Friday, August 14, 2020

Kajian Islam

Kajian ASWAJA #03 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

0
oleh : Muhammad Azka 11. Al-Imam al-Muhaddits az-Zahid Ja’far al-Khuldi (wafat 348 H). Beliau adalah salah seorang ulama yang sangat zuhud yang menjadi salah satu...

Kajian Safinah Najah #04: Memaknai Basmalah Dengan Tiga Dimensi

0
oleh : Roby Mohamad Bismillahirrahmanirrahim Hanya dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, (aku mengaji) Alhamdulillah, tepat hari Rabu (17/02) siang ini ketika hendak...
Sholawat Maulid Ad-Dibai  #03: "Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib"   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang اَلْحَمْدُ ِللهِ الْقَوِيِّ الْغَالِبْ. اَلْوَلِيِّ الطَّالِبِ. اَلبَّاعِثِ الْوَارِثِ الْمَانِحِ السَّالِبِ. عَالِمِ الْكَائِنِ وَالْبَائِنِ وَالزَّائِلِ وَالذَّاهِبِ. يُسَبِّحُهُ اْلأفِلُ وَالْمَائِلُ وَالطَّالِعُ وَالْغَارِبُ. وَيُوَحِّدُهُ النَّاطِقُ وَالصَّامِتُ وَالْجَامِدُ وَالذَّائِبُ. يَضْرِبُ بِعَدْلِهِ السَّاكِنُ وَيَسْكُنُ بِفَضْلِهِ الضَّارِبُ. (لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ). حَكِيْمٌ أَظْهَرَ بَدِيْعَ حِكَمِهِ وَالْعَجَائِبْ. فِيْ تَرْتِيْبِ تَرْكِيْبِ هَذِهِ الْقَوَالِبِ. خَلَقَ مُخًّا وَعَظْمًا وَعَضُدًا وَعُرُوْقًا وَلَحْمًا وَجِلْدًا وَشَعْرًا بِنَظْمٍ مُؤْتَلِفٍ مُتَرَاكِبْ. مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصًُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ. (لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ). كَرِيْمٌ بَسَطَ لِخَلْقِهِ بِسَاطَ كَرَمِهِ وَالْمَوَاهِبْ. . يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا وَيُنَادِيْ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ هَلْ مِنْ تَائِبْ. هَلْ مِنْ طَالِبِ حَاجَةٍ فَأُنِيْلُهُ الْمَطَالِبَ. فَلَوْ رَأَيْتَ الْخُدَّامَ قِيَامًا عَلَى اْلأَقْدَامِ وَقَدْ جَادُوْا بِالدُّمُوْعِ السَّوَاكِبْ. وَالْقَوْمَ بَيْنَ نَادِمٍ وَتَائِبْ. وَخَائِفٍ لِنَفْسِهِ يُعَاتِبْ. وَأبِقٍ مِنَ الذُّنُوْبِ إِلَيْهِ هَارِبْ. فَلاَ يَزَالُوْنَ فِي اْلإِسْتِغْفَارِ حَتَّى يَكُفَّ كَفُّ النَّهَارِ ذُيُوْلَ الْغَيَاهِبِ. . فَيَعُوْدُوْنَ وَقَدْ فَازُوْا بِالْمَطْلُوْبِ وَأَدْرَكُوْا رِضَا الْمَحْبُوْبِ وَلَمْ يَعُدْ أَحَدٌ مِنَ الْقَوْمِ وَهُوَ خَائِبْ. ( لاَ إِلهَ إِلاَّ ألله). فَسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ مَلِكٍ أَوْجَدَ نُوْرَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نُوْرِهِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ أدَمَ مِنَ الطَّيْنِ اللاَّزِبِ. وَعَرَضَ فَخْرَهُ عَلَى الْأَشْيَاءِ وَقَالَ هَذَا سَيِّدُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَجَلُّ الْأَصْفِيَاءِ وَأَكْرَمُ الْحَبَآئِبِ.  Alhamdulillâhil qowiyyil ghôlib. Al-Wâliyyith-thôlib. Al-Bâ’itsil wâritsil mânihis-sâlib. ‘Âlimil kâ-ini wal bâ-ini waz-zâ-ili wadz-dzâhib. Yusabbihuhul ãfilu wal mã-ilu Wath-thôli’u wal ghôribu. Wa yuwahhiduhun-nâthiqu wash-shômitu Wal jâmidu wadz-dzã-ibu. Yadlribu bi’adlihis-sâkin. Wa yaskunu bifadl-lihidl-dlôribu. LÂ ILÂHA ILLÂ ALLOH. Hakîmun adh-haro badî’a hikamihi wal ‘ajã-ib. Fî tartîbi tarkîbi hâdzihil qowâlib. Kholaqo mukhkhon wa ‘adhman wa ‘adludan wa ‘uruqon wa lahman wa jildan wa sya’ron binadlmin mutalifin mutarôkibin. Min mã-in dâfiqin yakhruju min bainish-shulbi wat-tarõ-ib. LÂ ILÂHA ILLÂ ALLOH. Karîmun basatho likholqihi bisâtho karomihi wal mawâhib. Yanzilu fî kulli lailatin ilâ samã-id-dunyâ wa yunâdî hal min mustaghfirin hal min tã-ibin. Hal min thôlibi hâjatin fa-unîluhul