SAW mempersaudarakan sahabat Salman dan Sahabat Abu Darda’. Suatu ketika Salman mengunjungi Abu Darda’, dia melihat Ummu Dar’da itu dermawan. Kemudian Salman bertanya padanya : “Apa perlumu?”  Ummu Darda’ menjawab : “Saudaramu Abu Darda’ tidak butuh dunia. Lalu datang Abu Darda’ membuat makanan. Salman berkata : “Makanlah” Abu Darda’ menjawab : “ aku puasa”. Pada tengah malam Abu Darda’ berdiri (sholat) kemudian Salman berkata : “tidurlah” lalu Abu Darda’ tidur. Dia bangkit lagi (sholat) lalu Salman berkata : “tidurlah”. Ketika di akhir malam Salman berkata : “Bangunlah sekarang”. Kemudian keduanya sholat. Setelah itu Salman berkata : “ Sungguh bagi Tuhanmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu ada hak, maka berikanlah setiap hak dari masing-masing. Datang Rasulullah bertutur demikian kepada Abu Darda’. Nabi SAW berkata : “ Salman itu benar” HR. Bukhori no. 1968 Sahabat Abu Darda’ tidak menyibukan dirinya dengan selau beribadah kepada Allah. Dia lelaki yang selalu puasa dan sebagian besar malam untuk sholat dan dia mengurangi hak keluarganya. Namun yang demikian dilarang karena Abi Darda’ mengabaikan hak istrinya. Kisah serupa terjadi pada Abdullah bin Amr bin Ash : Sungguh dia puasa pada siang hari, dan berdiri (sholat) pada malam hari. Maka Nabi SAW mencegahnya dari hal demikian. Karena itu melemahkan hak istrinya.  قال صلى الله عليه وسلم لعبد الله بن عمرو بن العاص : يا عبد الله ألم أخبر أنك تصوم النهار, وتقوم اليل, قلت بلى يارسول الله. قال فلا تفعل, صم وأفطر, وقم ونم, فإن لجسدك عليك حقا, وإن لعينك عليك حقا, وإن لزوجك. رواه البخاري ٥١٩٩ “ Nabi SAW berkata kepada Abdullah bin Amr bin Ash : Wahai Abdallah Apakah akau tidak mengabarkan bahwa sesungguhnya kamu berpuasa di siang hari, dan berdiri (Sholat) di malam hari. Saya berkata : Iya (mengabarkan) Ya Rasulullah. Lalu Nabi berkata : Maka jangan lakukan, puasalah dan berbukalah, berdirilah dan tidurlah, sungguh bagi dirimu ada hak, bagi matamu ada hak, dan bagi istrimu ada hak.” HR. Bukhori no. 5199 Oleh : Hamzah Alfarisi

Proporsional dalam Memenuhi Hak

Kajian Islam (Kalam ulama). Proporsional dalam memenuhi hak Secara global hak dibagi menjadi dua yaitu (1) Haqqul Allah dan (2) Haqqul adamy. Haqullah (hak Allah) adalah...