mathôlib. Falau ro-aytal khuddâma qiyâman ‘alâl aqdâmi wa qod jâdû biddumû’is-sawâkib. Wal qowma baina nâdimin wa tã-ibin. Wa khõ-ifin linafsihî yu’âtibu. Wa ãbiqin minadz-dzunûbi ilaihi hârib. Falâ yazâlûna fîl istighfâri hattâ yakuffa kaffun-nahâri dzuyûlal ghoyâhib. Faya’ûdûna wa qod fâzû bil mathlûbi Wa adrokû ridlôl mahbûbi wa lam ya’ud ahadun minal qoumi wa huwa khô-ib. LÂ ILÂHA ILLÂ ALLOH. Fasubhânahu wa ta’âlâ min malikin awjada nûro nabiyyihî Muhammadin Shollâllâhu ‘alaihi wa sallama min nûrihi qobla an yakhluqo Âdama minath-thînil-lâzib. Wa ‘arodlo fakhruhu ‘alâl asy-yã-i wa qôla hâdzâ sayyidul anbiyã-i wa ajallul ashfiyã-i wa akromul habã-ib.  Segala puji bagi Alloh, Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa (di atas segala-galanya). Maha pelindung lagi Penuntut segala dosa. Maha membangkitkan di hari kiamat, Maha Kekal, Maha Penganugerah, lagi Maha pelenyap sengsara. Maha Mengetahui segala keadaan: yang nyata, yang musnah, dan yang binasa. Bertasbih kepada-Nya (semua) yang tenggelam, yang condong. Yang terbit dan yang terbenam. Semua makhluk yang berbicara dan yang diam, Mengesakan Alloh, demikian juga yang padat dan yang cair. Dengan keadilan-Nya, yang diam bisa bergerak, dan dengan keutamaan Nya, yang bergerak menjadi diam. Tiada Tuhan selain Alloh. Yang Maha Bijaksana, yang menciptakan keindahan hikmah-Nya dan berbagai keajaiban. Dalam pengaturan susunan perwujudan manusia ini. Diciptakan oleh-Nya, otak, tulang, bahu, urat pembuluh darah, daging, kulit, dan rambut dengan susunan teratur rapi. Dari sperma yang terpancar dari tulang rusuk laki-laki dan tulang dada perempuan. Tuhan selain Alloh. Pemurah kepada makhluk-Nya dengan hamparan karunia dan anugerah-Nya. Setiap malam rahmat Alloh turun ke langit dunia, dan memanggil: Adakah malam ini orang yang mohon ampun serta adakah orang yang bertaubat? orang yang memohon akan hajatnya maka aku akan kabulkan hajatnya. Seandainya telah engkau lihat hamba-hamba mengabdi kepada Alloh, berdiri tegak diatas telapak-telapak kakinya dengan cucuran air mata, diantara segolongan kaum ada yang menyesali dosa-dosanya dan bertaubat. Ada orang-orang yang khawatir berbuat dosa lagi dan mencerca kepada dirinya sendiri, ada orang yang lari menghindar dari perbuatan-perbuatan dosa menuju perlindungan Alloh. tidak ada henti-hentinya mereka mohon ampunan, Sehingga berhari-hari lamanya meratapi rentetan kealpaannya. Kemudian mereka kembali menekuni ibadah, dan mereka benar-benar beruntung dengan apa yang dicari, dan menemui keridhoan Alloh yang dicintai dan tiada seorangpun dari suatu kaum yang kembali dengan tangan hampa. Tuhan selain Alloh. Maha suci Alloh dan Maha luhur yang telah menciptakan nur Muhammad Shollallohul ’alayhi wasallam, dari nur-Nya sebelum menciptakan Adam dari tanah liat. Alloh memperlihatkan keagungan nur Muhammad kepada penghuni surga seraya berfirman: “Inilah pemimpin para Nabi dan paling agung diantara orang-orang pilihan serta lebih mulia diantara para kekasih Alloh.” اللهم صل وسلم وبارك عليه Allâhumma sholli wa sallim wa bârik ‘alaih (Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya Nabi Muhammad)   Baca Juga Sebelumnya Kajian Maulid Diba' #02: "Inna Fatahna"  ======================================= Keterangan Tambahan: Dosa-dosa yang merupakan pangkal musibah dapat terhapuskan dengan pengampunan Allah SWT dan amal-amal pahala kita, Allah SWT telah menurunkan firman untuk seorang pemuda yang pendosa, sebagaimana riwayat Shohih al-Bukhori bahwa pemuda ini datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan ia berkata: “Wahai Rosululloh, aku telah berbuat dosa yang begitu banyak dan aku ingin mendapatkan hukuman”, maka Rasulullah SAW diam tidak menjawab, namun Allah SWT menjawab dengan firman-Nya: إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ “Sesungguhnya perbuatan yang baik (pahala) itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk (dosa). Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat (selalu berdzikir)”.( QS. Hud: 114 ) Dzikir menghapus dosa-dosa dan musibah. Allah SWT berfirman : اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”. ( QS. An Nuur ) Allah menerangi bumi dengan cahaya dzohir dan cahaya bathin. Dan Allah memberikan cahaya-Nya kepada yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman-Nya: يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ  ”Alloh membimbing kepada cahaya-Nya (untuk) siapa yang Dia kehendaki”. (QS. An Nuur: 35 ) Allah memberikan petunjuk dengan cahaya-Nya kepada siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Dan makna cahaya dalam firman Alloh di suroh An Nuur: نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ ” Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) “. ( QS. An Nuur: 35 ) Adalah sayyidina Muhammad SAW, karena “Allah memberikan hidayah (petunjuk) dengan cahaya-Nya”, bukan dengan cahaya matahari, tetapi dengan cahaya tuntunan sayyidina Muhammad SAW. Oleh sebab itu, ketika seseorang mencintai dan mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad SAW, maka tersingkaplah seluruh tabir cahaya yang menjadi penghalang antara makhluk dan sang kholiq (pencipta), sehingga manusia bisa memandang keindahan Allah, karena mereka mengikuti cahaya ciptaan Allah yang termulia, yakni sayyidina Muhammad SAW. Tidak satupun makhluk yang bisa sampai kepada cinta Allah dan memandang keindahan Allah kecuali dengan mengikuti sayyidina Muhammad, Beliaulah cahaya Allah di dunia dan akhirat. Nabi (SAW) pernah berdo’a meminta cahaya, padahal sang nabi adalah cahaya Allah yang termulia, beliau SAW berdoa:  اَللّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا ” Ya Alloh jadikanlah di hatiku cahaya “ Kita juga berdo’a, semoga hati kita diterangi cahaya Allah SWT, aamiin. Tahukah kita betapa indahnya jika hati diterangi oleh cahaya Alloh? Hati akan tenang dan sejuk, hati akan terus rindu kepada Alloh, yang dengan itu ia juga dirindukan Allah SWT. Dijelaskan oleh As-Syaikh Abu al-Hasan Asy-Syadzili yang dinukil oleh Hujjatul Islam al-Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, dan juga oleh al-Imam Ibn ‘Athoillah, dan para imam yang lainnya, beliau mengatakan : “Jika cahaya tauhid ”Laa ilaaha illalloh” yang ada di hati seorang muslim pendosa disingkap dan diperlihatkan kepada alam, niscaya langit dan bumi ini akan runtuh dari dahsyatnya cahaya Allah SWT yang ada di hati seorang muslim dari ummat Muhammad SAW” Namun cahaya itu tertutup dengan tabir yang dikehendaki Allah sehingga tidak terlihat, karena orang yang tidak menyembah selain Allah maka cahaya Allah ada di dalam hatinya, walaupun terpendam dengan pendaman dosa ia akan tetap sampai kepada surga yang kekal. Oleh sebab itu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril As, yang dijelaskan di dalam tafsir al-Imam Qurthubi, beliau bertanya: “wahai Jibril, bagaimana pahala orang yang bersujud dan mengucapkan ”subhana robbii al-a’laa wabihamdih” satu kali?”, maka Jibril As berkata: “pahalanya lebih berat dari sebuah gunung, lebih berat dari al kursi, lebih berat dari ‘arsy”, kemudian Allah berfirman: “sungguh telah benar hamba-Ku, Aku mengungguli segala sesuatu”. Nama Allah jika disebut maka pahalanya jauh lebih berat dari ‘arsy, kursi, dan seluruh alam semesta. Demikian keadaan hamba yang bersujud. Jika Allah singkapkan cahaya tauhid yang ada dalam diri seorang muslim, cahaya sumpah setia yang mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah yang ada di hati seorang muslim walaupun ia pendosa, niscaya langit dan bumi akan runtuh tidak mampu menampung dahsyatnya cahaya kewibawaan dan keagungan Allah yang ada di hati seorang muslim. Maka al-Imam Abu Hasan Asy-Syadzili berkata: “jika hal seperti ini untuk orang-orang yang berdosa kepada Allah, maka bagaimana dengan orang yang sholih dan beriman serta banyak beribadah kepada Allah jika cahaya-Nya diperlihatkan kepada alam semesta”. Semoga Allah menerangi sanubari kita dengan cahaya, cahaya kemudahan, cahaya kebahagiaan, cahaya keluhuran, cahaya keberkahan, cahaya kemuliaan, cahaya kesucian, cahaya seluruh keindahan, serta cahaya Alloh yang memenuhi seluruh kenikmatan dan maha menjauhkan dari segala kesulitan. Rosululloh berdo’a:  وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا وَعَنْ يَسَارِيْ نُوْرًا وَفَوْقِيْ نُوْرًا وَتَحْتِيْ نُوْرًا وَأَمَامِيْ نُوْرًا وَخَلْفِيْ نُوْرًا وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا  “(Ya Alloh jadikanlah) cahaya di penglihatanku, cahaya di pendengaranku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya dari depanku, cahaya dari belakangku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya” Hal ini menunjukkan indahnya doa sayyidina Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh sayyidina Abdulloh bin Abbas Ra ketika ia menginap di rumah Rasulullah SAW, disaat sholat tahajjud Rasulullah SAW bangun dan ia pun ikut bangun dan berwudhu kemudian sholat, selesai sholat witir Rasulullah SAW berbaring lalu bangun dan membaca doa ini, meminta cahaya kepada Allah untuk panca inderanya, dan dalam riwayat yang lain Rasulullah juga berdoa :  وَفِيْ لَحْمِيْ نُوْرًا وَفِيْ دَمِيْ نُوْرًا وَفِيْ شَعْرِيْ نُوْرًا وَفِيْ بَشَرِيْ نُوْرًا  “Ya Alloh jadikanlah cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, cahaya di kulitku" Beliau meminta cahaya kepada sang pemilik cahaya, padahal beliau telah terang benderang dengan cahaya Ilahi, dan mereka yang membaca doa ini tentu hatinya akan bercahaya, jiwanya akan bercahaya, siang dan malamnya bercahaya dengan kemudahan, dengan ketenangan dan keindahan Allah, jika seseorang telah bercahaya dengan keindahan Allah maka apalah artinya keindahan dunia akhirat, semuanya akan tunduk dan berlimpah kepadanya, karena ia telah bercahaya dengan cahaya keindahan Ilahi. Allah tidak memperdengarkan hadits dan doa ini kepada kita kecuali Allah telah menyiapkan dan menganugerahkan cahaya kemuliaan doa sayyidina Muhammad SAW kepada kita semua. Wallahu a’lam. Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi Narasumber: Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa pada Jalsatul Itsnain Majelis Rasulullah SAW, Senin 3 Mei 2010. baca juga tulisan Selanjutnya Kajian Maulid Diba' #04: "Qiila Huwa Adam"

Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib – Kajian Maulid Diba (3)

1
KalamUlama.com -  Maulid Dibai  #03: Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang اَلْحَمْدُ ِللهِ الْقَوِيِّ الْغَالِبْ. اَلْوَلِيِّ الطَّالِبِ. اَلبَّاعِثِ الْوَارِثِ الْمَانِحِ السَّالِبِ. عَالِمِ...
Kajian Kifayatul Atqiya’ #02: Keutamaan Menulis Sholawat Oleh : Ahmad Hanafi Sebuah kebiasaan para santri saat mempunyai kitab baru adalah menulisi bagian depannya dengan kalimat المستحق هذا الكتاب Lalu dilanjutkan dengan menulis sholawat yang panjang. Ditulis dengan sebagus mungkin bahkan menggunakan khat khusus, jika perlu. Adat tersebut bukan tanpa alasan. Dalam kitab Kifayatul Atqiya' dijelaskan bahwa Nabi saw bersabda: من صلى علي في كتاب لم تزل الملائكة تستغفر له ما دام اسمي في ذلك الكتاب Man sholla 'alayya fi kitabin lam tazalil malaaikatu tastaghfiru lahu maa daama ismiy fi dzalik kitabi.  Barang siapa menulis shalawat kepadaku, maka para malaikat akan selalu memintakan ampun untuknya, selama namaku ada pada tulisan itu. Betapa dahsyatnya sholawat kepada Nabi. Tidak hanya jika diucapkan saja,  bahkan tulisannya pun membawa keistimewaan yang luar biasa bagi umatnya. Oleh karena itu, marilah kita lestarikan menulis sholawat pada setiap buku kita. Tak terbatasi untuk kitab-kitab saja, namun pada semua buku catatan dan bacaan yang kita miliki sembari berharap mendapat syafaat dengan wasilah tulisan sholawat yang ada di dalamnya. Allahumma Sholli 'ala Sayyidinaa Muhammad wa 'ala alihi wa Shohbihi ajma'in. #GerakanCintaSholawat

Keutamaan Menulis Sholawat – Kajian Kifayatul Atqiya’

0
Kajian Kifayatul Atqiya’ #02: Keutamaan Menulis Sholawat Sebuah kebiasaan para santri saat mempunyai kitab baru adalah menulisi bagian depannya dengan kalimat المستحق هذا الكتاب Lalu dilanjutkan dengan...

Kajian Qurratul Uyun #01 “Muqaddimah dan Keutamaan Lafal Basmalah”

0
Qurratul Uyun merupakan kitab buah karya Syaikh Muhammad At-Tahami bin Madani. Kitab ini merupakan kitab penjabaran yang menguraikan karya Syaikh al imam al alim...

Kajian Tafsir Al-Munir #01 Saturnus Kecil dari Syuria

0
Ketika mendengar kata Syuria, apa yang lantas muncul di benak kita? Negara yang sedang gonjang-ganjing? Negara yang identik dengan kekerasan dan peperangan? Negara yang...

Kajian Kitab Aqidatul Awam #02 : Muqaddimah

0
Seperti dalam kitab-kitab yang lain, kiyai nadhim memulai mandhumah ini dengan basmalah. Tujuan dibalik ini yaitu ingin mendapat pertolongan dari Allah azza wa jalla...

Kajian Tazkiyatun Nufus #02 : Tempat Akal ?

0
Oleh : Muhammad Azka Al-Imam al-Hafizh Ibnul Jauzi al-Hanbali (wafat 597 H) mengungkapkan: "Banyak dari sahabat kami yang mengatakan bahwa tempatnya akal adalah hati. Pendapat...
kalamulama.com Kajian Aswaja Membolehkan Tabarruk 6. Al-Imam Ibnu Khuzaimah (wafat 311 H), seorang ulama ahli hadits sekaligus ahli fiqih Syafi’i. Beliau adalah pengarang kitab Shohih Ibnu Khuzaimah. Beliau merupakan salah satu murid terbaik dari Imam al-Bukhori. Kita pasti mengenalnya. Percayakah anda bahwa beliau juga bertabarruk dengan kubur orang sholeh? Sekarang harus percaya!! Beliau bertabarruk dan berdoa di makam ‘Ali bin Musa ar-Ridlo yang telah dikutip oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqolani: “Imam al-Hakim berkata dalam kitab Tarikh Naisabur: “Aku mendengar Abu Bakar Muhammad bin al-Mu'ammil bin Hasan bin 'Isa berkata: “Kami keluar bersama Imam ahli hadits Abu Bakar Ibnu Khuzaimah dan sahabatnya, Abu ‘Ali ats-Tsaqofi (wafat 324 H), beserta jama'ah dari guru-guru kami. Mereka semua berdatangan ziarah ke makam ‘Ali bin Musa ar-Ridlo di Thus. Aku melihat ke-ta'zhim-an (pengagungan) Ibnu Khuzaimah terhadap makam tersebut dan ketawadlu'annya, serta ke-tadlorru'-annya (permohonannya yang sangat khusyu') di makam tersebut hingga membuat kami tercengang.” (Tahdzibut Tahdzib lil Hafizh Ibni Hajar, juz 3 halaman 195) 7. Al-Imam Ibnu Hibban (wafat 354 H), murid terbaik dari Imam Ibnu Khuzaimah. Beliau adalah pengarang kitab Shohih Ibnu Hibban. Faktanya, beliau mengikuti jejak gurunya tersebut dalam bertabarruk di makam ‘Ali bin Musa ar-Ridlo: “Ali bin Musa ar-Ridlo. Ia wafat di Thus karena meminum racun yang diberikan oleh Kholifah al-Ma’mun dan wafat seketika itu juga. Itu terjadi di hari Sabtu tahun 203 H. Makamnya berada di Sanabadz, sebelah luar Nauqon, sudah masyhur dan diziarahi, letaknya di dekat makam ar-Rosyid. Aku sudah sering berziarah berkali-kali. Tidaklah aku mengalami kesulitan ketika aku berada di Thus lalu aku berziarah ke makam 'Ali bin Musa ar-Ridlo sholawatullahi 'ala jaddihi wa 'alaih dan aku berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kesulitan tersebut, kecuali dikabulkan untukku dan kesulitan itu pun lenyap dari ku. Ini aku alami berkali-kali dan aku selalu menemukannya seperti itu. Semoga Allah mematikan kita dalam kecintaan terhadap Rosulullah dan ahlul baitnya shollallahu ‘alaihi wa ‘alaihim ajma’in.” (Ats-Tsiqot lil Imam Ibni Hibban, juz 3 halaman 456) 8. Al-Hafizh Abu ‘Ali al-Khollal, salah satu guru dari Imam Ibnu Hibban dan Imam ad-Daruquthni. Berikut riwayat yang disebutkan oleh al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi: “Telah mengabarkan kepada kami al-Qodli Abu Muhammad al-Hasan bin al-Husain bin Muhammad bin Romin al-Istirobadzi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Hamdan al-Qothi’i, ia berkata: aku mendengar al-Hasan bin Ibrohim Abu ‘Ali al-Khollal berkata: “Tidaklah ada perkara yang menyusahkanku yang mana aku mendatangi kubur Musa bin Ja’far al-Kazhim dan bertawassul dengannya, kecuali Allah Ta’ala akan memudahkan apa yang aku inginkan.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 442) Sanad riwayat di atas adalah shohih. Perhatikan para perowinya: a. Al-Qodli Abu Muhammad al-Hasan bin al-Husain bin Muhammad bin Romin al-Istirobadzi. Al-Khothib al-Baghdadi berkata: “aku menulis darinya dan ia seorang yang shoduq, fadhl, shalih. Ia wafat 412 H.” (Tarikh Baghdad, juz 8 halaman 255, no. 3764). b. Ahmad bin Ja’far bin Hamdan al-Qothi’i. Ad-Daruquthni mengatakan ia tsiqot (Mausu’ah Aqwaal ad-Daruquthni, no. 175). Ibnul Jauzi berkata: “ia tsiqot, banyak meriwayatkan hadits.” (Al-Muntazhom fi Tarikhil Muluk wal Umam, juz 14 halaman 260-261, no. 2740) 9. Abu ‘Abdillah al-Husain bin Isma‘il al-Mahamili (wafat 330 H). Berikut riwayat yg disampaikan al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi: “Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abdillah as-Shuri, ia berkata: aku mendengar Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Jumai’ berkata: aku mendengar Abu ‘Abdillah bin al-Mahamili berkata: “Aku mengetahui kubur Ma’ruf al-Karkhi selama tujuh puluh tahun. Tidaklah seorang yang sedang mengalami kesusahan kemudian mendatangi kuburnya, kecuali Allah akan melapangkan kesusahannya.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 445) Sanad riwayat di atas adalah shohih. Perhatikan para perowinya: a. Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abdillah ash-Shuri. Al-Khothib al-Baghdadi berkata “shoduq” (Tarikh Baghdad, juz 4 halaman 172-173, no. 1363). Adz-Dzahabi menyebutnya al-Imam, al-Hafizh, al-Bari’, al-Auhad, al-Hujjah. Wafat 441 H. (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 17 halaman 627, no. 424). As-Sam’ani menyebutkan bahwa ia termasuk hafizh mutqin (Al-Ansab lis Sam’ani, juz 8 halaman 106) b. Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Jumai’. Abu ‘Abdillah ash-Shuri berkata bahwa ia syaikh, sholih, tsiqot, ma’mun. Al-Khothib al-Baghdadi dan yang lainnya berkata “tsiqot” (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 17 halamana 152-155, no. 96) c. Abu ‘Abdillah al-Husain bin Isma‘il al-Mahamili. Adz-Dzahabi menyebutnya al-Imam al-'Allamah al-Muhaddits ats-Tsiqoh. (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 15 halaman 258, no. 110) 10. Abu Muhammad ’Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri (wafat 336 H). Berikut riwayat yg disampaikan al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi: “Telah mengabarkan kepadaku Abu Ishaq Ibrohim bin Umar al-Barmaki, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Fadhl ‘Ubaidillah bin Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri, ia berkata: “aku mendengar ayahku (Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri) berkata: “Kubur Ma’ruf al-Karkhi adalah mujarrab untuk menunaikan berbagai hajat. Dikatakan sesungguhnya barangsiapa yang membaca di sisi kubur tersebut qul huwallahu ahad (surat al-Ikhlas) seratus kali dan meminta kepada Allah Ta’ala apa saja yang dikehendaki, maka Allah Ta’ala akan mengabulkan hajatnya.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 445) Sanad riwayat di atas adalah shohih. Perhatikan para perowinya: a. Abu Ishaq Ibrohim bin ‘Umar al-Barmaki. Al-Khothib al-Baghdadi mengatakan bahwa ia seorang yang shoduq dan seorang yang faqih dalam madzhab Ahmad bin Hanbal (Tarikh Baghdad, juz 7 halaman 63, no. 3133). Ibnu Nuqthoh berkata: “faqih madzhab Hanbali yang tsiqot.” (Takmilul Ikmal li Ibni Nuqthoh, juz 1 halaman 499-500) b. Abu Fadhl Ubaidillah bin ‘Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri. Al-Khothib al-Baghdadi berkata “tsiqot”. Al-Azhari berkata: “Abu Fadhl az-Zuhri tsiqot”. Ad-Daruquthni menyatakan ia tsiqot dan shoduq. Al-Barqoni juga berkata “tsiqot” (Tarikh Baghdad, juz 12 halaman 96-97, no. 5484) c. Abu Muhammad ’Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri. Al-Khothib al-Baghdadi berkata tentangnya “tsiqot”. (Tarikh Baghdad, juz 11 halaman 587, no. 5373 Baca sebelumnya Kajian ASWAJA #1 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

Kajian ASWAJA #02 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

0
kalamulama.com Kajian Aswaja Membolehkan Tabarruk 6. Al-Imam Ibnu Khuzaimah (wafat 311 H), seorang ulama ahli hadits sekaligus ahli fiqih Syafi’i. Beliau adalah pengarang kitab Shohih Ibnu...

Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #02: Pelayanan Perempuan Terhadap Suaminya

0
Oleh: Hamzah Al Farisi Assalamualaikum Wr. Wb. Setelah kemarin kita membahas tentang perempuan yang sholehah. Sekarang kita akan membahas tentang “Pelayanan Perempuan terhadap suaminya”. Sebagai seorang...